Anda di halaman 1dari 19

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pestisida adalah bahan kimia untuk membunuh hama (insekta, jamur, dan
gulma) sehingga pestisida dikelompokkan menjadi, insektisida (pembunuh
insekta, fungisida (pembunuh jamur), herbisida (pembunuh tanaman
pengganggu). Pestisida telah secara luas digunakan untuk tujuan memberantas
hama dan penytakit tanaman dalam bidang pertanian (Ginting dkk, 2012)
Komunitas gulma dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan
kultur teknis. Spesies gulma yang tumbuh bergantung pada pengairan,
pemupukan, pengolahan tanah, dan cara pengendalian gulma. Gulma berinteraksi
dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor
tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air. Tingkat persaingan
bergantung pada curah hujan, varietas, kondisi tanah, kerapatan gulma, lamanya
tanaman, pertumbuhan gulma, serta umur tanaman saat gulma mulai bersaing
(Soerjandono,2005).
Herbisida merupakan suatu bahan atau senyawa kimia yang digunakan untuk
menghambat pertumbuhan atau mematikan tumbuhan. Herbisida ini dapat
mempengaruhi satu atau lebih proses-proses (seperti pada proses pembelahan sel,
perkembangan jaringan, pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme
nitrogen, aktivitas enzim dan sebagainya) yang sangat diperlukan tumbuhan untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pengertian tersebut mengandung arti
bahwa herbisida berasal dari metabolit, hasil ekstraksi, atau bagian dari suatu
organisme. Di samping itu herbisida bersifat racun terhadap gulma atau tumbuhan
penganggu juga terhadap tanaman. Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi
akan mematikan seluruh bagian yang dan jenis tumbuhan. Pada dosis yang lebih
2

rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan dan tidak merusak tumbuhan yang
lainnya (Riadi dkk, 2011).
Masalah gulma pada perkebunan tanaman tahunan (karet, kelapa sawit,
kelapa, teh, kopi, kina) berbeda dengan pertanaman semusim (tebu, jagung, tembakau
rosella) pada umumnya masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan
pertanaman yang luas, karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas,
tenaga kerja dan biaya (Tampubolon, 2009).
Herbisida khususnya yang diaplikasikan melalui tanah dapat berpengaruh
positif dan atau negatif terhadap mikrobia dekomposer Pengaruh negatif herbisida
terhadap bakteri pelarut fosfat diduga dapat langsung meracuni bakteri tersebut
dan secara tidak langsung melalui perusakan jaringan proses dekomposisi
sehingga aktivitas bakteri tersebut menjadi terhambat. Sedangkan pengaruh positif
herbisida terhadap mikrobia tanah khususnya bakteri pelarut fosfat adalah
herbisida dijadikan sumber C dan N sehingga keberadaannya di dalam tanah dapat
sebagai stimulan bagi aktivitas hidup bakteri (Ngawit, 2007).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara manual, mekanis dan
kimiawi. Penggunaan pestisida khususnya herbisida. baik di Indonesia maupun di
negara-negara lain, bertujuan untuk mengendalikan gulma pengganggu pada
tanaman budidaya, tetapi dapat pula menimbulkan efek samping, yaitu akan
menimbulkan keracunan pada binatang ataupun manusia (Sofnie dkk, 2000).
Mengingat kemajuan penemuan herbisida berbahan aktif baru sangat lambat,
maka segala upaya perlu dilakukan untuk menghindarkan atau memperlambat
muncunya gulma tahan terhadap herbisida pada umumnya. Salah satu upaya untuk
mengurangi tekanan terhadap munculnya gulma yang tahan adalah dengan
menggunakan jenis herbisida berlainan silih berganti atau mencampurkan dua atau
3

lebih jenis herbisida berbeda jenis. Praktek pencampuran herbisida berlain jenis
dalam tangki sebelum disemprotkan sudah banyak dilakukan, terutama untuk
meningkatkan keefektifan, memperlambat terjadinya proses timbulnya gulma
resisten, mengurangi residu herbisida, mengurangi volume herbisida dan biaya yang
diperlukan (Supriadi dkk, 2012)
Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan laporan adalah untuk mengetahui dan mempelajari
kegunaan dan penggolongan herbisida.
Kegunaan penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu
syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan
Tanaman Sub-Gulma Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang
membutuhkan.











