Anda di halaman 1dari 20

1

Kelemahan Otot akibat Ketidakseimbangan Elektrolit Tubuh


B5
Mariane Devi 102011023
Hans Christian 102011079
Sharon Lorisa Simamora 102011115
Ling Ling 102011157
Rainy Chandranata 102011192
Ivan Meidika Kurnia 102011317
Novia Chrystina 102011346

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Keseimbangan cairan dan elektrolit mencakup komposisi dan perpindahan berbagai
cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut. Elektrolit adalah
zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada
dalam larutan. Zat terlarut yang terdapat dalam cairan tubuh meliputi elektrolit dan nonelektrolit.
Nonelektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik.
Nonelektrolit terdiri dari protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida, dan asam-asam
organic. Garam yang terurai di dalam air menjadi satu atau lebih partikel-partikel yang
bermuatan, disebut sebagai ion atau elektrolit. Elektrolit tubuh mencakup natrium (Na
+
), kalium
(K
+
), kalsium (Ca
++
), magnesium (Mg
++
) , Klorida (Cl
-
), bikarbonat (HCO
3
-
), fosfat (HPO
4
+
), dan
sulfat (SO
4
+
). Larutan elektrolit menghantarkan aliran listrik. Ion-ion yang bermuatan positif
disebut kation, dan yang bermuatan negative disebut anion. Fungsi dari kation adalah
mentransmisi impuls saraf ke otot dan kontraksi dari otot-otot rangka dan polos.
1
2

Kation dari elektrolit paling banyak terdapat di dalam sel (kalium, magnesium, dan
sebagian kalsium), dalam cairan ekstraselular (CES), yang terdapat di dalam pembuluh darah dan
ruang antar jaringan (natrium dan sebagian kalsium), dan dalam saluran gastroeintestinal. Anion
berdampingan dengan kation.

Hipokalemi merupakan keadaan dimana kehilangan atau kekurangan kation utama
intrasel yaitu kalium.Dimana defisiensi kalium biasa dapat ditemukan pada gangguan
gastrointestinal dengan diare ataupun muntah.
2
Pembahasan
Scenario IV
Seorang wanita, 30 tahun, datang ke Poliklinik dengan keluhan utama kelemahan pada kedua
tungkai sejak 1 hari yang lalu. Keluhan disertai dengan nyeri otot dan badan terasa lemas. Sejak
3 hari yang lalu, pasien mengeluh diare 10 kali/hari, konsistensi cair, warna coklat, tidak ada
lendir atau darah. Keluhan diare disertai dengan mual dan muntah.
A. Anamnesis
Anamnesis yaitu pemeriksaan yang pertama kali dilakukan yaitu berupa rekam medik
pasien. Dapat dilakukan pada pasiennya sendiri/langsung (auto) dan/atau pada keluarga
terdekat/pengantar (allo). Anamnesis langsung, atau dokter langsung menanyakan pada
pasien yang bersangkutan, atau biasa disebut auto-anamnesis, dan ada juga allo-anamnesis
yaitu bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai misalnya dalam keadaan
gawat darurat, keadaan afasia akibat strok atau bisa juga karena umur pasien yang belum
cukup dewasa, sehingga anamnesis dilakukan pada orang terdekat seperti keluarga ataupun
pengantarnya. Anamnesis yang teliti terbukti dapat memberi informasi perkiraan jumlah dan
jenis defisit. Perhatian harus diberikan pada jenis dan jumlah masukan dan keluaran cairan,
perubahan berat badan atau frekuensi dan penampilan urin, serta pada keadaan umum.
3
Data anamnesis, terdiri atas beberapa kelompok data penting sebagai berikut:
3

Identitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis
kelamin, nama orang tua atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku
bangsa dan agama.
4

Keluhan Utama. Keluhan utama merupakan bagian paling penting dari anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Pada skenario 4, keluhan utama pasien adalah lemah pada kedua
tungkai, nyeri otot dan lemas sejak 1 hari yang lalu, serta diare yang disertai mual,
muntah sejak 3 hari lalu. Dengan demikian diambil hipotesis bahwa OS menderita
hipokalemi et causa diare akut.
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS). RPS adalah cerita kronologis, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang
berobat.
4

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD). RPD penting untuk mencatat secara rinci semua
masalah medis yang pernah timbul sebelumnya dan terapi yang pernah diberikan, seperti
adakah tindakan operasi dan anastesi sebelumnya, kejadian penyakit umum tertentu.
4
Riwayat Pribadi dan Sosial. Secara umum menanyakan bagaimana kondisi sosial,
ekonomi dan kebiasaan-kebiasaan pasien seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, dan
hal yang berkaitan.Asupan gizi pasien juga perlu ditanyakan, meliputi jenis makanannya,
kuantitas dan kualitasnya.Begitu pula juga harus menanyakan vaksinasi, pengobatan, tes
skrining, kehamilan, riwayat obat yang pernah dikonsumsi, atau mungkin reaksi alregi
yang dimiliki pasien. Selain itu, harus ditanyakan juga bagaimana lingkungan tempat
tinggal pasien.
4

Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga berguna untuk mencari penyakit yang
pernah diderita oleh kerabat pasien karena terdapat kontribusi genetik yang kuat pada
berbagai penyakit.Sedangkan riwayat sosial penting untuk memahami latar belakang
pasien, pengaruh penyakit yang diderita terhadap hidup dan keluarga mereka. Selain itu
yang juga perlu diperhatikan adalah riwayat berpergian (penyakit endemik).
4

4

Pada skenario 4, pasien mengeluh diare 10kali/hari disertai dengan mual dan
muntah, oleh sebab itu ada beberapa anamnesis yang perlu dilakukan untuk meninjau
keluhan tersebut.
Diare. Perlu ditanyakan buang air besarnya encer atau air, disertai darah atau
tidak, disertai lendir atau tidak, frekuensi BAB per hari, disertai demam atau tidak,
disertai trias disentri (tenesmus, BAB darah dan lendir, sakit perut) atau tidak, ada mual
muntah atau tidak, riwayat makan dan minum pasien: higienis atau tidak, apakah
mengandung makanan atau minuman yang iritatif terhadap saluran cerna, apakah ada
intoleransi laktosa atau tidak, apakah baru saja pergi ke daerah yang wabah diare, apakah
ada pemakaian antibiotika injeksi atau oral sebelum diare, apakah ada resiko seks bebas,
apakah ada keadaan imunokompromais, apakah makan obat-obat yang menimbulkan
diare, apakah ada infeksi sistemik lain, dan lain-lain.
4
Mual dan muntah. Anamnesis yang teliti kenapa pasien tersebut mengalami mual
merupakan suatu hal penting harus dicari. Apakah keluhan mual tersebut berdiri sendiri
atau diikuti dengan muntah. Apakah ada faktor-faktor pencetus kenapa pasien tersebut
menjadi mual. Makanan yang terlalu banyak lemak atau makanan yang mengandung
banyak gas juga bisa menyebabkan seorang menjadi mual. Selain itu riwayat penggunaan
obat-obatan dan riwayat penggunaan alcohol juga perlu dicari untuk mengetahui
penyebab dari mual muntah tersebut. Untuk mengetahui seorang kenapa mengalami mual
dan atau muntah bisa berorientasi pada kemungkinan penyebab dari mual muntah
tersebut kenapa terjadi. Penanganan yang tepat dapat diberikan jika dugaan penyebab dari
mual muntah tersebut sudah dapat diidentifikasi.
5
Riwayat hipokalemia bisa jadi samar-samar.Pasien biasanya asimptomatis (tidak
ada gejala), terutama pada hipokalemia yang ringan.Gejala yang timbul biasanya
berkaitan dengan penyebab timbulnya hipokalemia itu sendiri. Jadi gejala hipokalemia
biasanya disertai gejala lain yang berkaitan dengan penyebab utama terjadinya
hipokalemia. Hipokalemia dapat dikenali jika sudah terdapat sekumpulan gejala yang
melibatkan GI, ginjal, muskuloskeletal, jantung dan sistem saraf.
6

B. Pemeriksaan Fisik
5

Pemeriksaan fisik merupakan suatu tahap pemeriksaan awal yang dilakukan oleh
dokter atau petugas medis. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengetahui keadaan fisik
pasien secara umum, guna menegakan diagnosis awal penyakit yang diderita.
Dalam keadaan normal, cairan tubuh berada dalam keseimbangan. Oleh karena
suatu sebab, keseimbangan cairan tubuh dapat mengalami gangguan. Secara garis besar,
gangguan keseimbangan cairan tubuh terbagi dua yakni edema (hipervolemik) dan
dehidrasi (hipovolemik)
7

Dehidrasi (hipovolemik)
Dehidrasi adalah kehilangan air dari tubuh atau jaringan atau jaringan atau
keadaan yang merupakan akibat kehilangan air abnormal (Ramali & Pamoentjak 1996).
Menurut Guyton (1995), dehidrasi adalah hilangnya cairan dari semua pangkalan cairan
tubuh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dehidrasi merupakan keadaan
kehilangan cairan tubuh.
Ada dua jenis dehidrasi yaitu (Long 1992):
1.) Dehidrasi di mana kekurangan air lebih dominan dibanding kekurangan elektrolit
(dehidrasi isotonis). Pada dehidrasi jenis ini terjadi pemekatan cairan ekstraseluler,
sehingga terjadi perpindahan air dari intrasel ke ektrasel yang menyebabkan terjadi
dehidrasi intraselluler. Bila cairan intrasel berkurang lebih dari 20%, maka sel akan
mati. Dehidrasi jenis ini terjadi bila seseorang minum air laut pada saat kehausan
berat.
2.) Dehidrasi di mana kekurangan elektrolit lebih dominan dibanding kekurangan air
(dehidrasi hipertonik). Pada dehidrasi jenis ini cairan ektraseluler bersifat hipotonis,
sehingga terjadi perindahan air dari ekstrasel ke intrasel yang menyebabkan terjadi
edema intrasel. Dehidrasi jenis ini terjadi bila seseorang yang mengalami
kekurangan cairan hanya diatasi dengan minum air murni tanpa mengandung
elektrolit.
8

