Anda di halaman 1dari 48

1

`HALAMAN PENGESAHAN REFERAT


Nama : REYJEN
NIM : 406117069
Fakultas : Kedokteran Umum
Universitas : Tarumanagara
Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Judul : Gonore
Periode Kepaniteraan : 30 September 2013 – 2 November 2013
Diajukan :

Telah diperiksa dan disahkan tanggal : - 10– 2013



Mengetahui dan Menyetujui

Ketua SMF Pembimbing
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin




dr.Reni Yuniati, Sp.KK dr.Endang Soekmawati, Sp.KK







2

KATA PENGANTAR

Salam Sejahtera,
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan karunia dan rahmat-Nya sehingga referat yang berjudul “Gonorea” dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Referat ini disusun untuk memenuhi tugas Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah Kudus periode 30 Oktober 2013 – 2 November
2013. Selain itu diharapkan dengan adanya referat ini dapat memberikan pengetahuan
tambahan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umunya.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas bantuan dan bimbingan yang telah diberikan dalam penyusunan referat ini, kepada :
- dr. Reni Yuniati selaku Kepala SMF Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin
- dr. Endang Soekmawati selaku pembimbing Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin
- Ibu perawat Poliklinik Kulit dan Kelamin
- Keluarga tercinta yang senantiasa mendoakan dan membimbing penulis
- Teman-teman coass yang telah membantu dan menyelesaikan tugas ini. Serta
semua pihak yang turut mendukung dan membantu hingga terselesaikannya
referat ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penyusunan
tulisan ilmiah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran, masukan, dan kritikan
yang membangun untuk penyempurnaan referat ini.






Kudus, Oktober 2013

Penulis
3


DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ...............................................................................................1
KATA PENGANTAR.........................................................................................................2
DAFTAR ISI ......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................4
BAB II GONORE..............................................................................................................6
Definisi...................................................................................................................6
Etiologi...................................................................................................................6
Epidemiologi.........................................................................................................11
Patofisiologi..........................................................................................................12
Patogenesis............................................................................................................13
Gejala Klinik.........................................................................................................14
Diagnosis...............................................................................................................21
Diagnosis Banding................................................................................................29
Penatalaksanaan.....................................................................................................30
Edukasi..................................................................................................................30
Komplikasi.............................................................................................................30
Prognosis................................................................................................................44
BAB III KESIMPULAN...................................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................46










4

BAB I
PENDAHULUAN

Melihat perkembangan penyakit seksual kelamin yang semakin meningkat,dari
tahun ketahun dan kurang disadari oleh masyarakat akan bahayanya membuat negara ini
semakin memperihatinkan dan butuh segera mendapatkan penanganan. Penyakit menular
seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan secara langsung dari seseorang ke orang
lain melalui kontak seks.
[1,4]

Penyakit menular seksual juga disebut penyakit venereal dan merupakan penyakit
yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Pengobatan penyakit ini efektif dan
penyembuhan cepat sekali. Namun, beberapa kuman yang lebih tua telah menjadi kebal
terhadap obat-obatan dan telah menyebar ke seluruh dunia karena banyaknya perjalanan
yang dilakukan orang-orang melalui transportasi udara.
[1,4]

Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan
meningkatkankeamanan kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan. Salah satu
penyakit menular seksual ini adalah penyakit gonore yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeaeyang menginfeksi selaput lendir saluran kencing, leher rahim,
dubur dan tenggorokanatau selaput lendir. Gonore adalah penyakit menular seksual yang
paling sering ditemukan dan palingmudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam
penyakit kelamin ini adalah “kencing nanah”.
[1,4]

Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan
kepadajanin pada saat proses kelahiran berlangsung. Walaupun semua golongan
rentanterinfeksi penyakit ini, tetapi insidens tertinggi terjadi pada usia 15-35 tahun.
Angka kejadian pada populasi wanita pada tahun 2000, insidens tertinggi terjadi pada
usia 15 -19tahun (715,6 per 100.000) sebaliknya pada laki-laki insidens rata-rata tertinggi
terjadipada usia 20-24 tahun (589,7 per 100.000).
[1,4]

Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidensi yang tinggi di
antarapenyakit menular seksual lainnya. Pada pengobatannya terjadi pula perubahan
karenasebagian disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang telah resisten terhadap
5

penisilindan disebut Penicillinase Producing Neisseria Gonorrhoeae (P.P.N.G). kuman
inimeningkat di banyak negara termasuk Indonesia.
[1,4]

Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-
genital, oro-genital dan ano-genital. Tetapi, di samping itu dapat juga terjadi secara
manual melalui alat-alat, pakaian, handuk, termometer, dan sebagainya. Oleh karena itu
secara garis besar di kenal gonore genital dan gonore ekstra genital. Mayoritas infeksi
uretra (uretritis) pada laki-laki disebabkan oleh infeksi Neisseria gonorrhoeae, yang
membutuhkan terapi pengobatan untuk mencegahterjadinya gejala sisa atau kecacatan,
namun kenyataannya terapi juga belumcukup untuk mencegah penularan penyakit ke
orang lain.
[1,4]

Pada wanita infeksi Neisseria gonorrohoeae tidak menimbulkan gejala sampai
timbul adanya komplikasi sepertiPenyakit Radang Panggul yang dapat mengakibatkan
terjadinya jaringan parut dan dapat terjadi infertilitas atau kehamilan ektopik.
[1,4]



















6

BAB II
GONORE
Manusia merupakan satu-satunya tuan rumah bagi gonokokus yang hanya bisa
bertahan hidup sebentar saja diluar tubuh manusia. Gonore (GO) adalah penyakit menular
seksual (PMS), yang disebabkan oleh kuman yang bernama Neisseria gonorrhoeae yang
menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum (usus bagian bawah), tenggorokan
maupun bagian putih mata (gonore konjungtiva). Gonore bisa menyebar melalui aliran
darah kebagian tubuh lainnya ,terutama kulit dan persendian, pada wanita, gonore bisa
naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput didalam panggul sehingga menimbulkan
nyeri panggul dan gangguan reproduksi.
[1,4]

2.1. Definisi
Gonore adalah suatu penyakit menular seksual yang bersifat akut dan disebabkan
oleh Neisseria gonorrhoeae suatu kuman gram negatif berbentuk seperti biji kopi dan
letaknya dapat intra maupun ekstraseluler.
[1,3,4]

Gonore merupakan penyakit kelamin yang pada permulaan keluar nanah dari
OUE ( Orifisium Uretra Eksternum ) sesudah melakukan hubungan kelamin.
[6]

2.2.Etiologi
Penyebab gonore adalah kuman gonokokus yang ditemukan oleh Neisser pada
tahun 1879 dan baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup
Neisseria dan dikenal ada 4 spesies yaitu :
[1]

