Anda di halaman 1dari 15

ASKEP NEOPLASMA

A. Konsep dasar
Pada konsep dasar ini akan dijelaskan mengenai pengertian, anatomi dan
fisiologi, etiologi , ciri-ciri tumor ganas, penyebaran tumor ganas, derajat
keganasana tumor, pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan serta asuhan
keperawatanmeliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi.
1. Pengertian
Neoplasma adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-
sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak terkoordinasi
dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Sutisna himawan
(1996, hal: 77).Kanker adalah istilah umum yang digunakan untuk
menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan kelompok
penyakit dan bukan hanya penyakit tunggal. Doengoes (2000, hal
997).Cancer Mastoid adalah: kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh
sel-sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas, tidak
terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh
terjadi pada tulang mastoid.

2. Anatomi dan Fisiologi
Tulang adalah suatu bentuk khusus jaringan ikat, ditandai dengan
adanya sel bercabang panjang-panjang dan berkeluk-keluk (osteosit) yang
mengisi rongga-rongga (lakuna) dan celah yang kecil (kanalikulus) di
dalam matrix yang keras terdiri atas serabut kalogen pada jaringan amorf
yang mengandung gugusan fosfat kalsium. Tulang merupakan tempat
penyimpanan kalsium dan fosfat, yaitu99% daripada seluruh kalsium
tubuh dan 90% daripada fosfat tubuh. Epifisis dan metafisis ialah bagian
tulang yang tumbuh. Sumusum tulang berwarna merah pada umur muda
dan kuning pada dewasa, kecuali tulang gepeng (tengkorak, iga,vertebra,
pelvis). Tulang mastoid merupakan bagian dari tulang tengkorak.
a. Diafisis
Dari tulang kompakta dengan rongga sumsum tulang, medulla.
b. Epifisis terdiri dari tulang spongiosa dengan kortexnya tulang
kompakta. Pada orang dewasa rongga tulang spongiosa pada epifisis
berhubungan dengan rongga sumsum tulang diafisis. Tetapi pada anak-
anak yang masih tumbuh, epifisis dan diafisis dipisahkan oleh lempeng
tulang rawan epifisis, yang bersatu dengan diafisis melalui suatu tulang
spongiosa yang disebut metafisis .Lempeng tulang rawan epifisis
merupakan tempat tulang panjang menjadi panjang. Semua permukaan
tulang diliputi oleh jaringan ikat khusus yang disebut periosteum,
kecuali pada bagian yang membentuk sendi.
c. Ossifikasi intramembranosa ialah perubahan dari jaringan ikat,
misalnya pada tulang tengkorak, mandibula dan clavicula. b.Ossifikasi
intrakartilaginosa atau endochondral, ialah perubahan dari tulang
rawan, misalnya pada tulang panjang

