Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna
pada populasi pria lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam
bidang bedah urologi. Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan
utama bagi pria diatas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup
seseorang. Pembesaran prostat jinak atau lebih dikenal sebagai BPH sering ditemukan
pada pria yang menapak usia lanjut.
1
Meskipun jarang mengancam jiwa BPH memberikan keluhan yang
mengganggu akti!itas sehari"hari. #eadaan ini akibat dari pembesaran kelenjar prostat
atau benign prostate enlargement $BP%& yang menyebabkan terjadinya obstruksi pada
leher !esica urinaria dan uretra atau dikenal sebagai bladder outlet obstruction
$B''&. 'bstruksi yang khusus disebabkan oleh pembesaran prostat disebut sebagai
benign prostate obstruction $BP'&.
1(
Banyak sekali )aktor yang diduga berperan dalam proli)erasi* pertumbuhan
jinak kelenjar prostat tetapi pada dasarnya BPH tumbuh pada pria yang menginjak
usia tua dan masih mempunyai testis yang masih ber)ungsi normal menghasilkan
testosteron. +i samping itu pengaruh hormon lain $estrogen prolaktin& diet tertentu
mikrotrauma dan )aktor")aktor lingkungan diduga berperan dalam proli)erasi sel"sel
kelenjar prostat secara tidak langsung. ,aktor")aktor tersebut mampu mempengaruhi
sel"sel prostat untuk mensintesis protein growth factor yang selanjutnya protein inilah
yang berperan dalam memacu terjadinya proli)erasi sel"sel kelenjar prostat.
-

+i berbagai daerah di .ndonesia kemampuan melakukan diagnosis dan
modalitas terapi pasien BPH tidak sama karena perbedaan )asilitas dan sumber daya
manusia di tiap"tiap daerah. /alaupun demikian di daerah terpencil pun diharapkan
dapat menangani pasien BPH dengan sebaik"baiknya.
0
1
BAB II
PROSTAT
2.1 EMBRIOLOGI
1ecara embriologi prostat yang merupakan organ kompleks yang terdiri dari
unsur kelenjar stroma dan otot polos atau )ibromioglandular mulai terbentuk pada
kehamilan minggu ke"1( dengan pengaruh hormone androgen yang berasal dari testis
)etus. 1ebagian besar kompleks prostat berasal dari sinus urogenitalis tetapi mungkin
sebagian dari ductus ejaculatorius sebagian !erumontanum dan sebagian dari bagian
asiner prostat $2ona sentral& berasal dari ductus /ol)ii.
53
Prostat berbentuk seperti piramid terbalik dan merupakan organ kelenjar
)ibromuskuler yang mengelilingi uretra pars prostatica. Panjang prostat sekitar - cm
$14 inchi& dan terletak di antara collum !esika urinaria di atas dan diaphragma
urogenitalis di bawah. Prostat dikelilingi oleh kapsula )ibrosa. +i luar kapsul terdapat
selubung )ibrosa yang merupakan bagian dari lapisan !isceral )ascia pel!is. Prostat
mempunyai basis prostatae yang terletak di superior berhadarapan dengan collum
!esicae5 dan ape6 prostatae yang terletak di in)erior dan berhadapan dengan
diaphragma urogenitale. #edua ductus ejaculatorius menembus bagian atas )acies
posterior prostatae untuk bermuara ke uretra pars prostatica pada pinggir lateral
utriculus prostaticus.
7

Gambar 1. 8ractus 9rinarius dan Genitalia Pria
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah in)erior buli"buli di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri pada
2
dewasa muda berukuran -"0 cm di bagian yang paling lebar dan panjang 0"3 cm
dengan ketebalan ("- cm cm dan beratnya kurang lebih (0 gram. #elenjar ini terdiri
atas jaringan )ibromuskular dan glandular.
5
Menurut klasi)ikasi :owsley5 prostat
terdiri dari lima lobus; anterior posterior medial lateral kanan dan lateral kiri.
1edangkan menurut Mc <eal yang menentukan pembagian 2ona berdasarkan letak
dan asal keganasan dari prostat prostat dibagi atas 0 bagian utama;
=
1. Bagian anterior atau !entral yang )ibromuskular dan nonglandular. .ni
merupakan sepertiga dari keseluruhan prostat. Bagian prostat yang glandular
dapat dibagi menjadi - 2ona $bagian (- dan 0&.
(. >ona peri)er yang merupakan 70 ? dari bagian prostat yang glandular
membentuk bagian lateral dan posterior atau dorsal organ ini. 1ecara skematik
2ona ini dapat digambarkan seperti suatu corong yang bagian distalnya terdiri
dari ape6 prostat dan bagian atasnya terbuka untuk menerima bagian distal 2ona
sentral yang berbentuk baji. 1aluran"saluran dari 2ona peri)er ini bermuara pada
uretra pars prostatika bagian distal.
-. >ona sentral yang merupakan (5 ? dari bagian prostat yang glandular
dikenal sebagai jaringan kelenjar yang berbentuk baji sekeliling duktus
ejakulatorius dengan ape6nya pada !erumontanum dan basisnya pada leher buli"
buli. 1aluran"salurannya juga bermuara pada uretra prostatika bagian distal.
>ona central dan peri)er ini membentuk suatu corong yang berisikan segmen
uretra pro6imal dan bagian!entralnya tidak lengkap tertutup melainkan
dihubungkan oieh stroma )ibromuskular.
0. >ona transisional yang merupakan bagian prostat glandular yang terkecil $5
?& terletak tepat pada batas distal s)inkter preprostatik yang berbentuk silinder
dan dibentuk oleh bagian pro6imal uretra. >ona transisional dan kelenjar
periuretral bersama"sama kadang"kadang disebut sebagai kelenjar preprostatik.
3
Gambar (. 1kematik Pembagian Prostat Menurut Mc<eal
2.2 BATAS-BATAS PROSTAT
Batas superior; basis prostat berhubungan dengan collum !esicae. 'tot polos
prostate terus melanjut tanpa terputus dengan otot polos collum !esicae. 9retra masuk
pada bagian tengah basis prostatae.

Batas in)erior; ape6 prostat terletak pada )acies
dia)ragma urogenitalis. 9retra meninggalkan prostat tepat diatas ape6 permukaan
anterior.
7
Batas anterior; )acies anterior prostat berbatasan dengan simphisis pubis
dipisahkan oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada ca!um retropubica $ca!um
@et2ius&. 1elubung )ibrosa prostat dihubungkan dengan permukaan posterior os pubis
dan ligamentum puboprostatica. :igamentum ini terletak pada pinggir garis tengah
$disamping kanan dan kiri linea mediana& dan merupakan kondensasi $penebalan&
)ascia pel!is.

Batas posterior; permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan
permukaan anterior ampulla recti dan dipisahkan dari rectum oleh septum
reto!esicalis $)ascia +enon!illier&. 1eptum ini dibentuk pada masa janin oleh )usi
4
dinding ujung bawah e6ca!atio recto!esicalis peritonealis yang semula menyebar ke
bawah menuju corpus perineale.

Batas lateral; )acies lateral prostat di)iksasi oleh
serabut anterior m. le!ator ani saat serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis.
