Anda di halaman 1dari 38

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sejarah Faradik
Pada awal pertengahan abad 18 dengan penemuan sebuah battery.
Alat kemudian dihasilkan pada abad 17 oleh Von Guericke, kemudian
disimpulkan sebagai tenaga kejut. Setelah itu Benjamin Franklin
mengadakan percobaan dengan perencanaan, dan metode pengobatannya
dikenal sebagai Franklinism. Franklin sendiri menduga alat buatannya lebih
sakit dibandingkan penyembuhan. Masalah ini sama ketika Luigi Galvani
mengamati sebuah kaki kodok terpasang pada pengait logam sehingga terjadi
kejangan pada saat terjadi pengosongan battery yang didekatkan ke kaki
kodok.
Michael Faraday membuat ground pertama pada tahun 1831 dengan
menemukan induksi elektromagnetik. Kemudian listrik pada sebuah kawat
terjadi elektromagnetik akibat sebuah arus pada kawat lain, ini merupakan
prinsip dasar dari motor listrik. Arus faradik berasal dari hubungan arus AC
dengan arus galvanik. Pada tahun 1855 Guillaume DuChenne yang kemudian
menjadi terkenal sebagai ayah modern elektroterapi, ia mengatakan arus AC
lebih baik daripada arus DC untuk elektroterapi. Diambil sebuah bukti
bekerjanya elektroshock pada kontraksi otot yang menimbulkan rangsangan,
dan itu disimpulkan seperti kejut sebuah cara untuk tindakan atas sistem
syaraf. DuChenne mencatat pada arus AC, sebuah jenis arus yang ditemukan
oleh Michael Faraday termasuk aliran listrik yang dipengaruhi dari sebuah
konduktor melalui medan magnet (arus faradik), arus yang dapat digunakan
untuk tubuh pasien, dan terjadi kontraksi otot selama arus mengalir, tanpa
meninggalkan kerusakan pada kulit. Pada sisi lain DuChenne mencatat pada
arus DC, arus akan menjadi mati nyala. Lagi pula, arus galvanikakan
menyebabkan kulit melepuh dan berlubang. Karena arus AC lebih mudah
bekerja dan tidak mempunyai masalah dengan kulit pasien.
5

2.2 Gambaran Umum Alat Elektro Stimulator
Stimulasi otot Electrical, juga dikenal sebagai stimulasi listrik
neuromuscular atau electromyostimulation, adalah penimbulan kontraksi otot
menggunakan impuls listrik. EMS telah menerima perhatian meningkat
dalam beberapa tahun terakhir, karena memiliki potensi untuk melayani
sebagai alat latihan kekuatan untuk subyek sehat dan atlet, sebuah rehabilitasi
dan alat pencegahan untuk pasien sebagian atau seluruhnya bergerak, alat uji
untuk mengevaluasi saraf dan atau fungsi otot, alat pemulihan pasca-latihan
untuk atlet impuls yang dihasilkan oleh perangkat dan disampaikan melalui
elektroda pada kulit dalam kedekatan langsung ke otot untuk dirangsang.
Impuls meniru potensial aksi yang berasal dari sistem saraf pusat,
menyebabkan otot berkontraksi. Elektroda umumnya pembalut yang
mematuhi kulit. Penggunaan EMS telah dikutip oleh para ilmuwan olahraga
ternama sebagai teknik pelengkap untuk pelatihan olahraga dan riset yang
dipublikasikan tersedia pada hasil yang diperoleh.
Elektro Stimiulasi untuk Kesehatan
Elektrostimulasi adalah penggunaan energi listrik sebagai perawatan
medis. Dalam kedokteran, Elektrostimulasi panjang dapat berlaku untuk
berbagai perawatan, termasuk penggunaan alat listrik seperti stimulator otak
dalam untuk penyakit neurologis. Istilah juga telah diterapkan khusus untuk
penggunaan arus listrik untuk mempercepat penyembuhan luka. Selain itu,
istilah " Elektrostimulasi" juga telah diterapkan untuk berbagai perangkat
medis alternatif dan perawatan.
Elektrostimulasi digunakan untuk relaksasi kekejangan otot,
pencegahan dan perlambatan tidak digunakan terhentinya pertumbuhan,
peningkatan sirkulasi darah lokal, rehabilitasi otot dan stimulasi otot listrik
pendidikan ulang, mempertahankan dan meningkatkan jangkauan gerak,
manajemen rasa sakit kronis dan terselesaikan, pasca-trauma akut nyeri, nyeri
akut pasca bedah, stimulasi pasca bedah segera otot untuk mencegah
6

trombosis vena, penyembuhan luka dan pemberian obat. Beberapa
mekanisme efektivitas pengobatan sedikit yang dipahami, dengan efektivitas
dan praktik terbaik untuk mereka gunakan masih yang bersifat anekdot.
Elektrostimulasi bisa mempercepat penyembuhan luka tersebut,
meskipun tidak jelas perangkat yang paling efektif dan mana jenis luka yang
paling mungkin untuk mendapatkan keuntungan. Namun, reaksi yang lebih
detail oleh Cochrane Library menemukan bukti bahwa terapi
elektromagnetik, subset dari Elektrostimulasi, efektif dalam menyembuhkan
ulkus tekanan atau vena stasis borok.
Selama berabad-abad listrik telah digunakan untuk mengatasi berbagai
jenis rasa sakit, dan bahkan pelopor jenis treatment seperti ini sempat disebut
charlatans. Selain itu beberapa studi yang dilakukan memang
membuktikan bahwa listrik bisa mengurangi rasa sakit yang akut maupun
kronis. Implus elektrik juga dapat menyebabkan kontraksi otat, dan peristiwa
ini dapat dimanfaatkan sebagai latihan otot (bagi otot yang lemah) dan juga
pengolahan rasa sakit.
Terapi elektrik atau disebut juga elektroterapi merupakan metode
terapi suatu penyakit atau gangguan kesehatan dengan menggunakan sinyal
elektrik sebagai sarana pengobatan. Saat ini elektro terapi sedang berkembang
didalam dunia medis dengan berkembangnya metode Transcutaneous
Elektrical Nerve Stimulation (TENS), Microcurrent Stimulation, Galvanic
Stimulation iontophoresis, Electroacupunture, dan sebagainya.
Peningkatan permeabilitas sel terhadap ion Natrium akan diikuti
dengan peningkatan permeabilitas terhadap ion kalium. Energi dibutuhkan
untuk terjadinya proses ini didalam serat atot. Ketika stimulus lokal diberikan
ke dekat membran yang mengintari, perubahan terjadi pada konduktansi ionik
membran yang cenderung memulihkan potensial saat istirahat (resting
potential) bahkan jika stimulus tetep ada.
7

