Anda di halaman 1dari 20

1

Diabetes Melitus Tipe 2


Febriany Gotamy
febriany_gotamy@yahoo.com
102011075
Fakultas Kedokteran UKRIDA

Pendahuluan

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik
peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau keduanya. Glukosa dibentuk di hati dari makanan yang dikonsumsi dan
secara normal bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Insulin merupakan suatu
hormon yang diproduksi pankreas yang berfungsi mengendalikan kadar glukosa dalam darah
dengan mengatur produksi dan penyimpanannya. Secara klinis terdapat dua tipe DM yaitu DM
tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 disebabkan karena kurangnya insulin secara absolut akibat
proses autoimun sedangkan DM tipe 2 merupakan kasus terbanyak. DM tipe 2 berlangsung
lambat dan progresif, sehingga tidak terdeteksi karena gejala yang dialami pasien sering bersifat
ringan. Komplikasi kronik biasanya terjadi dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah diagnosa
ditegakkan. Komplikasi kronik terjadi pada semua organ tubuh dengan penyebab kematian 50%
akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat penyakit gagal ginjal. Selain itu, sebanyak 30%
penderita diabetes mengalami kebutaan akibat retinopati dan 10% menjalani amputasi tungkai
kaki.
Mengingat jumlah penderita DM yang terus meningkat dan besarnya biaya perawatan
pasien diabetes yang terutama disebabkan oleh karena komplikasinya, maka upaya yang paling
baik adalah melakukan pencegahan. Menurut American Diabetes Association (2004), komplikasi
diabetes dapat dicegah, ditunda dan diperlambat dengan mengendalikan kadar glukosa darah.
Pengelolaan diabetes yang bertujuan untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang
normal dapat dilakukan secara nonfarmakologis dan farmakologis. Pengelolaan nonfarmakologis
meliputi pengendalian berat badan, olah raga/latihan jasmani dan diet. Terapi farmakologis
meliputi pemberian insulin dan/atau obat hiperglikemia oral.



2

Anamnesis
Diabetes mellitus merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa di dalam darah
tinggi. Ada beberapa gejala klinis yang dapat timbul pada penderita diabetes yang
membawanya memeriksakan diri kepada dokter. Oleh karena itulah, perlu ditanyakan
beberapa pertanyaan berikut pada anamnesis yang dapat mengarahkan diagnosis kepada
diabetes mellitus, yaitu :
1. Identitas pasien
2. Keluhan yang dialami pasien :
a. Gejala polidipsi, polifagia, dan poliuria
b. Penurunan berat badan
c. Rasa baal pada ekstremitas
d. Luka yang lama masa penyembuhannya
e. Terjadi disfungsi ereksi pada pria / keputihan pada wanita
f. Lemas
g. Gangguan penglihatan
h. Hipertensi
i. Napas cepat dan dalam, takikardia, dehidrasi
3. Riwayat penyakit dahulu :
a. Riwayat terdiagnosa sebagai penderita diabetes
b. Riwayat pernah dirawat inap di rumah sakit dan sebabnya
c. Riwayat pemeriksaan glukosa darah, HbA1C, glukosa urin
d. Riwayat penyakit vascular perifer, neuropati perifer, penyakit jantung,
retinopati
4. Riwayat penyakit keluarga dan pengobatan :
a. Riwayat diabetes mellitus di dalam keluarga
b. Pernah menjalani / sedang menjalani terapi untuk diabetes
c. Alergi terhadap obat tertentu
5. Riwayat sosial :
a. Pola makan dan olahraga sehari-hari
b. Kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
Hal-hal diatas jika ditanyakan dengan benar dapat mengarahkan kepada diagnosis diabetes
beserta dengan beberapa komplikasinya.
1

3

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum adalah yang paling pertama kita perhatikan dalam melakukan
pemeriksaan fisik. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital, yaitu
tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nadi, dan frekuensi pernapasan. Inspeksi didahului pada
daerah tungkai bawah yaitu melihat apakah terdapat luka ataupun ulkus, lalu dilanjutkan
inspeksi keseluruhan bagian tubuh untuk melihat adakah tanda-tanda dehidrasi akibat
hiperglikemia. Perhatikan juga apakah terdapat tanda takipnea atau pernapasan Kussmaul.
Selain itu pemeriksaan juga dilakukan pada mata yaitu pemeriksaan ketajaman penglihatan
dan respons pupil mata. Pada pemeriksaan fisik di bagian tungkai bawah juga penting untuk
mendeteksi apakah terdapat neuropati dengan tes raba halus menggunakan monofilament dan
tes reflek fisiologis. Palpasi juga dapat dilakukan untuk meraba adnaya pulsasi terutma pada
tungkai bagian bawah.
1


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Glukosa Darah
Pemeriksaan penunjang laboratorium dapat berfungsi sebagai pemeriksaan penyaring,
menegakkan diagnosis, pemantauan hasil pengobatan dan pengendalian diabetes mellitus.
Pemeriksan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak mempunyai gejal
DM tetapi mempunyai risiko DM. Pemeriksaan penyaring dilakukan pada kelompok dengan
salah satu risiko DM, yaitu :
1. Usia > 45 tahun
2. Aktivitas fisik kurang
3. Termausk kelompok etnik risiko tinggi (African American, latin, native American,
asia American, pacific islander)
4. BB > 110% BB ideal atau IMT 23 kg/m
2

5. Hipertensi (tekanan darah 140/90 mmHg)
6. Riwayat DM pada garis keturunan
7. Riwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat // BB lahir bayi > 4000 gram
8. Kadar kolesterol HDL 35 mg/dL dan / kadar trigliserida 250 mg/dL
4

Bagi kelompok risiko dengan pemeriksaan penyaring yang negative maka diperlukan untuk
mengulang pemeriksaan setiap tahunnya. Sedangkan bagi mereka yang berusia lebih dari 45
tahun dengan hasil pemeriksaan penyaring yang negative maka pemeriksaan dapat diulang
setiap 3 tahun. Berikut adalah nilai rujukan hasil pemeriksaan penyaring DM :
1. Kadar glukosa darah sewaktu (GDS)
a. Bukan DM : < 110 mg/dL
b. Belum pasti DM : 110-199 mg/dL
c. DM : 200 mg/dL
2. Kadar glukosa darah puasa (GDP)
a. Bukan DM : < 110 mg/dL
b. Belum pasti DM : 110-125 mg/dL
c. DM : 126 mg/dL
Diagnosis diabetes mellitus harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik (glucose-
oxidase & hexokinase) dengan bahan darah plasma vena. Namun pada kondisi tertentu
dimana sulit mendapatkan darah vena, dapat juga dipakai darah utuh (whole blood) vena atau
kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnosis yang berbeda sesuai dengan
pembakuan oleh WHO. Hasil pemeriksaan glukosa darah dengan menggunakan darah vena
dapat berbeda dengan darah kapiler disebabkan kadar glukosa darah kapiler lebih tinggi 7-10%
daripada kadar glukosa darah vena. Pemeriksaan dengan menggunakan serum sama baiknya
dengan plasma bila serum dipisahkan dari darah lengkap dalam waktu kurang dari 1 jam.
Glukosa dalam serum atau plasma yang disimpan pada suhu 4C dapat bertahan sampai 48
jam. Bila pemeriksaan dilakukan setelah 48 jam, akan diperoleh kadar glukosa yang lebih
rendah secara bermakna. Hal ini dikarenakan glukosa tersebut digunakan untuk metabolisme
sel-sel darah dan juga kuman. Oleh karena itulah jika pemeriksaan terpaksa ditunda maka
darah utuh harus diberikan pengawet NaF sebanyak 2 mg/mL. Dengan penambahan NaF,
pemeriksaan dapat ditunda sampai 48 jam. Nilai rujukan kadar glukosa darah dengan
menggunakan plasma vena pengambilan sewaktu (gula darah sewaktu) dan pada
pengambilan setelah 8 jam berpuasa (gula darah puasa) adalah < 110 mg/dL. Pemeriksaan
gula darah 2 jam setelah makan (post prandial) juga dapat dilakukan namun lebih sulit karena
harus distandarisasi berdasarkan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi harus
distandarisasi terlebih dahulu. Walaupun begitu pemeriksaan ini masih dapat digunakan
untuk memantau hasil pengobatan dan pengendalian DM.
5

Bila berdasarkan pemeriksaan gula darah sewaktu maupun puasa belum dapat
dipastikan diabetes mellitus maka dilakukanlah pemeriksaan kadar glukosa darah jam ke-2
tes toleransi glukosa oral (TTGO) untuk menegakkan diagnosis diabetes mellitus. Penilaian
hasil pemeriksaan jam ke-2 TTGo adalah sebagai berikut :
- Kadar glukosa darah < 140 mg/dL : TTGO normal
- Kadar glukosa darah 140-199 mg/dL : Toleransi glukosa terganggu
- Kadar glkosa darah > 200 mg/dL : Diabetes mellitus
Selain pada penderita DM kelainan pemeriksaan TTGO dapat pula dijumpai pada penyakit
lain seperti hipertiroidisme dan renal glukosuria.
2

Pemeriksaan HbA1C
A1C merupakan hemoglobin terglikosilasi dan dikenal juga sebagai gliko-hemoglobin
yang terbentuk secara perlahan melalui reaksi non-enzimatik dari hemoglobin dan glukosa.
Reaksi non-enzimatik ini berlangsung terus-menerus sepanjang mur eritrosit sehingga
eritrosit uta mengandung A1C lebih banyak daripada eritrosit muda. Proses glikosilasi non-
enzimatik ini dipengaruhi oleh kadar glukosa di dalam darah. Berdasarkan waktu paruhnya
yaitu sekita setengah dari usia eritrosit maka pemeriksaan kadar A1C digunakan untuk
memantau keadaan glikemik untuk kurun waktu 2-3 bulan yang lalu. Nilai normal kadar A1C
adalah 5-8% dari kadar Hb total. Pemeriksaan A1C digunakan untuk menilai efek pengobatan
8-12 minggu sebelumnya tetapi tidak dapat dipakai untuk menilai hasil pengobatan jangka
pedek. Pemeriksaan ini dianjurkan sedikitnya dilakukan 2 kali dalam setahun.
2
Pemeriksaan Glukosa Urin
Pemeriksaan ini dianggap kurang akurat karena peningkatan kadar glukosa di dalam
darah belum tentu diikuti dengan terjadi glukosuria. Oleh karena itu pemeriksaan ini hanya
dilakukan pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memeriksa kadar glukosa
darahnya.
2
Pemeriksaan Benda Keton
Pemeriksaan benda keton darah maupun urin sangat penting untuk dilakukan terutama
pada penderita DM tipe 2 yang terkendali buruk,, misalnya kadar glukosa darahnya >
300mg/dL, DM dengan penyulit akut, serta terdapat gejala ketoasidosis diabetic (KAD)
seperti mual, muntah, atau nyeri abdomen. Selain itu pemeriksaan ini juga penting dilakukan
6

pada penderita DM tipe 2 yang sedang hamil. Pemeriksaan benda keton urin dapat dilakukan
dengan cara Rothera, Gerhardt, dan carik celup. Dengan metode Rothera dapat mendeteksi
adanya asam aseto-asetat dan aseton, sedangkan dengan metode Gerhardt hanya data
mendetksi asam aseto-asetat. Pada pemeriksaan carik celup yang dapat terdeteksi kuat adalah
asam aseto-asetat dan bereaksi lemah dengan aseton tetapi tidak dapat mendeteksi asam
hidroksi butirat. Kadar benda keton di dalam darah normal adalah < 0.6 mmol/L, dianggap
ketosis jika kadarnya > 1mmol/L, dan indikasi adanya KAD jika kadarnya > 3mmol/L.
2

Working Diagnosis
Homeostasis glukosa yang normal diatur secara ketat oleh tiga proses yang saling
berhubungan yaitu produksi glukosa dalam hati, pengambilan serta penggunaan glukosa oleh
jaringan perifer, dan kerja insulin serta hormone-hormone kontraregulatornya. Kadar glukosa
darah dalam keadaan normal dipertahankan pada kisaran yang sempit, yaitu antara 70-120
mg/dL. Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka
panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung,
dan pembuluh darah. Apabila terdapat gejala khas DM dengan pemeriksaan glukosa darah
yang abnormal 1 kali sudah cukup untuk diagnosis diabetes mellitus. Sedangkan jika tidak
ditemukan gejala khas diabetes maka diperlukan lebih dari 1 kali pemeriksaan glukosa darah
yang abnormal hasilnya. Diagnosis terhadap DM dapat ditegakkan dengan kriteria berikut :
3,4

1. Gejala khas DM + glukosa darah sewaktu (GDS) 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
2. Gejala khas DM + glukosa darah puasa (GDP) 126 mg/dL (7,0 mmol/L)
3. Glukosa plasma 2 jam setelah makan dengn TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L)

Diagnosis Diferensial
Diabetes Melitus Tipe I
Diabetes tipe 1 secara tradisional dianggap terjadi primer pada usia di bawah 18 tahun
tetapi kini diketahui bahwa diabetes tipe 1 dapat terjadi pada segala usia. Pada 1 hingga 2
tahun pertama sesudah manifestasi klinis yang nyata, maka kebutuhan insulin eksogen
7

mungkin minimal atau belum dibutuhkan karena sekresi insulin endogen masih terjadi
(keadaan ini disebut periode bulan madu). Namun setelah itu setiap cadangan sel akan
kelelahan dan kebutuhan insulin meningkat secara drastic. Diabetes tipe 1 didominasi oleh
tanda-tanda berubahnya metabolisme yaitu poliuria, polidipsia, dan polifagia. Meskipun
selera makan meningkat, efek katabolic terus terjadi sehingga timbul penurunan berat badan
dan kelemahan otot. Tanda-tanda kimiawinya meliputi ketoasidosis, insulin plasma yang
rendah atau tidka ada, dan kenaikan kadar glukosa plasma. Gangguan metabolisme dan
kebutuhan akan insulin berhubungan langsung dengan stress fisiologik yang meliputi
penyimpangan dari pola asupan makanan yang normal, peningkatan aktivitas fisik, infeksi,
dan pembedahan.
4

Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY)
MODY merupakan defek primer pada fungsi sel yang mengenai transkripsi insulin
atau massa sel . MODY ditandai dengan pewarisan autosomal dominan sebagai defek
monogenic dengan penetransi yang tinggi. Onset yang dini biasanya sebelum usia 25 tahun
sehingga berbeda dengan onset sesudah usia 40 tahun pada sebagian besar pasien diabetes
mellitus tipe 2.
Beberapa bentuk Mody menghasilkan hiperglikemia signifikan dan tanda-tanda dan gejala
khas diabetes: meningkatnya rasa haus dan buang air kecil (polidipsia dan poliuria).
Sebaliknya, banyak orang dengan Mody tidak memiliki tanda-tanda atau gejala dan
didiagnosis secara tidak sengaja, ketika glukosa yang tinggi ditemukan selama pengujian
karena penyebab lain, atau pemeriksaan penyaring yang positif pada kerabat dari orang yang
ditemukan memiliki diabetes. Penemuan hiperglikemia ringan selama tes toleransi glukosa
rutin untuk kehamilan juga menjadi sangat khas. Di bawah ini merupakan pembagian tipe-
tipe MODY, yaitu :
- MODY 1
o Pada kromosom 20, HNF4-alfa
o Produksi insulin menurun
o Insulin / Sulfonil urea
- MODY 2
o Pada kromosom 7, glukokinase
o Hiperglikemia puasa ringan sepanjang hidup (peningkatan sedikit kadar
glukosa)
8

o Olahraga dan pengaturan diet
- MODY 3
o Kromosom 12, HNF1-alfa
o Ambang ginjal rendah terhadap glukosa
o Sulfonil urea
- MODY 4
o Kromosom 13, IPF-1
o Terkait dengan agenesis pancreas
o Insulin
- MODY 5
o Kromosom 17, HNF1-beta
o Atrofi pankreas dan beberapa bentuk penyakit ginjal
o Insulin / sulfonil urea
- MODY 6
o Kromosom 2, Neuro D1-beta 2
o Mutasi dari gen untuk faktor transkripsi disebut sebagai neurogenik
diferensiasi 1
o Insulin
- MODY 7-11
o KLF 11, CEL, PAX4, INS, BLK (B-lymphocyte tyrosine kinase)
o Mutasi faktor transkripsi, insufisiensi eksokrin pancreas & DM, mutasi faktor
transkripsi, neonatal diabetes, pancreatic islet cells
Karakteristik seseorang dapat didiagnosis menderita MODY adalah hiperglikemia ringan-
sedang (130-250 mg / dL) ditemukan sebelum usia 30 tahun, riwayat keluarga menderita
MODY, tidak ada riwayat menderita penyakit autoimun pada pasien maupun keluarga, tidak
adanya obesitas atau masalah lain yang terkait dengan diabetes tipe 2 atau sindrom metabolik
(misalnya, hipertensi, hiperlipidemia, sindrom ovarium polikistik), riwayat penyakit ginjal
kistik pada kerabat pasien atau pasien sendiri, diabetes neonatal non-transien / jelas diabetes
tipe 1 dengan onset sebelum usia enam bulan, riwayat adenoma hati atau hepatocellular
carcinoma pada Mody tipe 3. Diagnosis Mody dikonfirmasi dengan tes gen tertentu yang
tersedia melalui laboratorium komersial.
4


9

Latent Autoimmune Diabetes of the Adult (LADA)
LADA adalah sebuah konsep yang diperkenalkan pada tahun 1993 untuk
menggambarkan onset lambat dari diabetes tipe 1 autoimun pada orang dewasa. Orang
dewasa dengan LADA sering awalnya salah didiagnosis sebagai diabetes tipe 2 berdasarkan
usia mereka, bukan etiologi. Diperkirakan bahwa lebih dari 50% orang didiagnosis diabetes
non-obesitas yang berhubungan dengan DM tipe 2 sebenarnya mungkin menderita LADA.
Asam glutamat dekarboksilase autoantibodi (GADA), sel islet autoantibodi (ICA),
insulinoma terkait (IA-2) autoantibody, dan seng transporter autoantibodi (ZnT8) harus
diperiksakan pada semua orang dewasa yang tidak obesitas yang didiagnosis dengan diabetes.
Tidak semua orang yang memiliki LADA kurus, namun ada individu kelebihan berat badan
dengan LADA tetapi salah didiagnosis karena berat badan mereka. Selain itu, sekarang
menjadi jelas bahwa diabetes autoimun mungkin sangat kurang terdiagnosis pada banyak
individu yang memiliki diabetes, dan bahwa indeks massa tubuh mungkin memiliki
penggunaan agak terbatas dalam hubungan dengan diabetes autoimun laten. LADA tidak
membutuhkan insulin karena dapat dikelola dengan perubahan gaya hidup dalam tahap awal
seperti olahraga dan pola makan yang tepat. Awalnya, orang dengan LADA dapat merespon
obat diabetes oral, pola makan yang tepat dan perubahan gaya hidup, meskipun sel beta terus
dihancurkan dan pasien LADA harus dimonitor secara seksama. Beberapa penelitian telah
menunjukkan bahwa penggunaan sulfonilurea dan metformin obat sensitisasi insulin, dapat
meningkatkan risiko gangguan metabolik berat pada orang dengan LADA. Ketika glukosa
darah tidak lagi dapat dikelola melalui gaya hidup dan obat-obatan, suntikan insulin setiap
hari akan diperlukan.
4
Manifestasi Klinis
PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) membagi diagnosis DM menjadi
2 bagian besar berdasarkan ada dan tidaknya tanda / gejala khas DM. Gejala khas DM terdiri
dari :
1. Poliuria
2. Polidipsia
3. Polifagia
4. berat badan yang menurun tanpa sebab yang jelas
10

Sedangkan gejala yang tidak khas DM adalah lemas, kesemutan, luka yang sulit sembuh,
gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulva pada wanita.
3


Patofisiologi
Diabetes mellitus tipe 2 tampaknya terjadi karena sekumpulan cacat genetic yang
masing-masing menimbulkan risiko predisposisinya sendiri dan dimodifikasi oleh faktor-
faktor lingkungan. Berbeda dengan tipe 1, pada diabetes tipe 2 tidak ada bukti yang
menunjukkan dasar autoimun. Dua defek metabolic utama yang menandai diabetes tipe 2
adalah resistensi inslin dan disfungsi sel .
Resistensi Insulin
Resistensi insulin merupakan keadaan berkurangnya kemampuan jaringan perifer
untuk berespons terhadap hormone insulin. Sejumlah penelitian fungsional pada orang-orang
dengan resistensi insulin memperlihatkan sejumlah kelainan kuantitatif dan kualitatif pada
lintasan penyampaian sinyal insulin yang meliputi penurunan jumlah reseptor insulin,
penurunan fosforilasi reseptor insulin serta aktivitas tirosin kinase, dan berkurangnya kadar
zat-zat antara yang aktif dalam lintasan penyampaian sinyal insulin. Resistensi insulin diakui
sebagai sebuah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor genetic serta
lingkungan. Sebagian besar faktor genetic yang berkaitan dengan resistensi insulin masih
menjadi misteri karena mutasi pada resptor insulin itu sendiri sangat sedikit menyebabkan
seseorang mengidap diabetes tipe 2. Diantara faktor-faktor lingkungan, obesitas memiliki
korelasi yang paling kuat. Korelasi obesitas dengan DM tipe 2 telah dikenali selama beberapa
decade dan resistensi insulin menjadi kelainan yang mendasarinya. Risiko terjadinya diabetes
meningkat seiring indeks massa tubuh yang meningkat, dan keadaan ini mennunjukkan
korelasi dosis-respons antara lemak tubuh dan resistensi insulin. Faktor-faktor yang
mempengaruhi resistensi insulin pada obesitas meliputi kadar asam lemak bebas yang tinggi
di dalam darah yang beredar dan intrasel. Kadar asam lemak bebas yang tinggi di dalam
darah dan sel ini dapat mempengaruhi fungsi insulin (lipotoksisitas) dan sejumlah sitokin
yang dilepaskan oleh jaringan adipose (adipokin); sitokin ini meliputi leptin, adiponektin dan
resistin, PPAR- (suatu reseptor nukleusadiposit yang diaktifkan oleh kelas preparat
antidiabetik baru yang dinamakan thiazolidinedion dapat memodulasi ekspresi gen dalam
adiposity dan hal ini akhirnya akan mengurangi resistensi insulin.
11

Disfungsi sel
Disfungsi sel bermanifestasi sebagai sekresi insulin yang tidak adekuat dalam
menghadapi resistensi insulin dan hiperglikemia. Disfungsi sel bersifat kualitatif (hilangnya
pola sekresi insulin normal yang berayun/osilasi dan pulsatil serta pelemaan fase pertama
sekresi insulin cepat yang dipicu oleh peningkatan glukosa plasma) maupun kuantitatif
(berkurangnya massa sel , degenerasi pulau Langerhans, dan pengendapan amiloid dalam
pulau Langerhans).
4


Epidemiologi
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh
dunia menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya terus
meningkat dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka ini akan bertambah
menjadi 366 juta atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun
lebih sering (terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens terbesar
terjadi di Asia dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup,
seperti pola makan Western-style yang tidak sehat. Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun,
10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa
selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus
yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. Baik DM
maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering pada
golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial rendah. Daerah dengan angka penderita
DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan
kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%. Beberapa hal yang
dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral), hipertensi, kurangnya
aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.

Penatalaksanaan Non-Medikamentosa
Terapi gizi merupakan salah satu terapi non farmakologi yang sangat
direkomendasikan bagi penyandang diabetes. Terapi gizi ini pada prinsipnya adalah
12

melakukan pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi penderita diabetes dan
melakukan modifikasi diet berdasarkan kebutuhan individual. Beberapa manfaat yang telah
terbukti dari terapi gizi medis antara lain :
1. Menurunkan berat badan
2. Menurunkan tekanan darah
3. Menurunkan kadar glukosa darah
4. Memperbaiki profil lipid
5. Meningkatkan sensitivitas reseptor insulin
6. Memperbaiki koagulasi darah
Sebagai sumber energy, karbohidrat yang diberikan tidak boleh melebihi dari 55-65% dari
total kebutuh energy sehari, atau tidak boleh lebih dari 70% jika dikombinasi dengan
pemberian asam lemak tidak jenuh. Jumlah kebutuhan protein yang direkomendasikan sekitar
10-15% dari total kalori per hari. Batasi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh
dengan jumlah maksimal 10% dari kebutuhan kalori per hari. Beberapa faktor yang harus
diperhatikan sebelum melakukan perubahan pola makan diabetisi antara lain tinggi badan,
berat badan, status gizi, status kesehatan, aktivitas fisik seharihari, faktor usia, dan masa
kehamilan.
Latihan fisik juga penting dilakukan untuk para penderita diabetes. Pada diabetisi
yang gula darahnya tidak terkontrol maka latihan fisik akan menyebabkan terjadinya
peningkatan kadar glukosa darah dan benda keton yang data berakibat fatal. Pada diabetes
mellitus tipe 2, latihan fisik dapat memperbaiki kendali glukosa secara menyeluruh, terbukti
dengan penurunan kadar HbA1C yang cukup menjadi pedoman untuk penurunan risiko
komplikasi diabetes dan kematian. Selain mengurangi risiko, latihan fisik dapat memberikan
pengaruh yang baik pada lemak tubuh, tekanan darah arteri, sensitivitas barorefleks,
vasodilatasi, pembuluh darah yang endothelium-dependent, aliran darah pada kulit, hasil
perbandingan denyut jantung dan tekanan darah (saat istirahat maupun aktif),
hipertrigliseridemi dan fibrinolisis. Frekuensi latihan fisik sebaiknya dilakukan 3-5 kali per
minggu dengan intensitas ringan sampai sedang (60-70% maximum heart rate). Durasi
latihan yang dianjurkan adlaah 30-60 menit dengan jenis latihan seperti jalan, jogging,
berenang dan bersepeda yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi.
6


13

Penatalaksanaan Medikamentosa
Golongan insulin sensitizing
Biguanid
Dari golongan ini yang banyak dipakai adalah metformin yang dapat diberikan 2-3
kali sehari kecuali dalam bentuk extended release. Metformin meningkatkan pemakaian
glukosa oleh sel usus sehingga menurunkan glukosa darah dan juga diduga menghambat
absorpsi glukosa di usus sesudah asupan makanan. Selain itu juga dapat menstimulasi
produksi glucagon like peptide (GLP-1) dari gastrointestinal yang dapat menekan fngsi sel
alfa pancreas sehingga menurunkan produksi glucagon serum dan mengurangi hiperglikemia
saat puasa. Metformin juga berpengaruh pada lipid, tekanan darah, dan juga pada
plasminogen activator inhibitor (PAI-1). Metformin tidak memiliki efek stimulasi pada sel
beta pakreas sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia. Biasanya dapat digunakan sebagai
monoterapi mauppun dalma bentuk kombinasi dengan sulfonil urea, repaglinid, nateglinid,
penghambat alfa glukosidase dan glitazone. Pemakaian monoterapi metformin menjadi
pilihan utama pada awal pengelolaan diabetes pada orang gemuk dengan dislipidemia dan
resistensi insulin berat. Kombinasi metformin dan insulin juga data dipertimbangkan pada
pasien gemuk dengan glikemia yang sukar dikendalikan. Pemakaian metformin
dikontraindikasikan pada penderita gangguan fungsi hati, infeksi berat, penggunaan alcohol
berlebihan serta penyandang gagal jantung yang memerlukan terapi.
7
Glitazone
Thiazolidinediones merupakan agonis peroksisom proliferator activated receptors
gamma (PPAR-) yang sangat selektif dan poten. Glitazone menurunkan konsentrasi insulin
lebih besar daripada metformin dan meningkatkan efesiensi dan respon sel beta pancreas
dengan menurunkan lipotoksisitas dan glukotoksisitas. Rosiglitazon meningkatkan kolesterol
LDL dan HDL namun tidak pada trigliserida. Sedangkan pioglitazone menurunkan
trigliserida dan meningkatkan HDL. Glitazon sendiri dapat sedikit menurunkan tekanan darah,
meningkatkan fibrinolisis dan memperbaiki fungsi endotel. Rosiglitazon dan pioglitazon
dapat digunakan sebagai monoterapi dan juga sebagai kombinasi dengan metformin dan
sekretagok insulin. Pemakaian bersama insulin tidak disarankan karena dapat mengakibatkan
peningkatan berat badan yang berlebih dan retensi cairan. Dosis rosiglitazon 4 dan 8 mg
sehari (dosis tunggal atau dosis terbagi 2x sehari). Pemakaian glitazone dihentikan bila
14

terdapat kenaikan enzim hati lebih dari 3 kali batas atas normal. Pemakaiannya juga harus
hati-hati pada pasien dengan riwayat penyakit hati, gagal jantung kelas 3 dan 4 dan pada
edema.
7

Golongan sekretagok insulin
Sulfonilurea
Obat ini digunakan sebagai terapi farmakologis pada awal pengobatan diabetes,
terutama bila konsentrasi glukosa tinggi dan sudah terjadi gangguan pada sekresi insulin.
Sering digunakan sebagai terapi kombinasi karena kemampuannya untuk meningkatkan atau
mempertahankan sekresi insulin. Golongan obat ini bekerja dengan merangsang sel beta
pancreas untuk melepaskan insulin yang tersimpan sehingga hanya bermanfaat pada pasien
yang masih mampu mensekresi insulin. Pembagian SU menjadi 3 generasi, yaitu :
- Generasi I : acetohexamide, tolbutamide, klorpropamide
- Generasi II : glibenklamide, glipizide, gliclazide
- Generasi III : glimepiride
Pemakaian SU umumnya selalu dimulai dengan dosis rendah untuk menghindari
kemungkinan hipoglikemia. Dosis permulaan SU tergantung apda beratnya hiperglikemia.
Bila GDP < 200mg/dL sebaiknya SU diberikan dimulai dengan dosis kecil dan dititrasi
secara bertahap setelah 1-2 minggu. Sedangkan bila GDP > 200mg/dL dapat diberikan dosis
awal yang lebih besar. Obat sebaiknya diberikan 30 menit sebelum makan karena dapat
diabsorpsi lebih baik. Jika pemberiannya 1 kali sehari sebaiknya diberikan pada pagi hari atau
pada saat makan makanan porsi terbesar.
7
Glinid
Glinid memiliki lama kerja yang pendek maka digunakan sebagai obat prandial.
Repaglinid dan nateglinid diberikan 2-3 kali sehari dimana repaglinid dapat menurunkan
GDP karena masa tinggalnya pada reseptor SUR lebih lama dibandingkan dengan nateglinid.
Keduanya merupakan sekretagok yang khusus menurunkan glukosa post-prandial dengan
efek hipoglikemia yang minimal.
7

15

Penghambat Alfa Glukosidase
Acarbose berkerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di
dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan
menurunkan hiperglikemia post-prandial. Obat ini bekerja pada lumen usus dan tidak
menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin. Acarbose
memperlambat pemecahan dan penyerapan karbohidrat kompleks dengan menghambat enzim
alfa glukosidase yang terdapat pada dinding eritrosit yang terletak pada bagian proksimal
usus halus. Dapat digunakan sebagai monoterapi atau sebagai kombinasi dengan insulin,
metformin, glitazone, atau SU. Untuk mendapat efek maksimal obat ini harus segera
diberikan pada saat makanan utama.
7

I ncretin
Terdapat hormone incretin yang dikeluarkan oleh saluran cerna yaitu glucose
dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon like peptide-1 (GLP-1). KEduanya
dikeluarkan sebagai respon terhadap asupan makanan sehingga meningkatkan sekresi insulin.
Selain membantu meningkatkan respn sekresi insulin oleh makanan, GLP-1 jug amenekan sel
alfa pancreas dalam mensekresi glucagon, memperlambat pengosongan lambung dan
memiliki efek anoreksia sentral sehingga menurunkan hiperglikemia.
7
Penghambat Dipeptydil Peptidase IV (DPP-4)
Penghambatan enzim DPP-4 diharapkan dapat memperpanjang masa kerja GLP-1
sehingga membantu menurunkan hiperglikemia. Ada dua macam penghambat DPP-4 saat ini
yaitu sitagliptin dan vildagliptin. Pada terapi tunggal dapat menurunkan HbA1C dan memiliki
efek pada glukosa puasa dan post prandial. Dapat juga digunakan sebagai terapi alternative
bila terdapat intoleransi pada pemakaian metformin atau pada usia lanjut. DPP-4 tidak
mengakibatkan hipoglikemia dan kenaikan berat badan. Efek samping yang dapat ditemukan
adalah nasofaringitis, peningkatan risiko infeksi saluran kemih dan sakit kepala.
7


Komplikasi
5
Ketoasidosis metabolic
16

Terjadi peningkatan absolute atau relative kadar glucagon yang menyebabkan
pelepasan asam-asam lemak bebas yang berlebihan dari jaringan adipose dan oksidasi hepatic
yang menghasilkan benda keton. Ketonemia dan ketonuria dengan dehidrasi dapat
menimbulkan ketoasidosis metabolic sistemik yang dapat berakibat pada kematian.
Koma hiperosmolar nonketotik
Biasanya terjadi dalam keadaan dehidrasi berat yang dikarenakan dieresis
hiperglikemik yang terus-menerus dan ketidakmampuan untuk minum air yang cukup.
Penyakit mikrovaskular diabetic
Aterosklerotik dipercepat pada aorta dan pembuluh arteri berukuran besar serta
sedang, meningkatkan risiko terjadinya infark miokard, stroke serebri, aneurisma aorta dan
gangrene pada ekstremitas bawah.
Mikroangiopati diabetic
Diabetes mellitus menyebabkan penebalan difus membrane basalis. Penebalan ini
terlihat nyata pada pembuluh kapiler dalam kulit, otot skeletal, retina, glomerulus ginjal, dan
medulla ginjal. Keadaan tersebut dapat mengenai struktur non-vaskuler seperti tubulus ginjal,
kapsula Bowman, saraf perifer dan plasenta. Walaupun terjadi penebalan pada membrane
basalis, namun pada pasien DM pembuluh kapilernya lebih permeable (mudah bocor)
terhadap protein plasma dibandingkan dengan pembuluh kapiler orang normal.
Mikroangiopati mendasar terjadinya nefropati diabetic dan beberapa bentuk neuropati lainnya.
Nefropati diabetic
Ginjal merupakan organ yang mengalami kerusakan paling berat pada pasien DM dan
salah satu penyebab kematian diabetes yang utama adalah gagal ginjal. Dimana terjadi
kelainan pada glomerulusnya (sklerosis mesangial yang difus, glomerulosklerosis noduler
yang disebut lesi Kimmerlstiel-Wilson, lesi eksudatif yang mengakibatkan proteinuria
progresif dan gagal ginjal kronik.
Komplikasi Okular Diabetik
Retinopati nonproliferatif terdiri dari perdarahan intra-retina serta pre-retina, eksudasi,
edema, penebalan kapiler retina dan mikroaneurisma. Retinopati proliferative merupakan
17

proses neovaskularisasi dan fibrosis pada retina dengan kecenderungan yang tinggi untuk
menimbulkan kebutaan.
Neuropati Diabetik
Neuropati perifer simetrik yang mengenai saraf motorik dan sensorik ekstremitas
bawah disebabkan oleh jejas sel Schwann, degenerasi myelin, dan kerusakan akson saraf.
Neuropati otonom dapat menimbulkan impotensi seksual dan disfungsi usus serta kandung
kemih. Kelainan neurologic yang bersifat fokal (mononeuropati diabetic) paling besar
kemungkinannya disebabkan oleh mikroangiopati.

Prognosis
3
Sasaran pengelolaan diabetes mellitus bukan hanya glukosa darah saja tetapi juga
profil lipid, berat badan, tekanan darah, dan sebagainya seperti dibawah ini yang telah
ditetapkan oleh PERKENI :
1. DM Terkendali Baik
a. GDP 80-100 mg/dL
b. GD2jPP 80-144 mg/dL
c. HbA1C < 6.5%
d. Kolesterol Total < 200 mg/dL
e. K-LDL < 100 mg/dL
f. K-HDL > 45 mg/dL
g. Trigliserida < 150 mg/dL
h. IMT 18.5-23 kg/m
2

i. Tekanan darah 130/80 mmHg
2. DM Terkendali Sedang
a. GDP 100-125 mg/dL
b. GD2jPP 145-179 mg/dL
c. HbA1C < 6.5-8%
d. Kolesterol Total 200-239 mg/dL
e. K-LDL 100-129 mg/dL
f. Trigliserida 150-199 mg/dL
g. IMT 23-25 kg/m
2

18

h. Tekanan darah 130-140/80-90 mmHg
3. DM Terkendali Buruk
a. GDP 126 mg/dL
b. GD2jPP 180 mg/dL
c. HbA1C 8%
d. Kolesterol Total 240 mg/dL
e. K-LDL 130 mg/dL
f. Trigliserida 200 mg/dL
g. IMT > 25 kg/m
2

h. Tekanan darah > 140/90 mmHg
Tentu saja yang diharapkan dengan penatalaksanaan non-farmakologis seperti diet dan
latihan fisik yang dipatuhi dan dijalankan secara teratur, serta patuh mengkonsumsi obat yang
telah diberikan oleh dokter maka status DM pasien haruslah terkendali baik.
3


Pencegahan

Pencegahan primer memiliki sasaran yaitu masyarakat yang masih sehat. Semua
pihak di dalam masyarakat harus mengembangkan dan membudayakan pola hidup sehat dan
menghindari pola hidup yang meningkatkan risiko DM. Mengkampanyekan makanan sehat
yang mengandung lemak dengan kadar yang rendah atau pola makan seimbang harus
ditanamkan sejak usia dini. Juga menganjurkan olahraga agar tetap dapat menjaga berat
badan agak tidak berlebihan. Pencegahan sekunder adalah ditujukan kepada para penderita
Dm untuk mencegah terjadinya komplikasi dengan mengingatkan pentingnya kepatuhan
minum obat dan latihan fisik secara teratur serta menjaga pola makan. Penyuluhan tentang
diabetes dan cara mencegah komplikasinya perlu diberikan bagi para penderita DM dan
keluarga ataupun kerabat dekatnya. Terakhir pencegahan tersier dengan sasaran pada
penderita DM yang sudha maupun belum mengalami komplikasi dengan tujuan mencegah
terjadinya komplikasi ataupun kecacatan yang diakibatkannya. Upaya ini terdiri dari 3
tahap :
7

1. Pencegahan komplikasi diabetes yang pada consensus dimasukkan sebagai
pencegahan sekunder
19

2. Mencegah berlanjutnya progresi komplikasi untuk tidak menjurus kepada penyakit
organ
3. Mencegah terjadinya kecacatan disebabkan oleh karena kegagalan organ tubuh atau
jaringan.

Kesimpulan
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
Diagnosis terhadap DM dapat ditegakkan dengan kriteria berikut :
1. Gejala khas DM + glukosa darah sewaktu (GDS) 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
2. Gejala khas DM + glukosa darah puasa (GDP) 126 mg/dL (7,0 mmol/L)
3. Glukosa plasma 2 jam setelah makan dengn TTGO 200 mg/dL (11,1 mmol/L)
Gejala khas DM terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia, dan berat badan yang menurun
tanpa sebab yang jelas. Sedangkan gejala yang tidak khas DM adalah lemas, kesemutan, luka
yang sulit sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus vulva pada wanita.
Dua defek metabolic utama yang menandai diabetes tipe 2 adalah resistensi inslin dan
disfungsi sel . Terapi gizi merupakan salah satu terapi non farmakologi yang sangat
direkomendasikan bagi penyandang diabetes.Latihan fisik juga penting dilakukan untuk para
penderita diabetes. Frekuensi latihan fisik sebaiknya dilakukan 3-5 kali per minggu dengan
intensitas ringan sampai sedang (60-70% maximum heart rate). Durasi latihan yang
dianjurkan adalah 30-60 menit dengan jenis latihan seperti jalan, jogging, berenang dan
bersepeda yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi. Sedangkan terapi
medikamentosa dapat digunakan monoterapi ataupun kombinasi seusai dengan status dan
hasil pemeriksaan laboratorium pasien DM itu sendiri. Obat yang dapat diberikan adalah
golongan insulin sensitizing (biguanid dan glitazone), golongan sekretagok insulin,
penghambat alfa glukosidase, penghambat Dipeptydil Peptidase IV (DPP-4). Komplikasi
yang diabetes mellitus dapat berupa ketoasidosis metabolic, neuropati, komplikasi okular
diabetic, nefropati diabetic, penyakit mikrovaskular diabetic, mikroangiopati diabetic, koma
hiperosmolar nonketotik. Sasaran pengelolaan diabetes mellitus bukan hanya glukosa darah
saja tetapi juga profil lipid, berat badan, tekanan darah, dan sebagainya seperti dibawah ini
yang telah ditetapkan oleh PERKENI, yaitu diabetes terkendali baik, sedang dan buruk.
20

Pencegahan ditujukan pada masyarakat luas yang maish sehat dan populasi yang belum
terdiagnosis diabetes dan juga kepada para penderita diabetes untuk mencegah terjadinya
progresi komplikasi atau bahkan kecacatan.

Daftar Pustaka
1. Gleadle J. At a glance: anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga;
2007.h.138-9.
2. Halim SL, Iskandar I, Edward H, Kosasih R, Sudiono H. Patologi klinik: Kimia klinik.
Edisi kedua. Jakarta: Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Ukrida; 2013.h.51-
62.
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S. Buku ajar penyakit
dalam jilid III. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1880-3.
4. Mitchell RN. Buku saku dasar patologis penyakit Robbin & Cotran. Edisi ketujuh.
Jakarta: RGC; 2009.h.669-78.
5. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S. Buku ajar penyakit
dalam jilid III. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1874-6.
6. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata KM, Setiati S. Buku ajar penyakit
dalam jilid III. Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.1891-5.
7. Suherman SK. Insulin dan antidiabetika oral. Dalam: Farmakologi dan terapi. Edisi
kelima. Jakarta: Badan penerbit FKUI; 2011.h.481-95.