Anda di halaman 1dari 29

1

PENDAHULUAN

Bagian sistem saraf yang mengatur fungsi viseral tubuh disebut sistem saraf
otonom. Sistem ini membantu mengatur tekanan arteri, motilitas dan sekresi gastro-
intestinal pengosongan kandung kemih, berkeringat suhu tubuh dan banyak aktivitas
lainnya. Ada sebagian yang diatur saraf otonom sedangkan yang lainnya sebagian
saja.
1

Sistem saraf otonom adalah bagian sistem saraf tepi yang mengatur fungsi
viseral tubuh.
2
Sistem saraf otonom terutama diaktifkan oleh pusat-pusat yang terletak
di medula spinalis, batang otak, dan hipotalamus.
3
Juga, bagian korteks serebri
khususnya korteks limbik, dapat menghantarkan impuls ke pusat-pusat yang lebih
rendah sehingga demikian mempengaruhi pengaturan otonomik.
Sistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan
sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan.
4,5,6,7
Sebenarnya tidak ada
penyamarataan yang dapat dipakai untuk menjelaskan apakah rangsangan simpatis
atau parasimpatis dapat menyebabkan timbulnya eksitasi atau inhibisi pada suatu
organ tertentu. Oleh karena itu, untuk dapat mengerti fungsi simpatis dan
parasimpatis, kita harus mempelajari seluruh fungsi kedua sistem saraf ini pada
masing-masing organ.
3,4
Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna
memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun
parasimpatis.
4

2



Gambar 1. Bagan pembagian sistem saraf manusia
8

Anatomi sistem saraf simpatis
Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal (torak 1
sampai lumbal 2).
3,5,6,7,9
Serabut-serabut saraf ini melalui rangkaian paravertebral
simpatetik yang berada disisi lateral korda spinalis yang selanjutnya akan menuju
jaringan dan organ-organ yang dipersarafi oleh sistem saraf simpatis. Tiap saraf dari
sistem saraf simpatis terdiri dari satu neuron preganglion dan saraf postganglion.
Badan sel neuron preganglion berlokasi di intermediolateral dari korda spinalis.
9

Serabut saraf simpatis vertebra ini kemudian meninggalkan korda spinalis melalui
rami putih menjadi salah satu dari 22 pasang ganglia dari rangkaian paravertebral
simpatik.
4,9
Selanjutnya serat-serat ini dapat mengalami salah satu dari ketiga hal
berikut : (1) serat-serat dapat bersinaps dengan neuron postganglionik yang ada
didalam ganglion yang dimasukinya. (2) Serat-serat dapat berjalan ke atas atau
kebawah dalam rantai dan bersinaps pada salah satu ganglia lain dalam rantai tersebut.
Atau (3) serat itu dapat berjalan melalui rantai ke berbagai arah dan selanjutnya
melalui salah satu saraf simpatis memisahkan diri keluar dari rantai, untuk akhirnya
berakhir di salah satu ganglia paravertebral.
1,4,9,10,11,12,13
Akson-akson neuron
preganglion kebanyakan bermielin, hantarannya lambat, tipe B.
3,9,14
Pada rangkaian
3

paravertebral simpatik, serabut-serabut preganglion dapat bersinap badan sel dari
neuron postganglion atau melalui cephalad atau caudal untuk bersinap dengan
neuron postganglion (kebanyakan serabut -serabut saraf yang tidak bermielin,tipe C
)3,.
9,14
Di ganglia paravertebral yang lain, neuron-neuron postganglion kemudian
keluar dari ganglia paravertebra menuju ke berbagai organ-organ perifer. Neuron
postganglion kembali ke saraf spinal melalui rami abu-abu, neuron ini selanjutnya
akan mempengaruhi tonus otot pembuluh darah, otot-otot piloerektor, dan kelenjar
keringat.
4,9
Ganglia prevertebra yang berlokasi di abdomen dan pelvis, terdiri dari ganglia
coeliaca, ganglia aoarticorenal, mesenterica superior dan inferior. Ganglia terminal
berlokasi dekat dengan organ yang disarafi contohnya vesica urinaria dan rektum.
4,6

Gambar 2. Alur perjalanan rami putih simpatetik
11

Berdasarkan letaknya, ganglia simpatetik digolongkan menjadi :
5,6
1. Ganglia servikalis, terdiri dari 3 ganglia yaitu :
- ganglia servikalis superior
- ganglia servikalis media
4

- ganglia servikalis inferior
2. Ganglia thorakalis
3. Ganglia lumbalis



Gambar ganglia servikalis dan distribusinya
.11
5



Gambar . Ganglion lumbalis
11

Pembagian segmental saraf simpatis
Jaras simpatis yang berasal dari berbagai segmen medula spinalis tak perlu
didistribusikan ke bagian tubuh yang sama seperti halnya saraf-saraf spinal somatik
dari segmen yang sama.
9,11
Serabut-serabut saraf dari sistem saraf simpatis tidak menginnervasi bagian-
bagian tubuh sesuai dengan segmennya. Sebagai contoh, serabut yang berasal dari
torakal 1 biasanya melewati rangkaian paravertebral simpatik naik kedaerah kepala,
torakal 2 untuk leher, torakal 3 sampai torakal 6 untuk dada, torakal 7 sampai torakal
11 ke abdomen dan torakal 12, lumbal 1 sampai lumbal 2 ke ekstremitas inferior.
Pembagian ini hanya kurang lebih demikian dan sebagian besar saling tumpang
tindih.
4,9,10,11,12
Distribusi serabut-serabut saraf dari sistem saraf simpatis ke masing-masing
organ ditentukan oleh posisi awal waktu dalam embrio. Disini jantung menerima
6

banyak serabut saraf simpatis dari rangkaian paravertebra simpatik dari bagian leher
karena jantung berada dileher pada waktu masa embrio. Organ abdomen menerima
innervasi dari sistem saraf simpatis dari segmen torakal yang lebih rendah sesuai
dengan asalnya.
3,9






























7

























Gambar 3. Distribusi sistem saraf otonom dan organ yang
dipersarafinya
15
8


Gambar 4. Perbedaan alur sistem saraf serebrospinal dan sistem saraf
otonom
11

Sifat- sifat khusus ujung saraf simpatis dalam medula adrenal
3,9
Serat saraf preganglionik simpatis berjalan tanpa mengadakan sinaps, melalui
jalan-jalan dari seluruh jalan dari kornu intermediolateral medula spinalis, melalui
rantai simpatis, kemudian melewati rantai splanknikus dan berakhir di medula
adrenal. Di medula adrenal, serat serat saraf ini langsung berakhir pada sel-sel
neuron khusus yang mensekresikan epinefrin dan norepinefrin kedalam aliran darah.
Secara embriologi, sel-sel sekretorik ini berasal dari jaringan saraf dan analog dengan
9

neuron postganglionik, bahkan sel-sel ini masih mempunyai serat-serat saraf yang
rudimenter, dan serat serat inilah yang mensekresikan hormon-hormon.