4

TINJAUAN PUSTAKA
Herbisida
Herbisida adalah suatu bahan atau senyawa kimia yang digunakan untuk
menghambat pertumbuhan atau mematikan tumbuhan. Herbisida ini dapat
mempengaruhi satu atau lebih proses-proses (seperti pada proses pembelahan sel,
perkembangan jaringan, pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi,
metabolisme nitrogen, aktivitas enzim dan sebagainya) yang sangat diperlukan
tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pengertian tersebut
mengandung arti bahwa herbisida berasal dari metabolit, hasil ekstraksi, atau
bagian dari suatu organisme. Di samping itu herbisida bersifat racun terhadap
gulma atau tumbuhan penganggu juga terhadap tanaman. Herbisida yang
diaplikasikan dengan dosis tinggi akan mematikan seluruh bagian yang dan jenis
tumbuhan. Pada dosis yang lebih rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan
dan tidak merusak tumbuhan yang lainnya (Riadi dkk, 2011).
Herbisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh gulma.
Herbisida telah banyak digunakan dalam bidang pertanian. bersama dengan
penggunaan pupuk, varietas, insektisida dan lain-lain, hrbisida dapat
meningkatkan produk pertanian. Di daerah dimana tenaga kerja sangat terbatas,
penggunaan herbisida sangat dibutuhkan. Herbisida dapat diaplikasikan sebelum
tanam, sebelum tumbuh dan sesudah tumbuh (Nurafni, 2012).
Herbisida merupkan salah satu pestisida yang berfungsi mengendalikan
gulma. Untuk keperluan pengendaliannya, gulma dibedakan menjadi 3 golongan.
1) gulma berdaun lebar, seperti Boreria alata, Chromolaena odorata, Mikania sp.;
2) gulma berdaun sempit (golongan rumput), seperti Axonopus, Paspalum,
5

Panicum repens. 3) golongan teki, seperti Cyperus rotundus, Cyperus kilinga
(Surianti, 2012).
Klasifikasi Gulma
Klasifikasi berdasarkan habitat: Gulma fakultatif, tumbuh di habitat yang
belum ada campur tangan manusia. Gulma ini tumbuh pada lahan yang belum
dikelola untuk budidaya tanaman, seperti padang alang-alang. Gulma obligat,
tumbuh di habitat yang sudah ada campur tangan manusia. Gulma ini biasanya
tumbuh menyertai tanaman budidaya, seperti sawah, ladang dan perkebunan.
(Tjokrowardojo, 2009).
Klasifikasi berdasarkan daur hidupnya atau umur yaitu : Gulma semusim
(annual weed) Gulma ini berkembang biak secara generatif melalui biji, hanya
dapat hidup selama satu daur yang biasanya kurang dari satu tahun, contoh
Ageratum conyzoides (babandotan). Gulma tahunan (perenial weed). Gulma
tahunan berkembang biak secara generatif melalui biji, dan secara vegetatif elalui
rimpang, stolon dan setek batang Gulma ini hidup lebih dari satu tahun atau hidup
sepanjang tahun dan berbuah berulangkali. Untuk gulma yang membentuk
rimpang atau umbi dapat hidup sepanjang tahun, contoh Imperata cylindrica
(alang-alang) (Djauhari, 2009)
Klasifikasi berdasarkan kerugian yang ditimbulkan: Gulma lunak
(soft weed). Gulma lunak yaitu jenis gulma yang tidak begitu berbahaya bagi
tanaman yang dibudidayakan, namun dalam keadaan populasi tinggi harus
dikendalikan, contoh Ageratum conyzoides Gulma keras atau gulma berbahaya
(noxius weed). Gulma berbahaya adalah jenis gulma yang berpotensi allelopati,
6

contoh (Imperata cylindrica), Mikania micrantha (sembung rambat), Chromolaena
odorata (kirinyuh), Cyperus rotundus (teki berumbi) (Tjokrowardojo, 2009).
Klasifikasi berdasarkan kesamaan relatif dalam sifat bersaing dan
responnya terhadap herbisida: Gulma golongan rumput (grasses). Gulma
golongan rumput sebagian besar termasuk dalam famili Gramineae atau Poaceae,
dengan ciri-ciri umum adalah: Berbatang bulat memanjang, dengan ruas-ruas
batang berongga atau padat. Daun berbentuk pita, bertulang daun sejajar, lidah-
lidah daun berbulu, permukaan daun ada yang berbulu kasar atau halus. Buah
berbentuk butiran tersusun dalam bentuk malai. Berakar serabut, berstolon atau
membentuk rimpang, contoh I. cylindrica, Digitaria ciliaris, Eleusine indica
Gulma golongan berdaun lebar (broad leaved). Gulma golongan berdaun lebar
sebagian besar temasuk tumbuhan berkeping dua (Dicotyledoneae) dari berbagai
famili. Ciri-ciri umum: Batang tubuh tegak dengan percabangannya, ada pula
yang tumbuh merambat. Daun tunggal maupun majemuk, helaian daun bulat/bulat
telur Bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau
bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselang-seling. Bunga tunggal atau
majemuk tersusun dalam suatu karangan bunga. Contoh Borreria alata, Ageratum
conyzoides, Synedrella nodiflora (Djauhari, 2009)
Gulma golongan teki (sedges). Famili Cyperaceae mempunyai ciri-ciri
umum: Daun berbentuk pipih atau berlekuk segi tiga, memanjang yang tumbuh
langsung dari pangkal batang. Permukaan daun biasanya licin tidak berbulu atau
ada yang berbulu agak kasar, tangkai bunga berbentuk seperti lidi, muncul dari
tengah-tengah pangkal batang dan ujungnya tersusun karangan bunga. Perakaran
biasanya membentuk stolon dan bercabang dimana setiap cabang membentuk
7

umbi, contoh Cyperus rotundus dan Cyperus kyllingia. Gulma golongan pakis-
pakisan (fern) contoh Cyclosorus aridus (pakis kadal) (Tjokrowardojo, 2009)
Klasifikasi Herbisida
Klasifikasi berdasarkan tipe translokasi : Herbisida kontak. Herbisida ini
hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang
berhijau daun dan aktif berfotosintesis.Keistimewaannya, dapat membasmi gulma
secara cepat, 2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian
mati. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan.
Kelemahannya, gulma akan tumbuh kembali secara cepat sekitar 2 minggu kemudian.
Contoh herbisida kontak adalah paraquat. Herbisida Sistemik. Cara kerja herbisida ini
di alirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya
seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya. Keistimewaannya, dapat
mematikan tunas - tunas yang ada dalam tanah, sehingga menghambat pertumbuhan
gulma tersebut. Contoh herbisida sistemik adalah glifosat, sulfosat (Nurafni, 2012).
Klasifikasi herbisida berdasarkan jalur aplikasi: Herbisida yang
diaplikasikan ke tanah. Bekerja umumnya dengan cara menghambat
perkecambahan gulma atau membunuh biji-biji gulma yang masih berada dalam
tanah dan umumnya disemprotkan sebelum gulma tumbuh. Herbisida yang
diaplikasikan ke daun-daun gulma. Herbisida yang diaplikasikan langsung pada
daun-daun gulma yang tentunya sudah tumbuh. Herbisida yang digunakan
herbisida pasca-tumbuh (Sarianti, 2012).
Klasifikasi herbisida berdasarkan selektif: Faktor fisik yang
mempengaruhi selektivitas yaitu semua faktor yang dapat mempengaruhi kontak
antara herbisida yang diaplikasikan dengan permukaan gulma yang akan
dikendalikan serta retensi atau pengikatan herbisida tersebut pada permukaan.
8

Supaya efektif dalam mengendalikan gulma, maka herbisida yang diaplikasikan
harus tetap kontak atau melekat atau berada pada tumbuhan sasaran atau gulma
dan bertahan dalam waktu yang cukup lama serta dalam jumlah yang dapat
mematikan gulma tersebut. Selektivitas ini dipengaruhi oleh dosis, formulasi, dan
penempatan herbisida. Faktor biologi yang menentukan selektivitas herbisida
berkaitan dengan sifat morfologi, fisiologi, dan metabolisme tumbuhan.
Permukaan daun yang berlilin, halus, atau berambut lebat akan lebih sulit
terbasahi oleh herbisida yang diaplikasikan dengan pelarut air bila dibandingkan
dengan permukaan yang tidak berlilin atau bermbut. Posisi daun yang tegak juga
akan menampung lebih sedikit herbisida yang diaplikasikan dibandingkan daun
yang posisinya horisontal atau datar. Herbisida yang telah masuk dalam sel,
sebagian ada yang tidak mobil dan yang lainnya dapat ditranslokasikan ke sel-sel
lainnya (Riadi dkk, 2011).
Klasifikasi herbisida berdasarkan waktu aplikasi: Herbisida pra tumbuh (pre-
emergence herbicide). Herbisida ini diaplikasikan pada tanah sebelum gulma
tumbuh. Semua herbisida pra tumbuh, adalah soil acting herbicide atau herbisida
tanah dan bersifat sistemik (translocated herbicide). Herbisida pasca tumbuh (post-
emergence herbicide). Herbisida ini diaplikasikan saat gulma sudah tumbuh. Oleh
karena itu, semua herbisida pasca tumbuh adalah foliage applied herbicide. Herbisida
pasca tumbuh ada yang sistemik ada pula yang non-sistemik (Nurafni, 2012)
Klasifikasi herbisida berdasarkan senyawa kimia yang dikandungnya:
Alifatik. Senyawa besar herbisida organik memiliki cincin benzena pada rumus
bangunnya. Herbisida yang termasuk dalam golongan alifatik tidak memiliki
cincin tersebut atau berantai lurus. Amida. Amida digunakan untuk
mengendalikan kecambah gulma semusim, khusunya dari golongan rumputan.
9

Herbisida ini lebih aktif bila diaplikasikan pada permukaan tanah sebagai
herbisida pratumbuh. Bipiridilium. Herbisida yang termasuk dalam golongan ini
umumnya herbisida pasca tumbuh, tidak aktif apabila diaplikasikan lewat tanah
dan tidak selektif. Dinitroanilin. Butralin dan pendimentalin termasuk dalam
golongan herbisida dinitroanilin. Herbisida tersebut akan aktif bila diaplikasikan
ke tanah sebelum gulma tumbuh atau berkecambah. Pola kerja herbisida
dinitroalin adalah sebagai racun mitotik yang menghambat perkembangan akar
dan tajuk gulma yang baru berkecambah. Karbonat. Asam karbonat mudah terurai
menjadi NH3 dan CO2. Turunannya, IPC dan EPTC, stabil. Karbonat menekan
pembelahan sel. Karbonat dapat membunuh tumbuhan monocotyl (berkeping
satu) dan tidak berpengaruh pada yang berkeping dua. Seperti kebalikan dari pada
2, 4 D nampaknya. Triazine. Turunan triazine terdiri atas lingkaran heterosiklik
yang mempunyai tiga atom N (azoto) dan tiga atom C. Triazine berhasil
membunuh banyak jenis gulma, terutama ia efektif terhadap benih yang sedang
berkecambah (Riadi dkk, 2011)










10

PERMASALAHAN
Komunitas gulma dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan
kultur teknis. Spesies gulma yang tumbuh bergantung pada pengairan,
pemupukan, pengolahan tanah, dan cara pengendalian gulma. Gulma berinteraksi
dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor
tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air.
Gulma pada perkebunan tanaman tahunan (karet, kelapa sawit, kelapa,
teh, kopi, kina) berbeda dengan pertanaman semusim (tebu, jagung, tembakau
rosella) pada umumnya masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan
pertanaman yang luas, karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas,
tenaga kerja dan biaya.
Penggunaan pestisida khususnya herbisida. baik di Indonesia maupun di
negara-negara lain, bertujuan untuk mengendalikan gulma pengganggu pada
tanaman budidaya, tetapi dapat pula menimbulkan efek samping, yaitu akan
menimbulkan keracunan pada binatang ataupun manusia.
Penggunaan herbisida pada tumbuhan dapat mempengaruhi satu atau
lebih proses-proses (seperti pada proses pembelahan sel, perkembangan jaringan,
pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme nitrogen, aktivitas
enzim dan sebagainya) yang sangat diperlukan tumbuhan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.
Gulma yang dikendalikan dengan herbsida dapat mencapai tingkat
resistan atau tahan terhadap herbisida. Sehingga sulit untuk dikendalikan.
Terutama pada lahan yang luas akan sulit mengendalikan gulma yang resistan.
11

Para pengembang herbisida berusaha menemukan cara untuk mengendalikan
gulma yang tahan akan herbisida.
Pengaplikasian herbisida yang keliru karena tidak mengetahui jenis
gulma dan yang tidak sesuai waktu dapat menyebabkan gagalnya pengendalian
gulma. Gulma yang gagal dikendalikan akan tetap tumbuh dan melakukan
persaingan dengan tanaman utama. Ini menyebabkan kurang efektifnya
pengendalian dan habisnya biaya.
Banyak petani yang belum paham mengenai herbisida. Herbisida juga
memiliki jenis-jenis dan penggolongannya. Petani yang tidak mengetahui jenis
herbisida yang digunakan akan menyebabkan kesalahann dalam penggunaan
herbisida. Kesalahan dalam penggunaan herbisida banyak menimbulkan kerugian
berupa tanaman rusak, habis biaya dan waktu.
Dalam pengaplikasian herbisida pada gulma yang tidak memperhatikan
faktor selektif herbisida fisik akan menimbulkan ketidak efektifan dan gagalnya
aplikasi herbisida. Faktor selektif biologi akan menimbulkan rusaknya jaringan
dan sel yang ada pada tanaman utama yang tidak tahan terhadap pengaplikasian
herbisida.







12

PEMBAHASAN
Gulma berinteraksi dengan tanaman melalui persaingan untuk
mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara,
dan air. Untuk mengatasi hal ini maka gulma harus dikendalikan dengan berbagai
pengendalian seperti, pengendalian preventif, mnekanis, kimia dan sebagainya.
Hal ini sesuai literatur Sofnie dkk (2000) yang menyatakan bahwa Pengendalian
gulma dapat dilakukan dengan cara manual, mekanis dan kimiawi.
Masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan pertanaman yang
luas, karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas, tenaga kerja dan
biaya. Untuk mengatasi hal ini maka harus di gunakan pengendalian secara
kimiawi (herbisida) yang sesuai dengan gulma tahunan, biasanya gulma yang ada
pada lahan perkebunan sulit dikendalikan dengan cara pengendalian mekanis atau
lainnya. Hal ini sesuia literatur Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa Herbisida
adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh gulma. Herbisida telah
banyak digunakan dalam bidang pertanian.
Penggunaan pestisida khususnya herbisida dapat pula menimbulkan efek
samping, yaitu akan menimbulkan keracunan pada binatang ataupun manusia.
Untuk mengatasi hal ini penggunaan harus dibatasi dengan tepat dosis tepat
sasaran dan tepat waktu hal ini sesuai dengan literatur Riadi dkk (2011) yang
menyatakan bahwa Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan
mematikan seluruh bagian yang dan jenis tumbuhan. Pada dosis yang lebih
rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan dan tidak merusak tumbuhan yang
lainnya.
13

