Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN PROSES

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2012/2013



MODUL : SINTESIS GARAM BESI SEBAGAI BESI (II) SULFAT
PEMBIMBING : Drs. A Ngatin, MT



Oleh :
Kelompok : V
Nama : 1. M Dzikri NIM 121411050
2. Mira Lestari Safitri NIM 121411051
3. Muhammad Rohmatulloh Insan K NIM 121411052
Kelas : 1B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2013
Praktikum : 16 April 2013
Penyerahan : 23 April 2013
I. PENDAHULUAN
Garam besi (II) sulfat terhidrat [FeSO
4
.7H
2
O] merupakan bahan koagulan pada
proses penjernihan air.garam ini dapat dihasilkan melalui proses kimia, reaksi antara
serbuk besi (Fe) dengan larutan asam sulfat. Selain proses kimia, pada pembuatan
garam ini melibatkan proses fisika seperti pemanasan dan pengadukan, pendinginan
dan kristalisasi, serta penyaringan.untuk menghasilkan garam besi (II) sulfat yang
optimum dipengaruhi oleh jumlah pereaksi, kondisi pengadukan dan pemanasan,
serta waktu proses. Untuk itu, pada praktikum sintesis garam besi (II) sulfat,
mahasiswa mempunyai kompetensi
Menjelaskan proses pembuatan Garam Besi (II) Sulfat
Mempelajari proses kimia dan fisika pada sintesis senyawa besi(II) sulfat
Menghitung persen perolehan (rendemen) berdasarkan reaksi
stokhiometrinya

II. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan inii, mahasiswa diharapkan mampu
a. Menjelaskan proses sintesis besi (II) sulfat terhidrat
b. Menuliskan reaksi kimia yang terjadi
c. Melakukan proses-proses fisika yang menyertainya\menghitung pereaksi dan
produks berdasarkan reaksi stokhiometrinya
d. Menghitung persen perolehan berdasarkan reaksi stokhiometrinya

III. LANDASAN TEORI
Garam besi (II) sulfat merupakan garam terhidrat yang memiliki rumus kimia
FeSO
4
.7H
2
O. bentuk fisik dari garam ini adalah kristal berwarna bitu kehijauan.
Garam besi (II) sulfat terhidrat (FeSO
4
.7H
2
O) dapat digunakanuntuk mempelajari
reaksi-reaksi yang terjadi pada ion Fe (II). Besi yang murni adalah logam berwarna
putih perak yang kukuh dan liat. Melebur pada 1535C. asam klorida (HCl) encer
atau pekat dan asam sulfat (H
2
SO
4
) encer melarutkan besi yang menghasilkan besi
(II) dan gas hidrogen.
Fe + 2H
+
Fe
2+
+ H
2

Fe + HCl Fe
2+
+ 2 Cl
-
+ H
2
Asam sulfat pekat yang panas menghasilkan ion-ion besi (II) dan belerang
dioksida:
2Fe + 3H
2
SO
4
+ 6H
+
2Fe
3+
+ 3SO
4
+ 6H
2
O
Besi membentuk dua deret garam yang penting. Garam-garam besi (II) atau fero
diturunkan dari besi (II) oksida, FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung
kation Fe
3+
dan berwarna sedikit hijau. Ion-ion gabungan dan kompleks yang
berwarna tua adalah juga umum. Ion besi (II) dapat mudah dioksidasikan menjadi
besi (III), maka ion besi (II) merupakan zat pereduksi yang kuat. Larutan semakin
kurang asam, maka semakin nyatalaj efek ini. Di lingkungan larutan yang bernuansa
netral atau basa bahkan adanya oksigen dari atmosfer akan mengoksidasikan ion besi
(II) menjadi ion besi (III). Oleh karena itu, larutan besi (II) harus sedikit asam bila
ingin disimpan dalam waktu yang lama.
Garam besi (III) atau feri diturunkan dari besi (III) oksida, Fe
2
O
3.
Garam besai
(III) lebih stabil daripada garam besi (II). Dalam larutannya, terdapat kation-kation
Fe
3+
yang berwarna kuning muda. Jika larutan mengandung klorida, warna menjadi
semakin kuat. Zat-zat pereduksi (reduktor) mengubah ion besi (III) menjadi besi (II).
Reaksi-reaksi dengan Ion Besi (II)
Dengan memakai garam besi (II) sulfat (FeSO
4
.7H
2
O) dapat digunakan untuk
mempelajari reaksi_reaksi ion besi (II) :
a. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH)
Terbentuk endapan putih besi (II) hidroksida (Fe(OH)
2
) bila tidak terdapat
udara sama sekali. Endapan ini tidak larut dalam reagensia berlebihan tetapi
larut dalam asam. Bila terkena udara, besi (II) hidroksida (Fe(OH)
2
) dengan
cepat dioksidasikan, yang pada akhirnya menghasilkan besi (III) hidroksida
(Fe(OH)
3
) yang coklat kemerahan. Pada kondisi biasa, Fe(OH)
2
nampak sebagai
endapan hijau kotor, dengan penambahan hidrogrn peroksida, segera
dioksidasikan menjadi besi (III) hidroksida
Fe
2+
+ 2OH
-
Fe(OH)
2
Fe(OH)
2
+ 2H
2
O + O
2
4Fe(OH)
3

2 Fe(OH)
2
+ H
2
O
2
2Fe(OH)
3
b. Larutan Amonia
Terjadi pengendapan besi (II) hidroksida (Fe(OH)
2
). Tetapi jika ada
amonium dalam jumlah yang lebih banyak, disosiasi amunium hidroksida
tertekan dan konsentrasi ion hidroksil menjadi semakin rendah sehingga hasil
kali kelarutan besi (II) hidroksida (Fe(OH)
2
) tidak tercapai dan pengendapan
tidak terjadi.
Proses fisika meliputi pemanasan dan pengadukan, penyaringan, dan
pendinginan.
Pemanasan adalah suatu proses fisika yang memerlukan energi untuk
menaikkan suhu sistem dalam suatu reaksi kimia. Pada proses ini melibatkan
perubahan suhu dan waktu proses yang terjadi. Untuk mengetahui kondisi proses.
Maka suhu proses diamati dan dicatat setiap selang waktu tertentu. Pemanasan ini
dapat dilakukan melalui api langsung, diatas pemanas (hot plate), atau dalam water
batch.
Penguapan (evaporasi) adalah proses pemisahan campuran dengan cara
memanaskan suatu campuran, sehingga diperoleh residu (zat sisa) yang memiliki
titik didih lebih tinggi, sedangkan zat yang titik didihnya lebih rendah menguap
terlebih dahulu. Contoh : pemisahan air dari larutan garam sehingga diperoleh garam.
Umumnya, suhu pemanasan yang digunakan adalah di atas titik didih air.
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan campuran berdasarkan ukuran partkel
dengan cara melewatkan campuran pada suatu penyaring (filter) sehingga partikel
yang lebih kecil lolos lewat saringan dan partikel yang besar tertahan di saringan.
Penyaring yang digunakan dapat berupa kertas saring. Partikel yang lolos lewat
saringan disebut filtrat dan yang tinggal dalam saringa disebut residu.
Proses pemisahan dengan cara filtrasi dapat dibedakan berdasarkan adanya
tekanan dan tanpa tekanan. Contoh di atas merupakan proses pemisahan tanpa
tekanan, yaitu cairan mengalir karena adanya gaya grafitasi. Pemisahan ini sangat
cocok untuk campuran heterogen bila jumlah cairannya lebih besar dibandingkan
partikel zat padatnya. Proses pemisahan dengan tekanan, dilakukan dengan bantuan
pompa atau divakumkan (disedot dengan pompa vakum). Proses pemisahan dengan
teknik ini sangat tepat dilakukan, jika jumlah partikel padatannya lebih besar
dibandingkan dengan cairannya.
Kristalisasi yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan
cara mengkristalkan komponen tercampur dengan cara dipanaskan kemudian
didinginkan. Kristalisasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan
zat padat yang saling larut. Contohnya adalah proses pemisahan campuran air dan
garam, pemisahan gula dari tebu, pemurnian garam dapur dilakukan dengan
rekristalisasi yaitu garam dilarutkan kr dalam air bersih kemudian disaring, filtratnya
kemudian dikristalkan.
Pengeringan adalah suatu proses pengurangan kadar air dalam suatu bahan
sampai kadar air tertentu atau perkembangan mikroorganisme terhenti. Metode
pengeringan tediri atas pengeringan alami dan pengeringan buatan. Pengeringan
alami meliputi pengeringan menggunakan sinar matahari (sun drying) dan
pengeringan menggunakan udra kering berhembus (air drying) pada tekanan
atmosfer. Pengeringan buatan meliputi pengeringan menggunakan alat dehidrator
dan oven.
IV. ALAT DAN BAHAN
Daftar alat dan bahan ditunjukan pada tabel berikut
Alat Bahan
Hot Plate H
2
SO
4
20%
Gelas Kimia 250 mL Serbuk Besi
Gelas Ukur 50mL Aquades
Statif + Corong Indikator pH
Pipet tetes
Termometer
Kertas Saring
Stopwatch
Batang Pengaduk
Magnetik Stirer
Spatula

V. PROSEDUR KERJA















25mL H
2
SO
4
20%
Reaktor
3 gram Serbuk Besi
Pemanasan (50C, 30 menit)
Penyaringan / Filtrasi
Filtrat
Pendinginan & Kristalisasi
Penyaringan
Pengeringan
Kristal
Penimbangan
Kotoran
Filtrat
VI. DATA PENGAMATAN
Proses Pelarutan
3 gram Fe + 30 mL H
2
SO
4
20% FeSO
4
+ H
2
(warna larutan abu
kehitaman)
Hasil filtrasi : larutan berwarna hijau muda
Waktu pemanasan : 30 menit
Pengamatan suhu saat pemanasan :
No. Waktu (menit) Suhu (C) Pengamatan
1. 0 30
Larutan berbusa
besi belum larut sama sekali
larutan berwarna putih
2. 5 50
larutan masih berbusa cukup
banyak
serbuk besi mulai larut
larutan berwarna abu muda
3. 10 51
busa didalam larutan semakin
sedikit
larutan berwarna abu
4. 15 48
sudah tidak terdapat busa
dalam larutan
larutan berwarna abu
5. 20 45
serbuk besi mulai larut
stengahnya
larutan berwarna abu dan
lebih gelap daripada
sebelumnya
6. 25 42
Serbuk besi sudah hampir
larut semua
Larutan berwarna abu gelap
7. 30 44
Serbuk besi sudah larut
Larutan berwarna abu
kehitaman

Penyaringan/ Filtrasi
Berat kertas saring : 0.99 gram
Warna kristal : biru kehijauan
Warna filtrat : biru kehijauan
Volume filtrat : 37.5 mL
Berat kertas saring akhir : 5.03 gram


VII. PENGOLAHAN DATA
Reaksi yang terjadi
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2


Mol Fe =


=


= 0.053

M asam sulfat 20% =


Mol asam sulfat = volume x Molar
= 30 mL x 3,755 M
= 112,65 mmol
= 0,11265 mol

Reaksi :
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2

Awal : 0.053 0.11265
Bereaksi : 0.053 0.053 0.053
Sisa : 0 0.05956 0.053

FeSO
4
+ 7H
2
O FeSO
4
.7H
2
O
Mol FeSO
4
mol FeSO
4
.7H
2
O
Massa FeSO
4
.7H
2
O = mol besi (II) sulfat x BM
= 0.053 x 278
= 14.734 gram

Kemurnian FeSO4 =




=



= 27.42%











VIII. PEMBAHASAN
M. Dzikri Pratama (NI M 121411050)
Pada praktikum kali ini,praktikan mencoba melakukan sintesis garam besi
sebagai besi (II) sulfat.Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu serbuk
besi(Fe) dan H2SO4 20%.
Reaksi yang terjadi dalam praktikum ini yaitu :
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2
Langkah pertama yang dilakukan untuk mensintesis garam besi ini adalah
dengan melakukan proses pelarutan,lalu pemanasan,penyaringan,kristalisasi dan
yang terakhir yaitu proses pengeringan.
Dari hasil praktikum didapatkan Garam besi (II) sulfat yang dihasilkan adalah
4.1 gram. Menurut stoikiometri, berat garam adalah 8.056 gram, sehingga persen
kemurnian garam yang dihasilkan adalah 50%.

Mira Lestari Safitri (NIM 121411051)
Pada praktikum ini, kami melakukan percobaan mengenai sintesis garam besi
sebagai besi (II) sulfat. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pereaksi
dan produks besi (II) sulfat serta mengetahui persen perolehan berdasarkan reaksi
stokhiometrinya. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu serbuk besi dan
asam sulfat 20%.
Langkah-langkah pembuatan besi (II) sulfat yaitu melalui proses pelarutan,
pemanasam, penyaringan, kristalisasi dan pengeringan. Pada proses pelarutan, bahan
yang dilarutkan yaitu serbuk besi yang dilarutkan oleh asam sulfat 20%, setelah itu
terjadi proses pemanasan yang bertujuan untuk mempercepat proses pelarutan.
Setelah 30 menit, larutan disaring dalam keadaan panas. Bila masih terdapat
endapan, bilas gelas kimia dengan air panas dan saring kembali. Setelah itu filtratnya
dipanaskan kembali hingga volumenya berkurang seperempat bagiannya.
Pemanasan kedua ini bertujuan agar filtrat tersebut berada pada keadaan jenuh,
sehingga kristal yang terbentuk dapat maksimal. Setelah terbentuk kristal, dilakukan
penyaringan kembali menggunakan kertas saring. Setelah itu, kristal tersebut masuk
ke dalam proses pengeringan. Pengeringan ini bertujuan agar zat cair yang masih
tercampur dengan zat padat tersebut hilang, sehingga pada saat penimbangan sudah
tidak ada lagi zat cair tersebut.
Setelah menimbang kristal yang terbentuk, selanjutnya kita melakukan
perhitungan. Sebelumnya, kita menentukan reaksinya terlebih dahulu. Reaksi yang
terjadi dalam praktikum ini adalah
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2

Setelah melakukan pengolahan data, didapatkan berat garam FeSO
4
menurut
perhitungan stoikiometri yaitu sebesar 14.734 gram dan berdasarkan percobaan, berat
garam yang terbentuk yaitu 4,04 gram. Perbedaan nilai tersebut dikarenakan filtrat
yang dikristalisasi belum berada pada keadaan jenuh, sehingga berat garam yang
dihasilkan tidak maksimal. Berdasarkan hasil tersebut didapatnkan % yield sebesar
27.42%.

Muhammad Rohmatulloh I nsan K (NI M 121411052)
Praktikum Sintesis garam besi sebagai besi (II) sulfat bertujuan untuk
mengetahui produk yang dihasilkan dan kemurnian garam terebut. Proses-proses
yang terjadi pada praktikum ini yaitu proses pelarutan, pemanasan, filtrasi,
kristalisasi dan pengeringan.
Pemanasan serbuk besi dengan asam sulfat menghasilkan larutan yang
berwarna abu kehitaman. Reaksi yang terjadi :
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2
Penyaringan dilakukan pada saat larutan masih panas. Saat filtrasi, masih ada
endapan dalam gelas kimia. Endapan itu dibilas dengan aquades dan disaring
kembali. Filtrat yang dihasilkan, dipanaskan sampai larutan jenuh. Hal ini dilakukan
karena dengan larutan yang jenuh maka Kristal yang dihasilkan pun dapat maksimal.
Setelah itu dilakukan proses kristalisasi / pendinginan dan pengeringan.
Garam besi (II) sulfat yang dihasilkan adalah 4.1 gram. Menurut stoikiometri, berat
garam adalah 8.056 gram, sehingga persen kemurnian garam yang dihasilkan adalah
50%.






IX. KESIMPULAN
1. Reaksi yang terjadi pada sintesis garam besi (II) sulfat :
Fe + H
2
SO
4
FeSO
4
+ H
2

2. Berat besi (II) sulfat yang dihasilkan pada praktikum yaitu 4.04 gram
3. Yieldnya adalah sebesar 27.42%


X. DAFTAR PUSTAKA
1. Sunardi. 2006. Unsur Kimia Deskripsi dan pemanfaatannya. Yrama
Widya : Bandung
2. Svehla, G. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro.
PT Kalman Media Pustaka : Jakarta
3. Harjadi, W. 1989. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Erlannga : Jakarta