Anda di halaman 1dari 26

REFERAT OTITIS EKSTERNA

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Ilmu THT

RSUD Kota Semarang

REFERAT OTITIS EKSTERNA Diajukan untuk Memenuhi Syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Ilmu THT RSUD Kota Semarang Pembimbing:

Pembimbing:

Dr. Bambang A. S, Sp. THT-KL Disusun oleh:

Stevan Pagar P.S (406138052) Ivan L. Winardy Oei (406138142)

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU THT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA JULI 2014

Anatomi telinga

Menurut anatomi dan fungsi, telinga dapat dibagi menjadi telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar menangkap bunyi, menghantarnya, dan memperkuat kira-kira 15 dB pada sekitar 2,5 kHz dan menentukan arah datangnya bunyi. Telinga tengah mengubah getaran suara menjadi gelombang cairan. Kemudian telinga dalam mengubah mengubah getaran cairan itu menjadi rangsangan saraf.

Anatomi telinga Menurut anatomi dan fungsi, telinga dapat dibagi menjadi telinga luar, telinga tengah, dan telinga

Telinga luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga (meatus akustikus eksternus), dan selaput gendang-telinga (membran timpani) yang merupakan dinding pemisah antara liang telinga dengan telinga tengah. Bentuk dan besar daun telinga pada tiap- tiap orang tidak sama. Rangka daun telinga dan sepertiga bagian lateral liang telinga adalah tulang rawan yang dilapisi oleh kulit. Bagian medial liang telinga adalah tulang yang dilapisi oleh kulit tanpa adneksa kulit. Epitel kulit dari selaput gendang telinga dan liang telinga yang mati mengelupas bergerak kearah lateral dan keluar dari liang telinga bersama dengan kotoran telinga yang dibentuk oleh kelenjar serumen dalam bentuk serumen (tahi telinga) yang bekerja sebagai pelindung untuk mencegah kuman masuk ke liang telinga.

Aliran darah untuk telinga luar berasal dari

cabang a. karotis

eksterna. Inervasi sensoris liang telinga luar didapat dari n.V

(trigeminus), 3 cabang di bagian depan; nn.VII,

IX,

dan

X

di

bagian

kecil dari bagian belakang; dan C2,

C3 untuk sisanya,

bagian terbesar.

Kelenjar getah

bening

terletak

di

belakang,

menempel pada daun telinga.

bawah,

dan

Telinga tengah

Telinga tengah (kavum timpani) merupakan rongga tertutup kurang lebih 1 cc, di sebelah lateral dibatasi oleh selaput gendang-telinga dan sebagian liang telinga yang terdiri yang terdiri dari tulang, dan di sebelah medial dibatasi oleh labirin. Di arah ke belakang-atas, terdapat rongga atik yang berhubungan dengan antrum, yaitu sel pertama dan terbesar pada system sel mastoid. Ke arah depan-medial menuju ke bawah, terdapat tuba Eustachius (tuba auditiva) 35mm yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Muara tuba Eustachii berbentuk corong menonjol di nasofaring, disebut torus tubarius. Di belakangnya, terdapat cekungan yang disebut fossa Rosenmuller.

Selaput gendang dari lateral ke medial, terdiri dari epitel kulit tanpa adneksa, jaringan ikat, dan selaput lendir. Lapisan jaringan-ikat terdiri dari susunan yang serupa jaringan laba-laba dari serat kolagen yang terikat pada tangkai martil (malleus). Rangkaian tulang-pendengaran ialah martil (malleus), landasan (inkus), dan sanggurdi (stapes) yang bergantung bebas-bergerak pada ligamen jaringan ikat di sebelah cranial atas dalam rongga atik dan merupakan penghubung antara selaput gendang telinga dan tingkap lonjong (fenestra ovalis). Sebagian besar telinga

tengah dan mastoid dilapisi oleh epitel kubus; di bagian depan, tuba Eustachius dilapisi oleh epitel rambut getar.

Pembuluh darah arteri telinga tengah berasal dari percabangan a.karotis eksterna. Selaput lendirnya dipersarafi oleh serabut saraf n.glosofaringeus melalui pleksus timpanikus. Otot telinga tengah, m.stapedius dan m.tensor timpani, masing-masing dipersarafi oleh cabang dari n.VII dan n.V.

Bunyi dari telinga bagian tengah diubah menjadi getaran cairan tanpa banyak kehilangan energi, hal ini terutama karena perbandingan permukaan antara selaput-gendang dan alas-kaki stapes. Tenaga gerak dari rangkaian tulang pendengaran serta elastisitas selaput gendang-telinga juga ikut membantu menghantar bunyi ke telinga dalam.