Dengan demikian potensial membran sel terbentuk kembali dan
tingkat rasa sakit berkurang secara nyata. Pada titik ini sel dapat memasuki
fase regenerasinya. Secara normal sel saraf beroperasi secara elektrik
menggunakan aliran ion bermuatan positif melalui air sebagaimana rangkaian
elektronik menggunakan aliran elektron yang bermuatan negatif melalui
konduktor logam. Ini berarti bahwa penerapan arus listrik diluar dapat
mempengaruhi neuron.
Regenerasi adalah serangkaian reaksi-reaksi endothermal dan
elektrokimia. Ini berarti bahwa sejumlah listrik kecil dibutuhkan oleh sel
untuk menyediakan energi sebagai catu daya proses regenerasi. Tubuh secara
normal mengandung energi yang lebih dari cukup untuk menghasilkan efek
yang diinginkan ini. Setelah tubuh menerima terapi bioelektrik terdapat input
elektronik kedalam berbagai titik yang mengatur fungsi sel dan sistem
neuromuskular tubuh. Pemakain glikogen jaringan otot meningkat dan
kandungan asam amino otak juga meningkat. Pada waktu tang sama aktivitas
beberapa enzim didalam jaringan menjadi lebih kuat. Perubahan ini
menunjukkan bahwa terapi dapat mendorong proses metabolisme jaringan
dalam pergerakannya membantu menyegarkan kekuatan resistansi tubuh
sehingga mendorong pemulihan jaringan yang rusak.
Salah satu studi preklinis telah menunjukkan bahwa penerapan
eksternal elektro stimulator arus mikro dapat:
1. Menyebabkan migrasi epitel dan fibroblast ke dalam daerah
yang merasa kurang sehat.
2. Meningkatkan konsentrasi ATP di dalam jaringan.
3. Meningkatkan sintesa protein dan DNA.
4. Mempercepat penyembuhan jaringan lunak atau borok
5. Mempercepat pemulihan jaringan saraf yang rusak.
6. Memperlancar peredaran darah.
8

Stimulator berasal dari kata stimulan yang artinya rangsangan, dan
tor yang artinya alat. Jadi stimulator adalah alat rangsangan. Pada peralatan
kedokteran stimulator adalah suatu alat yang memberikan arus listrik pada
saraf atau otot yang mengalami kerusakan atau kelaianan fungsi agar dapat
menjadi normal kembali.
Alat stimulator merupakan peralatan yang menggunakan listrik yang
berfrekuensi rendah untuk therapy (penyembuhan). Alat ini mempunyai
pengaruh terhadap fungsi-fungsi anggota tubuh yang terganggu karena dapat
melancarkan peredaran darah baik darah merah maupun darah putih.
Bila peredaran darah diseluruh tubuh normal dan lancar, maka semua
kotoran yang berupa asam urat dan karbondioksida dalam darah akan bisa
diangkut oleh darah ke tempat pembuangan, karena apabila peredaran darah
tidak normal maka kotoran yang tidak bisa terangkut oleh darah akan
mengendap berbentuk kristal,yang bisa menyumbat aliran darah, hal ini bisa
mengganggu kesehatan.
Efek efek fisiologis yang ditimbulkan adalah sebagai berikut
1. Stimulasi saraf sensoris
Apabila arus faradik dialirkan kedalam tubuh, timbul perasaan seperti
ditusuk tusuk halus. Ini disebabkan oleh stimulasi pada saraf sensoris.
Tusuktusukan ini ringan karena durasinya pendek. Stimulasi pada syaraf
sensoris ini mengakibatkan refleks vasodilatasi pembulah darah
superficial sehingaa kulit nampak kemerah merahan (erythema). Oleh
karen hanya supervisial, maka pengaruhnya tidak begitu benar.
2. Stimulasi saraf saraf motoris
Arus faradik dapat merangsang saraf motoris, apabila intenistasnya
cukup besar akan menimbulkan kontraksi otot pada saraf yang
dirangsang. Oleh karena rangsangan berfrekuensi diantara 50 Hz atau
lebih, maka kontraksi disebut titanik. Apabila kontraksi ini dibiarkan
cukup lama, otot akan kelelahan, sehingga arus faradik pada umumnya
diputus putus atau di surge untuk memberikan kesempatan istirahat
9

3. Efek efek kontraksi dari otot
Apabila suatu otot berkontraksi akibat stimulasi, maka akan terjadi
penambahan metabolisme yang menyebabkan kenaikan oksigen dari sari-
sari makanan vasodilatasi kapiler dan arteriole sehingga masukan darah
keotot bertambah Semakin otot berkontraksi dan istirahat, menimbulkan
efek pemompaan pada darah vena dan lymphe di dalam dan sekitar otot.
Apabila kontraksi otot cukup kuat sehingga gerak sendi, hal ini akan
memberikan efek pemompaan yang memperlancar darah vena dan
lymphe.
Pada teknik stimulasi, perlu dipertimbangkan mengenai elektroda
yang digunakan, untuk elektroda aktif dan fasif biasanya menggunakan plat
metal yang diberi atas kain yang bertujuan untuk mendapatkan kontak dengan
kulit sempurna dan dapat menyerap efek kimia yang mungkin terjadi.
Pada alat ini untuk pemakaian dalam jangka waktu singkat dan
bersifat merangsang saraf otot. Macam-macam bentuk arus dalam alat ini
antara lain:
a. Gelombang kontinyu (mode ADJ)

Gambar 2.1 Gelombang Kontinyu (mode ADJ)
Frekwensi rendah, biasanya pada 2-50 pulsa per detik. Hal ini dapat
menyebabkan kontraksi otot dan meningkatkan ketegangan otot dan
ligamen. Hal ini biasanya digunakan untuk mengobati keadaan normal,
atrofi, dan gangguan otot, tendon otot, dan sendi.
10

b. Gelombang Padat (mode D-D)