7
Gambar -. Potongan 1agital Pel!is :aki"laki $buku anatomi&
2.3 STRUKTUR PROSTAT
#elenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot
polos dan jaringan ikat dan ductusnya bermuara ke uretra pars prostatica. Prostat
secara tak sempurna dibagi dalam lima lobus. :obus anterior atau isthmus terletak di
depan uretra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. :obus medius adalah kelenjar
yang berbentuk baji yang terletak antara uretra dan ductus ejaculatorius. Permukaan
atasnya dibatasi oleh trigonum !esicae bagian ini mengandung banyak kelenjar.
:obus posterior terletak di belakang uretra dan di bawah ductus ejaculatorius dan juga
mengandung kelenjar. :obus lateral de6tra dan sinistra terletak di samping uretra dan
dipisahkan satu sama lain oleh alur !ertikal dangkal yang terdapat pada )acies
posterior prostat. :obus lateral mengandung banyak kelenjar.
7
2.4 FUNGSI PROSTAT
,ungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti air susu yang
mengandung asam sitrat dan )os)atase asam. Aairan ini ditambahkan ke cairan semen
5
pada saat ejakulasi. 'tot polos pada stroma dan kapsula berkontraksi sekret yang
berasal dari banyak kelenjar diperas masuk ke uretra pars prostatica. 1ekret prostat
bersi)at alkali yang membantu menetralkan keasaman !agina.
7
2.5 PENDARAHAN
Brteri yang memperdarahi prostat berasal dari cabang a. !esicalis in)erior dan
a. rectalis media. Cena membentuk pleksus !enosus prostaticus yang terletak antara
kapsula prostat dan selubung )ibrosa. Ple6us !enosus prostaticus menerima dari !.
dorsalis pro)undus penis dan banyak !. !esicalis dan selanjutnya dialirkan ke !. iliaca
interna.
7
Gambar 0. Bnatomi Genitalia Pria
2.6 ALIRAN LIMFE
Pembuluh lim)e dari prostat mengalirkan cairan lim)e ke nodi lim)atici iliaca
interna.
7
2.7 PERSARAFAN
Prostat manusia mendapat dua macam persara)an yaitu parasimpatik
$kolinergik& dan simpatik $nor adrenergic& melalui ple6us otonomik yang terletak
didekat prostat. Ple6us ini mendapat masukan parasimpatetik dari medulla spinalis
setinggi 1
(
"1
0
dan serat"serat simpatetik dari ner!us hipogastrikus presacralis $8
10
"
:
(
&.
5D10
#edua sistem persara)an itu dalam prostat membentuk jaringan persara)an
yang terjadi dari gabungan yang bersi)at cholinergic dan nor adrenergic serta
6
mempunyai reseptor"reseptor di dalam otot polos prostat.
10
1ara)"sara) otonom yang
mempersara)i prostat dan juga !esikula seminalis uretra dan corpora ca!ernosa
berasal dari ple6us pel!icus yang bersama pembuluh darah membentuk kompleks
sara) dan pembuluh darah (neuro vascular bundle) dan komplek ini berjalan di bagian
posterior prostat dari cranial menuju ape6 prostat dan umumnya sejajar dengan
dinding rectum.
5=11

Menurut Gosling persara)an prostat mempersara)i otot polos yang ada
didalam prostat dan yang bersi)at kolinergik juga mempersara)i kapsul prostat
sedangkan acinus juga menerima persara)an dari kolinergik sehingga perangsangan
parasimpatik akan menambah sekresi sedangkan perangsangan simpatik akan
menyebabkan kontraksi !esicular seminalis sehingga terjadi ejakulasi.
511
2.8 PROSES MIKSI
1eperti diketahui )ungsi utama dari unit !esikouretra adalah menampung urin
untuk sementara mencegah urin kembali ke arah ginjal dan pada saat"saat tertentu
melakukan ekspulsi urin. 9nit !esikouretra terdiri dari buli"buli dan uretra posterior.
9retra posterior terdiri dari uretra pars prostatika yang bagian proksimalnya disebut
sebagai leher buli"buli dan uretra pars dia)ragma yang tidak lain adalah sphincter
eksterna uretra. 9nit !esikouretra ini dipelihara oleh sistem sara) otonom yaitu
parasimpatis dan simpatis untuk buli"buli dan uretra proksimal dari dia)ragma serta
sara) somatis melalui ner!us pudendus untuk sphincter eksterna. 1istem persara)an
tersebut memungkinkan terjadinya proses miksi secara bertahap $)ase& yaitu;
1(
,ase Pengisian (Resting/ Filling Phase)
,ase ini terjadi setelah selesai miksi dan buli"buli mulai diisi lagi dengan urin
dari ginjal yang masuk melalui ureter. Pada )ase ini tekanan di dalam buli"buli selalu
rendah kurang dari (0 cmH
(
'. 1edangkan tekanan di uretra posterior selalu lebih
tinggi antara 30"100 cmH
(
'.
,ase %kspulsi
1etelah buli"buli terisi urin sebanyak (00"-00 ml dan mengembang mulailah
reseptor EstrechtFG yang ada pada mukosa buli"buli terangsang dan impuls dikirimkan
ke sistem sara) otonom parasimpatis di medula spinalis segmen ( sampai 0 dan sistem
sara) ini menjadi akti) dengan akibat meningkatnya tonus buli"buli $muskulus
detrusor&. Meningkatnya tonus detrusor ini dirasakan sebagai perasaan ingin kencing.
7
Pada saat tonus detrusor meningkat maka secara sinkron leher buli"buli dan uretra
pars prostatika membuka bentuknya berubah seperti corong dan tekanannya
menurun. Pada keadaan ini inkontinensia hanya dipertahankan oleh sphincter eksterna
yang masih tetap menutup. Bila yang bersangkutan telah mendapatkan tempat yang
dianggap kon!i!ien untuk miksi barulah sphincter eksterna secara sadar dan terjadi
miksi. Pada saat tonus detrusor meningkat sampai terjadinya miksi tekanan
intra!esikal mencapai 30"1(0 cmH
(
'.
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari
cairan ejakulat. Aairan kelenjar ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara
di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada
saat ejakulasi. Aairan ini merupakan kurang lebih (5? dari !olume ejakulat. Hika
kelenjar ini mengalami hiperplasi jinak atau berubah menjadi kanker ganas dapat
membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.
Gambar 5. Prostat dan 'rgan +isekitarnya
8
BAB III
BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA
3.1 DEFINISI
Pembesaran Prostat Hinak $BPH Benign Prostatic Hyperplasia& adalah
pertumbuhan jinak kelenjar prostat yang menyebabkan prostat membesar.
1-
Gambar 3. Gambaran Prostat <ormal dan Pembesaran Prostat
Mc<eal yakin bahwa pembesaran prostat jinak tidak terjadi pada 2ona
peripheral dan juga berpendapat bahwa sebagian besar karsinoma prostat yang berasal
dari 2ona transisional biasanya jenis karsinoma dengan gradasi rendah (low grade).