3. Etiologis
Secara umum penyebab neoplasma muskuloskeletal tidak diketahui,
tetapi ada beberapa faktor yang berhubungan dan memungkinkan yang
dapat menjadi faktor penyebab terjadinya neoplasma musculoskeletal,
yaitu sebagai berikut.
a. Genetik
Beberapa kelainan genetic dikaitkan dengan terjadinya keganasan
tulang misalnya pada sarkoma jaringan lunak atau Soft Tissue
Sarcoma (STS). Berdasarkan data penelitian, diduga mutasi genetik
pada system sel mesenkim dapat menimbulkan sarkoma, ada beberapa
gen yang sudah diketahui mempunyai peranan dalam kejadian
sarkoma, antara lain gen RB-1 dan p53.
b. Radiasi
Keganasan pada jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang
terpapar radiasi seperti pada pada penderita kanker mamma dan
limfoma malignum yang mendapat radioterapi. Halperin dkk.
Memperkirakan risiko terjadinya sarkoma pada penderita Hodgkin
yang diradiasi adalah 0,9%. Terjadinya keganasan jaringan lunak dan
sarkoma tulang akibat pemaparan radiasi sudah diketahui sejak 1922,
walaupun jarang ditemukan memiliki prognosis yang jelek dan
umumnya memiliki tingkat yang tinggi.
c. Bahan kimia
Bahan kimia seperti Dioxin dan Phenoxyherbicide diduga dapat
menimbulkan sarkoma, tetepi belum bisa dibuktikan. Pemaparan
terhadap Thorium Dioxide (Thorotrast) suatu bahan kontras bisa
menimbulkan angiosarkoma pada hepar. Selain itu asbes juga diduga
dapat menimbulkan Mesothelioma, sedangkan polyvinyl chloride
dapat menyebabkan Angiosarkoma hepatic.
d. Trauma.
Sekitar 30% kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat
trauma. Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan
sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma, tetapi semua ini tidak
pernah bias dibuktikan.
e. Limphedema kronik.
Limphedema kronik akibat operasi atau radiasi dapat menimbulkan
limphangiosarkoma dan kasus limphangiosarkoma pada ekstremitas
superior yang ditemukan pada penderita karsinoma mamma yang
diberi radioterapi pascamastektomi.
f. Infeksi.
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh
infeksi parasit yaitu filariasis. Pada penderita limphedema kronik
akibat obstruksi filariais dapat menimbulkan Limphangiosarkoma.




4. Data penunjang
Tes seleksi tergantung riwayat, manifestasi klinis dan indeks
kecurigaan untuk kanker tertentu. Skan (misal MRI, CT, gallium) dan
ultrasound :Dilakukan untuk tujuan diagnostik, identifikasi metastatik dan
evaluasi respons pada pengobatan. Biopsi (aspirasi, eksisi, jarum,
melubangi) : Dilakukan untuk diagnosis banding dan menggambarkan
pengobatan dan dapat dilakukan melalui sumsum tulang, kulit, organ dan
sebagainya. Contohnya : sumsum tulang dilakukan pada penyakit
mieloproliferatif untuk diagnosis: pada tumor solid untuk pentahapan.
Penanda tumor (zat yang dihasilakan dan disekresi oleh sel tumor dan
ditemukan dalam serum misal CEA, antigen spesifik prostat, alfa-
fetoprotein, HCG, asam fosfat prostat, kalsitonin, antigen ankofetal
pankreas, CA15-3, CA 19-9, CA 125 dan sebagainya) : dapat membantu
dalam mendiagnosiskanker tetapi lebih bermanfaat sebagai prognostik
dan/atau monitor terapeutik.Reseptor esktrogen dan progesteron adalah
esai yang dilakukan pada jaringan payudara untuk memberikan informasi
tentang apakah atau bukan manipulasi hormonal akan terapeutik pada
kontrol penyakit metastatik.Tes kimia skrining : misal elektrolit (natrium,
kalium, kalsium) : tes ginjal(BUN/Cr0: tes hepar (bilirum, AST/SGOT
alkalin fosfat, LDH): tes tulang(alkalin fosfat, kalsium). JDL dengan
diferensial dan trobosit : dapat menunjukananemia, perubahan pada SDM
dan SDP: trombosit berkurang atau meningkat.Sinar X dada : menyelidiki
penyakit paru metastatik atau primer.

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kanker meliputi; pembedahan, kemotherapi
dan radiasiserta medikasi


6. Pengkajian
Pengkajian adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengumpulkan
data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui kebutuuhan perawatan
pasien. pengkajian pada kanker meliputi
a. Aktivitas/istirahat
Kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan
jam kebiasaan tidur pada malam hari: adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur misal, nyeri, ansietas, berkeringat malam,
keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan, pekerjaan atau profesi
dengan pemajanan karsinogenlingkungan, tingkat stres tinggi.
SirkulasiGejala : Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan
kerja.Kebiasaan : Perubahan pada TD.
b. Integritas ego
Gejala : Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara
mengatasi stres (misal, merokok, minium alkohol, menunda
mencari pengobatan, keyakinan relegius/spiritual),
menyangkal diagnosis, perasaan tidak bedaya, putus asa, tidak
mampu, tidak bermakna, rasa bersalah,kehilangan kontrol,
depresi.Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah
c. Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola defekasi misal, darah pada feses, nyeri
pada defekasi, perubahan eliminasi urinaris misal, nyeri atau
rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering
berkemih.Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi
abdomen.
d. Makanan/cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk (misal, rendah serat, tinggi lemak, aditif,
bahan pengawetan), Anoreksia, mual/muntah, Intoleransi
makanan. Tanda :Perubahan pada kelembaban/turgor kulit:
edema.