Anatomi sistem saraf parasimpatis
Saraf dari sistem saraf parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui
saraf-saraf kranial III, VII, IX dan X serta saraf sakral spinal kedua dan ketiga;
kadangkala saraf sakral pertama dan keempat.
3,6,9,10,11,
Kira-kira 75% dari seluruh
serabut saraf parasimpatis didominasi oleh nervus vagus (saraf kranial X) yang
melalui daerah torakal dan abdominal, seperti diketahui nervus vagus mempersarafi
jantung, paru-paru, esophagus, lambung, usus kecil, hati, kandung kemih, pankreas,
dan bagian atas uterus. Serabut saraf parasimpatis nervus III menuju mata, sedangkan
kelenjar air mata, hidung, dan glandula submaksilla menerima innervasi dari saraf
kranial VII, dan glandula parotis menerima innervasi dari saraf kranial IX.

Sistem saraf parasimpatis daerah sakral terdiri dari saraf sakral II dan III serta kadang-
kadang saraf sakral I dan IV. Serabut -serabut saraf ini mempersarafi bagian distal
kolon, rektum, kandung kemih, dan bagian bawah uterus, juga mempersarafi genitalia
eksterna yang dapat menimbulkan respon seksual.
Berbeda dengan sistem saraf simpatis, serabut preganglion parasimpatis menuju
ganglia atau organ yang dipersarafi secara langsung tanpa hambatan. Serabut
postganglion saraf parasimpatis pendek karena langsung berada di ganglia yang
sesuai, ini berbeda dengan sistem saraf simpatis, dimana neuron postganglion relatif
panjang, ini menggambarkan ganglia dari rangkaian paravertebra simpatis yang
berada jauh dengan organ yang dipersarafinya.
3,11
10


Gambar 5. Perbedaan dasar anatomi dan respon simpatik dan parasimpatik
11

Fisiologi sistem saraf otonom
Serat-serat saraf simpatis maupun parasimpatis mensekresikan salah satu dari
kedua bahan transmiter sinaps ini, asetilkolin atau norepinefrin.
1,3,4,6,9,16
Serabut
postganglion sistem saraf simpatis mengekskresikan norepinefrin sebagai
neurotransmitter. Neuron- neuron yang mengeluarkan norepinefrin ini dikenal dengan
serabut adrenergik. Serabut postganglion sistem saraf parasimpatis mensekresikan
asetilkolin sebagai neurotransmitter dan dikenal sebagai serabut kolinergik. Sebagai
tambahan serabut postganglion saraf simpatis kelenjar keringat dan beberapa
pembuluh darah juga melepaskan asetilkolin sebagai neurotransmitter. Semua saraf
preganglion simpatis dan parasimpatis melepaskan asetilkolin sebagai
neurotransmitter karenanya dikenal sebagai serabut kolinergik. Sedangkan asetilkolin
11

yang dilepaskan dari serabut preganglion mengaktivasi baik postganglion simpatis
maupun parasimpatis.


Gambar 6. Neurotransmiter simpatik dan parasimpatik
4


KONSEP TRANSMISI SISTEM SARAF SIMPATIS DAN PARASIMPATIS

Mekanisme sekresi dan pemindahan transmitter pada ujung postganglionik.
3
Beberapa ujung saraf otonom postganglionik terutama saraf parasimpatis
memang mirip dengan taut neuromuskular skeletal, namun ukurannya jauh lebih
kecil. Beberapa serat saraf parasimpatis dan hampir semua serat saraf simpatis hanya
bersinggungan dengan sel-sel efektor dari organ yang dipersarafinya, pada beberapa
contoh, serat-serat ini berakhir pada jaringna ikat yang letaknya berdekatan dengan
sel-sel yang dirangsangnya. Ditempat filamen ini berjalan atau mendekati sel efektor,
biasanya terdapat suatu bulatan yang membesar yang disebut varikositas ; didalam
varikositas ditemukan vesikel transmitter asetilkolin atau norepinefrin. Didalam
varikositas ini juga terdapat banyak sekali mitokondria untuk mensuplai adenosin
triphosphat yang dibutuhkan untuk memberi energi pada sintesis asetilkolin atau
norepinefrin
3,4,10
.
Bila ada penjalaran potensial aksi disepanjang serat terminal, maka proses
depolarisasi meningkatkan permeabilitas membran serat saraf terhadap ion kalsium,
sehingga mempermudah ion ini untuk berdifusi keujung saraf atau varikositas saraf.
Disini ion kalsium berinteraksi dengan vesikel sekretori yang letaknya berdekatan
12

dengan membran sehingga vesikel ini bersatu dengan membran dan menggosongkan
isinya keluar. Jadi, bahan transmitter akhirnya disekresikan.
3,4,10
Sintesis asetilkolin penghancurannya setelah disekresikan, dan lama kerjanya.
3,9

Asetilkolin disintesis di ujung terminal serat saraf kolinergik. Sebagian besar sintesis
ini terjadi di aksoplasma di luar vesikel. Selanjutnya, asetilkolin diangkut ke bagian
dalam vesikel, tempat bahan tersebut disimpan dalam bentuk kepekatan tinggi
sebelum akhirnya dilepaskan. Reaksi kimia dasar dari sintesis ini adalah sebagai
berikut :
Asetilkolon transferase
Asetil-KoA + Kolin Asetilkolin

Asetilkolin begitu disekresikan oleh ujung saraf kolinergik, maka akan
menetap dalam jaringan selama beberapa detik, kemudian sebagian besar dipecah
menjadi ion asetat dan kolin oleh enzim asetilkolin esterase yang berikatan dengan
kolagen dan glikosaminoglikans dalam jaringan ikat setempat. Jadi, rupa-rupanya
mekanisme ini mirip dengan mekanisme penghancuran asetilkolin yang terjadi pada
taut neuromuskular direrat saraf skeletal. Sebaliknya, kolin yang terbentuk diangkut
kembali ke ujung saraf terminal, tempat bahan ini dipakai kembali untuk sintesis
asetilkolin yang baru.
3,9,10

Sintesis norepinefrin, pemindahannya dan lama kerjanya
3,9,10
Sintesis norepinefrin dimulai di aksoplasma ujung saraf terminal dari serat saraf
adrenergik, namun disempurnakan di dalam vesikel. Tahap tahap dasarnya adalah
sebagai berikut :
Hidroksilasi
1. Tirosin DOPA
Dekarboksilasi
2. DOPA Dopamin
3. Pengangkutan dopamin menuju vesikel
Hidroksilasi
4. Dopamin Norepinefrin
Pada medula adrenal, reaksi ini dilanjutkan satu tahap lagi untuk mengalihkan
sekitar 80 persen norepinefrin menjadi epinefrin, yakni sebagai berikut :
Metilasi
5. Norepinefrin Epinefrin
13


Setelah norepinefrin disekresikan oleh ujung ujung saraf terminal, maka
kemudian dipindahkan dari tempat sekresinya melalui tiga cara berikut :