Tuba Eustachius penting untuk mempertahankan keseimbangan antara tekanan udara di telinga tengah dan telinga luar. Biasanya pipa ini terbuka secara periodik pada waktu menelan, mengunyah, dan menguap. Apabila pipa ini tidak cukup terbuka dalam waktu lama, udara di telinga tengah diresorpsi, sehingga tekanan di telinga tengah menurun dan terbentuk cairan di sana. Bila terjadi perubahan tekanan secara cepat di pegunungan, pesawat terbang, atau ketika menyelam (scuba), tuba Eustachius haruslah terbuka sempurna supaya dapat mempertahankan tekanan di telinga tengah dan udara luar agar seimbang. Disfungsi tuba Eustachius ikut menjadi penyebab kebanyakan kelainan telinga tengah, dan kadang-kadang menyebabkan pasien mendengar suaranya sendiri, juga napasnya (autofoni, echoing).

Telinga dalam

Telinga dalam yang bertulang (selubung labirin) membungkus cairan perilimfa; di tempat ini terdapat labirin selaput. Cairan perilimfa (kaya akan natrium) dihubungkan dengan rongga subaraknoid oleh duktus perilimfatikus (akuaduktus koklea). Labirin selaput berisi endolimfa (kaya kalium), yang diproduksi oleh stria vaskularis. Telinga dalam meliputi alat pendengaran (koklea) dan alat keseimbangan (kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus).

Koklea merupakan pipa yang melingkar 2,5 kali pada sebuah sumbu (modiolus) yang mengandung urat saraf dan pembuluh darah. Pipa itu dibagi menjadi dua ruang, yaitu skala vestibuli dan skala timpani, oleh tulang lamina spiralis (membran basal) dan duktus koklearis. Pada puncak koklea, kedua skala berhubungan satu sama lain melalui helikotrema. Skala timpani bermula pada tingkap bundar (fenestra rotundum); sedangkan skala vestibuli pada vestibulum. Duktus koklearis, yang berhenti di helikotrema mempunyai penampang berbentuk segitiga. Dinding atas adalah membrane Reissner; dinding luar adalah ligamentum spirale, yang berisi stria vaskularis di dalamnya; dan dinding bawah dengan membrane basal. Di atas membrane basal terdapat organ Corti. Membran basal ini kearah helikotrema makin lebar. Duktus koklearis dihubungkan dengan sakulus alat keseimbangan melalui duktus reuni.

Organ Corti terdiri dari beberapa macam sel penunjang, satu sel indera bagian dalam, dan tiga sel indera bagian luar. Sel-sel indera berhubungan dengan membran tektoria. Karena getaran akibat perpindahan tempat alas-kaki stapes yang bergerak seperti alat penghisap, timbullah gelombang-gelombang yang berjalan di dalam perilimfa dan endolimfa. Akibatnya, sel berambut dalam duktus koklearis akan bergerak terhadap membrane tektoria. Pergeseran mekanik ini akan merangsang

sel-sel rambut luar. Secara berirama sel-sel rambut luar akan berkontraksi, sehingga pergeseran antara membrane tektoria dan membrane basal akan diperkuat dan selektivitas frekuensi diperbesar. Akibatnya, timbul depolarisasi dalam sinaps sel-sel rambut bagian dalam.

Membran basal bekerja sebagai dasar bunyi yang telah disesuaikan, yang saat stimulus bunyi menerima nada tinggi pada permulaan (pada tingkap lonjong dan bundar)dan nada rendah di bagian akhir (helikotrema).

Alat keseimbangan, vestibulum dan kanalis semisirkularis, terletak di sebelah posterior koklea. Terdiri dari dua bagian yang secara morfologis dan fungsional berlainan. Bagian tersebut adalah organ statolit (sakulus dan utrikulus) dan kanalis semisirkularis. Sebagaimana organ pendengaran, organ keseimbangan terdiri dari bagian tulang yang berisi perilimfa dan bagian membranosa (labirin selaput) yang berisi endolimfa. Sakulus (di bagian koklea) dan utrikulus (di bagian vestibulum) berhubungan melalui duktus utrikulosakulus. Dari sini keluar duktus endolimfatikus (aquaduktus vestibuli) yang berakhir di sakus endolimfatikus. Sel-sel indera organ statolit berkumpul di macula sakuli dan macula utrikuli. Macula mempunyai orientasi ruang yang spesifik. Makula utrikuli terutama untuk orientasi horizontal, sedangkan makula sakuli vertical. Di macula terdapat sel-sel rambut yang sedemikian rupa, sehingga setiap sel rambut bergerak kearah tertentu. Sensitivitas spesifik organ statolit atas pergeseran linier terjadi karena kira-kira seratus stereosilia dan satu kinosilium pada setiap sel rambut terletak dalam suatu membrane gelatin yang berada di atas macula. Di atasnya, terletak batu-batu kecil kalsium karbonat, statolit dan statokonia. Otokonia terus menerus dibentuk dan kemudian kembali

diabsorpsi

(proses

yang

ternyata

vertigo-posisi-paroksismal-jinak)

penting

untuk

terjadinya

Statolit yang bergerak lambat ketika pergeseran linier kepala tertinggal daripada sel rambut di macula, sehingga stereosilia dan kinosilium membengkok. Akibatnya, terjadi rangsangan pada sel-sel indera. Setiap sel rambut mempunyai orientasi berlainan. Oleh karena itu, utrikulus dapat menerima semua gerakan di bidang horizontal dan sakulus di bidang vertical.

