Anda di halaman 1dari 10

Kasus Diare dengan Pendekatan Dokter Keluarga

Gladys Irma Hartono


102011191
gladyshartono@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara 6, Jakarta Barat

Laporan Kasus
Data riwayat keluarga :
I. Identitas pasien :
Nama : An. M. Fakalah
Umur : 2 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Belum bekerja
Pendidikan : Belum sekolah
Alamat : Mandalika 1, Tanjung Duren Dalam, Jakarta Barat
Telepon : -

II. Riwayat biologis keluarga :
a. Keadaan kesehatan sekarang : Sedang
b. Kebersihan perorangan : Kurang
c. Penyakit yang sering diderita : Alergi (Bapak)
d. Penyakit keturunan : -
e. Penyakit kronis/ menular : Alergi (Bapak)
f. Kecacatan anggota keluarga : -
g. Pola makan : Kurang
h. Pola istirahat : Baik
i. Jumlah anggota keluarga : 4 orang

III. Psikologis keluarga
a. Kebiasaan buruk : Tidak rutin cuci tangan
b. Pengambilan keputusan : Bapak
c. Ketergantungan obat : -
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: Puskesmas (750 meter dari rumah)
e. Pola rekreasi : Sering

IV. Keadaan rumah/ lingkungan
a. Jenis bangunan : Permanen (Kamar kontrakan)
b. Lantai rumah : Keramik
c. Luas rumah : +/- 9 m
2

d. Penerangan : Sedang
e. Kebersihan : Kurang
f. Ventilasi : Kurang
g. Dapur : Ada
h. Jamban keluarga : Ada, digabung dengan 8 keluarga lain
i. Sumber air minum : Galon isi ulang
j. Sumber pencemaran air : Ada (WC dan tempat cuci piring digabung)
k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Tidak ada
n. Sanitasi lingkungan : Kurang

V. Spiritual keluarga
a. Ketaatan beribadah : Baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik

VI. Keadaan sosial keluarga
a. Tingkat pendidikan : Sedang
b. Hubungan antar anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Kurang
e. Keadaan ekonomi : Sedang

VII. Kultural keluarga
a. Adat yang berpengaruh : Tidak ada
b. Lain-lain : Tidak ada

VIII. Anggota keluarga






Keterangan:
1. Ayah OS
2. Ibu OS
3. Kakak perempuan OS
4. OS

VIII. Keluhan utama :
Mencret sejak 1 hari yang lalu
IX. Keluhan tambahan :
Lemas, anoreksia, muntah (+)
X. Riwayat penyakit sekarang :
OS datang berobat ditemani ibunya ke Puskesmas kelurahan Tanjung Duren
Selatan tanggal 10 Juli 2014 dengan keluhan mencret sejak 1 hari yang lalu. Ibunya
juga mengeluh OS tampak lemas, tidak nafsu makan dan muntah tiap kali makan.
Tidak ada demam. Ada nyeri perut. Diare hari pertama BAB 4x, feses berwarna
coklat, darah (-), lendir (+), busa (+). Hari kedua sampai jam 9 pagi sebanyak 3x,
warna kuning, cair dan tidak ada ampas.

1
4
2
3
XI. Riwayat penyakit dahulu :
Seminggu yang lalu OS terkena cacar air tapi sekarang sudah sembuh. OS juga
pernah terkena tifus saat berusia 1 tahun 8 bulan. Tidak ada riwayat alergi atau
keracunan makanan.
XII. Pemeriksaan fisik :
Di Puskesmas kelurahan Tanjung Duren Selatan, dilakukan pemeriksaan berat
badan dan auskultasi untuk mendengarkan bising usus. Didapatkan hasil pemeriksaan
berat badan: 10 kg. Hasil auskultasi tidak diketahui.

XIII. Diagnosis penyakit : Diare akut

XIV. Diagnosis keluarga : -

XV. Anjuran penatalaksanaan penyakit :
a. Promotif : dapat dilakukan penyuluhan tentang diare dan gejala klinisnya,
penggunaan oralit dan cairan rumah tangga misalnya larutan gula garam, air
tajin, dan kuah sayur. Selain itu, pasien dan keluarga lain digerakkan agar
dapat menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti mencuci
tangan setelah buang air besar, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
dan makan. Masyarakat juga perlu diberi penjelasan tentang pentingnya
menggunakan air bersih untuk mencuci alat makan, menjaga sanitasi
lingkungan, memotong kuku secara rutin dan menggunakan air matang untuk
minum.
b. Preventif : melakukan imunisasi campak untuk mencegah terjadinya diare,
memperbaiki kualitas gizi dan higienisitas makanan anak, dan memperbaiki
kualitas jamban keluarga.
c. Kuratif :
Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya :
3
Tanpa dehidrasi dengan terapi A
Pada keadaan ini, BAB terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai mencret.
Anak yang mengalami kondisi ini mash lincah dan masih mau makan dan
minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan dirumah oleh ibu atau
anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang
ada dirumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh,
maupun oralit. Istilah pengobatan ini adalah dengan menggunakan terapi A.
Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah.
a. Memberikan anak lebih banyak cairan
b. Memberikan makan terus-menerus
c. Membawa ke pertugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga hari.

Dehidrasi ringan atau sedang dengan terapi B.
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5%
dari berat badan , sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6-
10% dan berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada derajat dehidrasi
ringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut :
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan :
Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun
Jumlah oralit 300 ml 600 ml 1200ml

Setelah itu, tambahkan setiap kali mencret :
Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun
Jumlah oralit 100 ml 200 ml 400 ml

Dehidrasi berat, dengan terapi C
Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus-menerus,
biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan lebih dari 10%
berat bdan. Diare diatasi dengan yaitu perawatan di puskesmas atau rumah
sakit untuk diinfus RL (ringer laktat).
Teruskan pemberian makan.
Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini mungkin dan disesuaikan
dengan kebutuhan. Makanan tambahan diperlukan pada masa penyembuhan.
Untuk bayi, ASI tetap diberikan bila sebelumnya mendapatkan ASI, namun
bila sebelumnya tidak mendapatkan ASI dapat diteruskan dengan memberikan
susu formula.
Antibiotik bila perlu
Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan
antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat dan
efek sampingnya bahkan merugikan penderita
d. Rehabilitatif : pemberian makanan lebih banyak dari biasanya untuk
mengganti berat badan yang hilang selama sakit.

XVI. Prognosis
Penyakit : bonam
Keluarga : bonam
Masyarakat: bonam

XVII. Resume dan Saran :
Telah dilakukan kunjungan rumah ke rumah pasien laki-laki berusia 2 tahun
dengan keluhan mencret sejak 1 hari yang lalu disertai muntah, lemas, dan tidak ada
nafsu makan. BAB pasien tampak encer dan tidak berampas.
Keadaan ini diduga terjadi karena tempat cuci piring keluarga pasien digabung
dengan WC sehingga kontaminasi feses sangat mungkin terjadi dan sumber air
minum yang kurang bersih. Untuk itu, keluarga pasien dihimbau untuk mencuci
peralatan makan dan minum dengan menggunakan air bersih, mencuci tangan
setelah buang air besar, sebelum dan sesudah makan, serta merebus air terlebih
dahulu sebelum dikonsumsi.

Nama Hub Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Kesehatan Gizi Im KB
Bp.Anton Bapak 30 th SMA Kurir Islam Sedang - - -
Ibu Yati Ibu 30 th SD IRT Islam Sedang Sedang - -
Balqis Anak 8 th SD Murid Islam Sedang - - -
Fakalah Anak 2 th - - Islam Sedang Kurang - -

FESESUAN PUSTAKA

Definisi
Diare adalah peningkatan pengeluaran feses dengan konsistensi lebih lunak atau lebih
cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Pada bayi, volume feses lebih
dari 15 g/kg/24 jam disebut diare. Pada umur 3 tahun, yang volume fesesnya sudah sama dengan
orang dewasa, volume >200 g/kg/24 jam disebut diare. Frekuensi dan konsistensi bukan
merupakan indikator untuk volume feses.

Etiologi
Etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab:
a. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio
b. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus
c. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia
d. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas

Epidemiologi
Di Indonesia, penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan karena diare serta
menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan anak balita. Hasil-hasil survei
menunjukan bahwa angka kesakitan diare untuk seluruh glongan umur adalah berkisar antara
120-30 per 1000 penduduk dan untuk balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap
tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare. Sebesar 15,5% kematian pada bayi dan 26,4%
kematian pada anak balita disebabkan karena penyakit diare murni.

Cara penularan
Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang
tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita atau tidak langsung melalui lalat (melalui
5F = faeces, flies, food, fluid, finger).

Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab
penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena penyakit
usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan malabsorpsi
dan dehidrasi sering didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali berhubungan dengan
feses berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan ada sensasi ingin ke belakang. Pasien
dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas, yaitu mual, muntah, nyeri abdomen,
demam, dan feses yang sering, malabsorptif, atau berdarah tergantung bakteri patogen yang
spesifik. Secara umum, pathogen usus halus tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah
ke invasif. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita pada
keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut
jantung dan pernapasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda-tanda utama
dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya:
ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata: cekung atau tidak, ada atau tidaknya air mata, bibir,
mukosa mulut dan lidah kering atau basah. Pernapasan yang cepat dan dalam indikasi adanya
asidosis metabolik. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia.
Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill dapat menentukan derajat
dehidrasi yang terjadi.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya tidak diperlukan, Kultur
feses hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan, misalnya penyebab dasarnya tidak
diketahui atau ada sebab-sebab lain selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat.
Pemeriksaan feses baik makroskopik maupun mikroskopik dapat dilakukan untuk menentukan
diagnosa yang pasti. Secara makroskopik harus diperhatikan volume, bentuk, warna feses, ada
tidaknya darah, lender, pus, lemak, dan lain-lain. Pemeriksaan mikroskopik melihat ada tidaknya
leukosit, eritrosit, telur cacing, parasit, bakteri, dan lain-lain. Bila terjadi dehidrasi, periksa kadar
elektrolit.

Manifestasi klinis
Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, nafsu makan berkurang kemudian
timbul diare. Feses makin cair, mungkin mengandung darah atau lendir, warna feses berubah
menjadi kehijau hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan
sekitarnya bisa lecet.
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak
kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubun-ubun
cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir terlihat kering.

Penatalaksanaan
Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS
DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia
dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi
memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah
anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare. Adapun program
LINTAS DIARE yaitu:
1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan
4. Antibiotik Selektif
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh.










Lampiran foto-foto