1. Neisseria gonorrhoeae
2. Neisseria meningitides
3. Neisseria pharyngitis
4. Neisseria catarrhalis
Neiserria gonorrhoeaea dan Neisseria meningitidis bersifat patogen sedangkan
yang dua lainnya bersifat komensalisme. Neisseria merupakan cocus gram negatif yang
biasanya berpasangan. Ciri Neisseria adalah bakteri gram negatif, diplokokus non motil,
berdiameter mendekati 0,8 μm. Ketika organisme berpasangan sisi yang cekung akan
berdekatan. Bakteri ini adalah patogen pada manusia dan biasanya ditemukan bergabung
atau di dalam sel polimorfonuklear. Pada gonococci memiliki 70% DNA homolog, tidak
7

memiliki kapsul polisakarida, memiliki plasmid. Gonococci paling baik tumbuh pada
media yang mengandung substansi organik yang kompleks seperti darah yang
dipanaskan, hemin, protein hewan dan dalam ruang udara yang mengandung 5% CO2.
Gonococci hanya memfermentasi glukosa dan berbeda dari neisseriae lain. Gonococcus
biasanya menghasilkan koloni yang lebih kecil dibandingkan neisseria lain.
[1]

Neisseria gonorrhoeae adalah kokus gram negatif, diameter 0,6 sampai 1,5 μm,
biasanya terlihat berpasangan dengan sisi datar yang berdekatan. Organisme ini sering
kali ditemukan intraseluler dalam leukosit polimorfonuklear ( neutrofil ) dari bahan
eksudat pustular. Fimbriae, yang memainkan peranan yang penting pada proses
perlekatan, memanjang beberapa mikrometer dari permukaan sel.
[1]

Neisseria gonorrhoeae merupakan organisme yang relatif fragil, rentan terhadap
perubahan suhu, kering, sinar ultra violet dan kondisi lingkungan lainnya. Media yang
berisi hemoglobin, NAD, ekstrak jamur dan suplemen lainnya diperlukan untuk isolasi
dan pertumbuhan organisme ini.
[1]

Morfologi
Penyebabnya adalah kuman Neisseria gonorrhoeae . Neiserria gonorrhoeae
merupakan kuman kokus gram negatif, berukuran 0,6sampai 1,5 μm, berbentuk
diplokokus seperti biji kopi dengan sisi yang datar berhadap-hadapan. Kuman ini tidak
motildan tidak membentuk spora. Neisseriagonorrhoeae dapat dibiakkan dalam media
Thayer Martin dengan suhu optimal 35- 37ºC, pH 6,5-7,5, dengan kadar CO
2
5%.Kellog
membedakan Neisseria gonorrhoeaeberdasarkan pertumbuhan koloninya padamedia
agar, yaitu :
[1,4]

 T1 bentuk koloninya kecil, cembung dan lebih terang
 T2 bentuk koloninya kecil, lebih gelap, tapi lebih terang
 T3 bentuk koloninya besar, datar dan lebih gelap
 T4 sama dengan T3 tetapi lebih terang
Koloni yang kecil karena mempunyai pilidiberi tanda p+, sedangkan koloni
besardiberi tanda p¯. Makin kecil Neisseria gonorrhoeaemakin tinggi virulensinya,
karena sel bakteriinimemilikipiliyangmemudahkanperlekatannyadengan dinding sel
selaput lendir.
[1,4]

8


Gambar 2.1. Neiserria gonorrhoeae


Gambar 2.2. Neiserria gonorrhoeae

Mikrobiologi
Dengan mikroskop elektron, dinding Neisseria
gonorrhoeaeterlihatmempunyaikomponen-komponen permukaan yangdiduga berperan
pada patogenesisvirulensinya.Komponen permukaan tersebut mulai darilapisan dalam ke
luar dengan susunansebagai berikut :
[1,4]

9


Gambar 2.3.Neisseria gonorrhoeae dibawah mikroskop elektron
1. Membran sitoplasma
Membraninimenghasilkanbeberapa enzim seperti
suksinatdehidrogenase,laktatdehidrogenase,NADHdehidrogenase dan ATP
ase.
[1,4]

2. Lapisan peptidoglikan
Lapisan ini mengandung beberapajenis asam amino seperti pada kuman gram
negatif lainnya. Lapisanini mengandung“penicilline binding component”yang
merupakan sasaran antibiotikpenisilin dalam proses kematian kuman. Terjadi
hambatan sintesisdinding sel, sehingga kuman akanmati.
[1,4]

3. Membran luar ( dinding sel )
Membran ini terdiri atas beberapakomponen,yangterpentingadalah:
[1,4]

 Lapisan polisakarida
Lapisan ini memegang peranan dalam virulensi dan patogenesis kuman
Neisseria gonorrhoeae.
[1,4]

 Pili
Pili merupakan bagian dinding sel gonokokus yang menyerupai rambut,
berbentuk batang dan terdiri dari subunit protein sekitar 1.800 dalton. Pili
ini dihubungkan dengan patogenisitas kuman yang sangat berperan dalam
perlekatan ( adhesi ) pada sel mukosa dan penyebaran kuman dalam
inang.
[1,4]


10



 Protein
#Porin protein ( por )
Dengan teknik elektroforesis dapat ditemukan protein pada lapisan
dinding sel gonokokus dengan berat sekitar 34-36 kilo Dalton yang
dikenal dengan porin protein ( Por ). Fungsi dari Por ini adalah sebagai
penghubung anion spesifik ke dalam lapisan yang banyak mengandung
lemak pada membran luar.
[1,4]

# Opacity protein ( Opa )
Protein ini banyak ditemukan pada daerah perlekatan sel yang
mempunyai kemampuan menyesuaikan perubahan panas sel, membantu
perlekatan antar sel dalam koloni atau dengan sel epitel. Protein ini
berukuran antara 24-28 K Dalton.
[1,4]

# Reduction Modifiable Protein ( RMP )
Semua Neisseria patogen mempunyai protein RMP dengan berat
molekul 30-31 K Dalton. Protein ini memegang peranan penting karena
dapat memblokade antibodi yang ada dalam serum.
[1,4]

# H.8 protein
Peranan protein ini sampai sekarang belum diketahui
denganpasti.
[1,4]

 Lipo Oligosakarida (LOS)
SemuaglukosamengekspresikanLOSpada permukaan
selnya.Komponen ini berperandalam menginvasi
selepitel,dengancaramemproduksi endotoksinyangmenyebabkankematian
sel mukosa.
[1,4]

 Ig A1 protease
Komponen ini berperan dalaminaktifasipertahanan imun
mukosa.Hilangnya Ig A1
proteaseakanmenyebabkanhilangnyakemampuangonokokus untuk
tumbuhdalam sel epitel.
[1,4]

11



Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit
diantaranya :
[6]

 Bangsa / Ras
 Semua bangsa.
 Daerah
 Urbanisasi membuat penyakit ini lebih berkembang.
 Pengawasan
 Pengawasan orang tua / masyarakat terhadap anak muda yang
kurang, mempermudah untuk mendapatkan penyakit ini.
 Keturunan
 Dapat ditularkan pada bayi saat melewati jalan lahir.
 Pengobatan
 Pengobatan yang tidak memadai terhadap bahaya-bahaya penyakit
ini mempermudah/membuat penyakit lebih banyak timbul.
 Ekonomi
 Ekonomi yang kurang, mendukung kegiatan prostitusi dan
mempermudah mendapatkan penyakit ini.
2.3. Epidemiologi
Gonore dapat terjadi pada semua ras, usia dan tidak memandang strata sosial
tetapi sering didapatkan pada usia dewasa dan bayi yang baru lahir. Kejadian penyakit ini
meningkat dengan adanya kontak seksual dengan banyak mitra.Di dunia diperkirakan
terdapat 200 juta kasus baru gonore setiap tahunnya. Dimana pria 1,5 kali lebih banyak
daripada wanita.Di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 600.000 kasus baru gonore
setiap tahunnya, kira-kira 240 kasus per 100.000 populasi. Insiden gonore tertinggi terjadi
di negara-negara berkembang. Lebih banyak mengenai penduduk dengan sosial ekonomi
rendah.
[1,4]

Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan kepada
janin pada saat proses kelahiran berlangsung. Walaupun semua golongan rentan
terinfeksi penyakit ini, tetapi insidens tertingginya berkisar pada usia 15-35 tahun pada
12

populasi wanita pada tahun 2000, insidens tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6
per 100.000) sebaliknya pada laki-laki insidens rata-rata tertinggi terjadi pada usia 20-24
tahun (589,7 per 100.000).
[1,4]

Epidemiologi Neiserria gonorrhoeaeberbeda pada tiap – tiap negara berkembang.
Di swedia,insiden gonore dilaporkan sebanyak 487/100.000 orang yang menderita pada
tahun1970. Pada tahun 1987 dilaporkan sebanyak 31/100.000 orang yang menderita,
padatahun 1994 dilaporkan penderita gonore semakin berkurang yaitu hanya sekitar
31/100.000 orang yang menderita. Amerika Serikat, insiden dari kasus gonore mengalami
penurunan. Pada tahun1975 dilaporkan 473/100.000 orang yang menderita, dimana
dengan angka tersebutmenunjukkan bahwa kasus gonore di Amerika Serikat mengalami
penurunan sampaitahun 1984.
[1,4]
Angka gonorea di Amerika Serikat lebih tinggi dari pada di negara-negaraindustri
lainnya, dengan perkiraan 50 kali lebih banyak daripada Swedia dan 8 kalidari Kanada
(CDC, 2000). Setelah infeksi oleh Neisseria gonorrhoeae tidak timbulimunitas alami,
sehingga infeksi dapat berjangkit lebih dari satu kali.Angka gonore di Amerika Serikat
terus mengalami penurunan sejak pertengahan tahun 1970 sampai 1997, kemudian terjadi
peningkatan 9% antara tahun 1997 dan1999.
[1,4]

Tidak semua orang yang terpajan oleh gonore akan terjangkit penyakit ini, dan
resiko penularan dari laki-laki kepada perempuan lebih tinggi daripada
penularanperempuan kepada laki-laki terutama karena lebih luasnya selaput lendir yang
terpajandan eksudat yang berdiam lama di vagina.
[1,4]

2.4. Patofisiologi
Neisseria gonorrhoeae terbaik hidup pada udara yang mengandung 2-10% CO
2

dengan suhu 35C dan pH optimum 7,2-7,6. Neisseria gonorrhoeae dapat beradaptasi
dengan keadaan mukosa yang basah, membelah diri dengan cepat menghasilkan
keradangan yang eksudatif dan juga dapat masuk ke aliran darah.
[3]

Manusia adalah satu-satunya reservoar untuk Neiserria gonorrhoeae. Organisme
ini cepat berkembang biak, dan infeksi menyebar melalui kontak langsung dengan
mukosa yang terinfeksi, biasanya sewaktu berhubungan kelamin. Bakteri ini mula-mula
melekat ke epitel mukosa, terutama tipe kolumnar atau transisional, menggunakan
beragam molekul perekat di membran dan struktur yang di namai pili .Perlekatan ini
13

mencegah organisme terbilas oleh cairan tubuh, misalnya urine atau mukus endoserviks.
Karena adanya perlekatan dari bakteri ini mengakibatkan timbulnya respon dari host
dengan adanya invasi dari neutrofil, pengelupasan epitel, pembentukan mikroabses
submukosal dan discharge purulent.
[3]

2.5. Patogenesis
Gonokokus (Neiserria gonorrhoeae) dapat bertahan didalam uretra meskipun
proses hidrodinamik akan membilas organisme dari permukaan mukosa. Oleh karena itu
gonokokus harus dapat melekat dengan efektif pada permukaan mukosa. Perlekatan
gonokokus dengan perantaraan pili, dan mungkin permukaan epitel lainnya. Hanya
mukosa yang berlapis epitel silindris dan kubis yang peka terhadap infeksi gonokokus.
[1,4]

Gonokokus akan melakukan penetrasi permukaan mukosa dan berkembang biak
dalam jaringan subepitelial. Gonokokus akan menghasilkan berbagai produk ekstraseluler
seperti fosfolipase, peptidase yang dapat mengakibatkan kerusakan sel. Adanya infeksi
gonokokus akan menyebabkan mobilisasi leukosit PMN (Polymorpho nuclear),
menyebabkan terbentuknya mikro abses subepitelial yang pada akhirnya akan pecah dan
melepaskan PMN dan gonokokus.
[1,4]

Kuman ini mempunyai pili dan beberapa protein permukaan, sehingga dapat
melekatpada sel epitel kolumner dan menuju ruang subepitelial. Dengan adanya
lipooligosakaridaakan menimbulkan invasi dan destruksi sel epitel mukosa dan lapisan
submukosa secara progresif, disertai dengan respons dari leukosit polimorfonuklear yang
hebat. Peradangan dandestruksi sel epitel tersebut menimbulkan duh tubuh
mukopurulen.Neisseria gonorrhoeae merupakan gram negatif, intraselular,diplokokus
aerobikyang mempengaruhi epitel kuboid atau kolumner host. Berbagai macam faktor
yangmempengaruhi cara gonokokus memediasi virulensi dan patogenisitasnya.
[1,4]

Pili dapatmembantu pergerakan gonokokus ke permukaan mukosa. Membran
protein luar sepertiprotein opacity-associated (Opa) meningkatkan perlekatan antara
gonokokus (bentuk kolonipadat pada kultur media) dan juga meningkatkan perlekatan
dengan fagosit. Produksi yangdimediasi plasmid tipe TEM-1 beta laktamase
(penisilinase) juga berperan pada virulensinya.Gonokokus melekat pada sel mukosa host
(dengan bantuan pili dan protein Opa) dankemudian penetrasi seluruhnya dan di antara
sel dalam ruang subepitel.
[1,4]

14

Karakteristikrespon host oleh invasi dengan neutrofil, diikuti dengan
pengelupasan epitel, pembentukanmikroabses submukosal, dan discharge purulen.
Apabila tidak diobati, infiltrasi makrofag danlimfosit digantikan oleh neutrofil. Beberapa
strain menyebabkan infeksi asimptomatik.
[1,4]

Patogenesisnya melibatkan perlekatan bakteri pada sel epitel kolumner
melaluipili. Pili membantu perlekatan gonokokus ke permukaan mukosa dan membantu
bakteriterhindar dari fagositosis PMN ( Polimorpho nuclear ). Membran protein terluar
berupa protein. Membran proteinterluar berupa protein Opacity-associated (Opa)
meningkatkan kesatuan antar gonokokus(membentuk koloni opaque pada media kultur)
dan juga meningkatkan kesatuan untukmelekat. Bakteri mensekresikan IgA protease
untuk melindungi diri dari antibodi sel mukosayang memisahkan danmenonaktifkan IgA
yang terdapat pada sebagian besar selaput lendir manusia.
[1,4]

