Anda di halaman 1dari 22

Jurnal

Oseanografi















Oleh :
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Asisten Laporan :
Andi Ibrahim


Laboratorium Ekologi Perairan
Jurusan Perikanan
Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2014
LAPORAN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI
Carissa Paresky Arisagy
12 / 334991 / PN / 12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

INTISARI
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari
lautan yang meliputi berbagai ilmu dasar dan terapan antara lain fisika, kimia, biologi,
ilmu tanah, ilmu bumi, dan juga ilmu iklim. Praktikum oseanografi ini dilaksanakan di
Pantai Krakal, Gunung Kidul pada tangga 17 dan 18 Mei 2014. Tujuan praktikum ini
adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan perairan di kawasan Pantai Krakal, Gunung
Kidul berdasarkan parameter fisika, kimia dan biologi. Metode yang digunakan dalam
praktikum ini adalah pengamatan dan pengambilan data parameter fisik, kimia, dan biologi
yang terbagi dalam tiga stasiun. Kondisi periran yang paling baik adalah pada stasiun 3
dimana nilai-nilai parameternya cenderung lebih optimum dibandingkan dengan stasiun
lainnya. Dimana suhu udara dan suhu air berkisar antara 25-32,85
o
C dan 27,5-31
o
C,
kemiringan 8
o
, surut terendah 41 cm, pasang tertinggi 128 cm, gelombang 0,03-0,18 Hz,
kecepatan angin antara 0-2,8 m/s, DO antara 4,2-7,7 ppm, CO
2
bebas antara 0-8 ppm,
alkalinitas antara 93-133 ppm, pH normal, dan salinitas antara 31-33
o
/
oo
. Di samping itu
pada stasiun 3 memiliki nilai indeks diversitas yang tinggi, dimana nilai tersebut
merupakan ukuran kesuburan wilayah perairan.

Kata kunci : biologi, fisik, kimia, pantai, parameter

PENDAHULUAN
Kondisi geografis Indonesia yang strategis dan fakta fisik bahwa Indonesia
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas laut 70% dari luas
teritorialnya menjadikan sumber daya pesisir dan lautan sebagai sumber devisa yang
penting dan bermanfaat bagi pembangunan nasional. Dimana lautan telah memberikan
banyak manfaat bagi manusia baik sebagai sarana perhubungan dari suatu tempat ke
tempat lainnya, sebagai tempat rekreasi dan hiburan, sebagai pembangkit tenaga listrik,
maupun sebagai penyedia bahan makanan. Pemanfaatan sumberdaya dan potensi laut yang
sangat berlimpah tersebut tentunya memerlukan suatu ilmu untuk mempelajari sifat-sifat
dan karakteristik laut serta fenomena yang terjadi di dalamnya. Memperhatikan dan
menyadari pentingnya laut bagi kehidupan, maka dirasa perlu untuk dilakukan peningkatan
pemahaman mengenai sifat-sifat dan karakteristik laut melalui praktikum Oseanografi.
Oseanografi adalah ilmu yang mempelajari fenomena fisis dan dinamis air laut
yang dapat dipublikasikan ke bidang-bidang lainnya seperti rekayasa lingkungan,
perikanan, bencana alam dan mitigasi (pengelolaan dan pencegahan) (Ali, 2007).
Oseanografi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari
lautan yang meliputi berbagai ilmu dasar dan terapan antara lain fisika, kimia, biologi,
ilmu tanah, ilmu bumi, dan juga ilmu iklim. Menurut Hutabarat dan Evans (1984) ilmu
oseanografi dapat dibagi menjadi 4 cabang ilmu yaitu: Fisika Oseanografi, Geologi
Oseanografi, Kimia Oseanografi, dan Biologi Oseanografi. Kondisi oseanografi fisik di
kawasan laut dapat digambarkan oleh fenomena alam seperti terjadinya pasang surut,
gelombang, arus, kemiringan pantai, kondisi suhu dan kecepatan angin. Fenomena-
fenomena tersebut memberikan kekhasan dan karakteristik pada kawasan laut sehingga
menyebabkan terjadinya kondisi fisik perairan yang berbeda-beda (Dahuri 1996).
Kekuatan yang berasal dari perairan dapat berwujud tenaga gelombang,pasang surut dan
arus, sedangkan yang berasal dari udara berupa angin yangmengakibatkan gelombang dan
arus sepanjang pantai, suhu udara dan curahhujan (Soetikno, 1993).
Menurut Dahuri (1996), ombak merupakan salah satupenyebab yang berperan besar dalam
pembentukan pantai.
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum oseanografi ini adalah untuk
mengetahui metode pengambilan sampel parameter fisik, kimia dan biologi perairan laut.
Di samping itu, praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari korelasi antara
parameter fisik, kimia dan biologi serta mengetahui pengaruh parameter tersebut terhadap
pemanfaatan laut. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mempelajari kualitas
perairan laut berdasarkan indeks diversitas biota perairan.

METODE
Praktikum Oseanografi dilaksanakan di Pantai Krakal pada hari Sabtu dan
Minggu tanggal 17-18 Mei 2014. Praktikum ini dilaksanakan selama 22 jam dimulai sejak
pukul 10.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB pada hari berikutnya. Adapun alat yang
digunakan pada praktikum oseanografi ini meliputi tongkat, tali, termometer, stopwatch,
kalkulator, anemometer, kompas, tisu, teropong, meteran, senter, refraktometer, pH meter,
botol oksigen, erlenmeyer, pipet tetes, pipet ukur, kempot, botol air mineral, gelas ukur,
ember, jaring larva, botol film, mikroskop, sedgwick rafter, dan jaring plankton. Sementara
bahan yang digunakan antara lain, larutan MnSO
4
, reagen O
2
, larutan H
2
SO
4
pekat, larutan
1
/
80
N Na
2
S
2
O
3
, indikator amilum, indikator PP (phenolpthelein), larutan
1
/
44
N NaOH,
indikator MO (Methyl Orange), larutan
1
/
50
N H
2
SO
4
, larutan formalin dan aquadest.
Daerah pengamatan dibagi menjadi tiga stasiun pengamatan. Adapun parameter
yang diamati pada praktikum kali ini meliputi parameter fisik, kimia dan biologi.
Parameter fisik meliputi suhu air, suhu udara, pasang surut, gelombang, kecepatan angin,
arah angin, dan kemiringan pantai. Kemudian, parameter kimia meliputi DO (Disolved
Oxygen), CO
2
bebas, pH, alkalinitas serta salinitas. Sementara, parameter biologi meliputi
larva dan plankton.
Pada prinsipnya praktikum oseanografi ini dilakukan dengan pengamatan,
pengukuran serta pehitungan secara langsung terhadap parameter-parameter perairan.
Pengukuran suhu air dan udara dilakukan secara langsung dengan menggunakan
termometer. Begitu pula kecepatan angin dan arah angin yang diukur secara langsung
dengan menggunakan anemometer dan kompas. Pengukuran frekuensi gelombang
dilakukan dengan menghitung banyaknya gelombang yang melewati titik tertentu dalam
kurun waktu 1 menit. Kemiringan pantai diukur dengan mengaplikasikan persamaan
trigonometri. Sedangkan, pada pengamatan parameter pasang surut hanya dilakukan
dengan simulasi. Pada pengamatan parameter kimia, pH dan salinitas ditentukan secara
visual dengan menggunakan pH meter dan refraktometer. Kemudian, kandungan O
2