Sel-sel indera di kanalis semisirkularis terdapat di daerah yang melebar (ampula) pada setiap kanalis semisirkularis yang terletak pada tiga bidang yang saling tegak lurus. Ampula bermuara di vestibulum.

Kanalis semisirkularis lateral (horizontal) berbatas pada dinding medial antrum. Kanalis semisirkularis vertical paling depan membentuk eminensia arkuata di bidang atas pyramid. Kanalis semisirkularis vertical yang palin belakang berakhir bersamaan dengan kanalis semisirkularis yang paling depan melalui krus komune di vestibulum. Labirin selaput, di akhir ampula, mengandung Krista ampularis pada utrikulus. Masing-masing sel indera dengan kira-kira 50 stereosilia dan satu kinosilium menusuk ke luar di dalam massa serupa gelatin (kupula) sampai mencapai atap ampula. Hal ini membuat endolimfa tertutup rapat di labirin selaput.

Pada saat terjadi perubahan kecepatan sudut kepala, cairan di kanalis semisirkularis tetap tertinggal di kanalis semisirkularis, karena gerakannya lambat. Dengan demikian, terjadi aliran cairan relatif, sehingga sel rambut membengkok. Hal ini menyebabkan perubahan jumlah potensial aksi, karena system kanalis semisirkularis kanan dan kiri bersikap istirehat selama potensial aksi terus-menerus berkurang. Pada saat kepala

berputar, timbul aliran cairan di dalam sistem kanalis semisirkularis kanan dan kiri. Dengan demikian, potensial aksi di satu pihak bertambah, sedangkan secara bersamaan di satu pihak berkurang. Perubahan ini diteruskan ke pusat vestibuler di batang otak yang bergabung bersama dengan pusat okulomotor. Akibatnya, terjadi gerakan mata kompensasi di bidang kanalis semisirkularis tertentu, yaitu refleks vestibule-okuler yang menunjukkan stabilisasi pandangan pada waktu gerakan kepala. Pergeseran kupula akibat percepatan rotatoar kepala menyebabkan timbulnya nistagmus; setelah percepatan berhenti, nistagmus secara beransur berkurang lagi. Nistagmus spontan pada kepala yang bergerak menandakan gangguan di saluran saraf vestibuler.

N.VIII (n.vestibulokoklearis) terdiri dari serabut saraf yang berasal dari koklea (pars kokleris) dan dari sistem keseimbangan (pars vestibularis).

Masing-masing sel rambut koklea terdalam mengirim sebuah serabut aferen, sedangkan banyak sel rambut koklea terluar setiap kali bersama-sama mengirimkan satu serabut e gangkion spirale, sekaligus sel rambut koklea terluar menerima serabut eferen dari nucleus olivaris kontralateral. Dari ganglion spirale, potensial aksi dipindahkan sebagian menyilang melalui berbagai inti di dalam sumsum panjang dibawa ke kulit otak auditif. Bagian vestibuler terbentuk dari n.vestibularis superior dan inferior.

Perdarahan arterial telinga dalam berjalan melalui a.basilaris, a.labirin (a.auditiva interna) yang percabangannya dapat berubah; pada umumnya dibagi dalam tiga bagian:

a.vestibularis, a.koklearis, a.vestibulokoklearis. Di antara sistem

arteri dan vena, terdapat sistem kapiler yang di dalam stria vaskularis mempunyai fungsi metabolik penting.

OTITIS EKSTERNA

Definisi

Otitis eksterna adalah suatu inflamasi, iritasi, atau infeksi kulit dari liang/saluran telinga luar (meatus akustikus eksterna). Infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel) atau radang folikel rambut.

Etiologi

Otitis eksterna terutama disebabkan oleh infeksi bakteri, yaitu Staphylococcus aureus, Pseudomonas Aeruginosa, Proteus Mirabilis. Penyakit ini dapat juga disebabkan oleh jamur, alergi, dan virus. Otitis eksterna dapat juga disebabkan oleh penyebaran luas dari proses dermatologis yang bersifat non infeksi seperti psoriasis, dermatitis, seboroik.

Faktor predisposisi Faktor predisposisi otitis eksterna, yaitu :

1. Udara. Udara hangat /panas dan lembab memudahkan kuman bertambah banyak.

2. Derajat keasaman

(pH)

liang

telinga.

pH

basa

mempermudah terjadinya otitis eksterna. pH asam memproteksi terhadap kuman infeksi. 3. Trauma mekanik. Trauma lokal dan ringan pada epitel liang telinga luar (meatus akustikus eksterna), misalnya setelah

mengorek telinga menggunakan lidi kapas atau benda lainnya.

  • 4. Berenang dan terpapar air. Perubahan warna kulit liang telinga dapat terjadi setelah terkena air. Hal ini disebabkan adanya bentuk lekukan pada liang telinga sehingga menjadi media yang bagus buat pertumbuhan bakteri. Otitis eksterna sering disebut sebagai swimmer's ear.

  • 5. Benda asing. Benda asing menyebabkan sumbatan liang telinga, misalnya manik-manik, biji-bijian, serangga, dan tertinggal kapas.

  • 6. Bahan iritan (misalnya hair spray dan cat rambut).

  • 7. Alergi. Alergi obat (antibiotik topikal dan antihistamin) dan metal (nikel).

  • 8. Penyakit psoriasis.

  • 9. Penyakit eksim atau dermatitis pada kulit kepala.

    • 10. Penyakit diabetes. Otitis eksterna sirkumskripta sering timbul pada pasien diabetes.

Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, otitis eksterna dapat dibahagi menjadi otitis eksterna yang disebabkan infeksi bakteri yaitu otitis eksterna sirkumskripta (furunkel), otitis eksterna difus, otitis eksterna maligna, otomikosis disebabkan infeksi jamur, manakala herpes zoster otikus, dan otitis eksterna hemoragik disebabkan oleh infeksi virus. Selain itu ada juga otitis eksterna yang disebabkan oleh proses dermatologis yang bersifat radang non-infeksi termasuk dermatitis, beberapa di antaranya merupakan kondisi primer yang langsung menyerang liang telinga.

Patofisiologi

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.

Manifestasi klinis Gejala otitis eksterna umumnya adalah rasa gatal dan sakit

(otalgia). Gejala dan tanda pasien otitis eksterna selengkapnya :

  • 1. Otalgia

  • 2. Gatal-gatal (pruritus)

  • 3. Rasa penuh (fullness) di liang telinga. Keluhan ini biasa terjadi pada tahap awal otitis eksterna difus dan sering mendahului otalgia dan nyeri tekan daun telinga.

  • 4. Pendengaran berkurang atau hilang.

  • 5. Deskuamasi

  • 6. Tinnitus

  • 7. Discharge dan otore. Cairan (discharge) yang mengalir dari liang telinga (otore). Kadangkadang pada otitis eksterna difus ditemukan sekret / cairan berwarna putih atau kuning, atau nanah. Cairan tersebut berbau yang tidak menyenangkan. Tidak bercampur dengan lendir (musin)

  • 8. Demam.

  • 9. Nyeri tekan pada tragus dan nyeri saat membuka mulut.

    • 10. Infiltrat dan abses (bisul). Keduanya tampak pada otitis eksterna sirkumskripta. Bisul menyebabkan rasa sakit

berat. Ketika pecah, darah dan nanah dalam jumlah kecil bisa bocor dari telinga.

  • 11. Hiperemis dan udem (bengkak) pada liang telinga. Kulit liang telinga pada otitis eksterna difus tampak hiperemis dan udem dengan batas yang tidak jelas. Bisa tidak terjadi pembengkakan, pembengkakan ringan, atau pada kasus yang berat menjadi bengkak yang benar -benar menutup liang telinga.

Tanda otitis eksterna menggunakan otoskop yaitu kulit pada saluran telinga tampak kemerahan, membengkak, bisa berisi nanah dan serpihan sel-sel kulit yang mati.

Otalgia. Otalgia merupakan keluhan paling sering ditemukan. Otalgia berat biasa ditemukan pada otitis eksterna sirkumskripta. Keluhan ini bervariasi dan bisa dimulai dari perasaan sedikit tidak enak, perasaan penuh dalam telinga, perasaan seperti terbakar, hingga rasa sakit hebat dan berdenyut. Hebatnya rasa nyeri ini tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Rasa nyeri terasa makin hebat bila menyentuh, menarik, atau menekan daun telinga. Juga makin nyeri ketika pasien sedang mengunyah. Gatal-gatal. Gatal-gatal paling sering ditemukan dan merupakan pendahulu otalgia pada otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita otitis eksterna akut, tanda peradangan diawali oleh rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak pada telinga. Pendengaran berkurang atau hilang. Tuli konduktif ini dapat terjadi pada otitis eksterna akut akibat sumbatan lumen kanalis telinga luar oleh edema kulit liang telinga, sekret serous atau purulen atau penebalan kulit progresif pada otitis eksterna lama. Selain itu, peredaman hantaran suara dapat pula disebabkan

tertutupnya lumen liang telinga oleh deskuamasi keratin, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan yang dimasukkan ke dalam telinga. Gangguan pendengaran pada otitis eksterna sirkumskripta akibat bisul yang sudah besar dan menyumbat liang telinga.

Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel)

Oleh karena kulit di sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu dapat terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel.

Kuman

penyebab

biasanya

Staphylococcus albus.

Staphylococcus aureus atau

Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan pada waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.

Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta :

Lokal : pada stadium infiltrat diberikan tampon yang dibasahi dengan 10% ichthamol dalam glycerine, diganti setiap hari. Pada stadium abses dilakukan insisi pada abses dan tampon larutan rivanol 0,1%. Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat. Diberikan pada orang dewasa

amoxicilin 500 mg. Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per kg BB. Analgetik : Asam Mefenamat 500 mg

Pada kasus-kasus berulang tidak lupa untuk mencari faktor sistemik yaitu adanya penyakit diabetes melitus.

Otitis eksterna difusa

Infeksi ini juga dikenal dengan nama “swimmer’s ear”. Biasanya terjadi pada cuaca yang panas dan lembab, terutama disebabkan oleh kelompok Pseudomonas dan kadang-kadang juga Staphylococcus albus, Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes. Danau, laut dan kolam renang pribadi merupakan sumber potensial untuk infeksi ini. Gambaran diagnostik antara lain nyeri tekan tragus, nyeri hebat, pembengkakan sebagian besar dinding kanalis, secret yang sedikit, pendengaran normal atau sedikit berkurang, tidak adanya partikel jamur, dan mungkin ada adenopati regional yang nyeri tekan.

Stroma yang menutupi tulang pada duapertiga bagian dalam liang telinga sangat tipis sehingga hanya memungkinkan pembengkakan minimal. Maka gangguan subjektif yang dialami pasien seringkali tidak sebanding dengan beratnya penyakit yang diamati pemeriksa. Karena edema dinding kanalis yang sirkumferensial, maka untuk menempelkan obat pada dinding kanalis seringkali perlu memakai sumbu. Untuk itu dapat digunakan gulungan kasa yang kecil. Forsep alligator dapat dipakai untuk memasukkan sumbu telinga yang telah dibasahi terlebih dahulu dengan solusio telinga yang dipilih. Terdapat beberapa pilihan obat telinga untuk terapi. Tetes telinga yang

sering digunakan adalah otopraf ( fludrokortison, polymixin B sulfate, neomycin sulfate, lidocine HCl)

Terapi sistemik hanya dipertimbangkan pada kasus-kasus berat; dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kepekaan bakteri. Antibiotik sistemik khususnya diperlukan jika dicurigai adanya perikondritis atau kondritis pada tulang rawan telinga. Otitis eksterna difusa dapat pula timbul sekunder dari otitis media akut atau kronik. Pada kasus demikian, pengobatan terutama ditujukan pada penyakit telinga tengah.

Otitis eksterna maligna Pendahuluan

Otitis Eksterna Maligna (OEM) merupakan suatu infeksi telinga luar yang dapat menyebabkan kematian. Kasus OEM pertama kali dilaporkan oleh Toulmouche (1838). Meltzer dan Kelleman (1959) melaporkan kasus osteomielitis tulang temporal yang disebabkan oleh P. aeruginosa. Chandler (1968) adalah orang yang menjelaskan penyakit ini secara rinci dan menyebutnya dengan “malignant external otitis”.

Epidemiologi dan patologi Infeksi telinga ini di mulai dari liang telinga luar dan meluas ke tulang temporal hingga ke jaringan sekitarnya. Keadaan ini sering didapati pada pasien usia lanjut dan menderita penyakit diabetes serta pasien dengan disfungsi imun selular. OEM juga dapat terjadi pada pasien dengan immunocompromised, seperti AIDS yang melibatkan populasi yang lebih muda. Patologi OEM melibatkan otitis eksterna yang berat, nekrosis kartilago dan tulang dari liang telinga hingga ke struktur sekitarnya yang meluas ke dasar tengkorak yang mengenai nervus kranial yang lebih rendah. Hal ini menyebabkan

terjadinya lower cranial neuropathies, trombosis sinus lateral, sakit kepala yang berat, meningitis dan kematian.

Gejala klinis Penyakit ini dapat membahayakan dan kecurigaan lebih tinggi ditujukan pada pasien dengan diabetes atau immunocompromised state atau berumur lanjut. Tanda khas yang dijumpai dari otoskopi pada penyakit ini adalah otitis eksterna dengan jaringan granulasi sepanjang posteroinferior liang telinga luar (pada bonycartilaginous junction) disertai lower cranial neuropathies (n. VII, IX, X, XI) yang biasanya juga disertai dengan nyeri pada daerah yang dikenai (otalgia). Eksudat pada liang telinga dan membran timpani intakTerjadinya paralise fasialis dan sindrom foramen jugularis (Vernet syndrome) merupakan tanda prognostik yang buruk.

Patogen penyebab Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen penyebab yang lazim pada otitis eksterna maligna, meskipun sangat jarang juga dapat dijumpai S. aureus, Proteus dan Aspergillus.

Diagnosis Diagnosis ditegakan berdasarkan gejala dan tanda yang dijumpai dan pemeriksaan kultur dari cairan yang didapat dari liang telinga. Biopsi jaringan granulasi pada liang telinga luar perlu dilakukan untuk meniadakan karsinoma liang telinga. Pemeriksaan radiologi diperlukan untuk menentukan perluasan penyakit. CT-scan tulang temporal direkomendasikan untuk menilai perluasan penyakit pada evaluasi permulaan. Scan tulang dengan Technetium Tc 99m dilakukan untuk mendeteksi adanya keterlibatan tulang. Gallium-67 scan merupakan indikator yang sensitif untuk infeksi.

Terapi Prinsip terapi adalah:

1. Diagnosis dini pada populasi resiko tinggi. 2. Pemberian terapi antibiotik intravena jangka panjang, hospitalized. 3. Pembersihan liang telinga luar (aural toilet) 4. Pemeriksaan klinis dan scan gallium-67 secara serial untuk menilai perbaikan. 5. Kontrol yang ketat terhadap diabetes mellitus dan intervensi bedah.

Komplikasi Komplikasi OEM yang dapat terjadi meliputi lower cranial neuropathies, meningitis, abses otak dan kematian.

Otomikosis Definisi Otomikosis adalah infeksi telinga yang disebabkan oleh jamur, atau infeksi jamur superficial pada kanalis auditorius eksternus. Otomikosis ini sering dijumpai pada daerah yang tropis. Infeksi ini dapat bersifat akut dan subakut, dan khas dengan adanya inflammasi, rasa gatal, dan ketidaknyamanan. Mikosis ini menyebabkan adanya pembengkakan, pengelupasan epitel superfisial, adanya penumpukan debris yang berbentuk hifa, disertai suppurasi, dan nyeri.

Epidemiologi Angka insidensi otomikosis tidak diketahui, tetapi sering terjadi pada daerah dengan cuaca yang panas, juga pada orang-orang yang senang dengan olah raga air. 1 dari 8 kasus infesi telinga luar disebabkan oleh jamur. 90 % infeksi jamur ini disebabkan

oleh Aspergillus spp, dan selebihnya adalah Candida spp. Angka prevalensi Otomikosis ini dijumpai pada 9 % dari seluruh pasien yang mengalami gejala dan tanda otitis eksterna. Otomikosis ini lebih sering dijumpai pada daerah dengan cuaca panas, dan banyak literatur menyebutkan otomikosis berasal dari negara tropis dan subtropis. Di United Kingdom ( UK ), diagnosis otitis eksterna yang disebabkan oleh jamur ini sering ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ali Zarei tahun 2006, Otomikosis dijumpai lebih banyak pada wanita ( terutama ibu rumah tangga ) daripada pria. Otomikosis biasanya terjadi pada dewasa, dan jarang pada anak-anak. Pada penelitian tersebut, dijumpai otomikosis sering pada remaja laki-laki, yang juga sesuai dengan yang dilaporkan oleh peneliti lainnya. Tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hueso,dkk, dari 102 kasus ditemukan 55,8% nya merupakan lelaki, sedangkan 44,2% nya merupakan wanita.

Etiologi Faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna, dalam hal ini otomikosis, meliputi ketiadaan serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperature, dan trauma lokal, yang biasanya sering disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds) dan alat bantu dengar. Serumen sendiri memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan jamur. Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini oleh karena paparan ulang dengan air yang menyebabkan keluarnya serumen, dan keringnya kanalis auditorius eksternus. Bisa juga disebabkan oleh adanya prosedur invasif pada telinga. Predisposisi yang lain meliputi riwayat menderita eksema, rhinitis allergika, dan asthma.

Infeksi ini disebabkan oleh beberapa spesies dari jamur yang bersifat saprofit, terutama Aspergillus niger. Agen penyebab lainnya meliputi A. flavus, A. fumigatus, Allescheria boydii, Scopulariopsis, Penicillium, Rhizopus, Absidia, dan Candida Spp. Sebagai tambahan, otomikosis dapat merupakan infeksi sekunder dari predisposisi tertentu misalnya otitis eksterna yang disebabkan bakteri yang diterapi dengan kortikosteroid dan berenang. Banyak faktor yang menjadi penyebab perubahan jamur saprofit ini mejadi jamur yang patogenik, tetapi bagaimana mekanismenya sampai sekarang belum dimengerti. Beberapa dari faktor dibawah ini dianggap berperan dalam terjadinya infeksi, seperti perubahan epitel, peningkatan kadar pH, gangguan kualitatif dan kuantitatif dari serumen, faktor sistemik ( seperti gangguan imun tubuh, kortikosteroid, antibiotik, sitostatik, neoplasia ), faktor lingkungan (panas, kelembaban), riwayat otomikosis sebelumnya, Otitis media sekretorik kronik, post mastoidektomi, atau penggunaan substansi seperti antibiotika spectrum luas pada telinga. Aspergillus niger dilaporkan sebagai penyebab paling terbanyak dari otomikosis ini. Pada dua penelitian di Babol dan barat laut Iran, A.niger dilaporkan sebagai penyebab utama. Ozcan dkk, dan Hurst melaporkan A.niger , juga sebagai penyebab terbanyak otomikosis di Turki dan Australia. Tetapi, Kaur, dkk, menemukan bahwa A.fumigatus sebagai penyebab terbanyak diikuti dengan A.niger. Spesies Aspergillus lainnya yang dihubungkan dengan otomikosis adalah A.flavus. Penicillum juga dilaporkan oleh Pavalenko. Jamur lainnya yang berhubungan dengan terjadinya otomikosis adalah C.albicans dan C.parapsilosis. pada penelitian yang dilakukan Ali Zarei di Pakistan tahun 2006, dijumpai A.niger sebagai penyebab utama diikuti dengan A.flavus.