Cara pemeriksaan fisik kepada pasien pertama-tama adalah melakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital untuk mengetahui apakah ada peningkatan atau penurunan
pada tekanan darah pasien
6

Tanda vital meliputi suhu, respirasi, nadi, dan tekanan darah. Peningkatan suhu
dapat menimbulkan kehilangan cairan dan elektrolit karena peningkatan insensible water
loss (IWL). Sebaliknya, penurunan suhu tubuh akan mengakibatkan penurunan IWL.
Napas yang cepat dan dalam mungkin merupakan kompensasi tubuh terhadap
asidosis metabolic yang terjadi.
Nadi yang lemah dapat menandakan kekurangan volume cairan karena penurunan
volume intravaskuler.
Pada penurunan tekanan darah dapat menandakan kekurangan volume cairan
karena penurunan volume cairankarena penurunan isi sekuncup (stroke volume) dan
ketidakseimbangan elektrolit yang menyebabkan disritmia. Sedangkan peningkatan
tekanan darah dapat menandakan kelebihan volume cairan karena peningkatan isi
sekuncup.
8
Pemeriksaan fisik yang dilakukan secara menyeluruh , meliputi :
a.) System kardiovaskuler
Pengkajian ini meliputi pengukuran distensi vena jugularis, frekuensi denyut nadi,
tekanan darah, bunyi jantung, disritmia, dan lain-lain.
b.) System pernapasan
Pengkajian pada system ini antara lain frekuensi pernapasan, gangguan pernapasan
seperti dyspnea, rales, dan bronki.
c.) System gastrointestinal
Pengkajian pada system ini antara lain meliputi riwayat anoreksia, kram abdomen,
abdomen cekung, abdomen distensi, muntah, diare, hiperperistaltik, dan lain-lain.
d.) System perkemihan
Pengkajian pada system perkemihan antara lain perlu dikaji adakah oliguria atau anuria,
berat jenis urine.
e.) System musculoskeletal
Pengkajian pada system ini antara lain adakah kram otot, kesemutan, tremor,
hipotonisitas, atau hipertonisitas, reflex tendon, dan lain-lain.
f.) System integument
7

Pengkajian pada sistem ini antara lain suhu tubuh, turgor kulit, kelembaban pada bibir,
adanya edema, dan lain-lain.
Gejala yang sering ditemukan pada pasien hipokalemia antara lain:
9

Palpitasi
Kelemahan otot skeletal atau kram
Paralysis, paresthesias
Konstipasi
Mual atau muntah
Kram perut
Poliuri nokturia atau polidipsi
Psikososis, delirium dan halusinasi
Depresi
C. Pemeriksaan Penunjang
pH urin. Salah satu fungsi ginjal adalah mengatur keseimbangan asam basa tubuh
melalui ekskresi ion H
+
dan reabsorpsi bikarbonat sehingga pemeriksaan pH urin dapat
memberikan gambaran tentang keadaan pH tubuh. Urin normal mempunyai pH 4.8-7.4.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pH urin, antara lain status asam basa tubuh,
diet, infeksi traktus urinarius, dan penyakit tertentu, misalnya asidosis, diare, kelaparan.
pH urin alkalis dapat dijumpai pada diet sayuran atau buah-buahan, beberapa jenis obat
(misalnya NaHCO
3
), dan penyakit tertentu (misalnya renal tubular asidosis, asidosis
metabolic, infeksi traktus urinarius oleh kuman penghasil urease. Sedangkan pH urin
asam dapat dijumpai pada diet tinggi protein, beberapa jenis obat (misalnya NH
4
Cl,
mandelic acid), dan penyakit tertentu (misalnya diabetes mellitus dengan ketoasidosis,
infeksi traktus urinarius oleh kuman E. coli.). Cara penetapan pH urin dapat dilakukan
dengan carik celup atau pH meter.
10
Pemeriksaan darah rutin. Pemeriksaan ini terdiri atas pemeriksaan kadar
hemoglobin, leukosit, laju endap darah, hitung jenis leukosit, dan hitung trombosit.
3

Pemeriksaan asam basa. Keseimbangan asam basa tubuh dikontrol oleh kompleks
sistem buffer pada tubulus proksimalis dan distalis, yang melibatkan pengaturan ion
8

fosfat, bikarbonat, dan ammonium; sedangkan sekresi ion hidrogen terutama terjadi di
tubulus distalis.
6
Kultur feses dilakukan untuk mengetahui penyebab diare, apakah oleh karena
bakteri, virus atau yang lainnya. Setelah mengetahui penyebabnya, diare dapat segera
diatasi dan mencegah timbulnya hipokalemi dalam stadium yang lebih berat
Analisa Gas Darah (AGD) merupakan pemeriksaan untuk mengukur keasaman
(pH), jumlah oksigen, dan karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk
menilai fungsi kerja paru-paru dalam menghantarkan oksigen ke dalam sirkulasi darah
dan mengambil karbondioksida dalam darah. Analisis gas darah meliputi pemeriksaan
PO2, PCO3, pH, HCO3, dan saturasi O2. Hal ini dilakukan untuk melihat pH tubuh,
memastikan apakah terjadi alkalosis metabolik atau tidak.
7