5=
Gambar 7. 1el pada Prostat <ormal dan Prostat yang Membesar
3.2 EPIDEMIOLOGI
Hiperplasia prostat merupakan penyakit pada pria tua dan jarang ditemukan
sebelum usia 00 tahun. Prostat normal pada pria mengalami peningkatan ukuran yang
lambat dari lahir sampai pubertas waktu itu ada peningkatan cepat dalam ukuran
9
yang kontinyu sampai usia akhir -0"an. Pertengahan dasawarsa ke"5 prostat bisa
mengalami perubahan hiperplasi.
10
Pembesaran prostat jinak merupakan penyakit tersering kedua di klinik
urologi di .ndonesia setelah batu saluran kemih. Penyakit ini seirng juga dikenal
sebagai hipertro)i prostat meskipun sebenarnya yang terjadi ialah hiperplasia dari
kelenjar periuretral sedang jaringan prostat asli terdesak ke peri)er menjadi kapsul
bedah.
15
Bngka kejadian $insidens& yang pasti untuk pembesaran prostat jinak di
.ndonesia belum pernah diteliti tetapi sebagai gambaran hospital prevalence! di
@1AM ditemukan 0(- kasus pembesaran prostat jinak selama tiga tahun $1eptember
1DD0"Bgustus 1DD7& dan di @1.1umber /aras 317 dalam periode yang sama.
15
Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. #eadaan ini
dialami oleh 50? pria yang berusia 30 tahun dan kurang lebih =0? pria yang berusia
=0 tahun.
10
Pre!alensi yang pasti di .ndonesia belum diketahui tetapi berdasarkan
kepustakaan luar negeri diperkirakan semenjak umur 50 tahun (0?"-0? penderita
akan memerlukan pengobatan untuk prostat hiperplasia. Iang jelas pre!alensi sangat
tergantung pada golongan umur. 1ebenarnya perubahan"perubahan kearah terjadinya
pembesaran prostat sudah dimulai sejak dini dimulai pada perubahan"perubahan
mikroskopoik yang kemudian bermani)estasi menjadi kelainan makroskopik $kelenjar
membesar& dan kemudian baru mani)es dengan gejala klinik.
10
Berdasarkan angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat
ditemukan pada usia -0 " 00 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang
akan terjadi perubahan patologi anatomi. Pada pria usia 50 tahun angka kejadiannya
sekitar 50? dan pada usia =0 tahun sekitar =0?. 1ekitar 50? dari angka tersebut
diatas akan menyebabkan gejala dan tanda klinik.
10
10
Gambar =. Penderita BPH pada 9sia +iatas 00 8ahun dan Bkibatnya
3.3 ETIOLOGI
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya
hyperplasia prostat5 tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hyperplasia
prostate rat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron $+H8& dan proses
aging $penuaan&. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hyperplasia prostat adalah; a& teori dihidrotestosteron b& adanya ketidakseimbangan
antara estrogen"testosteron c& interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat d&
berkurangnya kematian sel $apoptosis& dan e& teori stem sel.
1
11
Gambar D. Proses 8erjadinya BPH
a& 8eori dihidrotestosteron
+ihidrotestosteron $+H8& adalah metabolit androgen yang sangat penting
pada pertumbuhan sel"sel kelenjar prostat. +ibentuk dari testosterone di dalam sel
prostat oleh en2im 5"al)a reduktase dengan bantuan koen2im <B+PH. +H8 yang
telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen $@B& membentuk kompleks +H8"
@B pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang
menstimulasi pertumbuhan sel prostat.
1
Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar +H8 pada BPH tidak jauh
berbeda dengan kadarnya pada prostat normal hanya saja pada BPH akti!itas en2im
5"al)a reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini
menyebabkan sel"sel prostat pada BPH lebih sensiti!e terhadap +H8 sehingga
replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
1
12
Gambar 10. >at">at yang Berperan +alam Pertumbuhan 1el Prostat
b& #etidakseimbangan antara estrogen"testosteron
Pada usia yang semakin tua kadar testosterone menurun sedangkan kadar
estrogen relati!e tetap sehingga perbandingan antara estrogen dan testosterone
relati!e meningkat. 8elah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam
terjadinya proli)erasi sel"sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensiti)itas
sel"sel prostat terhadap rangsangan hormone androgen meningkatkan jumlah resptor
androgen dan menurunkan jumlah kematian sel prostat $apoptosis&. Hasil akhir dari
semua keadaan ini adalah meskipun rangsangan terbentuknya sel"sel baru akibat
rangsangan testosterone menurun tetapi sel"sel prostat yang ada mempunyai umur
yang lebih panjang sehingga massa prostat lebih besar.
1
Gambar 11. Pengaruh %strogen dan 8estosteron terhadap Prostat
c& .nteraksi antara sel stroma dan sel epitel prostat
13
Aunha $1D7-& membuktikan bahwa di)erensiasi dan pertumbuhan sel epitel
prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel"sel stroma melalui suatu mediator
(growth factor) tertentu. 1etelah sel"sel stroma mendapatkan stimulasi dari +H8 dan
estradiol sel"sel stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya
mempengaruhi sel"sel stroma itu sendiri secara intrakrin dan autokrin serta
mempengaruhi sel"sel epitel secara parakrin. 1timulasi itu menyebabkan terjadinya
proli)erasi sel"sel epitel maupun sel stroma.
1
d& Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel $apoptosis& pada sel prostat adalah mekanisme )isiologis
untuk mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi
kondensasi dan )ragmentasi sel yang selanjutnya sel"sel yang mengalami apoptosis
akan di)agositosis oleh sel"sel di sekitarnya kemudian didegradasi oleh en2im
lisosom.
1
Pada jaringan normal terdapat keseimbangan antara laju proli)erasi sel dengan
kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa
penambahan jumlah sel"sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang.
Berkurangnya jumlah sel"sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah
sel"sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan
pertambahan massa prostat.
1
1ampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti )actor")aktor yang
menghambat proses apoptosis. +iduga hormone androgen berperan dalam
menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi terjadi
peningkatan akti!itas kematian sel kelenjar prostat. %strogen diduga mampu
memperpanjang usia sel"sel prostat sedangkan )actor pertumbuhan 8G,"beta
berperan dalam proses apoptosis.
1
e& 8eori stem sel
9ntuk mengganti sel"sel yang telah mengalami apoptosis selalu dibentuk sel"
sel baru. +i dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem yaitu sel yang mempunyai
kemampuan berproli)erasi sangat ekstensi). #ehidupan sel ini sangat tergantung
seperti yang terjadi pada kastrasi menyebabkan terjadinya apoptosis. 8erjadinya
proli)erasi sel"sel pada BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan akti!itas sel stem
sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.
1
3.4 GAMBARAN KLINIS
14
'bstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan di luar saluran kemih.
0
1. Gejala #linis
#umpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH disebut sebagai sindroma
prostatisme. /alaupun begitu sindroma ini tidak patogomonik untuk BPH. 'bstruksi
intra!esikal yang lain dapat pula memberikan gejala klinis seperti sindroma
prostatisme ini. 'leh karena itu istilah ini belakangan sering diganti dengan "ower
#rinary $ract %ymptom $:981&. 1indroma prostatisme ini dibagi menjadi dua yaitu
gejala obstrukti) dan gejala iritati).