Gambar 2.2 Gelombang Padat (mode D-D)
Frekuensi padat sekitar 5-100Hz. Ini memiliki efek rangsang dan dapat
meningkatkan metabolisme dan sirkulasi darah, meningkatkan gizi
jaringan, menghilangkan edema inflamasi. Hal ini biasanya digunakan
untuk mengobati keseleo sendi, arthritis, neuralgia, kelumpuhan dan
sebagainya.
c. Gelombang Intermiten (mode DC)

Gambar 2.3 Gelombang Intermiten (mode DC)
11

Gelombang intermiten ini menyebabkan adaptasi dalam tubuh. Hal ini
dapat meningkatkan eksitasi otot. Hal ini biasanya dipilih untuk atrofi
dan kelumpuhan.
d. Gelombang Ripple (mode RIPP)

Gambar 2.4 Gelombang Ripple (mode RIPP)
Peningkatan amplitudo maksimum dan turun secara bertahap ke
minimum, dan ulangi proses. Hal ini dapat merangsang otot dan saraf.
e. Gelombang Pernafasan (mode SAW)

Gambar 2.5 Gelombang Pernafasan (mode SAW)
12

Gelombang secara otomatis dalam bentuk bergerigi 16-20 kali atau 20-25
kali per menit. Frekuensi hampir sama dengan tingkat pernapasan
manusia, sehingga juga disebut gelombang pernapasan dan dapat
digunakan untuk menyelamatkan seseorang dengan kegagalan pernafasan
dengan membuat buatan elektro-respirasi. Hal ini dapat memperkuat
iritabilitas saraf dan otot, mengatur fungsi garis bujur dan sejajar dan
meningkatkan sirkulasi qi dan darah.
Berapa lama terapi yang diperlukan tergantung pada berapa lama
sakitnya dan keparahannya. Penyakit akut dapat diterapi dengan beberapa
kali terapi, sedangkan penyakit kronis perlu terapi yang lebih lama. Juga
kondisi penyakit yang parah & rumit perlu terapi lebih lama
dibandingkan penyakit yang ringan. Untuk satu seri terapi diperlukan
terapi sebanyak 12 kali, dengan tenggang waktu 3 4 hari sekali atau 2
kali seminggu. Jumlah terapi bisa berkurang atau bertambah sesuai
dengan kondisi penyakit yang diderita. Dalam satu kali sesi terapi
dibutuhkan waktu selama 15 60 menit tergantung kebutuhan pasien.
2.3 Nilai-nilai Tahanan Tubuh
Gambar 2.5 memperlihatkan nilai tahanan dan arus yang melewati tubuh.
Nilai tahanan antara kepala hingga kaki adalah berkisar antara 400 - 600 ,
antara telinga kanan dan telinga kiri sebesar 100 . Untuk kulit kering nilai
tahanannya berkisar antara 100 K hingga 600 K, sedangkan untuk kulit
basah nilai tahanannya sebesar1000.
13


Gambar 2.6. Nilai tahanan tahanan pada tubuh

14

Tabel 2.1. Efek dan besarnya arus serta tegangan pada tubuh
ARUS EFEK 10.000 OHM 1000 OHM
1 mA
Manusia tidak merasakan
apa-apa.
10 V 1 V
1-8 mA
Merasakan sebuah
rangsangan, tidak
tergambarkan secara
penuh. Sebuah indifidu
dapat melepaskan pada
pengendali pada
muscular dan tidak
berakhir.
10-80 V 1-8 V
8-15 mA
Rangsangan penuh,
indifidu akan dibiarkan
dalam memulai suatu
proses kesukarelaan
pengontrolan muscular
yang tidak berakhir.
80- 150 V 8-15 V
15-20
mA
Rangsangan penuh.
Pengendali muscular dari
penyesuaian kehilangan
muscels, yang tidak
dapat dibiarkan.
150-200 V 15-20 V
20-50
mA
Mengalami kontraksi
otot yang kuat.
200-500 V 20-50 V
100-300
mA
Menyebabkan fibrilasi
ventrikel dan akan
menyebabkan kematian
apabila tidak dilakukan
koreksi.
1000-3000 V 100-300 V
6
Ampere
Kontraksi ventricular
secara bertahap diikuti
dengan irama jantung
normal (defibrilator)
respirasi secara paralys.
60000 V 6000V

15

Penggunaan alat elektrostimulator harus berhati-hati, kesalahan pemakaian
dapat membahayakan bagi tubuh. Daerah atau keadaan yang dilarang diberi
rangsangan diantaranya:
1. Pasien yang memiliki jantung yang lemah.
2. Pasien yang tekanan darahnya tinggi
3. Pasien yang sedang mengalami demam
4. Pasien yang sedang dalam periode menstruasi atau baru saja melahirkan.
5. Jangan menggunakan alat ini untuk penyakit luar seperti infeksi atau sakit
kulit
2.4 Rangsangan Dalam Sel
Protoplasma merupakan bagian dari suatu sel tempat terjadinya proses
kimia dari sel tersebut. Di dalam protoplasma selalu terjadi reaksi kimia yang
disertai dengan perubahan energi, seluruh reaksi kimia dan perubahan energi
yang terjadi di dalam sel disebut proses metabolisme sel. Demi kelangsungan
proses metabolisme tersebut, setiap sel mendapat nutrisi dari lingkungannya.
Nutrisi yang diperoleh diantaranya terdapat kelompok garam mineral seperti
natrium dan kalium. Akibat dari masuknya nutrisi kedalam sel maka
membran sel terjadi aliran zat kimia. Aliran zat kimia tersebut tidak leluasa
karena membran sel mempunyai sifat yang sukar ditembus oleh zat-zat kimia
tertentu tetapi ada juga zat kimia yang dengan mudah dapat melewatinya.
Dengan demikian membran sel seolah-olah bertindak sebagai tahanan
sehingga timbul beda potensial antara di dalam dan di luar sel.
Faktor yang mempengaruhi aliran zat kimia tersebut adalah
konsentrasi ion natrium dan kalium yang berubah-ubah bila mendapat
rangsangan. Pada dasarnya bentuk-bentuk rangsangan ada tiga macam, yaitu :
a. Rangsangan Mekanik
Rangsangan mekanik dapat berupa pijitan, tusukan, pukulan dan
sebagainya.

16

b. Rangsangan kimia
Rangsangan kimia dapat berupa obat-obatan atau bahan kimia lainnya.
c. Rangsangan listrik
Rangsangan listrik biasanya berupa arus listrik searah maupun bolak-balik
Sesuai dengan judul karya tulis, maka dalam uraian selanjutnya hanya
dibicarakan mengenai rangsangan listrik sedangkan bentuk rangsangan lain
tidak dibicarakan. Diketahui bahwa sel mempunyai lapisan yang disebut
membran sel, di dalam sel ini terdapat ion Na, K, Cl dan protein (A-). Sel
mempunyai kemampuan memindahkan ion dari satu sisi ke sisi yang lain.
Kemampuan sel ini disebut aktifitas kelistrikan sel. Dalam keadaan biasa
konsentrasi ion Na+ lebih besar di luar sel dari pada di dalam sel. Pada
keadaan demikian potensial didalam sel relatif negatif dibandingkan dengan
potensial di luar sel, dalam keadaan demikian disebut potensial membran
negatif. Jika konsentrasi ion Na+ terdapat banyak di dalam sel dari pada di
luar sel, perbedaan potensial listrik di dalam sel lebih positif dari pada diluar
sel keadaan ini disebut potensial membran positif.

Gambar 2.7 Potensial Membran Negatif
Suatu syaraf atau serabut otot pada keadaan istirahat (tidak ada proses
konduksi impuls listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak di luar sel dari
pada di dalam sel. Keadaan di dalam sel akan lebih negatif dibandingkan
dengan di luar sel. Apabila perbedaan potensial diukur dengan galvanometer
akan mencapai -90mV, membran sel ini disebut dalam keadaan polarisasi.
17

Apabila suatu rangsangan terhadap membran dengan mempergunakan listrik,
mekanik atau zat kimia maka butir-butir membran akan berubah dan beberapa
ion Na+ akan masuk dari luar sel kedalam sel. Didalam sel akan menjadi
kurang negatif dari pada di luar sel dan potensial membran akan meningkat.
Keadaan membran ini dikatakan menjadi depolarisasi.

Gambar 2.8 Sel mendapat rangsangan
Suatu ransangan yang cukup kuat mencapai titik tertentu sehingga dapat
menimbulkan depolarisasi membran, titik tertentu ini disebut nilai ambang,
dan proses depolarisasi akan berkelanjutan dan irreversibel , ion-ion Na +
akan mengalir kedalam sel secara cepat dan dalam jumlah yang banyak. Pada
keadaan ini potensial membran akan naik dengan cepat mencapai overshoot +
40 mV. Terjadinya depolarisasi membran secara tiba-tiba disebut potensial
aksi, yang berlansung kurang dari 1 m detik.

Gambar 2.9 Potensial aksi sel setelah pada saat terjadi ransangan
18

Setelah potensial aksi mencapai puncak mekanisme pengangkutan didalam sel
membran dengan cepat akan mengembalikan ion Na + keluar sel sehingga
mencapai potensial memban istirahat ( -90 mV ). Proses ini disebut repolarisasi
dan berakhir. Mulai dengan suatu ransangan sampai mencapai nilai ambang
timbul potensial aksi kemudian mencapai repolarisasi dan berakhir dengan
potensial membran istirahat, keseluruhan siklus ini mencapai 3 m detik.

2.5 Elektroda







Gambar 2.10 Elektroda KWD 808I
Untuk mengukur potensial aksi secara baik digunakanlah elektroda.
Kegunaan dari elektroda ialah untuk memindahkan transmisi ion menuju
penyalur elektron. Bahan yang dipakai sebagai elektroda adalah perak serta
tembaga. Apabila sebuah elektroda tembaga serta elektroda perak dicelupkan
ke dalam sebuah larutan misalkan larutan elektrolit seimbang cairan
badan/tubuh maka akan terjadi perbedaan potensial antara potensial kontak
kedua logam tersebut disebut potensial offset elektroda.



19

Tabel 2.2 Hubungan logam dan potensial kontak







Apabila sebuah elektroda tembaga dan elektroda perak ditempelkan
dalam bahan berisi larutan elektrolit akan terdapat perbedaan potensial
sebesar 0,800,30 sama dengan 0,46 V. Perbedaan potensial sebesar 0,46 V
dapat di jumpai bila kedua tangan penderita disambung melalui elektroda
tembaga dan elektroda perak pada jalan masuk instrument yang dipakai untuk
pengukuran.
Namun dalam praktek perbedaan potensial offset elektroda harus
dibuat sekecil mungkin atau mendekati nol, akan tetapi selalu tidak mungkin
dan akan terjadi drift (penurunan tegangan secara perlahan-lahan seperti
terlihat pada Gambar 2.10).

Gambar 2.11 Tegangan elektroda offset sebagai fungsi waktu
20

Untuk mendapatkan potensial offset elektroda sekecil mungkin,
elektroda tidak di sambung pada amplifier tegangan searah melainkan
dilapisi pasta atau jelly dan dalam pemilihan bahan elektroda sangat penting
terutama bahan elektroda dapat disterilkan (oleh karena pemakaian terus
menerus terhadap berbagai penderita) dan tidak mengandung racun. Untuk
pilihan utama adalah perak (Ag) dan ditutpi lapisan perak tipis perak Chlorida
(Ag C1).
Elektroda yang sering dipakai pada alat stimulator menggunakan
bentuk floating, dimana elektroda ini merupakan elektroda type baru. Prinsip
dari elektroda ini dibuat untuk mencegah kontak langsung antara logam
dengan kulit.
Peletakkan elektroda pada pasien harus sesuai dengan penyakit yang diderita
pasien.
1. Pundak.
Pundak pegal pegal dikarenakan tersumbatnya aliran darah pada
otot bahu yang meggerakkan pundak. Tekanan saraf karena akumulasi zat-
zat yang menyebabkan kelelahan atau kurangnya peredaran darah pada
jaringan otot.
Per hatikan peletakan elektroda pada gambar berikut :

Gambar 2.12 Elektroda pada pundak
21

2. Sendi
Getaran frekuensi tinggi digunakan untuk menghilangkan nyeri.
Letakkan kedua elektroda pada area yang terasa nyeri, seperti pada gambar
2.13 :

Gambar 2.13 Elektroda pada persendian
3. Lengan
Lengan lelah diperkirakan adanya peredaran darah yang terhambat
pada area tersebut. Letakkan elektroda pada bagian atas dan bawah lengan,
seperti gambar berikut :

Gambar 2.14 Elektroda pada lengan
22

4. Telapak kaki
Kesemutan diperkirakan karena kurangnya sirkulasi darah pada
tungkai kakipada saat saraf di luar keseimbangan. Letakkan elektroda pada
betis dan satulagi pada telapak kaki, seperti gambar berikut:

Gambar 2.15 Elektroda pada telapak kaki
5. Betis
Lelah dan bengkak pada betis diperkirakan adanya peredaran darah
yang terhambat pada area tersebut. Hubungkan elektroda pada bagian atas
dan bawah betis, seperti pada gambar berikut :

Gambar 2.16 Elektroda pada betis
23

6. Pinggang (punggung bawah)
Nyeri punggung disebabkan banyak hal. Jenis-jenis nyeri
punggung yang dapat diobati dengan terapi frekuensi rendah adalah pegal-
pegal pada pinggang (punggung bawah), nyeri otot, dan neuralgia (nyeri
saraf). Letakkan elektroda secara simetris pada area yang terasa nyeri
dengan tulang belakang sebagai pusatnya.

Gambar 2.17 Elektroda Pada Pinggang (punggung bawah)
2.6 Pengaruh Kejut Listrik terhadap Organ Tubuh
Apabila ada arus listrik yang melewati kulit kemudian masuk ke
dalam jaringan tubuh akan terlihat jelas perubahan-perubahan/pengaruh
terhadap organ tubuh. Pada arus 1 mA penderita hanya merasakan geli, ini
merupakan nilai ambang persepsi bagi pria dewasa (50%), untuk wanita
kurang lebih 1/3 dari 1 mA. Apabila arus listrik sampai 8 mA akan terjadi
sensasi kejut, di mana kontraksi otot masih baik dan nyeri-nyeri belum
terjadi. Arus listrik diperbesar sekitar 8 15 mA dikenal dengan kejut
tersiksa, penderita saat ini sukar/tidak dapat menarik tangan kembali dan
terjadi kontraksi otot otak sadar yang menetap.
Pada penderita dengan arus 18 22 mA akan terjadi pernapasan
tertahan apabila arus berlangsung terus. Arus antara 20 50 mA otot-otot
24

mengalami kontraksi sangat kuat, pernapasan tampaknya sangat sulit. Pada
peningkatan arus mendekati 100 mA bagian arus yang melewati janting
cukup untuk menyebabkan fibrasi ventrikel (nilai ambang fibrilasi rata-rata
berkisar 70-400 mA) dan akan mengalami kematian apabila tidak dilakukan
koreksi. Apabila arus listrik cukup tinggi 1-6 Ampere akan terjadi kontraksi
miocard yang menetap dan terjadi paralyse pernapasan/kelumpuhan
pernapasan dan bila arus listrik diberhentikan secara tiba-tiba akan terjadi
defibrilasi ventrikel. Arus listrik 10 Ampere dengan short duration/waktu
sekejap akan menyebabkan kebakaran pada kulit, otak dan jaringan saraf akan
kehilangan fungsi eksistansi/eksitasi/kejutan apabila ada arus yang
melewatinya.
2.7 Parameter Parameter yang Mempengaruhi Kejut Listrik
Kejut semakin serius, apabila arus yang melewati tubuh semakin
besar. Menurut hukum Ohm intensitas arus listrik tergantung kepada
tegangan dan tahanan yang ada. ( I = V/R ) berarti tegangan penting dalam
menentukan berapaarus yang dapat dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh
tubuh. Di samping itu ada pula parameter-parameter lain yang turut berperan
mempengaruhi tingkat kejut.
Dari sudut arus :
a. Seseorang akan menderita kejut lebih serius pada tegangan 220 Volt dari
pada tegangan 80 Volt, oleh karena kuat arus pada tegangan 220 Volt lebih
besar dari pada tegangan 80 Volt.
b. Tergantung basah tidaknya kulit pasien. Kulit pasien yang
berkeringat/basah akan memudahkan arus listrik melewati kulit pasien. Ini
dapat dimengerti oleh karena kulit yang basah/berkeringat tahanan yang
dimiliki jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kulit yang kering.
c. Tergantung basah tidaknya lantai. Lantai yang basah merupakan
konduktor yang sangat baik sehingga arus yang dapat melewati tubuh ke
ground lebih besar.
25

2.8 Kalibrasi
2.8.1 Spesifikasi Alat






Gambar 2.18 Alat Elektro Stimulator KWD 808I
1. Nama : Elektro Stimulator
2. Merk : KWD 808I
3. Nomor Seri : 1101-0880
4. Input : 220 V
5. Output : 9 V
A. Fitur :
a. Pengaturan Frekuensi
b. Pengaturan Intensitas
c. Pengaturan Sensitivitas Probe-Point Locator.
d. Pengaturan Timer
e. Deteksi Outlet.
f. Enam Stasiun Output.
g. Lima Tombol Gelombang Bentuk Seleksi.
h. On / Off Probe Detektor Button.
B. Bentuk Gelombang yang digunakan perangkat :
a. Gelombang terus menerus.
b. Dense-Disperse Wave.
c. Intermiten Wave.
d. Ripple Wave.
e. Respirasi Wave.
26

f. Empat jenis kombinasi gelombang dapat digunakan pada waktu
yang sama atau secara terpisah, dan output dari masing-masing
dapat diatur secara independen.

2.8.2 Blok Diagram

Gambar 2.19 Blog diagram
Cara kerja blok diagram :
Pesawat dihidupkan dengan menekan saklar pada power supply,
maka rangkaian power supply akan bekerja dan siap menyalurkan
tegangan ke blok yang membutuhkan.
Setelah power supply dinyalakan maka alat telah siap digunakan,
sebelum mengoperasikan alat ini terlebih dahulu kita mengatur timer.
lamanya timer dapat diatur dengan cara memutar switch timer sesuai
dengan kebutuhan. Setelah timer diatur selanjutnya kita mengatur
setting pulsa frekwensi dengan menekan salah satu tombol pulsa,
27

bentuk pulsa akan ditampilkan oleh display. Selanjutnya mengatur
setting intensitas dan alat telah siap untuk digunakan. Pengaturan
frekwensi digunakan untuk mengatur besaran frekwensi yang akan
digunakan.
2.8.3 Definisi
Alat Kesehatan adalah Instrumen, apparatus, mesin, implant
yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah,
mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat
orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk
membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. (PERMENKES RI
No : 363/MENKES/PER/IV/1988).
Pengujian adalah keseluruhan tindakan yang meliputi
pemeriksaan fisik dan pengukuran untuk membandingkan alat ukur
dengan standar untuk satuan ukuran yang sesuai guna menetapkan sifat
ukurnya (sifat metrologik) atau menentukan besaran atau kesalahan
pengukuran. (PERMENKES RI No : 363/MENKES/PER/IV/1988).
Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan untuk menetapkan
hubungan, dalam kondisi tertentu, antara nilai suatu besaran yang
ditunjukkan oleh peralatan ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang
direpesentasikan oleh bahan ukur atau bahan acuan, dengan nilai terkait
yang direalisasisan oleh standar. ( Vocabulary of Basic and General
Terms in Metrology VIM 1993 ).
2.8.4 Mengapa Alat Kesehatan Perlu Dikalibrasi
Hal ini disebabkan suatu alat kesehatan akan mengalami
perubahan nilai (unjuk kerja) yang disebabkan oleh :
1. Frekuensi pemakaian
2. Perawatan dan penyimpanan yang kurang baik
28

3. Akibat perbaikan/terjatuh
4. Pemakaian yang ceroboh
5. Transportasi
1. Persyaratan Teknis
1. Alat ukur sebagai pembanding harus mempunyai akurasi lebih
baik.
Rasio akurasi adalah akurasi antara standar pengukuran dan
akurasi alat yang dikalibrasi. Pada umumnya rasio akurasi
yang dikehendaki adalah antara 4:1 dan 10:1, namun demikian
rasio akurasi minimum yang dapat dilakukan adalah 2:1.
2. Alat ukur pembanding harus terkalibrasi dan tertelusur
Semua peralatan yang digunakan untuk pengujian dan/atau
kalibrasi , termasuk peralatan pengukuran subside (seperti
kondisi lingkungan) yang mempunyai pengaruh yang
signifikan pada akurasi atau keabsahan hasil pengujian,
kalibrasi atau pengambilan sampel harus dikalibrasi sebelum
digunakan.
3. Dalam melakukan kalibrasi harus mempunyai metode
pengukuran/kalibrasi yang telahdiakui secara nasional atau
internasional. Metode yang digunakan lebih baik mengacu
pada standar yang dipublikasikan secara internasional, regional
atau nasional dan merupakan edisi mutakhir.
4. Persyaratan ruang kalibrasi harus terkondisi sesuai persyaratan
yang telah ditentukan
Misalnya sesuai NCSL (National Conference of Standar
Laboratories) RP-7 Laboratory Design atau NCSL RP-14
Guide to Selecting Standards Laboratory Environments :
secara umum untuk semua jenis pengukuran , kecuali bidang
dimensi dan optik.

29

Suhu : 20 + 5
o
C
Kelembaban relatif : 20 s/d 60 %
5. Dilakukan oleh pelaksana kalibrasi yang
kompeten/bersertifikat.
Pelaksana kalibrasi harus mempunyai kualifikasi berdasarkan
pendidikan, pelatihan, pengalaman yang sesuai dan/atau
keterampilan.

2. Alat Kesehatan yang Wajib Diuji dan Dikalibrasi
Setiap alat kesehatan wajib dilakukan Kalibrasi untuk
menjamin kebenaran nilai keluaran atau kinerja dan keselamatan
pemakaian.
Pengujian atau kalibrasi wajibdilakukan terhadap alat
kesehatan dengan kriteria sebagai berikut :
1. Belum memiliki sertifikat dan tanda lulus pengujian atau
kalibrasi
2. Masa berlaku sertifikat dan tanda lulus pengujian atau
kalibrasi telah habis
3. Diketahui penunjukannya atau keluarannya atau kinerjanya
(performance) atau keamanannya (safety) tidak sesuai lagi,
walaupun sertifikat dan tanda masih berlaku
4. Telah mengalami perbaikan, walaupun sertifikat dan tanda
masih berlaku
5. Telah dipindahkan bagi yang memerlukan instalasi, walaupun
sertifikat dan tanda masih berlaku. Atau jika tanda laik pakai
pada alat kesehatan tersebut hilang atau rusak, sehingga tidak
dapat memberikan informasi yang sebenarnya.
Suatu kegiatan bisa dikatakan merupakan kegiatan kalibrasi,
jika kegiatan tersebut menghasilkan :

30

1. Sertifikat Kalibrasi.
2. Lembar hasil atau laporan kalibrasi yang memuat atau
mencantumkan: deviasi atau penyimpangan, ketidakpastian
dan batasan-batasan atau standar penyimpangan yang
diperkenankan.
3. Label/ penandaan.
3. Periode (Selang) Kalibrasi

Selang kalibrasi suatu alat tergantung pada karakteristik
dan tujuan pemakaiannya. Ditinjau dari segi karakteristiknya,
makin tinggi kualitas metrologies makin panjang selang
kalibrasinya. Dan bila ditinjau dari tujuan pemakaiannya,
semakin kritis dampak hasil ukurnya semakin pendek selang
kalibrasinya.
Jadi secara umum selang kalibrasi dipengaruhi oleh : jenis
alat ukur, frekuensi pemakaian dan pemeliharaan. Selang kalibrasi
biasanya dinyatakan dalam beberapa cara yaitu:
1. Dinyatakan dalam satu kalender, misalnya 6 (enam) bulan
sekali, setahun sekali, dst
2. Dinyatakan dalam waktu pemakaian, missal : 1000 jam pakai,
5000 jam pakai, dst.
3. Kombinasi cara pertama dan kedua di atas, misalnya 6 bulan
atau 1000 jam pakai, tergantung mana yang terlebih dahulu
dicapai.
Berikut ini contoh selang kalibrasi untuk beberapa instrument ukur
Thermocouple : 12 Bulan
Thermo Controler : 12 Bulan
Hygrometer : 6 Bulan
31

Micrometer : 6 Bulan
Vernier Caliper : 12 Bulan
Gauge Block : 24 Bulan
Kalibrasi alat kesehatan dilakukan sekurang-kurangnya
satu kali dalam satu tahun.
4. Standar Untuk Satuan Ukuran
Standar untuk satuan ukur merupakan rujukan atau acuan
yang digunakan untuk mengkalibrasi standar untuk satuan ukuran
lain yang tingkat akurasinya lebih rendah atau alat ukur yang
digunakan untuk mengukur/memeriksa karakteristik produk atau
proses. Oleh sebab itu standar untuk satuan ukuran diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Standar Nasional untuk Satuan Ukuran Tingkat I
1) Standar Nasional untuk satuan ukuran atau standar untuk
satuan ukuran tingkat I ditetapkan oleh suatu peraturan
pemerintah berdasarkan UU Metrologi legal Pasal 8, tahun
1981 dan/atau oleh DSN.
2) Standar Nasional untuk satuan ukuran merupakan standar
yang mempunyai tingkat akurasi dan realibilitas tertinggi di
Indonesia, dan dapat merupakan standar untuk satuan ukuran
primer atau sekunder Internasional.
3) Mampu telusur secara langsung ke standar nasional untuk
satuan ukuran internasional yang didukung oleh dokumen
resmi.
4) Dikelola oleh laboratorium standar nasional untuk satuan
ukuran.

32

b. Standar untuk Satuan Ukuran Tingkat II
1) Standar untuk ukuran tingkat II merupakan turunan
langsung dari standar untuk ukuran tingkat I dan
mempunyai kemampuan telusur langsung ke standar satuan
ukuran tingkat I secara berkesinambungan.
2) Digunakan secara langsung hanya untuk pembanding
terhadap standar untuk satuan ukuran tingkat III.
3) Dikelola oleh Institusi Metrologi.
c. Standar untuk Satuan Ukuran Tingkat III
1) Standar untuk satuan ukuran tingkat III merupakan turunan
langsung dari standar untuk satuan ukuran tingkat II dan
mempunyai kemampuan telusuran ke standar untuk satuan
tingkat II secara berkesinambungan.
2) Digunakan secara langsung hanya untuk pembanding
terhadap standar untuk satuan ukuran tingkat IV.
3) Dikelola oleh pusat Kalibrasi.
d. Standar untuk Satuan Ukuran Tingkat IV
1) Standar untuk satuan ukuran tingkat IV merupakan turunan
langsung dari standar untuk satuan ukuran tingkat III dan
mempunyai kemampuan telusuran ke standar untuk satuan
tingkat III secara berkesinambungan.
2) Digunakan secara langsung hanya untuk pembanding
terhadap standar kerja.
3) Dikelola oleh laboratorium.


e. Standar Kerja
33

1) Standar kerja merupakan turunan langsung dari standar
untuk satuan ukuran tingkat IV dan mempunyai
kemampuan telusuran ke standar untuk satuan tingkat IV
secara berkesinambungan.
2) Standar kerja sehari-hari langsung digunakan untuk menguji
dan/atau mengkalibrasi alat-alat ukur milik masyarakat.
5. Institusi Kalibrasi

a. Institusi Kalibrasi Eksternal
Kalibrasi eksternal harus dilakukan oleh Instansi Teknik
pemerintah/swasta yang berakreditasi untuk menjalankan
kegiatan kalibrasi.Untuk membuktikan kemampuan teknisnya,
laboratorium kalibrasi harus mengikuti persyaratan yang ada di
ISO/IEC 17025-1999 yang sekarang menjadi SNI 19-17025-
2000.
b. Institusi Kalibrasi Internal
Kalibrasi yang dilakukan oleh Institusi Kalibrasi Internal
minimum harus mempunyai :
1. Alat kalibrasi yang mampu telusur
2. Mempunyai teknisi kalibrasi yang berkualifikasi
3. Mempunyai metode / prosedur kalibrasi
4. Mempunyai kondisi akomodasi lingkungan yang memadai
Secara umum juga harus mempunyai ruangan yang kondisi
lingkungannya terjaga.
6. Langkah-langkah Kalibrasi

a. Pra-Kalibrasi
1. Pendataan administrasi
34

Lakukan pendataan administrasi meliputi pemilik,
alamat, data alat medik, tanggal dan ruangan/lokasi
kalibrasi.
2. Lakukan Pengukuran Kondisi Lingkungan meliputi :
Suhu dan Kelembaban lingkungan.Data diambil pada
ruang kalibrasi di awal dan akhir pengukuran alat.
3. Pemeriksaan Fisik dan Fungsi alat
a. Periksa kondisi fisik dari pulse oxyme meliputi :
selungkup alat, kontrol, indicator dan kabel pasien.
b. Catat kondisi kondisi tersebut pada lembar kerja.
b. Kalibrasi
1. Pengukuran keselamatan listrik meliputi :
a. Tegangan jala-jala
b. Tahanan pembumian
c. Kebocoran arus selungkup.
2. Kinerja
a. Frekwensi (Hz)
b. Intensitas Terapy (mA)

7. Klasifikasi Alat kesehatan berdasarkan kelistrikan dan
resikonya

a. Class I : protective earth

b. Class II : double insulation

c. Class IP ...... : internal power suply

d. Type B : non isolated applied part

e. Type BF : isolated applied part

35

f. Type CF : isolated applied part direct cardiac aplication

2.8.5 SOP (Standar Operasional Prosedur) Kalibrasi
a. Siapkan semua peralatan kalibrasi (Thermohygrometer, Electrical
Safety Analyzer dan Multi parameter tester).
b. Siapkan Elektro Stimulator yang akan dikalibrasi.
c. Ukur suhu dan kelembaban udara di ruangan yang digunakan
untuk kalibrasi.
d. Nyalakan Elektro Stimulator sesuai dengan SOP pengoperasian
alat.
e. Ukur kebocoran arus listrik dengan Electrical Safety Analyzer
f. Lakukan pengukuran Frekuensi secara berulang keluaran Elektro
Stimulator menggunakan Multi parameter tester sesuai dengan
pengaturan yang ada.
g. Catat hasil pengukuran.
h. Lakukan pengukuran dosis (arus listrik) secara berulang keluaran
Elektro Stimulator menggunakan Multi parameter tester sesuai
dengan pengaturan yang ada.
i. Catat hasil pengukuran.
j. Lepas Multi parameter tester dari Elektro Stimulator.
k. Matikan Elektro Stimulator.
l. Simpulkan hasil pengukuran tersebut dengan menghitung nilai
ketidakpastiannya.
2.8.6 Alat-alat Yang Dipakai Untuk Kalibrasi
a. Thermohygrometer
Thermo Hygrometer adalah gabungan dari thermometer
(termometer) ruangan dan hygrometer (higrometer), yaitu alat
untuk mengukur suhu udara dan kelembaban, baik di ruang tertutup
ataupun di luar ruangan.
36


Gambar 2.20 Thermohygrometer
Tabel 2.3 Spesifikasi Thermohygrometer
Name: Thermohygrometer
Exterior design: Public style
Function:
With LCD display,temperature and
humidity
Battery: 1.5V;AAA/PCS
Specification: 110*100*20mm
Material: ABS
Elaboration:
a. The whole point timekeeping
function
b. ily alarm function
c. 12/24 system clock
d. / F temperature display
e. Maximum / minimum temperature
memory function
f. Shows the relative humidity and
comfort function
g. Temperature measurement range :-
10~+60-58 F ~158 F
h. Humidity display resolution
rate:1%


37

b. Electrical Safety Analizer (ESA)

Gambar 2.21 Electrical Safety Analyzer (ESA)
ESA adalah alat untuk mengukur kebocoran arus

Tabel 2.4 Spesifikasi ESA
Fungtion Measuring range
Voltage (input) 85 to 265
Current (rating) 20
Measures

Voltage (VAC) 85 to 265 (3% R)
Current (Amps) 0 to 19.99 (5% R)
Leakage Current (a)
0 to 1999 DC & 25 to 1kHz
(1% R)
1kHz to 100 kHz ( 2.5% R)
100kHz to 1mHz (5% R)
Resistance (Ohms)
0 to 19.99 (1% R)
10mA
Patient Leads 0
MAP (Isolation) No
38

Fungtion Measuring range
Voltage (input) 85 to 265
Built-in ECG Simulator No
AAMI & IEC Leads AAMI only
Point-to-Point No
Test Points No
Test Capability

Open Ground Yes
Reverse Polarity Yes
Open Neutral Yes
Open Line Yes
c. Multi Parameter Tester
Alat yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui hasil dari
pengukuran.

Gambar 2.22 Multi Parameter Tester
39

Tabel 2.5 Spesifikasi Multi Parameter Tester

Fungtion Measuring range
Best
accuracy
Resolution
Input
impedance
Dcv
400m/4/40/400/
600 V
(0,7%+3) 0,1mV
DCV 10M-
100M ohm
Acv 4/40/400/600 V (1,6%+9) 0,001V
ACV 10M-
11M ohm
dca 40m/400mA (22%+5) 0,1mA
Aca 40m/400mA (28%+5) 0,1mA
Resistance
400/4k/40k/400k/
4M/4M ohm
(1,5%+5) 0.1 ohm
Capacitan
ce
50n/500n/5F/
50F/100F
(5%+10) 0,01nF
frekwency 5Hz/100KHz (0,5%+3)
Duty cycle 20%-80% (0,5%+5)
2.8.7 Ketidakpastian
Suatu pengukuran selalu disertai oleh ketidakpastian.
Beberapa penyebab ketidakpastian tersebut antara lain adanya
Nilai Skala Terkecil (NST), kesalahan kalibrasi, kesalahan titik
nol, kesalahan pegas, kesalahan paralaks, fluktuasi parameter
pengukuran, dan lingkungan yang mempengaruhi hasil
pengukuran, dan karena hal-hal seperti ini pengukuran mengalami
gangguan. Dengan demikian sangat sulit untuk mendapatkan nilai
sebenarnya suatu besaran melalui pengukuran.
Ketidakpastian dibedakan menjadi dua,yaitu ketidakpastian
mutlak dan relatif. Masing masing ketidakpastian dapat digunakan
dalam pengukuran tunggal dan berualang.
1. Ketidakpastian Mutlak
Suatu nilai ketidakpastia yang disebabkan karena
keterbatasan alat ukur itu sendiri. Pada pengukuran tunggal,
40

ketidakpastian yang umumnya digunakan bernilai setengah
dari NST.
Untuk suatu besaran X maka ketidakpastian mutlaknya
dalam pengukuran tunggal adalah:
x = NST
dengan hasil pengukuran dituliskan sebagai
X = x x
Misalnya : dalam pengukuran didapatkan nilai frekuensi
20,135 Hz dengan NST 25%
Maka nilai KTP nya adalah 20,135 12,5%
2. Kesalahan Rentang
Pada pengukuran berulang, ketidakpastian dituliskan
tidak lagi seperti pada pengukuran tunggal. Kesalahan
Rentang merupakan salah satu cara untuk menyatakan
ketidakpastian pada pengukuran berulang. Cara untuk
melakukannya adalah sebagai berikut:
a) Kumpulkan sejumlah hasil pengukuran variable x.
Misalnya n buah, yaitu x1, x2, x3, xn
b) Cari nilai rata-ratanya yaitu x-bar
x-bar = (x1 + x 2 + + xn)/n
Misal :
Data pengukuran : a = 20,125 ; b= 20,121 ; c=20,132
Nilai Xbar(rata-rata) = (20,125 + 20,121 + 20,132) /3 =
20,126
c) Tentukan x-mak dan x-min dari kumpulan data x tersebut
dan ketidakpastiannya dapat dituliskan
x = (xmax xmin)/2
41

Misal : dari contoh diatas Xmax=20,132 dan Xmin =
20,121
Jadi nilai ketidakpastiannya adalah
x = (20,132-20,121)/2 = 0,0055
d) Penulisan/ pelaporan hasil pengukuran adalah
x = x-bar x
X = 20,126 0,0055
Metode tersebut sering dipakai dalam pengukuran
3. Ketidakpastian Relatif
Ketidakpastian Relatif adalah ketidakpastian yang
dibandingkan dengan hasil pengukuran.
Apabila menggunakan KTP relatif maka hasil pengukuran
dilaporkan sebagai
X = x (KTP relatif x 100%)
Kesimpulan
Ketidakpastian adalah Kesangsian yang muncul pada
tiap hasil pengukuran. Pada dasarnya suatu pengukuran adalah
kegiatan membandingkan antara 1 besaran dengan besaran lain
yang sejenis, sehingga tidak ada istilah benar dalam
pengukuran, yang ada hanyalah taksiran-taksiran, sehingga
hasil pengukuran tersebut akan lengkap jika disertai dengan
adanya ketidakpastian.