terlarut (DO) ditentukan dengan menggunakan metode Winkler dengan rumus,

(mg/l). Sementara pengukuran CO


2
bebas dilakukan dengan
metode alkalimetri dengan rumus

(mg/l). Sedangkan,
alkalinitas ditentukan dengan metode alkalimetri melalui titrasi yang kemudian dilakukan
perhitungan dengan menjumlahkan CO
3
2-
dan HCO
3
-
di mana

dan

.
Pada pengamatan parameter biologi, densitas dan diversitas plankton dilakukan dengan
metode pengambilan sampel yang kemudian diamati dengan bantuan sedgwick rafter dan
mikroskop. Kemudian untuk pengamatan larva dilakukan dengan pengambilan sampel
yang kemudian diidentifikasi dengan menggunakan buku panduan identifikasi larva.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengamatan dan pengukuran parameter fisik, kimia, dan biologi pada perairan
pantai dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 untuk stasiun 1, tabel 3 dan 4 untuk stasiun 2, serta
tabel 5 dan 6 untuk stasiun 3. Masing-masing lokasi memberikan gambaran nilai parameter
yang bervariasi.











Tabel 1. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Fisik dan Kimia Stasiun 1

Tabel 2. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Biologi Stasiun 1


























Praktikum Oseanografi di Pantai Krakal, Gunung Kidul dilaksanakan pada hari
Sabtu dan Minggu tanggal 17 dan 18 Mei 2014. Pengamatan dilakukan setiap 2 jam sekali
Tabel 3. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Fisik dan Kimia Stasiun 2

Tabel 4. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Biologi Stasiun 2

Tabel 5. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Fisik dan Kimia Stasiun 3


Tabel 6. Tabel Hasil Pengamatan Parameter Biologi Stasiun 3


selama 22 jam, dimulai sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB pada hari
berikutnya. Pengamatan oseanografi dilakukan pada 3 stasiun pengamatan yang berbeda.
Pada masing-masing stasiun dilakukan pengamatan terhadap parameter fisik, kimia, dan
biologi. Pantai Krakal terletak pada bagian selatan pulau Jawa sehingga memiliki ombak
yang besar karena pantai ini menghadap langsung ke samudra Hindia. Letaknya yang
berhadapan langsung dengan samudera menyebabkan besarnya pengaruh parameter
oseanografi terhadap bentukan pantai. Pantai ini memiliki bentuk pantai yang landai dan
berpasir putih yang terhampar sepanjang lebih dari 5 km. Berdasarkan penelitian geologis,
pada zaman yang silam, daerah ini merupakan dasar dari lautan. Lambat laun terjadi proses
pengangkatan yang terjadi pada kerak bumi, dasar laut ini semakin lama semakin meninggi
dan akhirnya muncul sebagai dataran tinggi. Dengan demikian, pantai ini digolongkan
sebagai pantai berbatu (rocky beach) karena dipenuhi oleh batu-batuan karang yang
merupakan hasil pengangkatan dari dasar laut. Batuan karang tersebut menyusun daerah
intertidal. Dimana pada daerah ini banyak ditumbuhi oleh tanaman laut dan dihuni
berbagai macam hewan laut seperti moluska, echinodermata, ikan-ikan karang, kepiting,
dan lain sebagainya, membentuk suatu ekosistem yang komplek. Bagian tepian pantai ada
yang berupa tebing dan ada pula yang berpasir dengan vegetasi khas pantai.
Berdasarkan Hasil pengamatan yang diperoleh dari stasiun 1, stasiun 2, dan
stasiun 3 terdapat perbedaan namun tidak terlalu signifikan baik pada parameter fisik,
kimia, maupun biologi. Hal ini dikarenakan lokasi stasiun yang jaraknya tidak terlalu jauh,
hanya selang beberapa meter saja. Masing-masing stasiun tersebut memiliki kriteria yang
berbeda. Pada stasiun 1 berada di samping gundukan material bangunan dengan
kemiringan pantai 8
o
suasananya panas meskipun di dekatnya terdapat beberapa vegetasi.
Sementara, stasiun 2 berada di lokasi yang dekat dengan menara pengawas SAR,
kemiringan di stasiun ini adalah 6
o
, suasananya cukup teduh, karena sinar matahari sedikit
terhalang oleh bangunan. Stasiun 3 berada di daerah yang cukup terik dan ramai
pengunjung dengan kemiringan pantai 9
o
. Berdasarkan derajat kemiringannya pantai
Krakal dapat dikategorikan sebagai pantai yang landai. Berikut disajikan grafik beserta
penjelasan dari masing-masing parameter baik fisik, kimia, maupun biologi pada prairan
pantai.








22
24
26
28
30
32
34
S
u
h
u

U
d
a
r
a

(
o
C
)

Waktu
Grafik Suhu Udara vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 1. Suhu Udara vs Waktu


Menurut Nybakken (1992), suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Alat untuk
mengukur suhu udara atau derajat panas disebut thermometer. Biasanya pengukur
dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Dalam pengamatan
parameter fisik perairan diamati suhu udara dan suhu air. Menurut Benyamin (1997), Suhu
udara adalah keadaan panas atau dinginnya udara. Suhu udara merupakan kondisi atau
keadaan temperatur yang menunjukkan situasi udara pada suatu wilayah atau daerah. Suhu
udara pada suatu wilayah perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah
faktor kondisi dari wilayah perairan tersebut. Vegetasi yang ada pada suatu wilayah
perairan sangat menentukan kondisi suhu udara pada wilayah perairan tersebut. Suhu udara
pada pagi hari, siang hari maupun malam hari akan berbeda-beda. Hal ini tentunya sangat
dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Semakin tinggi intensitasnya maka akan
semakin tinggi pula suhu udaranya.
Berdasarkan grafik suhu udara vs waktu tersebut dapat dilihat bahwa suhu udara
pada masing-masing stasiun setiap waktunya mengalami fluktuasi. Dari grafik tersebut
tampak bahwa suhu udara dari masing2 stasiun tinggi pada waktu siang hari dan rendah
pada waktu dini hari. Dimana suhu tertinggi berada pada stasiun 3 dengan nilai 32,85
o
C,
sedangkan suhu terendah berada pada stasiun 2 dengan nilai 24
o
C. Suhu udara tinggi pada
siang hari dan rendah pada waktu dini hari disebabkan oleh adanya pengaruh sinar
matahari. Dimana pada waktu dini hari matahari belum muncul sementara pada waktu
siang hari matahari sedang terik. Pada stasiun 1 suhu udara rendah pada pukul 02.00
dengan nilai 24,5
o
C dan tinggi pada pukul 12.00 dengan nilai 31
o
C. Pada stasiun 2 suhu
udara rendah pada pukul 04.00 dengan nilai 24
o
C dan tinggi pada pukul 16.00 dengan
nilai 30,5
o
C. Sementara pada stasiun 3 suhu udara rendah pada pukul 06.00 dengan nilai
25
o
C dan tinggi pada pukul 12.00 dengan nilai 32,8
o
C. Suhu udara dapat dengan cepat
berubah dikarenakan udara lebih mudah menyerap dan melepaskan intensitas panas dari
matahari (Odum, 1993). Berdasarkan data suhu udara yang diperoleh, maka dapat
dikatakan bahwa kondisi stasiun 3 lebih optimal dibandingkan dengan stasiun 1 dan 2.
Sebab menurut Odum (1993), suhu udara yang optimal bagi kehidupan adalah berkisar
antara 28
o
C-32
o
C. Dimana pada stasiun 3 kisaran suhu udaranya lebih mendekati nilai
optimumnya.








22
24
26
28
30
32
34
S
u
h
u

A
i
r

(
o
C
)

Waktu
Grafik Suhu Air vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 2. Suhu Air vs Waktu


Suhu air merupakan kodisi keadaan temperatur yang menunjukkan situasi air pada
suatu wilayah atau daerah. Faktor yang mempengaruhi suhu air pada suatu perairan adalah
pemanasan langsung oleh sinar matahari, organisme yang hidup di dalam air seperti
tanaman air dan hewan-hewan air yang dapat mempengaruhi suhu perairan. Suhu air
merupakan faktor penting dalam lingkungan perairan. Suhu air dapat mempengaruhi
besarnya kadar O
2
terlarut dalam suatu perairan, semakin tinggi suhu periran maka kadar
O
2
terlarutnya akan rendah, begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan pada suhu yang
tinggi organisme akan melakukan metabolisme yang tinggi pula sehingga organisme
tersebut membutuhkan Oksigen yang lebih untuk beraktivitas, sebagai sumber energi.
Menurut Effendi (2003), suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian
dari permukaan laut, waktu dalam satu hari, siklus udara, penutupan awan, dan aliran air
serta kedalaman dari badan air. Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan
ikan dan hewan air lainnya terganggu. Air memiliki beberapa sifat termal yang unik,
sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebihlambat dari pada udara. Selanjutnya
Soetjipta (1992) menambahkan bahwa walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air
daripada di udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk
akuatik sering memiliki toleransi yang sempit. Ikan merupakan hewan ektotermik yang
berarti tidak menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau
menyesuaikan suhu lingkungansekelilingnya (Hoole et al. 2005). Suhu dalam lautan
bervariasi sesuai dengan kedalaman. Menurut Nontji (1993), Suhu di perairan dipengaruhi
oleh radiasi matahari, posisi matahari, letak geografis, musim, kondisi awan, serta proses
interaksi antara air dan udara. Sementara menurut Gusrina (2008). Suhu air pada suatu
perairan dapat di pengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu
dalam satu hari, penutupan awan, aliran dan kedalaman air. Peningkatan suhu air
mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatisasi serta
penurunan kelarutan gas dalam air seperti DO, CO2, N2, CH4, dan sebagainya.
Berdasarkan grafik 2 tersebut suhu air pada masing-masing stasiun tampak
fluktuatif namun cenderung stabil. Suhu tertinggi justru terdapat pada waku siang hingga
sore hari, antara pukul 12.00 hingga pukul 16.00 ketika matahari mulai beranjak
tenggelam. Hal tersebut dikarenakan sifat air yang cenderung menyerap panas, sehingga
pada sore hari sekalipun suhunya masih tinggi (Odum, 1993). Hal tersebut juga dikarekan
sifat termal air yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat dari
pada udara. Pada stasiun 1 suhu air rendah pada pukul 00.00 dengan nilai 28
o
C dan tinggi
pada pukul 16.00 dengan nilai 31
o
C. Pada stasiun 2 suhu udara rendah pada pukul 06.00
dengan nilai 25
o
C dan tinggi pada pukul 12.00, 16.00, dan 22.00 dengan nilai 31
o
C.
Sementara pada stasiun 3 suhu udara rendah pada pukul 02.00 dengan nilai 28
o
C dan
tinggi pada pukul 16.00 dengan nilai 31
o
C. Pada dasarnya antara suhu, kandungan O
2

terlarut (DO) serta CO
2
bebas memiliki hubungan yang saling berkaitan. Menurut Haslam
(1995), peningkatan suhu air mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O
2
,
CO
2
, N
2
, dan CH
4
. Menurut Odum (1993), air dengan suhu berkisar antara 24-27
o
C adalah
suhu yang optimal bagi kehidupan biota perairan. Hal tersebut menandakan bahwa, baik
pada stasiun 1, 2 dan 3 telah melampaui suhu optimalnya. Akan tetapi, diantara ketiga
stasiun tersebut stasiun 3-lah yang memiliki kondisi suhu perairan yang cenderung lebih
mendekati optimum.










Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya
muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari
dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang
surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara
berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-
benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya
dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil. Factor-faktor yang
menyebabkan terjadinya pasang surut yaitu: adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi
bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari, kedalaman dan luas perairan,
pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa
faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut,
lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang
surut yang berlainan (Wyrtki, 1961).
Pada grafik 3 terlihat bahwa pada masing-masing stasiun memiliki pola pasang
surut yang sama. Hal ini dikarenakan masing-masing stasiun berdekatan jaraknya. Dimana
antara stasiun yang satu dengan stasiun yang lainnya hanya berjarak beberapa meter saja.
Dari grafik tersebut tampak bahwa pasang tertinggi terjadi pada waktu pagi hari yaitu pada
pukul 10.00 dengan ketinggian antara 120 hingga 130 cm atau kurang lebih sekitar 2
meter. Kemudian surut terendah terjadi pada waktu sore hari menjelang malam dimana
bulan mulai tampak yakni pada pukul 18.00 dengan ketinggian berkisar antara 40 hingga
50 cm atau kurang lebih setengah meter. Pasang tertinggi terjadi ketika resultan gaya
gravitasi benda-benda luar angkasa seperti bulan mengarah ke atas atau menjauhi bumi
akibatnya massa air akan naik karena adanya gaya tarik bulan. Sedangkan surut terendah
terjadi ketika resultan gaya gravitasi benda-benda luar angkasa mengarah ke bawah atau
masuk ke bumi akibatnya massa air akan turun karena banyak tertarik oleh resultan gaya
0
20
40
60
80
100
120
140
P
a
s
a
n
g

S
u
r
u
t

(
c
m
)

Waktu
Pasang Surut Vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 3. Pasang Surut vs Waktu


gravitasi tersebut (Supangat dan Susanna, 1999). Ditinjau dari pola pasang surut yang
hanya sekali terjadi pada waktu pagi dan sore tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola
pasang surut pada pantai Krakal ini termasuk jenis pasang surut harian tunggal (diurnal
tide).













