Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini, keperawatan merupakan suatu profesi vital dalam sebuah rumah
sakit. Sekitar lebih dari 60% kebutuhan pasien dipenuhi oleh perawat selama 24
jam. Profesi keperawatan harus selalu dikembangkan dari setiap sistemnya agar
tercipta mutu rumah sakit yang berkualitas. Kepuasan pasien dan keluarga
merupakan tolak ukur berhasil atau tidaknya manajerial sebuah rumah sakit yang
tentunya berasal dari perawatan yang professional di ruangan.
Perawatan professional dituntut memberikan asuhan keperawatan secara
komprehensif meliputi bio, psiko, social dan spiritual. Metode pemberian asuhan
keperawatan yang optimal dapat memandirikan perawat lewat organisasi internal
sehingga dapat menimbulkan semangat kerja dan persaingan positif antara sejawat
atau profesi lain. Diperlukan sebuah manajerial yang baik agar asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien komprehensif dan sistematis sehingga
pelayanan keperawatan lebih efisien.
Banyak usaha yang dilakukan rumah sakit dalam mengembangkan strategi
Model Praktik Keperawatan Professional (MPKP) untuk mencapai mutu dan
kepuasan klien yang maksimal. MPKP adalah suatu system (struktur, proses, nilai-
nilai professional) yang memungkinkan perawat professional mengatur pemberian
asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menunjang asuhan tersebut
(Hoffart & Woods, 1996). Diharapkan dengan adanya MPKP dapat terbentuk
pelayanan keperawatan professional yang terstruktur, terorganisir dan sistematis.
Selain MPKP, perlu dibuatlah sebuah pengembangan System Pemberian
Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP). SP2KP adalah
Seperti yang telah dipaparkan di atas, penulisan paper ini bertujuan untuk
mengetahui tentang konsep MPKP dan SP2KP dalam keperawatan.


B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep MPKP dalam keperawatan rumah sakit
professional.
Untuk mengetahui konsep SP2KP dalam keperawatan rumah sakot
professional.
b. Tujuan Khusus
-


BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian MPKP
Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) adalah suatu system
(struktur, proses, dan nilai-nilai profesional) yang memfasilitasi perawat
professional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan,
tempat, asuhn tersebut diberikan. Pengembangan MPKP merupakan upaya
banyak Negara untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dan lingkungan
kerja perawat. Pengembangan MPKP juga menjadi strategi berbagai rumah sakit
untuk membuat perawat betah bekerja di suatu rumah sakit yang sering dikenal
dengan istilah magnet hospital (Scott, Sochalski, & Aiken, 1999 dalam Sitorus,
2006: 45).

B. Tujuan MPKP
1. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan
keperawatan oleh tim keperawatan
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan
4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan
5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan
bagi setiap anggota tim keperawatan.

