Anda di halaman 1dari 23

BAB I

DIKSI DAN GAYA BAHASA


A. KATA DAN PILIHAN KATA
1. Kata Dan Gagasan
Kata merupakan suatu unit dalam bahasa yang memiliki stabilitas intern dan
mobilitas poposional, yang berarti ia mempunyai komposisi tertentu baik
monologis maupun morfologis dan secara relatif memiliki distribusi yang bebas.
(Gorys Keraf, Hal. 21)
Pengertian yang tersirat dalam sebuah kata itu mengandung makna baha
tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. !tau dengan kata lain,
kata"kata adalah penyalur gagasan yang akan disampaikan kepada orang lain. #ila
kita menyadari baha kata adalah alat penyalur gagasan, maka hal itu berarti
semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula ide atau
gagasan yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya. (Gorys Keraf, Hal.
21)
$idak dapat disangkal baha penguasaan kosa kata adalah bagian yang
terpenting dalam dunia perguruan tinggi. Prosesnya mungkin lamban dan sukar,
namun seorang akan merasa lega dan puas, sebab tidak akan sia"sia semua %erih
payah yang telah diberikan. &anfaat dari kemampuan yang diperolehnya itu akan
lahir dalam bentuk penguasaan terhadap pengertian"pengertian yang tepat bukan
sekedar mempergunakan kata yang hebat tanpa isi. 'engan pengertian"pengertian
yang tepat itu, kita dapat pula menyampakan pikiran kita secara sederhana dan
langsung.
2. Pilihan Kata
Pengertian pilihan kata atau diksi %auh lebih luas dari apa yang dipantulkan
oleh %alinan kata"kata itu. (stilah ini bukan hanya dipergunakan untuk menyatakan
kata"kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan. $etapi
%uga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa dan ungkapan. )raseologi
1
mencakup persoalan kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang
menyangkut cara"cara yang khusus berbentuk ungkapan"ungkapan. Gaya bahasa
sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan"ungkapan yang indifidual
atau yang memiliki nilai artistik yang tinggi.
Pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata, tetapi
%uga mempersoalkan apakah kata yang dipilih itu dapat %uga diterima atau tidak
merusak suasana yang ada. *ebuah kata yang tepat untuk menyatakan suatu
maksud tertentu, belum tentu dapat diterima oleh para hadirin atau orang yang
dia%ak bicara. &asyarakat yang diikat oleh beberapa norma, menghendaki pula
agar setiap kata yang dipergunakan harus cocok atau serasi dengan norma norma
masyarakat, harus sesuai dengan situasi yang dihadapi. (Gorys Keraf, Hal. 2+)
'engan uraian yang singkat ini, dapat diberikan tiga kesimpulan utama
mengenai diksi. Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata"kata
mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk
pengelompokan kata kata yang tepat atau menggunakan ungkapan ungkapan yang
tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua,
pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara nuansa"nuansa
makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan
bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok
masyarakat pendengar.Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya
dimungkinkan oleh penguasa se%umlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata
bahasa itu. *edangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu
bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa. (Gorys Keraf,
Hal. 2+)
'iksi adalah pilihan kata. &aksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk
menyatakan sesuatu. ( !rifin, 2,,- Hal. 2.)
'iksi adalah Pemilihan sebuah kata yang tepat untuk menyampaikan
sebuah gagasan atau sebuah ide. (*aya)
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat
apa yang ingin disampaikannya., baik lisan maupun tulisan. 'isamping itu,
pemakaian pilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tepat penggunaan.
2
3. Makna Kata
Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung
dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi makna. #entuk atau
ekspresi adalah segi yang dapat diserap dengan pancaindra, yaitu dengan
mendengar atau degan melihat. *edangkan sisi atau makna adalah segi yang
menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena rangsangan
aspek bentuk tadi. (Gorys Keraf, Hal. 2/)
0ontoh 1
2&aling34 (Gorys Keraf, Hal. 2/)
Keterangan 1
Pada aktu orang berteriak 2&aling34 timbul reaksi dalam pikiran kita baha ada
seorang telah berusaha untuk mencuri barang atau milik orang lain. *edangkan
makna atau isi adalah reaksi yang timbul pada orang yang mendengar.
2#an%ir 34 (*aya)
Keterangan 1
Pada saat orang berkata 2#an%ir 34 timbul reaksi dalam fikiran kita baha
adanya air yang menggenagi suatu tempat atau daerah. *edangkan makna atau isi
adalah reaksi yang timbul pada orang yang mendengar.