D. Differential Diagnosis
Hiponatremia
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular (di dalam pembuluh
darah dan jaringan ). Kadar normal natrium serum atau plasma adalah 135-145 mEq/L.
Kadar natrium serum yang kurang dari 135 mEq/L disebut sebagai hiponatremia, dan
kadar natrium serum yang lebih dari 145 meq/L disebut sebagai hypernatremia.
Kehilangan natrium dapat diakibatkan oleh muntah, diare, pembedahan, dan
diuretic kuat. Tanda-tanda dan gejala-gejala hiponatremia adalah kejang, mual, dan
muntah. Kadar natrium serum harus dipantau jika perlu.
Untuk kadar natrium serum antara 125 dan 135 mEq/L, salin normal (0,9 %
natrium klorida) dapat meningkatkan kadar natrium dalam cairan vascular. Jika kadar
natrium serum 115 mEq/L, mungkin diperlukan suatu larutan hipertonik, yaitu larutan
salin 3% atau 5%.
10
Kehilangan natrium dapat terjadi pada orang yang berkeringat berlebihan karena
suhu lingkungan, demam, olahraga, muntah, diare, pengeluaran cairan melalui saluran
gastrointestinal, dan sebagainya. Gejala yang muncul pada klien yang mengalami
9

hiponatremia di antaranya sakit kepala, kelemahan otot, fatique, apatis, mual, muntah,
kejang perut, shock, kekacauan mental, dan koma.
8
Hipofosfatemia
Hipofosfatemia didefinisikan sebagai kadar fosfat serum yang kurang dari 2,5
mg/dL (normalnya 2,5-4,5 mg/dL) walaupun gejala biasanya tidak timbul hingga kadar
fosfat serum kurang dari 1,0 mg / dL.
Fungsi fosfat dengan kalsium adalah untuk menyokong pembentukan tulang.
Kebanyakan fosfat berasal dari masukan diet dari produk unggas, daging, dan telur.
Fosfat adalah anion intraseluler primer. Fosfat membantu pengubahan energy dalam sel.
Kira-kira 85% fosfat tubuh adalah dalam tulang, dan sisanya 15% dalam intraselular.
Keseimbangan fosfat dicapai dengan ekskresi ginjal; proses ini dipengaruhi oleh hormone
paratiroid, yang menurunkan absorpsi fosfat. Kira-kira 10% fosfat plasma adalah ikatan-
protein. Fosfat plasma meningkatkan keseimbangan asam-basa tubuh melalui kerja
sebagai buffer dalam CES. Fosfat juga berperan dalam metabolism glukosa, lemak, dan
protein.
Hipofosfatemia terjadi melalui tiga mekanisme: penurunan absorpsi usus,
peningkatan ekskresi urine, dan peningkatan ambilan pada tulang. Hipofosfatemia terjadi
pada alkoholisme, malnutrisi, ketoasidosis diabetic, dan hipertiroidisme. Suatu
kekurangan dapat terjadi juga karena penggunaan antasida, karena aluminium hidroksida,
aluminium karbonat, dan kalsium karbonat berkombinasi dengan fosfat untuk
meningkatkan kehilangan fosfat melalui feses. Gejala yang umum meliputi anoreksia,
pusing, parestesi, kelemahan otot, dan gejala neurologis samar. Pada alkoholik, sindrom
dapat tampak seperti delirium. Ketidaksimbangan yang ekstrem ditandai oleh
abnormalitas hematologis, pemecahan otot, peka rangsang, stupor, ensefalopati, kejang,
dan koma.
7
Hipomagnesemia
10

Hipomagnesemia dapat terjadi akibat absorpsi yang terganggu dari saluran
gastrointestinal, banyak kehilangan magnesium melalui ginjal, atau dapat pula
disebabkan karena malnutrisi yang lama.
Magnesium berfungsi untuk mengaktifkan reaksi enzimatik, terutama dalam
metabolisme karbohidrat. Selain itu, magnesium juga berfungsi terhadap sambungan otot
dan saraf di mana magnesium menghambat pelepasan asetilkolin, mengurangi
rangsangan sel-sel otot. Kadar magnesium dalam tubuh berkisar antara 1,5-2,5 mEq/L.
Gambaran klinis defisiensi magnesium sulit dijelaskan karena sering disertai oleh
ketidaknormalan elektrolit lain (seperti hypokalemia dan hipokalsemia). Gejala dan tanda
biasanya melibatkan system neuromuscular, saraf pusat, kardiovaskular, dan saluran
cerna. Pada neuromuscular terjadi kelemahan otot, fatique, disfagia, parestesia, otot
kram, berkedut, tremor nyata, tanda chvostek, tanda trousseau, reflex tendon dalam
hiperaktif.
8
E. Working Diagnostic
Dari anamnesis yang telah diketahui dan beberapa pendalaman dari differential diagnosis,
maka dapat ditentukan bahwa wanita 30 tahun tersebut menderita hipokalemi et causa
diare cair akut.

