Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian dan fungsi Sistem Stomatognatik


Dalam ilmu faal yang dimaksud dengan system pada umumnya terdiri atas beberapa
organ tubuh, yang saling ada keterkaitan secara kompleks dalam menjalankan fungsi kehidupan.
System stomatognatik adalah Suatu system atau unit fungsional yang terdiri dari beberapa
jaringan dengan asal dan struktur yang bervariasi, akan tetapi bekerja dalam suatu kesesuaian
untuk melaksanakan tugas masing-masing berdasaran fungsinya. Struktur yang menyusun
stomatognatik antara lain komponen skeletal (os maksila dan os mandibula), lengkung gigi,
jaringan lunak (Glandula saliva, jaringan saraf, serta vaskularisasi), area Temporo Mandibula
Joint. System ini berfungsi dalam oklusi, mastikasi, bicara, artikulasi dan sebagainya.
2. Etiologi gangguan system stomatognati
Gangguan oklusi
Maloklusi merupakan keadaan menyimpang dari oklusi normal yang meliputi
ketidakteraturan gigi sehingga mempengaruhi estetika beberapa fungsi fisiologis mulut
seperti mastikasi, penelanan dan bicara. Mastikasi itu sendiri merupakan hasil
pergerakan buka dan tutup rahang yang memerlukan koordinasi antara gigi , rahang , otot
mastikasi, dibawah control neurologis susunan saraf pusat. Ketidakserasian oklusi terjadi
apabila terjadi kontak gigi yang menghalangi atau menghambat kebebasan pergerakan
mandibula.
Selain itu, oklusi yang tidak benar biasa dihubungkan dengan kliking sendi.
Kehilangan gigi dan malposisi serta ektrusi gigi akan mengakibatkan perubahan
keseimbangan sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan oklusi. Kehilangan gigi dapat
mengganggu keseimbangan gigi geligi yang masih tersisa, gangguan dapat berupa
migrasi, rotasi, ekstrusi gigi geligi yang masih tersisa pada rahang. Malposisi akibat
kehilangan gigi tersebut mengakibatkan disharmonisasi oklusal. Kehilangan gigi anterior,
khusunya gigi kaninus menyebabkan pola oklusal menjadi lebih datar karena
berkurangnya tinggi tonjolan. Hal ini menyebabkan berkurangnya tinggi gigitan dan
dimensi vertical.
Gangguan oklusi juga dapat mengganggu fungsi stomatognati yang lain, seperti
penampilan wajah yang kurang menarik, resiko terhadap karies karena susunan gigi yang
abnormal selain tidak memiliki self cleansing yang baik juga menyebabkan pemeliharaan
OH menjadi rumit.
Trauma fisik
Gigi-gigi incisive yang terlalu proklinasi atau protrusive yang parah memiliki
resiko tinggi terhadap injuri khususnya selama bermain atau terjatuh karena
kecelakaan, demikian juga dengan posisi gigi kaninus yang labioversion yang
sering mangalami trauma.
Trauma juga dapat timbul karena membuka mulut terlalu lebar
Stress
Stress psikologis yang terjadi pada individu akan menyebabkan terjadinya
perubahan pada tubuh yang pada dasarnya adalah mempersiapkan otot tubuh (termasuk
otot temporomandibula) untuk menghadapi segala hal bentuk ancaman atau beban yang
melebihi kemampuan normalnya. Perubahan pada otot tersebut berupa adanya
peningkatan aktivitas otot (hiperaktivitas). Keadaan hiperaktivitas yang berlangsung lama
atau terus menerus akan memicu kelelahan otot yang akan diikuti oleh terjadinya
kekejangan otot. Kekejangan otot inilah yang kemudian akan memicu terjadinya
perubahan-perubahan pada pola pengunyahan, disharmoni hubungan gigi-gigi rahang
atas dan rahang bawah, ketidakseimbangan distribusi beban atau pembebanan yang
berlebihan pada sendi, yang bila berlangsung lama atau terus-menerus akan
menyebabkan terjadinya gangguan bahkan kerusakan lebih lanjut pada sendi
temporomandibula dan atau daerah sekitarnya.
Terdapat 2 mekanisme pelepasan stress pada manusia. Pertama adalah external
release , stress disalurkan melalui berteriak, melempar, memukul dan sebagainya. Kedua
adalah Internal release, stress dilepaskan melalui internal yang menyebabkan hipertensi,
meningkatnya ketegangan otot didaerah kepala dan leher, asma, dan meningkatnya fungsi
nonfungsional otot seperti bruxism dan clenching.
Kondisi sistemik
Kondisi sistemik usia lanjut berbeda dengan dewasa muda karena pada proses
menua terdapat perubahan degeneratif dan fisiologis. Rongga mulut pada usia lanjut
mengalami perubahan, baik pada jaringan keras maupun pada jaringan lunak. Perubahan
tersebut selain karena proses menua, juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik yang
bermanifestasi di rongga mulut. Penurunan kemampuan fungsi kunyah, hal ini karna
terdapat perubahan pada sendi temporomandibular, gigi serta otot mastikasi yang
berperan penting pada proses pengunyahan. Otot mastikasi mengalami atrofi seiring
dengan peningkatan usia sehingga menyebabkan kekuatan gigit menurun dan
memperlambat kemampuan fungsi pengunyahan.
Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk seperti bruxism pada malam hari dapat mengakibatkan kelelahan
dan kekakuan otot mastikasi (m.masseter) yang dihasilkan oleh pengerutan otot
secara terus menerus akibat penambahan tenaga otot.
Kebiasaan mengunyah satu sisi akan menyebabkan terjadinya hipertropi otot pada
sisi yang aktif, sementara pada sisi lainnya yang jarang digunakan dapat terjadi
atrofi otot.
3. Akibat Gangguan system stomatognati
Kelainan sendi rahang
Temporomandibular disorders, merupakan kelaianan yang meliputi system
stomatognati yang dapat menyebabkan gangguan fungsi rahang. Kelainan ini ditandai
oleh berbagai gejala seperti clicking, krepitasi, terbatasnya membuka mulut, rasa sakit
pada otot-otot pengunyahan, rasa sakit didaerah rahang, deviasi pembukaan mulut,
tinitus, rasa sakit disekitar telinga, sampai sakit kepala. Para ahli menyatakan seseorang
dapat dikatakan mengalami kelainan sendi rahang (TMJ disorder) apabila dia mengalami
paling sedikit 3 gejala.

Penyebab kelainan sendi rahang sangat kompleks dan multifaktorial. Beberapa
ahli mengelompokkan penyebabnya dalam 3 kelompok:
1. Prediposing factor
Factor yang dapat meningkatkan resiko kelainan ini. Meliputi kondisi sitemik seperti
rheumatoid, kelainan metabolism, nutrisi, hormone, infeksi, ataupun oleh berbagai
kelainan oklusi seperti kehilangan banyak gigi posterior , open bite anterior, overbite
lebih dari 6-7 mm dan crossbite unilateral.
2. Initiating factor
Factor yang memicu kelainan sendi temporomandibular yang dapat disebabkan
karena trauma yang berlebihan dan parafunctional habit. Trauma berlebihan pada
sendi rahang (TMJ) biasanya dialami oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan
bruxism dan clenching, yang bisa juga dipengaruhi oleh kodisi psikologis.
3. Perpetuating Factor
Factor etiologis yang mengarah pada penundaan proses penyembuhan, sehingga
menyebabkan kelainan sendi rahang (TMJ disorder) itu menjadi menetap. Factor ini
dapat berupa kebiasaan sehari-hari yang sifatnya parafungsional, misalnya kebiasaan
memiringkan kepala saat menulis atau bekerja. Kondisi lingkungan kerja yang tidak
nyaman dapat membuat seseorang untuk mengulangi terus kebiasaan
parafungsionalnya
Disfagia
Keadaan dimana pasien sulit menelan makanan. Keluhan ini akan timbul bila
terdapat gangguan gerakan otot-otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari
rongga mulut ke lambung. Selain itu disfagia juga dapat timbul karena terdapat gangguan
emosi atau tekanan jiwa yang berat (factor psikogenik).
Tersedak atau Chocking
Tersumbatnya trakea seseorang oleh benda asing , muntah, darah atau cairan lain.
Chocking biasanya terjadi karena makanan yang kurang dikunyah dengan baik serta
memasuki saluran yang salah.
Referensi:
1. Jeffrey P. Okeson. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. Sixth
Edition. Mosby Elsevier. Page 130-140
2. Haryo, Mustiko. 2008. Gangguan nyeri dan bunyi kliking pada sendi temporomandibula.
Kajian Ilmiah Prostodonsia. FKG UGM. Yogyakarta