1. Dengan proses tranport aktif, diambil lagi ke dalam ujung saraf adrenergik
sendiri, yakni sebanyak 50 80 % dari norepinefrin yang disekresikan.
2. Berdifusi keluar dari ujung saraf menuju cairan tubuh di sekelilingnya dan
kemudian masuk ke dalam darah, yakni seluruh sisa norepinefrin yang ada.
3. Dalam jumlah yang sedikit, dihancurkan oleh enzim (salah satu enzim
tersebut adalah monoamin oksidase, yang dapat dijumpai dalam ujung
saraf itu sendiri, dan enzim katekol-O-metil transferase yang dapat
berdifusi ke seluruh jaringan).
3,9,10


Biasanya norepinefrin disekresikan secara langsung ke dalam jaringan yang
tetap aktif hanya selama beberapa detik, hal ini memperlihatkan bahwa proses
pengambilan kembali norepinefrin dan difusinya keluar dari jaringan berlangsung
dengan cepat. Namun, norepinefrin dan epinefrin yang disekresikan ke dalam darah
oleh medula adrenal masih tetap aktif sampai didifusikan ke suatu jaringan, tempat
keduanya dihancurkan oleh katekol-O-metil transferase, peristiwa ini terutama terjadi
di dalam hati. Oleh karena itu, bila di sekresikan ke dalam darah baik norepinefrin dan
epinefrin akan tetap sangat aktif selama 10 sampai 30 detik dan kemudian
aktivitasnya menurun, menjadi sangat lemah dalam waktu satu sampai beberapa
menit.
3,9,10

Sebelum transmitter asetilkolin atau norepinefrin disekresikan pada ujung
saraf otonom untuk dapat merangsang organ efektor, transmiter ini mula-mula harus
berikatan dulu dengan reseptor yang sangat spesifik pada sel-sel efektor. Reseptor ini
terdapat di bagian dalam membran sel, terikat sebagai kelompok prostetik pada
molekul protein yang menembus membran sel. Ketika transmitter berikatan dengan
reseptor, hal ini menyebabkan perubahan konformasional ( bentuk tertentu dari
keseluruhan) pada struktur molekul protein. Kemudian molekul protein yang berubah
ini merangsang atau menghambat sel, paling sering dengan : (1) menyebabkan
perubahan permeabilitas membran sel terhadap satu atau lebih ion, atau (2)
mengaktifkan atau justru mematikan aktivitas enzim yang melekat pada ujung protein
reseptor lain dimana reseptor ini menonjol ke bagian dalam sel.
3
14

Perangsangan atau penghambatan sel efektor oleh perubahan permeabilitas
membrannya.
3,9

Karena protein reseptor merupakan bagian integral dari membran sel, maka
perubahan konformasional pada struktur protein reseptor dari banyak sel organ akan
membuka atau menutup saluran ion melalui sela-sela molekul itu sendiri, dengan
demikian merubah permeabilitas membran sel terhadap berbagai ion. Sebagai contoh,
saluran ion natrium dan atau kalsium seringkali menjadi terbuka dan memungkinkan
influks ion ion tersebut dengan cepat untuk masuk ke dalam sel yang biasanya akan
mendepolarisasikan membran sel dan merangsang sel. Pada saat lain, saluran kalium
terbuka sehingga memungkinkan ion kalium berdifusi keluar dari sel dan biasanya hal
ini akan menghambat sel akibat hilangnya ion kalium elektro positif yang membentuk
hipernegatifisme di dalam sel. Juga pada beberapa sel perubahan lingkungan ion
intraseluler akan menyebabkan kerja sel internal seperti efek langsung ion kalsium
dalam menimbulkan kontraksi otot polos.
3,9

Kerja reseptor melalui perubahan enzim intraseluler.
3,9
Cara lain agar reseptor dapat berfungsi adalah dengan mengaktifkan atau
mematikan aktivitas suatu enzim (atau zat kimia intraseluler lainnya) di dalam sel.
Enzim seringkali terlekat pada protein reseptor dimana reseptor menonjol ke bagian
dalam sel. Sebagai contoh, pengikatan epinefrin dengan reseptornya pada bagian luar
sel akan meningkatkan aktivitas enzim adenilatsiklase pada bagian dalam sel, dan hal
ini kemudian menyebabkan pembentukan adenosin monofosfat siklik (cAMP). cAMP
kemudian dapat mengawali salah satu kerja dari sekian banyak aktivitas intraseluler
yang berbeda-beda, efek pastinya bergantung pada mesin kimiawi dari sel efektor.
Oleh karena itu, mudahlah untuk mengerti bagaimana substansi transmiter otonomik
dapat menyebabkan inhibisi pada beberapa organ atau eksitasi pada organ lain. Hal ini
biasanya ditentukan oleh sifat protein reseptor pada membran sel dan efek reseptor
yang terikat pada keadaan konformasionalnya. Pada setiap organ, efek yang
dihasilkannya secara keseluruhan cenderung berbeda dengan yang terdapat pada
organ lain.
3,9



INTERAKSI NEUROTRANSMITER DENGAN RESEPTOR
3,9

Norepineprin dan asetilkolin berinteraksi dengan reseptor ( protein
makromolekul ) di membran lipid sel. Interaksi reseptor neurotransmitter ini akan
menyebabkan aktivasi atau inhibisi enzim-enzim efektor seperti adenilatsiklase atau
15

dapat merubah aliran ion-ion sodium dan potassium di membran sel melalui protein
ion chanel. Perubahan-perubahan ini akan merubah stimulus eksternal menjadi signal
intraseluler.
3,9

RESEPTOR-RESEPTOR NOREPINEFRIN
3,4,7,9,10,
Efek farmakologi katekolamin merupakan konsep awal dari reseptor-reseptor alfa dan
beta adrenergik.
9
Penelitian dengan memakai obat-obatan yang meniru kerja
norepinefrin pada organ efektor simpatis (disebut sebagai simpatomimetik ) telah
memperlihatkan bahwa terdapat dua jenis reseptor adrenergik, reseptor-reseptor ini
dibagi menjadi alfa 1 dan alfa 2. Selanjutnya reseptor beta dibagi menjadi beta 1 dan
beta 2.
3,9
Norepinefrin dan epinefrin, keduanya disekresikan kedalam darah oleh
medula adrenal, mempunyai pengaruh perangsangan yang berbeda pada reseptor alfa
dan beta. Norepinefrin terutama merangsang reseptor alfa namun kurang merangsang
reseptor beta. Sebaliknya, epinefrin merangsang kedua reseptor ini sama kuatnya.
Oleh karena itu, pengaruh epinefrin dan norepinefrin pada berbagai organ efektor
ditentukan oleh jenis reseptor yang terdapatdalam organ tersebut. Bila seluruh
reseptor adalah reseptor beta, maka epinefrin akan menjadi organ perangsang yang
lebih efektif.
3
Reseptor dopamin juga dibagi menjadi dopamin 1 dan dopamin 2. Presinap alfa dan
dopamin 2 merupakan negative feedback karena bila diaktivasi akan menyebabkan
pelepasan neurotransmitter. Reseptor-reseptor alfa 2 juga terdapat di platelet yang
berfungsi sebagai mediator pada agregasi platelet yang dengan cara mempengaruhi
konsentrasi enzim platelet adenilatsiklase. Pada sistem saraf pusat, stimulasi
postsinap alfa 2 dengan menggunakan obat seperti klonidin atau dexmetomidine akan
meningkatkan konduksi dan hiperpolarisasi membran sehingga kebutuhan zat anestesi
akan menurun. Sistem signal transmembran terdiri dari 3 bagian, yaitu : (a) sisi
pengenalan, (b) sisi efektor atau katalitik, dan (c) tranducing atau coupling protein.
9

