Anda di halaman 1dari 20

Keyko Putri Prayogo

1102013146 FK A
PBL Mandiri MPT Skenario 2


Pada keadaan normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun selular tergantung
pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan oleh antigen atau gangguan mekanisme ini,
akan menimbulkan suatu keadaan imunopatologik yang disebut reaksi hipersensitivitas.
Menurut Gell dan Coombs, reaksi hipersensitivitas dapat dibagi menjadi 4 tipe, yaitu tipe I
hipersensitif anafilaktik, tipe II hipersensitif sitotoksik yang bergantung antibodi, tipe III
hipersensitif yang diperani kompleks imun, dan tipe IV hipersensitifcell-
mediated (hipersensitif tipe lambat). Selain itu masih ada satu tipe lagi yang disebut sentivitas
tipe V atau stimulatory hipersensitivity.
Pembagian reaksi hipersensitivitas oleh Gell dan Coombs adalah usaha untuk mempermudah
evaluasi imunopatologi suatu penyakit. Dalam keadaan sebenarnya seringkali keempat
mekanisme ini saling mempengaruhi. Aktivasi suatu mekanisme akan mengaktifkan
mekanisme yang lainnya.



REAKSI HIPERSENTIVITAS TIPE I
Sel mast dan basofil pertama kali dikemukakan oleh Paul Ehrlich lebih dari 100 tahun yang
lalu. Sel ini mempunyai gambaran granula sitoplasma yang mencolok. Pada saat itu sel mast
dan basofil belum diketahui fungsinya. Beberapa waktu kemudian baru diketahui bahwa sel-
sel ini mempunyai peran penting pada reaksi hipersensitivitas tipe cepat (reaksi tipe I) melalui
mediator yang dikandungnya, yaitu histamin dan zat peradangan lainnya.
Reaksi hipersensitivitas tipe I, atau tipe cepat ini ada yang membagi menjadi reaksi
anafilaktik (tipe Ia) dan reaksi anafilaktoid (tipe Ib). Untuk terjadinya suatu reaksi selular
yang berangkai pada reaksi tipe Ia diperlukan interaksi antara IgE spesifik yang berikatan
dengan reseptor IgE pada sel mast atau basofil dengan alergen yang bersangkutan.
Proses aktivasi sel mast terjadi bila IgE atau reseptor spesifik yang lain pada permukaan sel
mengikat anafilatoksin, antigen lengkap atau kompleks kovalen hapten-protein. Proses
aktivasi ini akan membebaskan berbagai mediator peradangan yang menimbulkan gejala
alergi pada penderita, misalnya reaksi anafilaktik terhadap penisilin atau gejala rinitis alergik
akibat reaksi serbuk bunga.
Reaksi anafilaktoid terjadi melalui degranulasi sel mast atau basofil tanpa peran IgE. Sebagai
contoh misalnya reaksi anafilaktoid akibat pemberian zat kontras atau akibat anafilatoksin
yang dihasilkan pada proses aktivasi komplemen (lihat bab mengenai komplemen).
Eosinofil berperan secara tidak langsung pada reaksi hipersensitivitas tipe I melalui faktor
kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A = eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis). Zat
ini merupakan salah satu dari preformed mediators yaitu mediator yang sudah ada dalam
granula sel mast selain histamin dan faktor kemotaktik neutrofil (NCF = neutrophil
chemotactic factor). Mediator yang terbentuk kemudian merupakan metabolit asam
arakidonat akibat degranulasi sel mast yang berperan pada reaksi tipe I.
Menurut jarak waktu timbulnya, reaksi tipe I dibagi menjadi 2, yaitu fase cepat dan fase
lambat.
Reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat Reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat biasanya terjadi
beberapa menit setelah pajanan antigen yang sesuai. Reaksi ini dapat bertahan dalam beberapa jam
walaupun tanpa kontak dengan alergen lagi. Setelah masa refrakter sel mast dan basofil yang
berlangsung selama beberapa jam, dapat terjadi resintesis mediator farmakologik reaksi
hipersensitivitas, yang kemudian dapat responsif lagi terhadap alergen.
Reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat Mekanisme terjadinya reaksi
hipersensitivitas tipe I fase lambat ini belum jelas benar diketahui. Ternyata sel mast
masih merupakan sel yang menentukan terjadinya reaksi ini seperti terbukti bahwa reaksi
alergi tipe lambat jarang terjadi tanpa didahului reaksi alergi fase cepat. Sel mast dapat
membebaskan mediator kemotaktik dan sitokin yang menarik sel radang ke tempat
terjadinya reaksi alergi. Mediator fase aktif dari sel mast tersebut akan meningkatkan
permeabilitas kapiler yang meningkatkan sel radang.
Limfosit mungkin memegang peranan dalam timbulnya reaksi alergi fase lambat
dibandingkan dengan sel mast. Limfosit dapat melepaskan histamin releasing factor dan
sitokin lainnya yang akan meningkatkan pelepasan mediator-mediator dari sel mast dan
sel lain.
Eosinofil dapat memproduksi protein sitotoksik seperti major basic protein (MBP)
afau eosinophil cationic protein (ECP). Makrofag dan neutrofil melepas faktor
kemotaktik, sitokin, oksigen radikal bebas, serta enzim yang berperan di dalam
peradangan. Neutrofil adalah sel yang pertama berada pada infiltrat peradangan setelah
reaksi alergi fase cepat dalam keadaan teraktivasi yang selanjutnya akan menyebabkan
kerusakan jaringan dan menarik sel lain, terutama eosinofil.
Mediators:
Histamin
Slow-reacting substance of anaphylaxis (SRS-A)
Bradykinin.
Serotonin (5-hydroxytryptamine)
Eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis (ECF-A).
Platelet activating factor (PAF).
Prostaglandins hasil produksi metabolisme cyclooxygenase dari arachidonic acid.
Prostaglandin E1 (PGE1) dan PGE2 adalah bronchodilators dan vasodilators kuat. PGI2 atau
prostacyclin adalah suatu disaggregates platelets.
Genetic factors: Hay fever, asthma, and food allergies, show familial tendency.

Manifestasi Klinis
Anaphylaxis
Atopy immediate hypersensitivity response
Terapi : Avoidance, Hyposensitization, pemberian modified allergens atau allergoids.
Obat Diphenhydramine, Corticosteroids, Epinephrine. Sodium cromolyn, Theophylline
Mediator penyakit alergi (hipersensitivitas tipe I) Seperti telah diuraikan di atas bahwa
mediator dibebaskan bila terjadi interaksi antara antigen dengan IgE spesifik yang terikat
pada membran sel mast. Mediator ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator yang
sudah ada dalam granula sel mast (preformed mediator) dan mediator yang terbentuk
kemudian (newly formed mediator). Menurut asalnya mediator ini juga dapat dibagi dalam
dua kelompok, yaitu mediator dari sel mast atau basofil (mediator primer), dan mediator dari
sel lain akibat stimulasi oleh mediator primer (mediator sekunder).

Mediator yang sudah ada dalam granula sel mast
Terdapat 3 jenis mediator yang penting yaitu histamin, eosinophil chemotactic factor of
anaphylactic (ECF-A), dan neutrophil chemoctatic factor (NCF).

1. Histamin
Histamin dibentuk dari asam amino histidin dengan perantaraan enzim histidin dekarboksilase.
Setelah dibebaskan, histamin dengan cepat dipecah secara enzimatik serta berada dalam jumlah kecil
dalam cairan jaringan dan plasma. Kadar normal dalam plasma adalah kurang dari 1 ng/L akan tetapi
dapat meningkat sampai 1-2 ng/L setelah uji provokasi dengan alergen. Gejala yang timbul akibat
histamin dapat terjadi dalam beberapa menit berupa rangsangan terhadap reseptor saraf iritan,
kontraksi otot polos, serta peningkatan permeabilitas vaskular.
Manifestasi klinis pada berbagai organ tubuh bervariasi. Pada hidung timbul rasa gatal, hipersekresi
dan tersumbat. Histamin yang diberikan secara inhalasi dapat menimbulkan kontraksi otot polos
bronkus yang menyebabkan bronkokonstriksi. Gejala kulit adalah reaksi gatal berupa wheal and
flare, dan pada saluran cerna adalah hipersekresi asam lambung, kejang usus, dan diare. Histamin
mempunyai peran kecil pada asma, karena itu antihistamin hanya dapat mencegah sebagian gejala
alergi pada mata, hidung dan kulit, tetapi tidak pada bronkus.
Kadar histamin yang meninggi dalam plasma dapat menimbulkan gejala sistemik berat (anafilaksis).
Histamin mempunyai peranan penting pada reaksi fase awal setelah kontak dengan alergen (terutama
pada mata, hidung dan kulit). Pada reaksi fase lambat, histamin membantu timbulnya reaksi inflamasi
dengan cara memudahkan migrasi imunoglobulin dan sel peradangan ke jaringan. Fungsi ini mungkin
bermanfaat pada keadaan infeksi. Fungsi histamin dalam keadaan normal saat ini belum banyak
diketahui kecuali fungsi pada sekresi lambung. Diduga histamin mempunyai peran dalam regulasi
tonus mikrovaskular. Melalui reseptor H2 diperkirakan histamin juga mempunyai efek modulasi
respons beberapa sel termasuk limfosit.

2. Faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A)
Mediator ini mempunyai efek mengumpulkan dan menahan eosinofil di tempat reaksi radang yang
diperan oleh IgE (alergi). ECF-A merupakan tetrapeptida yang sudah terbentuk dan tersedia dalam
granulasi sel mast dan akan segera dibebaskan pada waktu degranulasi (pada basofil segera dibentuk
setelah kontak dengan alergen).
Mediator lain yang juga bersifat kemotaktik untuk eosinofil ialah leukotrien LTB4 yang terdapat
dalam beberapa hari. Walaupun eosinofilia merupakan hal yang khas pada penyakit alergi, tetapi tidak
selalu patognomonik untuk keterlibatan sel mast atau basofil karena ECF-A dapat juga dibebaskan
dari sel yang tidak mengikat IgE.
3. Faktor kemotaktik neutrofil (NCF)
NCF (neutrophyl chemotactic factor) dapat ditemukan pada supernatan fragmen paru manusia setelah
provokasi dengan alergen tertentu. Keadaan ini terjadi dalam beberapa menit dalam sirkulasi
penderita asma setelah provokasi inhalasi dengan alergen atau setelah timbulnya urtikaria fisik
(dingin, panas atau sinar matahari). Oleh karena mediator ini terbentuk dengan cepat maka diduga ia
merupakan mediator primer. Mediator tersebut mungkin pula berperan pada reaksi hipersensitivitas
tipe I fase lambat yang akan menyebabkan banyaknya neutrofil di tempat reaksi. Leukotrien LTB4
juga bersifat kemotaktik terhadap neutrofil.

Mediator yang terbentuk kemudian
Mediator yang terbentuk kemudian terdiri dari hasil metabolisme asam arakidonat, faktor aktivasi
trombosit, serotonin, dan lain-lain. Metabolisme asam arakidonat terdiri dari jalur siklooksigenase dan
jalur lipoksigenase yang masing-masing akan mengeluarkan produk yang berperan sebagai mediator
bagi berbagai proses inflamasi (lihat Gambar 12-3).
1. Produk siklooksigenase
Pertubasi membran sel pada hampir semua sel berinti akan menginduksi pembentukan satu atau lebih
produk siklooksigenase yaitu prostaglandin (PGD2, PGE2, PGF2) serta tromboksan A2 (TxA2).
Tiap sel mempunyai produk spesifik yang berbeda. Sel mast manusia misalnya membentuk PGD2 dan
TxA2 yang menyebabkan kontraksi otot polos, dan TxA2 juga dapat mengaktivasi trombosit.
Prostaglandin juga dibentuk oleh sel yang berkumpul di mukosa bronkus selama reaksi alergi fase
lambat (neutrofil, makrofag, dan limfosit).
Prostaglandin E mempunyai efek dilatasi bronkus, tetapi tidak dipakai sebagai obat bronkodilator
karena mempunyai efek iritasi lokal. Prostaglandin F (PGF2) dapat menimbulkan kontraksi otot polos
bronkus dan usus serta meningkatkan permeabilitas vaskular. Kecuali PGD2, prostaglandin serta
TxA2 berperan terutama sebagai mediator sekunder yang mungkin menunjang terjadinya reaksi
peradangan, akan tetapi peranan yang pasti dalam reaksi peradangan pada alergi belum diketahui.
2. Produk lipoksigenase
Leukotrien merupakan produk jalur lipoksigenase. Leukotrien LTE4 adalah zat yang membentuk slow
reacting substance of anaphylaxis (SRS-A). Leukotrien LTB4 merupakan kemotaktik untuk eosinofil
dan neutrofil, sedangkan LTC4, LTD4 dan LTE4 adalah zat yang dinamakan SRS-A. Sel mast
manusia banyak menghasilkan produk lipoksigenase serta merupakan sumber hampir semua SRS-A
yang dibebaskan dari jaringan paru yang tersensitisasi.
Slow reacting substance of anaphylaxis
Secara in vitro mediator ini mempunyai onset lebih lambat dengan masa kerja lebih lama
dibandingkan dengan histamin, dan tampaknya hanya didapatkan sedikit perbedaan antara kedua jenis
mediator tersebut. Mediator SRS-A dianggap mempunyai peran yang lebih penting dari histamin
dalam terjadinya asma. Mediator ini mempunyai efek bronkokonstriksi 1000 kali dari histamin. Selain
itu SRS-A juga meningkatkan permeabilitas kapiler serta merangsang sekresi mukus. Secara kimiawi,
SRS-A ini terdiri dari 3 leukotrien hasil metabolisme asam arakidonat, yaitu LTC4, LTD4, serta
LTE4.
Faktor aktivasi trombosit (PAF = Platelet activating factor)
Mediator ini pertama kali ditemukan pada kelinci dan selanjutnya pada manusia. PAF dapat
menggumpalkan trombosit serta mengaktivasi pelepasan serotonin dari trombosit. Selain itu PAF juga
menimbulkan kontraksi otot polos bronkus serta peningkatan permeabilitas vaskular. Aktivasi
trombosit pada manusia terjadi pada reaksi yang diperan oleh IgE.
Serotonin
Sekitar 90% serotonin tubuh (5-hidroksi triptamin) terdapat di mukosa saluran cerna. Serotonin
ditemukan pada sel mast binatang tetapi tidak pada sel mast manusia. Dalam reaksi alergi pada
manusia, serotonin merupakan mediator sekunder yang dilepaskan oleh trombosit melalui aktivasi
produk sel mast yaitu PAF dan TxA2. Serotonin dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah.
SITOKIN DALAM REGULASI REAKSI ALERGI
Selain mediator yang telah disebutkan tadi, sel mast juga merupakan sumber beberapa sitokin yang
mempengaruhi sel yang berperan pada reaksi alergi.
Pada individu yang cenderung untuk alergi, paparan terhadap beberapa antigen menyebabkan aktivasi
sel Th2 dan produksi IgE (lihat Gambar 12-4). Individu normal tidak mempunyai respons Th2 yang
kuat terhadap sebagian besar antigen asing. Ketika beberapa individu terpapar antigen seperti protein
pada serbuk sari (pollen), makanan tertentu, racun pada serangga, kutu binatang, atau obat tertentu
misalnya penisilin, respons sel T yang dominan adalah pembentukan sel Th2. Individu yang atopik
dapat alergi terhadap satu atau lebih antigen di atas. Hipersensitivitas tipe cepat terjadi sebagai akibat
dari aktivasi sel Th2 yang berespons terhadap antigen protein atau zat kimia yang terikat pada protein.
Antigen yang menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe cepat (reaksi alergik) sering disebut sebagai
alergen.
Interleukin (IL)-4 dan IL-13, yaitu sebagian dari sitokin yang disekresi oleh sel Th2, akan
menstimulasi limfosit B yang spesifik terhadap antigen asing untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma
yang kemudian memproduksi IgE. Oleh sebab itu, individu yang atopik akan memproduksi IgE dalam
jumlah besar sebagai respons terhadap antigen yang tidak akan menimbulkan respons IgE pada
sebagian besar orang. Kecenderungan ini mempunyai dasar genetika yang kuat dengan banyak gen
yang berperan.
Reaksi peradangan alergi telah diketahui dikoordinasi oleh subset limfosit T4 yaitu Th2. Limfosit ini
memproduksi IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, TNF, serta GM-CSF tetapi tidak memproduksi IL-2 atau INF
(diproduksi oleh sel Th1). Alergen diproses oleh makrofag (APC) yang mensintesis IL-1. Zat ini
merangsang dan mengaktivasi sel limfosit T yang kemudian memproduksi IL-2 yang merangsang sel
T4 untuk memproduksi interleukin lainnya. Ternyata sitokin yang sama juga diproduksi oleh sel mast
sehingga dapat diduga bahwa sel mast juga mempunyai peran sentral yang sama dalam reaksi alergi.
Produksi interleukin diperkirakan dapat langsung dari sel mast atau dari sel lain akibat stimulasi
oleh mediator sel mast. Interleukin-4 tampaknya merupakan stimulus utama dalam aktivasi sintesis
IgE oleh sel limfosit B. Pada saat yang sama IL-4 meningkatkan ekspresi reseptor Fc (FcRII) pada
sel limfosit B. Interleukin-4 ini pertama kali disebut faktor stimulasi sel B (BSF = B cell stimulating
factor). Aktivasi oleh IL4 ini diperkuat oleh IL-5, IL-6, dan TNF, tetapi dihambat oleh IFN, IFN,
TGF, PGE2, dan IL-I0
Dalam reaksi alergi fase cepat, IL-3, IL-5, GM-CSF, TNF dan INF terbukti dapat menginduksi atau
meningkatkan pelepasan histamin melalui interaksi IgE- alergen pada sel basofil manusia (lihat
Gambar 12-6). Sitokin lain yang mempunyai aktivitas sama pada sel mast ialah MCAF (monocyte
chemotactic and activating factor) dan RANTES (regulated upon activation normal T expressed and
presumably secreted). Demikian juga SCF (stem cell factor) yaitu suatu sitokin yang melekat pada
reseptor di sel mast yang disebut C-kit, dapat menginduksi pembebebasan histamin dari sel mast baik
dengan atau tanpa melalui stimulasi antigen (lihat Gambar 12-7).
Pada reaksi alergi fase lambat, IL-3 dan GM-CSF tidak hanya menarik dan mengaktivasi eosinofil
tetapi juga basofil dan efek kemotaktik sitokin ini lebih nyata dibandingkan dengan komplemen C5a,
LTB4 dan PAF.
Mekanisme lain sitokin berperan pula dalam menunjang terjadinya reaksi peradangan pada alergi.
GM-CSF, IL-l, IL-2, IL-3, IL-4, IL-5, IFN, TNF, NGF (nerve growth factor) serta SCF berperan
dalam pertumbuhan, proliferasi, pertahanan hidup dan diferensiasi limfosit, eosinofil, basofil, sel
mast, makrofag atau monosit. Pada saat aktivasi, sel-sel ini ditarik ke arah jaringan yang mengalami
peradangan dalam reaksi antigen-antibodi yang ditingkatkan oleh IL-2, IL-5, GM-CSF, dan EAF
(eosinophil activating factor). Keadaan ini lebih terlihat pada biakan eosinofil manusia dengan GM-
CSF bersama fibroblast. Pada percobaan ini eosinofil menjadi hipodens dan dapat membebaskan lebih
banyak LTC4 bila diaktivasi oleh stimulus seperti fMLP (formil metionil leukosil fenilalanin).

PENYAKIT OLEH ANTIBODI DAN KOMPLEKS ANTIGEN-ANTIBODI
(REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II DAN III)
Antibodi, selain IgE, mungkin menyebabkan penyakit dengan berikatan pada target
antigennya yang ada pada permukaan sel atau jaringan (reaksi hipersensitivitas tipe II) atau
dengan membentuk kompleks imun yang mengendap di pembuluh darah (reaksi
hipersensitivitas tipe III)
Penyakit hipersensitivitas yang diperantarai oleh antibodi (antibody-mediated)merupakan
bentuk yang umum dari penyakit imun yang kronis pada manusia. Antibodi terhadap sel atau
permukaan luar sel dapat mengendap pada berbagai jaringan yang sesuai dengan target
antigen. Penyakit yang disebabkan reaksi antibodi ini biasanya spesifik untuk jaringan
tertentu. Kompleks imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat
turbulansi (cabang dari pembuluh darah) atau tekanan tinggi (glomerulus ginjal dan
sinovium). Oleh karena itu, penyakit kompleks imun cenderung merupakan suatu penyakit
sistemis yang bermanifestasi sebagai vaskulitis, artritis dan nefritis.
Sindrom klinik dan pengobatan
Beberapa kelainan hipersensivitas kronik pada manusia disebabkan atau berhubungan dengan
autoantibodi terhadap antigen jaringan kompleks imun. Tatalaksana dan pengobatan ditujukan
terutama untuk mengurangi atau menghambat proses inflamasi dan kerusakan jaringan yang
diakibatkannya dengan menggunakan kortikosteroid. Pada kasus yang berat, digunakan
plasmapheresis untuk mengurangi kadar autoantibodi atau kompleks imun yang beredar dalam darah.
Penyakit oleh autoantibodi terhadap antigen jaringan
Penyakit Antigen target Mekanisme
Manifestasi
klinopatologi
Anemia
hemolitik
autoimun
Protein membran
eritrosit (antigen
golongan darah Rh)
Opsonisasi dan
fagositosis eritrosit
Hemolisis,
anemia
Purpura
trombositopenia
autoimun
(idiopatik)
Protein membran
platelet (gpIIb:integrin
IIIa)
Opsonisasi dan
fagositosis platelet Perdarahan
Pemfigus
vulgaris
Protein pada hubungan
interseluler pada sel
epidermal(epidemal
cadherin)
Aktivasi protease
diperantarai antibodi,
gangguan adhesi
interseluler
Vesikel kulit
(bula)
Sindrom
Goodpasture
Protein non-kolagen
pada membran dasar
Inflamasi yang
diperantarai
Nefritis,
perdarahan
glomerulus ginjal dan
alveolus paru
komplemen dan
reseptor Fc
paru
Demam
reumatik akut
Antigen dinding sel
streptokokus, antibodi
bereaksi silang dengan
antigen miokardium
Inflamasi, aktivasi
makrofag
Artritis,
miokarditis
Miastenia
gravis Reseptor asetilkolin
Antibodi
menghambat ikatan
asetilkolin, modulasi
reseptor
Kelemahan
otot, paralisis
Penyakit
Graves Reseptor hormon TSH
Stimulasi reseptor
TSH diperantarai
antibodi Hipertiroidisme
Anemia
pernisiosa
Faktor intrinsik dari sel
parietal gaster
Netralisasi faktor
intrinsik, penurunan
absorpsi vitamin B12
Eritropoesis
abnormal,
anemia
(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)
Penyakit oleh kompleks imun
Penyakit Spesifitas antibodi Mekanisme
Manifestasi
klinopatologi
Lupus
eritematosus
sistemik
DNA,
nukleoprotein
Inflamasi diperantarai
komplemen dan
reseptor Fc
Nefritis,
vaskulitis,
artritis
Poliarteritis
nodosa
Antigen permukaan
virus hepatitis B
Inflamasi diperantarai
komplemen dan
reseptor Fc Vaskulitis
Glomreulonefirtis
post-streptokokus
Antigen dinding sel
streptokokus
Inflamasi diperantarai
komplemen dan
reseptor Fc Nefritis
(Dikutip dengan modifikasi dari dari Abbas AK, Lichtman AH, 2004)
Point of interest
Antibodi terhadap antigen sel dan jaringan dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan
penyakit (reaksi hipersensitivitas tipe II).
Antibodi IgG dan IgM yang berikatan pada antigen sel atau jarinagn menstimulasi fagositosis
sel-sel tersebut, menyebabkan reaksi inflamasi, aktivasi komplemen menyebabkan sel lisis
dan fragmen komplemen dapat menarik sel inflamasi ke tempat terjadinya reaksi, juga dapat
mempengaruhi fungsi organ dengan berikatan pada reseptor sel organ tersebut.
Antibodi dapat berikatan dengan antigen yang bersirkulasi dan membentuk kompleks imun,
yang kemudian mengendap pada pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan jaringan
(reaksi hipersensitivitas tipe III). Kerusakan jaringan terutama disebabkan oleh pengumpulan
lekosit dan reaksi inflamasi.

PENYAKIT OLEH LIMFOSIT T (REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV)
Peranan dari limfosit T pada penyakit imunologis pada manusia telah semakin dikenal dan diketahui.
Patogenesis dan tatalaksana penyakit autoimun pada manusia pada saat ini lebih ditujukan pada
kerusakan jaringan yang disebabkan terutama oleh sel limfosit T.
Hampir semua penyakit yang diperantarai T cell disebabkan oleh mekanisme autoimun.
Reaksi autoimun biasanya ditujukan langsung terhadap antigen pada sel yang distribusinya
terbatas pada jaringan organ tertentu. Oleh karena itu penyakit T cell mediated cenderung
terbatas mengenai organ-organ tertentu dan biasanya tidak bersifat sistemis. Kerusakan organ
juga dapat terjadi menyertai reaksi sel T terhadap reaksi mikroba, misalnya pada tuberculosis,
terdapat reaksi T cell-mediatedterhadap M. tuberculosis, dan reaksi tersebut menjadi kronik
oleh karena infeksinya sulit dieradikasi. Inflamasi granulomatous yang terjadi mengakibatkan
kerusakan jaringan pada tempat infeksi. Pada infeksi virus hepatitis, virusnya sendiri tidak
terlalu merusak jaringan, tetapi sel limfosit T sitolitik (CTL) yang bereaksi terhadap hepatosit
yang terinfeksi menyebabkan kerusakan jaringan hepar.
Pada penyakit yang diperantarai oleh sel T (T cell-mediated), kerusakan jaringan dapat
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang diperantarai oleh sel T CD4+ atau
sel lisis oleh CD8+ CTLs
Mekanisme dari kerusakan jaringan sama dengan mekanisme yang digunakan oleh sel T
untuk mengeliminasi sel yang berkaitan dengan mikroba. Sel T CD4+ bereaksi terhadap
antigen pada sel atau jaringan, terjadi sekresi sitokin yang menginduksi inflamasi dan
mengaktivasi makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh sekresi sitokin dari makrofag
dan sel-sel inflamasi yang lain. Sel T CD8+ dapat menghancurkan sel yang berikatan dengan
antigen asing. Pada banyak penyakit autoimun yang diperantarai oleh sel T, terdapat sel T
CD4+ dan sel T CD8+ yang spesifik untuk antigen diri, dan keduanya berperan pada
kerusakan jaringan.

Sindrom klinik dan pengobatan
Banyak penyakit autoimun yang organ spesifik pada manusia didasari oleh reaksi yang diperantarai
oleh sel T .



Penyakit yang diperantarai sel T
Penyakit
Spesifitas sel T
patogenik
Penyakit pada
manusia
Contoh pada
hewan
Diabetes melitus
tergantung
insulin (tipe I)
Antigen sel islet
(insulin,
dekarboksilase asam
glutamat)
Spesifisitas sel T belum
ditegakkan
Tikus NOD,
tikus BB, tikus
transgenik
Artritis
reumatoid
Antigen yang tidak
diketahui di
sinovium sendi
Spesifisitas sel T dan
peran antibodi belum
ditegakkan
Artritis diinduksi
kolagen
Ensefalomielitis
alergi
eksperimental
Protein mielin
dasar, protein
proteolipid
Postulat : sklerosis
multipel
Induksi oleh
imunisasi
dengan antigen
mielin SSP;
tikus transgenik
Penyakit
inflamasi usus
Tidak diketahui,
peran mikroba
intestinal
Spesifisitas sel T belum
ditegakkan
Induksi oleh
rusaknya gen IL-
2 atau IL-10 atau
kurangnya
regulator sel T
(Abbas AK, Lichtman AH, 2004)

Kortikosteroid
Kortikosteroid dikenal mempunyai efek yang kuat sebagai anti-inflamasi pada penyakit artritis
reumatoid, asma berat, asma kronik, penyakit inflamasi kronik dan berbagai kelainan
imunologik. Oleh karena efek anti inflamasi dan sebagai immunoregulator, kortikosteroid
memegang peranan penting pada pengobatan medikamentosa penyakit alergi baik yang akut
maupun kronik. Tetapi di samping manfaatnya, karena efek sampingnya yang banyak juga
menyebabkan penggunaan kortikosteroid ini harus tepat guna dan tepat cara.
Kortikosteroid sering juga dikenal sebagai obat dewa karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit
yang ringan hingga berat dengan cepat . Obat ini merupakan obat yang sangat banyak dan luas dipakai
dalam dunia kedokteran terutama golongan glukokortikoid. Glukokortikoid sintetik digunakan pada
pengobatan nyeri sendi, arteritis temporal, dermatitis, reaksialergi, asma, hepatitis, systemic lupus
erythematosus, inflammatory boweldisease, serta sarcoidosis. Selain sediaan oral, terdapat pula
sediaan dalambentuk obat luar untuk pengobatan kulit, mata, dan juga inflammatory boweldisease.
Baik kortikosteroid alami maupun sintetik digunakan untuk diagnosis dan pengobatan kelainan fungsi
adrenal. Hormon ini juga sering digunakan dalam dosis lebih besar untuk pengobatan berbagai
kelainan peradangan dan imunologi.
Penggunaan glukokortikoid pada pengobatan gangguan fungsi adrenal biasanya diberikan pada
keadaan insufisiensi atau hiperfungsi dari adrenokortikal. Keadaan insufisiensi adrenokortikal dapat
berupa akut maupunkronis (penyakit Addison) yang ditandai dengan hiperpigmentasi, lemah,
kelelahan, berat badan menurun, hipotensi, dan tidak ada kemampuan untukmemelihara kadar gula
darah selama puasa. Untuk keadaan hiperfungsi adrenokortikal misalnya terjadi pada hiperplasia
adrenal kongenital, sindrom chusing, atau aldosteronisme.Glukokortikoid dapat pula digunakan untuk
tujuan diagnostik dari sindrom chusing. Dengan tes supresi deksametason, obat ini diberikan sejumlah
1 mg peroral pada jam 11 malam, dan sampel plasma diambil pada pagi hari. Pada individunormal,
konsentrasi kortisol biasanya kurang dari 5 g/dl, sedangkan pada sindrom chusing kadarnya biasanya
lebih besar daripada 10 g/dl. Namun hasil ini tidak dapat dipercaya pada keadaan depresi, ansietas,
penyakit, dan kondisi stress yang lain.
Selain itu, maturasi paru-paru pada janin diatur oleh sekresi kortisol janin.Ibu dengan pengobatan
glukokortikoid dalam dosis besar akan dapatmenurunkan insiden sindrom gawat nafas pada bayi yang
dilahirkan secara prematur. Kortisol dan analog sintetiknya berguna dalam pengobatan
berbagaikelompok penyakit yang tidak berhubungan dengan kelainan fungsi adrenal.Kegunaan
kortikosteroid pada kelainan ini merupakan kemampuannya untuk menekan respon peradangan dan
respon imun. Pada keadaan yang respons peradangan atau respon imunnya penting untuk
mengendalikan proses patologi, terapi dengan kortikosteroid mungkin berbahaya tetapi dibenarkan
untuk mencegah timbulnya kerusakan yang tak dapat diperbaiki akibat respon peradangan jika
digunakan bersama dengan terapi spesifik untuk proses penyakitnya
Struktur dan fungsi
Kortikosteroid alamiah dan buatan secara garis besar terbagi dalam mineralokortikoid dan
glukokortikoid. Walaupun pada saat ini pada preparat yang baru semakin diusahakan untuk hanya
mempunyai efek glukokortikoid, tetap masih mempunyai efek minerelokortikoid walaupun sedikit.
Mekanisme kerja
Obat golongan kortikosteroid sebenarnya memiliki efek yang sama dengan hormon cortisone
dan hydrocortisone yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, kelenjar ini berada tepat diatas
ginjal kita (lihat gambar). Dengan efek yang sama bahkan berlipat ganda maka kortikosteroid
sanggup mereduksi sistem imun (kekebalan tubuh) dan inflamasi, makanya kalo orang
dengan penyakit-penyakit yang terjadi karena proses dasar inflamasi seperti rheumatoid
arthritis, gout arthritis (asam urat) danalergi gejalanya bisa lebih ringan setelah pemberian
kortikosteroid.
Walaupun tampaknya ada bermacam efek pada fungsi fisiologik, kortikosteroid tampaknya
mempengaruhi produksi protein tertentu dari sel. Molekul steroid memasuki sel dan berikatan
dengan protein spesifik dalam sitoplasma. Kompleks yang terjadi dibawa ke dalam nukleus,
lalu menimbulkan terbentuknya mRNA yang kemudian dikembalikan ke dalam sitoplasma
untuk membantu pembentukan protein baru, terutama enzim, sehingga melalui jalan ini
kortikosteroid dapat mempengaruhi berbagai proses. Kortikosteroid juga mempunyai efek
terhadap eosinofil, mengurangi jumlah dan menghalangi terhadap stimulus. Pada pemakaian
topikal juga dapat mengurangi jumlah sel mast di mukosa. Kortikosteroid juga bekerja
sinergistik dengan agonis 2 dalam menaikkan kadar cAMP dalam sel.
Pada waktu memasuki jaringan, glukokortikoid berdifusi atau ditranspormenembus sel
membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmikglukokortikoid heat-shock protein
kompleks. Heat shock protein dilepaskan dankemudian kompleks hormon reseptor ditranspor
ke dalam inti, dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada
berbagai gen danprotein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya.
Pada keadaan tanpa adanya hormon, protein reseptor dihambat dari ikatannya denganDNA;
jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA.
Perbedaan kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh
proteinspesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkanekspresi
unsur respons glukokortikoid utama.
Selain itu, glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpanbalik yang terjadi
terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen. Efek ini mungkin diperantarai oleh
mekanisme nontranskripsi
Indikasi untuk penyakit alergi
Indikasi utama adalah untuk reaksi alergi akut berat yang dapat membahayakan kehidupan, seperti
status asmatikus, anafilaksis, dan dermalitis exfoliativa. Selain itu, juga untuk reaksi alergi berat yang
tidak membahayakan kehidupan tetapi sangat mengganggu, misalnya dermatitis kontak berat, serum
sickness, dan asma akut yang berat. Indikasi lain adalah untuk penyakit alergi kronik berat sambil
menunggu hasil pengobatan konvensional, atau untuk mengatasi keadaan eksaserbasi akut pada
pasien yang memakai kortikosteroid dosis rendah jangka panjang, harus dinaikkan dosisnya bila
terjadi eksaserbasi.
Pedoman pemakaian
Pengobatan kortikosteroid, terutama dengan jangka panjang, menimbulkan banyak efek yang
tidak diinginkan maka sebelum memulai pengobatan harus dipertimbangkan untung dan
ruginya terlebih dahulu.
Pada asma akut gunakan kortikosteroid dengan kombinasi obat lain secara tepat waktu, sesuai
dengan konsep inflamasi yang terjadi pada asma .
Penggunaan kortikosteroid pada asma
Lokasi Stadium asma
Penggunaan
kortikosteroid
Rumah sakitBagian
daruratDi rumahDi
rumah
Status asmatikusAsma akutKeluhan
sesakAsma berulangPermulaan ISPA YaYaYaYa
Catat dengan baik kondisi alergi atau imunologi apa yang memberikan respons baik terhadap
kortikosteroid sebelumnya. Kortikosteroid hanya dipakai bila obat konvensional tidak menolong, jadi
untuk pasien asma berikan dulu obat metilxantin dan golongan adrenergik. Selain itu hindari
penggunaan kortikosteroid pada pasien yang sedang mendapat vaksin virus.
Gunakan kortikosteroid dengan dosis serendah mungkin yang dapat mengontrol penyakitnya Tujuan
untuk meringankan penyakit lebih dapat diterima daripada untuk menghilangkan gejala. Sedapat
mungkin gunakan kortikosteroid yang bekerja dalam jangka pendek (prednison, prednisolon, dsb),
dan untuk pemakaian jangka panjang kalau dapat gunakan secara topikal misalnya krem untuk kelaian
kulit dan inhalasi untuk pengobatan asma kronik. Batasi penggunaan kortikosteroid untuk 5-7 hari
saja, atau bila perlu terapi jangka panjang berikan dosis intermiten selang sehari pada pagi hari.
Kortikosteroid yang diberikan 3-4 kali sehari, atau pada malam hari, lebih menekan fungsi kelenjar
adrenal daripada yang diberikan sehari sekali atau pagi hari.
Komplikasi yang mungkin terjadi untuk pemakaian jangka panjang harus diawasi secara ketat
misalnya glaukoma, katarak, gastritis, osteoporosis, dan sebagainya. Jangan menghentikan pemberian
kortikosteroid jangka panjang dan dosis tinggi secara mendadak karena akan menyebabkan insufiensi
kelenjar supraadrenal dan eksaserbasi penyakit yang sedang diobati.
Protokol yang dianjurkan untuk menghentikan pemberian kortikosteroid jangka panjang adalah
sebagai berikut. Mulai pengurangan dengan hati-hati (misalnya 2,5-5 mg prednison tiap 3-7 hari) dan
awasi keadaan penyakitnya. Bila terjadi peningkatan aktivitas penyakit naikkan kembali dosisnya,
kemudian coba lagi mengurangi dengan dosis yang lebih rendah. Usahakan sampai dapat diberikan
dosis sekali sehari pada pagi hari dan selanjutnya diberikan setiap 2 hari. Tambahkan dosis
kortikosteroid bilamana pasien sedang mendapat stres, untuk stres ringan (gastroenteritis, influensa,
otitis media, faringitis, atau tindakan bedah ringan) cukup ditambahkan selama 2 hari, sedang untuk
stres berat (trauma atau tindakan bedah besar) tambahkan dosis kortikosteroid untuk 3-4 hari atau
sampai stresnya teratasi.
Efek Samping
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan glukokortikoid sangat bervariasi. Harus dipertimbangkan
dengan hati-hati pada setiap penderita terhadapbanyaknya efek pada setiap bagian organism ini. Efek
utama yang tidakdiinginkan dari glukokortikoidnya dan menimbulkan gambaran klinik
sindromcushing iatrogenik. Sindrom cushing iatrogenik disebabkan oleh pemberian glukokortikoid
jangka panjang dalam dosis farmakologik untuk alasan yang bervariasi
Efek samping jangka pendek
Peningkatan tekanan cairan di mata (glaukoma)
Retensi cairan, menyebabkan pembengkakan di tungkai.
Peningkatan tekanan darah
Peningkatan deposit lemak di perut, wajah dan leher bagian belakang *orangnya jadi tambah
tembem
Efek samping jangka panjang.
Katarak
Penurunan kalsium tulang yang menyebabkan osteoporosis dan tulang rapuh sehingga mudah
patah.
Menurunkan produksi hormon oleh kelenjar adrenal
Menstruasi tidak teratur
Mudah terinfeksi
Penyembuhan luka yang lama
Sindrom Cushing iatrogenic
Sindrom Cushing iatrogenic dijumpai pada penderita arthritis rheumatoid, asma,limfoma, dan
gangguan kulit umum yang menerima glukokortikoid sintetik sebagai agen anti inflamasi.
Iatrogenic Cushings syndrome, diinduksikan dengan pemberian glukokortikoid atau steroid
lain seperti megesterol yang mengikat reseptor glukokortikoid, dibedakan oleh penemuan
fisik dari hiperfungsi adrenokortikalendogen.
Perbedaan dapat dibuat, bagaimanapun, dengan mengukur kadarkortisol urine dalam keadaan
basal; pada sindrom iatrogenik pada kadar inimerupakan rendah secara sekunder akibat
penekanan dari aksis adrenal pituari. Keparahan dari iatrogenic Cushings syndrome terkait
dengan dosis steroid total, steroid paruh hidup biologis, dan lama terapi.
Kortikosteroid dapat mempengaruhi sel-sel melalui reseptor-reseptorglukokortikoidnya
dengan mekanisme kerja sebagai berikut: kortikosteroidberdifusi ke dalam sel melewati
membran sl dan selanjutnya berikatan dengan reseptor. Kompleks kortikosteroid-reseptor
masuk ke dalam nukleus dalambentuk aktif, dan akan mengikat DNA serta meningkatkan
sintesis messengerRNA (mRNA). Messenger RNA ini akan menimbulkan sintesis protein
yang baru. Protein baru ini akan menghambat fungsi sel-sel limfoid dengan
penghambatanuptake glukosa
Sehubungan dengan pengaruh kortikosteroid ini kita kenal dua golongan spesies yaitu
golongan yang resisten dan sensitif terhadap kortikosteroid. Spesies yang resisten terhadap
kortikosteroid adalah manusia dan kerasedangkan yang sensitif adalah tikus dan kelinci.
Limfositopeni Apabila kortikosteroid diberikan kepada golongan resisten akan menyebabkan
limfositopeni akibat redistribusi limfosit ke luar sirkulasi darahmenuju organ-organ limfoid
lainnya terutama sumsum tulang. Redistribusi inilebih banyak mempengaruhi limfosit-T
daripada limfosit-B. Mekanisme yangmendasari terjadinya redistribusi limfosit belum
diketahui secara pasti. Secara teoritis limfositopeni dapat terjadi melalui dua mekanisme
yaitu: migrasi hebatkeluar dari pembuluh darah dan blok perifer. Mekanisme blok perifer ini
ditunjang oleh penemuan bahwa aktifitas fisik pada orang normal menyebabkanlimfositosis
akibat mobilisasi cadangan perifer, tetapi hal ini tidak ditemukan setelah pemberian
kortikosteroid. Limfositopeni akan mencapai puncaknya 4-6 jam setelah pemberian 20 mg
prednison intravena dan kembali ke nilai normalsetelah 24 jam. Berat dan lamanya
limfositopeni tidak berbeda apabila dosis prednison ditingkatkan sampai 40 mg atau 80
mg.Pengaruh kortikosteroid yang terpenting pada manusia adalahpenghambatan akumulasi
makrofag dan netrofil di tempat radang. Selain itu kortikosteroid juga menyebabkan
berkurangnya aktifitas makrofag baik yangberedar dalam darah (monosit) maupun yang
terfiksir dalam jaringan (selKupffer). Pengaruh tersebut diperkirakan akibat penghambatan
kerja faktor-faktor limfokin yang dilepaskan oleh sel-T sensitif pada makrofag, karenatempat
kerja kortikosteroid diperkirakan pada membran makrofag.
Penghambatan akumulasi netrofil di tempat radang adalah akibat kerjakortikosteroid
mengurangi daya lekat netrofil pada dinding endotel pembuluhdarah, bukan akibat
penghambatan kemotaksis yang hanya dapat dihambat olehkortikosteroid pada kadar
suprafarmakologik.
Leonard melaporkan bahwa pemberian 10 mg prednison per oral pada orang sehat sudah
cukup untuk meningkatkan netrofil dan menurunkan jumlah limfosit, monosit dan eosinofil
dalam darah, sesuai dengan yang dilaporkan oleh Saavedra-Delgado dkk yang menggunakan
35 70 mg prednison per oral.Kepustakaan lain melaporkan bahwa kortikosteroid
mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap distribusi netrofil. Kortikosteroid
meningkatkan pelepasan netrofil muda dari sumsum tulang ke sirkulasi. Di samping itu
kortikosteroid juga meningkatkan masa paruh netrofil dalam sirkulasi. Kombinasi kedua
pengaruh ini menyebabkan terjadinya netrofilia, walaupun fungsi bakterisidanyamenurun.
Hasil akhir pengaruh kortikosteroid adalah menghambat migrasi dan akumulasi netrofil pada
daerah radang. Mungkin pengaruh kortikosteroid padamakrofag dan netrofil inilah yang
menyebabkan peningkatan kejadian infeksipada penggunaan kortikosteroid setiap hari.
Penggunaan kortikosteroid selang sehari telah dapat mengembalikan akumulasi netrofil pada
hari bebas pemberian obat, tetapi akumulasi makrofagpada hari tersebut masih rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa makrofag lebihsensitif daripada netrofil terhadap pengaruh antiinflamasi
kortikosteroid.
Dilaporkan pula bahwa penggunaan kortikosteroid selang sehari tidak disertai peningkatan
angka infeksi. Kortikosteroid mungkin juga mengurangi pelepasanenzim-enzim lisosom,
tetapi hanya sedikit mempengaruhi stabilitas membranlisosom pada kadar farmakologik.
Kortikosteroid mempunyai pengaruh terhadap aktifitas biologik komplemen. Pengaruh
tersebut berupa penghambatan fiksasi C3b terhadapreseptornya pada fagosit mononuklear,
dan penghambatan pengaruh C3a, C5adan C567 pada lekosit PMN. Pengaruh non-spesifik ini
hanya terjadi padapemberian kortikosteroid dosis tinggi. Hal ini telah dibuktikan secara
invitrodengan pemberian metilprednisolon dosis 30 mg/kgbb. Intravena atau secarainvivo
dengan hidrokortison dosis 120 mg/kgbb intravena.
Kepustakaan lain melaporkan bahwa kortikosteroid topikal juga berpengaruh terhadap sistem
imun. Pengaruh tersebut berupa atrofi kulit sehingga kulit tampak tipis, mengkilat dan keriput
seperti kertas sigaret. Hal ini dapat memperberat dan mempermudah terjadinya infeksi oleh
karena terjadigangguan mekanisme pertahanan kulit. Beberapa efek samping lain yang
mungkinterjadi adalah diabetes melitus, osteoporosis, gangguan psikologik danhipertensi.
Efek samping lain yang cukup serius meliputi perkembangan ulkus peptikum dan
komplikasinya. Gambaran klinik yang menyertai kelainan lain, terutamainfeksi bakteri dan
jamur, dapat diselubungi oleh kortikosteroid, dan penderitaharus diawasi dengan teliti untuk
menghindari kecelakaan serius bila digunakan dosis tinggi.
Beberapa penderita mengalami miopati, yang sifatnya belum diketahui. Frekuensi terjadinya
miopati lebih besar pada penderita yang diobati dengan triamnisolon.
Penggunaan obat ini maupun metilprednisolon berhubungan dengan timbulnya mual, pusing
dan penurunan berat badan pada beberapa penderita.
Psikosis juga dapat terjadi, terutama pada penderita yang mendapat dosisbesar kortikosteroid.
Terapi jangka lama dapat menimbulkan perkembangan katarak subkapsular posterior. Hal ini
ditunjukkan dengan pemeriksaan slitlamp periodik pada penderita ini. Biasa terjadi
peningkatan tekanan intraokular, danmungkin menyebabkan glaukoma.
Juga terjadi hipertensi intrakranial jinak. Padadosis 45 mg/m2/hari atau lebih, dapat terjadi
retardasi pertumbuhan padaanak-anak.
Jika diberikan dalam jumlah lebih besar dari jumlah fisiologi, steroidseperti kortison dan
hidrokortison yang mempunyai efek mineralokortikoidselain efek glukokortikoid, dapat
menyebabkan retensi natrium dan cairan sertahilangnya kalium.
Pada penderita dengan fungsi kardiovaskular dan ginjal normal,hal ini dapat menimbulkan
alkalosis hipokloremik hipokalemik, dan akhirnyapeningkatan tekanan darah.
Pada penderita hiponatremia, penyakit ginjal, atau penyakit hati, dapat terjadi edema.
Pada penderita penyakit jantung, tingkatretensi natrium yang sedikit saja dapat menyebabkan
gagal jantung kongestif.
Penanganan Efek Samping
Penanganan yang disarankan untuk saat ini pada penderita yang mendapatkan efek samping
kortikosteroid adalah dengan melakukan penurunankonsumsi dosis kortikosteroid secara
perlahan-lahan (tapering off).
Jika timbul diabetes, diobati dengan diet dan insulin. Sering penderita yang resisten
denganinsulin, namun jarang berkembang menjadi ketoasidosis.
Pada umumnya penderita yang diobati dengan kortikosteroid seharusnya diberi diet protein
tinggi, dan peningkatan pemberian kalium serta rendah natrium seharusnya digunakan apabila
diperlukan

(http://allergycliniconline.com)






Antihistamin adalah obat dengan efek antagonis terhadap histamin. Di pasaran banyak dijumpai berbagai
jenis antihistamin dengan berbagai macam indikasinya. Antihistamin terutama dipergunakan untuk terapi
simtomatik terhadap reaksi alergi atau keadaan lain yang disertai pelepasan histamin berlebih. Penggunaan
antihistamin secara rasional perlu dipelajari untuk lebih menjelaskan perannya dalam terapi karena pada
saat ini banyak antihistamin generasi baru yang diajukan sebagai obat yang banyak menjanjikan
keuntungan.

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh
dengan jalan memblok reseptor histamin (penghambatan saingan). Pada awalnya hanya dikenal satu tipe
antihistaminikum, tetapi setelah ditemukannya jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang disebut
reseptor-H2,maka secara farmakologi reseptor histamin dapat dibagi dalam dua tipe , yaitu reseptor-H1 da
reseptor-H2. Berdasarkan penemuan ini, antihistamin juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni
antagonis reseptor-H1 (sH1-blockers atau antihistaminika) dan antagonis reseptor H2 ( H2-blockers atau
zat penghambat-asam)
Pada garis besarnya antihistamin dibagi dalam 2 golongan besar
1. Menghambat reseptor H1 H1-blockers (antihistaminika klasik) Mengantagonir histamin dengan
jalan memblok reseptor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,bronchi dan saluran cerna,kandung
kemih dan rahim. Begitu pula melawan efek histamine di kapiler dan ujung saraf (gatal, flare
reaction). Efeknya adalah simtomatis, antihistmin tidak dapat menghindarkan timbulnya reaksi
alergi Dahulu antihistamin dibagi secara kimiawi dalam 7-8 kelompok, tetapi kini digunakan
penggolongan dalam 2 kelompok atas dasar kerjanya terhadap SSP, yakni zat-zat generasi ke-1
dan ke-2.
2. Menghambat reseptor H2. H2-blockers (Penghambat asma) obat-obat ini menghambat secara
efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamine, dengan jalan persaingan terhadap
reseptor-H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga
mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi
tukak lambug usus guna mengurangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan
pada terapi dengan kortikosteroida. Lagi pula sering kali bersama suatu zat stimulator motilitas
lambung (cisaprida) pada penderita reflux. Penghambat asam yang dewasa ini banyak digunakan
adalah simetidin, ranitidine, famotidin, nizatidin dan roksatidin yang merupakan senyawa-
senyawa heterosiklis dari histamin.
Farmakokinetik
Absorbsi AH1 berjalan sangat cepat setelah pemberian secara oral menyebabkan efek sistemik
dalam waktu kurang dari 30 menit. Hepar merupakan tempat metabolisme utama (70-90%),
dengan sedikit obat yang diekskresi dalam urin dalam bentuk yang tidak berubah.



Mekanisme kerja
Antihistamin bekerja dengan cara kompetisi dengan histamin untuk suatu reseptor yang spesifik
pada permukaan sel. Hampir semua AH1 mempunyai kemampuan yang sama dalam memblok
histamin. Pemilihan antihistamin terutama adalah berkenaan dengan efek sampingnya.
Antihistamin juga lebih baik sebagai pengobatan profilaksis daripada untuk mengatasi serangan.
Mula kerja AH1 nonsedatif relatif lebih lambat; afinitas terhadap reseptor AH1 lebih kuat dan
masa kerjanya lebih lama. Astemizol, loratadin dan setirizin merupakan preparat dengan masa
kerja lama sehingga cukup diberi 1 kali sehari.
Beberapa jenis AH1 golongan baru dan ketotifen dapat menstabilkan sel mast sehingga dapat
mencegah pelepasan histamin dan mediator kimia lainnya; juga ada yang menunjukkan
penghambatan terhadap ekspresi molekul adhesi (ICAM-1) dan penghambatan adhesi antara
eosinofil dan neutrofil pada sel endotel. Oleh karena dapat mencegah pelepasan mediator kimia
dari sel mast, maka ketotifen dan beberapa jenis AH1 generasi baru dapat digunakan sebagai
terapi profilaksis yang lebih kuat untuk reaksi alergi yang bersifat kronik.

Efek samping
Mengantuk Antihistamin termasuk dalam golongan obat yang sangat aman pemakaiannya. Efek
samping yang sering terjadi adalah rasa mengantuk dan gangguan kesadaran yang ringan
(somnolen).
Efek antikolinergik Pada pasien yang sensitif atau kalau diberikan dalam dosis besar. Eksitasi,
kegelisahan, mulut kering, palpitasi dan retensi urin dapat terjadi. Pada pasien dengan gangguan
saraf pusat dapat terjadi kejang.
Diskrasia Meskipun efek samping ini jarang, tetapi kadang-kadang dapat menimbulkan diskrasia
darah, panas dan neuropati.
Sensitisasi Pada pemakaian topikal sensitisasi dapat terjadi dan menimbulkan urtikaria, eksim dan
petekie.
Pada dosis terapi, semua AH1 menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius dan
kadang-kadang hilang bila pengobatan diteruskan. Efek samping yang paling sering ialah sedasi,
yang justru menguntungkan bagi pasien yang dirawat di RS atau pasien yang perlu banyak tidur.
Tetapi efek ini mengganggu bagi pasien yang memerlukan kewaspadaan tinggi sehingga
meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan.
Pengurangan dosis atau penggunaan AH1 jenis lain mungkin dapat mengurangi efek sedasi ini.
Astemizol, terfenadin, loratadin tidak atau kurang menimbulkan sedasi. Efek samping yang
berhubungan dengan efek sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, penglihatan
kabur, diplopia, euphoria, gelisah, insomnia dan tremor.
Efek samping yang termasuk sering juga ditemukan ialah nafsu makan berkurang, mual, muntah,
keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare, efek samping ini akan berkurang bila AH1
diberikan sewaktu makan.
Efek samping lain yang mungkin timbul oleh AH1 ialah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi,
sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan. Insidens efek samping karena efek antikolinergik
tersebut kurang pada pasien yang mendapat antihistamin nonsedatif.
AH1 bisa menimbulkan alergi pada pemberian oral, tetapi lebih sering terjadi akibat penggunaan
lokal berupa dermatitis alergik. Demam dan foto sensitivitas juga pernah dilaporkan terjadi.
Selain itu pemberian terfenadin dengan dosis yang dianjurkan pada pasien yang mendapat
ketokonazol, troleandomisin, eritromisin atau lain makrolid dapat memperpanjang interval QT dan
mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel. Hal ini juga dapat terjadi pada pasien dengan gangguan
fungsi hati yang berat dan pasien-pasien yang peka terhadap terjadinya perpanjangan interval QT
(seperti pasien hipokalemia).
Kemungkinan adanya hubungan kausal antara penggunaan antihistamin non sedative dengan
terjadinya aritmia yang berat perlu dibuktikan lebih lanjut.
Sopir atau pekerja yang memerlukan kewaspadaan yang menggunakan AH1 harus diperingatkan
tentang kemungkinan timbulnya kantuk. Juga AH1 sebagai campuran pada resep, harus digunakan
dengan hati-hati karena efek AH1 bersifat aditif dengan alcohol, obat penenang atau hipnotik
sedative.