Kalium
Kalium (K
+
), suatu kation selular yang penting, adalah 20 kali lebih banyak
terdapat di dalam sel (cairan intraseluler [CIS]) daripada di dalam pembuluh darah
(cairan intravascular, atau plasma). Kadar normal dalam plasma atau serum (istilah ini
sering dipakai bergantian untuk maksud yang sama) untuk kalium adalah 3,5-5,3 mEq/L
(miliekuivalen per liter). Kadar kalium serum yang kurang dari 3,5 mEq/L disebut
hypokalemia, dan kadar kalium serum yang lebih besar dari 3,5 mEq/L disebut sebagai
hyperkalemia. Kalium mempunyai batas normal yang sempit. Terlalu sedikit kalium
(hypokalemia), di bawah 2,5 mEq/L, atau terlalu banyak kalium (hyperkalemia), di atas
7,0 mEq/L, dapat menimbulkan henti jantung.
Kalium sedikit disimpan dalam tubuh, sehingga masukan kalium setiap hari
sangat perlu. Masukan kalium yang dianjurkan adalah sekitar 40-60 meq/L setiap hari,
11

yang didapatkan dari makanan seperti buah-buahan, sari buah-buahan, dan sayur-sayuran,
atau dalam bentuk suplemen kalium.
Fungsi
Kalium penting untuk transmisi dan konduksi impuls-impuls saraf, dan untuk
kontraksi otot-otot rangka, jantung, polos. Kalium juga diperlukan untuk kerja enzim
dalam mengubah karbohidrat menjadi energy (glikolisis) dan asam amino menjadi
protein. Kalium meningkatkan penyimpanan glikogen (energy) dalam sel-sel hati.
Kalium juga mengatur osmolalitas (konsentrasi solute) dari cairan selular.
1


Hypokalemia

Setiap kali sel-sel mengalami kerusakan karena trauma, cedera, pembedahan, atau
syok, kalium akan keluar dari sel ke dalam cairan intravascular dan diekskresikan oleh
ginjal. Dengan hilangnya kalium dari sel, kalium akan pindah dari plasma ke dalam sel
untuk memulihkan keseimbangan kalium selular. Dengan demikian, biasanya terjadi
hypokalemia, muntah dan diare juga menurunkan kadar kalium serum. Sekitar 80-90 %
kalium dalam tubuh diekskresikan ke dalam urin; 8% ke dalam feses. Jika ginjal tidak
bekerja atau terserang penyakit, kalium akan menumpuk di dalm cairan intravascular, dan
terjadi hyperkalemia. Jika kadar kalium serum di antara 3,0-3,5 mEq/L, 100-200 mEq/L
kalium klorida (KCl) diperlukan untuk meningkatkan kadar kalium serum sebanyak 1
mEq (yaitu 3,0-4,0 mEq/L). jika kadar kalium serum kurang dari 3,0 mEq/L, maka
diperlukan 200-400 mEq/L KCl untuk meningkatkan kadar kalium serum sebanyak 1
mEq. Kalium klorida tidak dapat dengan cepat memperbaiki kekurangan kalium yang
berat. Diare dapat menyebabkan deficit kalium, karena konsentrasi kalium dalam cairan
feses adalah 40-60 mmol/L.
4
Hilangnya sekresi lambung melalui muntah juga merupakan
penyebab deplesi kalium.Konsentrasi kalium dari cairan lambung hanya 5-10 mmol/L
Kalium dapat diberikan secara oral atau intravena dan digabung dengan suatu
anion, seperti klorida atau bikarbonat. Kalium oral dapat diberikan dalam bentuk cair,
bubuk, atau tablet. Kalium sangat mengiritasi mukosa lambung dan usus halus, sehingga
harus diberikan dengan sedikitnya setengah gelas cairan (sari buah-buahan atau air); dan
12

akan lebih baik dengan segelas air. Karena henti jantung dapat ditimbulkan karena
kelebihan kalium, maka kalium intravena harus diencerkan dalam cairan IVini tidak
dapat diberikan sebagai obat IV yang disuntikkan atau berupa bolus IV. Perawat harus
ingat pada saat setiap kali memberikan kalium jenis apapun, harus selalu diencerkan.
Tanda-tanda dan gejala-gejala hypokalemia adalah mual dan muntah, aritmia, perut
kembung dan otot yang lembek dan kendor. Jika kalium serum berkadar normal rendah,
maka perlu dianjurkan makan makanan yang kaya akan kalium seperti sari buah-buahan,
jeruk, buah kering, kacang-kacangan (selai kacang), dan sayur-sayuran, seperti kentang,
brokoli, dan sayur-sayuran berdaun hijau.
10

Derajat Hipokalemia
a. Hipokalemia moderat didefinisikan sebagai kadar serum antara 2,5-3.
b. Hipokalemia berat didefinisikan sebagai kadar serum < 2,5 mEq/L.
Hipokalemia yang < 2 mEq/L biasanya sudah disertai kelainan jantung dan mengancam
jiwa.


