Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN


Penyakit artritis rematoid merupakan suatu
penyakit yang telah lama dikenal dan tersebar
diseluruh dunia serta melibatkan semua ras
dan kelompok etnik. Artritis rheumatoid sering
dijumpai pada wanita, dengan perbandingan
wanita denga pria sebesar 3 : 1. kecenderungan
wanita untuk menderita artritis reumatoid dan
sering dijumpai remisi pada wanita yang
sedang hamil, hal ini menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah
satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini.
Artritis Reumatoid (AR) salah satu dari beberapa penyakit rematik adalah suatu penyakit
otoimun sistemik yang menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini ditandai oleh peradangan
sinovium yang menetap, suatu sinovitis proliferatifa kronik non spesifik. Dengan berjalannya waktu,
dapat terjadi erosi tulang, destruksi (kehancuran) rawan sendi dan kerusakan total sendi. Akhirnya,
kondisi ini dapat pula mengenai berbagai organ tubuh.
Penyakit ini timbul akibat dari banyak faktor mulai dari genetik (keturunan) sampai pada gaya
hidup kita (merokok). Salah satu teori nya adalah akibat dari sel darah putih yang berpindah dari
aliran darah ke membran yang berada disekitar sendi.
Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang jika
tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif
yang menyebabkan disabilitas bahkan kematian dini. Walaupun faktor genetik, hormon sex, infeksi
dan umur telah diketahui berpengaruh kuat dalam menentukan pola morbiditas penyakit ini
.
hingga
etiologi AR yang sebenarnya tetap belum dapat diketahui dengan pasti.



BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Artritis Reumatoid(Rheumatoid arthritis) is a chronic inflammatory disease with
primary manifestation poliartritis progressive and involve all the organs, jadi merupakan
suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan
melibatkan seluruh organ tubuh. (Mansjour, 2001). Artritis reumatoid adalah suatu penyakit
inflamasi sistemik kronik yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh
kerusakan dan proliferasi membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang
sendi, ankilosis, dan deformitas. (Doenges, 2000 ). Artritis reumatoid adalah suatu penyakit
inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan
seluruh organ tubuh. Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang
menyebabkan proses inflamasi pada sendi ( Burke, 2001).Penyakit reumatik adalah penyakit
inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai
sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris.

B. Anatomi dan Fisiologi
Menurut Dongoes, 2000 Muskuluskeletal terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligament,
tendon, fasia, bursae dan persendian.
1. Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian intra-seluler. Tulang berasal dari
embryonic hyaline cartilage yang mana melalui proses osteogenesis menjadi tulang.
Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut Osteoblast.
Proses mengerasnya tulang akibat menimbunya garam kalsium.
Fungsi tulang adalah sebagai berikut:
a. Mendukung jaringan tubuh dan menbuntuk tubuh.
b. Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak.
c. Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan )
d. Membuat sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hema topoiesis).
e. Menyimpan garam-garam mineral. Misalnya kalsium, fosfor.



Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya :
a. Tulang panjang (femur, humerus ) terdiri dari satu batang dan dua epifisis. Batang
dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.epifisis dibentuk oleh spongi bone
(Cacellous atau trabecular )
b. Tulang pendek (carpalas) bentuknya tidak teratur dan cancellous (spongy) dengan
suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
c. Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri dari dua lapisan tulang padat dengan lapisan
luar adalah tulang cancellous.
d. Tulang yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.
e. Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang
berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon danjaringan fasial,missal
patella (kap lutut)
2. Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan untuk
menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh. Kelompok otot terdiri
dari:
a. Otot rangka (otot lurik) didapatkan pada system skeletal dan berfungsi untuk
memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan sikap dan menghasilkan
panas
b. Otot Viseral (otot polos) didapatkan pada saluran pencernaan, saluran perkemihan
dan pembuluh darah. Dipengaruhi oleh sisten saraf otonom dan kontraksinya tidak
dibawah control keinginan.
c. Otot jantung didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak dibawah control
keinginan.
3. Kartilago
Kartilago terdiri dari serat-serat yang dilakukan pada gelatin yang kuat. Kartilago sangat
kuat tapi fleksibel dan tidak bervascular. Nutrisi mencapai kesel-sel kartilago dengan
proses difusi melalui gelatin dari kapiler-kapiler yang berada di perichondrium (fibros
yang menutupi kartilago) atau sejumlah serat-serat kolagen didapatkan pada kartilago.
4. Ligament
Ligament adalah sekumpulan dari jaringan fibros yang tebal dimana merupakan ahir dari
suatu otot dan dan berfungsi mengikat suatu tulang.

5. Tendon
Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang membungkus setiap
otot dan berkaitan dengan periosteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon
tertentu, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit. Pembungkus ini dibatasi oleh
membrane synofial yang memberikan lumbrikasi untuk memudahkan pergerakan tendon.
6. Fasia
Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung
dibawah kulit sebagai fasia supervisial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan
penyambung yang membungkus fibrous yang membungkus otot, saraf dan pembuluh
darah.bagian ahair diketahui sebagai fasia dalam.
7. Bursae
Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung dari suatu tempat, dimana
digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi pada kulit dan tulang, antara
tendon dan tulang antara otot. Bursae bertindak sebagai penampang antara bagian yang
bergerak sepaerti pada olecranon bursae, terletak antara presesus dan kulit.
8. Persendian
Pergerakan tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak ada.
Kelenturan dimungkinkan karena adanya persendian, tatu letah dimana tulang berada
bersama-sama. Bentuk dari persendian akan ditetapkan berdasarkan jumlah dan tipe
pergerakan yang memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada jumlah pergerakan yang
dilakukan.
Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
a. Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak)
b. Sendi amphiartroses (sendi yang sedikit pergerakannya)
c. Sendi diarthoses (sendi yang banyak pergerakannya)
Perubahan fisiologis pada proses menjadi tua. Ada jangka periode waktu tertentu
dimana individu paling mudah mengalami perubahan musculoskeletal. Perubahan ini
terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja karena pertumbuhan atau perkembangan
yang cepat atau timbulnya terjadi pada usia tua. Perubahan struktur system
muskuloskeletal dan fungsinya sangat bervariasi diantara individu selama proses
menjadi tua. Perubahan yang terjadi pada proses menjadi tua merupakan suatu
kelanjutan dari kemunduran yang dimulai dari usia pertengahan. Jumlah total dari sel-sel
bertumbuh berkurang akibat perubahan jaringan prnyambung, penurunan pada jumlah
dan elasitas dari jaringan subkutan dan hilangnya serat otot, tonus dan kekuatan.
Perubahan fisiologis yang umum adalah:
a. Adanya penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm. pada maturasi
usia tua.
b. Lebar bahu menurun.
c. Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha
C. Penyebab / Etiologi Artritis Reumatoid
Menurut Burke, 2001, penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui
secara pasti. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan
faktor sistem reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti
bakteri, mikoplasma dan virus.
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.














2. Endokrin
3. Autoimmun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi.
Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh
karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe
II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.




D. Manifestasi Klinik Artritis Reumatoid
Ada beberapa gambaran / manifestasi klinik yang ditemukan pada penderita
reumatik. Gambaran klinik ini tidak harus muncul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh
karena penyakit ini memiliki gambaran klinik yang sangat bervariasi.
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, kurang nafsu makan, berat badan menurun
dan demam.
2. Poliartritis simetris (peradangan sendi pada sisi kiri dan kanan) terutama pada sendi
perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi
antara jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendi diartrodial (sendi yang dapat
digerakan dengan bebas) dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapi terutama
menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis
(peradangan tulang dan sendi), yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit
dan selama kurang dari 1 jam.
4. Artritis erosif merupakan merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik.
Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan pengikisan ditepi tulang .
5. Deformitas : kerusakan dari struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit.
Pergeseran ulnar atau deviasi jari, pergeseran sendi pada tulang telapak tangan dan jari,
deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering
dijumpai pada penderita. . Pada kaki terdapat tonjolan kaput metatarsal yang timbul
sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terserang dan
mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan
ekstensi.
6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga
orang dewasa penderita rematik. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah
bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan,
walaupun demikian tonjolan) ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya
nodula-nodula ini biasanya merupakan petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
7. Manifestasi ekstra-artikular (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang organ-organ
lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis, sistem cardiovaskuler dapat
menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodul
rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapat
menyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksi dan
kardiomiopati.



E. Patofisiologi Artritis Reumatoid
Membran syinovial pada pasien reumatoid artritis mengalami hiperplasia,
peningkatan vaskulariasi, dan ilfiltrasi sel-sel pencetus inflamasi, terutama sel T CD4+. Sel T
CD4+ ini sangat berperan dalam respon immun. Pada penelitian terbaru di bidang genetik,
reumatoid artritis sangat berhubungan dengan major-histocompatibility-complex class II
antigen HLA-DRB1*0404 dan DRB1*0401. Fungsi utama dari molekul HLA class II adalah
untuk mempresentasikan antigenic peptide kepada CD4+ sel T yang menujukkan bahwa
reumatoid artritis disebabkan oleh arthritogenic yang belim teridentifikasi. Antigen ini bisa
berupa antigen eksogen, seperti protein virus atau protein antigen endogen. Baru-baru ini
sejumlah antigen endogen telah teridentifikasi, seperti citrullinated protein dan human
cartilage glycoprotein 39.
Antigen mengaktivasi CD4+ sel T yang menstimulasi monosit, makrofag dan
syinovial fibroblas untuk memproduksi interleukin-1, interleukin-6 dan TNF- untuk
mensekresikan matrik metaloproteinase melalui hubungan antar sel dengan bantuan CD69
dan CD11 melalui pelepasan mediator-mediator pelarut seperti interferon- dan interleukin-
17. Interleukin-1, interlukin-6 dan TNF- merupakan kunci terjadinya inflamasi pada
rheumatoid arthritis.
Arktifasi CD4+ sel T juga menstimulasi sel B melalui kontak sel secara langsung dan
ikatan dengan
1

2
integrin, CD40 ligan dan CD28 untuk memproduksi immunoglobulin
meliputi rheumatoid faktor. Sebenarnya fungsi dari rhumetoid faktor ini dalam proses
patogenesis reumatoid artritis tidaklah diketahui secara pasti, tapi kemungkinan besar
reumatoid faktor mengaktiflkan berbagai komplemen melalui pembentukan immun
kompleks.aktifasi CD4+ sel T juga mengekspresikan osteoclastogenesis yang secara
keseluruhan ini menyebabkan gangguan sendi. Aktifasi makrofag, limfosit dan fibroblas juga
menstimulasi angiogenesis sehingga terjadi peningkatan vaskularisasi yang ditemukan pada
synovial penderita reumatoid artritis.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus.
2. Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas.
3. Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
4. LED : Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu
gejala-gejala meningkat
5. Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi.
6. SDP: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi
7. JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang.
8. Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai
penyebab AR.
9. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi
sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang
menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan
osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
10. Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
11. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi
tulang pada sendi
12. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal:
buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk
pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan
komplemen ( C3 dan C4 ).
13. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan
panas.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang
mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6
minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada
foto rontgen.
Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah:
1. Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
2. Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
3. Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu
sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
4. Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
5. Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
6. Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
7. Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
8. Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
9. Pengendapan cairan musin yang jelek
10. Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
11. gambaran histologik yang khas pada nodul.

Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
1. Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
2. Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6
minggu.
3. Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-
kurangnya selama 4 minggu.

G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya :
1. Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis
penyakit ini
2. Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
3. Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan
untuk mempertahankan fungsi sendi pasien
4. Termoterapi
5. Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
6. Pemberian Obat-obatan :
a. Anti Inflamasi non steroid (NSAID) contoh:aspirin yang diberikan pada dosis yang
telah ditentukan.
b. Obat-obat untuk Reumatoid Artitis :
Acetyl salicylic acid, Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik, Anty
Inflamatory)
Indomethacin/Indocin(Analgetik, Anti Inflamatori)
Ibufropen/motrin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Tolmetin sodium/Tolectin(Analgetik Anti Inflamatori)
Naproxsen/naprosin (Analgetik, Anti Inflamatori)
Sulindac/Clinoril (Analgetik, Anti Inflamatori)
Piroxicam/Feldene (Analgetik, Anti Inflamatori)

H. Komplikasi
1. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi di
bawah kulit yang disebut subcutan nodule
2. ada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
3. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli
4. Terjadi splenomegali





BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

A. Data umum
1. Kepala keluarga (KK) : Tn. T
2. umur : 67 th
3. Alamat :RT 13 RW 09 Dusun Kasih Desa Sayang
Kec. Kembar Kab. Purwokerto Jateng
4. Pekerjaan KK :Petani
5. Pendidikan keluarga KK :SD
6. Komposisi keluarga :

N
o
Nama
dan
umur
Jenis
kel
Hub
Kel
KK
Pendi
dikan
Status Imunisasi Ket

B
C
G
Polio DPT Hepatitis
Camp
ak

1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
1. Tn. T L Kakek SMA
2. Tn. M L KK SMA
3. Ny. S P Istri SMP
4. An. A L Anak




Genogram:









Pasien
Atritis
reumatoid

7. Tipe keluarga
keluarga Tn. T merupakan keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, anak,
menantu, serta cucu ( The extended family). Terkadang Tn. T merasa
istirahatnya terganggu karena aktivitas bermain yang dilakukan cucu beserta
teman-temannya.
8. Suku/ bangsa
Tn. T menyatakan bahwa keluarganya merupakan suku jawa dan tinggal di
lingkungan orang-orang yang bersuku jawa. Tn. T berkomunikasi dengan
bahasa Jawa dan bahasia Indonesia baik antara anggota keluarga maupun
kelurga sekitar.
9. Agama
Semua anggota keluarga Tn. T beragama Islam dan menjalankan ibadah sesuai
keyakinan di rumah dan di masjid. Dalam menjalankan perintah agama
keluarga cukup taat dan rajin mengikuti kegiatan keagamaan seperti sholat
jamaah di Musholla, sholat Jumat di Mesjid, acara tahlilan/yasiinan (bapak-
bapak dan ibu-ibu), dan acara keagamaan lainnya.
10. Status social ekonomi keluarga
Penghasilan keluarga Rp. 1.150.000 perbulan di, yang diperoleh dari hasil
pensiunan Tn. T sebesar Rp. 400.000 dan hasil kerja Tn. M sebagai buruh
pabrik sebesar Rp. 750.000. Sedangkan Ny. S tidak menghasilkan uang karena
hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Tn. T memelihara ternak berupa
ayam sebanyak 5 ekor. Pengeluaran perbulan untuk keperluan makan sekitar
Rp. 700.000,- dan sisanya untuk keperluan lain lain seperti membayar
listrik, kebutuhan anak sekolah.
11. Aktivitas rekreasi keluarga
Kegiatan yang dilakukan keluarga setiap hari mereka menonton TV bersama-
sama, dan semua berkumpul menonton TV ketika malam hari. Kadang mereka
berkumpul bersama tetangga atau saudara dekat untuk berbincang-bincang
bersama. Jika memiliki tabungan cukup dan kesehatan yang mendukung
mereka berwisata ke tempat rekreasi terdekat.



B. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini dengan lansia
Tahap perkembangan keluarga Tn. T saat ini adalah keluarga usia lanjut, yang
dimulai pada masa pension dan salah satu atau kedua orang tua meninggal.
Semua anak Tn. T sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri-
sendiri, hanya anak yang terakhir yang tinggal serumah dengannya dan
mempunyai seorang anak yang masih berumur 5 tahun. Menantu Tn. T
bekerja sebagai buruh pabrik.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tidak ada tahap perkembangan keluarga sampai saat ini yang belum
terpenuhi.
3. Riwayat kesehatan inti
- Tn. T mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan. Tn. T mengatakan
beberapa minggu ini sering merasa linu di persendian kakinya sehingga
kaku untuk berjalan, ketika bangun pagi kakinya merasa senut-senut (nyeri)
dan berat untuk berjalan. Tn. T mengatakan pernah hampir jatuh karena
kakinya merasa tidak kuat menopang badannya.
- Anak Tn. T (Ny. S) tidak memiliki masalah kesehatan.
- Menantu Tn. T (Tn. M) mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan
dan tidak memiliki masalah kesehatan
- Cucu Tn. T (An. A) tidak mempunyai masalah kesehatan
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumya
Tn. T mengatakan istrinya (Ny . S) meninggal dunia karena penyakit kanker
payudara, Ny. S (anak dari Tn. T) mengatakan Ayah mertuanya memiliki
riwayat diabetes. Keluarga dari pihak Tn. M saat ini hubungannya baik,
minimal setiap minggu bersilaturahmi, tidak ada konflik dengan keluarga.

C. Data lingkungan
1. Karakteristik rumah
Lantai rumah Tn. T terbuat dari semen, kecuali dapur lantainya masih berupa
tanah, Lantai dapur tampak licin dan lembab. Atap rumah dari genting.
Ventilasi ada beberapa yaitu : di ruang tamu ada jendela, di ruang keluarga, di
2 kamar tidur dan 2 kamar kosong, serta dapur. Ventilasi masih terlalu sempit,
< 10 m luas lantai. Kamar tamu ada sebuah lampu neon 20 watt, ruang
keluarga terdapat bola lampu 15 watt, masingmasing kamar dan dapur
terdapat lampu pijar 10 watt.
Sumber air keluarga berasal dari sumur gali yang telah dipasang pompa air,
kualitas air tergantung musim, pada musim hujan warna air keruh kekuning-
kuningan, pada musin kemarau warna air agak bening, kadang-kadang air agak
berbau. Sumber air minum keluarga menggunakan air sumur yang ditampung
dan diendapkan dalam tong. Jarak septictank dengan sumur 8 meter.
Keluarga mengatakan membuang air limbah keluarga langsung ke kolam
dibelakang rumah dengan membuat saluran yang menuju ke kolam
penampungan. Untuk pembuangan sampah dilakukan penampungan dulu di
ember sampah kemudian di pindah dan di bakar di dalam lubang di samping
rumah. Untuk sarana penerangan keluarga Tn. T menggunakan listrik
semuanya. Di belakang rumah terdapat kolam penampungan limbah keluarga
beserta ikan lele peliharaan, dan terdapat kandang ayam.
Denah rumah :










2. Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Rumah Tn. T berada di wilayah kelurahan yang mayoritas penduduk
sekitarnya adalah petani. Sarana jalan tersebut belum diaspal. Sarana
kesehatan di lingkungan tersebut berupa bidan desa. Di dekat rumah Tn. T 7
meter terdapat masjid. Tetangga Tn. T mayoritas beragama islam serya
memiliki sifat kebersamaan serta menganut adat jawa, misalnya selamatan,
yasinan setiap malam jumat, dll. Jika ada kegiatan sosial kemasyarakatan
biasanya diumumkan melalui pengeras suara yang ada di musholla atau
mesjid.
3. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. T Keluarga jarang bepergian ke tempat-tempat yang jauh.
Kegiatan rutin Tn. T adalah pergi ke sawah untuk sekedar melihat-lihat, sawah
tersebut tidak jauh dari rumahnya (sekitar 1 km), aktivitas lainnya menonton
TV dan mengikuti kegiatan keagamaan. Tempat tinggal keluarga juga tidak
berpindah pindah. Keluarga Tn.T yang lain berada di sekitar tempat
tinggalnya (masih satu desa).
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn. T mengatakan setiap hari raya semua anak-anak dan keluarga
Tn. T berkumpul di rumah. Saudara-saudara Tn. T yang berada di sekitar
rumah sering datang berkunjung. Tn. T dan keluarganya rutin mengikuti
kegiatan, seperti pengajian.
5. System pendukung
Tn. T memiliki keluarga yang berada di sekitar rumahnya sehingga sewaktu-
waktu dapat dimintai bantuan. Tn. T memiliki ASKES. Jika sakit biasanya
keluarga Tn. T dibawa ke Bidan, dan jika perlu rujukan ke Puskesmas yang
berjarak 5 meter dari rumah.

D. Struktur keluarga
1. Struktur peran ( Formal dan Informal )
- Tn. T berperan sebagai kepala keluarga, seorang ayah ayah dan kakek. Tn.
T juga sering mengasuh cucunya jika kedua anaknya sibuk atau ada
keperluan.
- Tn. A berperan sebagai anak (menantu), suami, dan bapak.
- Ny. S berperan sebagai anak, istri, dan ibu.
- An. A berperan sebagai anak, An. A belum menyadari dan menjalankan
perannya karena masih kecil.
2. Nilai atau norma keluarga
Tn. T mengatakan ia terbiasa menanamkan pada anak-anaknya sikap hormat-
menghormati dan menyayangi antar keluarga dan dengan tetangga. Keluarga
Tn. T menganut agama Islam, dalam kehidupan keseharian menggunakan
keyakinan sesuai syariat islam. Keluarga Tn. T menganut norma atau adat
yang ada di lingkungan sekitar misalnya takziah atau menjenguk tetangga
yang sakit. Disamping itu keluarga menganut kebudayaan Jawa, norma yang
dianut juga kebudayaan jawa. Dalam kebiasaan keluarga Tn. T tidak ada yang
bertentangan dengan kesehatan.
3. Pola komunikasi keluarga
Keluarga Tn. T dalam berkomunikasi menggunakan bahasa jawa dan bahasa
Indonesia. Komunikasi antar anggota lancar dan tidak ada konflik dalam
keluarga. Dalam keluarga mempunyai kebiasaan berkomunikasi setiap malam
ketika menonton TV, keluarga bertukar pendapat dan menceritakan hal-hal
yang terjadi dalam keluarga.
4. Sruktur kekuatan keluarga
Dalam keluarga Tn. T adalah penentu keputusan terhadap suatu masalah
karena Tn. T dianggap sebagai orang yang paling tua dan sebagai kepala
keluarga. Untuk anak-anak yang telah berkeluarga keputusan diserahkan
kepada keluarga masing-masing, tetapi anak-anaknya juga sering meminta
pendapat Tn. T. keluarga Tn. T sangat menyayangi dan menghargai Tn. T,
apabila Tn. T sakit keluarga langsung mengantarkannya berobat, anak-
anaknya juga mengingatkannya untuk minum obat jika Tn. T lupa.

E. Fungsi keluarga
1. Struktur ekonomi
Penghasilan keluarga Rp. 1.150.000 perbulan, yang diperoleh dari hasil
pensiunan Tn. T sebesar Rp. 400.000 dan hasil kerja Tn. M sebagai buruh
pabrik sebesar Rp. 750.000. Sedangkan Ny. S tidak menghasilkan uang karena
hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Tn. T memelihara ternak berupa
ayam sebanyak 5 ekor. Pengeluaran perbulan untuk keperluan makan sekitar
Rp. 700.000,- dan sisanya untuk keperluan lain lain seperti membayar
listrik, kebutuhan anak sekolah.
2. Fungsi sosialisasi
Tn. T mengatakan interaksi antar anggota keluarga dapat berjalan dengan baik.
keluarga Tn. T menganut kebudayaan jawa. Keluarga Tn. T berusaha untuk
tetap memenuhi aturan yang ada keluarga, misalnya saling menghormati dan
menghargai. Keluarga juga mengatakan mengikuti norma yang ada di
masyarakat sekitar, sehingga dapat menyesuiakan dan berhubungan baik
dengan para tetangga atau masyarakat sekitar.
3. Fungsi pemenuhan (perawat/ pemeliharaan) kesehatan
1) Mengenal masalah kesehatan
Keluarga mengatakan mengetahui penyakit di keluarganya tetapi tidak
mengetahui sama sekali apa penyebabnya. Keluarga Tn. T mengatakan
hanya sedikit mengetahui tentang tanda dan gejala, serta tidak mengetahui
apa-apa saja yang harus dihindari untuk mencegah terjadinya penyakit
pada Tn. T. Tn.
2) Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Keluarga mengatakan linu pada sendi kaki yang diderita oleh Tn. T
merupakan sakit yang biasa diderita oleh orang tua. Keluarga terus
mengingatkan kepada Tn. T untuk tidak banyak melakukan aktivitas dan
beristirahat saja.
3) Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
Jika ada keluarga yang sakit, hal pertama yang dilakukan adalah
mengerokinnya dan jika sakitnya berlarut segera dibawa ke Bidan atau ke
Puskesmas terdekat.
4) Kemampuankeluarga memelihara/ memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat
Keluarga mengatakan tiap hari selalu membersihkan lingkungan rumahnya
(menyapu, mengepel), sistem pembuangan limbah keluarga langsung ke
saluran kolam di belakang rumah, pembuangan sampah ditampung
sementara di ember sampah kemudian di bakar di lubang pembakaran
setiap dua hari sekali.
5) Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Keluarga Tn. T mengatakan jika ada keluarga yang sakit segera dibawa ke
Bidan, dan jika perlu rujukan dibawa ke Puskesmas terdekat. Tn. T
seringkali tidak mau dibawa ke pelayanan kesehatan kecuali benar-benar
dirasa parah.
4. Fungsi reproduksi
Tn. T memiliki tiga orang anak yang sudah menikah semua. Ny. S dan Tn. A
memiliki satu orang anak, Ny. S menggunakan alat kontrasepsi berupa pil
untuk mengatur jarak anak selanjutnya.
5. Fungsi afektif
Keluarga Tn. S mengatakan berusaha memelihara keharmonisan antar anggota
keluarga, saling menyayangi, dan menghormati. Keluarga Tn. T sangat
harmonis, rukun dan tentram. Apabila ada anggota yang membutuhkan atau
sakit maka keluarga yang lain berusaha membantu.

F. Stress dan koping keluarga
1. Stressor jangka panjang dan jangka pendek
- Stresor jangka pendek
Keluarga Tn. MS mengatakan pernah mengalami stres ketika Ny. S (istri
Tn. T) meninggal dunia karena kanker payudara, namun hal tersebut tidak
berlangsung lama karena keluarga sudah mengikhlaskannya. Hal-hal lain
yang menimbulkan stress dalam keluarga segera dapat diatasi.
- Stresor jangka panjang
Keluarga Tn. MS mengatakan hampir tidak pernah mengalami stres baik
itu stes jangka panjang ( > 6 bulan ).
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Pemecahan masalah dalam keluarga Tn. T biasanya dengan cara musyawarah
antar anggota keluarga, kadang juga melibatkan anaknya. Dalam menentukan
pengobatan yang harus dijalani salah satu anggota keluarga, Tn. A pengambil
keputusan karena Tn. A yang dianggap mampu dan memiliki fisik yang kuat.
3. Startegi adaptasi disfungsional
Dalam menghadapi suatu permasalahan keluarga Tn. MS biasanya
mengkonsentrasikan pada bagaimana cara pemecahan masalah tersebut.
Sehingga keluarga tidak terganggu dalam melakukan pekerjaan keseharian.

G. Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga
a. Tn T
Tekanan Darah : 130/100 mmHg
Berat Badan : 57 kg
Tinggi Badan : 160 cm
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20x/mnt
Termometer : 36,5 C
Kekuatan otot : 5 5 4 3
Skala nyeri : 6

b. Tn A
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Berat Badan : 59 kg
Tinggi Badan : 163 cm
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20x/mnt
Termometer : 36,3 C
Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan

c. Ny. S
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Berat Badan : 52 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20x/mnt
Termometer : 36,5 C
Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan.

d. An. A
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Berat Badan : 25 kg
Tinggi Badan : 65 cm
Nadi : 80 x/mnt
RR : 20x/mnt
Termometer : 36,5 C
Keadaan fisik tidak menunjukan adanya kelainan

H. Harapan keluarga
Keluarga sangat berharap agar masalah kesehatan yang terjadi di
dalam keluarga dapat teratasi atas bantuan dari pertugas kesehatan.

I. Pengkajian Lansia
1. Identitas klien
Nama : Tn. T
Tempat dan tanggal lahir : Purwokerto, 7 juli 1947
Pendidikan terakhir : SD
Agama : Islam
Status perkawinan : Duda
TB/BB :160cm / 57 kg
Penampilan umum : Rambut beruban, kulit sawo matang, mata sipit
Ciri-ciri tubuh : Ada tahi lalat di dahi Tn. T
Alamat : RT 13 RW 09 Dusun Kasih Desa Sayang
Kec. Kembar Kab. Purwokerto Jateng

Orang yang dekat dihubungi : Tn. M
Hubungan dengan klien : Anak

2. Riwayat pekerjaan
Dahulu klien pernah bekerja sebagai seorang penjual dipasar.
3. Riwayat lingkungan hidup
Kebersihan : lingkungan temapat tinggal di daerah kumuh yang sistem sanitasinya tidak
baik
Bahaya : rentan terhadap penyakit kulit dan diare
Polusi : terhadap air
4. Riwayat Rekreasi
Sebelum sakit : jika klien merasa bosan dirumah, klien akanjalan-jalan disekitar rumah.
Selama sakit : pasien hanya dirumah saja karena pergerakannya terbatas.
5. Sistem pendukung yang digunakan
6. Deskripsi kekhususan / kebiasaan ritual
Sebelum dan selama sakit pasien rutin beribadah sesuai kepercayaannya.
7. Status kesehatan masa kini
Alasan Kunjungan/Keluhan Utama :
Nyeri dan kaku di bagian sendi jari-jari tangan dan pergelanggan tangan rasa seperti di tusuk-
tusuk, sulit digerakan.
Faktor Pencetus :
Aktivitas dan pola makan pasien yang tidak teratur.
Lamanya Keluhan : 4 hari
Timbulnya Keluhan : ( ) bertahap
() mendadak
Faktor yang memperberat : Pasien tidak pernah melakukan pantangan
Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya :
Menggunakan obat herbal.
Oleh orang lain Memberi saran
Diagnosa Medik :
Artritis Reumatoid Tanggal :04 April 2011
8. Status kesehatan masa lalu
Penyakit yang pernah dialami :
1.Kanak Kanak : Diare
2.Kecelakaan : Tidak
3.Pernah dirawat penyakit waktu

9. ADL ( activity daily living )
Persepsi klien :
Hal yang amat dipikirkan saat ini :
pasien berharap segera sembuh agar dapat kembali beraktivitas secara normal
Harapan setelah menjalani perawatan :
lebih memperhatikan kebersihan lingkungan
Perubahan yang dirasa setelah sakit :
badan terasa lemah, nyeri saat tangan digerakan dan merasa tidak nyaman.

10. Tinjauan sistem
Tanda-tanda Vital
- Suhu tubuh : 37
0
C
- Denyut Nadi : 60 kali /menit
- Pernafasan : 18 kali /menit
- Tekanan Darah : 90/70 mmHg


Kepala, Mata, Kuping, Hidung & Tenggorokan
Kepala : bentuk : simetris dan oval
Keluhan yang berhubungan : tidak ada
Pusing/sakit kepala : tidak

M a t a : Ukuran pupil 5 mm Isokor: baik
Reaksi terhadap cahaya : pupil mengecil
Akomodasi : baik
Bentuk : simetris
Konjunctiva : merah pucat
Fungsi penglihatan : baik
- Baik/kabur/tidak jelas : baik
- Dua bentuk: tidak
- Rasa sakit : tidak
Tanda-tanda radang tidak ada
Pemeriksaan mata terakhir : setahun yang lalu
Operasi tidak
Kaca mata : menggunakan kaca mata plus
Lensa Kontak pasien tidak menggunakan lensa kontak

Hidung : Reaksi Alergi : bersin bila berdebu
Cara mengatasinya dibiarkan saja
Pernah mengalami flu : Pasien pernah mengalami
influensa
Bagaimana frekwensinya dalam setahun sering

Sinus normal perdarahan tidak ada

Mulut & Tenggorokan : Gigi geligi Kerusakan gigi pada molar 3 dan 2 superior
dekstra
Kesulitan/gangguan berbicara tidak
Kesulitan menelan tidak
Pemeriksaan gigi terakhir tidak pernah

Pernafasan : Suara paru : Bronkhial
Pola Nafas : Vesikuler Batuk kadang-kadang
Sputum:tidakada Nyeri:tidak ada
Kemampuan melakukan aktifitas normal
Batuk darah tidak
Rontgen Foto terakhir tidak dilakukan Hasil tidak ada

Sirkulasi : Nadi Perifer:70 kali/detik
Capilary Refilling : 3 detik
Distensi Vena Jugularis Tampak
Suara Jantung tunggal
Suara Jantung tambahan Tidak ada
Irama jantung (monitor) Tidak dilakukan
Nyeri : pada bagian sendi jari Edema : ada
Palpitasi Tidak ada Baal: tidak
Perubahan warna (kulit, Kuku, Bibir, dll) :Ekstremitas atas (sendi-
sendi pada digiti manus)
nyeri dan sulit di
gerakkan.
Clubbing tidak ada
Keadaan Ekstremitas :(mobilitas berkurang)
Syncobe Tidak
Rasa pusing : ada
Monitoring Hemodinamik : CVP Tidak dilakukan mm H2O
Nutrisi : Jenis Diet : tidak ada nafsu makan : berkurang
Rasa mual : sering Muntah : Kadang
Intake Cairan 6-7 gelas/hari
Eliminasi :Pola rutin Normal
(b.a.b) Penggunaan Laxan Tidak diterapkan
Colostomy Tidak diterapkan
Ileostomy Tidak diterapkan
Konstibasi tidak diterapkan
Diare Kadang-kadang
(b.a.k) Inkontinensia
Infeksi Tidak ada
Nematuri -
Catheter Tidak diterapkan
Urine Output > 2000 ml
Reproduksi : Kehamilan Tidak
Buah dada normal sesuai umur, Perdarahan tidak ada
Pemeriksaan Pap Smear terakhir
Hasil tidak ada
Keputihan tidak ada
Pemeriksaan Sendiri
Prostat
Penggunaan Kateter tidak ada

Neurologis : Tingkat kesadaran sadar
Orientasi : pasien dapat berorientasi terhadap waktu
Koordinasi : pasien dapat berkoordinasi dengan anggota
gerak tubuh
Pola tingkah laku normal
Riwayat epilepsi/kejang/parkinson tidak ada
Refleks tidak ada
Kekuatan menggenggam : pasien sulit menggenggam karna pengaruh
penyakit
Pergerakan Ekstremitas : ekstremitas atas ( digiti manus) pasien
terasa kaku
Muskuloskeletal : Nyeri pada bagian digiti manus dan pergelanggan tangan
Kekakuan pergelanggan tangan
Pola latihan gerak
Kulit : Warna : kemerahan pada sendi digiti manus
Integritas : kering
Turgor : jelek

Data Laboratorium
Laboratorium :
Tes serologi (diagnostik imunologis):
ESR : meningkat
FR : >1:80 Positif (80%)
JDL : Anemia sedang
LED: 85 mm/h

11. Pengkajian status fungsional
Untuk mengukur kemampuan lansia untuk melakukan aktivitas sehari hari secara mandiri diukur
dengan INEKS KATZ

SKORE KRITERIA

A

Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil, berpakaian
dan mandi

B

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari fungsi
tersebut

C

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, dan satu
fungsi tambahan

D

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian
dan satu fungsi tambahan

E

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian,
kekamar kecil dan satu fungsi tambahan

F

Kemandirian dalam semua aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi, berpakaian,
kekamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan

G


Ketergantungan pada ke enam fungsi tersebut

Lain-lain

Tergantung pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat di klasifikasikan sebagai
C, D, E atau F


12. Status kognitif dan efektif
Pengkajian Status Mental Gerontik
Mengidentifikasi kerusakan intelektual menggunakan Short Portable Mental Status Questioner
(SPSMQ) untuk mendeteksi adanya dan tingkatan kerusakan intelektual, terdiri 10 hal yang
mengetes orientasi, memori dalam hubungannya dengan kemampuan perawatan diri, memori
jauh, kemampuan matematis.
SKOR
E

+ - No. PERTANYAAN JAWABAN
1. Tanggal berapa hari ini ? Hari Tgl Th
2. Hari apa sekarang ini ?
3. Apa nama tempat ini ?
4. Berapa nomor telpon Anda ?
4.a. Dimana alamat Anda ?
(tanyakan bila tidak memiliki telpon)

5. Berapa umur Anda ?
6. Kapan Anda lahir ?
7. Siapa Presiden Indonesia sekarang ?
8. Siapa Presiden sebelumnya ?
9. Siapa nama kecil ibu Anda ?
10. Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap
angka baru, semua secara menurun ?

Jumlah Kesalahan Total

KETERANGAN :
1. Kesalahan 0 2 Fungsi intelektual utuh
2. Kesalahan 3 4 Kerusakan intelektual Ringan
3. Kesalahan 5 7 Kerusakan intelektual Sedang
4. Kesalahan 8 10 Kerusakan intelektual Berat

Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan bila subyek hanya berpendidikan SD
Bisa dimaklumi bila kurang dari 1 (satu) kesalahan bila subyek mempunyai pendidikan lebih
dari SD
Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 (satu) kesalahan untuk subyek kulit hitam, dengan
menggunakan kriteria pendidikan yang lama.
13. Pengkajian status sosial
Stastus sosial dapat diukur dengan menggunakan APGAR keluarga. Penilaian jika pertanyaan-
pertanyaan yang dijawab selalu 2 point.
APGAR KELUARGA
No Fungsi Uraian skore
1 Adaptasi Saya puas bahwa saya dapat kembali pada
keluarga (teman teman) saya untuk
membantu pada waktu sesuatu menyusahkan
saya
2
2 Hubungan Saya puas dengan cara keluarga (teman
teman) saya membicarakan sesuatu dengan
saya dan mengungkapkan masalah dengan saya
2
3 Pertumbuhan Saya puas bahwa keluarga (teman teman)
saya menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan aktivitas atau arah baru
2
4 Afeksi Saya puas dengan cara keluarga (taman
teman) saya mengekspresikan afek dan
berespon terhadap emosi emosi saya, seprti
marah, sedih, atau mencintai
2
5 Pemecahan Saya puas dengan cara temen temen saya dan
saya menyediakan waktu bersama sama
2

II. Diagnosa Keperawatan Keluarga
a. Analisa Dan Sintesa Data
No Data Penunjang Masalah Etiologi
1.




DS :
- Tn. T mengatakan sering
merasa linu di persendian
kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika
bangun pagi kakinya merasa

Resiko Jatuh



Reumathoid,
lantai yang licin,
ketidakmampuan
keluarga
merawat anggota
yang sakit.
senut-senut (nyeri) dan berat
untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah
hampir jatuh karena kakinya
merasa tidak kuat menopang
badannya

DO :
- Tn. T berumur 67 tahun
- TD 130/100 mmHg
- Kekuatan otot 5 5
4 3
- Skala nyeri 6
- Lantai tanah yang berada di
dapur tampak licin dan
lembab

DS :
- Keluarga mengatakan
mengetahui penyakit di
keluarganya tetapi tidak
mengetahui sama sekali apa
penyebabnya. Keluarga Tn. T
mengatakan hanya sedikit
mengetahui tentang tanda dan
gejala, serta tidak mengetahui
apa-apa saja yang harus
dihindari untuk mencegah
terjadinya penyakit pada Tn.
T. Tn.
- Jika ada keluarga yang sakit,
hal pertama yang dilakukan
adalah mengerokinnya dan
jika sakitnya berlarut segera
dibawa ke Bidan atau ke
Puskesmas terdekat
- Tn. T mengatakan tidak ada

Kurang
pengetahuan,
ketidak tahuan
tentang penyakit

Kurang
informasi dan
keterbatasan
kemampuan
mencapai
informasi,
ketidakmampuan
keluarga
mengenal
masalah
kesehatan
pantangan makanan

DO :
- Keluarga tidak bisa
menjawab pertanyaan tentang
pengertian penyakit,
pencegahan, perawatan dan
pengobatannya
- Tn. T bertanya apa saja
makanan yang harus dihindari
agar tidak sakit, Tn. T tampak
bingung
DS :
- Tn. T mengatakan sering
merasa linu di persendian
kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika
bangun pagi kakinya merasa
senut-senut (nyeri) dan berat
untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah
hampir jatuh karena kakinya
merasa tidak kuat menopang
badannya

DO:
- Skala nyeri sedang (6)
- Klien tampak perlahan-lahan
saat berjalan karena menahan
nyeri.
- Klien tampak lambat dalam
berjalan.

Hambatan
mobilitas fisik
Nyeri, gangguan
muskulus
skeletal, kaku
sendi (AR).
- Tingkat funsional klien 0,
namun kadang-kadang 1
DS :
- Tn. T mengatakan sering
merasa linu di persendian
kakinya sehingga kaku untuk
berjalan
- Tn. T mengatakan ketika
bangun pagi kakinya merasa
senut-senut (nyeri) dan berat
untuk berjalan.
- Tn. T mengatakan pernah
hampir jatuh karena kakinya
merasa tidak kuat menopang
badannya
DO:
- skala nyeri sedang (6)
- Klien tampak perlahan-lahan
saat berjalan karena menahan
nyeri
Nyeri Agen cedera
fisik ( rematik)

b. Perumusan Diagnosa Keperawatan Keluarga
No Diagnosa Keperawatan
1 Resiko jatuh b.d Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga
merawat anggota yang sakit.
2 Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi
dan keterbatasan kemampuan mencerapai informasi, ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah kesehatan.





c. Prioritas Masalah
1. Resiko jatuh b.d Reumathoid, lantai yang licin, ketidakmampuan keluarga
merawat anggota yang sakit.
KRITERIA SKORE PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
2/3 x 1 = 2/3 Tn. T dan keluarga
mengetahui bahwa Tn. T
memiliki penyakit linu
pada kakinya dan pernah
hampir jatuh.
Kemungkinan masalah
dapat diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1 Keluarga mengatakan Tn.
T sering tidak mau diajak
ke tempat pelayanan
kesehatan, kecuali benar-
benar parah. Tn. T
merasa masih dapat
beraktivitas sehingga
sering tidak mau dibantu
dalam beraktivitas.
Potensial masalah untuk
dicegah (bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
3/3 x 1 = 1 Keluarga mengatakan
jika Tn. T tidak banyak
melakukan aktivitas dan
banyak beristirahat maka
penyakit Tn. T dapat
terminimalisir.
Menonjolnya masalah
(bobot 1)
2 : Berat, segera ditangani
1 : Tidak perlu segera
ditangani
0 : tidak dirasakan
0/2 x 1 = 0 Keluarga mengatakan
hanya satu kali Tn. T
pernah hampir jatuh dan
Tn. T sudah bisa
mengimbangkan
tubuhnya untuk berjalan
walaupun lambat.
Total 2 2/3
2. Kurang pengetahuan, ketidaktahuan tentang penyakit b.d Kurang informasi dan
keterbatasan kemampuan mencerapai informasi, ketidakmampuan keluarga
mengenal masalah kesehatan
KRITERIA SKORE PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
2/3 x 1 = 2/3 - Tn. T mengatakan
sering merasa linu di
persendian kakinya
sehingga kaku untuk
berjalan. Ketika
bangun pagi kakinya
merasa senut-senut
(nyeri) dan berat
untuk berjalan. Tn. T
pernah hampir jatuh
karena kakinya
merasa tidak kuat
menopang badannya
Kemungkinan
masalah dapat
diubah (bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
2/2 x 2 = 2 Keluarga Tn. T
mengatakan jika ada
anggota keluarga
yang sakit segera
dibawa ke Bidan atau
Puskesmas terdekat,
namun belum ada
pertugas yang
menjelaskan
bagaimana
penyakitnya.
Potensial masalah
untuk dicegah
(bobot 1)
3 : Tinggi
2 : Cukup
2/3 x 1 = 2/3 Tn. T mengatakan
sudah mulai
mengurangi
aktivitasnya agar
penyakitnya tidak
1 : Rendah bertambah parah, Tn.
T belum tahu
makanan apa yang
harus dihindari.
Menonjolnya
masalah (bobot 1)
2 : Berat, segera
ditangani
1 : Tidak perlu
segera ditangani
0 : tidak dirasakan
2/2 x 1 = 1 Tn. T mengatakan
penyakitnya
mengganggu
aktivitas geraknya
sehingga
menyusahkan
keluarga yang lain.
Total 3 4/3

3. Hambatan mobilitas fisik b.d Nyeri, gangguan muskulus skeletal, kaku sendi,
gangguan sensori perseptual.
KRITERIA SKORE PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
3/3 x 1 = 1 Tn. T mengatakan Tn. T
mengatakan penyakitnya
mengganggu aktivitas
geraknya sehingga
menyusahkan keluarga
yang lain.
Kemungkinan
masalah dapat diubah
(bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1 Keluarga Tn. T
mengatakan Tn T sudah
bisa menyeimbangkan
badannya walaupun
dengan gerakan yang
lambat.
Potensial masalah
untuk dicegah (bobot
1)
3 : Tinggi
2/3 x 1 = 2/3 Tn. T mengatakan
aktivitasnya terganggu.
2 : Cukup
1 : Rendah
Menonjolnya masalah
(bobot 1)
2 : Berat, segera
ditangani
1 : Tidak perlu segera
ditangani
0 : tidak dirasakan
2/2 x 1 = 1 Tn. T mengatakan capek
dengan penyakitnya yang
tidak sembuh-sembuh
dan mengganggu
geraknya sehingga
menyusahkan keluarga.
Total 3 2/3

4. Nyeri b.d agen cedera fisik (rematik)

KRITERIA SKORE PEMBENARAN
Sifat masalah
(bobot 1)
Skala :
3 : Aktual
2 : Resiko
1 : Sejahtera
3/3 x 1 = 1 Tn. T mengatakan ketika
bangun pagi kakinya
merasa senut-senut
(nyeri) dan berat untuk
berjalan
Kemungkinan
masalah dapat diubah
(bobot 2)
Skala :
2 : Mudah
1 : Sebagian
0 : Tidak dapat
1/2 x 2 = 1 Tn. T mengatakan
nyerinya ketika bangun
pagi tidak hilang-hilang,
padahal sudah minum
obat dari warung.
Keluarga mengatakan Tn.
T sering tidak mau diajak
ke tempat pelayanan
kesehatan, kecuali benar-
benar parah.
Potensial masalah
untuk dicegah (bobot
1)
3/3 x 1 = 1 Tn. T mengatakan
sakitnya tidak bertambah
parah jika banyak
3 : Tinggi
2 : Cukup
1 : Rendah
beristirahat.
Menonjolnya masalah
(bobot 1)
2 : Berat, segera
ditangani
1 : Tidak perlu segera
ditangani
0 : tidak dirasakan
2/2 x 1 = 1 Tn. T mengatakan
sakitnya mengganggu
aktivitasnya, kadang Tn.
T tidak tahan dengan
senut-senutnya.
Total 4

Maka prioritas masalahnya sebagai berikut :
No Diagnosa Keperawatan Skore
1 Nyeri b.d Agen cedera fisik (rematik). 4
2 Kurang pengetahuan, ketidak tahuan tentang penyakit b.d
Kurang informasi dan keterbatasan kemampuan mencerapai
informasi, ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan.
3 4/3



III. Rencana Asuhan Keperawatan
No
Dx
Tujuan Kriteria Intervensi
1 Setelah dilakukan
perawatan selama
5 hari, Tn. T
mengalami
penurunan rasa
nyeri atau dapat
mentolerir rasa
nyeri dengan
kriteria :
1. Klien memahami
Diharapkan pasien
dapat mengetahui,
mengajarkan, dan
melakukan tindakan
mandiri.
Pain management (1400)
1. Monitor nyeri : lokasi,
karakteristik, durasi,
frekuensi, keparahan dan
faktor presipitasi
2. Observasi respon non verbal
klien saat nyeri terjadi
3. Gunakan komunikasi
terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri klien
4. Jelaskan mekanisme nyeri
mekanisme nyeri
yang terjadi
2. klien mengetahui
dan dapat
memperagakan
teknik distraksi
dan relaksasi
3. klien tidak banyak
mengeluh tentang
nyerinya
yang terjadi pada klien
5. Ajarkan teknik distraksi dan
relaksasi untuk mengurangi
rasa nyeri
6. Berikan support sistem untuk
mentolerir nyeri
7. Libatkan orang terdekat klien
(keluarga) untuk pemberian
support sistem
8. Kolaborasi dalam pemberian
analgetik
9. Kontrol faktor-faktor pemicu
timbulnya nyeri : pembatasan
aktivitas, nutrisi tinggi serat,
minum air putih banyak,
psikis tidak terganggu
10. Identifikasi PQRST sebelum
dilakukan pengobatan
11. Berikan obat analgetik
12. Menganjurkan klien untuk
bergerak perlahan pada setiap
melakukan aktivitas
2 Setelah dilakukan
pendidikan
kesehatan,
keluarga
mengetahui
tentang penyakit
yang diderita
keluarganya (AR),
dengan kriteria
hasil :
- Keluarga dapat
menjelaskan
tentang
pengertian,
penyebab, tanda
dan gejala, serta
Diharapkan keluarga
mampu mengenal
penyakit yang sedang
diderita Tn. T
Teaching : Disease Prosess
(5602)
1. Menilai tingkat pengetahuan
keluarga yang berhubungan
dengan penyakit yang
diderita oleh anggota
keluarga (AR)
2. Menjelaskan pengertian
penyakit (AR)
3. Menjelaskan patofisiologi
penyakit (AR)
4. Menjelaskan tanda dan
gejala yang muncul dari
penyakit yang dialami (AR)
5. Menjelaskan penalaksanaan
atau hal-hal yang harus
penalaksanaan
pada penyakit AR.
- Keluarga dapat
melakukan
perawatan dengan
mengontrol
makanan-makanan
yang harus
dihindari lansia
dihindari
6. Mengidentifikasi
kemungkinan penyebab
terjadinya penyakit
7. Mendiskusikan dengan
keluarga tentang pilihan
terapi yang bisa dilakukan

Dx.
kep
Tujuan Hari/
Tanggal
Implementasi Evaluasi
formatif
umum Khusus
1. Setelah dilakukan
tindakan 1x 24 jam
diharapkan nyeri
pasien berkurang
Pasien mampu
mengetahui,
merawat, dan
melakukan
tindakan
mandiri
Senin, 4
agustus
2014
1. 08.30
2. 09.00
3. 10.00

1.Melakukan
relaksasi
distraksi
2.Memberikan
support sistem
untuk
mentolerir
nyeri
3. 3. Gunakan
komunikasi
terapeutik
untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri klien


Pasien
mengatakan
nyeri sudah
berkurang dan
pasien sudah
mengerti
tentang
penjelasan
yang diberikan
oleh tenaga
kesehatan,.
2. Setelah dilakukan
tindakan 1x 24 jam
diharapkan pasien
mampu
mengetahuipengertian
dari penyakit
reumatik
Diharapkan
keluarga
mampu
mengenal
penyakit yang
sedang diderita
Tn. T
Senin, 4
agustus
2014
1. 10.15
2. 10. 40
3. 10.55
4. 11.15
1.
M1.Menjelaskan
pengertian
penyakit (AR)
3. 2.Menjelaskan
patofisiologi
penyakit (AR)
4. 3.Menjelaskan
tanda dan
gejala yang
muncul dari
penyakit yang
dialami (AR)
5. 4.Menjelaskan
penalaksanaan
Pasien
mengatakan
sudah
mengetahui
tentang
patofisiologi,
tanda dan
gejala dari
penyakit AR
atau hal-hal
yang harus
dihindari
6.






HARI/TANGGAL DX. KEP EVALUASI SUMATIF
Senin, 4 Agustus 2014
11.30













11.
Dx. 1














Dx.2
S : klien mengatakan nyeri
pada kaki sudah berkurang
O: klien dapat
mengendalikan rasa nyeri
pada kakinya dengan
menggunakan bantal.
A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi







S : Klien mengatakan tau
tentang penyakitnya
O: Klien mengatakan lancer
berjalan
A : Masalah terasa sebagian
P : lanjutkan intervensi















PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asuhan Keperawatan mengambarkan dan mencerminkan individualisasi
perawatan yang perawat berikan. Proses-proses keperawatan yang dilakukan
menunjukan pentingnya peranan perawat dalam proses pengobatan dan penyembuhan
pasien. Intervensi yang diberikan haruslah sesuai dengan masalah pasien dan diagnosa
keperawatan yang ada. Akhirnya, dengan penyusunan Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Artritis Reumatoid yang telah dibuat menunjukan dan menjelaskan cara
pembuatan asuhan keperawatan yang benar dalam bentuk teori dan penangganan
langsung kepada pasien. Penanganan langung dan kerjasama yang baik dengan
keluarga pasien dan pasien itu sendiri dapat mempermudah intervensi yang akan
dilakukan. Pemahaman yang benar tentang penyakit ini dapat mempermudah dalam
pembuatan Askep. Dengan mengetahui cara yang benar dalam pembuatan Askep
dapat meningkat keterampilan dan kualitas dari perawat itu sendiri. Askep yang
akurat juga dapat membantu dalam memenuhi syarat akreditasi asuhan keperawatan.

B. SARAN.
Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai proses keperawatan/asuhan
keperawatan khusunya tentang asuhan keperawatan pada pasien bronkitis, dapat
menunjang kita dalam proses pembelajaran pada mata kuliah PKKDM II serta
menjadi pedoman dan bahan pembelajaran dalam melaksanakan profesi kita sebagai
perawat nantinya. Oleh karena itu dengan adanya bahan materi ini diharapakan kita
sebagai mahasiswa mampu mengetahui definisi penyakit artritis reumatoid,
etiologinya, anatomi dan fisiologi, patofisiologi dan patoflow artritis reumatoid,
manifestasi klinik, pemeriksaan diagnosis, terapi penyakit, komplikasi dari penyakit
artritis reumatoid, prognosis dan pencegahan yang dapat dilakukan dalam proses
keperawatan, dapat mengidentifikasi tujuan dalam proses keperawatan, serta dapat
mengetahui contoh bentuk asuhan keperawatan sebelum kita turun ke
lapangan/masyarakat.




DAFTAR PUSTAKA
Bandiah, S. (2009) Lanjut Usia dan Keperawatan gerontik. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Jhonson R. dan Leny R (2010) keperawatan keluarga plus contoh askep keluarga.
Yogyakarta : Nuha Medika.