e. Neourosensori
Gejala : Pusing.
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal
ketidaknyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan
dengan proses penyakit).
g. Pernafasan
Gejala : Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang
yang), pemajanan asbes.
h. Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan
matahari lama/berlebihan.Tanda : Demam, ruam kulit,
ulserasi.
i. Seksualitas
Gejala : Masalah seksual misal dampak pada hubungan, perubahan
pada tingkat kepuasan, Nuligravida lebih besar dari usia 30
tahun, Mulgravida, pasangan seks multipel, aktivitas seksual
dini, Herpes genital.
j. Interaksi social
Gejala : Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung, riwayat
perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan
atau bantuan), masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran.
k. Penyuluhan/pembelajaran.
Gejala : Riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau bibi dengan
kanker payudara, sisi primer: penyakit primer, tanggal
ditemukan/didiagnosis, penyakit metastatik: sisi tambahan
yang terlibat: bila tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan
memberikan informasi penting untuk mencari metastatik,
riwayat pengobatan: pengobatan sebelumnya untuk tempat
kanker dan pengobatan yang diberikan. Pertimbangan rencana
pemulangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat
:tergantung pada sistem khusus yang terkena dan kebutuhan.
Rujuk pada sumber-sumber yang tepat. Memerlukan bantuan
dalam keuangan, obat-obatan/pengobatan, yang diberikan.

7. Diagnosa Keperawatan pada Askep Kanker
a. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
b. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
c. Resiko gangguan Perfusi Jaringan
d. Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
e. Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
f. Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
g. Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di mulut
h. Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
i. Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
j. Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi

8. Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan netropenia
1) Kaji resiko yang dapat terjadi akibat depresi sistem imun:
2) Jenis, dosis, cara pemberian kemoterapi
3) Stressor yang sedang dialami klien dan kemampuan koping yang
dimiliki
4) Kebiasaan kebersihan diri
5) Pola tidur
6) Pola makan
7) Pola eliminasi
8) Riwayat & pemeriksaan fisik
9) Tanda-tanda infeksi: demam, adanya nyeri menelan, nyeri saat
eliminasi, adanya exudat
10) Tanda perdarahan: pusing, adanya perdarahan
11) Tanda anemia: pucat, lemah, sesak nafas saat aktifitas
12) Fungsi pernafasan & suara nafas
13) Laboratorium: DPL
14) Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
15) Lindungi klien dari terpaparnya bakteri
16) Tempatkan klien di ruang isolasi
17) Pasang papan pengumuman di pintu masuk ruang isolasi klien yang
menginformasikan: pengunjung harus cuci tangan sebelum masuk,
pengunjung yang FLU dilarang masuk dan DILARANG membawa
buah, bunga atau sayuran segar ke ruangan klien
18) Pasang papan pengumuman yang menginformasikan TIDAK
BOLEH menginjeksi per-IM dan mengukur suhu per-rektum
19) Rencanakan program kebersihan mulut, mandi sehari sekali, dan
kebersihan area perineum dalam kegiatan perawatan klien
20) Kaji tempat penusukan infus, ganti balutan dengan teknik aseptik 2
hari sekali atau apabila ada tanda-tanda plebitis
21) Hindari tindakan invasif (jika memungkinkan)
22) Cuci tangan sebelum merawat klien, tidak menempatkan petugas
kesehatan yang FLU (atau infeksi lain) atau yang merawat klien yang
terinfeksi di ruang isolasi
23) Lakukan tindakan khusus jika angka neutrofil <500/mm3
24) Kaji terus menerus adanya infeksi pada klien
25) Monitor tanda vital terutama pada peningkatan temperatur
26) Monitor angka lab neutrofil
27) Kaji tanda infeksi seperti kemerahan, adanya peradangan di area
tertentu (mukosa mulut, tempat bekas penusukan suntik/infus, dll)
28) Monitor perubahan warna urin, sputum & feses

Diagnosa 2. Resiko perlukaan berhubungan dengan trombositopenia
1) Lakukan tindakan khusus jika trombosit menurun / meningkat
2) Cegah klien dari trauma dan resiko perdarahan
3) Pasang tanda Dilarang injeksi per IM dan pemberian obat aspirin
4) Minimalkan penusukan vena atau tekan bekas penusukan minimal 5
menit
5) Ajarkan cara sikat gigi dengan sikat gigi lembut, hindari penggunaan
dental floss
6) Pasang pembatas tempat tidur
7) Cegah konstipasi dengan pemberian cairan minimal 3 L/hari
Monitor terjadinya perdarahan
1) Kaji tanda infeksi dini: petekie, ekimosis, epistaksis, darah di feses,
urin, dan muntahan
2) Perubahan tekanan darah ortostatik >10 mmHg atau nadi >100/mnt
3) Monitor hematokrit & trombosit
Lapor dokter jika ada tanda perdarahan
Diskusikan tanda & gejala infeksi yang terjadi ke dokter yang bertanggung
jawab, kolaborasi perlu tidaknya dilakukan pemeriksaan kultur, pemberian
antipiretik & antibiotik

Diagnosa 3. Resiko gangguan Perfusi Jaringan
1) Kaji tanda dan gejala anemia
2) Hematokrit: 31-37% (anemia ringan), 25-30% (anemia sedang),
<25%>
3) Tanda anemia ringan: pucat, lemah, sesak ringan, palpitasi, berkeringat
dingin; anemia sedang: meningkat tingkat keparahan tanda dari anemia
ringan; tanda anemia berat: sakit kepala, pusing, nyeri dada, sesak saat
istirahat, dan takikardi)
4) Anjurkan klien untuk merubah posisi secara bertahap, dari tidur ke
duduk, dari duduk ke berdiri.
5) Anjurkan latihan nafas dalam selama perubahan posisi.
6) Kaji respon pemberian transfusi, menjadi lebih baik atau tetap.
7) Kaji pula perubahan hematokrit setelah transfusi
8) Kaji adanya ketidak mampuan melakukan aktifitas, dan kebutuhan
klien akan Oksigen
9) Kolaborasikan ke gizi & anjurkan klien untuk mendapatkan diet tinggi
Fe (zat besi)
10) Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Ketidakmampuan melakukan
aktifitas akibat anemia
11) Anjurkan klien untuk meningkatkan frekuensi & kualitas istirahat &
buatkan daftar aktifitas-istirahat
12) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi zat besi seperti hati,
telur, daging, wortel dan kismis

Diagnosa 4. Resiko Gangguan Keseimbangan Cairan
1) Anjurkan klien untuk minum 3L/hari
2) Monitor intake-output tiap 4 jam
3) Kaji frekuensi, konsistensi & volume diare/muntah
4) Kaji turgor kulit, kelembaban mukosa
5) Beri obat antidiare/antimuntah sesuai program
6) Rawat area kulit perineum dengan salep betametasone atau Zinc
7) Beri cairan rehidrasi (cairan fisiologis) per-infus sesuai program

Diagnosa 5. Resiko Gangguan Integritas Mukosa Mulut
1) Kaji & catat kondisi mukosa mulut (lidah, bibir, dinding & langit-
langit mulut) & kaji adanya stomatitis tiap shift. Ajarkan pada klien
cara mendeteksi dini adanya stomatitis
2) Kaji kenyamanan & kemampuan untuk makan & minum
3) Kaji status nutrisi klien
4) Anjurkan & ajarkan klien membersihkan mulut (kumur-kumur) tiap 2
jam
5) Gunakan cairan fisiologis, atau campuran cairan fisiologis dan BicNat
(1 sdt dicampur 800 cc air) tiap 4 jam atau,
6) Gunakan larutan H2O2 dg perbandingan 1 : 4, atau
7) Obat kumur Listerine
8) Anjurkan & ajarkan sikat gigi dan menggunakan dental floss, & tidak
dilakukan jika leukosit <1500/mm3>
9) Anjurkan & jelaskan klien untuk melepas gigi palsu saat kumur-kumur
& saat sedang iritasi mukosa
10) Anjurkan & ajarkan klien untuk melembabkan mulut dengan cara
banyak minum dan menggunakan pelembab bibir
11) Hindarkan makanan yang merangsang (pedas, panas & asam) &
jelaskan pada klien

Diagnosa 6. Resiko Gangguan Rasa Nyaman akibat Stomatitis
1) Berikan (kolaborasi) obat kumur yang mengandung xylocain 2% 10-15
cc per kumur dilakukan tiap 3 jam
2) Kolaborasikan perlunya pemberian analgesic sedang-kuat per
parenteral (mis. Morphin)

Diagnosa 7. Resiko Gangguan komunikasi verbal akibat nyeri di
mulut
1) Kaji kemampuan komunikasi klien
2) Kaji adanya sekret yang kental yang sulit untuk dikeluarkan, anjurkan
minum hangat
3) Sediakan alat komunikasi yang lain seperti papan tulis atau buku jika
klien tidak dapat berkomunikasi verbal
4) Responsif terhadap bel panggilan dari klien

Diagnosa 8. Resiko Gangguan Integritas Kulit Perineum akibat diare
1) Kaji area kulit perineum
2) Anjurkan untuk membersihkan menggunakan sabun lembut saat
membilas sesudah bab
3) Oleskan anastetik topikal K/P
4) Gunakan pampers untuk menjaga keringnya area perineum
5) Intervensi Keperawatan pada Dx Resiko Terjadi Nefrotoksik akibat
Kemoterapi
6) Hidrasi dengan cairan fisiologis 100-150cc/jam atau sampai cairan urin
bening
7) Diuresis dengan furosemid sesuai dg program
8) Ukur pH urin (pH > 7)
9) Cegah dehidrasi dan muntah yang masif
10) Hidrasi pasca kemoterapi minimal 3L/hari
11) Monitor hasil lab ureum, creatinin

Diagnosa 9. Resiko Gangguan Citra Diri akibat Alopesia
1) Kaji resiko terjadi alopesia, obat kemoterapi yang digunakan
2) Jelaskan penyebab dari alopesia dan dampak yang terjadi, yaitu
alopesia terjadi sejenak, dapat tumbuh rambut yang baru
3) Anjurkan klien menceritakan perasaannya
4) Anjurakan klien mencukur rambutnya yang panjang
5) Anjurkan klien mencoba memakai kerudung, wig, topi atau selendang
6) Ikutkan klien pada kegiatan pasien alopesia di RS
7) Ajarkan cara perawatan kulit kepala dengan menggunakan sampoo
baby, sun cream, dll
8) Jika terjadi kerontokan alis & bulu mata, gunakan kacamata hitam &
topi jika bepergian

Diagnosa 10. Resiko Disfungsi Seksual akibat Kemoterapi
1) Bina rasa saling percaya
2) Kaji pengetahuan klien tentang efek penyakit dan pengobatannya pa da
fungsi seksual
3) Ciptakan lingkungan yang nyaman untuk mendiskusikan masalah klien
4) Mendiskusikan strategi menghadapi disfungsi seksual
5) Alternatif pengekspresian seksual
6) Alternatif posisi yang meminimalkan nyeri
7) Melakukan aktifitas seksual saat kondisi tubuh fit
8) Membantu mengetahui perasaan seksual dirinya dan pasangannya
9) Penjelasan dampak kemoterapi pada fungsi seksual
10) Mendiskusikan alternatif pola dalam keluarga
11) Mengajak orangtua klien untuk merawat anaknya
12) Menganjurkan klien yang sulit punya anak untuk adopsi

9. Implementasi
a. Penatalaksanaan Terapi
1) Kaji nyeri dengan menggunakan skala
2) Berikan pengaturan posisi
3) Lakukan diversional, sentuhan, komunikasi terapeutik
4) Pemberian terapi nyeri secara teratur sesuai program
5) Jika ada amputasi, jelaskan adanya nyeri dan yakinkan pada klien
bahwa kondisinya akan normal dan temporer
b. Mengurangi rasa takut dan cemas
1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang diagnosa dan
pembedahan
2) Jelaskan pada klien secara intensif tentang prosedur yang
dilakukan; misalkan ikutkan klien untuk mendengarkan suara
parunya dengan stetoskope bila ada kelainan lain misalnya adanya
metastase ke paru yang mengakibatkan edema paru dan harus
dilakukan fungsi atau WSD (water seal drainage), jelaskan adanya
perbedaan suara paru, yang normal dan abnormal. Ini harus
dijelaskan pada klien bahwa WSD akan dilakukan dengan tujuan
untuk mengurangi rasa sakit di dada atau sesak dan mengeluarkan
cairan.
3) Ajarkan untuk mengekspresikan rasa takut dan cemas secara verbal
4) Ajarkan perawatan sebelum operasi

c. Meningkatkan citra tubuh yang positif
1) Ajarkan pada klien untuk mengekspresikan perasaannya tentang
amputasi
2) Jelaskan gambaran diri yang positif dengan mendiskusikan bahwa
prosthesis permanen akan dilakukan.
3) Libatkan klien dalam perawatan dirinya
4) Ajarkan pada klien untuk berinteraksi dengan orang lain
5) Libatkan keluarga untuk partisipasi dalam perawatan
d. Meningkatkan mobilitas fisik
1) Ajarkan perawatan mandiri
2) Lakukan ambulasi dini dengan alat bantu jalan
3) Siapkan klien untuk banyak melakukan ambulasi dengan terapi
fisik
4) Tingkatkan proses penyembuhan luka dengan nutrisi yang adekuat,
dan jaga kebersihan luka pembedahan secara steril
e. Berikan pengajaran pada klien dan keluarga
1) Kaji tingkat pengatahuan tentang penyakit dan rencana pengobatan
2) Jelaskan semua prosedur untuk persiapan rehabilitasi dengan
protheisis dan chemoterapy
3) Jelaskan persiapan dan pengajaran sebelum operasi

10. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proseskeperawatan yang
digunakan sebagai alat untuk mengukur keberhasilan dari
asuhankeperawatan dan proses ini berlangsung terus menerus yang
diarahkan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.Ada empat masalah
kemungkinan yang dapat terjadi di dalam tahap evaluasiyaitu : Masalah
teratasi seluruhnya, masalah teratasi sebagian, masalah tidak dapat teratasi
dan timbul masalah baru.24

Berdasarkan teoritis maka evaluasi yang akan dicapai adalah:
1) Tidak terjadi kecemasan atau kecemasan teratasi
2) Pasien tidak menun jukan rasa nyeri
3) Tidak terjadi perubahan nutrisi
4) Volume cairan teratasi
5) Pasien dapat menunjukan aktivitas dan terhindardari keletihan
6) Tidak terjadi infeksi selama proses perawatan
7) Kulit utuh dan tidak terdapat infeksi
8) Pengetahuan pasien dan keluarga dapat meningkat

11. Daftar pustaka
1) Noor Helmi, Zairin ,2012,Buku Ajar Muskuloskeletal, Jakarta:
Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai