Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA

MODUL H-08
GESEKAN DALAM PIPA

KELOMPOK XI
Adrian Satriaji

1206225196

Ayu Madinah

1206263023

Reza Riil A
Johanes Willian C
Gilang Tri

PJ Praktikum

:

Asisten Praktikum

:

Tanggal Praktikum

:

Tanggal Disetujui

:

Nilai

:

Paraf Asisten

:

Indri Mahadiraka

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2013

GESEKAN DALAM PIPA

1. TUJUAN

Menyelidiki perubahan tekanan akibat adanya gesekan dalam pipa bundar dengan

kecepatan aliran rata-rata.
Menunjukkan adanya aliran laminer dan aliran turbulen.

2. DASAR TEORI
SIFAT-SIFAT ALIRAN BERDASARKAN BILANGAN REYNOLDS
Bila sebuah pipa mengalirkan air dan dituangkan tinta, maka ada tiga
kemungkinan bentuk tinta tersebut, yaitu:
JEJAK TINTA

BILA
BILA ALIRAN
ALIRAN
LAMBAT
CEPAT

Fenomena di atas diselidiki oleh Osborne Reynolds (1842-1912) dengan alat
sebagai berikut (yang dikenal sebagai Reynolds Apparatus):
Dari percobaan dengan alat tersebut maka
didapat bahwa aliran dipengaruhi oleh:

Reynolds
Apparatus

ρ  Massa jenis
V  kecepatan rata - rata
D  diameter
μ  viskositas dinamik fluida

aliran turbulen Bilangan Reynolds merupakan salah satu bilangan tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida. yang dapat dilihat dari rumus . aliran laminer . aliran transisi antara laminer dan turbulen . Bilangan ini digunakan untuk mengidentifikasi jenis aliran yang berbeda seperti aliran laminer dan aliran turbulen dengan ketentuan sebagai berikut.Nilai dikenal sebagai Bilangan Reynolds.    .Bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia terhadap gaya viskositas yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut: .

energi potensial. Kehilangan energi ini dapat digambarkan dalam Grade Line berikut.” Sehubungan dengan aliran dalam pipa pada dua penampang. dan energi tekanan.TINGGI TEKANAN DALAM ALIRAN PIPA Air yang mengalir di dalam pipa mempunyai beberapa macam energi yaitu energi kinetik. EGL: Energy Grade Line HGL: Hydraulic Grade Line KEHILANGAN ENERGI Sehingga persamaan Bernoully dapat dituliskan: . terdapat energi yang hilang ketika air mengalir dalam pipa. persamaan Bernoully tersebut dapatditulis sebagai berikut: dengan Dalam kenyataannya. Hubungan ketiga tekanan tersebut dapat dinyatakan dalam hukum Bernoulli “jumlah tinggi kecepatan. tinggi tekanan. dan tinggi tempat pada setiap titik dari suatu aliran zat cair ideal selalu mempunyai harga yang konstan.

bila aliran turbulen. KEHILANGAN TINGGI TEKANAN AKIBAT RERUGI BESAR (MAJOR LOSS) Kehilangan tinggi tekanan akibat gesekan dalam pipa tergantung dari:      tidak tergantung pada tekanan aliran air. tikungan pipa. dan katup pipa. berbanding terbalik dengan diameter pipa (D).Dari gambar di atas tampak kehilangan energi tekanan sama dengan kehilangan karena kecepatan sepanjang pipa konstan. KEHILANGAN TINGGI TEKANAN Kehilangan tinggi tekanan dapat dibagi menjadi dua. Major loss diakibatkan oleh gesekan yang terjadi di dalam pipa sedangkan minor loss diakibatkan oleh kontraksi tiba-tiba atau perlahan. berbanding lurus dengan kecepatan aliran rata-rata (V). Kehilangan tinggi tekanan tersebut dapat dinyatakan dengan rumus Darcy- Weisbach: Menurut Hagen-Pouiseuille kehilangan tinggi tekanan untuk aliran laminer: dengan . tergantung dari kekasaran pipa. pelebaran tiba-tiba atau perlahan. berbanding lurus dengan panjang pipa (L). Dalam praktikum kali ini pembahasan dibatasi hanya pada kehilangan tinggi tekanan akibat rerugi besar (major loss) saja. yaitu kehilangan tinggi tekanan akibat rerugi besar (major loss) dan kehilangan tekanan akibat rerugi kecil (minor loss).

Kaki penyangga 11. Pipa pelimpas 4.Bila persamaan Hagen-Pouiseuille dan Darcy-Weisbach disatukan maka: 3. Katup keluar/masuk udara Alat Peraga Gesekan Dalam Pipa 13. Pipa aliran masuk 2. PROSEDUR PERCOBAAN a. Menutup kembali kedua katup. Pipa pengalir keluar tinggi 4. Pompa tangan 14. 5. ketika manometer air (6) sudah dalam keadaan setimbang. Katup pengalir aliran 10. Membuka katup pengatur aliran pada ujung pipa (9) ke meja hidrolika sehingga air dapat mengalir sampai seluruh udara dapat terdesak keluar. Pipa masuk tangki 3. Pengatur tekanan 9. 2. Menyambungkan ujung pipa (3) dengan suplai air dari meja hidrolika. Tangki 12. Manometer air raksa 7. 3. Manometer air 8. ALAT DAN B AHAN  Meja hidrolika  Stopwatch  Gelas ukur  Alat peraga gesekan dalam pipa  Pompa Keterangan gambar: 1. Pembacaan Manometer Air 1. Pengatur tekanan 5. Pipa uji (Ø = 3 mm) 6. . 4. Menghubungkan saluran alat uji dengan meja hidrolika. Mengukur panjang pipa uji (5) dan temperatur air.

10 15. melepaskan pipa masuk dari meja hidrolika (3). 10 untuk berbagai beda tekanan.06 3. 7. Membuka katup pengatur aliran pada ujung pipa (9) sedikit demi sedikit Mencatat beda tinggi manometer raksa.26 3. Melakukan langkah 1 s. DATA PENGAMATAN L-pipa = 500 mm = 0. Membuka katup pengatur aliran pada meja hidrolika.6.05 3. 10.d.003 m N O 1 2 3 4 5 6 7 8 WATER MANOMETER READING (mm) MERCURY MANOMETER READING (mm) Volume (mL) Time (s) 1 2 1 2 Water Mercur y Water Mercu ry 222 218 212 205 197 192 184 178 222 227 232 237 242 247 252 257 290 295 300 305 310 315 320 325 285 282 276 270 266 259 255 250 14 22 30 44 48 56 58 26 36 48 56 56 60 66 15. 8 untuk berbagai beda tekanan.99 . kemudian menyambungkannya dengan aliran masuk dari tangki.13 3.08 15. 3.5 m pipa = 3 mm = 0. 9.22 15. b.23 15.16 3. 5. sehingga air melimpas melalui pipa pelimpas (14). Mengukur debit aliran dengan menggunakan gelas ukur dan stopwatch. 2. menggunakan pompa (13). Mengukur debit aliran dengan menggunakan gelas ukur dan stopwatch.05 2.19 3. Mencatat beda tinggi manometer air raksa. 4. Pembacaan Manometer Air Raksa 1.13 15. 8.24 15. 6.d. Menutup kedua katup kembali. 8. Menghubungkan suplai air dari meja hidrolika ke tangki. Melakukan langkah 7 s. Membuka katup pada ujung pipa (9) sedikit demi sedikit. 7. Membuka katup pengatur aliran pada meja hidrolika. Mengatur tinggi termometer air (7) sehingga berada di tengah-tengah skala dengan 5.

3 67 0.0476 59 1030.67 x 10-6 0.000044 15.0 02 0. PERHITUNGAN AWAL 1.0 9 0.08 3.218 0.227 0.0312 78 1998.000007065 0.0311 76 1511.000014 3 0.000056 15.197 6 Waktu (s) V (m/s) F 0. Manometer Raksa Keterangan rumus yang digunakan: <<rata-rata>> Re 0 .252 0.000007065 0.450 0.18 x 10-6 0.02 4 0.130 0.06 3.545 0.77 26 15.0626 27 476.18 x 10-7 0.212 0.0295 74 1907. Manometer Air Keterangan rumus yang digunakan: No h1 (m) h2 (m) hf (m) Volume (m3) 1 0.000007065 0.068 0.000007065 0.045 0.520 0.055 0.178 0.85 x 10-6 0.032 0.000030 15.000022 0.0565 17 748.000007065 0.079 0.184 0.222 0 0 2 0.24 0.0319 41 1650.205 0.038 2.10 1.44 x 10-6 0.232 0.412 0.000058 15.98 x 10-6 0.13 2.000007065 0.22 1.000007065 0 0 9.7 78 Q (m3/s) A (m2) 0 15.16 63 0.23 3.247 0.009 0.242 0.281 0. PENGOLAHAN DATA A.204 0.237 5 0.257 0.222 0.5 62 0.000007065 0.9 x 10-6 0.000048 15.6.192 7 8 0.

57 x 10-5 0.140386 3.3 55 2.34230 6 1.76 0.16 8.000007065 0.000060 3.000007065 8 0.23650 .270 0.325 0.05 1.0123 22 11442.000056 3.96 x 10-5 0.0108 4 9278.55721 3.99 2. MANOMETER AIR V 0 V2 0 0.800 x 10-5 0.2 71 2.7 29 2.000007065 3 0.266 0.130 log V2 (x) 0 0 0 1.27 x 10-6 0.02 0.0169 0.772113 3 1.000007065 4 0.000007065 7 0.0154 64 5721.250 1.320 0.009 0.305 0. 54 Re 0 << rata-rata >> B.476 0.19 1.104 x 10-5 0. Regresi Linear Hubungan log hf – log V2 a.8 09 2.204 0.22 0. 6 3.290 0.0134 51 10195.000007065 5 0.05 1.884 0.623716 2.176 0.2 79 1.255 0.48 0.0145 32 9095.906442 2.310 0.000026 3.000036 3.039 Waktu (s) Q (m3/s) A (m2) V (m/s) F 0.2 x 10-5 0.0416 16 log hf hf 0.285 0.000007065 0 0 1.0153 82 4254.56 0.068 2 0.59 0.53 0.26 1.276 0.88606 - 0.12 0.755 x 10-5 0.282 0.78 0.380739 x2 (y) y2 0 Xy 0 0 3.000007065 6 0.295 0.13 2.000056 3.259 0.000048 3.000066 2.16 0. PERHITUNGAN KECEPATAN KRITIS 1.315 0.300 0.02 1.32 0.0113 58 8141.No h1 (m) h2 (m) hf (m) Volume (m3) 1 0.

068 0.3644 8 ∑2 46.055 0.6571 3 63.2970 25 0.265487 0.04482 -0.59307 6 ∑ 6.12494 1.527207 1.567993 3 1.2025 0.045 0.937353 14.88216 7.61979 1.38258 10.102587 4 1.412 0.567033 0.079 7 0.18709 0.1697 44 0.86822 5 0.0789 61 0.422 5 0.281 0.481046 1.8586 107.43633 6 97.2704 0.25181 0.322616 1.770205 6 1.520 0.215699 2.593217 1.00157 206.409175 0.693575 1.45593 1.032 0.814421 2 9.67425 7 -0.450 0.60529 2 0.277947 .840221 1.35655 0.545 0.119738 1.7 1.

MANOMETER RAKSA V V2 hf log V2 (x) log hf (y) x2 y2 Xy .b.

0542 4 0.53 6.9284 0.788903 4 0.052509 1.1504 0.338x – 0.7284 1.2431 4 0.3456 0.9875 6 0.244877 0.128916 0.176 1.002867 1.754487 33 0.149188 0.0937 0.988309 2 0.683501 13.89691 8 3.650025 0.0085 3 0.861273 577 0 0.32 1.692705 9 0.510 81 .4336 0.622369 0.56 2.679414 3 1.22 4.16 1.103937 1.98772 6.78 7.322393 05 0.119186 41 0.888089 6 0.386249 2 0.068 0 0 0.59 2.965012 36 21.806241 0.76 2.12 9.229147 99 0.053547 73 0.48 6.00007 1.788703 0.0 0 0.008600 172 4.014205 0.476 2.1246 1 0.479842 0.016619 0.4009 0.884 2.976755 3.7344 ∑ ∑ 2 Y = 0.1117 9 0.494850 02 0.56818 0 0 0.975592 37.02 3.6256 4 0.569251 0.443 0.

236973 -4.217580 53 1.179265 04 1.0565 17 0.678311 29 1.0319 41 0.76083 5 2.5061796 07 10.0 02 1650.338116 -5. MANOMETER AIR Re F 0 476.58623 3.2.3218550 74 9.77 26 748.0295 74 log Re x2 log f (y) (x) y2 Xy 0 0 0 0 0 2.4956514 91 10.078615 7 1.01598 .447783 -3.259865 3 1.22265 2.3 67 1907.0311 76 0.280371 19 1.557057 -3.0 9 0 0.747301 -3.5 62 1511.78854 3.0476 59 0.873998 14 1.81238 3.16 63 1030.0626 27 0.2032383 92 7.268577 -4.013074 12 1.10772 6 2.2478208 99 8.5290899 31 10.98285 3. Regresi Linear Hubungan log f – log Re a.173351 4 1.35282 4 2.

636972 89 6995.79648 ∑ 067 665.75405967 -36.1432 34 2.96686 15.190396 1304.5047610 25 -11.4584 ∑2 147 1.300764 56 25.7 78 0.1998.50578 10.0682329 122.0312 78 3.264306 -4.70748 b.1207348 248.89504 7 83. MANOMETER RAKSA Re F 0 0 log Re x2 log f (y) (x) 0 0 y2 0 Xy 0 0 .

377047 975 -7.06737 3 3.9446981 36 15.781850 839 7.7595 34 172.6987 528 2632.16837 8 3.67225 3 3.567781 4254.500724104 4.8376746 11 15.579015009 3.0123 22 .27502236 4.0154 64 0.0145 32 0.501559 449 7.11875 3.008412 79 1. 54 0.749013177 ∑ 27.058522 44 1.0113 58 0.29373 8 3.8712454 27 16.861109 922 7.286922 562 6.7 29 9095.645498 263 7.96387 34 11349.73254 441 51.9093187 96 16.795998706 3.5330 6 24.2 71 8141.8 09 9278.30855466 ∑2 744.74096 5 3.2 79 5721.3.3 55 10195.967488 49 1.29 3 611.0134 51 0.0108 4 0.0153 82 0.278555 395 6.8129871 93 13.47160 4 3.151573 04 106.910720 91 1.958819 65 1.803609638 3.605171663 3.29028 28 13.757492 52 1.8106781 59 14.9649707 18 15. 6 11442.628825 97 1.

95= 0.95 Re = 10-0.95 10-0.003 x vc : 8.2 .18 x 10-7 Vc = 3.3. Penentuan Kecepatan Kritis (dari hubungan log f – log Re pada manometer) X = -0.

69036 98 -1. PERHITUNGAN NILAI hf Regresi Linear Hubungan log V – log hfpada Manometer Air V hf 0 0 0.967654 29.436826 0.068 0.520 0.812657 0.290589 (x) 0 0.006505 0.C.014463 0.450 0.130 0.045 0.1674910 9 0.518652 0.1159 1.317 .3467874 9 0.09237 0.308 -3.476610 506 0.983694 5.227158 1.303924 722 0.204 0.079 log V x2 y2 0 0 2.2596373 1 0.6090 8 102.387307 ∑2 0.38510 28 1.785096 383 0.40721 -10.28399 67 1.120261 561 0.02 0.616376 1.545 0.1023729 1 0.3308 3.34678 75 1.004828 0.26360 35 1.0457574 9 0.021994 0.281 0.824101 0.984338 0.331564 0.09486 4 11.080654 101 0.88605 66 log hf (y) 0 xy 0 ∑ 0.55129 37 1.4948500 2 0.69897 0.055 0.009 0.02308 Vrata – rata air = 0.937598 0.069486 804 0.172918 0.148304 154 0.412 0.032 0.

6237 16 0.35654732 x2 y2 xy 5.8402 21 0.023x10-0.1197 38 0.22 0.1625 06 1.0372 97 .5468 0 0.005 0.5572 1 0.5042 7 0.88605664 8 0.035 2.45593195 6 0.317 0.2947 39 0 3.0387 Regresi Linear Hubungan log V – log hfpada Manometer raksa V 0 1.193124 598 1.0041 55 0.61978875 8 0.3128 2 0.30102999 6 0.403120 521 1.1215 7 2.53 0.402 Hf = 0.346352 974 1.013 0.064457 989 1.1199 6 2.56 hf 0.044 log V (x) log hf (y) 0 2.3172.024 2.16 1.Karena maka yang digunakan adalah 0.

494154 594 1.5670 33 0.317 2.3777 03 0.1971 76 1.4091 75 0.1168x10-2.8480 11 387.1555 92 1.12 5 0.98 Hf raksa 1.1831920 3 0.12493873 7 0.1004 89 5.5271 2 0.19 68 9.78 3.339707 154 251.444044 796 1.430168 1 0.85 0.394451 681 1.0623 148.2654 87 0.474229 566 Vrata – rata = 1.2441 89 1.18708664 3 0.142 = 0.4937 8 0.48 2.075 15.98 Karena maka yang digunakan adalah 1.056 0.25181197 3 0.9208 75 19.5558 9 12.4 2.065 0.0306 .677 32 -3.982.22 25 0.

Kesalahan Relatif a. AIR a. RAKSA .

Langkah-langkah pun sama dengan manometer air yaitu mengeluarkan udara. memastikan tekanan dalam kedua pipa dalam keadaan stabil dengan cara menutup katup aliran air sampai kedua permukaan air pada kedua tabung sejajar. menyamakan tekanan. Angka ±20 detik dipilih dalam pengukuran debit pada manometer air karena kecepatan aliran yang tidak terlalu besar. Pembacaan perbedaan ketinggian muka air dilakukan sebanyak delapan kali dengan debit yang berbeda-beda. . Kemudian katup aliran air dibuka dan menyebabkan ketinggian permukaan air tidak sama antara satu tabung dengan tabung lainnya. Gesekan dalam pipa ditunjukkan dengan perbedaan tekanan pada dua titik pada pipa yang berbeda ketinggian. Yang berbeda dari percobaan dengan manometer raksa adalah waktu yang digunakan untuk menghitung debit yaitu ±5 detik karena kecepatan aliran yang sangat deras jika dibandingkan dengan percobaan pada manometer air. Setelah itu dilakukan pengukuran detik dengan menampung air pada tabung ukur daalam interval waktu tertentu yang dihitung dengan stopwatch. membaca perbedaan ketinggian. membuka katup aliran.7. ANALISIS ANALISIS PERCOBAAN Percobaan kali ini bertujuan untuk menyelidiki perubahan tekanan akibat adanya gesekan dalam pipa bundar dengan kecepatan aliran rata-rata serta menunjukkan adanya aliran laminer dan turbulen. Adanya tekanan udara dapat memengaruhi pembacaan manometer. . Setelah itu.Percobaan pertama menggunakan manometer air dan percobaan kedua menggunakan manometer raksa. mengukur debit aliran. manometer terlebih dahulu dikeluarkan semua udara yang ada di dalamnya agar hasil pembacaan tekanan air lebih akurat. Perbedaan ketinggian tersebut dicatat dengan mencatat ketinggian muka air di tabung 1 dan ketinggian muka air di tabung 2. Percobaan dilanjutkan menggunakan manometer raksa. Sebelum dilakukan pembacaan tekanan pada manometer.

809 Turbulen 5 9278.355 Turbulen 7 10195.7 78 Laminer No Re Jenis Aliran 1 - - 2 4254.0 9 Laminer 8 1998.ANALISIS HASIL Hasil tabulasi data pada tabel 1 dan tabel 2 menunjukkan hubungan antara nilai bilangan Reynolds dan kecepatan aliran. Hubungan berbanding lurus ini juga berlaku antara bilangan Reynolds dan debit aliran. pada air Re diketahui kurang dari 2300 sedangkan pada manometer raksa lebih cocok digunakan untuk menyelidiki aliran turbulen karena mayoritas Re lebih dari 4000. Hal ini memang sesuai dengan rumus debit yang menyatakan hubungan berbanding lurus antara debit aliran (Q)dan kecepatan aliran (V).16 63 4 1030.6 Turbulen 8 11442.5 62 Laminer 5 1511.271 Turbulen 4 8141. RAKSA AIR No Re Jenis Aliran 1 - - 2 476.77 26 Laminer 3 748.0 02 Laminer 6 1650. .729 Turbulen 6 9095. bilangan Reynolds meningkat seiring dengan peningkatan debit aliran. Dari tabulasi data tersebut dapat ditentukan jenis aliran dari masing-masing manometer dengan menggunakan nilai Re dengan ketentuan yang telah dibahas di dasar teori. bilangan Reynolds meningkat seiring dengan peningkatan kecepatan aliran.279 Turbulen 3 5721.54 Turbulen Tabel di atas menunjukkan bahwa manometer air lebih cocok digunakan untuk menyelidiki aliran-aliran Laminer Laminer karena dari data yang didapatkan.3 67 Laminer 7 1907.

. 3) log V – log hf. kesalahan paralaks dalam pembacaan volume air pada gelas ukur. hubungan log Re – log f (grafik 3 dan 4) menunjukkan hubungan nilai log Re yang terus bertambah akan menurunkan nilai log f yang berarti terdapat perbandingan terbalik antara nilai Re dan f . bila kecepatan rata-rata lebih besar dari kecepatan kritis maka nilai hf dicari dengan menggunakan kecepatan kritis.2 m/s. Kecepatan kritis adalah kecepatan aliran pada saat terjadinya transisi/perubahan jenis aliran dari aliran laminer menuju aliran turbulen. gelas ukur yang diletakkan di tempat yang kurang datar sehingga memengaruhi pembacaan volume air. Kecepatan kritis didapatkan dengan menggunakan persamaan . praktikum kali ini berjalan dengan baik karena berhasil mendapatkan nilai kesalahan relatif yang tidak terlalu besar. Dengan menggunakan rumus . 2) log Re – log f. kesalahan  pembacaan skala manometer. log Re dan log f berperan sebagai aksis sehingga berujung pada ordinat. ANALISIS KESALAHAN Kesalahan relatif yang terjadi dalam perhitungan nilai hf pada manometer air dan manometer raksa kemungkinan disebabkan oleh:  ketidaktepatan penghitungan waktu dalam penghitungan debit aliran karena penekanan tombol stopwatch terlalu cepat atau terlalu lambat dengan penampungan  air dalam tabung ukur. Dari data yang didapat . Secara umum.Dari percobaan kali ini dapat dilihat hubungan antara: 1) log V2 – log hf. Pada hubungan berikutnya log V – log hf (grafik 5 dan 6) memberikan gambaran hasil perubahan tekanan akibat gesekan dalam pipa dan perbedaan nilai hf pada debit yang berbeda-beda. yakni 3.Pada hubungan ini dapat dicari kecepatan kritis aliran dengan menggunakan metode regresi linear sehingga didapat persamaan yairdan yraksa. dapat ditentukan nilai kecepatan kritis aliran. kesalahan pembacaan tekanan pada manometer.

2 m/s Pada manometer air aliran cenderung berupa aliran laminer menuju turbulen Pada manometer raksa aliran cenderung berupa aliran turbulen. Depok: Laboratorium Hidrolika. Hidrologi. Pedoman Praktikum Mekanika Fluida dan Hidrolika. Semakin besar nilai Re semakin kecil nilai f. 9. KESIMPULAN        Kehilangan energi. 10. “Aliran Fluida dalam Pipa. Kecepatan kritis aliran adalah 3.wordpress.files.com Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia.0387 dengan kesalahan 0. dan Sungai DTS FT UI. hf pada manometer raksa 0. hf pada manometer air 0.5 % Kehilangan energi.72 % Semakin tinggi kecepatan dan debit aliran semakin tinggi nilai bilangan Reynolds.” sipil2010. 2009. LAMPIRAN .0306 dengan kesalahan 22.8. REFERENSI Anonim.

dalam tabel aliran gaperlu masukin aliran 0 03/12/13 4.216 tapi di perhitungan hf raksa dimana Vr>Vc malah pake 1. V yg dipake selalu V lebih kecil. nama gw Indri Mahadiraka 2. HIDROLOGI. Masukin kecepatan rata2 ke tabel 3.LABORATORIUM HIDROLIKA.50 jadi yg bener yg mana.50 dari mana? ASISTEN MODUL (INDRI MAHADIRAKA) . ditulis Vc= 2. Tapi itu angka 1. DAN SUNGAI LEMBAR ASISTENSI PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA & HIDROLIKA KELOMPOK : 27 MODUL PRAKTIKUM : H08 – Gesekan Dalam Pipa ASISTEN PRAKTIKUM : Indri NO TANGGAL MASALAH PARAF 1.