Gejala obstruksi terdiri dari pancaran melemah akhir buang air kecil belum
terasa kosong (incomplete emptying) menunggu lama pada permulaan buang air kecil
(hesitancy) harus mengedan saat buang air kecil (straining) buang air kecil terputus"
putus (intermittency) dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi
retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow.
Gejala iritati) terdiri dari sering buang air kecil (fre&uency) tergesa"gesa untuk
buang air kecil (urgency) buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia)
dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence).
+ari kedua macam gejala tersebut gejala obstrukti) biasanya lebih menonjol.
Bila terjadi gejala iritasi lebih menonjol harus dipikirkan penyebab lain selain BPH.
9ntuk menentukan derajat beratnya penyakit yang berhubungan dengan
penentuan jenis pengobatan BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan BPH
dibuatlah suatu skoring yang !alid dan reliable. 8erdapat beberapa sistem skoring di
antaranya 1kor .nternational Gejala Prostat* 'nternational Prostate %ymptom %core
('P%%) yang diambil berdasarkan skor (merican #rological (ssociation ((#().
8abel 1. 1kor .nternasional Gejala Prostat
SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT
International Prostate Symptom Score I-PSS!
9ntuk pertanyaan nomor 1"3 jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut;
0 J tidak pernah
1 J kurang dari sekali dari 5 kali kejadian
( J kurang dari separuh kejadian
- J kurang lebih separuh dari kejadian
0 J lebih dari separuh dari kejadian
5 J hampir selalu
15
+alam satu bulan terakhir ini berapa seringkah Bnda;
1. Merasakan masih terdapat sisa urin sehabis kencingK
(. Harus kencing lagi padahal belum ada setegah jam yang lalu Bnda
baru saja kencingK
-. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan
hal ini dilakukan berkali"kaliK
0. 8idak dapat menahan kenginan untuk kencingK
5. Merasakan pancaran urin yang lemahK
3. Harus mengejan dalam memulai kencingK
9ntuk pertanyaan nomor 7 jawablah dengan skor dibawah ini;
0 J tidak pernah
1 J satu kali
( J dua kali
- J tiga kali
0 J empat kali
5 J lima kali
7. +alam satu bulan terakhir ini berapa kali Bnda terbangun dari tidur
malam untuk kencingK
8'8B: 1#'@ $1&J
Pertanyaan nomor = adalah mengenai kualitas hidup sehubungan dengan
gejala diatas jawablah dengan;
1 J sangat senang
( J senang
- J puas
0 J campuran antara puas dan tidak puas
5 J sangat tidak puas
3 J tidak bahagia
7 J buruk sekali
=. +engan keluhan seperti ini bagaimanakah Bnda menikmati hidup iniK
#esimpulan; 1 L : L M L @ L C L
$1 J skor ."P11 : J kualitas hidup M J pancaran urin dalam ml*detik @ J
sisa urin C J !olume prostat&
1kor .nternational Gejala Prostat* 'nternational Prostate %ymptom %core
('P%%) merupakan salah satu skor gejala prostat yang dikembangkan oleh $he
(merican #rological (ssociation ((#() dan telah disetujui oleh /H' untuk dipakai
secara luas. .P11 merupakan kuesioner berisi 7 inde6 gejala traktus urinarius bagian
bawah yaitu 0 gejala obstruksi seperti kecing tidak puas (incomplete emptying))
16
kencing terputus"putus $intermittency pancaran kencing lemah (wea* stream)) dan
kencing mengejan (straining) serta - gejala iritasi seperti sering kencing (fre&uency))
tidak dapat menunda kencing (urgency)) dan kencing malam hari (nocturia).
.P11 mempunyai man)aat untuk menilai tingkat keparahan gejala
menentukan cara penanganan menge!aluasi perkembangan penyakit pada penderita
yang menjalani pengawasan menilai hasil terapi menilai pengaruh gejala yang
dialami penderita terhadap kualitas hidup dan sebagai alat pengukuran yang
konsisten dan telah teruji sehingga memungkinkan untuk membandingkan satu
penderita dengan penderita lain.
1istem skoring yang lain adalah skor Madsen".!ersen dan skor Boyarski1(5.
1kor Madsen".!ersen terdiri dari 3 pertanyaan yang berupa pertanyaan"pertanyaan
untuk menilai derajat obstruksi dan - pertanyaan untuk gejala iritati). 8otal skor dapat
berkisar skor N 10 $BPH bergejala ringan& skor 11"(0 $BPH bergejala sedang& dan
skor O(0 $BPH bergejala berat&. Perbedaannya dengan skor B9B adalah dalam skor
Madsen .!ersen penderita tidak menilai sendiri derajat keluhannya.
8able (. 1kor Madsen".!ersen
SKOR MADSEN-I"ERSEN
K#$#%&'(&' ) 1 2 3 4
Pancaran <ormal
Berubah"
ubah
:emah Menetes
Mengejan saat
berkemih
8idak Ia
Harus menunggu saat
akan berkemih
8idak Ia
BB# terputus"putus 8idak Ia
BB# tidak lampias 8idak
Berubah"
ubah
8idak
lampias
1 kali
retensi
O1 kali
retensi
.nkontinensia Ia
BB# sulit ditunda 8idak @ingan 1edang Berat
BB# malam hari 0"1 ( -"0 O0
BB# siang hari
O- jam
sekali
1etiap ("-
jam sekali
1etiap 1"(
jam sekali
N1 jam
sekali
(. 8anda #linis
:akukan pemeriksaan )isik pada umumnya dan tentukan pula status
urologisnya. 8anda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran
pada pemeriksaan colok dubur* digital rectal e+amination $+@%&. 9kuran dan
17
konsistensi prostat juga perlu diketahui walaupun ukuran prostat yang ditentukan
melalui +@% tidak berhubungan dengan derajat obstruksi. Pada BPH prostat teraba
membesar dengan konsistensi kenyal. Bpabila teraba indurasi atau terdapat bagian
yang teraba keras perlu dipikirkan kemungkinan keganasan. 1edangkan jika
didapatkan nyeri tekan maka dapat dicurigai sebagai prostatitis.
+erajat berat BPH menurut 1jamsuhidajat $(005& dibedakan menjadi 0 stadium;
a. 1tadium .
Bda obstruksi tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai
habis.
b. 1tadium ..
Bda retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun
tidak sampai habis masih tersisa kira"kira 30"150 cc. Bda rasa ridak enak
BB# atau disuria dan menjadi nocturia.
c. 1tadium ...
1etiap BB# urine tersisa kira"kira 150 cc.
d. 1tadium .C
@etensi urine total buli"buli penuh pasien tampak kesakitan urine menetes
secara periodik $o!er )lowin kontinen&.
Menurut 1melt2er $(00(& menyebutkan bahwa;
Mani)estasi dari BPH adalah peningkatan )rekuensi penuh nokturia dorongan
ingin berkemih anyang"anyangan abdomen tegang !olume urine yang turun dan
harus mengejan saat berkemih aliran urine tak lancar dribbling $urine terus menerus
setelah berkemih& dan retensi urine akut.
P#*#%+,-&&' F+-+,
#eadaan 9mum 8anda"tanda !ital
" #esadaran
" Gi2i
" 8hora6
" Bbdomen
" %6tremitas
" 8ekanan darah
" <adi
" ,rekuensi napas
" 1uhu
S$&$.- U%/0/(+-
Ginjal .nspeksi palpasi bimanual jika membesar
ballottement nyeri ketok
Cesica 9rinaria Hika penuh; inspeksi palpasi perkusi
18
Genitalia %6terna .nspeksi dan palpasi pada penis '9%
testis epididymis !as de)erens
+@% (digital rectal e+amination) 8onus sphincter ani prostat tonjolan
konsistensi pole atas nodul asimetris
perkiraan besar
Gambar 1(. Pemeriksaan colok dubur* rectal toucher
Bdapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini;
Rectal ,radding
+ilakukan pada waktu !esika urinaria kosong;
" Grade 0; Penonjolan prostat 0"1 cm ke dalam rectum
" Grade 1; Penonjolan prostat 1"( cm ke dalam rectum
" Grade (; Penonjolan prostat ("- cm ke dalam rectum
" Grade -; Penonjolan prostat -"0 cm ke dalam rectum
" Grade 0; Penonjolan prostat 0"5 cm ke dalam rectum
-linical ,radding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur disuruh kencing
dahulu kemudian dipasang kateter.
" <ormal; 8idak ada sisa
" Grade .; sisa 0"50 cc
" Grade ..; sisa 50"150 cc
" Grade ...; sisa O150 cc
19
" Grade .C; pasien sama sekali tidak bisa kencing
3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan :aboratorium
Pemeriksaan darah lengkap )aal ginjal elektrolit serum perlu dikerjakan
sebagai dasar keadaan umum penderita. Pemeriksaan kadar gula juga perlu dikerjakan
terutama untuk mengetahui kemungkinan adanya neuropati diabetes yang dapat
menyebabkan keluhan miksi. Pemeriksaan urinalisa juga harus dikerjakan termasuk
pemeriksaan bakteriologiknya. Bdanya hematuria berarti perlu e!aluasi lenjut secara
lengkap.
1
Pemeriksaan Prostate %pesific (ntigen $P1B& yang disintesis oleh sel epitel
prostat dan bersi)at organ specific tetapi bukan cancer specific juga merupakan salah
satu sarana untuk meramalkan perjalanan penyakit BPH. +alam hal ini jika kadar
P1B tinggi berarti; pertumbuhan !olume prostat lebih cepat keluhan akibat BPH* laju
pancaran urin lebih jelek dan lebih mudah terjadinya retensi urin akut.
1
Hasil P1B
yang normal merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum memulai
terapi medikamentosa BPH. 1ebagai pegangan penilaian P1B diinterpretasikan
sebagai berikut;
<ilai P1B dan interpretasinya
05"00 ng*ml <ormal
00"10 ng*ml #emungkinan Aa (0? $perlu 8@91 P biopsi&
O 10 ng*ml #emungkinan Aa 50? $perlu 8@91 P biopsi&
#enaikan O (0? per tahun 1egera rujuk untuk 8@91 P biopsi
(. Pemeriksaan 9ro)lowmetri
1alah satu gejala BPH adalah melemahnya pancaran urin. 1ecara obyekti)
pancaran urin ini dapat diperiksa dengan uro)lowmeter. Humlah urine yang cukup
untuk mendapatkan )lowmetrogram yang representati) paling sedikit 150 ml dan
maksimal 000 ml yang ideal antara (00"-00 ml.
1
Penilaian hasil ;
,low rate maksimal ; 15 ml*detik ; non obstukti)
10"15 ml*detik ; border line
10 ml*detik ; obstrukti)
20
/alaupun ada beberapa prosedur untuk mendiagnosis BPH uro)lowmetri
merupakan cara terbaik dan paling tidak in!asi) dalam mendeteksi adanya obstruksi
traktus urinarius bagian bawah.
1
-. Pemeriksaan .maging dan @ontgenologik
Perkembangan teknik pemeriksaan ultrasonogar)i $91G& membawa man)aat
yang besar bagi e!aluasi penderita BPH. 1elain itu dengan 91G ini dapat pula
diperiksa buli"buli misalnya ada batu buli"buli tumor buli"buli di!ertikel. Huga dapat
diperiksa jumla residual urine. 8erdapat beberapa macam tranducer untuk
pemeriksaan prostat yaitu suprapubic $abdominal& transrektal dan transuretral.
1
Pemeriksaan rontgenologik yaitu pyelogra)i intra!ena $.CP& sekarang tidak
lagi merupakan pemeriksaan rutin untuk e!aluasi penderita BPH tetapi hanya
dikerjakan secara selekti).
1
0. Pemeriksaan Panendoskopi;
+engan pemeriksaan panendoskopi dapat ditentukan secara re!iew;
#eadaan uretra anterior misalnya adanya striktur uretra.
#eadaan uretra prostatika bagian prostat mana yang membesar panjangnya uretra
yang obstrukti) karena pembesaran prostat.
#eadaan didalam buli"buli yaitu ada tidaknya tumor batu hipertropi dari detrusor
ada tidaknya selulae atau di!ertikel dan keadaan muara ureter dan mengetahui
kapasitas buli"buli.
3.6 PATOFISIOLOGI
#arena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan"lahan maka e)ek
perubahannya juga terjadi secara perlahan"lahan. Pada tahap awal setelah terjadi
pembesaran prostat resistensi pada leher !esika dan daerah prostat meningkat dan
detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih
dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi $buli"buli
balok&. Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat detrusor. 8onjolan serat yang
kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar dinamakan di!ertikel. ,ase penebalan
detrusor ini disebut )ase kompensasi otot dinding. Bpabila keadaan berlanjut maka
detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi
untuk berkontraksin sehingga terjadi retensi urin.
1
Bpabila !esika menjadi dekompensasi akan terjadi retensi urin sehingga pada
akhir miksi masih ditemukan sisa urin dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak
21
tuntas pada akhir miksi. Hika keadaan ini berlanjut maka pada suatu saat akan terjadi
kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. #arena produksi urin
terus terjadi maka !esika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan
intra!esika terus meningkat dan dapat terjadi inkontinensia paradoks. @etensi kronik
menyebabkan re)luks !esiko"ureter hidroureter hidrone)rosis dan gagal ginjal.
Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi in)eksi. Pada waktu miksi penderita
terus mengedan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. #arena
selalu terbentuk sisa urin terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini
dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu juga dapat
menimbulkan sistitis dan bila terjadi re)luks dapat terjadi pielone)ritis.
1
3.7 DIAGNOSIS
22
+iagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan
tanda obstruksi dan iritasi. #emudian dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk
merasakan*meraba kelenjar prostat. +engan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya
pembesaran prostat benjolan keras $menunjukkan kanker& dan nyeri tekan
$menunjukkan adanya in)eksi&.
1
1elain itu biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui )ungsi
ginjal dan untuk penyaringan kanker prostat $mengukur kadar antigen spesi)ik prostat
atau P1B&. Pada penderita BPH kadar P1B meningkat sekitar -0"50?. Hika terjadi
peningkatan kadar P1B maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk
menentukan apakah penderita juga menderita kanker prostat.
1
3.8 DIAGNOSIS BANDING
'leh karena proses miksi tergantung pada beberapa )aktor maka )aktor ini pula
yang dapat menjadi diagnosis banding BPH yaitu;
1
1. #ekuatan otot detrusor berkontraksi
#elemahan detrusor dapat disebabkan oleh karena kelainan syara)
(neurogeni* bladder) misalnya pada lesi medulla spinalis neuropathy
23
diabeticum sehabis operasi radikal yang mengorbankan persyara)an didaerah
pel!is alkoholisme penggunanan obat penenang ganglion bloc*ing agent
dan obat parasimpatolitik $seperti obat yang sering dikonsumsi penderita asma
kronik&.
(. %lastisitas leher !esika
#ekakuan leher !esika dapat disebabkan oleh proses )ibrosis (bladder nec*
contracture).
-. @esistensi uretra
@esistensi uretra dapat disebabkan oleh karena pembesaran prostat jinak atau
ganas tumor dileher !esika batu di uretra atau striktura uretra. #elainan"
kelainan tersebut dapat dilihat bila dilakukan sistoskopi. +isamping itu
meskipun di .ndonesia jarang terjadi obstruksi in)ra!esikal dapat disebabkan
oleh gangguan )ungsi misalnya dissynergia detrusor s)ingter.
Maka setiap kesulitan miksi yang dialami penderita dapat disebabkan oleh
ketiga )aktor tersebut.
Bdapun penyakit"penyakit yang gejala"gejalanya menyerupai hiperto)i prostat
jinak diantaranya adalah sebagai berikut berserta klinis dan pemeiksaan yang
membedakan dengan BPH;
1
1. Aa Prostat
#eluhan sesuai gejala saluran kemih bagian bawah ("ower urinary tract
symptoms . "#$%) yaitu gejala obstukti) dan iritati). #ecurigaan umumnya berawal
dari ditemukan nodul yang secara tidak segaja pada pemeriksaan rektal. <odul yang
irreguler dan keras harus dibiopsi untuk menyingkirkan hal ini. Btau didapatkan
jaringan yang ganas pada pemeriksaan patologi dari jaringan prostat yang diambil
akibat gejala BPH. #anker ini jarang memberikan gejala kecuali bila telah lanjut.
+apat terjadi hematuria gejala"gejala obstruksi gangguan sara) akibat penekanan
atau )raktur patologis pada tulang belakang. Btau secara singkat kita anamnesa dan
kita akan dapatkan sebagai berikut ;
" 8erjadi pada usia O30 tahun
" <yeri pada lumbosakral menjalar ke tungkai
" Prostatismus dan hematuri
" Rectal toucher; permukaannya berbenjol keras )i6ed
(. Prostatitis
24
Gejala dan tanda prostatitis akut terdiri dari demam dengan suhu yang tinggi
kadang dengan gigilan neri peineal atau pinggang rendah sakit sedang atau berat
mialgia antralgia. #arena pembengkan prostat biasanya ada disuria kadang sampai
retensi urin. #adang didapatkan pengeluaran nanah pada colok dubur setelah masase
prostat. 1edangkan pada prostatitis kronis gejala dan tanda tidak khas. Gambaran
klinik sangat !ariabel kadang dengan keluhan miksi kadang nyeri perineum atau
pinggang. +an diagnosa dapat ditegakan dengan diketemukan adanya leukosit dan
bakteria dalam sekret prostat. Hadi hal"hal yang perlu sekali kita perhatikan agar dapat
membedakan dengan BPH yaitu ;
" Bdanya nyeri perineal
" +emam
" +isuri polaksiuri
" @etensi urin akut
" Rectal toucher; jika ada abses didapatkan )luktuasi $Q&
-. <eurogenik Bladder
Bdapun gejala dan tanda yamg kita peroleh dari anamnesa adalah ;
" :esi sakral ( R 0
" @est urin $Q&
" .nkontinensia urin
0. 1triktura 9retrha
1umbatan pada uretrha dan tekanan kandung kemih yang tinggi dapat
menyebabkan imbibisi urin keluar kandung kemih atau uretra proksimal dari striktura.
Gejala khas adalah pancaran urin yang kecil dan bercabang. Gejala lain adalah iritasi
dan in)eksi seperti )rekuensi urgensi disuri kadang"kadang dengan in)iltat abses
)istel. Gejala lanjut adalah retensi urin.
3.1 TATA LAKSANA
Penatalaksanaan terhadap BPH dibagi menjadi watchful waiting
medikamentosa minimal invasive dan pembedahan $operati)&. Hal ini dapat
didasarkan pada skor .P11 yang didapatkan dari penderita.
1317
Watchful waiting
/atchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan $skor .P11 N-&.
1317
1. Pasien diberi nasihat agar mengurangi minum setelah makan malam agar
mengurangi nokturia.
25
(. Menghindari obat"obat parasimpatolitik $mis; dekongestan&.
-. Mengurangi kopi.
0. Melarang minum minuman alkohol agar tidak terlalu sering buang air kecil.
Penderita dianjurkan untuk kontrol setiap tiga bulan untuk diperiksa; skoring
uro)lowmetri dan 8@91.
5. Bila terjadi kemunduran segera diambil tindakan.
M#2+,&*#'$/-&
Pilihan terapi non"bedah adalah pengobatan dengan obat $medikamentosa&.
8erdapat tiga macam terapi dengan obat yang sampai saat ini dianggap rasional yaitu
dengan penghambat adrenergik a"1 penghambat en2im 5a reduktase dan )itoterapi.
101317
Penghambat adrenergi* a01
'bat ini bekerja dengan menghambat reseptor a"1 yang banyak ditemukan
pada otot polos ditrigonum leher buli"buli prostat dan kapsul prostat. +engan
demikian akan terjadi relaksasi di daerah prostat sehingga tekanan pada uretra pars
prostatika menurun dan mengurangi derajat obstruksi. 'bat ini dapat memberikan
perbaikan gejala obstruksi relati) cepat.
%)ek samping dari obat ini adalah penurunan tekanan darah yang dapat
menimbulkan keluhan pusing $di22iness& lelah sumbatan hidung dan rasa lemah
$fati&ue).
Pengobatan dengan penghambat reseptor a"1 masih menimbulkan beberapa
pertanyaan seperti berapa lama akan diberikan dan apakah e)ekti!itasnya akan tetap
baik mengingat sumbatan oleh prostat makin lama akan makin berat dengan
tumbuhnya !olume prostat. Aontoh obat; pra2osin tera2osin dosis 1 mg* hari dan
dapat dinaikkan hingga ("0 mg* hari. 8amsulosin dengan dosis 0.("0.0 mg* hari.
Penghambat en2im 3a redu*tase
'bat ini bekerja dengan menghambat kerja en2im 5a reduktase sehingga
testosteron tidak diubah menjadi dehidrotestosteron. +engan demikian konsentrasi
+H8 dalam jaringan prostat menurun sehingga tidak akan terjadi sintesis protein.
'bat ini baru akan memberikan perbaikan simptom setelah 3 bulan terapi.
1alah satu e)ek samping obat ini adalah menurunnya libido dan kadar serum
P1B(. Aontoh obat ; )inasteride dosis 5 mg* hari.