Protease, dapat membelah rantai dari imunoglobulin manusia dan memblok
sistem imun terhadap bakteri. RMP (Reduction Modifiable Protein) yang terdapat pada
permukaan sel bakteri berfungsi untukmelindungi antigen permukaan bakteri seperti POR
( Porin Protein ) atau LOS ( Lipo Oligosakarida ) dari antibodi host. Setelahgonokokus
melekat pada mukosa sel inang (dengan bantuan pili dan protein Opa),bakteri masuk ke
dalam sel host melaluiendositosis yang diperantarai oleh adhesin dansphingomyelinase
serta melakukan replikasi intraseluler. Kemudian bakteri melakukanpenetrasi terus-
menerus di antara sel-sel ke dalam ruang subepithelial. LOS dan komponendinding sel
bakteri seperti peptidoglikan menyebabkan produksi TNF α sehinggamengakibatkan
respon inflamasi yang memberikan simptom local invasi neutrofil, diikutioleh kerusakan
epitel, pembentukan mikroabses submukosa dan discharge purulen.
[1,4]

2.6. Gejala Klinik
Penularan terjadi melalui kontak seksual dengan penderita gonore. Masa tunas
penyakit berkisar antara 2-5 hari . Sesudah lewat masa tunas penderita mengeluh nyeri
dan panas pada waktu kencing. Kemudian keluar nanah yang berwarna putih susu dari
uretra dan muara uretra membengkak. Pada wanita dapat timbul fluor albus.
[1,2,3,4,5,6]



Pada laki-laki
15

Infeksi Neiserria gonorrhoeae pada laki-laki bersifat akut yang didahului rasa
panas dibagian uretra anterior, diikuti rasa nyeri pada penis, keluhan berkemih seperti
disuria dan polakisuria. Terdapat duh tubuh yang bersifat mukopurulen ( pus kental
kuning kehijauan ). Kadang-kadang juga terdapat ektropion. Pada beberapa keadaan duh
tubuh baru keluar bila dilakukan pemijatan atau pengurutan korpus penis kearah distal,
tetapi pada keadaan penyakit yang lebih berat nanah tersebut menetes sendiri keluar. Jika
gejala tidak diobati dengan tepat lebih dari 2 minggu maka infeksi dapat menjalar ke
uretra posterior.
[1,2,3,4,5,6]

Sekali kontak dengan wanita yang terinfeksi, 25% akan terkena uretritis gonore
dan 85% berupa uretritis yang akut. Sebanyak 10% pada laki-laki dapat memberikan
gejala yang sangat ringan atau tanpa gejala klinis sama sekali pada saat diagnosis, tetapi
hal ini sebenarnya merupakan stadium presimptomatik dari gonore, oleh karena waktu
inkubasi pada laki-laki bisa lebih panjang . Bila keadaan ini tidak segera diobati, maka
dalam beberapa hari sampai beberapa minggu maka sering menimbulkan komplikasi
lokal berupa epididimitis, seminal vesiculitis dan prostatitis, yang didahului oleh gejala
klinis yang lebih berat yaitu sakit waktu kencing, frekuensi kencing meningkat, dan
keluarnya tetes darah pada akhir kencing.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.4. Gonore pada laki-laki
16


Gambar 2.5. Tanda-tanda gonore pada laki-laki
17


Gambar 2.6. Epididimitis Gonore
Pada wanita
Pada wanita gejala uretritis ringan atau bahkan tidak ada, karena uretra pada
wanita selain pendek, juga kontak pertama pada cervix sehingga gejala yang menonjol
berupa servisitis dengan keluhan berupa keputihan. Karena gejala keputihan biasanya
ringan, seringkali disamarkan dengan penyebab keputihan fisiologis lain, sehingga tidak
merangsang penderita untuk berobat. Dengan demikian wanita seringkali menjadi carrier
dan akan menjadi sumberpenularanyangtersembunyi.
[1,2,3,4,5,6]

Masa tunas pada wanita sulit ditentukan karena biasanya asimptomatis. Gejala
utama meliputi duh tubuh vagina yang berasal dari endoservisitis dimana bersifat
purulen, tipis dan agak berbau. Beberapa pasien dengan servisitis gonore kadang
mempunyai gejala yang minimal. Disuria atau keluar sedikit duh tubuh dari uretra yang
mungkin disebabkan oleh uretritis yang menyertai servisitis. Dispareunia dan nyeri perut
18

bagian bawah. Jika servisitis gonore tidak diketahui atau asimptomatis maka dapat
berkembang menjadi PID. Nyeri ini bisa merupakan akibat dari menjalarnya infeksi
keendometrium, tuba fallopi, ovarium dan peritoneum. Nyeri bisa bilateral, unilateral dan
tepat pada garis tengah. Dapat disertai panas badan, mual dan muntah. Nyeri perut bagian
kanan atas dari perihepatitis ( Fitz-Hugh-Curtis syndrome) bisa terjadi melalui
penyebaran bakteri keatas lewat peritoneum.
[1,2,3,4,5,6]

Pada kasus-kasus yang simtomatis dengan keluhan keputihan harus dibedakan
dengan penyebab keputihan yang lain seperti trichomoniasis, vaginosis, candidiasis
maupun uretritis non gonore yang lain. Pada wanita, infeksi primer tejadi di endocerviks
dan menyebar kearah uretra dan vagina, meningkatkan sekresi cairan yang mukopurulen.
Ini dapat berkembang ke tuba uterine, menyebabkan salpingitis, fibrosis dan obliterasi
tuba. Ketidak suburan ( infertilitas ) terjadi pada 20%
wanitadengansalpingitiskarenagonococci.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.7. Gonore pada wanita

19


Gambar 2.8. Gonore pada pria dan wanita
Pada bayi
Ophtalmia neonatorum yangdisebabkan oleh gonococci, yaitu suatu infeksi mata
pada bayi yang baru lahir yang didapat selama bayi berada dalam
saluranlahiryangterinfeksi.Conjungtivitis inisial dengan cepat dapat terjadi dan bila tidak
diobati dapat menimbulkan kebutaan. Untuk mencegah ophtalmia neonatorum ini,
pemberian tetracycline atau erythromycin ke dalam kantung konjungtiva dari bayi yang
baru lahir banyak dilakukan.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.9. Gonoblenore
20

Ekstra Genital
Gonore tidak hanya mengenai genitalia saja tetapi dapat pula terjadi diluar genitalia
diantaranya adalah :
[1,2,3,4,5,6]

 Orofaringitis
Terdapat pada fellatio dan cunillingus gejalanya seperti faringitis
biasa.
[1,2,3,4,5,6]

 Prokitis Gonore
Pada laki-laki dapat terjadi karena homoseksual, pecahnya prostatitis dan
cowperitis yang pecah ke rektum, sedangkan pada wanita dikarenakan komplikasi
gonore perkontinuitatum gejalanya adalah nyeri pada perineum, nyeri pada waktu
defekasi dan kadang-kadang keluar darah.
[1,2,3,4,5,6]