Frekuensi gelombang adalah jumlah gelombang yang terjadi dalam satu satuan
waktu (Jatilaksono, 2007). Umumnya gelombang yang kita amati di laut disebabkan oleh
hembusan angin. Ada tiga faktor yang mempengaruhi besarnya gelombang yang
disebabkan oleh angin yakni kuatnya hembusan, lamanya hembusan dan jarak tempuh
angin (fetch). Setiap gelombang mempunyai tiga unsur yang penting yakni panjang, tinggi,
dan periode. Panjang gelombang ialah jarak mendatar antara dua puncak yang berurutan,
tinggi gelombang adalah jarak menegak antara puncak dan lembah, sedangkan periode
gelombang adalah waktu yang diperlukan oleh dua puncak yang berurutan untuk melalui
suatu titik (Foster, 2004). Ukuran besar kecilnya gelombang umumnya ditentukan
berdasarkan tinggi gelombang (Nontji, 1993).
Berdasarkan grafik di atas, masing-masing stasiun menunjukan frekuensi
gelombang yang sangat fluktuatif. Frekuensi gelombang tertinggi berada pada stasiun 1,
yakni sebesar 0,25 Hz terjadi pada pukul 16.00, sedangkan frekuensi gelombang terendah
berada pada stasiun 3, yakni sebesar 0,03 Hz terjadi pada pukul 14.00. Apabila dilihat dari
masing, masing stasiun, stasiun 1 memiliki nilai frekuensi gelombang tertinggi 0,25 Hz
dengan nilai terendah 0,05 Hz, kemudian pada stasiun 2 memiliki nilai frekuensi
gelombang tertinggi 0,22 Hz dengan nilai terendah 0,05 Hz, sementara pada stasiun 3 nilai
frekuensi gelombang tertingginya 0,18 Hz dan nilai terendahnya 0,03 Hz. Besar kecilnya
frekuensi gelombang tergantung pada kecepatan angin yang bertiup. Kecepatan angin yang
tinggi menyebabkan penumpukan energi dan pertumbuhan gelombang yang signifikan.
Frekuensi gelombang juga dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang berhubungan
dengan gaya tarik-menarik bumi dan bulan. Ditinjau berdasarkan bentuk dasar perairannya,
0.00
0.05
0.10
0.15
0.20
0.25
0.30
F
r
e
k
u
e
n
s
i

g
e
l
o
m
b
n
a
g

(
H
z
)

Waktu
Grafik Frekuensi Gelombang vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 4. Frekuensi Gelombang vs Waktu


pantai Krakal memiliki tipe pecah gelombang surging, yaitu tipe pecah gelombang yang
tidak banyak menimbulkan hempasan.









Kecepatan angin adalah kecepatan udara yang bergerak secara horizontal (Foster,
2004). Perbedaan tekanan udara antara asal dan tujuan angin merupakan faktor yang
menentukan kecepatan angin. Kecepatan angin akan berbeda pada permukaan yang
tertutup oleh vegetasi dengan ketinggian tertentu, misalnya tanaman padi, jagung, dan
kedelai. Oleh karena itu, kecepatan angin dipengaruhi oleh karakteristik permukaan yang
dilaluinya. Kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut
anemometer.
Grafik di atas memperlihatkan rata-rata kecepatan angin tinggi pada waktu siang
hingga sore hari, yakni antara pukul 12.00-18.00 WIB dan rendah pada waktu dini hari,
yakni pada pukul 00.00-06.00 WIB. Kecepatan angin tertinggi mencapai 5,55 m/s,
sedangkan pada dini hari cenderung tidak berangin, dimana kecepatan anginnya 0 m/s.
Kecepatan angin di stasiun 1 berkisar antara 0 - 5,55 m/s sedangkan pada stasiun 2 berkisar
antara 0 - 2 m/s, kemudian pada stasiun 3 kecepatan anginnya berkisar antara 0 2,8 m/s
Kecepatan angin ini dipengaruhi oleh lingkungan misalnya keadaan vegetasi dan bangunan
disekitar lingkungan pengamatan. Perubahan kecepatan angin dan hembusan arah angin
dipengaruhi oleh perbedaan suhu antara laut dan darat. Diketahui pula bahwa suhu akan
mengalir dari tempat yang lebih dingin ke tempat yang lebih panas. Pada pagi hari laut
lebih dingin dari darat sehingga angin akan berhembus ke arah darat, sedangkan pada
malam hari darat akan lebih dingin daripada laut sehingga angin akan berhembuh ke arah
lautan. Semakin tinggi atau rendah suhu daratan atau lautan akan mempengaruhi kecepatan
angin di kawasan tersebut. Arah angin yang ditunjukan pada waktu siang hari hingga sore
di ketiga stasiun relative ke arah Barat Laut yang artinya menuju kedaratan, sedangkan
pada waktu petang hingga pagi dini hari sebelum matahari terbit pada ketiga stasiun
menunjukan arah relative Selatan yang artinya menuju ke arah lautan. Hal tersebut
membuktikan bahwa malam hari terjadi angin darat dan siang hari terjadi angin laut.
0
1
2
3
4
5
6
7
K
e
c
e
p
a
t
a
n

A
n
g
i
n

(
m
/
s
)

Waktu
Grafik Kecepatan Angin vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 5. Kecepatan Angin vs Waktu










Oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen dalam mg yang terdapat dalam satu
liter air (ppm). Oksigen terlarut juga dapat diartikan sebagai kandungan gas Oksigen yang
terlarut dalam air. Oksigen terlarut dalam perairan merupakan faktor penting sebagai
pengatur metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber
Oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi Oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau
aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton
(Novotny and Olem, 1994). Difusi oksigen atmosfer ke air bisa terjadi secara langsung
pada kondisi air stagnant (diam) atau terjadi karena agitasi atau pergolakan massa air
akibat adanya gelombang atau angin. Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan pada
hakekatnya berlangsung relatif lambat, meskipun terjadi pergolakan massa air atau
gelombang.
Berdasarkan grafik tersebut, DO tertinggi terjadi pada pukul 14.00 dan terendah
pada pukul 18.00. Pada pukul 14.00 tersebut intensitas sinar matahari yang masuk ke
perairan optimum sehingga fitoplankton aktif berfotosintesis alhasil kandungan DO-nya
tinggi. Akan tetapi berangsur-angsur menurun seiring dengan semakin aktifnya aktivitas
organisme air di dalamnya yang membutuhkan O
2
. DO pada suatu penelitian sangat
bergantung pada suhu air dan pemakaian oksigen oleh biota perairan. Hubungan DO
dengan waktu adalah semakin siang maka DO semakin menurun meski plankton akan aktif
memproduksi O
2
, hal ini dikarenakan biota perairan akan semakin banyak menggunakan
O
2
sebab adanya pengaruh suhu yang semakin tinggi. Di samping itu, kadar DO di perairan
berfluktuasi secara harian, karena dipengaruhi percampuran (mixing) dan pergerakan
massa air (turbulence), aktivitas fotosintesis dan respirasi serta masukan limbah kedalam
air. Kemudian, dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan an-organik juga dapat
mengurangi kadar DO. Sumber utama oksigen di perairan terbuka antara lain berasal dari
interaksi air dan udara melalui proses difusi, aktivitas fotosintesis oleh fitoplankton
(Hutagalung, 1997). Hal tersebutlah yang mempengaruhi tingginya kadar DO pada pukul
14.00 di masing-masing stasiun. Sementara rendahnya kadar DO pada pukul 18.00
disebabkan tingginya suhu air, Alfianti (2009) menjelaskan bahwa semakin tinggi suhu
perairan maka kandungan DO rendah. Menurut, Harjono (1992), kandungan O
2
yang
0
1
2
3
4
5
6
7
8
10:00 14:00 18:00 22:00 2:00 6:00
D
O

(
p
p
m
)

Waktu
Grafik DO vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 6. DO vs Waktu


optimal bagi biota perairan adalah DO yang berkisar antara 6-15 ppm. Dengan demikian
perairan yang optimum adalah pada stasiun 2.









Karbondioksida bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO
2
yang terlarut di
dalam air. CO
2
yang terdapat dalam perairan alami merupakan hasil proses difusi dari
atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil respirasi organisme akuatik.
Tingginya kandungan CO
2
pada perairan dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan
biota perairan. Konsentrasi CO
2
bebas 12 mg/l dapat menyebabkan tekanan pada ikan,
karena akan menghambat pernafasan dan pertukaran gas. Kandungan CO
2
dalam air yang
aman tidak boleh melebihi 25 mg/l, sedangkan konsentrasi CO
2
lebih dari 100 mg/l akan
menyebabkan semua organisme akuatik mengalami kematian (Wardoyo, 1989).
Berdasarkan grafik tersebut nampak bahwa pada pagi hari hingga siang hari
antara pukul 10.00-14.00 baik pada stasiun 1, 2, maupun 3 tidak terdapat kandungan CO
2

bebas pada perairan. Tidak adanya kandungan CO
2
bebas pada pagi hari hingga siang hari
tersebut dikarenakan oleh adanya pergolakan massa air akibat adanya gelombang
permukaan air. Pada stasiun 1 kandungan CO
2
terlarut tinggi pada waktu dini hari (7,8
ppm), pada stasiun 2 kandungan CO
2
terlarut tinggi pada waktu malam hari (13 ppm),
sementara pada stasiun 3 kandungan CO
2
terlarut tinggi pada waktu malam hingga pagi
hari yakni sebesar 8 ppm. Hal tersebut diakibatkan oleh proses respirasi yang mana pada
malam hari akan mengonsumsi O
2
dan menghasilkan CO
2
. Pada malam hari tidak terjadi
proses fotosintesis sehingga O
2
yang terakumulasi digunakan sepenuhnya untuk respirasi
dan menghasilkan CO
2
bebas pada perairan. Sementara pada siang hari kandungan CO
2

bebas mulai menurun dan naik kembali pada sore menjelang malam. Hal tersebut berkaitan
dengan proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton dan produsen perairan lainnya.
pH dapat mempengaruhi CO
2
bebas dimana semakin rendah pH maka CO
2
bebas akan
semakin tinggi. Pada dasarnya antara suhu, kandungan O
2
terlarut (DO) serta CO
2
bebas
memiliki hubungan yang saling berkaitan. Menurut Haslam (1995), peningkatan suhu air
mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O
2
, CO
2
, N
2
, dan CH
4
. Menurut
0
2
4
6
8
10
12
14
10:00 14:00 18:00 22:00 2:00 6:00
C
O
2

(
p
p
m
)

Waktu
Grafik CO
2
vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 7. CO
2
vs Waktu


Odum (1993), kandungan CO
2
bebas yang optimal bagi biota perairan yaitu berkisar antara
6-20 ppm. Dengan demikian, kondisi perairan terbaik berada pada stasiun 3.








Alkalinitas merupakan suatu parameter kimia perairan yang menunjukkan jumlah
ion karbonat dan bikarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan
tawar. Alkalinitas juga didefinisikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) yang
menetralkan perubahan pH perairan yang sering terjadi (Effendi,2003). Pembentuk
alkalnitas yang utama adalah bikarbonat, karbonat dan hidroksida (Irianto, 2005).
Pada stasiun 1 nilai alkalinitas tertinggi mencapai 138 ppm, dengan nilai
alkalinitas terendah 63 ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul 06.00, sedangkan nilai
tertinggi pada pukul 02.00. Sementara pada stasiun 2 nilai alkalinitas tertinggi mencapai
121,7 ppm, dengan nilai alkalinitas terendah 104,5 ppm. Nilai terendah terjadi pada pukul
10.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 22.00. Kemudian pada stasiun 3 nilai
alkalinitas tertinggi mencapai 133 ppm, dengan nilai alkalinitas terendah 93 ppm. Nilai
terendah terjadi pada pukul 18.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 14.00. Berdasarkan
kedua grafik tersebut alkalinitas baik pada stasiun 1, 2, maupun 3 cenderung fluktuatif,
bahkan pada stasiun 1 pada pukul 02.00 alkalinitasnya menurun drastis dari 138 ppm
menjadi 63 ppm. Hubungan antara alkalinitas dan waktu ini dipengaruhi oleh pH, sebab
pH akan menurun ke arah asam apabila terjadi pelapukan senyawa organik. pH turut
dipengaruhi oleh CO
2
. Semakin rendah alkalinitas maka CO
2
semakin tinggi , begitu pula
sebaliknya. Menurut Odum (1993), ketinggian alkalinitas sebaiknya tidak lebih dari 500
sehingga kisaran optimum bagi biota perairan adalah 50-200 ppm. berdasrkan pengamatan
alkalinitas pada masing-masing stasiun alkaliniasnya optimum. Dengan demikian pantai
Krakal cocok sebagai habitat ikan karena nilai alkalinitasnya yang optimal, sehingga
kemampuan untuk mempertahankan pH-nya pun optimum. Ikan sangat sensitif pada
kondisi kadar alkalinitas yang rendah (Mintardjo, 1984). Fluktuasi pH air sangat
ditentukan oleh alkalinitas air tersebut. Apabila alkalinitasnya tinggi, maka air
tersebut akan mudah mengembalikan pH nya (Sastrawijaya, 2000).

60
70
80
90
100
110
120
130
140
10:00 14:00 18:00 22:00 2:00 6:00
A
l
k
a
l
i
n
i
t
a
s

(
p
p
m
)

Waktu
Grafik Alkalinitas vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 8. Alkalinitas vs Waktu












Menurut Purba (2006), pH merupakan parameter keasaman dari suatu larutan.
Derajat keasaman atau pH merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam
perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau
kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan
kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa
(Effendi, 2003).
Berdasarkan data tersebut tampak bahwa pH tertinggi didapat pada pukul 14.00
hingga 18.00. Pada stasiun 1 nilai pH tertinggi mencapai 7,2 dengan nilai pH terendah 6,7.
Nilai terendah terjadi pada pukul 08.00-10.00, sedangkan nilai tertinggi terjadi pada pukul
14.00-22.00. Kemudian, pada stasiun 2 nilai pH tertinggi mencapai 7,3 dengan nilai pH
terendah 7,1. Nilai terendah terjadi pada pukul 22.00-02.00, sedangkan nilai tertinggi pada
pukul 10.00. Pada stasiun 3 nilai pH tertingginya 7,1 dengan nilai terendah 6,7. Nilai
terendah terjadi pada pukul 02.00, sedangkan nilai tertinggi pada pukul 10.00-18.00.
Kondisi air pada kedua perairan tersebut cenderung bersifat netral. Mahida (1993)
menyatakan bahwa limbah buangan industri dan rumah tangga dapat mempengaruhi nilai
pH perairan. pH mempengaruhi kandungan CO
2
bebas. pH tinggi menyebabkan CO
2

bebas rendah pada perairan. Berdasarkan nilai pH perairan yang diperoleh, dapat dikatakan
bahwa stasiun 2 memiliki nilai pH yang relatif optimal bagi kehidupan biota perairan.
Sebab menurut Odum (1993) pH air yang sesuai dengan kehidupan dari biota perairan atau
bisa dikatakan optimum yaitu berkisar antara 7-8,5.



6.6
6.7
6.8
6.9
7
7.1
7.2
7.3
7.4
10:00 14:00 18:00 22:00 2:00 6:00
p
H

Waktu
Grafik pH vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 9. pH vs Waktu










Salinitas adalah konsentrasi konsentrasi total ion yang terdapat di perairan
(Boyd,1988). Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbon
dikonversi menjadi oksida,semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida, dan semua
bahan organik telah dioksidasi. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau permil ().
Berdasarkan grafik diatas kadar salinitas pada stasiun 1 dan 2 berkisar antara 31-
34 , sementara pada stasiun 3 berkisar antara 31-33 . Kadar salinitas tertinggi pada
stasiun 1 dicapai pada pukul 18.00 sedangkan kadar terendah terjadi pada pukul 22.00.
Pada stasiun 2 salinitas tertinggi dicapai pada pukul 10.00 dan terendah pada waktu dini
hari. Kemudian pada stasiun 3 salinitas tertinggi dicapai pada pukul 10.00 dan terendah
pada waktu pagi hari. Tinggi rendahnya salinitas di perairan tersebut dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, aliran sungai.
Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya
tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah
itu rendah kadar garamnya. Dalam hal ini penguapan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya
suhu. Semakin tinggi suhu maka tingkat penguapannya akan semakin tinggi, sehingga
menyebabkan konsentrasi perairan menjadi pekat, maka salinitas menjadi lebih tinggi.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada pukul 10.00 salinitas mencapai nilai tertinggi dimana
pada pukul 10.00 intensitas cahaya matahari tinggi sehingga suhu pun tinggi. Suhu yang
tinggi menyebabkan tingkat penguapan bertambah, oleh karena itu koonsentrasi ion di
perairan menjadi lebih pekat. Hal ini menunjukkan bahwa seiring dengan terjadinya
peningkatan suhu maka nilai salinitasnya pun semakin bertambah. Begitu pula sebaliknya
semakin rendah suhu, salinitasnya pun semakin rendah pula. Di samping itu sebaran
salinitas di perairan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh curah hujan, dimana semakin
tingginya curah hujan menyebabkan salinitasnya menjadi berkurang karena konsentrasi ion
di perairan menjadi lebih encer. Menurut Welch (1952), kadar salinitas normal perairan
laut mencapai >30 . Dengan demikian, kadar salinitas pada stasiun 1, 2, dan 3 berada
dalam keadaan normal.

30
31
32
33
34
35
10:00 14:00 18:00 22:00 2:00 6:00
S
a
l
i
n
i
t
a
s

(
o
/
o
o
)

Waktu
Grafik Salinitas vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 10. Salinitas vs Waktu










Plankton merupakan sekelompok biota akuatik baik berupa tumbuhan maupun
hewan yang hidup melayang maupun terapung secara pasif di permukaan perairan, dan
pergerakan serta penyebarannya dipengaruhi oleh gerakan arus walaupun sangat lemah
(Nybakken, 1992). Densitas plankton merupakan banyaknya individu plankton yang
dinyatakan dengan persatuan luas, maka nilai itu juga disebut sebagai kepadatan (density)
plankton.
Berdasarkan grafik tersebut plankton berada pada kepadatan maksimum ketika
pukul 10.00 dan minimum pada pukul 16.00. Grafik densitas plankton diatas berguna
untuk mengetahui kepadatan dari plankton baik pada stasiun 1, 2 maupun 3. Pada stasiun 1
densitas plankton tertinggi muncul pada pukul 22.00 dengan nilai densitas 122,5 idv/L,
sedangkan densitas terendah terjadi pada pukul 10.00 dengan nilai 77,5 idv/L. Pada stasiun
2 densitas plankton tertinggi muncul pada pukul 10.00 dengan nilai densitas 442,5 idv/L,
sedangkan densitas terendah terjadi pada pukul 16.00 dengan nilai 37,5 idv/L. Kemudian
pada stasiun 3 densitas plankton tertinggi muncul pada pukul 22.00 dengan nilai densitas
132,5 idv/L, sedangkan densitas terendah terjadi pada pukul 10.00 dengan nilai 87,5 idv/L.
Hubungan antara densitas dengan waktu adalah seberapa padat plankton dalam melakukan
fotosintesis pada pagi, siang serta sore hari dan ternyata waktu kepadatan berada pada
siang serta sore hari yang dimana intensitas matahari tinggi dan ketika sore mulai
berkurang. Densitas plankton sedikit terjadi karena adanya unsur hara yang banyak tersedia
pada perairan dan dilengkapi dengan intensitas penyinaran matahari yang baik. Selain itu
distribusi plankton tersebut bisa juga dipengaruhi oleh kandungan DO serta CO
2
bebasnya.
Semakin melimpah kandungan DO maka densitas plankton akan semakin tinggi, begitu
pula sebaliknya.Berdasarkan hasil praktikum ini hubungan antara plankton dengan O2 dan
CO2 bebas tidak dapat terlihat dengan jelas, dikarenakan adanya perbedaan waktu
pengamatan. Hubungan antara densitas plankton dengan kadar O2 terlarut (DO) dan CO2
bebas hanya tampak pada pukul 10.00 serta pada pukul 22.00, dimana densitas plankton
tinggi ketika kandungan DO di perairan tinggi dengan kendungan CO2 bebas yang rendah.
Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Odum (1993), bahwa semakin banyak fitoplankton
di perairan dapat memberi oksigen terlarut yang lebih banyak, selain itu dapat berguna juga
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
4:00 10:00 16:00 22:00
D
e
n
s
i
t
a
s

P
l
a
n
k
t
o
n


(
i
d
v
/
L
)

Waktu
Grafik Densitas Plankton vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 11. Densitas Plankton vs Waktu


sebagai produksi energi bagi ikan pemakan plankton. Plankton memiliki kepekaan yang
tinggi terhadap tingkat salinitas. Tingkat toleransi pada tiap-tiap plankton sangat bervariasi.
Apabila dibandingkan antara nilai salinitas dengan densitas plankton yang diperoleh dari
hasil praktikum, tingginya densitas plankton pada perairan pantai Krakal dipengaruhi nilai
salinitas normal dimana pada perairan ini memiliki kisaran salinitas antara 31-34
o
/
oo
. Heal
tersebut sesuai dengan pernyataan Odum (1993) yang menyebutkan bahwa, salinitas yang
ekstrim dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kematian pada plankton.
Menurut Sachlan (1982), pada salinitas 0 10 ppt hidup plankton air tawar, pada salinitas
10 20 ppt hidup plankton air tawar dan laut, sedangkan pada salinitas yang lebih besar
dari 20 ppt hidup plankton air laut. Kelimpahan plankton pada suatu perairan dipengaruhi
oleh faktor-faktor abiotik yaitu suhu, kecerahan, kecepatan arus, salinitas, pH, DO,
sedangkan faktor biotik yang dapat mempengaruhi distribusi zooplankton adalah bahan
nutrien dan ketersedian makanan (Romimohtarto dan Juwana, 1999). Ditinjau dari nilai
densitas planktonnya wilayah perairan yang terbaik berada pada stasiun 2.









Dari grafik ini kita dapat mengetahui keragamana plankton yang bisa ditemukan
diperairan baik dari stasiun 1, 2 maupun 3. Berdasarkan data yang ada keragaman tersebut
tampak adanya fluktuasi nilai keragaman plankton setiap waktunya. Pada stasiun 1 pukul
04.00 terjadi penurunan nilai diversitas, kemudian naik pada pukul 10.00 dan turun
kembali pada pukul 16.00. Pada stasiun 2 diversitasnya cenderung turun pada pukul 04.00,
kemudian naik kembali pada pukul 16.00. Sementara pada stasiun 3, pukul 04.00 terjadi
kenaikan nilai diversitas yang kemudian berangsur-angsur turun pada pukul 10.00. Nilai
keragaman tertinggi berada pada stasiun 3 dengan indeks diversitas 4,41115, sedangkan
nilai terendahnya berada pada stasiun 1 dengan nilai indeks diversitas 1,5177.Hubungan
antara waktu dan keragaman plankton adalah pada waktu siang hari dimana intensitas
penyinaran matahari yang baik, berbagai jenis plankton (fitoplankton) akan keluar dan
berkembangbiak serta melakukan fotosintesis, sementara zooplankton juga akan keluar
untuk memakan fitoplankton tersebut. Semakin tinggi keragaman plankton pada suatu
perairan, maka perairan tersebut akan semakin subur (Odum, 1993). Dengan demikian
wilayah perairan yang tersubur adalah pada stasiun 3.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5
4:00 10:00 16:00 22:00
D
i
v
e
r
s
i
t
a
s

P
l
a
n
k
t
o
n

Waktu
Grafik Diversitas Plankton vs Waktu
Stasiun I
Stasiun II
Stasiun III
Grafik 12. Diversitas Plankton vs Waktu


Berdasarkan hasil pengamatan larva pada perairan pantai Krakal ini, ditemukan
spesies ikan Stolephorus watei, Stolephorus inclicus dan Amblygaster sirm pada masing-
masing stasiun, dimana Stolephorus sp. termasuk dalam golongan ikan teri sementara
Amblygaster sp. termasuk dalam golongan ikan sarden. Dengan ditemukannya larva ikan
tersebut menandakan bahwa pada perairan pantai Krakal ini subur dan merupakan wilayah
nursery ground. Faktor yang mempengaruhi keberadaan larva ikan di suatu perairan adalah
banyaknya substrat, garam mineral serta plangkton yang menjadi makanan para larva ikan.
Menurut Reddy (1993), salinitas merupakan faktor penting yang mempengaruhi
keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai stadia hidup. Cahaya
juga mempengaruhi tingkah laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis
ditemukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan pada siang hari. Ikan sardin
disebut juga lemuru, dikenal dengan produk ikan kaleng. Ikan Sardin ini merupakan ikan
yang memiliki nilai komersial sedang.
Dapat dilihat bahwa pada stasiun 3 memiliki kepadatan plankton yang tinggi
begitupun dengan keragamannya maka dapat disimpulkan bahwa stasiun 3 lebih subur
dibandingkan dengan stasiun 1 dan 2, namun pada masing-masing stasiun masih berada
dalam kondisi yang baik. Hal ini dilihat dari parameter fisika, kimia, dan biologi yang
masih berada pada lingkup atau rentang optimum bagi biota perairan, seperti yang telah
dibahas sebelumnya.
Berdasarkan analisis diperoleh hasil kelimpahan plankton dan larva di perairan
pantai Krakal, Gunung Kidul memiliki korelasi yang erat dengan parameter suhu,
gelombang, salinitas, pH, DO serta CO
2
. Di mana pada pH dan suhu yang normal terjadi
kemelimpahan plankton dan larva. Di samping itu peningkatan DO berbanding lurus
dengan tingginya densitas dan diversitas plankton, namun berbanding terbalik dengan
tinggi rendahnya CO
2
. Pergolakan massa air akibat pasang surut maupun gelombang juga
mempengaruhi tinggi rendahnya kelarutan O2 dan CO2 bebas pada perairan, yang tentunya
juga akan berpengaruh pada keberadaan organisme akuatik yakni plankton dan larva.
Ilmu tentang oseanografi memiliki peran yang penting khususnya bagi program
studi Manajemen Sumberdaya Perairan yakni untuk mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya laut dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan perairan laut. Ilmu ini juga
dapat diterapkan untuk pengelolaan sumberdaya perikanan yang lebih baik. Berdasarkan
perbandingan antar parameter, baik fisik, kimia, maupun biologi, stasiun 3-lah yang
memiliki tingkat kualitas air yang baik untuk biota perairan dapat hidup. Sebab pada
perairan pantai ini baik prameter biologi, kima, maupun fisika menunjukkan nilai yang
optimum atau mendekati optimum.

KESIMPULAN
Praktikum Oseanografi ini dilakukan dengan pengamatan terhadap parameter
fisik, kimia dan biologi perairan laut. Parameter fisika diperoleh dengan melakukan
pengamatan, pengukuran dan perhitungan secara langsung di lapangan. Kemudian
parameter kimia, CO
2
bebas dan Alkalinitas diukur dengan menggunakan metode
alkalimetri, DO (Disolved Oxygen) diukur dengan menggunakan metode Winkler,
sedangkan pH dan salinitas diukur melalui pengamatan secara visual dengan menggunakan
pH meter dan refraktometer. Parameter biologi, sampel larva dan plankton diambil dengan
menggunakan jaring plankton dan jaring larva, kemudian diawetkan dan diidentifikasi
jenis dan jumlahnya. Parameter fisika, kimia dan biologi tersebut memiliki korelasi yang
erat. Dimana, ketiga parameter tersebut dapat mempengaruhi kehidupan biota perairan
berperan dalam pemanfaatan sumberdaya laut sehingga tetap terjaga kelestariannya.
Pengetahuan tentang kemiringan pantai, gelombang dan pasang surut dapat dijadikan
landasan untuk usaha budidaya perairan payau dan laut.

SARAN
Pada saat praktikum di lapangan, alangkah baiknya apabila masing-masing kelompok
memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan pengamatan parameter fisik, kimia, dan
biologi, agar praktikan lebih mengetahui dan memahami cara-cara pengamatan serta
pengambilan sampel dari masing-masing parameter yang diamati. Kedisiplinan waktu
dalam melakukan pengamatan di lapangan maupun di laboratorium lebih ditingkatkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Alfianti, Madyastuti R. 2009. Pengantar Ekologi Perairan. Penerbit Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Ali, M. 2007. Oseanografi. FITB ITB. Bandung.
Benyamin, L. 1997. Klimatologi Dasar. Radja Grafindo Persada. Jakarta.
Boyd. 1988. Water Quality In Warm Water Fish Ponds. Craff Masker Printer. Alabama.
Dahuri, R dkk. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisirdan Lautan Secara Terpadu.
Pradnya Paramitha. Jakarta
Dronkers, J. J. 1964. Tidal Computations in rivers and coastal waters. North-Holland
Publishing Company. Amsterdam.
Effendi. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta
Foster, B. 2004. Fisika Terpadu. Erlangga. Jakarta.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1. PT Macanan Jaya Cemerlang. Jakarta.
Harjono, B. 1992. Kualitas Sumberdaya Perairan.Gramedia Pustaka. Jakarta.
Haslam, S. M. 1995. Biological Indicators of Freshwater Pollution and Enviromental.
Management. Elsevier Applied Science Publisher. London.
Hoole, S.R.H. dan Hoole P.R.P. 1996. Modern Short Course in Engineering
Electromagnetics. Oxford University Press. New York.
Hutabarat, S dan Evans, S. M. 1984. Pengantar Oseanografi. Penerbit UI, Jakarta.
Hutagalung, P. 1997. Metode Penelitian Air Laut dan Sedimen. LIPI. Jakarta.
Irianto, A. 2005. Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik Air. Jurnal Manusia dan Lingkungan,
Vol. XI, No.2.
Jatilaksono, M. 2007. Gelombang Air Laut. Erlangga. Jakarta.
Mahida, U.N. 1993. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri, PT Raja. Gravindo
Persada. Jakarta.
Mintardjo, K.A. 1984. Persyaratan Tanah dan Air. Direktorat Jendral Perikanan. Direktorat
Pertanian. Hal 63-89.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Novotny, V. dan Olem H. 1994. Water Quality: Prevention, Identification, and
Management of Diffuse Pollution. van Nostrand Reinhold. New York.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Pariwono, J.I. 1989. Gaya Penggerak Pasang Surut. Dalam Pasang Surut. Ed. Ongkosongo,
O.S.R. dan Suyarso. P3O-LIPI. Jakarta. Hal. 13-23
Purba, M. 2006. Kimia I. Erlangga. Jakarta.
Reddy, M.P.M. 1993. Influence of the Various Oceanographic Parameters on the
Abundance of Fish Catch; Apllication of Satellite Remote Sensing for Identifying
and Forecasting Potential Fishing Zones in DevMegalopsing Countries. India.
Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 1999. Biologi Laut. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Sachlan, M., 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan UNDIP. Semarang.
Sastrawijaya, A. Tresna. 2000. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Soetikno. 1993. Karakteristik Bentuk dan Geologi di Indonesia. Dirjen Pengairan DPU.
Yogyakarta.
Soetjipta. 1992. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Supangat, A. dan Susanna. 1999. Pengantar Oseanografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-Hayati. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen
Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Wardoyo, S.T.H. 1989. Kriteria Kualitas Air untuk Pertanian dan Perikanan. Makalah pada
Seminar Pengendalian Pencemaran Air. Dirjen Pengairan Departemen Pekerjaan
Umum. Bandung.
Welch, P. 1952. Limnology. Mc Graw Hill Book Company. New York.
Wyrtki, K. 1961. Phyical Oceanography of the South East Asian Waters. Naga Report Vol.
2 Scripps,. Institute Oceanography. California.

Anda mungkin juga menyukai