F. Etiologi
Penyebab
1. Pemasukan melalui diet yang kurang
a. Kelaparan
b. Diet yang tidak lazim
c. Alkoholisme
2. Kehilangan kalium yang berlebihan
a. Gastrointestinal
1. Muntah-muntah berlarut-larut
2. Diare, penyalahgunaan laksatif
3. Penghisapan nasogastric
b. Renal
1. Diuretika
13

2. Osmotic diuretika
3. Aldosteronisme
4. Potassium wasting nephitis
3.Paralisis periodic hipokalemik
4. Alkalosis
5. Sindroma Cushing
5



G. Epidemiologi
Penyakit hipokalemia pada populasi umum sulit diperkirakan. Peningkatan penderita
sesuai dengan meningkatnya usia, karena meningkatnya penggunaan diuretik, diet kalium
yang mungkin karena sosial ekonomi. Namun, bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap
infeksi virus GI, emesis atau diare sehingga menempatkan mereka pada risiko terjadi
hipokalemia karena menipisnya volume cairan dan elektrolit yang relatif lebih tinggi
dibandingkan anak yang lebih tua atau orang dewasa. Selain itu, pemakaian diuretik non -
hemat kalium, 20-50 % mengembangkan hipokalemia. Risiko hipokalemia pada pasien
yang memakai diuretik ditingkatkan oleh penyakit penyerta, seperti gagal jantung atau
sindrom nefrotik.

H. Manifestasi Klinis

1. Gejala-gejala hypokalemia cenderung samar-samar dan ringan jika kadar kalium serum
diatas 3 mEq/L. Komplikasi berat biasanya timbul pada kadar serum kurang dari 2
mEq/L.
2. Status mentalpasien-pasien dengan hypokalemia dapat depresi, bingung, atau
agitasi.
3. neuromuskulerlelah, kelemahan otot atau paralisis yang jelas dapat timbul.
Interferensi terhadap potensial istirahat transmembran neuromuskuler merupakan
14

penyebab disfungsi otot. Apnea sekunder akibat kegagalan otot pernapasan dapat timbul
pada kadar kalium serum 1-1,5 mEq/L.
4. Jantungaritmia dapat disebabkan oleh hypokalemia. Ini meliputi denyutan-denyutan
premature atau takikardi yang bersifat atrial, nodal atau ventrikuler. Hypokalemia dapat
menimbulkan aritmia yang serius, khususnya pada pasien-pasien yang memakai digitalis.
Perubahan elektrokardiografi pada hypokalemia meliputi pendataran gelombang T yang
terbalik, pemanjangan interval QT, dan gelombang U yang prominen. Gelombang U
bermakna khususnya pada saat ia bergabung dengan sisi yang menurun dari gelombang T
sebelumnya.
8

I. Patofisiologi
Aldosteron adalah mekanisme pengendali utama bagi sekresi kalium pada nefron
distal ginjal. Peningkatan sekresi aldosteron menyebabkan reabsorpsi natrium (dan air)
dan ekskresi kalium. Sebaliknya penurunan sekresi aldosteron menyebabkan ekskresi
natrium dan air serta penyimpanan kalium. Rangsangan utama bagi sekresi aldosteron
adalah penurunan volume sirkulasi efektif atau penurunan kalium serum. Hipervolemia,
penurunan kalium serum, atau peningkatan natrium serum menyebabkan penurunan
aldosteron. Ekskresi kalium juga dipengaruhi oleh status asam basa dan kecepatan aliran
di tubulus distal. Pada keadaan alkalosis, ekskresi K
+
akan meningkat dan pada keadaan
asidosis, akan menurun. Pada tubulus distal, ion H
+
dan ion K
+
bersaing untuk
diekskresikan sebagai pertukaran dengan reabsorpsi Na
+
untuk mempertahankan muatan
listrik tubuh yang netral. Jika terjadi keadaan alkalosis metabolik yang disertai dengan
kekurangan ion H
+
, tubulus akan menukar dengan Na
+
dengan K
+
demi mempertahankan
ion H
+
. Asidosis metabolik akan meningkatkan ekskresi H
+
dan menurunkan ekskresi K
+
.
Mekanisme ini menjelaskan mengapa hipokalemia sering disertai dengan alkalosis, dan
hiperkalemia disertai asidosis. Kecepatan aliran urine yang tinggi pada tubulus distal
mengakibatkan peningkatan ekskresi K
+
total dan kecepatan aliran yang rendah akan
menurunkan ekskresi K
+
.
Ekskresi ginjal dari kalium menurun secara perlahan pada orang yang dietnya
kekurangan kalium.Selama 10-14 hari sebelum tercapainya keseimbangan, dapat terjadi
deficit yang bermakna.Jadi, berlawanan dengan natrium, deplesi kalium dpat timbul jika
15

asupan yang buruk saja.Defisiensi kalium sering dijumpai pada gangguan
gastrointestinal, dengan muntah, diare, atau hilangnya sekresi gastrointestinal. Diare
dapat menyebabkan deficit kalium, karena konsentrasi kalium dalam cairan feses adalah
40-60 mmol/L.
4
Hilangnya sekresi lambung melalui muntah juga merupakan penyebab deplesi
kalium.Konsentrasi kalium dari cairan lambung hanya 5-10 mmol/L, kehilangan
langsung menyebabkan keseimbangan kalium sedang sampai negative.Deficit kalium
terutama disebabkan oleh tiga mekanisme.Hilangnya asam lambung menyebabkan
alkalosis metabolic, yang meningkatkan konsentrasi kalium sel tubuler.Meningkatnya
bikarbonat plasma juga meningkatkan penghantaran bikarbonatt dan cairan ke nefron
distal.Pada tempat tersebut, kelebihan bikarbonat bertindak sebagai anion tidak
direabsorbsi untuk memperbesar ekskresi kalium. Akhirnya, hiperaldosteronisme
sekunder yang disebabkan oleh kontraksi volume ekstraseluler dapat berperan dalam
mempertahankan ekskresi kalium pada kadar yang tinggi, tanpa mempertimbangkan
deplesi kalium.
4
J. Penatalaksanaan

Tujuan utama adalah mencegahketidakseimbangan kalium. Perlu diingat bahwa
diuretic, digitalis, dan hypokalemia merupakan kombinasi yang berpotensi mematikan,
karena diuretic menyebabkan terjadinya hypokalemia meningkatkan efek digitalis. Efek
toksik digitalis maupun hypokalemia menyebabkan timbulnya disritmia yang dapat
mengancam jiwa. Oleh karena itu, perlu dipantau kadar kalium serum, digitalis pada
pasien ini. Selain itu juga perlu diperhatikan asupan kalium yang cukup.
Bila memungkinkan, deplesi K
+
sebaiknya dikoreksi dengan meningkatkan
asupan melalui makanan yang kaya kalium atau penambahan garam kalium. Makanan
yang kaya kalium adalah buah-buahan (terutama pisang, kismis, dan jeruk), jus buah,
daging, susu, tomat segar, kentang, dan miju-miju (sejenis polong). Kalium klorida
adalah garam suplemen pilihan, terutama jika pasien dalam keadaan alkalosis. Kalium
intravena perlu diberikan jika pasien tidak dapat menerima kalium secara peroral atau
jika defisiensi kalium sangat berat. Pada kasus yang berat, kalium harus diberikan dalam
larutan non dekstrosa, sebab dekstrosa merangsang pelepasan insulin, sehingga
16

menyebabkan K
+
berpindah masuk ke dalam sel. Kecepatan infus K
+
tidak boleh melebihi
20 mEq/jam untuk menghindari terjadinya hyperkalemia yang serius.
Farmakokinetik
Kalium cair oral diserap lebih cepat daripada dalam bentuk tablet atau kapsul;
fase farmasinya dikurangi. Kapsul yang dilepas perlahan-lahan (sustain-released), seperti
Micro-K, Slow-K, dan K-tab, melepaskan kalium dalam suatu jangka waktu. Diperlukan
banyak air, tidak kurang dari 4 oz, untuk meminum preparat kalium oral. Obat dapat
dipakai bersama-sama makanan atau segera setelah makan.
Kalium intravena segera diabsorpsi dalam cairan intravascular. Kalium intravena
harus diencerkan dalam larutan IV dan sekali-kali tidak boleh diberikan sebagai bolus
atau suntikan IV. Antara 80-90% kalium dalam cairan tubuh diekskresikan ke dalam urin;
8% diekskresikan ke dalam feses.
Farmakodinamik
Kalium menjaga aktivitas neuromuscular; oleh karena itu, kadar kalium serum
harus dipantau ketat. Awal kerja kalium oral adalah dalam 30 menit; dan untuk kalium
intravena segera. Lama kerja kalium tidak diketahui; tetapi bervariasi tergantung dari
dosis yang dipakai. EKG juga perlu dipantau ketat jika diberikan dalam dosis yang besar.
10
Pada kasus ini selain dilakukan penatalaksanaan terhadap hipokalemia, juga perlu
dilakukan penatalaksanaan terhadap diare akut. Pada orang dewasa, penatalaksanaan
diare akut adalah rehidrasi, sebagai perioritas utama. Jenis cairan pada diare akut yang
ringan dapat diberikan oralit. Diberikan cairan Ringer laktat, bila tak tersedia cairan NaCl
isotonik ditambah satu ampul Na bikarbonat 7,5% 50 ml.
12
K. Komplikasi

Kardiovaskular. Hipokalemia memiliki pengaruh luas di banyak sistem organ
yang, dari waktu ke waktu, dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular. Komplikasi
kardiovaskular secara klinis pertanda paling penting dari morbiditas yang signifikan atau
17

mortalitas dari hipokalemia. Meskipun hipokalemia telah terlibat dalam pengembangan
aritmia atrium dan ventrikel, aritmia ventrikel namun ini telah menerima perhatian yang
besar. Peningkatan kerentanan terhadap aritmia jantung diamati dengan hipokalemia yang
disertai dengan gagal jantung kongestif, penyakit atau akut iskemia jantung iskemik
miokard, terapi agresif hiperglikemia, seperti dengan diabetic ketoacidosis, terapi
digitalis, terapi Metadon, serta Sindrom Conn.
12

Asupan kalium rendah telah terlibat sebagai faktor risiko untuk pengembangan
hipertensi dan atau kerusakan akhir organ. Hipokalemia menyebabkan reaktivitas
vaskular berubah, kemungkinan dari efek deplesi kalium terhadap ekspresi reseptor
adrenergik, reseptor angiotensin, dan mediator relaksasi pembuluh darah. Hasilnya adalah
peningkatan vasokonstriksi dan gangguan relaksasi, yang memainkan peran dalam gejala
klinis yang beragam, seperti iskemik aktivitas sistem saraf pusat atau rhabdomyolysis.
12

Muskuloskeletal. Kelemahan otot, depresi refleks deep-tendon, dan bahkan
flaccid paralysis dapat mempersulit hipokalemia. Rhabdomyolysis dapat diprovokasi,
terutama dengan olahraga berat. Namun, rhabdomyolysis juga telah terlihat sebagai
komplikasi hipokalemia berat, hiperaldosteronisme primer dengan tidak adanya latihan.
12

Ginjal. Kelainan fungsi ginjal sering menyertai hipokalemia akut atau kronis. Ini
termasuk diabetes insipidus nefrogenik, alkalosis metabolik dari ekskresi bikarbonat yang
terganggu dan peningkatkan ammoniagenesis, serta degenerasi kistik dan interstitial
jaringan parut.
12

Gastrointestinal. Hipokalemia mengurangi motilitas usus, yang dapat
menyebabkan atau memperburuk ileus. Hipokalemia juga merupakan faktor dalam
terjadinya ensefalopati dalam sirosis.
12

Metabolik. Hipokalemia memiliki efek ganda pada regulasi glukosa dengan
mengurangi pelepasan insulin dan sensitivitas insulin perifer. Bukti klinis menunjukkan
bahwa efek hipokalemia dari thiazide merupakan faktor penyebab diabetes mellitus
thiazide terkait.
12

L. Prognosis
Hipokalemia umumnya dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang lebih
tinggi, terutama bila terjadi aritmia jantung atau kematian jantung mendadak. Namun,
18

kontribusi independen dari hipokalemia sendiri tidak menimbulkan peningkatan
morbiditas atau mortalitasnya.
12
Kesimpulan
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan dan gejala klinis, hipotesis diterima. Wanita berusia
30 tahun dengan keluhan utama kelemahan pada kedua tungkai sejak 1 hari yang lalu yang
disertai dengan nyeri otot dan badan terasa lemas, diare 3 hari yang lalu dengan frekuensi
10x/hari, konsistensi cair, warna coklat, tidak ada lendir atau darah disertai dengan mual dan
muntah menderita hipokalemia et causa gastroenteritis akut
Tepatnya penanganan dan pemberian asuhan keperawatan pada pasien hipokalemia sangat
menentukan prognosis, mengingat masalah yang komplit yang dapat terjadi pada pasien.
Hipokalemia bahkan dapat menimbulkan kematian yang diakibatkan karena kesalahan
pengobatan dan penanganan pasien. Oleh karena itu dokter harus memiliki keterampilan dan
pengetahuan konsep dasar perjalanan penyakit ini dengan baik agar dapat menentukan
diagnosa yang tepat.

Daftar Pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Ilmu penyakit dalam.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI; 2006.h529-40.
2. Price SA dan Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. Hal 351- 355
3. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC; 2010.h.181-3.
4. Gleadle Jonathan. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2007.h.12-21.
5. Eliastam M, Sternbach GL, Bresler MJ. Buku saku penuntun kegawatdaruratan medis ed
5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1998. Hal 56-7.
6. Sediono H, Iskandar I, Halim SL, Santoso R, Sinsanta. Patologi klinik urinalisis. Jakarta:
Biro Publikasi Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2009.h.24-5.
7. Tambayong J. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2000. Hal 34.
19

8. Asmadi. Teknik procedural keperawatan konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.
Jakarta : Penerbit Salemba Medika; 2008. Hal 54-61
9. Behrman RE, Kliegman RM. Esensi pediatric nelson. Edisi 4. Jakarta: EGC; 2010.h.736-
41.
10. Kee JL dan Hayes ER. Farmakologi pendekatan proses keperawatan.Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 1996. Hal 179-187.
11. Bickley L.S. Anamnesis. Bates Guide to physical examination and history taking.
International edition. 10th edition. Lippincott Williams & Wilkins. Wolters Kluwer
Health; 2009.
12. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W, penyunting. Kapita selekta
kedokteran. Jilid-2. Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius; 2008. h. 500-3.
















20


.