Aspergillus niger, juga telah dilaporkan sebagai otomikosis pada pasien immunokompromis, yang tidak berespons terhadap berbagai regimen terapi yang telah diberikan. (Aspergillus Otomikosis).

Gejala klinis

Dapat ditemukan gejala dan tanda, antara lain:

Gatal-gatal pada otomokosis

Hal ini disebabkan terjadinya eksfoliasi kulit oleh jamur yang tumbuh sehingga terjadi pengelupasan kulit yang kemudian bercampur dengan jamur itu sendiri membentuk masa debris yang basah. Massa basah ini selanjutnya mengiritasi kulit liang telinga yang sudah terkelupas tadi sehingga timbul rasa gatal. Dengan digaruk akan memperberat rasa gatal tersebut. Seperti disebutkan rasa gatal ini merupakan keluhan yang paling sering dialami oleh pasien.

Sakit pada telinga

Keluhan sakit pada dasarnya merupakan keluhan lanjutan setelah gatal dan liang telinga dikorek-korek, sehingga membuat trauma dan menimbulkan reaksi radang yang diikuti infeksi bakteri. Keluhan ini merupakan keluhan kedua terbanyak.

Perasaan tidak enak

Perasaan tak enak pada liang telinga ini dirasakan difusi sehingga penderita sendiri sukar untuk menerangkannya.

Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran biasanya ringan saja akibat adanya massa seperti busa yang besar pada liang telinga yang terutama disebabkan oleh jamur Aspergillus niger.

Telinga berair

Cairan telinga dapat bervariasi mulai dari serous seropurulent sampai pada cairan berwarna krem dan kehitam-hitaman. Tinitus Keluhan ini sering menetap dan sangat mengganggu penderita sehingga sering menyebabkan penderita datang berobat tanpa disertai gejala atau lainya yang berarti. Tinitus ini mungkin hanya disebabkan oleh sumbatan debris dalam liang telinga yang menekan gendang telinga. Keluhan ini akan hilang setelah debris ini diangkat.

Pada pemeriksaan klinis umumnya tidak menunjukan kelainan yang berarti pada daun telinga, kecuali sedikit rasa nyeri saat daun telinga ditarik serta ulserasi ringan dengan pembentukan

krusta. .

Pada liang telinga akan tampak berwarna merah,

ditutupi oleh skuama, dan kelainan ini ke bagian luar akan dapat

meluas sampai muara liang telinga dan daun telinga sebelah dalam. Pada liang telinga dapat terjadi penyempitan dalam berbagai derajat. Penyempitan disebabkan reaksi peradangan pada lapisan kulit liang telinga luar karena infeksi jamur. Didapati adanya akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana putih dan panjang dari permukaan kulit. Sedangkan pada membrana tympani dapat dijumpai kongesti dan peradangan pada gendang telinga meskipun pada kebanyakan kasus tidak ditemukan kelainan Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi skuama halus. Bila meluas sampai kedalam, sampai ke membran timpani, maka akan dapat mengeluarkan cairan serosanguinos. Pada pemeriksaan telinga yang dicurigai otomikosis, didapati adanya akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana putih dan panjang dari permukaan kulit, hilangnya pembengkakan signifikan pada dinding kanalis,

dan area melingkar dari jaringan granulasi diantara kanalis eksterna atau pada membran timpani.

Penatalaksanaan Pengobatan ditujukan untuk menjaga agar liang telinga tetap kering, jangan lembab, dan disarankan untuk tidak mengorek- ngorek telinga dengan barang-barang yang kotor seperti korek api, garukan telinga, atau kapas. Kotoran-kotoran telinga harus sering dibersihkan.

Pengobatan yang dapat diberikan seperti :

Larutan asam asetat 2-5 % dalam alkohol yang diteteskan kedalam liang telinga biasanya dapat menyembuhkan.4,15

Tetes

telinga

siap

beli

seperti

VoSol

(

asam asetat

nonakueus 2

(

m-kresil asetat )

dan Otic

Domeboro

(

% ), Cresylate asam asetat 2

%

)

bermanfaat bagi banyak

kasus.16

Larutan timol 2 % dalam spiritus dilutes ( alkohol 70 % ) atau meneteskan larutan burrowi 5 % satu atau dua tetes dan selanjutnya dibersihkan dengan desinfektan biasanya memberi hasil pengobatan yang memuaskan.8

Dapat juga diberikan Neosporin dan larutan gentian violet 1-2 %.8

Akhir-akhir ini yang sering dipakai adalah fungisida topikal spesifik, seperti preparat yang mengandung nystatin , ketokonazole, klotrimazole, dan anti jamur yang diberikan secara sistemik.2,16

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penggunaan anti jamur tidak secara komplit mengobati proses dari otomikosis ini, oleh

karena agen-agen diatas tidak menunjukkan keefektifan untuk mencegah otomikosis ini relaps kembali. Hal ini menjadi penting untuk diingat bahwa, selain memberikan anti jamur topikal, juga harus dipahami fisiologi dari kanalis auditorius eksternus itu sendiri, yakni dengan tidak melakukan manuver-manuver pada daerah tersebut, mengurangi paparan dengan air agar tidak menambah kelembaban, mendapatkan terapi yang adekuat ketika menderita otitis media, juga menghindari situasi apapun yang dapat merubah homeostasis lokal. Kesemuanya apabila dijalankan dengan baik, maka akan membawa kepada resolusi komplit dari penyakit ini. Komplikasi Komplikasi dari otomikosis yang pernah dilaporkan adalah perforasi dari membran timpani dan otitis media serosa, tetapi hal tersebut sangat jarang terjadi, dan cenderung sembuh dengan pengobatan. Patofisiologi dari perforasi membran timpani mungkin berhubungan dengan nekrosis avaskular dari membran timpani sebagai akibat dari trombosis pada pembuluh darah. Angka insiden terjadinya perforasi membran yang dilaporkan dari berbagai penelitian berkisar antara 12-16 % dari seluruh kasus otomikosis. Tidak terdapat gejala dini untuk memprediksi terjadinya perforasi tersebut, keterlibatan membran timpani sepertinya merupakan konsekuensi inokulasi jamur pada aspek medial dari telinga luar ataupun merupakan ekstensi langsung infeksi tersebut dari kulit sekitarnya.

Infeksi dan radang kronik

Infeksi bakteri pada liang telinga dapat menjadi kronik karena tidak diobati, pengobatan yang kurang memadai, trauma berulang, adanya benda asing seperti cetakan alat bantu dengar, atau otitis media yang terus menerus mengeluarkan secret. Dalam penatalaksanaan perlu dilakukan identifikasi organism penyebab dan faktor-faktor yang mendukung sifat kroniknya. Kasus-kasus yang berlangsung lama lambat laun dapat menyebabkan stenosis liang telinga akibat penebalan fibrotic dinding kanalis. Suatu tindakan bedah berupa reseksi jaringan yang menebal dan pencangkokan telah berhasil mengatasi kondisi yang sebelumnya ireversibel ini. Infeksi jamur kronik yang paling sering dijumpai oleh THT adalah infeksi pada rongga mastoid yang memerlukan pembersihan. Setelah pengangkatan debris infeksi, rongga mastoid perlu diterapi dengan obat tetes antijamur atau dibedaki dengan kombinasi neomisin dan asam borat. Prinsip-prinsip penatalaksanaan yang dapat diterapkan pada semua tipe otitis eksterna antara lain:

  • 1. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas dengan berhati-hati

  • 2. Penilaian terhadap secret,edema dinding kanalis, dan membrane timpani bilamana mungkin

  • 3. Pemilihan pengobatan topical

Penatalaksanaan otitis eksterna bertujuan :

  • 1. Membuang serumen, kotoran, dan sel-sel kulit mati dari liang telinga. Bersihkan dan keringkan menggunakan alat penghisap atau kapas kering.

  • 2. Mengeluarkan mikroorganisme. Masukkan tampon yang mengandung antibiotik ke dalam liang telinga untuk

menghindari infeksi bakterial akut dan ulserasi. Berikan juga antibiotik sistemik jika perlu.

  • 3. Mengurangi rasa sakit, peradangan dan edema. Berikan obat golongan kortikosteroid misalnya metil prednisolon.

  • 4. Menghilangkan rasa tidak enak.

  • 5. Memulihkan pendengaran.

  • 6. Menghilangkan gatal dan penggarukan yang berulang. Terapi antifungal untuk menghindari infeksi jamur.

  • 7. Terapi antialergi dan antiparasit.

Penatalaksanaan otitis eksterna kronik yaitu operasi rekonstruksi liang telinga.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007. 145-48

  • 2. Calhoun KH, Head and neck surgery-otolaryngology Volume two. 3 nd Edition. USA: Lippincott Williams and Wilkins. 2001. 705,712-3

  • 3. Ballenger JJ. Penyakit telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Jilid 1. Edisi ke-13. Jakarta: Bina Rupa Aksara,1994.295-
    304