Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur tubuh. Anatomi dapat
dipelajari melalui tiga cara pendekatan :
1. Anatomi sistematis :
Ilmu anatomi yang mempelajari tubuh sebagai rangkaian berbagai sistem
organ
2. Anatomi regional :
Ilmu anatomi yang mempelajari mengenai daerah tubuh, disebut juga dengan
anatomi topografik.
Memperhatikan aspek struktur dan fungsi tubuh yang penting dalam praktek
kedokteran dan ilmu kesehatan yang terkait.
Pada makalah ini dikhususkan pada bidang kepala dan leher. Tujuan dari
makalah ini adalaha agar para pembaca :
- Mengetahui struktur struktur yang ada pada kepala dan leher
- Mengetahui variasi dalam ukuran, bentuk dan jenis perlekatan otot
- Mengetahui percabangan dari saraf yang terdapat pada daerah kepala dan
leher
- Mengetahui percabangan dari pembuluh pembuluh darah yang terdapat
pada daerah kepala dan leher
- Mengetahui kemungkinan kemungkinan terjadinya penyimpangan
penyimpangan yang terjadi pada daerah kepala dan leher








2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI KEPALA

Dalam kepala terdapat cranium, otak, saraf-saraf otak (nervi craniales),
selaput otak (meninges), dan organ indra khusus.

CRANI UM
Cranium meliputi otak dan meninges (selaput otak), bagian proksimal
saraf-saraf otak, dan pembuluh darah.

Terdiri dari:
Cranial vault
Cranial base
anterior, middle, & posterior
cranial fossae.
Cranial cavity
Orbits
Sinuses
8 cranial bones
2 parietal
2 temporal
Frontal
Occipital
Sphenoid
Ethmoid

Tulang pada kepala
Tengkorak berupa mozaik dari banyak tulang yang membentuk rongga
tengkorak untuk melindungi otak (neurocranium) dan beberapa rongga seperti
cavitas nasi dan oris.
Neurocanium terdiri dari lempeng-lempeng tulang lebar yang terbentuk
langsung dari lembaran jaringan ikat disekitarnya (desmocranium).
Tulang dasar tengkorak (basis cranii) dibentuk dari jaringan tulang rawan
(chondrocranium).
Splanchnocranium/viscerocranium terdiri dari tulang pengunyah dan alat
pendengaran (maxilla, mandibula, tulang-tulang pendengaran, os hyoideum).

3


Gambar 1. Tulang pada kepala


Gambar 2. Batasan (landmark) kepala dan leher.


4

Tulang pada kepala dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu:
Neurocranium (tulang yang melindungi wajah)
Splanchnocranium/viscerocranium (tulang yang membentuk wajah)

Tulang tulang pada Neurocranium (Tulang yang melindungi otak):
Os.occipitale
Os.temporale
Os.sphenoidale
Os.ethmoidale
Os.parietale
Os.frontale

Tulang-tulang Splanchnocranium/ viscerocranium (Tulang yang mem-
bentuk wajah):
Maxila
Mandibula
Os.Zygomaticum
Concha nasalis
Os.nasale
Os.lacrimalis
Os.vomer
Os. Palatina : terletak di antara Neurocranium dan Splanchnocranium

Otot-otot pada kepala
Otot-otot daerah kepala dibagi menjadi dua:
Otot wajah
Otot pengunyahan

1. Otot wajah
Otot wajah terdiri dari:
Origo: Fascia
Insersi: Kulit N.VII/Nervus facialis
5

Pembagian:
1. Otot Scalp (Epicranius): Menutup puncak/samping kepala (Galea
Aponeurotica)
Terdiri dari:
M.Occipitale frontalis
M.Frontalis
o Origo: Galea Aponeurotica, Inseriso: Kulit diatas alis mata
M.occipitalis
o Origo: Linea Nuchae Sup & Pars mastoideos Temp., Insersio:
Galea Aponeurotica

2. Otot Ekstrinsik Telinga:
M.Auricularis ant
o Origo: Pars ant fascia temporalis, Insersio: bagian depan helix
M.Auricularis Sup
o Origo : Pars sup fascia temporalis, Insersio : bagian atas
permukaan cranialis dari auricula
M.Auricularis Post
o origo: Pars mastoidea Os.temporalis, Insersio : bagian bawah
permukaan cranialis dari concha
3. Otot daerah mata:
M.Orbicularis occuli : mengelilingi sela mata terdiri dari:
a. Pars orbitalis: mengelilingi kelopak mata
Origo & insersio: Lig.Palpalpebrale mediale
b. Pars palpebralis : menutup mata (N.VII/nervus facialis)
Origo : Lig.Palpebrale med, Insersio : Lig.palpebrale lat
c. Pars sacci lacrimalis (M.hornerri)
Origo : Crista lacrimale & saccus lacrimalis, Insersio : Pars
palpebralis
M. Levator palpebrae sup : bentuknya segitiga
Origo: permukaan bawah ala parva Os.sphenoidalis
Insersio : berbentuk aponeorosis terbagi 3, yaitu:
6

- Lamela superficcialis
- Lamela medialis
- Lamela profunda
M.corrugator (M.C supercilii)
Origo :Arcus superciliaris
Insersio : Arcus Orbitalis

4. Otot-otot hidung terdiri dari :
M.procerus : (M.pyramidalis nasi )
Origo : Os.nasale
Insersio : kulot dahi bagian bawah antara kedua alis mata
M.nasalia : (M.compressor naris) mengempiskan cuping hidung
o Pars transversa
o Pars alaris
M. Depresor septi (M . depresor alanasi)
Origo : fassa incisiva max
Insersio : septim & alanasi post
M.dilator naris post
Origo : Incisura nasalis max & cartilago alaris minor
Insersio: kulit dekat pinggir lubang hidung
M.dillatoris naris ant:
Origo : Cartilago alaris mayor
Insersio : kulit dekat pinggir lobang hidung

5. Otot-otot sekitar mulut terdiri dari :
a. Bagian atas:
M.levator labii superioris ( M.qudratuss labii superior caput infra
orbitalis )
Origo : margo inf
Insersi: otot bibir antara M.levator anguli oris dengan M.labii superioris
alaeque nasi

7

M.levator labii superioris alaque nasi
Origo : Proc.frontalis Os. Max
Insersio : cartilago alaris mayor serta kulit hidung dan bibir atas dengan
M.levator labii sup
M.levator anguli oris ( M.caninus )
Origo: fossa caninus
Insersio : angulus oris
M.Zygomaticus minor
Origo : facies Os.zygomaticii
Insersio : M.levator labii sup & M.zygomaticus mayor
M.zygomaticus major
Origo : Os.zygomaticus
Insersi : angulus oris
b. Bagian bawah:
M.risorius
Origo : fascia menutup M.masseter
Insersio : kulit disudut mulut
M.depresor labii sup
Origo : linea oblique mandibula
Insersio : kulit bibir bawah/labium inferior
M.depressor anguli oris (M.triangularis)
Origo : Linea oblique mandibula
Insersio: sudut mulut
M. Mentalis ( M.levator menti )
Origo : Fossa incisiva mandibula
Insersio : kulit daerah dagu
M.tranversus mentii
Origo : M.triangularis
Insersi : angulus oris
M.Orbicularis oris
M.buccinator

8

6. Platysma ( M.platysma )
Origo : mandibula kemudian turun kebawah menutupi leher bagian lateral
Insersio : kulit daerah dada melewati clavicula
Innervasi : N.facialis pusatnya di nukleus fasialis



Gambar 3. Otot-otot pada kepala, leher dan wajah.
9


Gambar 4. Otot-otot pada kepala, leher dan wajah.

II. Otot-otot pengunyahan
Otot pengunyahan terdiri dari:
1. M.masseter:
Pars.superficialis
o origo: proc.zygomaticus max
o insersi: angulus mandibula
o fisiologi: menutup rahang
Pars profunda :
o origo: Os.zygomaticum, proc zygomaticus, Os.temporalis
o insersi : angulus mandibula
2. M.pterygoideus externus :
Caput cranial
o origo : crista infratemporalis
o insersi : fovea pterygoidei
o fisiologi: membuka rahang. protectio mandibula, menggerakan
mandibula dari satu sisi ke sisi lain.
10

Caput caudal
o origo : lamina lateralis , procesi pterygoidei
o insersi : capsula dan discus aricularis sendi rahang ( art.temporo
mandibularis )
3. M. pterygoideus Internus
origo: Fossa pterygoidea , tuber maxillare
insersio : angulus mandibulae
fisiologi: menutup rahang
4. M.temporalis
origo : seluruh fossa temporalis, permukaan dalam fase temporalis,
innervasi : N.mandibularis, N.V3 portio minor .

Articulatio Temporomandibularis
Yaitu Merupakan persendian antara basis cranii dan mandibula.
Caput art: Proc.condyloideus
Fossa art: fossa mandibularis & tubercullum articulatio
Pada keadaan mulut tertutup, keadaan discus articulatio pada fossa
mandibularis adalah tipis karena tertekan, terdapat antara caput articularis dengan
tubercullum articularis, terletak di bawah/belakang tubercullum articularis.
Discus akan bergerak kebelakang bila bergeser kedepan sehingga
terganggu untuk meratakan persendian, sebagai bantalan.
Bangunan yang memperkuat Articulatio temporomandibularis:
1. Capsula articularis
2. Lig.temporomandibular
3. Lig.sphenomandibular
4. Lig.stylomandibulare
5. Raphe pterygomandibula

Gerakan pada Articulatio temporomandibularis:
1. Occlusio normal
Deretan gigi atas dan bawah akan bertemu dan saling menekan
2. Protatio (menggeser mandibula ke ventral/depan)
11

Otot-otot yang bekerja: Pterygoideus medialis & lateralis, dihambat
M.temporalis, bagian dorsal dari capsula articularis
3. Depressi (membuka mulut)
Otot-otot yang bekerja: M.pterygoideus lateralis /ext , dibantu Mm.
suprahyoid , Mm infrahyoid, gravitasi
4. Elevasi (menutup mulut)
Otot-otot yang bekerja: M.temporalis, M.masseter, M.pterygoideus
medialis
5. Retraksi (menggeser mandibula ke belakang)
Otot-otot yg bekerja: M.temporalis, M.pterygoideus sisi yang berlawanan,
M.masseter, M.digasstricus sisi yg sama
6. Luxatio Mandibula: bila mulut dibuka terlalu lebar dapat mengakibatkan
mulut itu tidak dapat menutup kembali.

KULIT KEPALA (SCALP)
S = skin (ditumbuhi rambut kelenjar lunak)
C = connection tissue(jar.ikat antara skin&aponeurosis)
A = Aponeurosis (Galea aponeurotica) otot pada ujung otak frontal & occipi
L = Loose conective tissue (jaringan ikat jarang)
P = Periosteum

Persarafan kulit kepala :
a. N.V (trigeminus)
1. N.V-1 (opthalmicus)
Mempersarafi seluruh daerah frontal, palpebra sup, dorsum nasi sampai
apex nasi. Cabang-cabangnya: N.supratrhoclearis, N.supraorbitalis,
N.infrathroclearis, N.nasalis



2. N.V-2 (maxilaris)
12

Mempersarafi labium supra, ala nasi, palpebra inf, maxila, pipi, daerah
temporal. Cabang-cabangnya: N.infraorbitalis, R.malaris, N.temporalis,
R.temporalis, N.temporomalaxis
3. N.V-3 (mandibulla)
Mempersarafi labium infersius , balahan caudal, (mandibula), pipi sampai
belah telinga. Cabang-cabangnya: N.buccalis, N.mentalis, N. Auriculo-
temporali
b. Plexus Cervicalis
Mempersarafi Angulus mandibular. Cabang-cabangnya: Nn. cranialis II dan
III, N.Occipitalis minor, N.occipitalis major.

B. ANATOMI LEHER

Leher merupakan bagian dari tubuh manusia yang terletak di antara
thoraks dan caput. Batas di sebelah cranial adalah basis mandibula dan suatu garis
yang ditarik dari angulus mandibula menuju ke processus mastoideus, linea
nuchae suprema sampai ke protuberantia occipitalis eksterna. Batas kaudal dari
ventral ke dorsal dibentuk oleh incisura jugularis sterni, klavicula, acromion dan
suatu garis lurus yang menghubungkan kedua acromia.
Jaringan leher dibungkus oleh tiga fascia. Fascia koli superficialis
membungkus musculus Sternokleidomastoideus dan berlanjut ke garis tengah di
leher untuk bertemu dengan fascia sisi lain. Fascia koli media membungkus otot-
otot pratrakeal dan bertemu pula dengan fascia sisi lain di garis tengah yang juga
merupakan pertemuan dengan fascia coli superficial. Ke dorsal fascia koli media
membungkus arteri karotis komunis, vena jugularis interna dan nervus vagus jadi
satu. Fascia koli profunda membungkus musculus prevertebralis dan bertemu ke
lateral dengan fascia koli media.
Bentuk umum leher adalah sebagai conus dengan basis yang menghadap
ke arah kaudal.
Ditentukan oleh processus spinosus vertebra cervicalis, otot-otot
panniculus adiposus, os. hyoideum, trachea dan glandula thyroidea. Turut
menentukan adalah posisi kepala dan columna vertebralis, pada posisi antefleksi
13

kepala dan leher maka processus spinosus dari vertebra prominens sangat
menonjol, kulit disebelah ventral melipat-lipat. Pada posisi retrofleksi kepala dan
leher maka kulit disebelah dorsal melipat-lipat sedangkan disebelah ventral akan
kelihatan dengan jelas laring, trachea dan glandula thyroidea (terutama pada
wanita).

Leher dibagi oleh muskulus sternokleidomastoideus menjadi trigonum
anterior atau

medial dan trigonum posterior atau lateral.


Gambar 5. Trigonum anterior

TRI GONUM ANTERI OR
a. T. suprahyoid:
T. submandibular batas-batasnya:
Cranial : margo inf.mandibula
Med.vent : venter ant m.digastrici
Med dors : Venter post m.digastrici
T. submentale:
Lateral : venter ant,m.digastrici,isi v.jugularis ant
Med: Linea media
14

Caudal : Os hyodeum
b. T.infrahyoid:
T.caroticum sup isi : A carotis comunis ,V jugulare, N vagus
Cranio dorsal : vent post m.digastrici
Caudo vent : vent sup m. Omohyoid
Lateral : M. Sternocleidomastoideus
T.caroticum inf (musculare)
Med.vent: linea mediana
Lat cranii : ventbsup m.omohyoid
Lat.caud : M.sternocleimastoid


Gambar 6. Trigonum posterior

TRI GONUM POSTERI OR
1. T. occipitale (omotrapezideum)
Ventro med : pinggir dorsal M.strenokidormastoid
Dorso lat : pinggir ventral M.trapezius
Caudal : venter inf. M.omohyoid
2. T. omoclaviculare (sub calvian triangle)
Craniolateral :vent .inf m.omohyoid
15

Craniomedial : M.sternoeleidomastoideus
Caudal : clavicula

SYSTEMA MUSCULORUM
Otot leher dibagi dua golongan:
1. golongan yang terletak disebelah ventral
2. golongan yang terletak disebal dorsal




Otot leher bagian ventral:
Platysma: terletak tepat dibawah kulit, serabut-serabutnya, sejajar dari
pinggir mandibula sampai clavicula dan dari medial kelateral. Persarafan:
N.facialis VII
M.strenocleidomastoideus
Origo: portio sternalis, portio clavicularis, insersio antara proc.
mostoideus, pars lat linea nuchae sup , innervasi N, accesorius N XI
Mm.suprahyoid: Berhubungan dengan lidah
1. M. digastricus (M. biventer mandibula)
Origo: vent ant fossa m.biventris mandibula, vent post ine mastoidea
insersio Os hyoid diapit serabut M. stylohyoid, innervasi vent antara N V-
3 (mylohyoid), vent post N VII (facialis)
2. M. stylohyoid
Origo: bag lat proc stylodeus os temporalis, insersio basis cornu os hyoid,
innervasi N VII facialis
3. M. mylohyoid
Menghubungkan os.hyoid dgn mandibula.
origo: linea mylohyoid mand sin & dextra,insersio serabut yg terletak di
dorsal melekat pada corpus os hyoid ,I nnervasi N.mylohyoideus V-III.
Disebut juga M.diaghfragma ortis karna membentuk dasar rongga mulut
4. M.genioglossus
16

Origo: Spina mentalis , insersio bagian depan corpus os.hyoid innervasi
cab. Nn.cervicalis I & II

Mm.infrahyoid yang terletak di caudal os.hyoid
1. M.sternohyodeus
Origo: permukaan dorsal manubrium sterni, insersio corpus os hyoid,
innervasi ansa hipoglossi
2. M.omohyoideus
3. M .sternohyroideus
4. M.Thyreoideus
Origo: cartilago tyroidea, insersio os.hyodeum,
Otot-otot dengan letak agak dalam:
1. M. scalenus ventralis: origo tubercula ant, proc. transversi III-IV, insersio
costa I,tubula scaleni, innervasi nervus spinalis servikal V-VII
2. M.scalenus intermedius: origo proc. transversus, insersio, dorsal sulcus,
innervasi N. sp servikal IV-VIII
3. M.scalenus dorsalis :origo tub post ,proc trans,insersio costa II,innervasi
N. sp servikal VII-VIII.

Otot-otot yang letaknya paling dalam:
1. M.longus cervisis :N.spinalis c II-IV
2. M.longus capitis : origo tub anterir proc transversal VC III-VI ,insersi Os,
basil kiri dan kanan, tubuli pharyngeum,innervasi N.spi C I-V

Otot leher bagian dorsal :
M.Trapezius
Origo: Protuberantia occipitalis ext, linea nuchae sup, septum nuchae, proc
spinasi vertebrae C VII - TH XII
Insersio: Pars aeromialis, lateral spina scapulae, medial spina scapulae,
innervasi N. Accesorius IX, N. sp C II-IV
M.splenius capitis
Origo: Proc.spinosi VC IV-th II
17

Insersio: dorsal proc mastoideus & linea nuchae superior
M,splenius servicis
Origo: proc th III-VI
Insersio: tub post proc tranversi verteb C IV-VII
Innervasi: N sp C I-IV
M.levator scapulae
Origo: Tuberculae post,proc transversi C I-IV
Insersio: Angulus sup & margo vertebralis scapulae
Innervasi: N.dorsalis scapulae


SISTEM LIMFATIK KEPALA DAN LEHER
Sekitar 75 buah kelenjar limfe terdapat pada setiap sisi leher, kebanyakan
berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis assesorius. Kelenjar limfe
yang selalu terlibat dalam metastasis tumor adalah kelenjar limfe pada rangkaian
jugularis interna.
Kelenjar limfe servical dibagi ke dalam gugusan superficial dan gugusan
profunda. Kelenjar limfe superficial menembus lapisan pertama fascia servical
masuk kedalam gugusan kelenjar limfe profunda. Meskipun kelenjar limfe nodus
kelompok superficial lebih sering terlibat dengan metastasis, keistimewaan yang
dimiliki kelenjar kelompok ini adalah sepanjang stadium akhir tumor, kelenjar
limfe nodus kelompok ini masih signifikan terhadap terapi pembedahan.
Kelenjar limfe profunda sangat penting sejak kelenjar-kelenjar kelompok
ini menerima aliran limfe dari membran mukosa mulut, faring, laring, glandula
saliva dan glandula thyroidea sama halnya pada kepala dan leher.
Hampir semua bentuk radang dan keganasan kepala dan leher akan
melibatkan kelenjar getah bening leher bila ditemukan pembesaran kelenjar getah
bening di leher, perhatikan ukurannya, apakah nyeri atau tidak, bagaimana
konsistensinya, apakah lunak kenyal atau keras, apakah melekat pada dasar atau
kulit. Menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center Classification, kelenjar
getah bening leher dibagi atas 5 daerah penyebaran.
18


Gambar 7. Sistem limfatik kepala dan leher.




















19

BAB III
KEPENTINGAN KLINIS
3. 1 Fraktur Cranial
Koveksitas dari calvaria mendistribusikan terdistribusi dengan cara
meminimalisir efek dari suatu trauma. Namun, trauma berat yang disebabkan dari
pukulan yang mengenai kepala pada daerah yang tipis cenderung menghasilkan
patah tulang depress dimana fragmen tulang tertekan kedalam sehingga
mengkompresi dan/atau dapat melukai otak.

Gambar 8. Gambaran fraktur tulang kepala dari sisi medial dan lateral

Pada fraktur comminuted, tulang di pecah menjadi beberapa bagian.
Fraktur Linear Calvaria merupakan jenis fraktur yang paling sering, biasanya
terjadi pada bagian yang mengalami benturan, tetapi garis fraktur linear sendiri
terbentuk menjadi 2 arah atau lebih. Jika pada daerah calvaria yang memiliki
20

tulang yang tebal mengalami trauma, biasanya tulang mebentuk cekungan
kedalam tanpa menimbulkan fraktur.nnamun, fraktur dapat terjadi agak jauh dari
lokasi trauma langsung. Pada fraktur counter coup (counter blow), biasanya
terjadi pada sisi berlawanan dari calvaria kepala dari pada terjadi pada daerah
yang mengalami trauma langsung.
Fraktur basiler merupakan fraktur yang terjadi dengan melibatkan basis
cranial ( sebagai contoh ; tulang occipital dengan foramen magnum, temporal dan
tulang sphenoid, dan bagian permukaan dari orbita). Sebagai hasil dari kebocoran
dari cairan cerebrospinal yang terhubung dengan hidung (CSF, Rhinnorhea) dan
telinga (CSF otorrhea), menyebabkan gangguan dari nervus cranial dan cedera
pembuluh darah yang bisa di dapat. Tergantung dari daerah yang terkena fraktur.
Fraktur pada pterion dapat bersifat mengancam nyawa dikarenan letaknya
terbentang pada cabang daerah frontal (anterior) dari pembuluh darah meningeal
media. Yang mana terletak di dalam dari dinding lateral dari tulang calvaria.
Benturan yang keras pada daerah kepala dapat menyebabkan fraktur pada daerah
tulang yang tipis dan menyebkan pterion, yakni rupturnya cabang frontal dari
arteri meningea media yang menyilang pada daerah pterion. Sebagai hasil,
hematoma yang terbentuk menyebabkan tekanan pada daerah dasar korteks
serebral. Perdarahan arteri meningea media yang tidak teratasi dapat
menyebabkan kematian dalam waktu beberapa jam.
3.2 Infeksi dan Cedera pada SCALP
Lapisan jaringan ikat longgar merupakan area yang berbahaya dari
SCALP dikarenakan Pus atau darah yang dapat menyebar dengan mudah. Infeksi
yang terjadi pada lapisan ini dapat juga melewati cavitas cranial lewat vena
emissary, dimana vena ini melewati dari calvaria hingga mencapai structur
intracranial seperti meningens. Suatu infeksi tidak dapat mencapai leher
dikarenakan permukaan occipital dari otot occipitofrontalis melekat pada tulang
occipital dan sebagian tulang mastoid dan tulang temporal. Infeksi dapat
menyebar keluar melewati archus zygomatic karena aponeurosis dari epicranial
dengan temporal fascia yang melekat pada archus zygomatic. Suatu infeksi atau
cairan (contoh ; pus atau darah) dapat masuk kedalam kelopak mata dan saluran
pada hidung dikarenakan bagian permukaan frontal dari otot occipitofrontalis
21

masuk melewati kulit dan jaringan subkutan dan tidak melekat pada tulang.
Biasanya, Black Eyes didapat dari cedera SCALP atau dahi. Echhymosis
berkembang dari hasil dari ekstravasasi dari darah yang masuk kedalam jaringan
subkutan dan kulit pada kelopak mata dan daerah sekitarnya.
3.3 Oklusi Vena Cerebral dan Sinus Vena Dural
Oklusi dari vena cerebral dan sinus vena dural dapat terjaid akibat trombus
(clots), thrombophlebitis (inflamasi vena), atau tumor. Vena pada wajah
membentuk hubungan klinis yang penting dengan sinus cavernosus melewati vena
opthalmica superior (gambar 9). Darah dari angulus media pada mata, hidung, da
bibir biasanya mengalir menuju vena wajah inferior. Namun, karena vena pada
wajah tidak memiliki katup, darah dapat lewat kearah superior menuju vena
opthalmica superior dan memasuki sinus cavernosus. Pada orang yang mengalami
thrombophlebitis vena wajah, bagian trombus yang mengalami infeksi dapat
meluas hingga sinus cavernosus.

Gambar 9. Meningen cranial

22

3.4 Metastasis cel tumor pada sinus dural
Sinus basiler dan sinus occipital terhubung melalui foramen magnum
dengan plexus venous vertebral internal (gambar 9). Karena pada saluran vena ini
terdapat katup, kompresi pada thorax, abdomen, atau pelvis, yang terjadi pada saat
mengalami batuk berat dan tegang, dapat memaksa darah vena dari regio ini
berpindah menuju sistem vena internal vertebra dan selanjutnya masuk kedalam
sinus vena dural. Sebagai hasil, pus pada abses dan sel tumor pada regio ni dapat
menyebar ke regio vertebra dan otak.
3.5 Fraktur Basis Cranii
Pada fraktur basis cranii, arteri carotis internal dapat robek, sehingga
menyebabkan fistula arteriovenosa didalam sinus cavernosa. Darah arteri yang
mengalir menuju sinus cavernosa, memperbesar dan memaksa darah kembali ke
vena, terutama pada vena ophthalmica. Sebagai hasil, didapatkan mata mengalami
mata menonjol exopthalmus dan conjuctiva menjadi bengkak (chemosis).
Penonjolan bola mata berdenyut selaras dengan denyut arteri radial, fenomena ini
dikenal dengan denyutan exopthalmus. Karena nervus cranial III, IV, V1, V2 dan
VI terbentang pada dinding lateral dari sinus cavernosa, dan dapat berpengaruh
pada sinus yang mengalami trauma (gambar 10). Suatu trauma pada kepala dapat
menyebabkan pelepasan lapiasan dari periosteal dura dari calvaria tanpa adanya
fraktur dari basis cranial. Akibatnya, fraktur basis cranii biasanya menyebabkan
lepasnya dura sehingga menyebabkan kebocoran dari CSF (Cerebro Spinal Fluid).

23


Gambar .10 sinus dural venosus
3.6 Nyeri kepala yang berasal dari dural
Lapisan dura sangan sensitif terhadap nyeri, khususnya saat berkaitan
dengan sinus venosus dura dan arteri meningeal. Meskipun penyebab dari nyeri
kepala sangat banyak, distensi dari SCALP atau meningeal (atau keduanya)
dipercaya merupakan salah satu penyebab dari sakit kepala. Kebanyakan sakit
kepala berasal dari dura. Seperti sakit kepala setelah pungsi lumbal spinal untuk
pengambilan dari CSF (Cerebro Spinal Fluid). Nyeri kepala ini merupakan hasil
stimulasi ujung saraf yang terletak dari dura. Sehingga pasien yang akan
dilakukan pungsi lumbal diminta untuk menundukkan kepala agar mengurangi
penarikan dari duramater, guna mengurangi nyeri kepala.
24


Gambar 11. Gambaran Neurovaskular dari meningens cranial

3.7 Cedera Kepala dan Perdarahan Intracranial
Extradural atau epidural hemoragik merupakan perdarahan yang berasal
dari arteri. Darah yang berasal dari robekan cabang arteri meningeal media yang
terkumpul diantara lapisan periosteal yang berada diatara dura dengan calvaria,
biasanya ini terjadi setelah terkena trauma yang berat pada daerah kepala. Hal ini
menyebabkan terbentuknya hematoma pada epidural atau ekstradural (gambar ).
Biasanya, terjadi gegar otak secara singkat (kehhilangan kesadaran). Diikuti lucid
interval beberapa jam berikutnya.kemudian mengantuk dan menjadi koma. Otak
mengalami tekanan atau kompresi seiring peningkatan massa darah, sehingga
diperlukan evakuasi darah dan oklusi pembuluh darah. Batasan yang terdapat
pada hematoma biasa disebut dengan subdural hematoma. Namun istilah ini tidak
begitu dikenal karena tidak selalu terdapat ruang diantara antara dura dengan
arachnoid. Hematoma pada batas penghubung biasanya disebabkan oleh
ekstravasasi dari darah yang membagi batasan dari dural. Darah tidak terkumpul
25

pada ruang yang belum terbentuk antara dura dengan arachnoid. Batas perdarahan
pada dural biasanya diikuti dengan trauma pada kepala yang mencederai otak
yang terdapat didalam cranium. Dimana pencetus dari trauma dapat tidak
diperdulikan atau dilupakan, tetapi hematoma dapat berkembang hingga
berminggu minggu akibat dari perdarahan vena. Batas hemoragik dari dural
biasanya berasal dari vena dan biasanya hasil dari robekan vena bridging cerebral
superior yang masuk lewat sinus sagitalis superior.

Gambar 12. Jenis perdarahan pada daerah kepala
3.8 kelainan kongenital tortikolis
Torticolis merupakan suatu kontraksi pada otot cervival yang mengalami
kelainan yang menyebabkan leher berada dalam posisi miring. Kelainan
kongenital torticollis yang paling sering yang dimana dibentuk oleh jaringan
tumor fibrous (L. Fibromatosis Colli) yang terbentuk pada otot Sterno-cleido
mastoideus saat sebelum atau sesudah kelahiran. Biasanya, otot sterno-cleido
mastoideus yang mengalami injury/trauma yang didapat saat kepala ditarik
dengan berlebihan saat melewati jalan lahir , sehingga merobek otot tersebut
(muscullus torticollis). Robekan ini menyebabkan terjadinya hematoma yang
berakibat terbentuknya massa fibrous yang terperangkap didalam cabang dari
saraf accessory (CN XI), sehingga musculus sternocleido mastoideus mengalai
denervasi. Pelepasan jaringan fibrotik dari otot Sterno Cleido mastoideus dengan
menggunakan cara pembedahan dilakukan dengan cara melekatkan otot sterno
cleido mastoidesus bagian distal ke bagian manubrium dan clavicula agar dapat
membuat anak tersebut dapat memiringkan dan memutar kepala secara normal.
Cervical dystonia (abnormalitas dari tonus oto cervival), biasanya dikenal
sebagai spasmodic torticollis, biasanya dimulai saat usia beranjak dewasa. Dapat
26

juga melibatkan kombinasi dari otot lateral dari leher, khususnya otot Sterno-
cleido Mastoideus dan otot trapezius.

Gambar 13. Kelainan kongenital torticollis

3.9 lesi pada nervus accessory (CN XI)
Lesi pada nervus cranial XI (CN XI) sangat jarang terjadi; bagaimanapun
juga, nervus dapat mengalami kerusakan akibat dari trauma penetrasi, prosedur
pembedahan, dann fraktrur dari foramen jugular. Lesi yang bersifat unilateral
biasanya tidak menyebabkan kelainan berupa abnormalitas posisi dari kepala;
bagaimanapun juga, kelemahan dapat diperoleh dengan cara memutarkan kepala
kearah yang berlawanan. Lesi pada nervus cranial dapat menyebabakn kelemahan
dan atroppi dari otot trapezius. Kelemahan bahu merupakan tanda khas dari
cedera nervus cranial XI. Paralisis unilateral dari musculus trapezius merupakan
bukti ketidak mampuan dari pasien dalam mengangkat dan retraksi dari bahu dan
kesulitan dalam mengangkat lengan bagian atas kearah horizontal.




27

3.10 Pungsi Vena Subclavian
Vena subclavian kanan atau kiri biasanya merupakan titik pusat dari garis
sistem vena sentral. Garis sentral merupakan garis tempat masuknya cairan nutrisi
(vena nutrisi) dan obat dan juga sebagai penentu tekanan vena pusat. Pleura atau
arteri subclavia dalam keadaan berbahaya saat dilakukan prosedur ini.

Gambar 14. Prosedural pungsi vena subclavia
3.11 Zona pada trauma penetrasi
Ada terdapat 3 zona yang menjadi panduan klinis dari trauma leher yang
bersifat serius. Zona tersebut memberikan pemahaman baru kepada tenaga medis
untukk memahami struktur dan resiko pada trauma penetrasi di daerah leher.
Zona I yang mana pada zona ini meliputi batang leher yang memanjang
dimulai dari clavicula dan manubrium hingga ke batas inferior dari cartilago
cricoid. Struktur yang memiliki resiko antara lain pleura cervival, apex paru,
kelenjar thyroid dan parathyroid, trakea, esophagus, arteri carotis, vena jugular,
esophagus dan colum vertebral regio cervical.
28

Zona II memanjang dari cartilago cricoid hingga angulus mandibula.
Truktur yang beresiko antara lain bagian superior dari glandula thyroid, cartilago
thyroid dan cricoid, larynx, laryngopharynx, arteri carotis, vena jugular,
esophagus, dan colum vertebra regio cervical.
Zona III meliputi superior angulus mandibula. Struktur yang beresiko
antara lain glandula saliva, cavitas nasal dan oral, oropharynx dan nasopharynx.
Trauma pada zona I dan zona III dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas
dan memberikan resiko yang besar pada morbiditas (komplikasi setelha tindakan
operasi dan tindakan lainnya) dan mortalitas (hasil yang fatal) disebabkanoleh
struktur yang mengalami cedera sangat sulit untuk dilihat dan diperbaiki dan
kerusakan vaskular sangat sulit dihentikan. Cedera pada zona II merupakan yang
paling umum terjadi; bagaimanapun juga morbiditas dan mortalitas rendah
dikarenakan tenaga medis dapat mengendalikan kerusakan vaskular dengan
penekanan secara langsung dan tindakan pembedahan dapat dilihat dan
pengobatan terhadap struktur yang mengalami kerusakan lebih mudah daripada
cedera yang terdapat pada zona I dan zona III.

Gambar 15. Pembagian zona pada trauma leher
29

3.12 Radical Neck Dissections
Radikal Neck Dissections merupakan tindakan operasi yang dilakukan
terhadap kanker yang telah menginvasi jaringan limphatics. Selama dilakukan
prosedur, kelenjar getah bening dan jaringan ikat sekitarnya harus sedapat
mungkin dibuang. Meskipun terdapat arteri utama, plexus brachialis, nervus
cranial X, dan nervus phrenicus, sebagian besar cabang cutaneus dari plexus
cervical juga dibuang. Tujuan dari dilakukan pembedahan ini adalah untuk
membuang jaringan yang masih terinfeksi dalam keadaan utuh. Kelenjar getah
bening biasanya terletak di sepanjang arteri cervical transversal, karena dapat
membantu penyebaran kanker dari thorax dan abdomen. Karena kelenjar getah
bening mengalami pembesaran dapat menjadi bukti utama bahwasanya terdapat
kanker pada regio tersebut, dan sering disebut sebagai kelenjar getah bening
cervical.
3.13 Adenoiditis
Inflamasi dari tonsil pharingeal (adenoid) biasa di sebut dengan
adenoiditis. Kondisi ini dapat menyebabkan sumbatan pada jalan nafas dari
cavum nassal menuju choanae hingga ke nasopharing, menyebabkan mulut
digunakan sebagai jalan nafas utama. Infeksi yang berasal dari pembengkakan
tonsil pharing dapat menyebabkan penutupan dari tabung pharyngotympanis.
Penurunan fungsi pendengaran disebabkan oleh sumbatan dan penutupan dari
tuba pharingotympani. Infeksi menyebar melalui nasopharing hingga mencapai
telinga tengah dan menyebabkan otitis media (infeksi telinga tengah) yang mana
dapat menyebakan kecacatan yang bersifat sementara atau kehilangan fungsi
pendengaran selamanya.
3.14 Benda Asing (Corpus Alienum) pada Laryngopharynx
Benda asing yang masuk kedalam pharynx dapat tersangkut pada fossa
pyriformis. Jika benda/objek (tulang ayam) yang tajam, dapat menembus dan
melukai membran mukosa dan nervus laringeal internal. Nervus laringeal superior
dan cabang laringeal interrnal juga rentan mengalami cedera saat memindahkan
benda asing dengan menggunakan instrumen dan tidak sengaja melukai membran
mukosa. Cedera nervus ini dapat menyebabkan anastesi pada membran mukosa
laring hingga kebawah dari plica vocalis. Pada anak anak sering mencoba
30

menelan berbagai macam benda, dan keseringan benda asing dapat mencapai
perut dan kemudian melewati saluran cerna tanpa ada masalah. Pada beberapa
kasus, benda asing dapat tersangkut pada daerah ujung inferior dari laryngofaring,
merupakan bagian yang paling sering. Gambaran medis seperti radiografi, atau
CT Scan dapat menggambarkan gambaran radio opaque dari benda asing. Benda
asing yang terdapat di pharinx sering dapat dibuang jika dapat dilihat secara
langsung melalui laryngoscope.
3.15 Tonsilectomy
Tonsilectomy (pemisahan palatine tonsil) merupakan suatu tindakan
operative bberupa diseksi tonsil dari sinus tonsilar atau dengan cara memenggal
dengan menggunakan pisau benang. Setiap prosedur yang menyertai pemisahan
tonsil dan fascia yang membungkus sinus tonsiler. Karena kaya akan pembuluh
darah dari tonsil, perdarahan biasanya berasal dari vena besar dari palatum
external atau biasanya berasak dari arteri tonsiler atau cabang dari arteri lainnya.
Nervus glossopharingeal terdapat arteri tonsil pada bagian dinding lateral dari
pharinx dan rentan terhadap trauma dikarenakan dinding tersebut tipis. Arteri
carotis internal sangat rentan karena terletak di bagian lateral dari tonsil.
31


Gambar 16. Anatomi tonsil
3.16 Thyroidectomi
Dalam melakukan tindakan thyroidectomi (contoh; tindakan eksisi dari
keganasan kelenjar thyroid) dimana kelenjar parothyroid berada dalam bahaya
dikarenakan kelenjar parathyroid dapat menjadi rusak atau sengaja di buang.
Kelenjar ini akan berada dalam keadaan aman bilaman dilakukan tindakan
subtotal thyroidectomi dikarenakan bagian paling posterior dari kelenjar thyroid
biasanya disisakan/tinggalkan. Variasi lokasi dari kelenjar parathyroid, khususnya
yang berada di lokasi inferior, memberikan kelenjar ini posisi yang berbahaya
dikarenakan kelenjar parathyroid ini dapat terbuang selama dilakukan proses
pembedahan pada kelenjar thyroid. Jika kelenjar parathyroid secara tidak sengaja
diangkat saat dilakukan operasi, dapat menyebabkan pasien menderita tetanus,
32

suatu gangguan kejang yang berat. Dimana kejang otot yang umum terjadi akibat
kejang otot yang dikarenakan rendahnya kadar kalsium dalam darah.

Gambar 17. Anatomi kelenjar tthyroid








33

BAB III
PENUTUP
Anatomi sangat penting dalam kehidupan, terutama didalam dunia
kesehatan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan agar dengan makalah ini, kita
dapat mengetahui tentang anatomi dari kepala dan leher sesuai dengan tujuan awal
dari pembuatan makalah ini, yakni :
- Mengetahui struktur struktur yang ada pada kepala dan leher
- Mengetahui variasi dalam ukuran, bentuk dan jenis perlekatan otot
- Mengetahui percabangan dari saraf yang terdapat pada daerah kepala dan
leher
- Mengetahui percabangan dari pembuluh pembuluh darah yang terdapat
pada daerah kepala dan leher
- Mengetahui kemungkinan kemungkinan terjadinya penyimpangan
penyimpangan yang terjadi pada daerah kepala dan leher
Dalam penulisan makalah ini, mungkin masih banyak terdapat kekurangan
baik dalam segi penulisan maupun dalam penyampaian materi yang disajikan.
Untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar besarnya kepada para pembaca,
dan penulis mengharapkan para pembaca makalah ini dapat mengambil manfaat
dari makalah ini.













34

DAFTAR PUSTAKA

Moore KL. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates.
Netter. 2004. Interactive Atlas of Human Anatomy. Hamburg: Novartis