5eaksi yang timbul itu dapat teru%ud pengertian atau tindakan atau kedua"
duanya. Karena dalam berkomunikasi kita tidak hanya berhadapan dengan 2kata4
yang menggenangi sebuah daerah atau tempat. *edangkan reaksi yang timbul
pada orang yang mendengar itu adalah makna atau isitetapi dengan suatu kata
yang mendukung suatu amanat. &aka ada beberapa unsur yang terkandung dalam
u%aran kata yaitu1 pengertian, perasaan, nada dan tujuan. (Gorys Keraf, Hal. 2/)
Pengertian merupakan landasan dasar untuk menyampaikan hal"hal tertentu
kepada pendengar atau pembaca dengan mengharapkan reaksi tertentu. Perasaan
lebih mengarah kepada sikap pembicara terhadap apa yang dikatakannya,
bertalian dengan nilai rasa terhadap apa yang dikatakan pembicara atau penulis.
6
Nada mencakup sikap pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca.
*edangkan tujuan yaitu efek yang ingin dicapai oleh pembicara atau penulis.
&emahami semua hal itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari seluruh usaha
untuk memahami makna dalam komunikasi.
4. Macammacam Makna
Pada umumnya makna kata pertama"tama dibedakan atas makna yang
bersifat denotatif dan makna kata yang bersifat konotatif.
a. Makna D!n"tati#
&akna denotatif adalah makna dalam alam a%ar secara eksplisit. &akna
a%ar ini adalah makna yang sesuai apa adanya. (!rifin, 2,,-, Hal. 2.)
&akna denotatif adalah kata yang tidak mengandung makna atau perasaan
tambahan. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 27)
&akna denotatif adalah sebuah kata yang didalamnya tidak terdapat makna
tambahan. (*aya)
&akna denotatif dapat dibedakan atas dua macam relasi, yaitu pertama
relasi antara sebuah kata dengan barang indi8idual yang diakilinya. Kedua relasi
antara sebuah kata dengan ciri"ciri atau peratakan tertentu dari barang yang
diakilinya.
'alam bentuk murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa ilmiah.
*eorang penulis hanya ingin menyampaikan informasi kepada kita, dalam hal ini
khususnya bidang ilmiah, akan berkecenderungan untuk menggunakan kata"kata
yang denotatif. *ebab pengarahan yang %elas terhadap fakta yang khusus adalah
tu%uan utamanya. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 2.)
0ontoh 1
1. 5umah itu luasnya 250 meter persegi. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 27)
2. Makan. (!rifin, 2,,- Hal. 2.)
6. !da seratus orang yang mengikuti lomba itu. (*aya)
+
Keterangan 1
Pada contoh diatas semuanya mengandung makna denotatif, karena semua kata
diatas tidak mengandung makna atau perasaan tambahan.
$. Makna k"n"tati#
Konotasi atau makna konotatif disebut %uga dengan makna konotasional,
makna emotif, atau makna evaluatif. &aka konotatif adalah suatu %enis makna
dimana stimulus dan respons mengandung nilai nilai emosional. &akna konotatif
sebagian ter%adi Krena pembicara ingin menimbulkan perasaan setu%u 9 tidak
setu%u, senang 9 tidak senang, (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 2-)
&emilih konotasi, seperti yang sudah disinggung diatas, adalah masalah
yang %auh lebih berat bila dibandingkan dengan memilih denotasi. :leh karena
itu, pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat
konotatif. #ila sebuah kata mengandung konotasi yang salah, misalnya kurus"
kering untuk menggantikan kata ramping dalam sebuah konteks yang saling
melengkapi, maka kesalahan semacam itu mudah diketahui dan diperbaiki. *angat
sulit adalah perbedaan makna antara kata"kata yang bersinonim, tetapi mungkin
mempunyai perbedaan arti yang besar dalam konteks tertentu.
*ering sinonim dianggap berbeda hanya dalam konotasinya. Kenyataannya
tidak selalu demikian. !da sinonim"sinonim yang memang hanya mempunyai
makna denotatif, tetapi ada %uga sinonim yang mempunyai makna konotatif.
&isalnya, kata mati, meninggal, wafat, gugur, mangkat, berpulang memiliki
denotasi yang sama yaitu 2 peristia dimana %ia seseorang telah meninggalkan
badannya4. ;anun kata wafat, meninggal, berpulang mempunyai konotasi
tertentu, yaitu mengandung nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan, sedangkan
mangkat memiliki konotasi lain yaitu mengandung nilai 2kebesaran4 dan gugur
mengandung nilai keagungan dan keluhuran. *ebaliknya kata persekot, uang
muka, atau panjar hanya mengandung makna denotatif. (Gorys Keraf, 2,,- Hal.
6,)
/
&akna konotatif adalah makna kias, bukan makna sebenarnya. (<id%ono,
2,,. Hal. 1,/)
&akna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat
dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah
makna konseptual. (!rifin, 2,,. Hal. 2-)
&akna konotatif adalah makna kata yang mengandung perasaan arti
tambahan, perasaan tertentu. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 2.)
&akna konotatif adalah makna yang didalamnya terdapat arti tambahan
yang dikaitkan dengan situasi dan kondisi tertentu. (*aya)
&akna konotatif sifatnya lebih professional dan operasional daripada
makna denotatif. &akna denotatif adalah makna yang umum. 'engan kata lain,
makna konotatif adalah makna yang dikaitkan dengan kondisi dan situasi tertentu.
0ontoh 1
1. Ruma = gedung, isma, graha (!rifin, 2,,. Hal. 2-)
2. Meluap hadirin yang mengikuti pertemuan itu. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 2.)
6. &egaati dan *usilo #ambang >udoyono #erebut kursi Presiden.(<id%ono,
2,,., Hal. 1,?)
+. !ukang kayu itu membuat %endela. (*aya)
Keterangan 1
*emua kata yang bercetak miring diatas merupakan makna konotatif, karena
makna yang ada didalamnya terdapat arti tambahan %ika dikaitkan dengan dengan
situasi dan kondisi tertentu.
%. K"nt!ks Ling&istis Dan N"nling&istis
a. K"nt!ks N"nling&istis
5elasi pertama erat hubungannya konteks nonlinguistik. Konteks
nonlinguistis mencakup dua hal, yaitu hubungan antara kata dan barang atau hal,
dan hubungan antara bahasa dan masyarakat atau disebut %uga konteks sosial.
Konteks sosial ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam penggunaan
kata atau bahasa. Penggunaan kata"kata seperti istri kawan sa"a dan bini kawan
?
sa"a# bua"a darat itu tela melaap semua arta bendan"a dan orang itu tela
melaap semua arta bendan"a# kami moon maaf dan kami moon ampun,
semuanya dilakukan berdasarkan konteks sosial atau situasi yang dihadapi. (Gorys
Keraf, 2,,- Hal.62)
<alaupun ada ahli yang menolak konteks nonlinguistik sebagai hal yang telah
berkaitan dengan bahasa, namun seperti tampak dari contoh"contoh di atas,
konteks sosial ini merupakan bagian dari aparat linguistik. &enurut )ifth, konteks
sosial itu mencakup 1
1) $iri%&iri "ang relefan dari partisipan@ orang"orang atau pribadi"pribadi
yang terlibat dalam kegiatan berbicara. ciri"ciri ini dapat teru%ud 1
a) aksi ferbal dari partisipan, yaitu setiap orang yang terlibat akan
mempergunakan bahasa yang sesuai dengan situasi atau kedudukan
sosialnya masing"masing.
b) aksi non%ferbal dari partisipan, yaitu tingkah laku non"bahasa (gerak"
gerik, mimik dan sebagainya) yang mengiringi bahasa yang digunakan,
%uga dipengaruhi oleh status sosial para partisipan.
2) 'b"ek%ob"ek "ang relevan# yang berarti baha pokok pembicaraan %uga
akan mempengaruhi bahasa para partisipan. Aika obyek yang menyangkut
pembicaraan adalah mengenai $uhan, moral, keluhuran, akan digunakan
kata"kata yang berkonotasi mulia. #idang ilmu akan mempergunakan
kata"kata ilmiah, dan bidang sastra akan mempergunakan kata"kata yang
khusus untuk kesusastraan.
6) (fek dariaksi verbal# efek yang oleh diharapkan partisipan %uga akan
mempengaruhi pilihan kata. #ila seseorang menginginkan suatu
perlakuan yang baik dan manis, maka kata"kata yang digunakan %uga akan
sesuai dengan efek yang diinginkan itu.
'engan demikian, bahasa tyang digunakan bukan hanya semata"mata karena
masalah"masalah kebahasaan, tetapi %uga masalah kemasyarakatan, yang bersifat
nonlinguistis.
7
$. K"nt!ks Ling&istis
Konteks linguistis adalah hubungan antara unsur bahasa yang satu dengan
unsur bahasa yang lain. Konteks linguistis mencakup konteks hubungan antara
kata dengan kata dalam frasa atau kalimat, hubungan antar frasa dalam sebuah
kalimat atau acana, dan %uga hubungan antar kalimat dalam acana. (Gorys
Keraf, 2,,- Hal. 66)
'alam hubungan dengan konteks ini, perlu kiranya dikemukakan suatu
pengertian yang disebut kolokasi. >ang dimaksud dengan kolokasi )&ollo&ation*
adalah lingkungan leksikal di mana sebuah kata dapat muncul. &isalnya, kata
gelap berkolokasi dengan kata malam, dan tidak pernah berkolokasi dengan kata
baik atau jaat# dengan demikian kita dapat memperoleh konstruksi malam
gelap. 'engan dasar ini dapat di pela%ari betapa jangka kolokasional dari kata"
kata dalam suatu bahasa. Kata seorang hanya bisa dipakai bagi manusia atau
malaikat atau dewa. $etapi tidak pernah untuk binatang atau makluk tak
bern"awa.
'alam konteks linguistik dapat muncul pengertian tertentu akibat perpaduan
antara dua buah kata, misalnya1 ruma a"a mengandumg pengertian 2&ilik4
ruma batu mengandumg pengertian dari atau baann"a dari. (Gorys Keraf, 2,,-
Hal. 66)
B. P'NDAYAG(NAAN KATA DAN K'T'PATAN PILIHAN KATA
1. K!t!ta)an Pilihan Kata
Persoalan pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan
pokok, yaitu pertama, ketetapan pilihan kata untuk mengungkapkan sebuah
gagasan, hal atau barang yang akan diamatkan. Kedua, kesesuaian atau kecocokan
dalam mempergunakan kata. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. .7)
Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk
menimbulkan gagasan yang tepat dalam ima%inasi pembaca atau pendengar,
.
seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan penulis atau pembicara. Ketepatan
makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk mengetahui
bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dan referensinya. (Gorys Keraf,
2,,- Hal. .7)
#ila kita mendengar seorang berkata 25oti4 maka tidak ada seorangpun
berfikir tentang suatu barang yang terdiri dari tepung, air, ragi, mentega, yang
telah dipanggang. *emua oaring berfikir kepada esensinya yaitu %enis makanan
entah itu disebut roti, bread, cake, panis atau apa sa%a istilahnya. #unyi yang kita
dengar atau bentuk rangkaian huruf yang kita kita baca akan langsung
mengarahkan kepada %enis makanan tersebut.
(tulah sebabnya, dikatakan baha kata adalah sebuah rangkaian bunyi atau
simbol tertulis yang menyebabkan orang berfikir tentang suatu hal. 'engan kata
lain, arti kata adalah persetu%uan atau kon8eksi umum tentang interrelasi antara
sebuah kata dengan referensinya (barang atau hal yang diakilinya). (Gorys
Keraf, 2,,-. Hal. ..)
2. P!*s+a*atan K!t!ta)an Diksi
Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata unruk menimbulkan gagasan
yang sama pada ima%inasi pembaca atau pendengar, seperti yang difikirkan atau
dirasakan oleh penulis atau pembicara. (Gorys Keraf, 2,,-. Hal. ..)
#eberapa butir perhatian dan persoalan berikut hendaknya diperhatikan
setiap orang agar bisa mencapai ketepatan pilihan katanya itu.
1) &embedakan secara cermat denotasi dari konotasi. 'ari dua kata yang
mempunyai makna yang mirip satu sama lain, ia harus menetapkan mana
yang akan dipergunakannya untuk mencapai maksudnya. Aika hanya
menginginkan pengertian dasar, maka ia harus memilih kata yang
denotatif. Aika ia menghendaki reaksi emosional, ia harus memakai kata
konotatif.
2) &embedakan kata"kata yang cermat kata"kata yang hampir bersinonim.
Kata yang bersinonim tidak selalu mempunyai distribusi yang saling
-
melengkapi. :leh sebab itu, penulis atau pembicara harus berhati"hati
dalam memilih kata, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan.
6) &embedakan kata"kata yang mirip dalam e%aannya. 0ontoh1 #aha"
baah"baa, karton"kartun dan sebagainya.
+) Hindarilah kata"kata ciptaan sendiri.
/) <aspadalah terhadap penggunaan akhiran asing. 0ontoh 1 faforable"
faforit, progress"progresif, dan sebagainya.
?) Kata ker%a yang menggunakan kata depan harus digunakan secara
ideomatis. 0ontoh 1 angat akan bukan ingat terhadap, mengharapkan
bukan mengharap akan dan sebagainya.
7) Bntuk men%amin ketetapan diksi, penulis atau pembicara harus
membedakan kata umum dan kata khusus.
.) &empergunakan kata kata indria yang menun%ukkan persepsi yang khusus.
-) &emperhatikan perubahan makna yang ter%adi pada kata"kata yang
terkenal.
1,) &emperhatikan kelangsungan pilihan kata.
3. Kata (m&m Dan Kata Kh&s&s
1. Kata kh&s&s
a. Nama Di*i
Pada umumnya, kita sepakat baha nama diri adalah istilah yang paling
khusus, sehingga menggunakan kata"kata tersebut tidak akan menimbulkan salah
paham. #aha nama diri ini merupakan kata khusus, tidak boleh disamakan
dengan kata yang denotatif. 0ontoh@ seorang yang bernama &at #onang yang
dilahirkan pada tanggal 17, bulan 7, dan tahun 1--7, pada dasarnya hanya
memiliki denotasi, dan tidak akan memiliki konotasi lain selain dari penyebut
orang itu.
$etapi dalam perkembangan aktu, nama diri dapat %uga menimbulan
konotasi tertentu. Konotasi ini timbul dari perkembangan yang dialami orang
yang menggunakan nama itu. 0ontoh@ #agi (bunya, !hmad yang berumur 1 tahun
1,
adalah anak yang diman%akan, sedangkaan pada umur 1. tahun ia merupakan anak
yang banyak menimbulkan duka dan cucuran air mata karena sering berkenalan
dengan petugas keamanan. 'isini tampak baa kata yang paling khusus itu tetap
tidak menimbulkan salah paham dalam pengarahannya, tetapi kata itu sudah
menimbulkan konotasi yang berlainan dalam perkembangan aktu. Aadi, sifat
khusus dapat bersifat denotatif maupun bersifat konotatif. (Gorys Keraf, 2,,-
Hal. -1)
$. Da+a S&g!sti Kata Kh&s&s
'i samping memberi informasi yang %auh lebih banyak, kata khusus %uga
memberi sugesti yang %auh leebih mendalam. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -1)
Perhatikan contoh dibaah ini 1
+elandangan itu bertati%tati sepan%ang trotoir itu.
Kalimat ini menimbulkan efek yang mendalam. <alaupun sudah terlalu
laCim bagi kota"kota besar, namun kata gelandangan masih memiliki sugesti yang
khusus. (a bukan sa%a menyatakan seorang manusia, tetapi %uga menyatakan
tentang atak, tampang, dan karakter orang itu.
2. Kata (m&m
a. G*a,asi Kata (m&m
#ila kita beralih dari nama diri kepada kata benda misalnya, maka
kesulitan itu akan meningkat. *emakin umum sebuah kata, semakin sulit pula
tercapai titik pertemuan antara penulis dan pembaca. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -1)
Kata benda sepeti anjing misalnya akan menimbulkan daya khayal yang
berbeda antara penulis dan pembaca. Kita tidak tahu bagaimana tepatnya
pengertian dan cirri"ciri an%ing itu. &ungkin penulis membayangkan an%ing dari
keturunan herder, sebaliknya pembaca yang membaca kata an%ing itu
membayangkan seekor an%ing kampong.
11
*esungguhnya perbedaan antara yang khusus dan umum, bagaimanapun
%uga akan selalu bersifat relatif. *ebuah istilah atau kata mungkin dianggap khusus
bila dipertentangkan dengan istilah yang lain, tetapi akan dianggap umum bila
harus dibandingkan dengan kata yang lain. *emakin umum sebuah kata, semakin
sulit bagi pembaca untuk mengetahui apa yang dikatakan oleh penulis. (Gorys
Keraf, 2,,- Hal. -2)
$. Katakata A$st*ak
Kesulitan yang sama kita hadapi lagi pada aktu mendengar atau
membaca kata"kata yang abstrak dan kata yang menyatakan generalisasi. #anyak
kosakata terbentuk sebagai akibat dari konsep yang tumbuh dalam pikiran kita,
bukan mengacu kepada hal yang kongkret. *eperti pada kata"kata seperti@
kepahlaanan, keba%ikan, kebahagiaan, keadilan, dan sebagainya, akan
menimbulkan gagasan yang berlainan pada setiap orang, sesuai dengan
pengalaman dan pengertiannya mengenai kata"kata itu. (Gorys Keraf, 2,,- Hal.
-6)
4. P!ngg&naan Kata (m&m Dan Kata Kh&s&s
'alam hal ini, kebi%aksanaan setiap penulis memegang peranan yang
penting. (a tidakboleh mempergunakan kata abstrak atau kata umum lebih banyak
dari pada yang diperlukan. !pabila ia harus mempergunakannya %uga, maka ada
baiknya ia menyertakan %uga contoh"contoh yang kongkret dan khusus supaya
pembaca dapat menciptakan pengalaman"pengalaman mental, sehingga dapat
tercapai titik pertemuan itu. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -6)
Pendeknya, pengertian"pengertian yang umum perlu dapat men%elaskan
lebih lan%ut, memerlukan lagi pengembangan yang kongkret dan khusus pula.
*emakin besar suatu hal yang dinyatakan melalui suatu istilah yang umum, makin
besar pula keharusan untuk memberikan perincian"perinciannya. (Gorys Keraf,
2,,- Hal. -6)
12
%. Kata In,*ia
*uatu %enis pengkhususan dalam memilih kata"kata yang tepat adalah
penggunaan istilah yang menyatakan pengalaman"pengalaman yang dicerap oleh
pancaindria, yaitu cerapan indria penglihatan, peraba, perasa, dan penciuman.
Karena kata"kata ini menggambarkan pengalaman manusia melalui pancaindra
secara khusus, maka ter%amin pula daya gunanya. $erutama dalam membuat
deskripsi. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -+)
*ering kali baha hubungan antara suatu indria dengan indria yang
laindirasakan begitu rapat, sehingga kata yang sebenarnya hanya dikenakan
kepada suatu indria dikenakan pula pada indria lainnya. Ge%ala semacam ini
disebut sinestesia. 0ontoh1 kata merdu seharusnya bertalian dengan pendengaran,
sedangkan kata sedap bertalian dengan perasa. $etapi sering pula ter%adi baha
suara yang seharusnya bertalian dengan pendengaran disebut %uga sedap. (Gorys
Keraf, 2,,- Hal. -+)
Kata yang sediakala bertalian dengan perasa kemudian dihubungkan %uga
dengan penglihatan dan pendengaran. &isalnya 1
<a%ah manis sekali.
*uaranya manis kedengaran.
-. P!*&$ahan Makna
a. T!.a,in+a P!*&$ahan Makna
'ari aktu ke aktu, makna kata"kata dapat mengalami perubahan,
sehingga akan menimbulkan kesulitan"kesulitan baru bagi pemakai yang terlalu
bersifat konser8atif. :leh sebab itu, untuk men%aga agar pilihan kata selalu tepat,
maka setiap penutur bahasa harus selalu memperhatikan perubahan"perubahan
makna yang ter%adi. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -/)
'alam persoalan gaya bahasa atau lebih khusus dalam persoalan pilihan
kata, dasar yang dipakai sebagai patokan untuk menentukan apakah suatu makna
sudah berubah atau tidak adalah pemakaian makna dengan makna tertentu harus
16
bersifat nasional (masalah tempat) terkenal, dan sementara berlangsung (masalah
aktu). (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -/)
Komunikasi kreatif berdampak pada perkembangan diksi, berupa
penambahan atau pengurangan kuantitas maupun kualitasnya. *elain itu bahasa
berkembang sesuai dengan kualitas pemikiran pemakainya. Perkembangan dapat
menimbulkan perubahan yang mencakup perluasan, penyempitan, pembatasan,
pengaburan, dan pergeseran makna. (<id%ono, 2,,. Hal.1,2)
0ontoh 1
*ebelum perang 'unia (( kita mengenal kata 2,aulat- dengan arti@ 1. baagia,
berkat kebaagiaan, misalnya 1 ,aulat !uanku@ biasanya dipakai untuk ra%a"ra%a
atau sultan"sultan. 2. mempun"ai kekuasaan "ang tinggi, misalnya penyerahan
kedaulatan republik .ndonesia. $etapi selama re8olusi fisik menentang pen%a%ahan
belanda, kata daulat dipakai dengan arti yang agak lain yaitu merebut ak dengan
tidak sa, misalnya@ !ana%tana perkebunan belanda ban"ak "ang didaulat ole
rak"at. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -?)
$. Macammacam P!*&$ahan Makna
1. P!*l&asan A*ti
>ang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses perubahan makna
yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatu makna yang khusus,
tetapi kemudian meluas sehingga melingkupi sebuah kelas makna yang lebih
umum. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. -7)
0ontoh 1
'ahulu, kata 2#apak4 dan 2 *audara4 hanya dipakai dalam hubungan biologis,
sekarang semua orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya desebut
bapak, dan lain"lainnya dengan sudara.
2. P!n+!m)itan A*ti
Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata
damana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru. (Gorys
Keraf, 2,,- Hal. -7)
1+
0ontoh 1
Kata 2sarjana4 dulu dipakai untuk menyebutkan semua orang cendikiaan.
*ekarang dipakai untuk gelar universiter
/. GAYA BAHASA
1. P!ng!*tian Ga+a Bahasa
Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah /t"le. Kata st"le
diturunkan dari kata latin /tilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada
lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi %elas
tidaknya tulisan pada lempengan tadi. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 112)
<alaupun kata style berasal dari bahasa latin, orang yunani sudah
mengembangkan sendiri teori"teori mengenai style itu. !da dua aliran yang
terkenal, yaitu 1
a) !liran Platonik1 memgungkap style sebagai kualitas suatu ungkapan@ menurut
mereka ada ungkapan yang memiliki style, dan ada %uga yang tidak memiliki
style.
b) !liran !ristoteles1 menganggap baha gaya adalah suatu kualitas yang
inheren, ada yang ada dalam tiap ungkapan.
*ecara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui
bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan
kita dapat menilai pribadi, atak dan kemampuan seseorang yang
mempergunakan bahasa itu. *emakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula
penilaian orang terhadapnya. #egitu pula sebaliknya. *tyle atau gaya bahasa dapat
di batasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan %ia dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Gorys Keraf,
2,,- Hal. 116)
1/
2. S!n,i Ga+a Bahasa
a. K!.&.&*an
Ke%u%uran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan"aturan, kaidah"
kaidah yang baik dan benar dalam bahasa. Pemakaian kata yang kabur dan tak
terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit"belit adalah %alan untuk
mrngandung ketidak%u%uran. Pemakaian bahasa yang berbelit"belit menandakan
baha pembicara atau penulis tidak tahu apa yng akan dikatakannya. #ahasa
adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul. :leh sebab itu, ia harus digunakan
pula secara tepat dengan memperhatikan sendi ke%u%uran. (Gorys Keraf, 2,,- Hal.
11+)
$. S")ansant&n
*opan"santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang
dia%ak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. 5asa hormat dalam gaya
bahasa dimanifestasikan melalui ke%elasan dan kesingkata. (Gorys Keraf, 2,,-
Hal. 11+)
!dapun ke%elasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu 1
1) Ke%elasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat.
2) Ke%elasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui
kata"kata atau kalimat.
6) Ke%elasan dalam pengaturan ide secara logis.
+) Ke%elasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan.
Kesingkatan %auh lebih efektif dari pada %alinan yang berliku"liku.
Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata"kata secara
efesien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih, yang bersinonim secara
longgar, menghindari tautologi atau mengadakan reperisi yang tidak perlu.
'iantara ke%elasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan"santun, syarat ke%elasan
1?
masih %auh lebih penting dari pada syarat kesingkatan. (Gorys Keraf, 2,,- Hal.
11+)
c. M!na*ik
Ke%u%uran, ke%elasan, serta kesingkatan harus merupakan langkah dasar
dan langkah aal. #ila gaya bahasa hanya mengandalkan kedua atau ketiga,
kaidah diatas, maka bahasa yang digunakan masih terasa taar, tidak menarik.
:leh sebab itu, gaya bahasa harus pula menarik. Gaya bahasa menarik dapat
diukur melalui beberapa komponen sebagai berikut1 8ariasi, humor yang sehat,
pengertian yang baik, tenaga hidup (8italitas), dan penuh daya khayal (ima%inasi).
(Gorys Keraf, 2,,- Hal. 11+)
Penggunaan 8ariasi akan menghindari monotoni, dalam nada struktur, dan
pilihan kata. Humor yang sehat berarti gaya bahasa itu mengandung tenaga untuk
menciptakan rasa gembira dan nikmat. Ditalitas dan daya khayal adalah
pembaaan yang berangsur"angsur dikembangkan melalui pendidikan, latihan
dan pengalaman.
3. 0!nis.!nis Ga+a Bahasa
Gaya bahasa dapat ditin%au dari bermacam"macam sudut pandangan. :leh
sebab itu, sulit diperoleh kata sepakat mengenai suatu pembagian yang bersifat
menyeluruh dan dapat diterima oleh semua pihak. Pandangan"pandangan atau
pendapat"pendapat tentang gaya bahasa se%auh ini sekurang"kurangnya dapat
dibedakan, pertama, dilihat dari segi nonbahasa dan kedua dilihat dari segi bahasa.
(Gorys Keraf, 2,,- Hal. 11/)
a. S!gi N"n$ahasa
Pengikut !ristoteles menerima style sebagai hasil dari bermacam"macam
unsur. Pada dasarnya st"le dapat dapat dibagi atas tu%uh pokok sebagai berikut1
17
1) #erdasarkan pengarang1 Gaya bahasa yang disebut sesuai dengan nama
pengarang dikenal berdasarkan ciri"ciri pengenal yang digunakan
pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat
mempengaruhi orang"orang se%amannya. 0ontoh1 gaya 0hairil, gaya
$akdir dan sebagainya.
2) #erdasarkan &asa1 Gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal
karena ciri"ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun aktu
tertentu. 0ontoh1 gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern dan
sebagainya.
6) #erdasarkan &edium1 >ang dimaksud dengan medium adalah bahasa
dalam arti alat komunikasi. $iap bahasa karena struktur dan situasi sosial
pemakainya, dapat memiliki corak tersendiri. 0ontoh1 karangan yang
ditulis dalam bahasa Aerman, gaya bahasanya berbeda dengan yang
ditulis dengan bahasa Aepang, indonesia, !rab dan sebagainya.
+) #erdasarkan *ub%ek1 *ub%ek yang men%adi pokok pembicaraan dalam
sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah
karangan. 0ontoh yang kita kenal, gaya filsafat,ilmiah (hukum, teknik,
sastra) dan sebagainya.
/) #erdasarkan $empat1 Gaya ini mendapat namanya dari lokasi
geografis, karena ciri"ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau
ekspresi bahasanya. 0ontoh1 gaya %akarta, gaya %og%a, gaya medan dan
sebagainya.
?) #erdasarkan Hadirin1 Hadirin atau %enis pembaca %uga mempengaruhi
gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. 0ontoh1 adanya gaya
populer yang cocok untuk masyarakat banyak, anak"anak, deasa dan
sebagainya.
1.
7) #edasarkan $u%uan 1 Gaya berdasarkan tu%uan memperoleh namanya
dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang. &isal, gaya
humoris, gaya teknis dan sebagainya.
$. S!gi Bahasa
'ilihat dari sudut bahasa atau unsure"unsur bahasa yang digunakan, maka
gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsure bahasa yang
dipergunakan, yaitu 1
1) Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata.
2) Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam acana.
6) Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat.
+) Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna.
4. Ga+a Bahasa B!*,asa*kan Pilihan Kata
#erdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang
paling tepat yang sesuai untuk posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya
penggunaan kata"kata dilihat dari lapisan pemakaian dalam masyarakat. 'engan
kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam
menghadapi situasi"situasi tertentu. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 117)
a. Ga+a Bahasa 1!smi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya lengkap, gaya yang
dipergunakan dalam kesepakatan"kesepakatan resmi, gaya yang dipergumakan
oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara.
0ontoh1 !manat kepresidenan, pidato"pidato yang penting, dan sebagainya.(Gorys
Keraf, 2,,- Hal. 117)
b. Ga+a Bahasa Ti,ak 1!smi
1-
Gaya bahasa tidak resmi %uga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan
dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempatan tidak formal atau kurang
formal. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam artikel"artikel mingguan, buku"
buku pegangan, ma%alah, tabloid dan sebagainya. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 11.)
Gaya bahasa resmi dan tidak resmi dapat dibandingkan sebagai berikut 1
gaya bahasa resmi dapat diumpamakan sebagai pakian resmi, pakaian upacara,
sedangkan gaya bahasa tidak resmi adalah bahasa dalam pakaian keme%a, yaitu
berpakaian secara baik, konfesional, cermat, tetapi untuk keperluan sehari"hari,
bukan untuk pesta peristia resmi. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 12,)
c. Ga+a Bahasa P!*caka)an
*e%alan dengan kata"kata percakapan, terdapat %uga gaya bahasa percakapan
itu sendiri. 'alam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata"kata yang populer
atau kata"kata yang dikenal dan kata"kata percakapan. Penggunaan gaya bahasa
ini digunakan ketika bercakap"cakap dengan orang lain, kebiasaan"kebiasaan dan
sebagainya. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 12,)
%. Ga+a Bahasa B!*,asa*kan Na,a
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti(a%akan) yang
pancarkan dari rangkaian kata"kata yang terdapat dalam sebuah acana. *ering
kali sugesti ini akan lebih nyata %ika diikuti dengan suara dari pembicara, bila
yang dihadapi adalah bahasa lisan. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 12,)
Gaya bahasa dilihat dari sudut nada yang terkandung dalam sebuah acana,
dibagi atas1 gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga dan gaya menengah.
a. Ga+a s!,!*hana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah pela%aran,
perkuliahan, dan sebagainya. Gaya ini cocok pula digunakan untuk
menyampaikan fakta atau pembuktian"pembuktian. Bntuk mempergunakan gaya
2,
ini secara efektif, penulis harus memiliki kepandaian dan pengetahuan yang
cukup. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 121)
b. Ga+a M&lia ,an B!*t!naga
*esuai dengan namanya gaya ini penuh dengan 8italitas dan enersi, dan
biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. &enggerakkan sesuatu itu tidak
hanya dengan tenaga ungkapan pembicara tetapi %uga mempergunakan nada
keagungan dan kemuliaan. 0ontoh khutbah tentang kemanusiaan dan keagamaan.
(Gorys Keraf, 2,,- Hal. 122)
c. Ga+a M!n!gah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk
menimbulkan suasana senang dan damai, karena tu%uannya untuk menciptakan
suatu keadaan yang senang dan damai, maka nada yang digunakan lemah lembut,
penuh kasih sayang dan mengandung humor agar dapat menghibur pendengar.
0ontoh Pada kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, rekreasi dan
sebagainya. (Gorys Keraf, 2,,- Hal. 12,)
21
K'SIMP(LAN
'iksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata"kata mana yang dipakai
untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata
kata yang tepat atau menggunakan ungkapan ungkapan yang tepat, dan gaya mana
yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.
'ilihat dari segi umumnya, makna dapat dibagi men%adi dua yaitu makna
konotatif dan makna denotatif. Pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian
dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. &akna konotatif sifatnya lebih
professional dan operasional daripada makna denotatif. &akna denotatif adalah
makna yang umum. 'engan kata lain, makna konotatif adalah makna yang
dikaitkan dengan kondisi dan situasi tertentu.
Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk
menimbulkan gagasan yang tepat dalam ima%inasi pembaca atau pendengar,
seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan penulis atau pembicara, Persoalan
pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yaitu
pertama, ketetapan pilihan kata, Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam
mempergunakan kata.
*ecara umum, Gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, baik melalui
bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Gaya bahasa memungkinkan
kita dapat menilai pribadi, atak dan kemampuan seseorang yang
mempergunakan bahasa itu. *emakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula
penilaian orang terhadapnya, #egitu pula sebaliknya. Gaya bahasa dapat
dibedakan men%adi dua macam yaitu 1 segi bahasa dan segi non bahasa.
Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dapat dibedakan men%adi tiga yaitu,
gaya bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan.
*edangkan gaya bahasa berdasarkan nada dapat dibedakan men%adi tiga yaitu
gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, dan gaya menengah.
22
'!)$!5 PB*$!K!
1. Keraf, Gorys. 2,,-. ,iksi ,an +a"a 0aasa. Aakarta1 Gramedia Pustaka
Btama
2. !rifin, Eaenal. 2,,-. $ermat 0erbaasa .ndonesia 1ntuk Perguruan
!inggi. Aakarta1 !kademika Presindo
6. <id%ono. 2,,.. 0aasa .ndonesia. Aakarta1 Grasindo.
26