4ombinasi penghambat adrenergi* a0 1 dan penghambat en2im 3a redu*tase
26
8erapi kombinasi penghambat adrenergik a"1 dan penghambat en2im 5a
reduktase pertama kali dilaporkan oleh :epor dan kawan"kawan pada 1DD3. 8erdapat
penurunan skor dan peningkatan Mma6 pada kelompok yang menggunakan
penghambat adrenergik a"1. <amun masih terdapat keraguan mengingat prostat pada
kelompok tersebut lebih kecil dibandingkan kelompok lain. Penggunaan terapi
kombinasi masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
F+$/$#%&3+
8erapi dengan bahan dari tumbuh"tumbuhan populer diberikan di %ropa dan
baru"baru ini di Bmerika. 'bat"obatan tersebut mengandung bahan dari tumbuhan
seperti Hypo+is rooperis) Pygeum africanum) #rtica sp) %abal serulla) -urcubita
pepo) Populus temula) 5chinacea purpurea dan %ecale cerelea. Masih diperlukan
penelitian untuk mengetahui e)ekti!itas dan keamanannya.
10
Minimal invasive
Meliputi ;
1& 89B+ ($ransurethral Balloon 6ilatation)
+engan menggunakan balon kateter yang berkapasitas antara 75,"110,
dengan tekanan antara -"5 atmos)ir uretra prostatika di dilatasi selama 10"-0 menit.
8erapi ini dikerjakan untuk BPH yang kecil dan tanpa pembesaran dari lobus medius.
8erdapat perbaikan keluhan dan )lowmetrik sampai -"3 bulan sesudah tindakan
walaupun secara sitoskopik ternyata tidak ada perbedaan di daerah uretra prostatika
pra dan pasca tindakan.
1=
(& Prostat %tent
1tent dibuat dari bahan kawat yang dianyam hingga berbentuk tabung. 1tent
dipasang di uretra prostatika untuk mencegah berdempetnya prostat.
1=
-& 8erapi 8ermal dibagi menjadi tiga macam antara lain
10
;
a. Hipertermi
#elenjar prostat dipanasi 01"05S A dan pemanasannya dikerjakan dengan
menggunakan EprobeG baik transrektal ataupun transuretral. Pemanasan dilakukan
beberapa kali dengan )rekwensi 1"( kali* minggu. 1etiap kali pemanasan berlangsung
kurang lebih satu jam.
b. 89M8 ($ransurethral 7icrowave $hermotherapy)
8ermoterapi adalah penyempurnaan dari terapi hipertermia. +engan
menggunakan kateter ((, yang dihubungkan dengan sumber panas mikrowa!e 1(D3
MH> prostat dipanaskan 05"30S A sementara itu secara terus"menerus uretra
27
didinginkan sehingga mukosanya tidak rusak. 8emperatur juga dipantau terus
menerus. +engan pemanasan yang cukup tinggi tadi akan terjadi destruksi koagulasi
dan akhirnya nekrosis. Pada termoterapi pemanasan dilakukan satu kali.
#euntungannya adalah tidak memerlukan anestesi umum maupun regional tetapi
peralatannya relati) mahal
c. 89<B ($ransurethral 8eedle (blation)
+engan menggunakan alat khusus yang dimasukkan ke kelenjar prostat
kemudian dengan microwa!e prostat dipanaskan sampai 1(0SA. Hasil yang pernah
dilakukan menunjukkan perbaikan )low maksimal dari D ml* deti menjadi 17 ml*
detik. Penelitian multi senter terus dikerjakan agar mendapat kasus yang cukup
banyak untuk dapat diambilk kesimpulan guna generalisasi.

P#*4#2&5&' /3#%&$+6!
Pembedahan biasanya dilakukan terhadap penderita yang mengalami
10
;
- inkontinensia uri
- hematuria
- retentio uri
- in)eksi saluran kemih berulang
Prostatektomi digolongkan dalam ( golongan
10
;
1. Prostatektomi tertutup
(. Prostatektomi terbuka
Pemilihan prosedur pembedahan biasanya tergantung kepada beratnya gejala
serta ukuran dan bentuk kelenjar prostat.
a. 89@P ($rans #rethral Resection of the Prostate)
Gambar 1-. 8indakan 89@P
89@P merupakan pembedahan BPH yang paling sering dilakukan. %ndoskopi
dimasukkan melalui penis $uretra&. #euntungan dari 89@P adalah tidak dilakukan
sayatan sehingga mengurangi resiko terjadinya in)eksi. ==? penderita yang menjalani
28
89@P mengalami perbaikan yang berlangsung selama 10"15 tahun. .mpotensi terjadi
pada 1-3? penderita dan 1? mengalami inkontinensia uri.
1=
b. 89.P ($rans #rethral 'ncision of the Prostate)
89.P menyerupai 89@P tetapi biasanya dilakukan pada penderita yang
memiliki prostat relati!e kecil. Pada jaringan prostat dibuat sebuah sayatan kecil
untuk melebarkan lubang uretra dan lubang pada kandung kemih sehingga terjadinya
perbaikan laju aliran air kemih dan gejala berkurang. #omplikasi yang mungkin
terjadi adalah perdarahan in)eksi penyempitan uretra dan impotensi.
1=
c. 89:P ($rans #rehral "aser Prostatectomy)
#elenjar prostat pada suhu 30
0
"35
0
A akan mengalami koagulasi dan pada suhu
yang lebih dari 100
0
A mengalami !aporisasi. Pemakaian laser ternyata lebih sedikit
menimbulkan komplikasi dan penyembuhan lebih cepat tetapi meningkatkan
perbaikan gejala miksi tidak sebaik 89@P. +isamping itu terapi ini membutuhkan
terapi ulang (? setiap tahun.
d. Prostatektomi 8erbuka
1ebuah sayatan bisa dibuat di perut $melalui struktur di belakang tulang
kemaluan*retropubik dan diatas tulang kemaluan*suprapubik atau di daerah perineum
$dasar panggul yang meliputi skrotum sampai anus&. Pendekatan melalui perineum
saat ini jarang digunakan lagi karena angka kejadian impotensi setelah pembedahan
mencaai 50?. Pembedahan ini memerlukan waktu dan biasanya penderita harus
dirawat selama 5"10 hari. #omplikasi yang mungkin terjadi adalah impotensi $13"
-(? tergantung kepada pendekatan pembedahan& dan inkontinensia uri $kurang dari
1?&.
1=
+ikenal - cara;
a. Prostatektomi suprapubik trans!esikalis $,reyer&
Bal)ied tahun 1==7 pertama kali melakukan pembedahan cara ini kemudian
oleh 1ir Peter ,reyer dari :ondon dilaporkan pada kongres 1.9 di Paris tahun
1D00.
b. Prostatektomi retropubik $8erence Millin&
8ahun 1D05 dikenalkan oleh 8erence Millin dari .nggris
#euntungan ; 1umber perdarahan jelas dan apeks prostat lebih mudah dicapai.
'perasi terbuka ini dianjurkan pada BPH dengan berat lebih dari 50 gram atau
yang diperkirakan tidak dapat reseksi dengan sempurna dalam waktu satu jam.