C. Macam-macam Metode MPKP
1. Metode Kasus
Metode Kasus merupakan metode pemberian asuhan yang pertama kali
digunakan. Sampai Perang Dunia II metode tersebut merupakan metode
pemberian asuhan keperawatan yang paling banyak digunakan. Pada metode
ini satu perawat akan memberikan satu asuhan keperawatan kepada seorang
klien secara total dalam satu periode dinas. Jumlah klien yang dirawat oleh
satu perawat bergantung pada kemampuan perawat tersebut dan kompleksnya
kebutuhan klien.
2. Metode Fungsional
Pada metode fungsional, pemberian asuhan keperawatan ditekankan pada
penyelesaian tugas dan prosedur. Setiap perawat diberi satu atau beberapa
tugas untuk dilaksanakan kepada semua klien di ruangan. Seorang perawat
dapat bertanggung jawab dalam pemberian obat, mengganti balutan,
memantau infuse, dll. Prioritas yang utama adalah dikerjakan adalah
kebutuhan fisik dan kurang menekankan pada pemenuhan kebutuhan secara
holistic. Mutu asuhan sering terbaikan karena pemberian asuhan
terfragmentasi.komunikasi antar perawat sangat terbatas sehingga tidak ada
satu perawat yang mengetahui tentang satu klien secara komprehensif, kecuali
mungkin kepala ruangan. Keterbatasan itu sering menyebabkan klien merasa
kurang puas terhadap layanan. Klien kurang merasakan adanya hubungan
saling percaya dengan perawat. Metode fungsional mungkin efisien dalam
menyelesaikan tugas-tugas apabila jumlah perawat sedikit, tetapi klien tidak
mendapatkan kepuasan asuhan yang diterimanya.
3. Metode Tim
Metode Tim yaitu metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang
perawat memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan
asuhan keperawatan pada sekelompok klien melalui uapaya kooperatif dan
kolaboratif (Douglas, 1992 dalam Sitorus, 2006: 35). Metode tim didasarkan
pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam
merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehinggapada perawat
timbul motivasi dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
Konsep dalam metode tim:
a. Ketua tim, harus dapat membuat keputusan tentang prioritas perencanaan,
supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan. Tanggung jawab ketua tim
adalah:
1) Mengkaji setiap klien dan menetapkan renpra
2) Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis
3) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota
kelompok dan memberikan bimbingan melalui konferensi
4) Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan dan hasil yang dicapai
serta mendokumentasikannya
b. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas renpra terjamin.
Komunikasi yang terbuka dapat dilakukan melalui berbagai cara, terutama
melalui renpra tertulis yang merupakan pedoman pelaksanaan asuhan,
supervise, dan evaluasi.
c. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. Ketua tim
membantu anggotanya untuk memahami dan melakukan tugas sesuai
dengan kemampuan mereka.
4. Metode Keperawatan Primer
Menurut Gillies (1898) dalam Sitorus (2006) menyatakan bahwa keperawatan
primer merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan, dimana
terdapat hubungan yang dekat dan berkesinambungan antara klien dan
seorang perawat tertentu yang bertanggung jawab dalm perencanaan,
pemberian, dan koordinasi asuhan keperawatn klien selama klien dirawat.
Pada metode keperawatan primer, perawat yang bertanggung jawab terhadap
pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse) yang
disingkat dengan PP. Metode keperawatan primer dikenal dengan cirri yaitu
akuntabilitas, otonomi, otoritas, advokasi, ketegasan, dan 5 K yaitu
kontinuitas, komunikasi, kolaborasi, koordinasi, komitmen. Setiap PP
biasanya merawat 4-6 klien dan bertanggung jawab selama 24 jam. Perawat
akan melakukan wawancara, mengkaji secara komprehensif, dan
merencanakan asuhan keperawatan. Perawatlah yang paling mengetahui
keadaan klien dengan sebaik-baiknya.demikian juga klien, keluarga, staf
medis, dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa klien tertentu
merupakan tanggung jawab PP tertentu.
PP bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam
merencanakan asuhan keperawatan dan membuat rencana pulang jika
diperlukan. Jika PP sedang tidak bertugas, kelanjutan asuhan akan
didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse). Seorang PP mempunyai
kewenanngan untuk melakukan rujukan kepada pekerja social, kontak dengan
lembaga social di masyarakat, membuat jadwal perjanjian klinik, mengadakan
kunjungan rumah, dll.
Keuntungan yang dirasakan klien adalah mereka merasa lebih dihargai
sebagai manusia karena terpenuhi kebutuhannya, asuhan keperawatan yang
bermutu tinggi dan tercapainya pelayanan yang efektif terhadap pengobatan,
dukungan, proteksi, informasi, dan advokasi.
5. Differentiated Practice
Menurut NLN (National League for Nursing) dalam Kozier (1995) dalam
Sitorus (2006): 39 menjelaskan bahwa Differentiated Practice merupakan
suatu pendekatan yang bertujuan menjamin mutu asuhan melalui pemanfaatan
sumber-sumber keperawatan yang tepat. Terdapat dua model yaitu:
a. Model kompetensi, perawat terdaftar (registered nurse) diberi tugas
berdasarkan tanggung jawab dan struktur peran yang sesuai dengan
kemampuannya. Antara lain perawat baru (novice), pemula maju
(advanced beginner), kompeten (competent), cakap (proficient), dan ahli
(expert).
b. Model pendidikan, penetapan tugas keperawatan didasarkan pada tingkat
pendidikan perawat.pembagian tanggung jawab yang berbedaperlu
dilakukan sehingga perawat dengan latar belakang pendidikan yang
berbeda akan dinilai berdasarkan apa yan menjadi harapanterhadap
lulusan tersebut.
6. Manajemen kasus.
Manajemen kasus merupakan system pemberian asuhan kesehatan
multidisiplin yang bertujuan meingkatkan pemanfaatan fungsi berbagai
anggota tim kesehatan dan sumber-sumber yang ada sehingga dapat dicapai
hasil akhir asuhan kesehatan yang optimal. Beberapa elemen utama metode
manajemen kasus antara lain:
a. Pendekatan berfokus pada klien
b. Koordinasi asuhan dan layanan antar-institusi
c. Berorientasi pada hasil
d. Efisiensi sumber
e. Kolaborasi.
Pada manajemen kasus, rencana asuhan keperawatan terdapat di clinical
pathway, yakni rencana tertulis yang mengidentifikasi indens utama, kritis,
dan dapat diprediksi yang harus dilakukan pada klien dalam upaya mencapai
hasil yang ditetapkan berdasarkan lamanya klien dirawat.

D. Karakteristik MPKP
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan
2. Penetapam jenis tenaga keperawatan
3. Penetapan standar rencana asuhan keperawatan
4. Pengguanaan metode modifikasi keperawatan primer

E. Komponen MPKP
Menurut Hoffart & Woods (1996) dalam Sitorus (2006) terdapat 5 subsistem
sederhana dalam MPKP, antara lain:
1. Nilai-nilai professional sebagai inti model
2. Pendekatan Manajemen
3. Metode pemberian asuhan keperawatan
4. Hubungan professional
5. System kompensasi dan penghargaan