Anda di halaman 1dari 25

1

1 PAPER OSTEOARTRITIS Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular Oleh Kelompok 3 Anggota

PAPER OSTEOARTRITIS

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular

Oleh Kelompok 3 Anggota :

Rama Fitri Hardiyanti

112110101009

Ririn Dwi Korastin

112110101029

Mega Noer Kartika

112110101050

Dinasty Raditya Hari M.

112110101075

Mar’atush Sholihah

112110101110

Amalia Dwi Aryanti

112110101060

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JEMBER

2014

2

  • 1. Pengertian Rematik dan Osteoartritis

    • a. Pengertian Rematik Istilah rematik berasal dari ilmu kedokteran kuno di Yunani, yaitu rheumaticos atau

rheumatismos dalam bahasa Latin. Kata asalnya, yaitu “rheuma” yang berarti “mengalir (ke bawah)”. Secara umum, orang selalu mengidentifikasikan perasaan nyeri, sakit, serta kaku pada otot, persendian, tulang, dan ligament (jaringan ikat) dengan istilah rematik. Dalam arti medis, rematik merupakan istilah yang kurang jelas dan spesifik sehingga jarang dipakai dalam praktek kedokteran. Karena keluhan utamanya nyeri dan pegal-pegal, otomatis penyakit rematik sangat mengganggu aktivitas penderita. Terutama aktivitas yang memerlukan gerak tubuh. Rematik termasuk dalam kelompok penyakit reumatologi, yang menunjukkan suatu kondisi dengan nyeri dan kaku yang menyerang anggota gerak atau system muskuloskeleton, yaitu sendi, otot, tulang, maupun jaringan di sekitar sendi (Wijayakusuma, 2010). Rematik atau penyakit muskuloskeletal merupakan lebih dari 150 penyakit dan sindrom, yang biasanya progresif dan berhubungan dengan nyeri. Mereka secara luas dapat dikategorikan sebagai penyakit sendi, cacat fisik, gangguan tulang belakang, dan kondisi akibat trauma. Penyakit muskuloskeletal merupakan penyebab morbiditas dan kecacatan utama, sehingga menimbulkan pengeluaran kesehatan yang sangat besar dan hilangnya pekerjaan (WHO, 2014). Rematik adalah penyakit sendi degenerative dimana terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban (Dinkes Bantul, 2012). Penyakit rematik dapat digolongkan kepada 2 bagian, yang pertama diuraikan sebagai penyakit jaringan ikat karena ia mengefek rangka pendukung ( supporting framework) tubuh dan organ-organ internalnya. Antara penyakit yang dapat digolongkan dalam golongan ini adalah osteoartritis, gout, dan fibromialgia. Golongan yang kedua pula dikenali sebagai penyakit autoimun karena ia terjadi apabila sistem imun yang biasanya memproteksi tubuh dari infeksi dan penyakit, mulai merusakkan jaringan-jaringan tubuh yang sehat. Antara penyakit yang dapat digolongkan dalam golongan ini adalah rheumatoid artritis, spondiloartritis, lupus eritematosus sistemik dan scleroderma (Anita, 2012).

3

  • b. Pengertian Osteoartritis

Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif, yang terutama mempengaruhi tulang rawan artikular. Hal ini terkait dengan penuaan dan kemungkinan besar akan mempengaruhi sendi yang telah terus-menerus ditekankan sepanjang tahun termasuk lutut, pinggul, jari, dan daerah tulang punggung bagian bawah (WHO, 2014). Osteosrtritis (OA) didefinisikan sebagai berbagai kelompok kondisi yang menyebabkan gejala dan tanda sendi yang berhubungan dengan kerusakan integritas kartilago artikular selain perubahan pada tulang yang mendasarinya (Brashers, 2008). Osteoarthritis adalah suatu gangguan persendian dimana terjadi perubahan berkurannya tulang rawan sendi dan terjadi hipertropi tulang hingga terbentuk tonjolan tulang pada permukaan sendi (osteopit) (Yatim, 2006). Osteoartritis adalah penyakit sendi degenaratif non inflamasi yang ditandai dengan degenerasi tulang rawan sendi, hipertrofi tulang pada tepiannya, dan perubahan membran sinovial. Gambaran klinisnya ditemukan banyak terjadi di ujung jari atau ibu jari, leher, tulang belakang, lutut, dan panggul. Gejala utama meliputi kaku dan nyari pada sendi yang terkena. Nyeri, terutama jika bergerak (Safrudin, 2009). Osteoartritis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh pengeroposan kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, tulang di bawahnya mengalami iritasi, yang menyebabkan degenerasi sendi. Osteoartritis dapat terjadi secara idiopatik (tanpa diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma, dengan stress berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau balerina atau berkaitan dengan defomitas kongenital. Individu yang mengalami hemofilia atau kondisi lain yang ditandai oleh pembengkakan sendi kronis dan edema dapat mengalami osteoartritis. Osteoartritis sering dijumpai pada lansia, yang mengenai lebih dari 70% pria dan wanita yang berusia diatas 65 tahun. Obesitas dapat memperburuk kondisi ini (Corwin, 2009). Pada osteoarthritis, terjadi proses pengapuran yang merusak tulang rawan di sekitar tulang sehingga menjadi tipis dan kemudian tumbuh tulang baru di sekitar sendi yang terserang. Akibatnya, pinggir sendi bersanngkutan kehilangan pembungkus halus kartilago. Tumbuhnya tulang di sekitar sendi akan mengganggu gerakan dan menyebabkan sakit jika sendinya aktif (Wijayakusuma, 2010).

4

  • 2. Prevalensi Osteoartritis a) Indonesia

4 2. Prevalensi Osteoartritis a) Indonesia Gambar 2. (a) Tabel Prevalensi penyakit sendi berdasarkan provinsi di

Gambar 2. (a) Tabel Prevalensi penyakit sendi berdasarkan provinsi di Indonesia Tahun 2013

Prevalensi penyakit sendi berdasar diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia 11,9 persen dan berdasar diagnosis atau gejala 24,7 persen. Prevalensi berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Bali (19,3%), diikuti Aceh (18,3%), Jawa Barat (17,5%) dan Papua (15,4%). Prevalensi penyakit sendi berdasarkan diagnosis nakes atau gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur (33,1%), diikuti Jawa Barat (32,1%), dan Bali (30%) (Hasil RISKESDAS

2013).

5

5 Gambar 2. (b) Tabel Prevalensi penyakit sendi berdasarkan karakteristik di Indonesia Tahun 2013 Prevalensi penyakit

Gambar 2. (b) Tabel Prevalensi penyakit sendi berdasarkan karakteristik di Indonesia Tahun 2013

Prevalensi penyakit sendi berdasarkan wawancara yang didiagnosis nakes meningkat seiring dengan bertambahnya umur, demikian juga yang didiagnosis nakes atau gejala. Prevalensi tertinggi pada umur ≥75 tahun (33% dan 54,8%). Prevalensi yang didiagnosis nakes lebih tinggi pada perempuan (13,4%) dibanding laki-laki (10,3%) demikian juga yang didiagnosis nakes atau gejala pada perempuan (27,5%) lebih tinggi dari laki-laki (21,8%). Prevalensi lebih tinggi pada masyarakat tidak bersekolah baik yang didiagnosis nakes (24,1%) maupun diagnosis nakes atau gejala (45,7%). Prevalensi tertinggi pada pekerjaan petani/nelayan/buruh baik yang didiagnosis nakes (15,3%) maupun diagnosis nakes atau gejala (31,2%). Prevalensi yang didiagnosis nakes di perdesaan (13,8%) lebih tinggi dari

6

perkotaan (10,0%), demikian juga yang diagnosis nakes atau gejala di perdesaan (27,4%), di perkotaan (22,1%). Kelompok yang didiagnosis nakes, prevalensi tertinggi pada kuintil indeks kepemilikan terbawah (15,4%) dan menengah bawah (14,5%). Demikian juga pada kelompok yang terdiagnosis nakes atau gejala, prevalensi tertinggi pada kuintil indeks kepemilikan terbawah (32,1%) dan menengah bawah (29,0%) (Hasil RISKESDAS 2013).

6 perkotaan (10,0%), demikian juga yang diagnosis nakes atau gejala di perdesaan (27,4%), di perkotaan (22,1%).
6 perkotaan (10,0%), demikian juga yang diagnosis nakes atau gejala di perdesaan (27,4%), di perkotaan (22,1%).

Gambar 2. (c) Grafik perbandingan kecenderungan prevalensi penyakit sendi/rematik/encok menurut provinsi pada tahun 2007 dan 2013

Gambar2. (c) menunjukkan kecenderungan prevalensi penyakit sendi/rematik/encok berdasarkan wawancara tahun 2013 (24,7%) lebih rendah dibanding tahun 2007 (30,3%). Kecenderungan penurunan prevalensi diasumsikan kemungkinan perilaku penduduk yang sudah lebih baik, seperti berolah raga dan pola makan (Hasil RISKESDAS 2013). Prevalensi osteoartritis total di indonesia 34,3 juta orang pada tahun 2002 dan mencapai 36,5 juta orang pada tahun 2007. Diperkirakan 40% dari populasi usia diatas 70 tahun menderita osteoarthritis. Diperkirakan 1 sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia menderita cacat karena osteoartritis. Prevalensi osteoartritis mencapai 5% pada usia <40 tahun,30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia >61 tahun.5 Untuk osteoarthritis lutut prevalensinya cukup tinggi yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita.

7

Di Indonesia, OA merupakan penyakit reumatik yang paling banyak ditemui dibandingkan kasus penyakit reumatik lainnya. Berdasarkan data WHO, penduduk yang mengalami gangguan OA di Indonesia tercatat 8,1% dari total penduduk. Sebanyak 29% di antaranya melakukan pemeriksaan dokter, dan sisanya atau 71% mengonsumsi obat bebas pereda nyeri. Di Kabupaten Malang dan Kota Malang ditemukan prevalensi OA sebesar 10% dan 13,5%. Di Jawa Tengah, kejadian penyakit OA sebesar 5,1% dari semua penduduk.

b) Asia

8

8 Gambar 2. (d) Tabel Prevalensi nyeri lutut dan osteoartritis lutut berdasarkan negara di Asia Dari

Gambar 2. (d) Tabel Prevalensi nyeri lutut dan osteoartritis lutut berdasarkan negara di Asia

Dari studi yang dilakukan COPCORD to-date di Kawasan Asia, memberikan perkiraan nyeri lutut ( fase 1 ) atau OA lutut ( fase 3 ) , jelas bahwa prevalensi baik nyeri lutut atau OA lutut tinggi , terutama mengingat bahwa kohort cukup muda , biasanya 15 tahun atau lebih , dengan usia rata-rata sebagian besar antara 30 dan 39 tahun, prevalensi meningkat dengan usia dan lebih tinggi di antara perempuan . Survei yang dilakukan di Pakistan menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dari nyeri lutut antara makmur perkotaan dibandingkan dengan kaum miskin kota. Keduanya dikaitkan ini menemukan dengan peningkatan prevalensi obesitas dengan meningkatnya kemakmuran di Pakistan .

9

9 Gambar 2. (e) Tabel Prevalensi nyeri pinggul dan osteoartritis pinggul berdasarkan negara di Asia Jelas

Gambar 2. (e) Tabel Prevalensi nyeri pinggul dan osteoartritis pinggul berdasarkan negara di Asia

Jelas bahwa OA pinggul didiagnosa oleh dokter jarang di seluruh wilayah Asia (Gambar 2(e)). Prevalensi nyeri pinggul juga sebagian besar rendah di populasi muda. Hanya satu studi yang dibuat perbandingan perkotaan-pedesaan (Bangladesh), yang menemukan prevalensi lebih tinggi dari nyeri pinggul di pedesaan masyarakat dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Menariknya, sementara survei di Vietnam menunjukkan prevalensi lebih tinggi dari nyeri pinggul pada usia yang lebih tua.

c)

Dunia

10

Figure 1 Burden of disease of OA by age groups and regions

Osteoarthritis (DALYs, by age groups & regions, 2002)

45-59 W-F W-M EU-10-F EU-10-M EU15-F EU15-M EU25-F EU25-M Age groups 80+ 70-79 60-69 7.00% 30-44
45-59
W-F
W-M
EU-10-F
EU-10-M
EU15-F
EU15-M
EU25-F
EU25-M
Age groups
80+
70-79
60-69
7.00%
30-44
15-29
5-14
0-4
% of tota
0.00%
1.00%
2.00%
3.00%
4.00%
5.00%
6.00%

Gambar 2. (f) Grafik penyakit ostearthritis berdasarkan usia dan wilawah di Dunia Tahun 2002

1) Catatan dari Gambar 2 (f), puncak dalam beban penyakit (DALYs) di masing-

2)

masing tiga wilayah: Global, EU15, EU25, dan EU10 berbeda. Di Uni Eropa 10, timbulnya OA adalah pada usia lebih dini, mungkin menghasilkan lebih banyak cacat, hilangnya produktivitas dan peningkatan biaya perawatan kesehatan. OA lutut cenderung menjadi penyebab global yang paling penting keempat

3)

kecacatan pada wanita dan kedelapan yang paling penting dalam pria. OA berkontribusi pada beban penyakit yang lebih tinggi pada laki-laki di bawah

4)

usia 50 dan pada wanita di atas usia 50. Menurut pendapat ahli yang disajikan dalam laporan komite EULAR, bukti

5)

radiografi OA lutut pada pria dan wanita di atas 65 ditemukan pada 30% dari pasien. Gambar 2 (g) menunjukkan prevalensi OA lutut berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin dan region.5 Pada OA umum yang lebih menonjol di Eropa dan Amerika Serikat daripada di bagian lain dari dunia.

11

Figure 2. Prevalence of osteoarthritis

11 Figure 2. Prevalence of osteoarthritis Gambar 2. (g) Grafik prevalensi osteoarthritis lutut tahun 2000 Dampak

Gambar 2. (g) Grafik prevalensi osteoarthritis lutut tahun 2000

Dampak Negara

Angka agregat pada dampak keseluruhan dari OA tidak tersedia. Oleh karena itu, menyoroti statistik dan dampak dari arthritis dari masing-masing negara yang telah melaporkan informasi yang disajikan.

1)

UK

Di Inggris dan Wales antara 1,3 dan 1,75 juta orang memiliki gejala OA .

  • (a) Pada tahun 2000 lebih dari 80.000 pinggul atau lutut penggantian dilakukan dengan biaya £ 405,000,000 sebagai penyebab kecacatan ( seperti berjalan dan

memanjat tangga ) dalam OA tua untuk kedua penyakit kardiovaskular.

  • (b) Secara keseluruhan 10 % sampai 15 % orang dewasa di atas 60 memiliki

2)

beberapa derajat OA. Jerman

Empat juta orang dari 82 juta orang menderita beberapa bentuk penyakit autoimun yang mempengaruhi sendi .

  • (a) orang

Kebanyakan

berpartisipasi

dalam

sistem

asuransi

kesehatan

medis

universal.

12

  • (b) Isu-isu kunci dalam memerangi arthritis termasuk akses ke obat-obatan, akses ke perawatan khusus, pengobatan tidak terkoordinasi, dan anggaran negara

3)

berkurang. Canada Biaya langsung dan tidak langsung dari arthritis di Kanada setara dengan sekitar 18 milyar dolar per tahun.

  • (a) Lebih dari empat juta Kanada dari 31.014.000 orang memiliki arthritis.

  • (b) Saat ini ada sekitar 270 rheumatologists di Kanada.

  • (c) Namun , 150 dari mereka yang dekat dengan pensiun meninggalkan 120

rheumatologists untuk merawat 4 juta pasien arthritis penderitaan .

  • (d) Ada sekitar 37.000 penggantian pinggul dan lutut operasi setiap tahun di Kanada.

  • (e) Isu-isu kunci dalam memerangi arthritis menghadapi Kanada meliputi: akses ke

obat-obatan , akses ke perawatan Pra, akses ke perawatan ortopedi, dana untuk

4)

penelitian dan kecacatan penyakit. Japan Populasi 127 juta orang. 17 % dari populasi adalah lebih dari 65 (persentase ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 25 % dalam tiga dekade berikutnya).

  • (a) 5 % dari populasi memiliki beberapa bentuk arthritis.

  • (b) Isu-isu kunci dalam memerangi arthritis menghadapi Jepang termasuk akses ke

5)

obat-obatan, akses ke perawatan khusus. Amerika Serikat Diperkirakan bahwa lebih dari 41 juta orang dari 285 juta orang di Amerika Serikat

memiliki arthritis.

  • (a) Di Amerika Serikat sekitar 6 persen dari orang dewasa di atas 30 memiliki OA lutut dan sekitar 3 persen memiliki OA pinggul.

  • (b) Terjadinya meningkat OA dengan usia, meningkat 2 - sampai 10 kali lipat pada orang 30-65 tahun.

  • (c) Diperkirakan 50 juta orang akan didiagnosis dengan arthritis pada tahun 2013.

  • (d) Beban ekonomi saat arthritis dalam berbagai bentuknya adalah sekitar $
    82400000000.

  • (e) Biaya langsung adalah $ 34600000000 (rumah sakit, dokter, transportasi, rumah jompo)

    • (f) Hanya 3 % dari biaya adalah untuk obat-obatan .

  • (g) Biaya tidak langsung adalah $ 47800000000 (terutama kehilangan upah dan kehilangan produktivitas).

  • (h) Arthritis merupakan faktor yang lebih besar dalam membatasi aktivitas dari penyakit jantung, hipertensi, kebutaan , atau diabetes. Hanya 24 % dari orang dengan laporan arthritis dan mencapai tingkat aktivitas fisik yang dianjurkan untuk kesehatan. Sisanya pada dasarnya tidak aktif atau kurang aktif.

13

  • 3. Patogenesis Osteoartritis

Osteoartritis adalah suatu kelainan sendi dimana terjadi proses pelemahan dan disintegrasi dari tulang rawan sendi yang disertai dengan pertumbuhan tulang dan tulang rawan baru pada sendi. Kelainan ini merupakan proses degeneratif pada sendi yang dapat mengenai satu atau lebih sendi. Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari proses penuaan dan tidak dapat dihindari. Namun telah diketahui bahwa OA merupakan gangguan keseimbangan dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum jelas diketahui (Soeroso, 2006). Kerusakan tersebut diawali oleh kegagalan mekanisme perlindungan sendi serta diikuti oleh beberapa mekanisme lain sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera (Felson, 2008). Mekanisme pertahanan sendi diperankan oleh pelindung sendi yaitu: Kapsula dan ligamen sendi, otot -otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya . Kapsula dan ligamen- ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak (Range of motion) sendi (Felson,

2008).

Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antar kartilago pada permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat gesekan. Protein yang disebut dengan lubricin merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini akan berhenti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi (Felson, 2008). Ligamen, bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang dikirimkannya memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi bergerak (Felson, 2008). Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan stres yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima. Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang diterima (Felson, 2008). Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak. Kekakuan kartilago yang dapat dimampatkan berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang

14

diterima sendi. Perubahan pada sendi sebelum timbulnya OA dapat terlihat pada kartilago sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago (Felson, 2008). Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu Kolagen tipe dua dan Aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat membatasi molekul-molekul aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan adalah molekul proteoglikan yang berikatan dengan asam hialuronat dan memberikan kepadatan pada kartilago (Felson, 2008). Kondrosit, sel yang terdapat di jaringan avaskular, mensintesis seluruha elemen yang terdapat pada matriks kartilago. Kondrosit menghasilkan enzim pemecah matriks, sitokin (Interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF)), dan faktor pertumbuhan. Umpan balik yang diberikan enzim tersebut akan merangsang kondrosit untuk melakukan sintesis dan membentuk molekul- molekul matriks yang baru. Pembentukan dan pemecahan ini dijaga keseimbangannya oleh sitokin faktor pertumbuhan, dan faktor lingkungan (Felson, 2008). Kondrosit mensintesis metaloproteinase matriks (MPM) untuk memecah kolagen tipe dua dan aggrekan. MPM memiliki tempat kerja di matriks yang dikelilingi oleh kondrosit. Namun, pada fase awal OA, aktivitas serta efek dari MPM menyebar hingga ke bagian permukaan (superficial) dari kartilago (Felson, 2008). Stimulasi dari sitokin terhadap cedera matriks adalah menstimulasi pergantian matriks, namun stimulaso IL-1 yang berlebih malah memicu proses degradasi matriks. TNF menginduksi kondrosit untuk mensintesis prostaglandin (PG), oksida nitrit (NO), dan protein lainnya yang memiliki efek terhadap sintesis dan degradasi matriks. TNF yang berlebihan mempercepat proses pembentukan tersebut. NO yang dihasilkan akan menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan proses pemecahan protein pada jaringan. Hal ini berlangsung pada proses awal timbulnya OA (Felson, 2008). Kartilago memiliki metabolisme yang lamban, dengan pergantian matriks yang lambat dan keseimbangan yang teratur antara sintesis dengan degradasi. Namun, pada fase awal perkembangan OA kartilago sendi memiliki metabolisme yang sangat aktif (Felson, 2008). Pada proses timbulnya OA, kondrosit yang terstimulasi akan melepaskan aggrekan dan kolagen tipe dua yang tidak a dekuat ke kartilago dan cairan sendi. Aggrekan pada kartilago akan sering habis serta jalinan - jalinan kolagen akan mudah mengendur (Felson, 2008). Kegagalan dari mekanisme pertahanan oleh komponen pertahanan sendi akan meningkatkan kemungkinan timbulnya OA pada sendi (Felson, 2008).

  • 4. Etiologi dan Gejala Osteoartritis

    • a. Etiologi Osteoartritis

15

Pada osteoartritis, bantalan (tulang rawan) antara tulang akan menipis dalam sendi. Jika osteoartritis semakin memburuk, tulang rawan hilang dan menggosok tulang pada tulang. Tulang tumbuh taji (bone spurs) atau biasanya membentuk sekitar sendi. Ligamen dan mengendurkan otot di sekitar sendi dan menjadi lemah. Etiologi penyakit ini tidak diketahui dengan pasti. Hasil penelitian menunjukan 87% adalah kasus osteoartritis primer, dan 13% kasus osteoartritis sekunder. Berdasarkan penyebabnya, OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. Pada kasus osteoarthritis primer terjadi karena idiopatik yaitu tidak adanya hubungan dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan local pada sendi dan terjadi

akibat faktor usia, jenis kelamin, aktifitas dan factor resiko lainnya yang memicu terjadinya osteoarthritis. Sedangkan osteoarthritis sekunder dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan kerusakan pada sinovia sehingga menimbulkan osteoartritis sekunder dan keadaan yang dapat menimbulkan osteoarthritis sekunder adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolic, pertumuhan, herediter, jejas makro dan mikro, serta imobilisasi yang terlalu lama. OA sekunder, berbeda dengan OA primer, merupakan OA yang disebabkan oleh inflamasi, kelainan sistem endokrin, metabolik, pertumbuhan, faktor keturunan (herediter), dan immobilisasi yang terlalu lama. Kasus OA primer lebih sering dijumpai pada praktik sehari-hari dibandingkan dengan OA sekunder (Soeroso, 2006).

  • b. Gejala Osteoartritis

    • 1. Nyeri Sendi Keluhan ini merupakan keluhan utama yang sering kali terlihat atau menjadi chiri khas, nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat. Bebrapa gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibanding gerakan yang lain dan semakin tinggi aktivitas akan semakin bertambah rasa nyeri pada sendi.

    • 2. Hambatan Gerak Sendi Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri, semaki penderita mengalami rasa nyeri akan semakin mengakibatkan gerak sendi semakin terbatas atau susahnya sendi untuk bergerak.

    • 3. Kaku Pagi Pada beberapa penderita osteoartritis, nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu yang lama atu bahkan setelah bangun tidur.

16

  • 4. Krepitasi Adalah rasa gemeretak pada sendi yang sakit, paling sering terjadi pada lutut, pada awalnya penderita osteoartritis hanya berupa perasaan akan ada sesuatu yang remuk atau patah pada sendi yang sakit, dengan bertambah beratnya penyakit, krepitasi dapat terdengar sampai jarak tertentu. Gejala ini timbul karena gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat digerakan.

  • 5. Pembesaran Sendi Penderita osteoartritis akan menunjukan salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut atau tangan) secara pelan-pelan akan mengalami pembesaran.

  • 6. Perubahan Gaya Berjalan Gejala ini merupakan gejala yang menyusahkan penderita osteoartritis, karena hampir semua penderita osteoartritis pada pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul akan mengalami bentuk fisiologis yang berakibatkan gangguan berjalan, dan hal ini yang mengakibatkan ancaman kemandirian bagi penderita osteoartritis khususnya penderita usia lanjut.

  • 5. Faktor Risiko Osteoartritis

    • a) Umur Dari semua faktor resiko osteoartritis, faktor penuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya osteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tidak pernah dialami oleh anak-anak, jarang di temukan angka kejadian pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun.

    • b) Jenis Kelamin Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan osteoartritis banyak sendi, dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, di bawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki- laki dan wanita, tetapi di atas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukan adanya peran hormonal pada potogenesis osteoartritis

    • c) Suku atau Ras

17

Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan di antara masing-masing suku. Misalnya osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang-orang kulit hitam dari pada kulit putih. Hal ini berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun prebedaan paa frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan

  • d) Genetik Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis, misalnya pada ibu dari seorang wanita dengan terdapat 2 kali lebih sering mengalami osteoartritis, maka anak wanita nya akan mengalami 3 kali lebih sering mengalami osteoartritis, dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki memiliki riwayat osteoartritis

  • e) Kegemukan atau obesitas Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya risiko untuk timbulnya osteoartritis, baik pada wanita atau pada pria karena kegemukan berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban sehingga dapat meningkatkan bebas mekanis sendi

  • f) Cedera sendi, Pekerjaan dan Olah Raga Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi secara terus menerus akan meningkatkan terjadinya osteoartritis. Demikian juga cedera sendi dan olahraga yang sering mengakibatkan cedera sendi berkaitan dengan risiko osteoartritis yang lebih tinggi. Beban benturan yang berulang dapat menjadi suatu faktor penentu lokasi pada orang yang mempunyai predisposisi osteoartritis dan dapt berkaitan dengan perkembangan dan beratnya.

  • g) Kelainan Pertumbuhan Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya penyakit perthes dan dislokasi kongenital paha) telah dikaitan dnegan timbulnya osteoartritis pada usia muda.

  • h) Faktor lain Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko timbulnya osteoartritis meliputi tingginya kepadatan tulang, hal ini timbul karena karena tulang yang padat (keras) tidak membantu mengurangi beban benturan yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah sobek dan berpotensi tinggi mengakibatkan osteoartritis

18

Prinsip upaya pencegahan lebih baik dari sebatas pengobatan tetap juga berlaku dalam Penyakit Tidak Menular (Bustan, 2000):

  • a. Pencegahan Primordial Pencegahan yang digunakan untuk mencegah terbentuknya pola hidup sosial

ekonomi dan kultural yang diketahui mempunyai kontribusi untuk meningkatkan risiko penyakit dan pencegahan ini ditujukan pada orang sehat. Pencegahan primordial yang efektif memerlukan adanya peraturan yang ketat dari pemerintah, misalnya :

1)

Kebijakan menyediakan Fasilitas Olahraga di Taman Kota

2)

Memberikan kebijakan senam rutin bagi Lansia di akhir pekan

  • b. Pencegahan Tingkat Pertama (Pencegahan Primer)

Sasarannya

ditujukan

pada

orang

sehat

namun

memiliki resiko terkena

penyakit tersebut, yaitu dengan promosi kesehatan (health promotion) dan pencegahan khusus (specific protection). Pada edukasi, yang penting adalah meyakinkan pasien untuk dapat mandiri, tidak selalu tergantung pada orang lain. Walaupun OA (Osteoarthritis) tidak dapat disembuhkan, tetapi kualitas hidup pasien dapat ditingkatkan. Penurunan berat badan merupakan tindakan yang penting, terutama pada pasien-pasien obesitas, untuk mengurangi beban pada sendi yang terserang OA dan meningkatkan kelincahan pasien waktu bergerak. Suatu studi mengikuti 21 penderita OA yang mengalami obesitas, kemudian mereka melakukan penurunan berat badan dengan cara diet dan olah raga. Setelah diikuti selama 6 bulan, ilaporkan bahwa pasien-pasien tersebut mengalami perbaikan fungsi sendi serta pengurangan derajat dan frekuensi rasa sakit. Terapi fisik dan terapi kerja bertujuan agar penderita dapat melakukan aktivitas optimal dan tidak tergantung pada orang lain. Terapi ini terdiri dari pendinginan, pemanasan dan latihan penggunaan alat bantu. Dalam terapi fisik dan terapi kerja dianjurkan latihan yang bersifat penguatan otot, memperluas lingkup gerak sendi dan latihan aerobik. Latihan tidak hanya dilakukan pada pasien yang tidak menjalani tindakan bedah, tetapi juga dilakukan pada pasien yang akan dan sudah menjalani tindakan bedah, sehingga pasien dapat segera mandiri setelah pembedahan dan mengurangi komplikasi akibat pembedahan. (Tesis) Pencegahan Primer juga dapat dilakukan dengan :

19

1) Menjamin konsumsi nutrisi yang cukup zat kapur, dari masa kanak-kanak

2)

sampai saat terhentinya pertumbuhan tulang. Setelah puncak masa tulang tercapai pada masa dewasa, maka asupan kalsium

3)

yang adekuat, latihan fisik yang teratur, dan menstruasi yang teratur harus tetap dipertahankan selama usia dewasa sampai memasuki usia lanjut. Pemberian informasi kesehatan (terkait osteoartriris) di posyandu lansia

4)

Mengadakan penyuluhan akan kesedaran pola hidup sehat , misalnya dengn

5)

melakukan jenis olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan tiduran. Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan

aktivitas gerak pun sangat tidak dianjurkan. Tubuh yang tidak digerakkan akan mengundang osteoporosis.

  • c. Pencegahan Tingkat Kedua (sekunder) Pencegahan sekunder yaitu pencegahan yang ditujukan kepada orang yang telah sakit dan mencegah terjadinya kecacatan yang lebih parah. Dengan cara pemberian hormon-hormon estrogen-progesterone. Hormon-hormon ini dilaporkan dapat menghentikan setidak-tidaknya mengurangi kehilangan tulang selama menopause. Dapat dilakukan dengan cara diagnosis dini, dan pengobatan tepat.

1)

Diagnosis Dini (Early Diagnosis)

Diagnosois dini dapat dilakukan dengan cara:

  • a) Pencitraan, meliputi:

    • 1. Sinar X

Pencitraan

dengan

sinar

X

terhadap

persendian

yang

terkena

osteoarthritis dapat melihat penyempitan di persendian. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tulang rawan kian terkikis. Sinar X juga mengetahui adanya penonjolan tulang di sekitar sendi, bahkan banyak orang yang sudah tahu mereka menderita osteoarthritis setelah menjalani pemeriksaaan dengan sinar X, meskipun belum muncul gejala.

  • 2. Magnetic resonance imarging (MRI) MRI merupakan gelombang radio dan medan magnet kuat untuk menghasilkan gambar yang jelas dari tulang dan jaringan lunak, termasuk tulang rawan. Hal ini dapat membantu untuk mengetahui penyebab pasti rasa sakit pada persendian.

  • b) Uji Laboratorium, meliputi:

20

1. Tes darah dapat membantu mengetahui penyebab lain dari sakit persendian, misalnya rheumatoid arthritis. 2. Analisis cairan sendi digunakan jarum khusus untuk menyedot cairan dari persendian yang sakit, kemudian cairan tersebut diperiksakan di laboratorium untuk menentukan apakah ada peradangan atau disebabkan oleh encok atau infeksi. 2) Pengobatan (Prompt Treatment)

Parasetamol merupakan analgesik pertama yang diberikan pada penderita OA dengan dosis 1 gram 4 kali sehari, karena cenderung aman dan dapat ditoleransi dengan baik, terutama pada pasien usia tua. Kombinasi parasetamol / opiat seperti coproxamol bisa digunakan jika parasetamol saja tidak membantu. Tetapi jika dimungkinkan, penggunaan opiat yang lebih kuat hendaknya dihindari.

Kelompok

obat

yang

banyak

digunakan

untuk

menghilangkan

nyeri

penderita OA adalah obat anti inflamasi non steroid (OAINS). OAINS bekerja dengan cara menghambat jalur siklooksigenase (COX) pada kaskade inflamasi. Terdapat 2 macam enzim COX, yaitu COX-1 (bersifat fisiologik, terdapat pada lambung, ginjal dan trombosit) dan COX-2 (berperan pada proses inflamasi). OAINS tradisional bekerja dengan cara menghambat COX-1 dan COX-2, sehingga dapat mengakibatkan perdarahan lambung, gangguan fungsi ginjal, retensi cairan dan hiperkalemia. OAINS yang bersifat inhibitor COX-2 selektif akan memberikan efek gastrointestinal yang lebih kecil dibandingkan penggunaan OAINS yang tradisional. (TESIS)

Dapat Juga dilakukan pengobatan operasi diantaranya adalah :

  • a. Penggantian engsel (artroplasti). Engsel yang rusak akan diangkat dan diganti dengan alat yang terbuat dari plastic atau metal yang disebut prostesis.

  • b. Pembersihan sambungan (debridemen). Dokter bedah tulang akan mengangkat serpihan tulang rawan yang rusak dan mengganggu pergerakan yang menyebabkan nyeri saat tulang bergerak.

  • c. Penataan tulang. Opsi ini diambil

untuk osteoatritis

pada anak dan remaja.

Penataan

dilakukan agar sambungan/ engsel tidak menerima beban saat bergerak.

  • d. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tersier) Yaitu dengan melakukan rehabilitasi (rehabilitation) dan pembatasan kecacatan (disability limitation). Rehabilitasi dapat dilakukan dengan pengembalian fungsi fisik,

21

psikologi, dan sosial seoptimal mungkin. Namun untuk penyakit Osteoarthritis dapat dilakukan rehabilitasi adalah :

1) Dapat dilakukan dengan melatih mobilisasi dan mengkonsumsi makanan bergizi (khususnya tinggi kalsium). 2) Senam osteoarthritis misalnya yoga.

  • 7. Program Pemerintah dan Penanggulangan Osteoartritis Program penanggulangan untuk penyakit osteoarthritis dari pemerintah Indonesia masih belum ada, namun ada peringatan hari arthritis sedunia atau disebut ARA (Arthritis Rheumatism International). Peringatan hari arthritis sedunia ini terhitung masih baru karena pendeklarasiannya baru pada tanggal 12 Oktober 1996. Sehingga dari tanggal deklarasi tersebut maka hari ARA pun diperingati setiap tanggal itu. Adapun tujuan dari deklarasi peringatan Hari Arthritis Sedunia ini adalah :

    • a) Meningkatkan kesadaran masyarakat dunia baik penderita mau bukan penderita tentang penyakit Arthritis

    • b) Mempengaruhi para pembuat kebijakan, agar membuat kebijakan yang membuat masyarakat sadar terhadap Arthritis dan langkah langkah untuk menanganinya.

    • c) Meyakinkan para penderita Arthritis bahwa jaringan kerja tersedia bagi mereka

  • 8. Analisis Jurnal Osteoartritis

  • No

    Judul Jurnal

    Design

    Variabel

    Tujuan

    Hasil

    Penelitian

    Penelitian

    Korelasi antara

    • 1. Cross

     

    Variabel X:

    Ingin

    Tidak terdapat

    Derajat Beratnya

    sectional

    derajat

    mengetahui

    korelasi positif

    Osteoarthritis

    analytic

    beratnya

    apakah terdapat

    yang bermakna

    Lutut dan

    osteoarthritis

    korelasi antara

    secara statistik

    Cartilage

    (OA) lutut

    derajat beratnya

    antara derajat

    Oligomeric

    OA lutut dengan

    beratnya

    Matrix Protein

    konsentrasi

    osteoarthritis

    Serum (2012)

    Variabel Y:

    COMP serum

    (OA) lutut dan

    konsentrasi

    pada manusia.

    konsentrasi

    Cartilage

    Bila terdapat

    Cartilage

    Oligomeric

    korelasi,

    Oligomeric

    Matrix

    konsentrasi

    Matrix Protein

    Protein

    COMP serum

    (COMP) serum.

    (COMP)

    tentu akan

    serum.

    bermanfaat

    22

           

    dalam menilai

     

    derajat beratnya

    OA, khususnya

    OA lutut

    Hubungan

    • 2. Cross

     

    Variabel X:

    Mengidentifikasi

    Berdasarkan hasil

    Intensitas Nyeri

    sectional

    intensitas

    hubungan yang

    uji korelasi

    dengan Stres

    deskriptif

    nyeri

    signifikan antara

    Spearmen

    Pasien Osteoartritis di RSUP H. Adam

    Variabel Y:

    intensitas nyeri dengan stres pada pasien

    terdapat hubungan yang signifikan antara

    Malik Medan

    stres

    intensitas nyeri

    (2012)

    osteoartritis di RSUP H. Adam Malik Medan

    dengan stres pada pasien osteoartritis dengan besar r= 0.480 (p= 0.007), hal ini menunjukkan adanya hubungan dengan kekuatan sedang antara intensitas nyeri dengan stres pasien osteoartritis

    Asosiasi Kadar

    • 3. Cross

     

    Variabel X:

    Untuk

    Terdapat

    YKL-40 Serum

    sectional

    kadar YKL-

    mengetahui

    hubungan/asosiasi

    dengan

    analytic

    40 serum

    apakah ada

    kadar YKL-40

    Penyempitan

    Variabel Y:

    hubungan antara

    serum yang

    Celah Sendi pada

    kadar YKL-40

    meningkat dengan

    penyempitan

    Osteoartritis

    celah sendi

    serum dengan

    penyempitan

    Lutut

    penyempitan

    celah sendi

    Simptomatis

    pada

    celah sendi

    penderita OA

    osteoartritis

    23

     

    (2012)

     

    lutut

    melalui

    (osteoartritis).

    simptomatis

    pemeriksaan USG MSK pada penderita OA lutut simptomatis

    24

    Daftar Pustaka

    Anita. 2012. Penyakit Rematik. http://www.sharepdf.com/ . Universitas Sumatera Utara [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Arisa, Maria Isabella. 2012. Pola Distribusi Kasus Osteoartritis di RSU Dokter Soedarso

    Pontianak Periode 1 Januari 2008 – 31 Desember 2009. Naskah Publikasi. Universitas Tanjungpura: Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Pontianak 2012. Andriyasa, Ketut dan Putra, T. Raka. 2012. Korelasi antara Derajat Beratnya Osteoarthritis Lutut dan Cartilage Oligomeric Matrix Protein Serum. [serial online] http://ojs.unud.ac.id/ [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan & Manajemen Edisi 2. Jakarta: EGC. Serial Online. (books.google.com/books?isbn=9794488275) [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: EGC. Serial Online. (books.google.com/books?isbn=9794489883) [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. 2012. Rematik Osteoartritis Pada Lansia.

    lansia.pdf. [diakses pada tanggal 8 April 2014] Fransen, Marlene, dkk. 2011. The epidemiology of osteoarthritis in Asia. http://www.researchgate.net/publication/ [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Felson, D.T., 2008. Osteoarthritis. Dalam: Fauci, A., Hauser, L.S., Jameson, J.L., Ed. HARRISON's Principles of Internal Medicine Seventeenth Edition. New York, United States of America. McGraw- Hill Companies Inc.: 2158-2165. Irawanto, Farid, dkk. 2012. Asosiasi Kadar YKL-40 Serum dengan Penyempitan Celah Sendi pada Osteoartritis Lutut Simptomatis. [serial online] http://www.ojs.unud.ac.id/ [diakses pada tanggal 8 April 2014].

    Lumbantoruan, Septa M. dan Harahap, Ikhsanuddin Ahmad. 2012. Hubungan Intensitas Nyeri dengan Stres Pasien Osteoartritis di RSUP H. Adam Malik Medan . [serial online] http://jurnal.usu.ac.id/ [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Sudoyo, Aru W,dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III Edisi V. Jakarta :

    InternaPublishing. Soeroso S., Isbagio H., Kalim H., Broto R., Pramudiyo R. Osteoartritis. In: Sudoyo AW., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata M., Setiati S., editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit

    25

    Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. p.

    1195-1201.

    Safrudin

    dan

    Hamidah.

    2009.

    Kebidanan

    Komunitas. Jakarta: EGC. Serial Online.

    (books.google.com/books?isbn=9794489379) [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Tanna, Saloni. 2009. Osteoarthritis “Opportunities to Address Pharmaceutical Gaps”. http://archives.who.int/prioritymeds/report/background/osteoarthritis.doc. [diakses pada tanggal 8 April 2014]. Wijayakusuma, Hembing. 2010. Atasi Asam Urat & Rematik Ala Hembing. Jakarta: Niaga Swadaya. Serial Online. (books.google.com/books?isbn=979383384X) [diakses pada tanggal 8 April 2014]. World Health Organization. 2014. Chronic rheumatic conditions. http://www.who.int/chp/topics/rheumatic/en/ [diakses pada tanggal 8 April 2014].

    Yatim, Faisal. 2006. Penyakit Tulang dan Persendian , Arthritis atau Arthralgia. Jakarta:

    Pustaka Popular Obor

    Kompasiana.

    2010.

    Selamat

    Hari

    Artritis

    Sedunia.

    http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/10/13/selamat-hari-arthritis-sedunia-

    287936.html [diakses pada tanggal 8 April 2014].