BPH yang disertai penyulit misalnya batu buli"buli yang diameternya lebih
29
dari (5 cm atau multipel dan bila tidak tersedia )asilitas untuk melakukan
89@ Prostat baik sarana maupun tenaga ahlinya.
c. Prostatektomi perinealis $Ioung&
+alam pendekatan ini ahli bedah menghilangkan prostat melalui sayatan di
kulit antara skrotum dan anus. 1ara)"sparing lebih sulit untuk dicapai dan
pendekatan ini mungkin kurang e)isien jika kelenjar getah bening perlu
dihilangkan atau diperiksa sebelum prostat akan diangkat.
3.1) KOMPLIKASI
#omplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain; sering dengan
semakin beratnya BPH dapat terjadi obstruksi saluran kemih karena urin tidak
mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan in)eksi saluran kemih dan
apabila tidak diobati dapat mengakibatkan gagal ginjal.
17
#erusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan
tekanan intra abdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. 1tasis urin
dalam !esiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi
dan hematuria. 1elain itu stasis urin dalam !esika urinaria menjadikan media
pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi
re)luks menyebabkan pyelone)ritis $1jamsuhidajat (005&.
17
3.11 PROGNOSIS
Prognosis untuk BPH berubah"ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap
indi!idu walaupun gejalanya cenderung meningkat. <amun BPH yang tidak segera
ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker
prostat. Menurut penelitian kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomor (
pada pria setelah kanker paru"paru. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan
berbagai e)ek samping yang cukup merugikan bagi penderita.
17
30
BAB I"
KESIMPULAN
1emakin lanjut usia semakin banyak dijumpai pria yang menderita BPH dengan
keluhan mulai terjadi perubahan dalam berkemih tidak bisa berkemih sampai
keluhan yang lebih berat karena komplikasi yang terjadi akibat BPH. +iagnosis
didapatkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan )isik serta pendekatan melalui
pemeriksaan penunjang yang turut ber)ungsi sebagai kontrol terhadap terapi yang
diberikan. Penentuan terapi yang tepat paling sering didapatkan dari hasil .P11 yang
harus dijawab oleh pasien sebelumnya. 8erapi yang diberikan berupa pemberian obat"
obatan berupa penghambat adrenergik a"1 penghambat en2im 5a reduktase dan
)itoterapi sampai dengan tindakan in!asi) seperti prostatektomi terbuka 89@P 89.P
89:P 89M8 H.,9 stent uretra 89<B dan .:A yang dipilih sesuai dengan
indikasi dan keadaan umum pasien. Pada gejala yang ringan $skor .P11 N7& penderita
BPH tidak diberikan terapi apapun melainkan hanya menjalankan program watchful
waiting dengan pemantauan .P11 secara berkala untuk menentukan terapi
selanjutnya.
31
DAFTAR PUSTAKA
1. @oehrborn AG McAonnell H+. %tiology Pathophysiology %pidemiology and
<atural History o) Benign Prostatic Hyperplasia. +alam; AampbellTs 9rology
edisi ke"7. %ditor; /alsh PA @etik BB Caughan %+ dan /ein BH.
Philadelphia; /B 1aunders Ao5 (000. p. 1(D7"--0 10(D"5(.
(. Ahatelain AH +enis : ,oo H#8 et al. @ecommendations o) 8he .nternational
1cienti)ic Aommittee; %!aluation and 8reatment o) :ower 9rinary 8ract
1ymptoms $:981& in older man. +alam; Ahatelain Ah +enis : ,oo H#8.
#houry 1 McAonnell H $editors&. Benign Prostatic Hyperplasia. 5
th
.nternational Aonsultation on BPH. :ondon Health Publication :td5 (000. p.
51D"-5.
-. :ee A Aockett B Aussenot ' Gri)lith # .saac / 1halken H. @egulation o)
Prostatic Growth. +alam; Ahatelain AH +enis : ,oo #8 #houry 1
McAonnell H $editors&. Benign Prostatic Hyperplasia. 5
th
.nternational
Aonsultation on BPH. :ondon Health Publication :td5 (001. p.7D"113.
0. @amsey %/ %lhilail M Goldenberg 1: <ickel AH <orman @ Perreault HP et
al. Practice Patterns o) Aanadian 9rologist in BPH and Prostate Aancer. H 9rol
13-5 (000. p. 0DD"50(.
5. <arayan P. <eoplasma o) 8he Prostate Gland in8anagho %B Mc Bnnich H/
$eds&. 1mithTs General 9rology. Bppleton and :ange 1DD(5 1-; p.-7="D.
3. @ous 1<. Bnatomy o) 8he Prostate in @ous 1< $ed& 9rology B Aore
8e6tbook (
nd
edition. Blackwell 1cience 1DD3; p. 1=3"=.
7. 1nell @. Bnatomi #linik. Pel!is; Bagian .. Aa!itas Pel!is. .n; Hartanto H
:istiawati % 1uyono I 1usilawati Mahatmi 8 Prawira H et al %ditors.
Bnatomi #linik. 3
th
ed. Hakarta; %GA5 (003. p. -50"(.
=. Mc <eal H%. Prostate and Prostatic 9rethra; B Morphologic 1tudy. H 9rol
1D7(5107;100=.
D. Caalsti B Herronen B. Butonomic .nner!ation o) 8he Human Prostate. .n!est
9rol 1D=517; p.(D-.
10. :epor H Gregerman M Arosby @ et al. Precise :ocali2ation o) 8he
Butonomic <er!es )rom 8he Pel!ic Ple6us to 8he Aorpora Aa!ernosa; B
+etailed Bnatomical 1tudy o) 8he Bdult Male Prostate. H 9rol 1D=55 1--; p.
(07"1(.
11. +i6on H1 Gosling HB. Macro Bnatomy o) 8he Prostate in #irby @ McAonnel
HM ,it2patrick H @ochborn A Boyle P $eds&. 8e6tbook o) Benign Prostate
Hyperplasia. .1.1 Medical Media '6)ord 1DD3; p. -"10.
32
1(. 1herwood :. ,isiologi Manusia; dari 1el ke 1istem. %d ke"(. Hakarta; %GA5
(001. p. 0DD"50(.
1-. Purnomo Basuki B. Hiperplasia prostat dalam; 6asar 9 dasar urologi. %disi
ke"(. Hakarta; 1agung 1eto. (00-. p. 3D R =5.
10. #irby @ Ahristmas 8H. Benign Prostate Hyperplasia (
nd
ed. Mosby
.nternational 1DD7; p. 1"3.
15. @ahardjo + Birowo P. #arakteristik Penderita"Penderita Pembesaran Prostat
Hinak di @1.1umber /aras dan @1AM. 1ubmitted to M#..
13. .katan Bhli 9rologi .ndonesia. Panduan Penatalaksanaan $Guidelines& Benign
Prostatic Hyperplasia $BPH& di .ndonesia. Hakarta. (00-. p. 15"-5.
17. @ahardjo +. Prostat; #elainan"#elainan Hinak +iagnosis dan Penanganan.
Hakarta; 1DDD. p. 0("55.
1=. Medicastore. U.nternetV Pembesaran Prostat Hinak $BPH Benign Prostatic
Hyperplasia&. B!ailable )rom; 9@:;
http;**medicastore.com*penyakit*557*PembesaranWProstatWHinakWBPHWBenign
WProstaticWHyperplasia.html. Bccessed on; <o!ember (5 (01-.
33