Penggunaan herbisida pada tumbuhan dapat mempengaruhi satu atau lebih
proses-proses (pembelahan sel, perkembangan jaringan, pembentukan klorofil,
fotosintesis, respirasi, metabolisme) yang diperlukan tumbuhan untuk
mempertahankan hidupnya. Untuk mengatasi hal ini dalam pengaplikasian
herbisida harus sesuai dengan sasaran gulma yang dikendalikan dengan jenis
herbisida yang digunakan agar metabolisme dan anabolisme tanaman tidak
terganggu. Hal ini sesuai dengan literatur dkk (2011) selektivitas herbisida
berkaitan dengan sifat morfologi, fisiologi, dan metabolisme tumbuhan. Herbisida
yang telah masuk dalam sel, sebagian ada yang tidak mobil dan yang lainnya
dapat ditranslokasikan ke sel-sel lainnya.
Gulma yang dikendalikan dengan herbsida dapat mencapai tingkat resistan
atau tahan terhadap herbisida, sehingga sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi
hal ini maka dikembangakan berbagai cara pengaplikasian herbisida dengan
mencampurkan bahan lain serta menggunakan bahan aktiv yang sesuai dengan
jenis gulma. Hal ini sesuai literatur Supriadi dkk (2012) yang menyatakan bahwa
Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan terhadap munculnya gulma yang
tahan adalah dengan menggunakan jenis herbisida berlainan silih berganti atau
mencampurkan dua atau lebih jenis herbisida berbeda jenis.
Pengaplikasian herbisida yang keliru dan yang tidak sesuai waktu dapat
menyebabkan gagalnya pengendalian gulma. Untuk mengatasi halini maka kita
harus mengetahui dan mengenal herbisida yang digolongkan berdasarkan waktu
aplikasi. Hal ini sesuai dengan literatur Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa
Klasifikasi herbisida berdasarkan waktu aplikasi: Herbisida pra tumbuh. Herbisida
14

ini diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh. Herbisida pasca tumbuh
Herbisida ini diaplikasikan saat gulma sudah tumbuh.
Petani yang tidak mengetahui jenis herbisida yang digunakan akan
menyebabkan kesalahann dalam penggunaan herbisida. Kesalahan dalam
penggunaan herbisida banyak menimbulkan kerugian. Untuk mengatasi hal ini
maka petani harus mengenal dan mengatahui golongan herbisida yang di gunakan
oleh petani seperti herbisida sistemik dan kontak. Hal ini sesuai dengan literatur
Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa Herbisida kontak. Herbisida ini hanya
mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang
berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida Sistemik. Cara kerja herbisida ini di alirkan ke dalam jaringan tanaman
gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas
sampai ke perakarannya. Contoh herbisida sistemik adalah glifosat, sulfosat.
pengaplikasian herbisida yang tidak memperhatikan faktor selektif
herbisida fisik akan menimbulkan ketidak efektifan dan gagalnya aplikasi
herbisida. Faktor biologi akan menimbulkan rusaknya jaringan dan sel yang ada
pada tanaman utama yang tidak tahan terhadap pengaplikasian herbisida. Untuk
mengatasai hal ini maka harus mengenal dan mengetahui faktor selektif dari
herbisida. Hal ini sesuai dengan literatur Riadi (2012) yang menyatakan
Klasifikasi herbisida berdasarkan selektif: Faktor fisik yang dapat mempengaruhi
kontak antara herbisida yang diaplikasikan dengan permukaan gulma. Supaya
efektif maka herbisida yang diaplikasikan harus tetap kontak atau melekat atau
berada pada tumbuhan sasaran Faktor biologi yang menentukan selektivitas
herbisida berkaitan dengan sifat morfologi, fisiologi, dan metabolisme tumbuhan.
15

KESIMPULAN








DAFTAR PUSTAKA
Deptan. 2002. Pemetaan lalat buah. Available at: http://www.deptan.go.id/
Diakses 1 April 2014).

