Anda di halaman 1dari 11

Peranan Vitamin B

12
dalam Perawatan Stomatitis Aftosa Rekuren

Oral Biology - 5



Oleh :

Cindy Hulwani (04121004023)




Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si.





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014



Peranan Vitamin B12 dalam Perawatan Stomatitis Aftosa Rekuren
Cindy Hulwani
04121004023

Abstrak
Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) is inflammation of
the gastric mouth shallow basin as a yellowish liquid and
restricted with reddish glow. This wound is usually found in the
interior of the lip, cheeks, the mouth, and the tongue, and it is
rare to find the gum and the palate, and some factors that can be
predisposing SAR among others: trauma locally, microbial
pathogens, systemic disease, genetics, and deficiency in
nutrition. this paper explains that related to nutrition deficiency,
which is where Vitamin B12 can play an important race. its
effectiveness to see the benefits are tested by a powerful from
Vitamin B12 in treatment RAS so that it could happen healing.

Keyword : Recurrent Aphthous Stomatitis, Vitamin B12, Nutrition.

Pendahuluan
Prevalensi pada lesi mukosa mulut di USA diperkirakan 23,1% pada orang
dewasa berusia 65 tahun, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada yang dirawat
dan mendapatkan perawatan tetap. Lesi ulserasi pada mukosa mulut tidak bersifat
kanker yang biasanya dihubungkan dengan trauma lokal seperti iritasi pada
pemakaian gigi palsu, tergigit, gigi yang tajam, dan permukaan restorasi.
1
Dan
lesi mulut yang biasa juga terjadi ialah lesi mukosa superfisial, yang biasanya
terdiri dari kandidiasis, herpes labialis rekuren, stomatitis aftosa rekuren, hairy
tongue, dan lichen planus.
2
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan peradangan pada mukosa
mulut berupa cekungan dangkal berwarna kekuningan dan dibatasi dengan
kemerahan. Luka ini biasanya terdapat pada bagian dalam bibir, pipi, dasar mulut,
dan lidah, dan jarang ditemukan pada gusi dan langit-langit mulut. Berbeda
dengan luka tergigit biasa, luka tergigit bisa akan sembuh dan tidak kambuh lagi.
Tetapi sariawan (SAR) merupakan penyakit kambuhan atau berulang dalam
hitungan minggu, bulan, atau tahunan. Sariawan bisa muncul kembali pada tempat
yang sama ataupun berbeda, dengan atau tanpa pemicu fisik seperti tergigit atau
tergores.
3
Akan tetapi, faktor lain juga berhubungan dengan defisiensi nutrisi
seperti vitamin B
12
, folat, besi), dalam beberapa kasus berhubungan dengan
kondisi sistemik seperti inflamatory bowel disease, celiac disease, Behcets
syndrome, dan HIV-infection.
2
Data dari US National Health and Nutrition Examination Survey
(NHANES) ketiga mengindikasikan bahwa remaja dan dewasa muda sangat
sedikit mengonsumsi multivitamin sehari-hari, sebelum meningkatnya usia.
Disamping itu, dewasa muda sering mengonsumsi makan yang rendah nutrisi.
Sehingga keadaan ini berkolerasi dengan tingginya prevalensi dari RAS pada
dewasa muda. Oleh karena itu, beberapa peneliti melakukan percobaan untuk
melihat pengaruh vitamin B
12
yang bermanfaat dalam pengobatan SAR.
4

Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) atau ulser aftosa biasa dikenal dengan
canker sores.
4
Dalam bahasa Yunani dikenal dengan Aphthae yag disebut
pertama kali oleh Hippocrates untuk menggambarkan kerusakan mulut.
5
SAR
merupakan salah satu lesi yang paling biasa terlihat dalam penangan pertama.
Ulser aftosa mempengaruhi hingga 25% populasi dan tingkat rekuren 3 bulan
sebesar 50%.
6
Lesi aftosa terbagi atas dua, yaitu lesi aftosa minor dan mayor. Lesi aftosa
minor merupakan sensasi awal yang biasa, tampak kecil, bulat, batas jelas, ulser
sakit, dan sembuh dalam 10-14 hari tanpa bekas dan dapat muncul kembali. Lesi
aftosa mayor merupakan lesi yang lebar (> 5mm) dan dalam waktu yang lama
yakni 6 minggu atau lebih lama lagi, dan sering meninggalkan bekas.
6

SAR merupakan kondisi yang biasa dikarakterisktikan dengan ulser kecil
yang rekuren multipel, bulat, dan oval dengan batas yang jelas, lingkaran yang
eritomatus, dan dasar kuning atau abu-abu pseudomembran (Gambar 1). SAR
biasanya mengenai mukosa yang tidak berkeratin (seperti mukosa labial, mukosa
bukal, bagian ventral lidah).
2,6

Gambar 1. Stomatitis Aftosa Rekuren: Ulser yang dilingkupi dengan
pseudomembran kuning dan dikelilingi oleh lingkaran eritomatus.
2


Etiologi lesi SAR kebanyakan tidak dikethui, tetapi beberapa faktor lokal,
sistemik, imunologis, genetik, alergi, nutrisi, dan mikrobial telah dianggap sebagai
agen kausatif atau penyebab dari SAR. Faktor-faktor etiologi yang berhubungan
dengan SAR (Tabel 1).
5
Ulser tidak dapat dicegah dan perawatannya simptomatik.
Perawatan yang diberikan pada kondisi SAR berbeda-beda seperti pemberian
beberapa vitamin alami, obat salep lokal, bahan disinfektan, obat usap antibiotik
lokal, dan steroid sistemik.
7

Tabel 1. Faktor-faktor etiologi yang berhubungan dengan SAR
Trauma Lokal Merokok
Komposisi Saliva yang tidak beregulasi
Mikrobial Bakteri : Streptococci
Virus : Varicella zoster, Cytomegalovirus

Sistemik Behcets Syndrome
Chrons Disease
Infeksi HIV
Ulcerative colitis

Nutrisi Gluten-sensitive enterophaty
Defisiensi besi, asam folat, zinc
Defisiensi B1, B2, B6, dan B12
Genetik Etnik
Haplotipe HLA
Alergi/Imunologis Sitotoksitas limfosit T lokal
Sensitivitas makanan
Rasio CD4-CD8 abnormal
Lain-lain Antioksidan
Beta blocker

Vitamin B12
Vitamin B12 merupakan sebuah nutrisi yang dapat membantu menjaga
kesehatan sel-sel pembuluh darah dan saraf tubuh serta membantu membentuk
DNA, materi genetik pada sel. Jumlah vitamin B12 yang diperlukan dalam tubuh
tergantunga pada umur seseorang. Rata-rata setiap harinya direkomendasikan
berjumlah :
Tingkatan Umur Jumlah yang direkomendasi
Bayi lahi 6 bulan 0,4 mcg
7 - 12 bulan 0,5 mcg
1 3 tahun 0,9 mcg
4 8 tahun 1,2 mcg
9 13 tahun 1,8 mcg
Remaja 14 18 tahun 2,4 mcg
Dewasa 2,4 mcg
Remaja dan wanita hamil 2,6 mcg
Remaja dan wanita menyusui 2,8 mcg

Defisiensi Vitamin B12 menyebabkan kelelahan, kelemahan, konstipasi,
dan megaloblastik. Gejala-gejala lainnya yang dapat terjadi akibat defisiensi
vitamin B12 termasuk masalah dengan keseimbangan, kebingungan, demensia-
kekurangan memori, dan luka pada mulut atau lidah.
8
Adanya gejala seperti
manifestasi oral terhadap defisiensi Vitamin B12 inilah yang dapat berpengaruh
pada terjadinya stomatitis aftosa rekuren sehingga pemberian vitamin B12
menjadi sebuah hal yang bisa bermanfaat.

Pengaruh Pemberian Vitamin B12 terhadap Stomatitis Aftosa Rekuren
(SAR)
Hubungan yang mungkin terjadi antara SAR dan vitamin B12 pertama kali
ditunjukkan lebih dari 55 tahun yang lalu.
9
Dan sekarang ini, Vitamin B12
digunakan dalam perawatan SAR dan dalam beberapa penlitian mengevaluasi
manfaat asupan vitamin B12 untuk perawatan SARseperti yang dilakukan dalam
penelitian [Javed A. Qazi]. Dalam penelitian ini dilakukan pad 65 pasien (37
perempuan dan 26 laki-laki) berumur 17 tahun dan menderita SAR selama 6 bulan
hingga 1 tahun. Penjelasan pada pembagian kelompok penderita menurut jenis
kelamin dapat dilihat pada (Tabel 2). Kisaran umur pasien adalah 17 40 tahun
dan umur rata-rata 24,5 11,5 tahun. Pasien-pasien tersebut dengan penyakit
sistemik seperti Hepatitis-C, Behcets Disease. Pasien-pasien tersebut
mengonsumsi steroid atau vitamin B12 ataupun yang diketahui kekurangan
vitamin B12.
7
Pengujian dilakukan dengan melakukan pemeriksaan umum, tes darah,
dan pemeriksaan hepatitis dilakukan pada setiap pasien. Tingkat keparahan nyeri
dicatat menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Pasien dibagi ke dalam 2
kelompok secara acak. Kelompok pertama diberikan Tablet Vitamin B12 1000 mg
secara sublingual setiap hari sebelum tidur selama 6 bulan irespektif vit B12
tingkat darah. Kelomok kedua Tablet Vitamin B12 500 mg secara sublingual, lalu
diamati setiap bulan selama 6 bulan untuk mengumpulkan informasi tentang
keefektifan perawatan dan efek samping obat. Evaluasi klinis pasien terdiri dari
penilaian ukuran ulser dan penilaian nyeri menurut VAS. Tujuannya ialah untuk
menghitung keefektifan perawatan pada sampel dari 65 pasien yang mendapatkan
asupan Vitamin B12 1000 mg dibandingkan dengan yang mendapat asupan 500
mg Vitamin B12.
7



Tabel 2. Pembagian Kelompok Penderita Menurut Jenis Kelamin


Hasil dari perawatan yang dicatat setiap bulan selama 6 bulan, antara lain :
Bulan ke- 4, 15 pasien (43%) pada kelompok 1 tidak rekuren,
sedangakan kelompok 2 hanya 2 pasien (7%) yang dinyatakan
tidak rekuren.
Bulan ke -5, 25 pasien (71%) di kelompok 1 tidak rekuren
sedangkan kelompok 2 hanya 4 pasien (11%).
Bulan ke- 6, seluruh 35 pasien (100%) di kelompok 1 tilaporkan
tidak rekuren sedangkan kelompok 2 hanya 9 pasien (30%). (Lihat
Tabel 3)
Tabel 3. Respon Perawatan dengan Waktu Pengujian

Menurut hasil yang dilaporkan dalam penelitian ini, bahwa 100%
penyembuhan pada pasien terjdi di kelompok 1 yang diberikan Vitamin B12 1000
mg sedangkan 30% ditemukan di kelompok 2 yang diberikan 500 mg. Dari
penelitian menegaskan bawah Vitamin B12 yang diberikan dengan dosis 1000 mg
secara sublingual dapat bermanfaat dalam perawatan SAR.
7

Dalam penelitian lain, yang dilakukan oleh [Ilia Volkov et.al] juga
berhubungan dengan pengujian kegunaan Vitamin B12. Namun, dilakukan
dengan cara yang berbeda. Pasien yang termasuk dalam penelitian ialah lebih tua
dari 18 tahun dan menderita SAR selama 1 tahun dengan frekuensi terjangkitnya
setiap 2 bulan. Dalam hal ini, pasien yang memiliki penyakit sistemik tidak
termasuk dalam penelitian. Pasien dibagi secara acak ke dalam dua kelompok,
yaitu kelompok yang terlibat dan kemlompok kontrol. Kelompok intervensi
menerima tablet vitamin B12 sublingual. Setiap tablet mengandung 1000 mcg
vitamin B12, mannitol, stearic acid, magnesium stearat, dan perasa ceri alami,
dengan berat setiap tablet 100 mg. Kelompok kontrol menerima tablet placebo
(mengandung bahan-bahan yang sama kecuali untuk vitamin B12). Tipe kedua
tablet sama dalam ukuran, bentuk, warna dan rasa. Pasien diintruksikan meminum
satu tablet sebelum akan tidur setiap hari selama sebulan. Penilaian untuk
perawatan yang efektif adalah rata-rata durasi (sehari) pada masa stomatitis aftosa,
jumlah ulser aftosa setiap bulan, dan keparahan nyeri menurut NRS.
10
Melalui pengacakan, kelompok intervensi terdapat 31 pasien dan 27 pasien
pada kelompok kontrol. Kelompok intervensi yang menerima Vitamin B12 dibagi
dalam 2 subkelompok, yaitu 6 pasien dengan tingkat inisial Vitamin B12 dalam
batas 150 250 pg/ml dan 25 pasien yang lebih dari 250 pg/ml. Dari hasil yang
ditunjukkan dalam gambar 1A - 1C merupakan perbandingan antara kelompok
kontrol dan intervensi dalam 3 tujuan penilaian kefektifan perawatan, yaitu :

a. Durasi rata-rata pada SAR (jumlah hari), menurun pada kedua kelompok
selama 4 bulan pertama perawatan, tetapi menurun secara signifikan lebih
tinggi pada kelompok intervensi setelah bulan ke-5 dan 6 saat
dibendingkan dengan kelompok kontrol.
b. Jumlah rata-rata SAR per bulan juga menurun selama 4 bulan perawatan
pertama pada kedua kelompok. Namun, kelompok intervensi trus menurun
dan jadi signifikan lebih rendah daripada jumlah ulser pada kelompok
kontrol.
c. Tingkat nyeri, kelompok intervensi menurun. Pada kelompok kontrol
terdapat penurunan hanya pada bulan ketiga, nyeri meningkat pada
kelompok kontrol selama bulan ke-4,5,6 selama bulan perawatan.




Selama bulan terakhir perawtan, 20 pasien (74,1%) dari kelompok intervensi dan
8 pasien (32%) dari kelompok kontrol didapat tidak memiliki status ulser aftosa
(p,0,1). Kecenderungan ini diamati setelah 4 bulan perawatan tetapi nilai yang
signifikan secara statistik tidak didapatkan.
10
Penelitian tentang pengaruh perawatan SAR dengan vitamin B12 juga
dilakukan dalam penelitian [Scott T Kozlak et.al] yang mana bertujuan untuk
membandingkan asupan vitamin pada pasien SAR terhadap kelompok kontrol.
Gambar 1A. Durasi rata-rata
SAR per bulan selama tahun
lalu.
*Perbandingan antara
kelompok intervensi dan
kontrol signifikan secara
statistik (p<0,05)
Gambar 1B. Rata-rat jumlah
SAR per bulan
*Perbandingan antara
kelompok intervensi dan
kontrol signifikan secara
statistik (p<0,05)
Gambar 1C. Rata-rata tingkat
nyeri
*Perbandingan antara
kelompok intervensi dan
kontrol signifikan secara
statistik (p<0,05)
Dalam penelitian ini terdiri dari 100 subjek (63 perempuan dan 37 laki-laki)
dengan rata-rata umur 38 tahun dan dengan riwayat SAR minor pada satu tahun
yang lalu. Kriteria eksklusi dari penelitian ini, yaitu (1) pasien yang menderita
penyakit lain dari SAR (mayor atau herpes), (2) yang sudah mengonsumsi
suplemen vitamin pada 3 bulan yang lalu, (3) yang memiliki penyakit sistemik
yang berhubungan dengan manifestasi oral. Penelitian ini dilakukan dnegan
menggunakan membandingkan tes nutrisi (vitamin A, vitamin C, vitamin E,
tiamin, niakin, riboflavin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat) dengan
menggunakan data dari badan nutrisi National Health and Nutrition Examination
Survey (NHANES). Perbandingan data dengan percobaan nutrisi, bahwa
rendahnya asupan vitamin B12 berada pada penderita SAR daripada kontrol
dengan 0,43 mcg (7% dari asupan yg direkomendasikan).
4

Kesimpulan
Dari beberapa penelitian tersebut, menunjukkan bahwa pemberian vitamin
B12 terhadap penderita SAR dapat meredakan ulser aftosa rekuren. Dengan
asupan vitamin yang cukup dapat mempengaruhi ulser aftosa sehingga efektif
dalam perawatan SAR.















Daftar Pustaka
1. Jitlendar P.2005.Texbook of Oral Medicine. New Delhi : Jaypee.
2. C Wanda, M.D Gonsalves, C angela, et al. 2007. Common Oral
Lesions : Part I. Superficial Oral Lesions. South Carolina :
American Academy of Family Physicians.
3. NS Sallika. 2010.Serba-serbi kesehatan perempuan : Apa yang
Kamu Tahu tentang Tubuhmu. Jakarta Selatan : Kawah Media.
4. Kozlak Scott T, Waish Stephen J, Laila Rajesh V. 2010. Reduced
dietary intake of vitamin B12 and Folate in patients with recurrent
aphthous stomatitis. USA : NIH Public Access
5. Chavan Mahesh, Jain Hansa, Diwan Nikhil, Khedar Shivaji, Shete
Anagha, Sachin Durkar.2012.Recurrent aphthous Stomatitis : a
review. India : John Wiley & Sons.
6. Volkov I, Rudoy I, Rabia Unes Abu, Masalha Tawfek, Masalha
Rafik. 2005. Case Report : Recurrent aphthous stomatitis responds
to vitamin B
12
treatment. South Caroline : Canadian Family
Physicians.
7. Qazi Javed A.2011.VITAMIN B12 FOR THE TREATMENT OF
RECURRENT APHTHOUS STOMATITIS. Pakistan : Khyber
College of Dentistry.
8. Vitamin B12 Fact Sheet for Consumer.2011. USA: Department of
Health and Human Service, National Institutes of Health.
9. Carozzo Marco.2009. Vitamin B12 For The Treatment Of
Recurrent Aphthous Stomatitis. UK : Department of Oral
Medicine, School of Dental Sciences.
10. Volkov Ilia, Rudou Inna, Freud Tumor,.. et.al.2009. Effwctiveness
of Vitamin B12 in Treating Recurrent Aphthous Stomatitis : A
Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Isreal :
JABFM.