Aktivasi dari reseptor-reseptor beta 1, beta 2, dan dopamin mengakibatkan
pembentukan cycle adenosine monophosphate (cAMP) sebagai messenger kedua.
Peningkatan konsentrasi cAMP intraseluler akan memicu terjadinya proses-proses di
intraseluler (cascading protein phosporilation reaction dan stimulasi pompa sodium
potassium) yang mempunyai efek metabolik dan farmakologi seperti beta adrenergik.
Berbeda dengan reseptor beta, kalau pada reseptor alfa 1 diaktivasi akan
menyebabkan fasilitasi ion kalsium bergerak kedalam sel dan menstimulasi hidrolisis
16

dan poliphospoinositides sedangkan aktivasi reseptor alfa 2 dan dopamin 2
menghambat adenilat cyclase. Stimulasi atau inhibisi dari protein G dibutuhkan
sebagai perantara untuk menginhibisi adenylate cyclase atau menstimulasi hidrolisis
phospoinositide.
9

RESEPTOR ASETILKOLIN
3,6,7,9,10
Reseptor-reseptor kolinergik dibagi menjadi nikotinik dan muskarinik. Secara
fisiologi masing-masing reseptor dibagi menjadi beberapa subtipe. Reseptor nikotinik
dibagi menjadi 2 yaitu reseptor N1 dan N2. N1 terdapat di ganglia otonom sedangkan
N2 terdapat di neuromuscular junction. Hexamethonium memblok reseptor N1
sedangkan blokade ganglia otonom dalam beberapa tingkatan walaupun efek pada
reseptor N2 tetap predominan.
9
Reseptor muskarinik dibagi menjadi M1 dan M2. Reseptor M1 terdapat di
ganglia otonom dan sistem saraf pusat sedangkan reseptor M2 ada di jantung dan
kelenjar ludah. Pirenzepin adalah salah satu contoh obat yang merupakan antagonis
selektif pada reseptor M1 sedangkan atropine merupakan antagonis selektif pada
reseptor M1 dan M2. Perbedaan antara reseptor nikotinik dan muskarinik adalah pada
jarak reseptor antara atom-atom dalam berinteraksi dengan asetilkolin ataupun obat-
obat.
9
Seperti norepinefrin, reseptor-reseptor asetilkolin akan bergabung dengan
protein G dalam kerjanya. Impuls yang datang di akhir saraf kolinergik akan
meningkatkan permeabilitas membran saraf dan menyebabkan influk ion kalsium
sehingga terjadi sekresi asetilkolin kedalam celah sinaptik. Asetilkolin menyebabkan
perubahan-perubahan pada permeabilitas chanel ion protein sehingga dapat melewati
membrane sel . Sebagai contoh reseptor magnesium menurunkan konduksi ion
potassium dan mengakibatkan eksitasi sebaliknya reseptor M2 meningkatkan
konduksi ion potassium mengakibatkan hiperpolarisasi membran sel yang berefek
inhibisi.
9

Kerja eksitasi dan inhibisi akibat perangsangan simpatis dan parasimpatis
3,4,10
Dalam tabel 1 dicantumkan efek-efek yang terjadi pada organ viseral tubuh
akibat terangsangnya saraf simpatis atau parasimpatis. Dari tabel ini dapat terlihat lagi
bahwa perangsangan simpatis menimbulkan efek eksitasi pada beberapa organ tetapi
menimbulkan efek inhibisi pada organ lainnya. Demikian pula, perangsangan
17

parasimpatis akan mengeksitasi beberapa organ namun menghambat organ lainnya.
Kebanyakan organ diatur oleh salah satu dari kedua sistem tersebut.

Tabel 1. EFEK OTONOMIK PADA BERBAGAI ORGAN TUBUH
3
Organ Efek Perangsangan Simpatis Efek Perangsangan Parasimpatis
Mata
Pupil dilatasi konstriksi
Otot siliaris relaksasi ringan konstriksi
Kelenjar vasokonstriksi dan sekresi ringan rangsangan banyak sekali sekresi
Nasal
Lakrimalis
Parotis
Submandibula
Lambung
Pankreatik
Kelenjar keringat banyak sekali keringat(kolinergik) berkeringat pada telapak tangan atau
tangan
Kelenjar apokrin tebal,sekresi yang berbau tidak ada
Pembuluh darah seringkali konstriksi seringkali memberi sedikit efek/ tidak
sama
sekali
Jantung
Otot pengurangan kecepatan peningkatan kecepatan
peningkatan kekuatan kontraksi penurunan kekuatan kontraksi
(khususnya atrium)

Pembuluh koroner dilatasi();konstriksi() dilatasi
Paru
Bronkus dilatasi konstriksi
Pembuluh darah konstriksi sedang ? dilatasi
Usus
Lumen peningkatan peristaltis dan tonus penurunan peristaltis dan tonus
Sfingter peningkatan tonus relaksasi
Hati pelepasan glukosa sintesa glikogen ringan
Kandung empedu relaksasi kontraksi
Saluran empedu
Ginjal berkurangnya pengeluaran tidak ada
dan sekresi renin
Kandung kemih
18

Detrusor relaksasi ringan kontraksi
Trigonum kontraksi relaksasi
Penis ejakulasi ereksi
Arteriol sistemik
Viscera abdominal konstriksi tidak ada
Otot konstriksi (adrenergik) tidak ada


Kulit konstriksi tidak ada
Darah
Koagulasi meningkat tidak ada
Glukosa meningkat tidak ada
Lipid meningkat tidak ada
Metabolisme basal meningkat sampai 100% tidak ada
Sekresi medula adrenal meningkat tidak ada
Aktivitas mental meningkat tidak ada
Otot piloerektor kontraksi tidak ada
Otot skeletal peningkatan glikogenolisis tidak ada
Peningkatan kekuatan
Sel-sel lemak lipolisis tidak ada


Efek Perangsangan Simpatis dan Parasimpatis pada Organ Spesifik
3
Mata. Ada dua fungsi mata yang diatur oleh sistem saraf otonom, yaitu
dilatasi pupil dan pemusatan lensa. Perangsangan simpatis membuat serat-serat
meridional iris berkontraksi sehingga pupil menjadi dilatasi, sedangkan perangsangan
parasimpatis mengkontraksikan otot-otot sirkular iris sehingga terjadi konstriksi pupil.
Bila ada cahaya yang berlebihan masuk kedalam mata, serat-serat parasimpatis yang
mengatur pupil akan terangsang secara refleks, dimana refleks ini akan mengurangi
pembukaan pupil dan mengurangi jumlah cahaya yang membentur retina. Sebaliknya
selama periode eksitasi, saraf simpatis akan terangsang dan karena itu, pada saat yang
bersamaan akan menambah pembukaan pupil. Pemusatan lensa hampir seluruhnya
diatur oleh sistem saraf parasimpatis. Normalnya, lensa dipertahankan tetap dalam
keadaan rata oleh tegangan intrinsik elastik dari ligamen radialnya. Perangsangan
parasimpatis membuat otot siliaris berkontraksi, sehingga melepaskan tegangan tadi
dan menyebabkan lensa menjadi lebih konveks. Keadaan ini membuat mata
memusatkan objeknya dekat tangan.
3
19

Kelenjar-kelenjar tubuh. Kelenjar nasalis, lakrimalis, saliva, dan sebagian
besar kelenjar gastrointestinalis terangsang dengan kuat oleh sistem saraf parasimpatis
sehingga mengeluarkan banyak sekali sekresi cairan. Kelenjar-kelenjar saluran
pencernaan yang paling kuat dirangsang oleh parasimpatis adalah yang terletak di
saluran bagian atas, terutama kelenjar di daerah mulut dan lambung. Kelenjar usus
halus dan usus besar terutama diatur oleh faktor-faktor lokal yang terdapat di saluran
usus sendiri dan oleh sitem saraf enterik usus serta sedikit oleh saraf otonom.
Perangsangan simpatis mempunyai pengaruh langsung pada sel-sel kelenjar dalam
pembentukan sekresi pekat yang mengandung enzim dan mukus tambahan.
Rangsangan simpatis ini juga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah yang
mensuplai kelejar-kelenjar sehingga seringkali mengurangi kecepatan sekresinya. Bila
saraf simpatis terangsang, maka kelenjar keringat mensekresikan banyak sekali
keringat, tetapi perangsangan pada saraf parasimpatis tidak mengakibatkan pengaruh
apapun. Namun, serat-serat simpatis yang menuju ke sebagian besar kelenjar keringat
bersifat kolinergik (kecuali beberapa serat adrenergik yang ke telapak tangan dan
telapak kaki ) dimana hal ini berbeda dengan hampir semua serat simpatis lainnya,
yang bersifat adrenergik. Selanjutnya, kelenjar keringat terutama dirangsang oleh
pusat-pusat di hipotalamus yang biasanya dianggap sebagai pusat parasimpatis. Oleh
karena itu, berkeringat dapat dianggap sebagai fungsi parasimpatis, walaupun hal ini
dikendalikan oleh serat-serat saraf yang secara anatomis tersebar melalui sistem saraf
simpatis.
3
Kelenjar apokrin di aksila mensekresikan sekret yang kental dan berbau sebagi akibat
dari perangsangan simpatis, namun kelenjar ini tidak bereaksi terhadap perangsangan
parasimpatis. Kelenjar apokrin, walaupun embriologisnya berkaitan erat dengan
kelenjar keringat, tetapi lebih banyak diatur oleh pusat simpatis dalam sistem saraf
pusat daripada oleh pusat parasimpatis.
3
Sistem gastrointestinal. Sistem gastrointestinal mempunyai susunan saraf
intrinsik sendiri yang dikenal sebagai pleksus intramural atau sistem saraf enterik
usus. Namun, baik perangsangan simpatis maupun parasimpatis dapat mempengaruhi
aktivitas gastrointestinal, terutama oleh peningkatan atau penurunan kerja spesifik
dalam pleksus intramural. Pada umumnya, perangsangan parasimpatis meningkatkan
seluruh tingkat aktivitas saluran gastrointestinal, yakni dengan memicu terjadinya
gerakan peristaltik dan relaksasi sfingter, jadi akan mempermudah pengeluaran isi
usus melalui saluran pencernaan dengan cepat. Pengaruh dorongan ini berkaitan
20

dengan penambahan kecepatan sekresi yang terjadi secara bersamaan pada sebagian
besar kelenjar gastrointestinal, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
3
Fungsi
normal dari saluran gastrointestinal tidak terlalu tergantung pada perangsangan
simpatis . Namun bila ada perangsangan simpatis yang sangat kuat, maka akan timbul
penghambatan peristaltik dan peningkatan tonus sfingter. Hasil akhirnya adalah
timbul dorongan yang sangat lemah dalam saluran pencernaan dan kadang-kadang
juga mengurangi sekresi.
3
Jantung. Pada umumnya, perangsangan simpatis akan meningkatkan seluruh
aktivitas jantung. Keadaan ini tercapai dengan naiknya frekuensi dan kekuatan
kontraksi jantung. Perangsangan parasimpatis terutama menimbulkan efek yang
berlawanan. Akibat atau pengaruh ini dapat diungkapkan dengan cara lain, yakni
perangsangan simpatis akan meningkatkan keefektifan jantung sebagai pompa yang
diperlukan selama kerja berat, sedangkan perangsangan parasimpatis menurunkan
kemampuan pemompaan tetapi menimbulkan beberapa tingkatan istirahat pada
jantung di antara aktivitas kerja yang berat.
3
Pembuluh darah sistemik. Sebagian besar pembuluh darah sistemik,
khususnya yang terdapat di visera abdomen dan kulit anggota tubuh, akan
berkonstriksi bila ada perangsangan simpatis. Perangsangan parasimpatis hampir
sama sekali tidak berpengaruh pada pembuluh darah, kecuali pada daerah-daerah
tertentu malah memperlebar, seperti pada timbulnya daerah kemerahan di wajah. Pada
beberapa keadaan, fungsi rangsangan simpatis pada reseptor beta akan menyebabkan
dilatasi pembuluh darah pada rangsangan simpatis yang biasa, tetapi hal ini jarang
terjadi, kecuali setelah diberi obat-obatan yang dapat melumpuhkan reseptor alfa
simpatis yang memberi pengaruh vasokonstriktor, yang biasanya lebih merupakan
efek reseptor beta.
3
Efek perangsangan simpatis dan parasimpatis terhadap tekanan arteri.
Tekanan arteri ditentukan oleh dua faktor, yaitu daya dorong darah dari jantung dan
tahanan terhadap aliran darah ini yang melewati pembuluh darah. Perangsangan
simpatis meningkatnya daya dorong oleh jantung dan tahanan terhadap aliran darah,
yang biasanya menyebabkan tekanan menjadi sangat meningkat. Sebaliknya,
perangsangan parasimpatis menurunkan daya pompa jantung tetapi sama sekali tidak
mempengaruhi tahanan perifer. Efek yang umum adalah terjadi sedikit penurunan
tekanan. Ternyata perangsangan parasimpatis vagal yang hampir selalu dapat
21

menghentikan atau kadang-kadang menghentikan seluruh jantung dan menyebabkan
hilangnya seluruh atau sebagian besar tekanan.
3
Efek perangsangan simpatis dan parasimpatis terhadap fungsi tubuh
lainnya. Karena begitu pentingnya sistem pengaturan simpatis dan parasimpatis,
maka kedua sistem ini dibicarakan mengingat banyaknya fungsi tubuh yang belum
dapat ditentukan secara rinci. Pada umumnya sebagian besar struktur entodermal,
seperti hati, kandung empedu, ureter, kandung kemih, dan bronkus dihambat oleh
perangsangan simpatis namun dirangsang oleh perangsangan parasimpatis.
Perangsangan simpatis juga mempunyai pengaruh metabolik, yakni menyebabkan
pelepasan glukosa dari hati, meningkatkan konsentrasi gula darah, meningkatkan
proses glikogenolisis dalam hati ndan otot, meningkatkan kekuatan otot,
meningkatkan kecepatan metabolisme basal, dan meningkatkan aktivitas mental.
Akhirnya, perangsangan simpatis dan parasimpatis juga terlibat dalam tindakan
seksual antara pria dan wanita.
3


TONUS SISTEM SARAF OTONOM
3,4,9,10,16
Sistem saraf simpatis dan parasimpatis selalu aktif dan aktivitas basalnya diatur oleh
tonus simpatis atau tonus parasimpatis. Nilai tonus ini yang menyebabkan perubahan-
perubahan aktivitas pada organ yang dipersarafinya baik peningkatan maupun
penurunan aktivitas. Sebagai contoh tonus sistem saraf simpatis secara normal hanya
menyebabkan konstriksi pembuluh darah sekitar 50% . Peningkatan atau penurunan
aktivitas sistem saraf simpatis menyebabkan perubahan-perubahan yang saling
berhubungan dalam resistensi sistem vaskuler. Bila tidak ada tonus simpatis, sistem
saraf simpatis hanya menyebabkan vasokonstriksi.
3
Sekresi norepineprin dan epineprin oleh medula adrenal berfungsi
menstimulasi sistem saraf simpatis. Dalam keadaan istirahat secara normal rata-rata
sekresi norepineprin sekitar 0,05mikrog/kg/menit dan epineprin sekitar
0,2mikrogr/kg/menit. Rata-rata sekresi ini sudah cukup untuk mempertahankan
tekanan darah sisitemik dalam range yang normal meskipun seluruh sistem saraf
simpatis yang mempersarafi jantung tidak ada.
3,4

KEHILANGAN INNERVASI SECARA AKUT
3
Kehilangan sistem tonus saraf simpatis secara akut yang diakibatkan karena
regional anesthesia atau transeksi korda spinalis akan menyebabkan vasodilatasi
22

pembuluh darah secara maksimal (spinal shock). Dalam beberapa hari tonus intrinsik
dari otot pembuluh darah kecil meningkat sehingga terjadi vasokonstriksi dan
pembuluh darah kembali normal.
3

KEHILANGAN INERVASI AKIBAT KEADAAN HIPERSENSITIF
3
Keadaan ini terjadi karena adanya peningkatan ambang batas dari organ-organ
yang dipersarafinya terhadap norepineprin atau epineprin yang terjadi pada minggu-
minggu pertama atau setelah gangguan mendadak dari organ yang dipersarafi oleh
sistem saraf otonom. Mekanisme dari kehilangan innervasi secara akut akibat reaksi
hipersensitif diakibatkan karena proliferasi dari resptor-reseptor (up regulation) pada
membran postsinaptik yang terjadi akibat norepineprin atau asetilkolin tidak
dilepaskan lagi pada sinap.
3

REFLEKS OTONOM
3,10
Refleks otonom kardiovaskular. Ada beberapa refleks dalam sistem
kardiovaskular yang terutama membantu mengatur tekanan darah arteri dan frekuensi
denyut jantung. Salah satu refleks ini adalah refleks baroreseptor, secara kasar
reseptor regang yang disebut baroreseptor terletak didalam dinding arteri besar,
termasuk arteri karotis dan aorta.
3,17
Bila reseptor ini teregang oleh tekanan yang
tinggi, sinyal akan dijalarkan ke batang otak tempat mereka menghambat impuls
simpatis ke jantung dan pembuluh darah, sehingga tekanan arteri turun kembali ke
nilai normal.
3
Refleks otonom gastrointestinal. Bagian teratas dari traktus gastrointestinal
dan juga rektum terutama diatur oleh refleks otonom. Sebagai contoh, bau yang
menimbulkan selera makan atau adanya makanan dalam mulut akan memicu
timbulnya sinyal dari hidung dan mulut menuju nuklei vagus, glosofaringeal, dan
salivarius didalam batang otak. Nuklei ini kemudian menjalarkan sinyal melalui saraf
parasimpatis ke kelenjar sekretorik yang ada didalam mulut dan lambung, sehingga
menyebabkan sekresi getah pencernaan bahkan sebelum makanan masuk kedalam
mulut. Dan bila bahan fekal memenuhi rektum di bagian ujung saluran pencernaan,
maka impuls sensorik yang timbul akibat peregangan rektum akan dikirimkan ke
medula spinalis bagian sakral, dan timbul sinyal refleks yang dijalarkan kembali
melalui serat parasimpatis ke kolon bagian distal, dimana sinyal ini menimbulkan
kontraksi peristaltik kuat yang menimbulkan defekasi.
3
23

Refleks otonom lainnya Pengosongan kandung kemih caranya mirip dengan
pengosongan rektum, peregangan kandung kemih menyebabkan timbulnya impuls ke
medula spinalis, dan keadaan ini menyebabkan refleks kontraksi kandung kemih dan
relaksasi sfingter urinaria, sehingga mempermudah pengeluaran urin.
3
Yang juga penting adalah refleks seksual yang dapat dipicu oleh rangsangan psikis
dari otak maupun dari organ seksual. Impuls yang berasal dari sumber ini akan
disatukan pada medula spinalis bagian sakral, dan pada pria, mula-mula timbul ereksi
terutama akibat fungsi parasimpatis, dan selanjutnya ejakulasi yang merupakan fungsi
simpatis.
3
Refleks otonom lainnya meliputi refleks yang membantu pengaturan sekresi kelenjar
pankreas, pengosongan kandung empedu, ekskresi urin pada ginjal, berkeringat,
konsentrasi glukosa darah dan sebagian besar fungsi viseral lainnya.

Sistem simpatis seringkali memberi respon terhadap pelepasan impuls secara
masal.
3,6,10,11,
Pada kebanyakan kasus, impuls yang dikeluarkan oleh sistem saraf
simpatis hampir merupakan suatu unit yang sempurna, fenomena ini disebut
pelepasan impuls masal (mass discharge). Peristiwa ini seringkali timbul bila
hipotalamus diaktivasi oleh timbulnya rasa takut atau cemas atau bila mengalami rasa
nyeri yang berat. Akibat yang timbul merupakan reaksi yang menyebar ke seluruh
tubuh, disebut respons stres atau tanda bahaya (alarm). Pada saat lainnya, aktivasi
simpatis dapat terjadi pada bagian sistem yang terisolasi, terutama sebagai respons
terhadap refleks yang melibatkan medula spinalis tetapi tidak melibatkan otak. Yang
terpenting dari masalah ini adalah sebagai berikut : pada proses pengaturan suhu, serat
simpatis mengatur pengeluaran keringat dan aliran darah pada kulit tanpa
mempengaruhi organ-organ lainnya yang dipersarafi oleh serat simpatis juga. Pada
beberapa binatang, selama timbulnya aktivitas otot. Serat vasodilator kolinergik
spesifik pada otot skelet akan terangsang secara tersendiri, terpisah dari sistem
simpatis lainnya. Sebagian besar reflek lokal, yang melibatkan serat afferen sensorik
yang berjalan secara sentral di saraf simpatis menuju ganglia simpatis dan medula
spinalis, menyebabkan respons refleks yang sangat terlokalisasi. Sebagai contoh
pemanasan pada suatu daerah kulit setempat menyebabkan vasodilatasi dan
meningkatnya pengeluaran keringat setempat sedangkan pendinginan menimbulkan
akibat yang sebaliknya. Sebagian besar refleks simpatis yang mengatur fungsi
gastrointestinal mempunyai ciri tersendiri, yang kadangkala bekerja melalui jaras
24

saraf namun tidak memasuki medula spinalis, hanya berjalan dari usus jalan ke
ganglia simpatis, terutama di ganglia prevertebral, dan kemudian kembali ke usus
melalui saraf saraf simpatis guna mengatur aktivitas motorik atau sekretorik.
3
Sistem parasimpatis biasanya menyebabkan respon setempat yang spesifik,
berbeda dengan respon yang umum dari sistem simpatis terhadap pelepasan impuls
secara masal, maka fungsi pengaturan sistem parasimpatis sepertinya jauh lebih
spesifik. Contohnya, reflek parasimpatis kardiovaskular biasanya bekerja pada
jantung untuk meningkatkan atau menurunkan frekuensi denyut jantung, demikian
juga refleks parasimpatis lainnya menimbulkan sekresi terutama pada kelenjar mulut,
sedangkan pada keadaan lain, menimbulkan sekresi terutama di kelenjar lambung.
Akhirnya refleks pengososngan rektum yang tidak begitu mempengaruhi bagian usus
lainnya.
3
Ternyata terdapat hubungan yang erat antara kelompok fungsi parasimpatis
ini, contohnya walaupun sekresi saliva dapat terjadi tanpa adanya sekresi lambung,
ternyata kedua peristiwa sekresi ini sering terjadi secara bersamaan, dan seringkali
juga dapat timbul bersamaan timbul dengan kelenjar pankreas, juga refleks
pengosongan rektum seringali dapat memicu timbulnya refleks pengosongan kandung
kemih dan rektum secara bersamaan. Sebaliknya refleks pengosongan kandung kemih
dapat memacu timbulnya pengosongan rektum.
3
Respons "tanda bahaya " atau respon "stress" dari sitem saraf simpatis
3
Bila sebagian besar daerah sistem saraf simpatis melepaskan impuls pada saat yang
bersamaan yakni yang disebut pelepasan impuls secara massal maka dengan
berbagai cara keadaan ini akan meningkatkan kemampuan tubuh untuk melakukan
aktivitas otot yang besar. Marilah kita meringkaskan kejadian ini :
1. Peningkatan tekanan arteri
2. Peningkatan aliran darah untuk mengaktifkan otot-otot bersamaan dengan
penurunan aliran darah ke organ-organ, seperti traktus gastro intestinal dan
ginjal, yang tidak diperlukan untuk aktivitas motorik yang cepat
3. Peningkatan kecepatan metabolisme sel diseluruh tubuh
4. Peningkatan konsentrasi glukosa darah
5. Peningkatan proses glikolisis di hati dan otot
6. Peningkatan kekuatan otot
7. Peningkatan aktivitas mental
8. Peningkatan kecepatan koagulasi darah
25

Seluruh efek diatas menyebabkan orang tersebut dapat melaksanakan aktivitas fisik
yang jauh lebih besar bila tidak ada efek diatas. Oleh karena stres fisik atau mental
biasanya akan menggiatkan sistem simpatis, maka seringkali keadaan tersebut
dianggap merupakan tujuan dari sistem simpatis untuk menyediakan aktivitas
tambahan tubuh pada saat stres, keadaan ini sering disebut respons stres simpatis.
Sistem simpatis terutama teraktivasi dengan kuat pada berbagai keadaan emosi.
Contohnya, pada keadaan marah (rage) yang terutama ditimbulkan oleh perangsangan
hipotalamus, sinyal-sinyalnya dijalarkan kebawah melalui formasio retikularis otak
dan masuk kedalam medula spinalis untuk menyebabkan pelepasan impuls simpatis
yang masif.
3,18
Dan seluruh peristiwa simpatis seperti yang disebutkan diatas timbul
dengan segera. Keadaan ini disebut reaksi tanda bahaya (alarm reaction) dari serat
simpatis keadaan ini juga disebut reaksi menghadapi atau menghindar ( fight or flight
reaction) sebab seekor binatang pada keadaan ini harus memutuskan dengan segera
apakah akan tetap berdiri dan berkelahi atau lari. Pada kedua peristiwa tersebut reaksi
tanda bahaya dari serat simpatis akan membuat binatang itu melakukan serangkaian
aktivitas yang besar.
3,6,10

Pengaturan medula, pons, dan mesensefalon pada sistem saraf otonom
3,10
Sebagian besar area dalam substansia retikuler dan traktus solitarius medula,
pons dan mesensefalon seperti halnya banyak nuklei khusus mengatur berbagai fungsi
otonom seperti tekanan arteri, frekuensi denyut jantung sekresi kelenjar di traktus
gastrointestinal, gerakan peristaltik gastrointestinal dan kuatnya kontraksi kandung
kemih. Perlu ditekankan disini bahwa faktor paling penting yang dikendalikan oleh
batang otak adalah tekanan arteri, frekuensi denyut jantung dan frekuensi pernafasan.
Tentu saja transeksi batang otak diatas tingkat midpontin tetap tidak mengganggu
pengaturan tekanan dasar dari arteri namun mencegah pengaturan pusat saraf yang
lebih tinggi terutama di hipotalamus sebaliknya transeksi tepat dibawah medula akan
menyebabkan tekanan arteri turun sampai kurang dari setengah kali normal selama
beberapa jam atau beberapa hari sesudah transeksi.Yang sangat berkaitan dengan
pusat pengaturan kardiovaskular pada medula adalah pusat medula dan pontin untuk
pengaturan pernafasan.Walaupun hal ini tidak dianggap sebagai suatu fungsi otonom,
tetapi merupakan salah satu dari fungsi involunter tubuh.
Pengaturan pusat otonom batang otak oleh area yang lebih tinggi.
3,10,18
Sinyal-
sinyal yang berasal dari hipotalamus dan bahkan dari serebrum dapat mempengaruhi
26

aktivitas hampir semua pusat pengatur otonom batang otak. Contohnya perangsangan
daerah yang sesuai pada hipotalamus dapat mengaktifkan pusat pengatur
kardiovaskular medula dengan cukup kuat untuk meningkatkan tekanan arteri sampai
lebih dari dua kali normal. Demikian juga, pusat-pusat hipotalamik lainnya dapat
mengatur suhu tubuh, meningkatkan atau menurunkan salivasi dan aktivitas
gastrointestinal, atau menimbulkan pengosongan kandung kemih. Oleh karena itu,
pada beberapa keadaan, pusat-pusat otonom di batang otak bekerja sebagai stasiun
pemancar untuk mengatur aktivitas yang dimulai pada tingkat otak yang lebih
tinggi.Sebagian besar respons perilaku kita dijalarkan melalui hipotalamus, area
retikularis batang otak, dan sistem saraf otonom. Tentu saja area otak yang lebih
tinggi dapat merngubah sistem saraf otonom atau sebagian darinya dengan cukup kuat
untuk menimbulkan penyakit yang diinduksi otonom, seperti tukak lambung,
konstipasi, palpitasi jantung bahkan serangan jantung.
3

RINGKASAN
Sistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan
sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan.
Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna
memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun
parasimpatis.
Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal. Saraf
dari sistem saraf parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui saraf-saraf
kranial III, VII, IX dan X serta saraf sakral spinal kedua dan ketiga; kadangkala saraf
sakral pertama dan keempat. Kira-kira 75% dari seluruh serabut saraf parasimpatis
didominasi oleh nervus vagus (saraf kranial X)
Berbeda dengan sistem saraf simpatis, serabut preganglion parasimpatis menuju
ganglia atau organ yang dipersarafi secara langsung tanpa hambatan. Serabut
postganglion saraf parasimpatis pendek karena langsung berada di ganglia yang
sesuai, ini berbeda dengan sistem saraf simpatis, dimana neuron postganglion relatif
panjang, ini menggambarkan ganglia dari rangkaian paravertebra simpatis yang
berada jauh dengan organ yang dipersarafinya.
Serat-serat saraf simpatis maupun parasimpatis mensekresikan salah satu dari
kedua bahan transmiter sinaps ini, asetilkolin atau norepinefrin. Neuron- neuron yang
mengeluarkan norepinefrin ini dikenal dengan serabut adrenergik. Serabut
27

postganglion sistem saraf parasimpatis mensekresikan asetilkolin sebagai
neurotransmitter dan dikenal sebagai serabut kolinergik. Semua saraf preganglion
simpatis dan parasimpatis melepaskan asetilkolin sebagai neurotransmitter karenanya
dikenal sebagai serabut kolinergik. Sedangkan asetilkolin yang dilepaskan dari
serabut preganglion mengaktivasi baik postganglion simpatis maupun parasimpatis.
Kerja eksitasi dan inhibisi akibat perangsangan simpatis dan parasimpatis,
perangsangan simpatis dan parasimpatis menimbulkan efek eksitasi pada beberapa
organ tetapi menimbulkan efek inhibisi pada organ lainnya. Kebanyakan organ diatur
oleh salah satu dari kedua sistem tersebut.
Sistem saraf simpatis dan parasimpatis selalu aktif dan aktivitas basalnya diatur oleh
tonus simpatis atau tonus parasimpatis. Nilai tonus ini yang menyebabkan perubahan-
perubahan aktivitas pada organ yang dipersarafinya baik peningkatan maupun
penurunan aktivitas.
Refleks otonom adalah refleks yang mengatur organ viseral meliputi refleks otonom
kardiovaskular, refleks otonom gastrointestinal, refleks seksual, refleks otonom
lainnya meliputi refleks yang membantu pengaturan sekresi kelenjar pankreas,
pengosongan kandung empedu, ekskresi urin pada ginjal, berkeringat, konsentrasi
glukosa darah dan sebagian besar fungsi viseral lainnya.
Sistem simpatis seringkali memberikan respon terhadap pelepasan impuls secara
massal ini disebut pelepasan impuls masal (mass discharge). Pada saat lainnya,
aktivasi simpatis dapat terjadi pada bagian sistem yang terisolasi, terutama sebagai
respons terhadap refleks yang melibatkan medula spinalis tetapi tidak melibatkan
otak.
Sistem parasimpatis biasanya menyebabkan respon setempat yang spesifik,
berbeda dengan respon yang umum dari sistem simpatis terhadap pelepasan impuls
secara masal, maka fungsi pengaturan sistem parasimpatis sepertinya jauh lebih
spesifik.





28

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton and Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran 1997 edisi 9, hal 957-970.
2. Organization of The Nervous System available on URL:http://users.
rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/P/PNS.html
3. Autonomic Nervous System available on URL
:http://enwikipedia.org/wiki/Autonomic_nervous_system
4. Collins VJ. Physiologic and Pharmacologic Bases of Anesthesia, Autonomic
Nervous System.1996 .Vol :.281-301.
5. Definition Autonomic Nervous System available on URL: http://www.medterms.
com/script/main/art.asp?articlekey=2403
6. Autonomic nervous system, available on URL : http://www.merck.
com/mmpe/sec16/ch208/ch208a.html
7. Autonomic Nervous System. 2006 Available on URL:http://www.frca
.co.uk/article.aspx?articleid=100506
8. Autonomic Nervpous System Available on URL: htttp://www.
yesselman.com/e3elwes.htm
9. Stoelting RK. Pharmacology and Physiology in Anesthetic Practice. Autonomic
Nervous System. 2005.vol : 643-653.
10. Martini FH. Fundamental of Anatomy & Pysiology. 7
th
edition. The Autonomic
Nervous System and Higher-Order Functions.2006, vol :517-548
11. Ellis H, Feldman S, Griffiths WH.Anatomy for Anaesthetists.Eight edition.
Blackwell publishing .The Autonomic Nervous System .vol : 222-240 available
on : http://www.blackwellpublishing.com
12. The Autonomic Nervous System, available on URL: http://nariratih.wordpress.
com/2008/03/19/the-autonomic-nervous-system/
13.Autonomic Nervous System.available on URL:http://science.swu.edu/
~wsinnamon/A&Pautonomic.htm
14. Autonomic nervous system available on URL:http://findarticles.com/p/
articles/mi_g2699/is_0000/ai_2699000032
15.Autonomic Nervous System Available on URL: http://www://users.rcn.com/
biolopages/P/PNS.htm;
29

16. Autonomic Nervous System. available on URL: http://www. Microneuro anatomy
.com/autonomicns.htm
17. Hypothalamus and Autonomic Nervous System.2006. available on URL: http://
209. 85.175.104/search?q =cache :A8IAE- -1AmsJ:www.psas- support.com/files/
hypothalamus%2520and%2520the%2520Autonomic%2520Nervous%2520System.pd
f+autonomic+nervous+system&hl=id&ct=clnk&cd=289&gl=id
18.Autonomic nervous system available on URL: http://www.daviddarling
.info/encyclopedia/A/autonomic_nervous _system.html