Doles, J. L. 2001. Host plant selection and acceptance behavior of herbivorous
insects (phytophagus insects). Available on line at
:http;//www.colostate.edu/Depts/Entomolgy/courses/euso7/papers
2001/doles.htm (Diakses 1 April 2014).

Kalie, M. B. 2000. Mengatasi Buah Rontok, Busuk, dan Berulat Cet. 7. Penebar
Swadaya. Jakarta. Hlm. 79 -121.

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve.
Jakarta.

Kuswandi. 2001. Panduan lalat buah. Available on line at
http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/makalah/lalat_buah.html. (Diakses 1
April 2014).

Oka, I. N. 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya Di Indonesia.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Pracaya . 2007. Bertanam Mangga. Penebar Swadaya. Jakarta.

Putra, N.S. 2001. Hama Lalat Buah dan Pengendalian. Penerbit Kansius.
Yogyakarta.

16

Rull, J., J. Ronald, and Prokopy. 2004. Host finding and ovipositional boring
respones of apple manggot (Diptera : Teprithidae) to different apple
genotypes. Entomological Society of America.

Sarangga, A.P. 1997. Identifikasi lalat buah (Bactrocera spp) (Diptera :
Teprithidae) dan tanggap olfaktorinya terhadap aroma lima macam buah.
Prosiding Kongres Perhimpunan Entomologi Indonesia V dan Simposium
Entomologi. Bandung.

Sarwono. 2003. PHT lalat buah pada mangga. Buletin Teknologi dan Informasi
Pertanian. Litbang Pertanian, BPTP-Jatim.

Soeroto, A., W. Nadra, dan L. Chalid. 1995. Petunjuk Praktis Pengendalian Lalat
buah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Dan Holtikultura Direktorat
Bina Perlindungan Tanaman. Jakarta.

Sunjaya, P.I. 1970. Dasar-Dasar Ekologi Serangga. Ilmu Hama Tanaman
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Susanto, A. 2005. Hasil Tangkapan Harian Lalat Buah (Bactrocera dorsalis
Complex) pada Areal Kebun Mangga di Kelompok Tani Jatiasih, Tomo-
Sumedang. Bagian Penelitian untuk Disertasi di Sekolah Pascasarjana
ITB. Tidak dipublikasikan.


Untung, K. 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.





















17




















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
Latar Belakang ............................................................................... 1
Tujuan Penulisan .......................................................................... 2
Kegunaan Penulisan ..................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 3
Biologi Lalat Buah (Bactrocerra dorsalis Hend.) ....................... 3
Gejala Serangan ............................................................................ 6
Pengendalian ................................................................................. 7
PERMASALAHAN ..................................................................................... 8
PEMBAHASAN .......................................................................................... 10
KESIMPULAN ............................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 14




18



















ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan tepat pada
waktunya.
Adapun judul laporan ini adalah Hama Lalat Buah Bactrocera dorsalis
Hend. (Diptera : Tephritidae) Pada Tanaman Jeruk (Citrus sinensis L.) yang
merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium
Dasar Perlindungan Tanaman Sub-Hama Program Studi Agroekoteknologi,
Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Dasar Perlindungan Tanaman yakni Dr. Ir. Marheni, MP. dan kepada
abang dan kakak asisten yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
19

perbaikan penulisan kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih, semoga
laporan ini bermanfaat bagi kita semua.


Medan, April 2014



Penulis


i