 Gonoblenore
Timbul pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita gonore karena
penularan langsung sewaktu proses persalinan. Juga pada orang-orang dengan
perilaku yang jelek sehingga ia menularkan kematanya sendiri dari gonore
genitalnya.
[1,2,3,4,5,6]

 Komplikasi sistemik
Komplikasi sistemik dapat berupa meningitis , endokarditis, arthritis,
tenosynovitis dan dermatitis.
[1,2,3,4,5,6]

21


Gambar 2.10. Gonore Ekstra genital
2.7. Diagnosis
 Anamnesa
[3]

 Adanya coitus suspectus
 Fellatio
 Cunilingus
 Pemeriksaan Fisik
 Pria
[3,4,6]

 Sakit waktu kencing
 Orifisium uretra yang edema dan eritematosus
 Sekret uretra yang purulen
 Ektropion keluar ecoulement


22

 Wanita
[3,4,6]

 Saluran Urogenital Bawah
 Sekret mukopurulen atau purulen dari serviks
 Sekret atau perdarahan dari vagina
[3,4,6]

 Saluran Urogenital Atas
 PID (Pelvic Inflammatory Disease)
 Nyeri abdomen bagian bawah dengan atau tanpa
penyebaran rasa nyeri
 Nyeri pada waktu serviks digerakkan
 Nyeri tekan adneksa
 Panas badan
 Nyeri tekan abdomen bagian kanan atas
[3,4,6]

 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Cara pengambilan spesimen
 Spesimen pada penderita servisitis gonore diambil dari endoserviks,
digunakan pada pemeriksaan Gram dan kultur.
 Pengambilan duh tubuh endoserviks dilakukan denganmemakai alat
spekulum yang telah dibasahi air, kemudian dimasukkan kedalam vagina.
 Swab (lidi kapas) steril dimasukkan kedalam kanalis servikalis sedalam 2-
3 cm,kemudian swab diputar selama 10 detik dan diangkat.
[1,3,4]

1. Sediaan Langsung ( Pengecatan Gram )
 Pengecatan gram adalah test yang cepat dan tidak mahal.
 Sediaan diwarnai dengan pewarnaan gram untuk melihat adanya kuman
Diplokokus gram negatif, berbentuk biji kopi yang terletak intra dan
ekstraseluler.
 Bahan pemeriksaan diambil dari pus diuretra yang keluar spontan ataupun
melalui pemijatan, sedimen urin, secret dari massase prostat ( pada pria ),
muara uretra , muara kelenjar bartolin, serviks, rectum ( pada wanita ) dan
sekret mata ( pada bayi )
23

 Pada wanita dengan hasil kultur serviks yang positif, hasil pengecatan
gram dari endoserviks mempunyai sensitivitas 50-60% dan spesifisitas 82-
97%. Adanya lebih dari 30 sel PMN ( Polymorphonuclear) per high-
power field dari hapusan endoserviks mencerminkan adanya servisitis.
 Sensitifitas dan spesifisitas pengecatan gram lebih rendah pada spesimen
endoservikal dan rektal.
[1,3,4]


Gambar 2.11. Pengecatan gram
2. Kultur
 Pemeriksaan kultur pada gonore mempunyai sensitivitas sekitar 80- 90%.
Terdapat beberapa macam media untuk isolasi Neiserria gonorrhoeae
yaitu media transport dan mediapertumbuhan. Media transport digunakan
jika letak pengambilan spesimen jauh darilaboratorium. Spesimen dalam
media transport yang disimpan dalam lemari es dapat tahan selama 24
jam.
[1,3,4]

Contoh media transport :
 Media Stuart
 Hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam kembali pada
mediapertumbuhan.
[1,3,4]

24


Gambar 2.12. Media Stuart
 Media Transgrow
 Media ini selektif dan nutritif untuk Neiserria gonorrhoeae dan
Neiserria meningitidis, dalamperjalanan dapat bertahan hingga 96
jam dan merupakan gabungan mediatransport dan media
pertumbuhan, sehingga tidak perlu ditanam pada
mediapertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media
Thayer Martin dengan menambahkan trimetoprim untuk
mematikan Proteus spp.
[1,3,4]


Gambar 2.13. Media Transgow
25

Contoh media pertumbuhan :
 Mc Leod’s chocolate agar
 Berisi agar coklat, agar serum dan agar hidrokel. Selain kuman
gonokokus,kuman-kuman yang lain dapat tumbuh.
[1,3,4]


Gambar 2.14. Media Mc Leod’s chocolate agar
 Media Thayer Martin
 Media ini selektif untuk mengisolasi gonokokus. Mengandung
vankomisin untukmenekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolestimetat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram,
dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.
[1,3,4]


Gambar 2.15. Media Thayer Martin
26

 Akan tampak koloni berwarna putih keabuan , mengkilap dan
cembung. Pembiakan dengan media kultur ini sangat perlu
terutama pada kasus-kasus yang bersifat asimptomatis.
[1,3,4]


Gambar 2.16. Hasil kultur pada Media Thayer Martin
 Thayer Martin Agar adalah media selektif dan diperkaya untuk
isolasi dan budidaya Neisseria sp.dari flora
campuran.Hemoglobin, Bio-X dan dextrose adalah agen nutrisi
untuk memungkinkan pertumbuhan lebat mikroorganisme
pemilih.Antibiotik menghambat pertumbuhan flora normal
seperti jamur, bakteri gram positif dan gram negatif.Campuran
vankomisin dan lincomycin mencegah penghambatan
Neisseria gonorrhoeae oleh konsentrasi tinggi dari
vankomisin.Laktat trimetoprim menahan kumpulan
Proteus.
[1,3,4]

 Modified Thayer Martin Agar
 Isinya ditambah dengan trimetoprim untuk mencegah pertumbuhan
kuman Proteus spp.
[1,3,4]

Keberhasilan kultur gonokokus tergantung 3 faktor:
 Cara yang digunakan untuk mengambil spesimen dan cara inokulasinya.
 Pemilihan media yang mampu menumbuhkan gonokokus dari inokulasi yang
kecil.
27

 Pemberian antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan kuman
komensaltanpa menghambat pertumbuhan gonokokus.
[1,3,4]

3.. Tes definitif
 Tes Oksidasi
 Tes oksidasi untuk membuktikan bahwa koloni yang tumbuh
adalah koloniNeisseria.Pada koloni diteteskan larutan tetrametil p-
fenilendiamin dihidroklorida1%.Apabila tes oksidasi positif warna
koloni berubah menjadi merah muda sampai ungu.
 Ada juga yang menggunakan potongan kertas yang mengandung
reagen /indikator naftol dan dimetilparafenilen-diamin
(NaDi),dioleskan pada potongan kertas tersebut, dalam waktu 20-
60 detik kertas terlihatberwarna biru sampai biru tua. Dengan
adanya oksigen dan sitokrom oksidase, NaDisebagai bahan organik
akan direduksi menjadi molekul kondensasi berwarna
biruindofenol. Tes ini juga positif pada beberapa mikroorganisme
lain, misalnya Vibriospp.,Brucella spp., dan Pseudomonas
spp.koloni kuman tersangka.
[1,3,4]

 Tes fermentasi
 Digunakan untuk membedakan Neisseria gonorhoeae dengan
spesies Neisseria yang lain.Media yang digunakan adalah cystine
trypticase yang mengandung glukosa,maltosa, sukrosa dan laktosa,
serta fenol merah sebagai indikator. Hasilnya positifbila wama
berubah menjadi kuning. Hasil reaksi fermentasi spesies Neisseria
tampakpada tabel dibawah.
[1,3,4]








28

``Tabel 2.1.Reaksi fermentasi Neisseria
Spesies Glukosa Maltosa Sukrosa Laktosa
N. gonorrhoeae + - - -
N. meningitides + + - -
N. catarrhalis - - - -
N.pharyngitidis + + + +
 Tes beta-laktamase
 Pemeriksaan beta laktamase dengan menggunakan cefinase TM disc.
BBL 961192yang mengandung chromogenic cephalosporin akan
menyebabkan perubahanwarna dari kuning menjadi merah apabila
kuman mengandung enzim beta- laktamase.
[1,3,4]

 Tes Thomson ( Percobaan dua Gelas )
Gunanya adalah untuk mengetahui apakah infeksi sudah sampai pada uretra
bagian posterior atau masih dibagian anterior saja. Caranya adalah :
 Gelas 1 diisi urine sebanyak 80 cc dan gelas ke 2 sisa urinenya
 Bila gelas 1 keruh dan gelas 2 jernih artinya infeksi pada uretra anterior
 Bila gelas 1 keruh dan gelas 2 keruh artinya infeksi sudah sampai uretra
posterior.
 Percobaan ini dilakukan pada pagi hari pada saat kandung kencing masih
penuh.
[1,3,4]

 Enzyme Immunoassay
Merupakan cara untuk mendeteksi antigen gonokokus dari sekret genital, namun
sensitivitasnya masih lebih rendah dari metode kultur.
[1,3,4]

 Polimerase Chain Reaction ( PCR )
Identifikasi gonokokus dengan PCR saat ini telah banyak digunakan dibeberapa
negara maju, dengan sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi, bahkan dapat
digunakan dari sampel urine.
[1,3,4]



29

2.8. Diagnosis Banding
a. Uretritis non-gonore akut
Dapat disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum,
atau yang lain.; Mycoplasma genitaslium, Trichomonas vaginalis, jamur,
Herpes simplex virus. Diagnosis pasti uretritis gonore harus dengan
ditemukannya kuman Neiserria gonorrhoeaea sebagai penyebabnya. Secara
klinis antara uretritis gonore dan uretritis non-gonore sangat sulit dibedakan
karena sama-sama memberikan gejala duh tubuh uretra, disuria, atau gatal
pada uretra, kadang-kadang terdapat hematuria.
[4]

Beberapa penulis menyebutkan bahwa pada uretritis gonore duh tubuh
uretra lebih profuse dan biasanya purulen sedangkan pada uretritis non-gonore
duh tubuh uretra lebih mukoid dan mungkin hanya keluar pada pagi hari atau
didapatkan pada celana dalam berupa noda atau krusta pada meatus. Inkubasi
pada uretritis gonore juga lebih pendek antara 2-5 hari setelah terpapar
sedangkan pada uretritis non gonore berkembang antara 1-5 minggu setelah
terpapar dengan puncak antara 2-3 minggu.
[4]

Pada uretritis yang disebabkan oleh Herpes simplex virus disuria biasanya
lebih hebat dan duh tubuh uretra keluar seiring dengan memberatnya disuria,
nyeri pada uretra, luka pada uretra dan pembesaran kelenjar getah bening serta
gejala konstitusional terutama pada uretritis herpes primer.
[4]

b. Artritis bakteri non gonore
Untuk menentukan artritis gonore maka harus disingkirkan juga kemungkinan
artritis bakteri non-gonore. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut :
[4]

Tabel 2.2 beberapa parameter berbeda artritis gonore dan artritis non gonore
Karateristik Artritis Gonore Artritis non Gonore
Usia Dewasa muda, sehat Anak-anak, orangtua,
imunocompromised
Tenosynovitis + -
Polyarthritis Polyarthritis Monoarthritis
Lesi Kulit + pada 2/3 kasus +
30

Lokasi Sering pada pergelangan tangan
dan sendi kecil
Umumnya pada sendi besar
Kultur Cairan Sinovial - +
Kultur Darah Jarang + + pada 50% pasien
Respon Antibiotika Cepat Lambat
Drainase Cairan Synovial Tidak perlu Penting

2.9. Penatalaksanaan
Pengobatan yang benar meliputi : pemilihan obat yang tepat serta dosis yang
adekuat untuk menghindari resistensi kuman. Melakukan tindak lanjut secara teratur
sampai penyakitnya dinyatakan sembuh. Sebelum penyakitnya benar-benar sembuh
dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Pasangan seksual harus diperiksa
dan diobati agar tidak terjadi “ fenomena pingpong “.
[1,3,4,5,6]

Obat-obat yang digunakan sebagai terapi gonore tergantung beberapa
faktor :
 Pola resistensi menurut area geografi maupun sub populasi
 Obat-obatan yang tersedia
 Efektivitas yang dikaitkan dengan harga obat
 Bila kemungkinan ada concomitant
[1,3,4,5,6]

Terapi gonore tanpa komplikasi :
 Cefixime 400 mg per oral dosis tunggal
 Ceftriaxone 250 mg im dosis tunggal
 Ciprofloxacine 500 mg per oral dosis tunggal
 Ofloxacin 400 mg per oral dosis tunggal
 Spectinomycin, 2 g im injeksi, dosis tunggal
 Bila diduga ada infeksi campuran dengan Chlamydia dapat ditambahkan :
o Erytromycine 500 mg sehari 4 kali peroral selama 7 hari
o Doxycycline 100 mg/ sehari 2 kali peroral selama 7 hari
[1,3,4,5,6]

Untuk Ciprofloxacin CDC menganjurkan untuk tidak diberikan pada area
geografitertentu karena sudah resisten sepertiInggris, Wales, Kanada sedangkan
31

Asia,Kepulauan Pasifik, California dilaporkanmasih peka dan sensitif. Ciprofloxacin
kontraindikasi untuk ibu hamil dan tidak dianjurkan untuk anak-anak.
[1,3,4,5,6]

Terapi gonore dengan komplikasi:
 Meningitis dan Endocarditis
o Ceftriaxone 1-2 g IV setiap 12 jam untuk meningitis dilanjutkan 10-14
hari dan untuk endocarditis diteruskan paling sedikit 4 minggu.
[1,3,4,5,6]

 Arthritis , tenosynovitis dan dermatitis
o Ciprofloxacin : 500 mg IV setiap 12 jam
o Ofloxacin : 400 mg IV setiap 12 jam
o Ceftriaxone : 1 g im/iv tiap 24 jam
o Cefotaxime 1 g IV setiap 8 jam
[1,3,4,5,6]

 Komplikasi ( lokal)
o Ciprofloxacin : 500 mg oral selama 5 hari
o Ceftriaxone 125 mg im selama 5 hari
o Cefixime 400 mg oral selama 5 hari
o Spectinomycin 2 g im selama 5 hari
[1,3,4,5,6]

 Regimen terapi untuk disseminated gonococcal :
o Ceftriaxone : 1 g im/iv satu kali sehari selama 7 hari
o Spectinomycin 2 g im dua kali sehari selama 7 hari
[1,3,4,5,6]

Terapi Gonore pada bayi dan anak
 Sepsis, arthritis , meningitis atau abses kulit kepala pada bayi
o Ceftriaxone 25-50 mg/kg/hari im/iv 1 kali sehari selama 7 hari
o Cefotaxime 25 mg/kg iv/im setiap 12 jam selama 7 hari
o Bila terbukti meningitis lama pengobatan menjadi 10-14 hari
[1,3,4,5,6]

 Vulvovagiitis, cervicitis, uretritis , faringitis atau prokitis pada anak
o Ceftriaxone 125 mg im single dose untuk anak dengan BB > 45 kg obat
dan dosis obat sama seperti pada orang dewasa.
[1,3,4,5,6]

 Bakteriemi atau arthritis pada anak
o Ceftriaxone 50 mg/kg ( max 1 g untuk BB < 45 kg dan 2 g untuk BB > 45
kg ) im/iv 1 kali sehari selama 7 hari atau 10-14 hari untuk BB > 45 kg
[1,3,4,5,6]

32

Terapi gonore pada wanita hamil
 Ceftriaxone 250 mg dosis tunggal
 Amoxicilline 3g + probenesid 1 g
 Cefixime 400 mg dosis tunggal
[1,3,4,5,6]

2.10. Edukasi
 Penjelasan pada pasien denganbaik dan benar sangat berpengaruh
padakeberhasilan pengobatan dan pencegahankarena gonore dapat menular
kembali dandapat terjadi komplikasi apabila tidakdiobati secara tuntas.
 Tidak ada cara pencegahan terbaikkecuali menghindari kontak seksualdengan
pasangan yang beresiko.
 Penggunaan kondom masih dianggap yangterbaik.
 Pendidikan moral, agama dan seksperlu diperhatikan
[1,4]

2.11. Komplikasi
Pada Laki-Laki
 Tysonitis
o Kelenjar Tyson terletak dikiri-kanan frenulum penis yang fungsinya
memproduksi smegma. Pada organ ini jarang timbul keradangan kecuali
bila preputium kebersihannya kurang.
o Bila terjadi keradangan dan menimbulkan sumbatan pada saluran
kelenjarnya, maka akan terjadi abses kecil pada salah satu sisi disebelah
frenulum dengan gejala bengkak, merah dan agak nyeri.
[1,2,3,4,5,6]

33


Gambar 2.17. Tysonitis
 Parauretritis
o Untuk menegakkan diagnosa parauretritis perlu pengamatan cermat
dengan cara menekan kelenjar yang terletak pada tepi lubang kencing
(orificium uretra eksternum) akan terlihat keluarnya nanah dari saluran
kelenjar.
[1,2,3,4,5,6]

34


Gambar 2.18. Parauretritis
 Litritis
o Merupakan radang pada kelenjar Littre disinus Morgani.
o Manifestasi klinis berupa abses kecil pada dinding uretra. Biasanya tidak
memberi keluhan. Pada tes 2 gelas pertama terlihat lendir seperti benang
melayang-layang pada urine.
[1,2,3,4,5,6]

 Postitis
o Merupakan radang yang ditemukan di preputium.
[1,2,3,4,5,6]

35


Gambar 2.19. Postitis
 Prostatitis
o Merupakan radang pada kelenjar prostat.
o Prostatitis pada keadaan akut memberikan keluhan panas badan, sakit pada
daerah perineum dan rasa tak enak diatas kemaluan ( suprapubik ). Bila
terjadi abses, keluhan menjadi lebih hebat disertai rasa sakit waktu buang
air besar. Abses ini dapat pecah ke dalam uretra atau rektum dan
menimbulkan prostatitis. Nanah yang menyebar kesegala arah akan
menimbulkan abses yang dapat memecah pada permukaan kulit,
diperineum atau dilain tempat.
o Pada keadaan kronis gejala seperti pada akut namun lebih ringan.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.20. Prostatitis
36

 Cowperitis
o Merupakan radang pada kelenjar Cowperi sehingga menimbulkan fistula
perianal dan rektal.
o Kelenjar Cowper ini terletak pada perineum. Abses pada kelenjar ini
menimbulkan rasa nyeri, panas dan rasa penuh pada perineum, serta rasa
nyeri waktu buang air besar diikuti frekuensi kencing yang meningkat.
Abses selalu unilateral dan memecah ke perineum.
[1,2,3,4,5,6]

 Balanitis
o Terjadi radang pada gland penis.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.21. Balanitis
 Seminal Vesikulitis
o Biasanya disertai dengan posterior uretritis dan prostatitis. Gejala
klinisnya merupakan campuran dari gejala uretritis posterior dan
prostatitis akut. Gejala lain yang sering menyertai berupa sering ereksi,
ejakulasi dan semen mengandung darah.
[1,2,3,4,5,6]

37


Gambar 2.22. Seminal Vesikulitis
 Funikulitis dan Epididimitis
o Infeksi dari uretra posterior yang menjalar melalui funikulus spermatikus
ke epididimis dapat menyebabkan funikulitis dan epididimitis. Pada
perabaan epididimis menyebar, nyeri tekan dan kulit diatasnya tampak
kemerahan. Funikulus spermatikus juga membesar dan nyeri tekan,
keadaan ini bisa diikuti terjadinya hidrokel dari tunika vaginalis dan sering
disangka sebagai pembesaran testis. Epididimitis ini biasanya unilateral
tetapi bila terjadi secara bilateral maka dapat menyebabkan
kemandulan.
[1,2,3,4,5,6]

38


Gambar 2.23. Funikulitis

Gambar 2.24. Epididimitis Gonore



39

 Cystitis
o Cystitis adalah keradangan pada kandung seni yang disebabkan oleh
infeksi pada daerah trigonum. Gejalanya berupa nyeri kencing, frekuensi
kencing meningkat dan keluarnya tetes darah pada akhir kencing
(Terminal hematuri ).
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.25. Cystitis
 Proktitis
o Proktitis merupakan infeksi pada rektum yang sering ditemukan pada
penderita homoseksual. Infeksi pada rektum berhubungan dengan
inokulasi langsung/ direct pada saat berhubungan badan melalui anus
(anogenital sex ). Gejalanya berupa rasa gatal atau terbakar yang minimal
pada anus, tenesmus, dan nyeri saat buang air besar, kadang kotorannya
bercampur darah, nanah dan lendir.
o Pada pemeriksaan dengan proktoskopi terdapat dinding rektum merah,
bengkak dan permukaannya tertutup nanah atau lendir.
o Penyulit lain oleh karena penyebaran lewat aliran darah atau gonococcal
septisemi ( bakterimia ). Gejala dapat berupa artritis, miokarditis,
endokarditis, perikarditis, meningitis dan Disseminated Gonococcal
Infection ( acute arthritis – dermatitis syndrome ).
[1,2,3,4,5,6]


40


Gambar 2.26. Proktitis
 DGI ( Disseminated Gonococcal Infection )
o Gejala yang sering muncul berupa sindrom artritis – dermatitis akut yang
merupakan komplikasi sistemik paling sering pada gonore akut. DGI
merupakan akibat dari bakterimia gonococcal. Gejala yang sering timbul
antara lain adalah artritis, tenosynovitis, dermatitis atau kombinasinya.
o Penderita DGI dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan hasil kultur, yaitu :
proven, probable dan possible.
 Proven : jika manifestasi klinis dan hasil kultur darah, cairan
sendi, lesi kulit positif terdapat kuman Neisseria gonorrhoeae.
 Probable : jika kultur dari lesi atau darah negatif tetapi dengan
manifestasi klinis yang sesuai.
 Possible : jika penderita dengan manifestasi klinis yang
mencurigakan kearah DIG tetapi hasil kulturnya negatif.
o Lesi kulit dari dermatitis gonococcal berupa pustule, nekrosis, hangat,
nyeri diatas kulit yang eritematus. Pada beberapa pasien lesi kulit
termasuk tampak makula, papula, pustule, petekie, bula atau ekimosis dan
biasanya berlokasi pada bagian distal dari ekstremitas dan jumlahnya
kurang dari 30.
[1,2,3,4,5,6]

41



Gambar 2.27. Disseminated Gonococcal Infection

Gambar 2.28. Disseminated Gonococcal Infection
 Artritis Gonococcal
o Beberapa pasien dengan dermatitis gonococcal menderita atralgia atau
tenosynovitis pada permulaan penyakit dan efusi artritis pada beberapa
saat kemudian. Kurang lebih 30-40% pasien DGI juga menderita artritis .
Semua sendi dapat terkena tetapi kebanyakan menyerang sendi
pergelangan tangan, metacarpophalangeal, pergelangan kaki dan lutut.
Kultur cairan synovial positif pada pasien dengan jumlah leukosit pada
cairan synovial > 40.000/mm
3
.
[1,2,3,4,5,6]

42


Gambar 2.29. Artritis Gonococcal

Gambar 2.30. Artritis Gonococcal

43


Gambar 2.31. Artritis Gonococcal
Pada wanita
 PID ( Pelvic Inflammatory Disease )
o Salpingitis akut atau penyakit radang panggul ( PID ) adalah komplikasi
gonore yang tersering pada wanita. Kejadiaannya diperkirakan 10-20%
dari infeksi gonore akut. Wanita dengan PID gonore sering tampak akut
dibandingkan dengan wanita dengan PID non gonore. PID merupakan
komplikasi yang paling umum dari semua komplikasi yag disebabkan
gonore hal ini disebabkan manifestasinya yang akut dan kecacatannya
pada jangka waktu yang lama ( infertilitas, kehamilan ektopik, dan nyeri
panggul yang kronis ).
o Dapat simptomatik maupunasimptomatik. Dapat mengenai endometrium,
salping, ovarium dan peritoneum dengan gejala nyeri perut bagian bawah,
nyeri pada menstruasi dan nyeri pada waktu koitus. Gejala ini biasanya
ringan dan kurang diperhatikan.
[1,2,3,4,5,6]

44


Gambar 2.32. Pelvic Inflammatory Disease
 Bartholinitis
o Bartholinitis adalah suatu proses infeksi yang terjadi pada kelenjar
Bartolin. Peradangan pada kelenjar ini biasanya disebabkan oleh
Gonococcus atau bakteri lainnya. Gejala yang dapat ditemukan adalah
sangat nyeri, akibatnya sukar berjalan, pembengkakan labium mayus
dengan tanda radang aktif lainnya dan pada muara kelenjar tampak nanah
yang purulen, bila berlanjut dapat terjadi abses yang bila pecah dapat
terjadi ulkus., ostium berwarna merah seperti gigitan kutu yang disebut
dengan sanger point, nyeri unilateral dan lebih panas dari daerah
sekitarnya.
[1,2,3,4,5,6]

45


Gambar 2.33. Bartholinitis


Gambar 2.34. Bartholinitis
 Uretritis
o Gejala utama berupa disuria.
o Pada pemeriksaan ditemukan uretra yang merah dan edematous serta bila
ditekan dapat keluar pus.
[1,2,3,4,5,6]

46


Gambar 2.35. Uretritis
 Servisitis
o Sering didapatkan tanpa keluhan kadang ada fluor albus. Pada inspekulo
ditemukan serviks yang merah, erosif, pus mukopurulen.
[1,2,3,4,5,6]


Gambar 2.36. Servisitis
2.12. Prognosis
 Sebagian besar infeksi gonore memberikan respon yang cepat terhadap
pengobatan dengan antibiotik.
 Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap.
[4]





47

BAB III
KESIMPULAN
` Gonore merupakan penyakit hubungan seksual yang disebabkan oleh kuman
Neiserria gonorrhoeae yang menyerang uretra pada laki-laki dan endoserviks pada
wanita, paling sering ditemukan dan mempunyai insiden yang cukup tinggi. WHO
memperkirakan bahwa tidak kurang dari 25 juta kasus baru ditemukan setiap tahun di
seluruh dunia. Di Amerika Serikat diperkirakan dijumpai 600.000 kasus baru setiap
tahunnya. Neiserria gonorrheae merupakan kuman kokus gram negatif, berukuran 0,6-
1,5 μm, berbentuk diplokokus seperti biji kopi dengan sisi yang datar berhadap-
hadapan.
[1,4]

Kuman ini tidak motil dan tidak membentuk spora. Masa tunas gonore sangat
singkat, pada waktu masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya bersifat
asimtomatis. Umumnya penyulit akan timbul jika uretritis tidak cepat diobati atau
mendapat pengobatan yang kurang adekuat. Di samping adanya penyulit ,gonore pada
umumnya bersifat lokal sehingga penjalarannya sangat erat dengan susunan anatomi dan
faal alat kelamin.
[1,4]

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Diagnosis pada laki-laki jauh lebih mudah daripada wanita, baik secara klinis
maupun laboratorium, karena pada wanita seringkali asimptomatis. Pada dasarnya
pengobatan baru diberikan setelah diagnosis ditegakkan. Antibiotik canggih dan mahal
tanpa didasari diagnosis, dosis dan cara pemakaian yang tepat tidak akan menjamin
kesembuhan dan bahkan dapat memberi dampak berbahaya dalam penggunaannya,
misalnya resistensi kuman penyebab.
[1,4]

Pengobatan yang benar meliputi : pemilihan obat yang tepat serta dosis yang
adekuat untuk menghindari resistensi kuman. Melakukan tindak lanjut secara teratur
sampai penyakitnya dinyatakan sembuh. Sebelum penyakitnya benar-benar sembuh
dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual. Pasangan seksual harus diperiksa
dan diobati agar tidak terjadi fenomena ping pong.
[1,4]



48

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, A. 2007. Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi lima. Bagian Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI: Jakarta.
2. Wolf, K. 2008. Fitzpatrick’s in General Medicine Seventh Edition. Mc Graw Hill:
New York.
3. Listawan Yulianto, Indropo Agusni, Sunarko Martodiharjo. 2005. Pedoman
Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kulit dan Penyakit Kelamin Edisi III.
Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.
4. Murtiastutik,Dwi.2008. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual.Surabaya. Airlangga
University Press.
5. Murtiastutik,Dwi, dkk. 2011. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi II.
Surabaya. Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair
6. Siregar, Prof.Dr.R.S.Sp.KK. 2005. Saripati Penyakit Kulit. Edisi II. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran.