Anda di halaman 1dari 14

Gonore (GO) atau kencing nanah:

Penyakit Menular Seksual Yang Paling Sering Terjadi



Gonore (GO) adalah penyakit Menular Seksual yang paling sering terjdi dan paling
mudah terjadi. Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan secara
langsung dari seseorang ke orang lain melalui kontak seks. Namun penyakit gonore ini
dapat juga ditularkan melalui ciuman atau kontak badan yang dekat. Kuman patogen
tertentu yang mudah menular dapat ditularkan melalui makanan, transfusi darah, alat
suntik yang digunakan untuk obat bius.
Penyakit menular seksual juga disebut penyakit venereal merupakan penyakit yang paling sering
ditemukan di seluruh dunia. Pengobatan penyakit ini efektif dan penyembuhan cepat sekali.
Namun, beberapa kuman yang lebih tua telah menjadi kebal terhadap obat-obatan dan telah
menyebar ke seluruh dunia dengan adanya banyak perjalanan yang dilakukan orang-orang
melalui transportasi udara.
Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan kontak seks
dengan menggunakan upaya pencegahan. Salah satu di antara PMS ini adalah penyakit gonore
yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi selaput lendir saluran
kencing, leher rahim, dubur dan tenggorokan atau selaput lendir Gonore adalah PMS yang
paling sering ditemukan dan paling mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam penyakit
kelamin ini adalah kencing nanah. Masa inkubasi 3-5 hari.
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang
menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian putih mata
(konjungtiva).
Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan
persendian.
Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul
sehingga timbul nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
Kuman : Neisseria gonorrhoea
Perantara : manusia
tempat kuman keluar : penis, vagina, anus, mulut
cara penularan : kontak seksua langsung
tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut
yang bisa terkena : orang yang berhubungan seks tak amaN
TANDA DAN GEJALA
Pada pria
gejala awal biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra, yang beberapa jam kemudian
diikuti oleh nyeri ketika berkemih dan keluarnya nanah dari penis.
Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing. Dari mulut saluran
kencing keluar nanah kental berwarna kuning hijau. Setelah beberapa hari keluarnya
nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa nyeri berkurang. Bila penyakit ini
tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa peradangan pada alat kelamin.
Penderita sering berkemih dan merasakan desakan untuk berkemih, yang semakin
memburuk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas.
Lubang penis tampak merah dan membengkak.

KOMPLIKASI
Bartolinitis, yaitu membengkaknya kelenjar Bartholin sehingga penderita sukar jalan
karena nyeri.
Komplikasi dapat ke atas menyebabkan kemandulan, bila ke rongga perut menyebabkan
radang di perut dan usus.
Selain itu baik pada wanita atau pria dapat terjadi infeksi sistemik (seluruh tubuh) ke
sendi, jantung, selaput otak dan lain-lain.
Pada ibu hamil, bila tidak diobati, saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila tidak
cepat ditangani dapat menyebabkan kebutaan
Infeksi kadang menyebar melalui aliran darah ke 1 atau beberapa sendi, dimana sendi menjadi bengkak dan
sangat nyeri, sehingga pergerakannya menjadi terbatas.
Infeksi melalui aliran darah juga bisa menyebabkan timbulnya bintik-bintik merah berisi nanah di kulit,
demam, rasa tidak enak badan atau nyeri di beberapa sendi yang berpindah dari satu sendi ke sendi lainnya
(sindroma artritis-dermatitis).
Bisa terjadi infeksi jantung (endokarditis). Infeksi pembungkus hati (perihepatitis) bisa menyebabkan nyeri
yang menyerupai kelainan kandung empedu.
Komplikasi yang terjadi bisa diatasi dan jarang berakibat fatal, tetapi masa penyembuhan untuk artritis atau
endokarditis berlangsung lambat.
Bartolinitis


Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan
pada alat kelamin luar wanita. Biasanya, pembengkakan disertai dengan rasa nyeri hebat
bahkan sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai demam, seiring pembengkakan pada
kelamin yang memerah.
Bartolinitis disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian
dalam vagina agak keluar. Kuman yang menyebabkan infeksi pada bartolin ini bisa
bermacam-macam, termasul gonore. Kuman lain adalah chlamydia, dan sebagainya.
Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan pelumas
vagina. Akibat penyumbatan ini, lama kelamaan cairan memenuhi kantong kelenjar
sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi cairan). Kuman dalam vagina bisa
menginfeksi salah satu kelenjar bartolin hingga tersumbat dan membengkak. Jika tak ada
infeksi, tak akan menimbulkan keluhan.
Untuk mengatasinya, pemberian antibiotik untuk mengurangi radang dan pembengkakan.
Jika terus berlanjut, diperlukan tindakan operatif untuk mengangkat kelenjar yang
membengkak. Tak perlu khawatir vagina akan kering setelah pengangkatan, karena pada
dasarnya yang diangkat hanya salah satu penghasil pelumas.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah,
dimana ditemukan bakteri penyebab gonore.
Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan
pembiakan di laboratorium.
Jika diduga terjadi infeksi tenggorokan atau rektum, diambil contoh dari daerah
ini dan dibuat biakan.
PENGOBATAN
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler
(melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 1
minggu (biasanya diberikan doksisiklin).
Cefixime (Suprax) Dosing Interactions Contraindications Precautions Dewasa 400
mg PO once for uncomplicated genitourinary or rectal infection Anak <45 kg: 8
mg/kg PO once; not to exceed 400 mg >45 kg: Administer as in adults
Coadministration of aminoglycosides increase nephrotoxicity; probenecid may
increase effects of cefixime
Ceftriaxone (Rocephin) Dosing Interactions Contraindications Precautions Dewasa
125-250 mg IM once; 125 mg if uncomplicated genitourinary, rectal, or pharyngeal
infection; 250 mg for PID 1 g IV/IM q24h for DGI 1-2 g IV q12h for gonococcal
meningitis or endocarditis 1 g IM once for gonococcal conjunctivitis; consider single
saline lavage as well Anak 25-50 mg/kg IV/IM as single dose for conjunctival
infection (maximum 125 mg) 25-50 mg/kg/d IV/IM for 7 d for scalp abscess, sepsis,
arthritis 25-50 mg/kg/d IV/IM for 10-14 d for suspected or known meningitis 125
mg IM once for children <45 kg with uncomplicated urethritis, cervicitis,
pharyngitis, or rectal infection >45 kg: Administer as in adults
Spectinomycin (Trobicin) Dewasa 2 g IM once Pediatric 40 mg/kg IM once
Dosing Interactions Contraindications Precautions
Silver nitrate Dosing Interactions Contraindications Precautions Dewasa Not used
for this indication Anak 2 gtt OU into conjunctival sac once immediately after birth
(no later than 1 h after delivery)
Erythromycin (Erygel) Dosing Interactions Contraindications Precautions Dewasa
Not used for this indication Anak0.5-inch (1.25 cm) ribbon OU into conjunctival sac
once immediately after birth (no later than 1 h after delivery)
Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di
rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah,
infus).




Gonore pada mata bayi
Daftar Pustaka
Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Diseases
Surveillance, 2007. Last updated January 2009. Available at
http://www.cdc.gov/std/stats07/gonorrhea.htm. Accessed November 12, 2009.
[Guideline] CDC. Update to CDCs sexually transmitted diseases treatment
guidelines, 2006: fluoroquinolones no longer recommended for treatment of
gonococcal infections. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. Apr 13 2007;56(14):332-
6. [Medline]. [Full Text].
Thompson EC, Brantley D. Gonoccocal endocarditis. J Natl Med
Assoc. Jun 1996;88(6):353-6. [Medline].
[Guideline] Workowski KA, Berman SM. Sexually transmitted diseases treatment
guidelines, 2006. MMWR Recomm Rep. Aug 4 2006;55:1-94. [Medline]. [Full Text].
Workowski KA, Berman SM, Douglas JM Jr. Emerging antimicrobial resistance in
Neisseria gonorrhoeae: urgent need to strengthen prevention strategies. Ann Intern
Med. Apr 15 2008;148(8):606-13. [Medline].
Goodyear-Smith F. What is the evidence for non-sexual transmission of gonorrhoea
in children after the neonatal period? A systematic review. J Forensic Leg
Med. Nov 2007;14(8):489-502. [Medline].
Availability of cefixime 400 mg tabletsUnited States, April 2008. MMWR Morb
Mortal Wkly Rep. Apr 25 2008;57(16):435. [Medline].
MacDonald N, Mailman T, Desai S. Gonococcal infections in newborns and in
adolescents. Adv Exp Med Biol. 2008;609:108-30. [Medline].
Ross JD. Systemic gonococcal infection. Genitourin Med. Dec 1996;72(6):404-
7. [Medline].
Spigarelli MG. Urine gonococcal/Chlamydia testing in adolescents. Curr Opin Obstet
Gynecol. Oct 2006;18(5):498-502. [Medline].

Home > Ginekologi > Penyakit Menular Seksual
Penyakit Menular Seksual
Aug 15, 2009 16 Comments by lusa
Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian
penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya
adalah seseorang yang sering jajan alias punya kebiasaan perilaku yang tidak sehat. Penyakit
menular seksual yang nantinya kita bahas disini antara lain :
1. Herpes
2. Gonorea
3. Sifilis
4. Chlamidia

Herpes
Pengertian herpes adalah infeksi akut pada genetalia dengan gejala khas berupa vesikel.
Etiologi
Disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe II. Cara penularan melalui hubungan kelamin, tanpa
melalui hubungan kelamin seperti : melalui alat-alat tidur, pakaian, handuk,dll atau sewaktu
proses persalinan/partus pervaginam pada ibu hamil dengan infeksi herpes pada alat kelamin
luar.
Perbedaan HSV tipe I dengan tipe II

HSV tipe I HSV tipe II
Predileksi
Kulit dan mukosa di luar Kulit dan mukosa daerah genetalia dan
perianal
Kultur pada chorioallatoic
membran (CAM) dari telur
ayam
Membentuk bercak kecil Membentuk pock besar dan tebal
Serologi Antibodi terhadap HSV
tipe I
Antibodi terhadap HSV tipe II
Sifat lain Tidak bersifat onkogeni Bersifat onkogeni
Epidemiologi
Herpes simpleks virus tipe II ditemukan pada wanita pelacur 10x lebih tinggi daripada wanita
normal. Sedangkan HSV tipe I sering dijumpai pada kelompok dengan sosioekonomi rendah.
Patogenesis
Infeksi herpes genitalis dapat sebagai infeksi primer maupun sebagai infeksi rekuren.
Infeksi primer Infeksi primer terjadi bila virus dari luar masuk ke dalam tubuh penderita, DNA
dari tubuh penderita melakukan penggabungan dan mengadakan multiplikasi. Pada saat itu,
tubuh hospes belum memiliki antibodi yang spesifik hingga menimbulkan lesi lebih luas.
Selanjutnya virus menjalar melalui serabut syaraf sensorik menuju ganglion sakralis (syaraf
regional) dan berdiam disana.
Infeksi rekuren Infeksi rekuren terjadi pada suatu waktu bila ada faktor tertentu (trigger
factor) sehingga virus mengalami reaktivitas dan multiplikasi kembali.
Gambaran Klinis (Tanda dan Gejala)
Timbul erupsi bintik kemerahan, disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis.
Terkadang disertai demam, seperti influenza, setelah 2-3 hari bintik kemerahan berubah
menjadi vesikel disertai nyeri.
5-7 hari, vesikel pecah dan keluar cairan jernih sehingga timbul keropeng.
Kadang dapat kambuh lagi.
Komplikasi
Gangguan mobilitas, vaginitis, urethritis, sistitis dan fisura ani herpetika terjadi bila mengenai
region genetalia.
Abortus
Anomali kongenital
Infeksi pada neonatus (konjungtifitis/ keratis, ensefalitis, vesikulitis kutis, ikterus, dan anomali
konvulsi).
Penanganan
Lakukan pemeriksaan serologi (STS).
Atasi nyeri dan demam dengan parasetamol 3 x 500 mg.
Bersihkan lesi dengan larutan antiseptic dan kompres dengan air hangat.
Keringkan dan oleskan acyclovir 5% topikal setelah nyeri berkurang.
Berikan acyclovir tablet 200 mg tiap 4 jam.
Rawat inap bila terjadi demam tinggi, nyeri hebat, retensi urin, konvulsi, neurosis, reaksi
neurologik lokal, ketuban pecah dini maupun partus prematurus.
Berikan pengobatan pada pasangan berupa acyclovir oral selama 7 hari.
Bila terpaksa partus pervaginam, hindari transmisi ke bayi atau penolong.
Gonorhea
Pengertian, adalah penyakit kelamin yang bisa terjadi pada pria maupun wanita.Disebut juga
penyakit kencing nanah atau GO.
Penyebab
Penyebabnya adalah kuman Neisseria Gonorrhoea, disebut juga gonokokus, berbentuk
diplokokus.
Kuman ini menyerang selaput lendir dari :
Vagina, saluran kencing dan daerah rahim/ leher rahim.
Saluran tuba fallopi.
Anus dan rektum.
Kelopak mata.
Tenggorokan.
Tanda Dan Gejala
Penularan melalui oral, anal dan vaginal seks. Hampir 90% penderita GO tidak memperlihatkan
keluhan dan gejala. Tanda pada penderita GO baik lelaki dan perempuan, bisa tanpa keluhan dan
gejala.
Lelaki
Keluar cairan putih kekuning-kuningan melalui penis.
Terasa panas dan nyeri pada waktu kencing.
Sering buang air kecil.
Terjadi pembengkakan pada pelir (testis).
Perempuan
Pengeluaran cairan vagina tidak seperti biasa.
Panas dan nyeri saat kencing.
Keluhan dan gejala terkadang belum tampak meskipun sudah menular ke saluran tuba fallopi.
Bila gejala sudah meluas ke arah PID (Pelvic Inflamatory Disease) maka sering timbul :
Nyeri perut bagian bawah.
Nyeri pinggang bagian bawah.
Nyeri sewaktu hubungan seksual.
Perdarahan melalui vagina diantara waktu siklus haid.
Mual-mual.
Terdapat infeksi rektum atau anus.
Bila GO tidak diobati maka 1% dari lelaki dan wanita, akan terjadi DGI atau Dessiminated
Gonorrhoe Infection. Tanda dan gejalanya berupa demam, bercak di kulit, persendian bengkak
dan nyeri, peradangan pada dinding rongga jantung, peradangan selaput pembungkus otak serta
meningitis.
Komplikasi
Komplikasi dapat timbul pada bayi, lelaki maupun perempuan dewasa.
1. Lelaki prostatitis (radang kelenjar prostat), adanya jaringan parut pada saluran kencing
(urethra), mandul/ infertil, peradangan epididimis,
2. Perempuan PID, infertil, gangguan menstruasi kronis, peradangan selaput lendir rahim
setelah melahirkan (post partum endometriosis), abortus, cistitis (peradangan kandung kencing),
peradangan disertai pus.
Pencegahan
Menghindari seks bebas (free sex).
Monogami.
Penggunaan kondom saat vaginal, oral maupun anal seks.
Penanganan
1. Pada masa kehamilan, berikan antibiotika seperti : a) Ampisilin 2 gram IV dosis awal,
lanjutkan dengan 3 x 1 gram per oral selama 7 hari. b) Ampisilin + Sulbaktan 2,25 gram oral
dosis tunggal. c) Spektinomisin 2 gram IM dosis tunggal. d) Seftriakson 500 mg IM dosis
tunggal.
2. Masa nifas, berikan antibiotika seperti : a) Xiprofloksasin 1 gram dosis tunggal. b)
Trimethroprim + Sulfamethoksazol (160 mg + 800 mg) 5 kaplet dosis tunggal.
3. Oftalmia neonatorum (konjungtivitis) : a) Garamisin tetes mata 3 x 2 tetes. b) Antibiotika
Ampisilin 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Amoksisilin + asam klamtanat 50 mg/ kgBB IM
selama 7 hari; Seftriakson 50 mg/ kgBB IM dosis tunggal.
4. Lakukan konseling tentang metode barier dalam melakukan hubungan seksual.
5. Berikan pengobatan yang sama pada pasangannya.
6. Buat jadual kunjungan ulang dan pastikan pasangan & pasien akan menyelesaikan pengobatan
hingga tuntas.
Sifilis
Pengertian
Adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema Pallidum, bersifat kronik dan sistematik.
Nama lain adalah Lues venereal atau raja singa.
Penyebab
Penyebabnya adalah Treponema Pallidum, termasuk ordo Spirochaecrales, familia
Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk spiral teratur, panjang 6-15 m, lebar 0,15 m,
terdiri atas 8-24 lekukan. Pembiakan secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi
setiap 30 jam.
Klasifikasi
Sifilis terbagi menjadi sifilis congenital dan sifilis akuista.
1. Sifilis Kongenital, terbagi atas : a) Dini (sebelum 2 tahun); b) Lanjut (sesudah 2 tahun);
Stigmata
2. Sifilis Akuista, terbagi : a) Klinik; b) Epidemiologik
Menurut caranya sifilis dibagi menjadi tiga stadium yaitu : Stadium I (SI); Stadium II (SII);
Stadium III (SIII)
Secara epidemiologik, WHO membagi menjadi :
Stadium dini menular ( dalam waktu 2 tahun sejak infeksi), terdiri dari SI, SII, stadium rekuren
dan stadium laten dini.
Stadium lanjut tak menular (setelah 2 tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut dan
SIII.
Komplikasi
Pada kehamilan: a) Kurang dari 16 minggu : kematian janin (sifilis fetalis). b) Stadium lanjut :
prematur, gangguan pertumbuhan intra uterin, cacat berat (pnemonia, sirosis hepatika,
splenomegali, pankreas kongenital, kelainan kulit dan osteokondritis).
Tanda dan gejala
Lesi (berupa ulkus, soliter, dasar bersih, batas halus, bentuk bulat/longitudinal).
Tanpa nyeri tekan.
Penanganan
1. Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada persalinan.
2. Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada penggunaan instrumen.
3. Pemberian antibiotika, misal : Benzalin pensilin 4,8 juta unit IM setiap minggu dengan 4x
pemberian; Dofsisiklin 200 mg oral dosis awal, dilanjutkan 2100 mg oral hingga 20 hari;
Sefriakson 500 mg IM selama 10 hari.
4. Sebelum pemberian terapi pada bayi dengan dugaan/ terbukti menderita sifilis kongenital,
maka dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis dan uji serologik tiap bulan sampai negatif.
Berikan antibiotik : Benzalin pensilin 200.000 IU/ kgBB per minggu hingga 4x pemberian;
Sefriakson 50 mg/ kg BB dosis tunggal (per hari 10 hari).
5. Lakukan konseling preventif, pengobatan tuntas dan asuhan mandiri.
6. Memastikan pengobatan lengkap dan kontrol terjadwal.
7. Pantau lesi kronik atau gejala neurologik yang menyertai.
Chlamydia
Pengertian
Adalah infeksi yang disebabkan oleh kuman Chlamydia trachomatis dan dapat diobati.
Penyebab
Kuman Chlamydia trachomatis.
Penularan
Kuman ini menyerang sel pada selaput lendir : a) Uretra, vagina, serviks dan endometrium. b)
Saluran tuba fallopi. c) Anus dan rektum. d) Kelopak mata. e) Tenggorokan (insiden jarang).
Chlamydia paling sering menyerang pada usia muda dan remaja. Penularannya dapat melalui :
hubungan seksual secara oral, anal maupun oral seks; hubungan seksual dengan tangan, sehingga
cairan mani terpercik ke mata; dari ibu ke bayi sewaktu proses persalinan.
Tanda dan gejala
Sekitar 75 % perempuan dan 50% laki-laki yang tertular Chalmydia tidak menunjukkan tanda
dan gejala. Keluhan dan gejala biasanya timbul sekitar 3 minggu setelah tertular kuman
chlamydia.
Adapun tanda dan gejalanya adalah :
1. Menderita proktitis (radang rektum), urethritis (radang saluran kencing) dan konjungtivitis
(radang selaput putih mata).
2. Pada wanita : keluar cairan dari vagina; perasaan panas dan nyeri sewaktu buang air kecil
3. Bila sudah menyebar ke tuba fallopi, akan timbul : nyeri perut bagian bawah; nyeri sewaktu
coitus; timbul perdarahan pervaginam diantara siklus haid; demam dan mual-mual
4. Pada pria : keluar cairan kuning seperti pus dari penis; nyeri dan rasa terbakar sewaktu
kencing; nyeri dan bengkak pada testis
Komplikasi
Perempuan Laki-laki Bayi baru lahir
1. PID
2. Infertil
3. Radang kandung kencing
(cyctitis)
4. Radang serviks (servisitis)
1. Prostitis
2. Timbul jaringan parut pada
urethra
3. Infertil
4. Epididimis
1. Kebutaan
2. Pneumoni (radang
paru)
3. Kematian
Pencegahan
1) Hindari seks bebas; 2) Monogami; 3) Gunakan kondom saat hubungan seks baik dengan oral,
anal maupun vaginal seks.
Penanganan
1. Doksisiklin per oral 2x sehari selama 7 hari.
2. Asitromisin dengan pemberian dosis tunggal (kontraindikasi untuk ibu hamil, gunakan
eritromisin, amoksilin, azitromisin).
3. Lakukan follow-up pada penderita dengan : a) Apakah obat yang diberikan sudah diminum
sesuai anjuran. b) Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati. c) Jangan melakukan
hubungan seks, bila pengobatan belum selesai. d) Lakukan periksa ulang 3-4 bulan setelah
selesai pengobatan.
Referensi
Adobe Reader- [HIV-AIDSbooklet_part3.pdf].
Adobe Reader- [SSH-6135-IND.pdf]. Chlamydia Dan Gonorea.
Harahap, M, 1984. Penyakit Menular Seksual. Gramedia, Jakarta.
Manuaba, IBG, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.
Rabe, Thomas, 2002. Buku Saku Ilmu Kandungan, Hipokrates, Jakarta.
Sarwono, 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan
Bina Pustaka. Jakarta.
Yatim, Faisal (2005). Penyakit Kandungan. Myoma, Kanker Rahim/ Leher Rahim Dan Indung
Telur, Kista, Serta Gangguan Lainnya. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai