Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa muara uretra yang
terletak di sebelah ventral penis dan sebelah prokimal ujung penis.
Hipospadia merupakan salah satu dari kelainan kongenital paling sering pada
genitalia laki laki, terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki-laki, dapat
dikaitkan dengan kelainan kongenital lain seperti anomali ginjal, undesensus
testikulorum dan genetik seperti sindroma klinefelter.
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra
eksternus terletak dipermukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari
tempatnya yang normal pada ujung gland penis. (Duccket, 1986, Mc Aninch,
1992)
Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang
uretra pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009). Hipospadia
adalah kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis, lubang uretra
terletak dibagian bawah batang penis, skrotum atau perineum (Barbara J.
Gruendemann & Billie Fernsebner, 2005).
Dan menurut (Muscari, 2005) Hipospadia adalah suatu kondisi letak
lubang uretra berada di bawah glans penis atau di bagian mana saja sepanjang
permukaan ventral batang penis. Kulit prepusium ventral sedikit, dan bagian
distal tampak terselubung.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan
penutupan uretra penispadakehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang
mengakibatkan orifisium uretra tertinggaldisuatu tempat dibagian ventral
penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum,1991 : 257).
Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat
lain pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah
antara kemaluandan anus ). (Davis Hull, 1994)
Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan
spadon yang berarti keratan yang panjang. Hipospadia adalah suatu kelainan
bawaan dimana meatus uretra eksterna berada di bagian permukaan ventral
penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glanss
penis) (Arif Mansjoer, 2000). Hipospadia adalah kelainan bawaan berupa
urethra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis (Ngastiyah, 2005).
Berdasarkan dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa
hipospadia adalah suatu kelainan bawaan sejak lahir dimana lubang uretra
terdapat di penis bagian bawah bukan diujung penis. Sebagaian besar anak
dengan kelainan hipospadia memiliki bentuk batang penis yang melengkung.
Biasanya di sekitar lubang kencing abnormal tersebut terbentuk jaringan ikat
(fibrosis) yang bersifat menarik dan mengerutkan kulit sekitarnya. Jika dilihat
dari samping, penis tampak melengkung seperti kipas (chordee, bahasa latin);
secara spesifik jaringan parut di sekitar muara saluran kencing kemudian
disebut chordee. Tidak setiap hipospadia memiliki chordee.
Seringkali anak laki-laki dengan hipospadia juga memiliki kelainan
berupa testis yang belum turun sampai kekantung kemaluannya (undescended
testis). Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang jarang ditemukan,
dengan angka kekerapan 1 kasus hipospadia pada setiap 250-400 kelahiran
bayi laki-laki hidup.

2.2. Klasifikasi
Hipospadia adalah keadaan dimana lubang kencing terletak dibawah batang
kemaluan / penis.
Ada beberapa type hipospadia :
a. Hipospadia type Perenial, lubang kencing berada di antara anus dan
buah zakar (skrotum).
b. Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan
buah zakar (skrotum).
c. Hipospadia type Peno Scrotal, lubang kencing terletak di antara buah
zakar (skrotum) dan batang penis.
d. Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing berada di bawah
pangkal penis.
e. Hipospadia type Mediana, lubang kencing berada di bawah bagian
tengah dari batang penis.
f. Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah
bagian ujung batang penis.
g. Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus
coronarius penis (cekungan kepala penis).
h. Hipospadia type Granular, lubang kencing sudah berada pada kepala
penis hanya letaknya masih berada di bawah kepala penisnya.

Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :
1. Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal.
Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis,
kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan.
Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil/ Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-
escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum.
Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit
prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah
atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan
intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian
ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan
sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah selanjutnya.
3. Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal.
Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang
disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan
umumnya testis tidak turun.
Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus
uretra yaitu tipe glandular, distal penile, penile, penoskrotal, skrotal dan
perineal. Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang
diderita dan semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di
distal di mana meatus terletak diujung batang penis atau di glands penis.
Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis,
skrotum atau perineum. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan
koreksi korde, Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian :
1) Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis distal.
2) Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal.
3) Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal.

2.3.Etiologi
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang
belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor
yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1) Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang
mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor
hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada.
Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan
tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan
suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis
hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama.
2) Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi
karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut
sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
3) Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan
dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.



2.4. Tanda Gejala
Manifestasi klinis pada hipospadia, antara lain:
1. Jika berkemih, anak harus duduk.
2. Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis
3. Penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada kulit
depan penis
4. Penis melengkung ke bawah
5. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah atau di
dasar penis
6. Semprotan air seni yang keluar abnormal
7. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
8. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian
punggung penis.
9. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan
membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.
10. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
11. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
12. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans
penis.
13. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
14. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung
skrotum).
15. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah
bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh
adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus
yang letaknya abnormal ke glands penis.Jaringan fibrosa ini adalah bentuk
rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos.Walaupun adanya
chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu
diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.
2.5. Patofisiologi
Penyebab dari Hypospadia belum diketahui secara jelas dan dapat
dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh Hormonal. Pada usia gestasi
Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada Minggu ke VII
terjadi agenesis pada msoderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk, bila
genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul
Hypospadia.
Perkembangan urethra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan
selesai dalam 15 minggu, urethra terbentuk dari penyatuan lipatan urethra
sepanjang permukaan ventral penis. Glandula Urethra terbentuk dari kanalisasi
furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan
urethra yang menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan digaris tengah lipatan
urethra tidak lengkap sehingga meatus urethra terbuka pada sisi ventral penis.
Derajat kelainan letak ini antara lain seperti pada glandular (letak meatus yang
salah pada glans), Korona (pada Sulkus Korona), penis (disepanjang batang
penis), penuskrotal (pada pertemuan ventral penis dan skrotum) dan perineal
(pada perinium) prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi
yang menutupi sisi darsal gland. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai
Chordee, pada sisi ventral menyebabkan kuruatura (lingkungan) ventral dari
penis. Pada orang dewasa, chordec tersebut akan menghalangi hubungan
seksual, infertilisasi (Hypospadia penoskrotal) atau (perineal) menyebabkan
stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur aliran urine dan
sering terjadi kriotorkidisme.
Klasifikasi Hypospadia adalah tipe glandulan (balantik) yaitu meatus
terletak pada pangkal penis, tipe distal penil yaitu meatus terletak pada distal
penis, tipe penil yaitu meatus terletak antara perineal dan scrotum, tipe scrotal
yaitu meatus terletak di scratum, tipe perineal yaitu meatus terletak di perineal.
Komplikasi pada Hypospadia adalah infertilisasi risiko hernia inguinalm
gangguan psikososial.



2.6. Penatalaksaan
Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa
tahap yaitu:
1. Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi
eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi
chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak
abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan
intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus
kavernosum.
2. Operasi uretroplasty
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat
dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di
kedua sisi.

Tujuan pembedahan :
1. Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial.
2. Perbaikan untuk kosmetik pada penis.

Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula,
Teknik Horton dan Devine.
1. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
a. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan
terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -
2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang
abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian
dorsal dan kulit penis.
b. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut
sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih)
sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah
uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian
sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah.
Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka
operasi pertama telah matang.
2. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih
besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi
jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap
mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki)
kemudian dipindah ke bawah.
Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan
hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan
berbarengan dengan operasi hipospadi.

2.7. Komplikasi
Komplikasi yang biasa terjadi antara lain striktur uretra (terutama pada
sambungan meatus uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat)
atau fistula.
1. Komplikasi awal
a. perdarahan
b. infeksi
c. jahitan yang terlepas
d. nekrosis flap
e. edema.
2. Komplikasi lanjut
a. Stenosis sementara karena edema atau hipertropi scar pada tempat
anastomosis.
b. Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama.
c. Fistula uretrocutaneus
d. Striktur uretra
e. Adanya rambut dalam uretra
f. Infertility.
g. Resiko hernia inguinalis.
h. Gangguan psikososial.

2.8. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir
atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan
pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromososm (Corwin,
2009).
a. Rontgen
b. USG sistem kemih kelamin
c. BNO IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal
d. Kultur urine (Anak-hipospadia)
e. Uteroskopi
f. Pemeriksaan Darah Lengkap

2.9. Pencegahan
1. Tidak ada metode khusus untuk mencegah hipospadia, namun perlu
diperhatikan penggunaan obat-obatan yang mengandung esterogen
(misalnya pil KB) selama kehamilan
2. Melakukan pemeriksaan rutin
3. Menghindari perkawinan sedarah yang memiliki kelainan hipospadia

2.10. Asuhan Keperawatan
2.10.1. Pengkajian
1. Identitas
Usia : ditemukan saat lahir
Jenis kelamin : hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling
sering terjadi pada laki-laki dengan angka kemunculan 1:250 dari
kelahiran hidup. (Brough, 2007: 130)
2. Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau
didasar penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti
berkerudung karena adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika
berkemih anak harus duduk.(Muslihatum, 2010:163)
3. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya
lubang kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak
diketahui dengan pasti penyebabnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang
melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya
sejak lahir.
4. Riwayat Kongenital
a. Penyebab yang jelas belum diketahui.
b. Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
c. Lingkungan polutan teratogenik.
d. (Muscari, 2005:357)
5. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran: Hipospadia terjadi karena adanya
hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke-10 sampai
minggu ke-14. (Markum, 1991: 257)
6. Activity Daily Life
a. Nutrisi : Tidak ada gangguan
b. Eliminasi : anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami
kesukaran dalam mengarahkan aliran urinnya, bergantung pada
keparahan anomali, penderita mungkin perlu mengeluarkan urin
dalam posisi duduk. Konstriksi lubang abnormal menyebabkan
obstruksi urin parsial dan disertai oleh peningkatan insiden ISK.
(Brough, 2007: 130)
c. Hygiene Personal : Dibantu oleh perawat dan keluarga
d. Istirahat dan Tidur : Tidak ada gangguan
7. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler
Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem neurologi
Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem pernapasan
Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem integumen
Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem muskuloskletal
Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan
Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau
pembesaran pada ginjal.
Kaji fungsi perkemihan
Dysuria setelah operasi
g. Sistem Reproduksi
Adanya lekukan pada ujung penis
Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
Terbukanya uretra pada ventral
Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis,
perdarahan, drinage. (Nursalam, 2008: 164)

2.10.2. Diagnosa Keperawatan
PRE OPERASI
1. Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses
pembedahan (uretroplasti).
POST OPERASI
2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan.
3. Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan
kateter.
4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak
setelah pembedahan.
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.



2.10.3. Intervensi
PRE OPERASI
1. Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses pembedahan
(uretroplasti)
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24 jam diharapkan anak dan
orang tua mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai oleh ungkapan
pemahaman tentang prosedur bedah
Intervensi:
a. Kaji ansietas yang dikeluhkan atau yang dirasakan pasien
R: mengetahui tingkat kecemasan yang terjadi pada pasien
b. Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur bedah dan perawatan
pasca operasi yang diharapkan. Gunakan gambar dan boneka ketika
menjelaskan prosedur kepada anak. Jelaskan bahwa pembedahan
dilakukan dengan cara memperbaiki letak muara uretra. Jelaskan juga
kateter urine menetap akan dipasang, dan bahwa anak perlu direstrein
untuk mencegah supaya anak tidak berusaha melepas kateter. Beri tahu
mereka bahwa anak mungkin dipulangkan dengan keadaan terpasang
kateter.
R: menjelaskan rencana pembedahan dan pasca operasi membantu
meredakan rasa cemas dan takut, dengan membiarkan anak dan orang tua
mengantisipasi dan mempersiapkan peristiwa yang akan terjadi. Simulasi
dengan mempergunakan gambar dan boneka untuk menjelaskan prosedur
dapat membuat anak memahami konsep yang rumit.
c. Beri kesempatan pada anak atau orang tua untuk bertanya
R: memberikan jawaban yang dapat membuat tenang, dan terhindar dari
kecemasan
d. Beri anak kesempatan untuk mengekspresikan rasa takut dan fantasinya
dengan menggunakan boneka dan wayang.
R: mengekspresikan rasa takut memungkinkan anak menghilangkan rasa
takutnya, dan memberi anda kesempatan untuk mengkaji tingkat kognitif
dan kemampuan untuk memahami kondisi, serta perlunya pembedahan.
(Speer,2007:168)

POST OPERASI
2. Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24jam diharapkan anak
akan memperlihatkan peningkatan rasa nyaman yang ditandai oleh menangis,
gelisah, dan ekspresi nyeri berkurang.
Intervensi:
a. Kaji nyeri yang ada
R: mengetahui tingkat nyeri, skala dan lokasi dari nyeri yang ada
b. Memberikan terapi pengalihan perhatian atau relaksasi
R: mengalihkan perasaan pasien untuk tidak merasakan nyeri yang
dirasakan
c. Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai program
R: pemberian obat analgesik untuk meredahkan nyeri
d. Pastikan kateter anak dipasang dengan benar,serta bebas dari simpul
R: penempatan kateter yang tidak tepat dapat menyebabkan nyeri akibat
drainase yang tidak adekuat,atau gesekan akibat tekanan pada balon
yang digembungkan. (Speer,2007:169)

3. Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan
kateter
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24jam diharapkan anak
tidak mengalami infeksi yang ditandai oleh hasil urinalisis normal dan suhu
tubuh kurang dari 37,8
o
C
Intervensi:
a. Pertahankan kantong drainase kateter dibawah garis kandung kemih dan
pastikan bahwa selang tidak terdapat simpul dan kusut.
R: mempertahankan kantong drainase tetap pada posisi ini mencegah
infeksi dengan mencegah urine yang tidak steril mengalir balik ke dalam
kandung kemih
b. Gunakan tekni aseptic ketika mengosongkan kantong kateter
R: teknik aseptic mencegah kontaminan masuk kedalam traktus urinarius
c. Pantau urine anak untuk pendeteksian kekeruhan atau sedimentasi. Juga
periksa balutan bedah setiap 4 jam, untuk mengkaji bila tercium bau
busuk atau drainase purulen; laporkan tanda-tanda tersebut kepada dokter
dengan segera
R: tanda ini dapat mengindikasikan infeksi
d. Anjurkan anak untuk minum sekurang-kurangya 60 ml/jam
R: peningkatan asupan cairan dapat mengencerkan urine dan
mendorong untuk berkemih
e. Beri obat antibiotic profilaktik sesuai program, untuk membantu
mencegah infeksi. Pantau anak untuk efek terapeutik dan efek samping
R: pemantauan yang demikian membantu menentukan kemanjuran obat
antibiotic dan toleransi anak terhadap obat tersebut. (Speer,2007:169)

4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak
setelah pembedahan
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24jam diharapkan orang
tua akan mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai oleh pengungkapan
perasaan mereka tentang kelainan anak.
Intervensi:
a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran
mereka tentang ketidaksempurnaan fisik anak. Fokuskan pada pertanyaan
tentang seksualitas dan reproduksi.
R: membiarkan orang tua mengekspresikan perasaan serta kekhawatiran
mereka, dapat memberikan perasaan didukung dan dimengerti sehingga
mengurangi rasa cemas mereka. Mereka cenderung merasa sangat
khawatir terhadap efek kelainan, pada aspek seksualitas dan reproduksi.
b. Bantu orang tua melalui proses berduka yang normal
R: proses berduka memungkin orang tua dapat melalui kecemasan dan
perasaan distress mereka.
c. Rujuk orang tua kepada kelompok pendukung yang tepat, jika diperlukan
R: kelompok pendukung dapat membantu orang tua mengatasi
ketidaksempurnaan fisik anak.
d. Apabila memungkinkan, jelaskan perlunya menjalani pembedahan
multiple, dan jawab setiap pertanyaan yang muncul dari orang tua
R: perbaikan yang sudah dilakukan melaui pembedahan perlu
berlangsung secara bertahap. Dengan mendiskusikan hal ini dengan
orang tua dan member kesempatan mengekspresiakan perasan mereka
dapat mengurangi kecemasan. (Speer,2007:170)

5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 2x24jam diharapkan orang
tua mengekspresikan pemahaman tentang instruksi perawatan di rumah, dan
mendemonstrasikan prosedur perawatan dirumah
Intervensi:
a. Ajarkan orang tua tanda serta gejala infeksi saluran kemih atau infeksi
pada area insisi, termasuk peningkatan suhu, urine keruh, dan drainase
purulen dari insisi
R: mengetahui tanda dan gejala infeksi mendorong orang tua mencari
pertolongan medis ketika membutuhkannya
b. Ajarkan orang tua cara merawat kateter dan penis, termasuk
membersihkan daerah sekeliling kateter, mengosongkan kantong drainase
dan memfiksasi kateter; jelaskan pentingnya memantau warna serta
kejernihan urine
R: informasi semacam ini dapat meningkatkan kepatuhan terhadap
penatalaksanaan keperawatan di rumah dan membantu mencegah
kateter lepas serta infeksi
c. Anjurkan orang tua untuk mencegah anak untuk tidak mengambil posisi
mengangkang, saat mengendarai sepeda atau menunggang kuda
R: posisi mengangkang dapat menyebabkan kateter terlepas dan
merusak area operasi
d. Apabila dibutuhkan, ajarkan orang tua tentang tujuan dan penggunaan
obat antibiotik serta obat-obatan, untuk spasme kandung kemih
(meperidin hidroklorida [Demerol], asetaminofen[Tylenol]); jelaskan
juga perincian tentang pemberian, dosis dan efek samping
R: obat analgesic dapat mengendalikan rasa nyeri. Spasme kandung
kemih dapat terjadi akibat iritasi kandung kemih. Dengan mengetahui
efek samping mendorong orang tua mencari pertolongan medis ketika
membutuhkan.












DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Husein dkk. 2002. Buku Ajar Nefrologi Anak. Jakarta: Penerbit Behrman
Richard E. 2010.Esensi Pediatri. Jakarta:EGC
Brough, Helen. 2007. Rujukan Cepat Pediatri Dan Kesehatan Anak. Jakarta: EGC
Lissauer,Tom.2006. At a Glance Neonatologi. Jakarta: Penerbit Erlangga
Markum, A H.1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
Muslihatum, Wafi Nur .2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Penerbit Fitramaya
Short, J R. 2011. Sinopsis Pediatri. Tanggerang: Binarupa Aksara Publisher
Speer, Kathleen Morgan.2007. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta:
EGC