Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman
utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.
Penetapan Kadar Sari
Penetapan kadar sari merupakan metode yang digunakan untuk
menentukan jumlah total senyawa dalam suatu tanaman obat yang dapat
diekstraksi dengan pelarut tertentu. Metode ini digunakan pada tanaman yang
belum terdapat penetapan secara biologi atau kimia yang tepat. Pelarut yang
digunakan antara lain alkohol, air, heksana, diklorometana, kloroform dan
metanol. Dalam penetapan kadar sari juga dipanaskan hingga mencapai bobot
tetap. Bobot tetap adalah bobot yang diperoleh setelah melakukan dua kali
penimbangan berturut-turut dimana berat simplisia berbeda tidak lebih dari ,!
mg tiap g sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah "at dikeringkan
lagi selama # jam. $ang menjadi parameter dalam penetapan kadar sari adalah
senyawa yang terlarut dalam pelarut tertentu.
Penetapan Susut Pengeringan
Susut pengeringan ialah kadar bagian yang menguap suatu "at. %ecuali
dinyatakan lain, suhu penetapan adalah #!&. Pengukuran sisa "at setelah
pengeringan pada temperatur #!& selama ' menit atau sampai bentuk konstan,
yang dinyatakan sebagai nilai persen. Dalam hal ini khusus di mana bahan tidak
mengandung minyak menguap atau atsiri dan sisa pelarut organik menguap, bahan
ini identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di atmosfer atau
lingkungan terbuka. (ujuan dari pada ini adalah untuk memberikan batasan
maksimal tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan.
Metode susut pengeringan adalah metode yang digunakan untuk
menetapkan kadar bagian dari simplisia yang menguap, misalnya yang umum
digunakan adalah air. Metode susut pengeringan ini tidak dapat digunakan apabila
simplisia tersebut mengandung minyak atsiri memiliki titik didih lebih dari #&
di mana minyak atsiri tidak dapat menguap pada #&. Suhu tersebut merupakan
suhu penetapan pada metode susut pengeringan. Metode susut pengeringan terus
dilakukan sampai memperoleh bobot tetap simplisia.
Penetapan Kadar Tanin
(anin merupakan hasil metabolis sekunder tumbuhan yang mengandung
gugus fenol dan memiliki rasa sepat. Secara kimia, tanin dibagi menjadi dua
golongan yaitu tanin kondensasi dan tanin terhidrolisis.
Penetapan kadar tanin dilakukan dengan mengekstraksi tanin dari
simplisia menggunakan air panas sampai tanin dalam simplisia benar-benar habis.
)da tidaknya kandungan tanin dalam simplisia dapat diuji dengan menambahkan
*e&l
'
. )pabila terkandung tanin akan memberikan warna biru kehitaman
#
sedangkan bila hasilnya negatif warna tidak berubah. +al ini disebabkan karena
tanin merupakan campuran polihidroksi ben"en dan deri,at karbohidrat atau gula
yang mengandung gugus -.+ fenolik. %emudian hasil ekstraksi tersebut disaring
dan filtratnya dititrasi dengan pereaksi yang tepat sehingga dapat ditetapkan
kadarnya melalui perhitungan kuantitatif.
Penetapan Kadar Minyak Atsiri
Minyak atsiri merupakan salah satu bentuk metabolit sekunder dari
tanaman. Minyak atsiri adalah "at yang berbentuk cairan atau "at padat yang
mudah menguap, berasal dari tumbuhan dan berbau seperti tumbuhan asalnya.
%omponen Minyak )tsiri /
Senyawa terpen / hemiterpen, monoterpen, seskuiterpen
Senyawa fenilpropan
Senyawa dengan 0 10itrogen2
Senyawa dengan S 1Sulphur2
Bahan yang diperiksa jika perlu, digiling menjadi serbuk kasar atau
dimemarkan. 3ntuk pembuatan serbuk, bahan setelah dikeringkan diatas kapur
tohor sebaiknya digiling menggunakan penggiling sederhana yang digerakkan
dengan tangan, supaya penggiling tidak menjadi panas. Pememaran dikerjakan
dalam sebuah mortir, kemudian mortir dibilas dengan cairan penyuling. &ara
penetapan /
&ara 4
&ampur bahan yang diperiksa dalam labu dengan cairan penyuling,
pasang alat, isi buret dengan air hingga penuh, panaskan dengan penangas
udara sehingga penylingan berlangsung dengan lambat tapi teratur.Setelah
penyulingan selesai, biarkan selama tidak kurang dari #! menit, catat ,olume
minyak atsiri pada buret. +itung kadar minyak atsiri dalam 5 ,6b.
&ara 44
Dilakukan menurut cara yang tertera pada &ara 4. Sebelum buret
diisi penuh dengan air, lebih dahulu diisi dengan ,7 ml 8ilena P yang diukur
saksama. 9olume minyak atsiri dihitung dengan mengurangkan ,olume yang
dibaca dengan ,olume 8ilena. 1dikutip dari : MMI )

:ambar alat / Destilasi Stahl
7
BAB II
METODE PRAKTIKUM
A. Penetapan Kadar Sari
Skema kerja /
%eringkan serbuk simplisia di udara
(imbang ! g serbuk simplisia
Maserasi selama 7; jam menggunakan labu tersumbat
1kocok berkali-kali selama < jam pertama dan biarkan selama #= jam2
Saring ke dalam labu ukur # ml, tambahkan pelarut yang sama ad # ml
3apkan 7 ml filtrat hingga kering dalam cawan porselin yang telah ditara
Panaskan sisa pada suhu #!

& hingga mencapai bobot tetap


+itung kadar dalam persen
1dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara2
>akukan minimal tiga kali
B. Penetapan Susut Pengeringan
Skema kerja /
(imbang #-7 g simplisia dalam krus porselin yang telah dipanaskan pada
suhu penetapan selama ' menit dan telah ditara
?atakan "at dalam krus porselen
Masukkan ke dalam ruang pengering, buka tutupnya, keringkan pada suhu
penetapan hingga mencapai bobot tetap
>akukan minimal tiga kali
. Penetapan Kadar Tanin
Skema kerja /
(imbang 7 g serbuk simplisia
Panaskan dengan ! ml air mendidih di atas tangas air selama ' menit
sambil diaduk
Diamkan beberapa menit
(uang ke dalam labu ukur 7! ml melalui kertas saring
'
Sari sisa dengan air mendidih
Saring larutan ke dalam labu ukur yang sama
3langi penyaringan beberapa kali hingga tidak ada tanin yang tersisa
Dinginkan cairan
(ambahkan air hingga 7! ml
Pipet 7! ml larutan ke dalam erlenmeyer # ml
(ambahkan @! ml air A 7! ml asam indigo sulfonat >P
(itrasi dengan %mn.; ,#0 hingga berwarna kuning emas
+itung kadar tanin
D. Penetapan Kadar Minyak Atsiri
Skema kerja /
Pasang alat destilasi Stahl
&uci buret dengan etanol dan dengan eter
Bebas lemakkan dengan +&l
Bilas dengan air hingga bebas asam
(imbang bahan
Masukkan dalam labu
(ambahkan B ' ml air
4si buret dengan air hingga penuh
Panaskan dengan tangas udara selama < jam
Setelah penyulingan diamkan selama #! menit
&atat ,olume minyak atsiri
+itung kadar minyak atsiri
;
BAB III
HASIL PRAKTIKUM
Penetapan Kadar Sari
&awan porselin 4 44 444
&P kosong !',C7#@ g <;,<<#C g <C,CC7 g
.,en 4 ,@=C g ,#! g ,=C! g
.,en 44 ,@=; g ,#7 g ,=C g
D 1#-72 ,! g ,' g ,! g
Batasan B( ,'C;! mg ,!7! mg ,;;7! mg
Perhitungan +asil/
11bobot 44 - bobot cawan kosong2 8 ;26 jumlah serbuk2 8 #5
#. 5 %adar sari yang larut dalam etanol E 11!;,#-!',C7#@2 8 ;26 ! 8 #5
E <,7@75
7. 5 %adar sari yang larut dalam etanol E 11<;,@<7#-<;,<<#C2 8 ;26 ! 8 #5
E =,#<5
'. 5 %adar sari yang larut dalam etanol E 11 @,=#-<C,CC72 8 ;26! 8 #5
E @,#75
?ata-rata E @,#'<5
SD E ,=@7##=;
?entang E <,7<'==CC#!-=,=##=!5
?ata-rata baru E <,<C<5 E <,@5
(ugas Diskusi
Definisi air kloroform P 1*4 49 hal. ##7!2
Pereaksi triklormetana, mengandung etanol #,5 ,6, sampai 7,5 ,6,
sebagai "at penstabil 1&+&l
'
atau merupakan campuran 7,! ml kloroform P dengan air
secukupnya hingga # ml kocok hingga larut.
Definisi bobot tetap 1*4 444 hal. FFF4442
Dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari ,! mg tiap
gram sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah "at dikeringkan lagi selama
# jam.
Penetapan Susut Pengeringan
Berat 1g2 %rus 4 %rus 44 %rus 444
%rus A "at 7C,=#<= g '=,#C;7 g '',<'< g
(ara krus 7@,=7; g '<,77<7 g '#,<@;Cg
Gat #,CC7=g #,C<= g #,C<## g
.,en 'H 7C,<7;=g '=,'g '',;;!7g
.,en #!H 7C,!==<g '@,C<='g '',;#7#g
Berat 1g2 %rus 4 %rus 44 %rus 444
.,en # #,==g #,@@<= g #,@@' g
.,en 7 #,@<;< g #,@;7# g #,@'@7g
I1#-72 ,'<7 g ,';@ g ,''#g
Batasan bobot tetap ,C; g ,===; g ,==!#!g
Batasan bobot tetap %rus 4 E ,C; mg 6 #,==g
Batasan bobot tetap %rus 44 E ,===;mg 6 #,@@<=g
Batasan bobot tetap %rus 444 E ,==!#!mg 6 #,@@'g
!
Perhitungan +asil Percobaan /
5 susut pengeringan E 1berat simplisia-bobot tetap26bobot "at yang ditimbang 8 # 5
#. 5 susut pengeringan E 17C,=#<=-7C,!==<2 6 #,CC7= 8 #5
E ##,;!5
7. 5 susut pengeringan E 1'=,#C;7-'@,C<='2 6 #,C<= 8 # 5
E ##,;=5
'. 5 susut pengeringan E 1'',<'<-'',;#7#2 6 #,C<## 8 #5
E ##,;75
?ata-rata E ##,;!5
?entang E ##,;7-##,;=5
(ugas Diskusi
Definisi bobot tetap
Dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari ,! mg tiap
gram sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah "at dikeringkan lagi selama
# jam.
Penetapan Kadar Tanin
Serbuk simplisia E 7,### g
9olume )sam .ksalat 9olume %Mn.;
#, ml , - #,!; ml
#, ml , - #,;C ml
#, ml , - #,;C ml
?ata-rata E #,!<<<<@ ml
Pembakuan/
)sam oksalat E ,<'; g
0 asam oksalat E 1,<';6#7<,@2 8 1#6#2 8 7 E ,#@C'7 0
)sam oksalat J %Mn.;
9 #. 0# E 97 . 07
# 8 ,#@C'7 E #,!<<<<@ 8 0 %Mn.;
0 %Mn.; E ,C!#=!77 0
9olume blanko E C,'; ml
9olume Simplisia 9olume %Mn.;
7!, ml , - #',#7 ml
7!, ml , - #',C7 ml
7!, ml , - #7,C# ml

Perhitungan tannin secara kuantitatif/
# ml %Mn.; ,# 0 J ,;#!@ g tanin
# ml %Mn.; ,C!#=!77 0 J 1,C!#=!776,#28,;#!@ g
E ,'C!<=;C!C! g tanin
Perhitungan hasil/
11 9 titran - 9 blanko2 8 #6 jumlah serbuk2 8 #5
1%et/ 9 blanko digunakan untuk mengurangi kesalahan saat titrasi2
1. 5 %adar tanin E 11#',#7-C,';2 8,'C!<=;C!C!g2 8 #67g 2 8 #5 E @,;=5
2. 5 %adar tanin E 11#',C7-C,';2 8,'C!<=;C!C!g2 8 #67g2 8 #5 E C,<5
3. 5 %adar tanin E 11#7,C#-C,';2 8 ,'C!<=;C!C!g2 8 #67g2 8 #5 E @,<5
?ata-rata E @,=<<<<<<<@5
SD E ,=<#!=@@C
?entang E @,!<@==@-=,@7@@7!;;<5
?ata-rata baru E @,7@5
<
Penetapan Kadar Minyak Atsiri
Bobot simplisia E 7,! g 1a gram2
9olume Fylena E ,7 ml
9olume minyak atsiri E ,! ml 1b ml2
Perhitungan hasil/
5 %adar minyak atsiri E 1b6a2 8 #5
E 1,!67,!2 8 #5 E 75
(ugas diskusi
Simplisia Curcuma xanthoriza
Bobot simplisia / 7,! gram
Metode destilasi / Metode Stahl 44
Kenis cairan penyuling / aLuadem
9olume cairan penyuling / B ' ml
>ama destilasi / 7 jam
Simplisia
&airan
penyulingan
0ama
Kumlah
1g2
%eadaan Kenis
Kumlah
1ml2
&ara
Maktu
penyulingan
Buah
kemukus
7
Digiling
1serbuk2
) ' 44 < jam
?impang
kunyit
<
Digiling
1serbuk2
) ' 44 < jam
Buah cabe
jawa
#
Digiling
1serbuk2
) ' 44 < jam
?impang
temulawak
7,!
Digiling
1serbuk2
) ' 44 < jam
@
BAB I!
PEMBAHASAN
A. Penetapan Kadar Sari
Penetapan kadar sari digunakan untuk menentukan jumlah senyawa
aktif yang terdapat pada suatu simplisia yang dapat terekstraksi oleh pelarut
tertentu pada tanaman obat yang belum ditetapkan secara kimia atau biologi
yang tepat. Penetapan kadar sari juga dapat ditempuh dengan cara lain yaitu
dengan cara destilasi maupun refluks.
Pada percobaan simplisia yang digunakan adalah rimpang kunyit
1Curcuma domestica rhizoma2 yang sudah dimaserasi selama 7; jam.
Maserasi adalah suatu metode ekstraksi dimana diharapkan terjadi difusi
kandungan dari serbuk simplisia masuk ke dalam pelarut 1didiamkan dengan
sedikit pengocokan2. (ujuan pengocokan disini adalah untuk meningkatkan
kelarutan dari senyawa yang terdapat dalam simplisia.
Pemanasan di o,en bertujuan untuk mencapai bobot tetap dari
simplisia. Sebelum dilakukan pemanasan berikutnya, simplisia terlebih
dahulu didinginkan di dalam eksikator. +al ini bertujuan untuk mengurangi
penguapan yang terjadi karena bila simplisia menyerap air dari uap yang
ditimbulkannya maka hal ini akan membuat berat simplisia lebih besar.
Pemanasan dilakukan terus menerus sampai bobot tetap tercapai.
Bobot tetap adalah bobot yang diperoleh setelah melakukan dua kali
penimbangan berturut-turut dimana berat simplisia berbeda tidak lebih dari
,! mg tiap g sisa yang ditimbang. +asil yang kami peroleh lebih besar dari
syarat bobot tetap pada masing-masing cawan. +al ini disebabkan karena /
#. Maktu pada saat pemanasan di water bath kurang lama sehingga masih
ada air yang tersisa.
7. Pemanasan pada suhu penetapan 1#!

&2 di o,en seharusnya diperlukan


waktu kurang lebih # jam tetapi karena keterbatasan waktu praktikum
maka proses pemanasan hanya dilakukan selama ' menit dan
pemanasan kedua yang seharusnya dilakukan selama kurang lebih # jam
hanya dilakukan selama #! menit.
'. Simplisia masih belum mencapai bobot tetap.
Berdasarkan hasil teoritis persentase minimal kadar sari dalam
Curcuma domestica rhizoma adalah #5. Pada hasil percobaan didapatkan
persentase kadar sari sebesar <,@5 sehingga kadar sari yang didapatkan
belum memenuhi persentase yang sesuai dengan standar kadar sari untuk
Curcuma domestica rhizoma.
B. Penetapan Susut Pengeringan
Penetapan susut pengeringan adalah suatu metode yang digunakan
untuk menentukan kandungan air dalam suatu simplisia. $ang diharapkan
dari percobaan ini adalah pengurangan air yang maksimal hingga dicapai
suatu bobot tetap. )danya air dalam simplisia sangat berpengaruh dalam
pembuatan obat karena kadar air yang tinggi akan mempercepat pembusukan
dan tumbuhnya jamur 1tempat lembab2.
=
Perhitungan besar susut pengeringan dapat diperoleh melalui
perhitungan selisih berat simplisia awal dikurangi dengan berat simplisia
setelah mencapai bobot tetap. Dalam percobaan, simplisia yang digunakan
adalah rimpang temulawak 1Curcuma xanthoriza rhizoma2. Persen susut
pengeringan yang didapatkan sebesar ##,;!5. Berdasarkan literatur 1M+.2
dinyatakan bahwa susut pengeringan Curcuma domesica rhizoma adalah
tidak lebih dari #5. Persen yang didapat tidak memenuhi standar susut
pengeringan, hal ini disebabkan oleh /
#. Simplisia yang dikeringkan masih belum mencapai bobot tetap.
7. Suhu pemanasan yang kurang optimal, karena o,en sering dibuka tutup.
. Penetapan Kadar Tanin
Pada percobaan ini dilakukan penetapan kadar tanin secara
permanganometri. Permanganometri adalah salah satu metode penetapan
kadar secara ,olumetri berdasarkan pertukaran ion yakni reaksi reduksi-
oksidasi 1redoks2. Simplisia yang digunakan adalah serbuk daun teh
1Camellia sinensis2.
Sebelum dilakukan penetapan kadar tanin, serbuk daun teh harus
diekstraksi terlebih dahulu menggunakan air panas. 3ntuk mengetahui
apakah masih ada tanin yang tersisa dalam serbuk daun teh perlu diuji dengan
menambahkan larutan *e&l
'.
Bila diuji memberikan warna biru tua maka
masih ada tanin di dalam serbuk daun teh tersebut sehingga harus diekstraksi
menggunakan air panas lagi. 0amun apabila memberikan warna hijau
kekuningan, maka sudah tidak ada tanin yang tersisa di dalam serbuk daun
teh tersebut. Marna biru yang muncul disebabkan oleh kompleks antara *e
dengan gugus fenol yang ada pada tanin.
Pada penetapan kadar tanin ditambah asam indigo sulfonat
dimaksudkan untuk memberi suasana asam 1mengandung +
7
S.
;
2, dan
berfungsi sebagai indikator. Sebenarnya titrasi dengan metode
permanganometri tidak memerlukan indikator sebab %Mn.
;
bersifat sebagai
otoindikator tetapi ()( permanganometri berwarna merah muda sekali
sedangkan sampel berwarna kecokelatan jadi ()( sulit untuk diamati.
Dengan penambahan asam indigo sulfonat, sampel akan berwarna biru tua
dan pada saat ()(, kelebihan %Mn.
;
akan bereaksi dengan asam indigo
sulfonat ini yang menghasilkan warna kuning keemasan. Penambahan @! ml
aLuadem dimaksudkan untuk memperjelas warna asam indigo sulfonat
supaya tidak terlalu pekat.
)sam indigo sulfonat dibuat dengan melarutkan # g indigo karmin P
ke dalam 7! ml asam sulfat P, ditambah 7! ml asam sulfat P lagi dan
diencerkan dengan air secukupnya hingga # ml. Pengenceran dilakukan
dengan menuangkan larutan ke dalam sebagian besar air, kemudian encerkan
dengan air secukupnya hingga # ml.
Pada percobaan kadar tanin dilakukan, didapatkan kadar tanin yang
ada dalam daun teh kering sebesar @,7@5. %adar tanin dalam daun teh
dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya jenis teh, waktu panen dan kondisi
alam setempat. %ondisi alam yang dimaksud adalah iklim yang meliputi
C
jumlah curah hujan, kelembapan udara. *aktor iklim tersebut berpengaruh
terhadap pembentukan dan banyaknya jumlah tanin yang terdapat pada sel-sel
daun teh. Berdasarkan literatur, seharusnya kadar tanin dalam daun teh kering
adalah sebesar =,#<-7<,#'5. %adar yang kami peroleh tidak memenuhi
rentang standar persentase kadar tanin dalam teh. +al ini dapat disebabkan
oleh kurangnya proses ekstraksi yang dilakukan sehingga masih ada tanin
yang tersisa di serbuk daun teh.
D. Penetapan Kadar Minyak Atsiri
Penetapan kadar minyak atsiri pada percobaan ini digunakan
simplisia rimpang temulawak 1Curcuma xanthorrhiza2. Minyak atsiri
merupakan salah satu bentuk metabolit sekunder dari tanaman.
Sebelum proses destilasi dimulai, pertama-tama dilakukan pencucian
buret. Pencucian pertama digunakan etanol yang polar sehingga mampu
melarutkan senyawa organik. %emudian dicuci dengan eter yang semi polar
yang juga mampu melarutkan senyawa organik namun lebih mudah menguap.
Selanjutnya dicuci menggunakan +&l yang berfungsi untuk melarutkan
lemak. (erakhir buret dibilas dengan aLuadem untuk menghilangkan sisa-sisa
pencucian sebelumnya.
Minyak atsiri yang dihasilkan dari rimpang temulawak memiliki
berat jenis yang lebih besar daripada berat jenis air sehingga bila tidak
ditambahkan suatu pengikat maka fase minyak atsiri akan berada di bawah
sehingga tidak dapat dilakukan pengukuran secara kuantitatif. .leh karena itu
pada penetapan kadar minyak atsiri rimpang temulawak digunakan 8ylena p
yang dapat mengikat minyak atsiri yang dihasilkan dan 8ylena p memiliki
berat jenis yang lebih kecil dibandingkan berat jenis air. 3ntuk memperoleh
minyak atsiri diperlukan tangas udara karena suhu penguapan minyak atsiri
melebihi # &. (angas udara dapat menghasilkan panas hingga 7

&.
3mumnya pemanasan dilakukan selama < jam, namun apabila minyak atsiri
masih menetes destilasi sebaiknya dilakukan. %arena keterbatasan waktu
praktikum, proses destilasi hanya dilakukan selama 7 jam.
Minyak atsiri adalah minyak yang mudah menguap, sehingga harus
berhati-hati dalam membuka kran untuk menghindari penguapan. Minyak
atsiri juga dapat berkondensasi dalam pendingin sehingga dapat terpisah
dengan air, dimana berat jenis minyak atsiri lebih kecil dari berat jenis air.
Dalam percobaan kadar minyak atsiri yang terkandung dalam rimpang
temulawak didapat kadar sebesar #,#@ 5. Menurut literatur, kadar minimal
minyak atsiri dalam suatu simplisia adalah '-!5. %urangnya kadar minyak
atsiri ini disebabkan oleh kurangnya waktu destilasi, yang seharusnya < jam
dipersingkat menjadi 7 jam karena waktu praktikum yang terbatas. Mutu
simplisia juga dapat berpengaruh dalam kadar minyak atsiri.
#
BAB !
KESIMPULAN
#. %adar sari yang didapatkan tidak memenuhi standar kadar sari Curcuma
domestica rhizoma.
7. Besar susut pengeringan yang didapatkan tidak memenuhi standar susut
pengeringan Curcuma domestica rhizoma.
'. %adar tanin yang didapatkan tidak memenuhi standar kadar tanin dalam
serbuk daun teh kering.
;. %adar minyak atsiri yang didapatkan tidak memenuhi standar kadar minyak
atsiri dalam Curucuma xanthorrhiza.
##
DA"TAR PUSTAKA
Dep%es ?4. #C@@. Materia Medika 4ndonesia Kilid #.
+ariana + )rief. 7@. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, seri II dan seri
III. Kakarta / Penebar swadaya.
+arnani, ?ahardjo Mono. 7!. Tanaman erkhasiat !ntioksidan.
Kakarta / Penebar swadaya.
#7