Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN
Tuli adalah gejala dari penyakit telinga yang sangat merisaukan, terutama bila
terjadi pada kehidupan tahun-tahun pertama pada anak-anak. Pendengaran itu sangat
penting bagi perkembangan penguasaan bahasa dan belajar bicara, sehingga anak yang
lahir dengan tuli atau tuli sebelum dapat berbicara, akan mengalami kesukaran-kesukaran
didalam perkembangan bahasa. Bicara dan bahasa itu sangat penting dalam sistem
komunikasi, dan sangat diperlukan pada kehidupan sosial, perkembangan mental (watak)
dan karir masa depan. Kemampuan berbicara dan berbahasa berhubungan .sangat erat
dengan fungsi pendengaran. Perkembangan penguasaan bahasa pada anak dengan
pendengarannya dapat dibagi dalam 2 tahap.
Tahap pertama adalah pengertian akan arti kata dan mengingatnya. Pada anak itu
kata- kata yang pertama-tama didapat adalah dari ibunya yang selalu mengasuh
dengan kasih sayang. Dari hari kehari kata-kata itu selalu diulang-ulang. Dengan
demikian kata-kata itu akan menjadi perbendarahaan bagi anak tersebut.
Tahap kedua, anak itu akan menirukan kata-kata yang selalu didapat setiap harinya.
Setelah dapat mengucapkan kata-kata barulah anak itu membuat kalimat yang
sederhana, yaitu kalimat yang terdiri atas pokok kalimat dan sebutan, Setelah itu baru
ditarnbah dengan sebutan sesuai dengan tingkat umurnya.
Maka jelas sekali, tanpa mendengar, perkembangan bahasa tidak akan terjadi
sehingga anak tersebut tidak akan dapat berbicara. Meskipun demikian pada anak yang
tuli masih dapat dikembangkan bahasa dan bicaranya dengan pendidikan khusus,
walaupun akan memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan anak yang
normal.
Pada anak tuli karena tidak dapat menerima rangsangan suara, maka pancaindera
yang lainnya harus dikembangkan atau dilatih dengan lebih baik agar dapat mengamati
kejadian- kejadian disekitarnya. Anak itu akan rnengenal bahasa dengan mengamati
fibrasi sesuai dengan arti kata, atau anak tuli itu harus belajar membaca gerakan bibir
pada setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya.
Maksud tulisan ini ialah ingin mengetengahkan sebab-sebab ketulian ataupun
kekurangan pendengaran. Tujuannya agar dapat mencegah ketulian terutama pada anak,
rehabilitasinya terutama pada anak-anak yang tuli dan mengenali penyakit-penyakit yang
dapat menyebabkan ketulian supaya segera dapat diobati dengan memadai, agar ketulian
dapat dicegah.
Dalam proses perkembangan bicara, suara atau kata-kata yang diterima di pusat
pendengaran di otak, akan diterjemahkan untuk kemudian di ubah ke dalam aktivitas
motorik pernafasan dan traktus vokalis sehingga anak dapat menirukan suara atau kata-
kata seperti yang di dengar oleh anak. Produksi kata-kata dalam berbicara mencangkup
fase respirasi, fonasi. Dan resonansi tidak akan sempurna apabila tidak di sertai peran
serta input sensorik dari organ pendengaran.

II. ETIOLOGI
Ketulian adalah salah satu gejala dari suatu penyakit telinga sehingga perlu dicari
penyakit yang dapat menyebabkan gejala tuli tersebut. Kalau kita lihat tuli hanya
merupakan satu macam gejala dari penyakit telinga, maka gejala yang satu ini tentu
penyebabnya banyak sekali. Oleh karenanya harus ada suatu sistem yang dianut untuk
mencari penyakit tersebut:
a. Berdasarkan kelainan patologi, ketulian dapat disebabkan oleh karena : Kelainan
kongenital, trauma, benda asing, radang dan neoplasma/Tumor.
Semua kelaianan patologi tersebut dapat menimbulkan ketulian terutama bila
prosesnya ditelinga.
b. Berdasarkan lokalisasi proses kelainan, sesuai dengan anatomi telinga sehingga
proses kelainannya dapat terjadi ditelinga luar, telinga tengah, telinga dalam, saraf
telinga, batang otak dan otak

c. Berdasarkan jenis ketulian

Tuli hantaran (conductive hearing loss), hantaran tulang > hantaran udara
(HT>
dari 1,5 dB
Tuli saraf (sensorineural hearing loss), kelaianan terjadi pada fase elektrik.
Hantaran tulang < hantaran udara.
Tuli campuran, yaitu campuran antara tuli penghantaran dan tuli saraf.
Tuli sentral, bila proses kelainannya terdapat di batang otak atau diotaknya
sendiri
d. Berdasarkan derajat ketuliannya
Tuli (sama sekali tidak dapat. mendengar).
Kekurangan pendengaran yang dapat dibedakan atas: ringan, sedang, berat.
Kekurangan Pendengaran Ringan
Klinis penderita sukar diajak bercakap-cakap pada jarak kurang lebih tiga meter,
pada pemeriksa audiometric nada murni, pada frekuensi percakapan turun 15 dB sampai
30 dB.
Kekurangan pendengaran sedang
Klinis percakapan pada jarak satu meter sudah mendapat kesukaran untuk
mengerti arti kata. Pada pemeriksaan audiometri nada murni pada frekuensi percakapan
turun sampai 30 dB sampai 60 dB.
Kekurangan Pendengaran Berat
Pada pemeriksaan audiornetrinada murni, penurunannya mencapai 60dB atau
lebih. Berdasarkan waktu terjadinya tuli, dapat dibedakan atas:
a. Kongenital (tuli sejak lahir)
Herediter (penyakit turunan) : aplasia (agenesis), abiotrofi dan penyimpangan
kromosom.
Prenatal (infra uterin) masa kehamilan : keracunan, infeksi virus dan penyakit
menahun pada ibu.
Perinatal : trauma/persalinan (waktu lahir), anoksia, prematur dan narkose
yang dalam.
b. Tuli yang didapat (acquired hearing loss)
Kekurangan pendengaran tipe hantaran (konduksi) dan kekurangan
pendenga ran tipe sensorineural.

III. PATOFISIOLOGI
Input informasi melalui jalur pendengaran memegang peranan yang penting
dalam proses belajar bicara, sehingga gangguan pendengaran yang berat akan
menghambat perk emb angan bicara pada anak, karena berkurangnya input sinyal
akustik. Fungsi pendengaran harus baik agar anak dapat mendengar suara dengan jelas,
baik dalam pola titi nada (pitch), volume/kekerasan, tekanan dan pola suara atau kata-
kata. Gangguan pendengaran yang didapat setelah anak sudah
mampu berbicara (periode postlingual/post verbal), perbendaharaan kata dan
struktur kalimat umumnya tidak mengalami gangguan, tetapi anak dapat mengalami
gangguan cara pengucapan dan kwalitas suara (prosodi). Hal tersebut karena anak tidak
dapat lagi mendengar dengan jelas kata-kata yang didengarnya begitu juga hal nya
dengan umpan balik suaranya sendiri (auditory feedback), dibandingkan dengan sebelum
mengalami masalah pendengaran. Apabila tidak ditangani, gangguan pendengaran post
verbal dapat mengakibatkan penurunan jumlah perbendaharaan kata-kata yang sudah ada.
Gangguan pendengaran yang dialami anak sejak lahir (periode pralingual/pra-verbal)
tidak hanya berakibat keterlambatan proses perkembangan bicara, akan tetapi juga
mempengaruhi jumlah perbendaharaan kata-kata, mekanisme bersuara yang dapat
memberikan arti yang berbeda dalam bahasa (fonologi) dan kemampuan dalam
menyusun kalimat.

IV. MANIFESTASI KLINIS
Perkembangan auditorik sesuai dengan usia anak, antara lain :
Usia 0-4 bulan : Kemampuan respon auditorik masih terbatas dan bersifat refleks
Dapat ditanya apakah bayi kaget mendengar suara keras atau terbangun ketika
sedang tidur. Respons berupa refleks auropalpebral maupun refleks Moro.
Usia 4-7 bulan respons memutar kepala ke arah bunyi yang terletak di bidang
horizontal, walaupun belum konsisten. Pada usia 7 bulan otot leher cukup kuat
sehingga kepala dapat diputar dengan cepat ke arah sumber suara.
Usia 7-9 bulan dapat mengidentifikasi dengan tepat asal sumber bunyi dan bayi
dapat memutar kepala dengan tegas dan cepat.
Usia 9-13 bulan bayi sudah mempunyai keinginan yang besar untuk mencari
sumber bunyi dari sebelah atas, dan pada usia 13 bulan mampu melokalisir bunyi
dari segala arah dengan cepat.
Pada usia 2 tahun pemeriksa harus lebih teliti karena anak tidak akan memberi
reaksi setelah beberapa kali mendapat stimulus yang sama. Hal ini disebabkan
karena anak .sudah mampu memperkirakan sumber suara.
Perkembangan bicara erat kaitannya dengan tahap perkembangan mendengar pada bayi,
sehingga adanya gangguan pendengaran perlu dicurigai apabila :
Usia 12 bulan : belum dapat mengoceh (babbling) atau meniru bunyi
Usia 18 bulan : tidak dapat menyebut 1 kata yang mempunyai arti
Usia 24 bulan : perbendaharaan kata kurang dari 10 kata
Usia 30 bulan : belum dapat merangkai 2 kata
semua yang dijelaskan diatas merupakan perkembangan auditorik dan bicara yang
normal. Sedangkan pada anak yang mengalami gangguan auditorik maka tergantung tipe
atau derajat ketulian yang akan berakhir pada keterbatasan bicara.
1. Gangguan pendengaran tipe sensori-neural
Disini anak-anak akan mengalami deskriminasi kata-kata, baik dalam periode pra-
verbal ataupun post-verbal, hanya pada anak-anak yang memiliki gangguan
pendengaran setelah kemampuan bicaranya sempurna akan mengalami kesulitan
mengerti arti percakapan karena gangguan diskriminasi kata-kata dan
kemunduran kwalitas suara dan artikulasi.

2. Gangguan pendengaran tipe konduktif
Gangguan tipe ini dapat mempengaruhi perkembangan bicara sekalipun
masalahnva tidak seberat tipe sensori-neural, karena tuli konduktif kokleanya
normal sehingga tidak mengakibatkan gangguan kemampuan diskriminasi kata-
kata.

3. Gangguan pendengaran tipe sensorineural unilateral
Biasanya gangguan pendengaran yang sebelah sisi sehat maka, sering tidak
terdeteksi sejak awal, biasanya anak-anak suka menerima telpon dari telinga disisi
yang sehat. atau anak sulit dibangunkan dengan suara apabila tidur dalam posisi
miring ketelinga; yang normal. Umumnya perkembangan bicara anak baik.


V. PEMERIKSAAN
Beberapa pemeriksaan pendengaran yang dapat dilakukan pada bayi dan anak;
1. BehavioralObservationAudiometry(BOA)
Tes ini berdasarkan respon aktif pasien terhadap stimulus bunyi dan merupakan
respons yang disadari (voluntary response). Metoda ini dapat mengetahui seluruh
sistem auditorik termasuk pusat kognitif yang lebih tinggi. Pemeriksaan dilakukan
pada ruangan yang cukup tenang (bising lingkungan tidak lebih dari 60 dB)
idealnya pada ruang kedap suara (sound proof room). Sebagai sumber bunyi
sederhana dapat digunakan tepukan tangan, tambur, bola plastik berisi pasir,
remasan kertas, minyak bel, terompet karet, mainan yang mempunyai frekuensi
tinggi (squaker toy) dll. Dinilai kemampuan anak dalam memberikan respon
terhadap sumber bunyi tersebut.
Pemeriksaan Behavior Observation Audiometry dibedakan menjad:
(1) Behavioral reflex audiometry dan
(2) Behavioral response audiometry.
2. Timpanometri
Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kondisi telinga tengah. Gambaran
timpanometri yang abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga
tengah) merupakan petunjuk adanya gangguan pendengaran konduktif. Melalui
probe tone (sumbat liang teiinga) yang dipasang pada liang telinga dapat
diketahui besarnya tekanan di liang telinga berdasarkan energi suara yang di
pantulkan kembali (kearah luar) oleh gendang telinga. Pada orang dewasa atau
bayi berusia diatas 7 bulan digunakan probe tone frekuensi 226 Hz. Khusus untuk
bayi dibawah usia 6 bulan tidak digunakan probe tone 226 Hz karena akan terjadi
resonansi pada liang telinga sehingga harus digunakan probe tone frekuensi tinggi
(668,678 atau 1000 Hz).
Terdapat 4 jenis timpaninogram yaitu:
(1) Tipe A (normal)
(2) Tipe AD (diskontuinitas tulang-tulang pendengaran)
(3) Tipe As (kekakuan rangkaian tulang pendengaran)
(4) Tipe B (cairan di dalam telinga tengah)
(5) Tipe C (gangguan fungsi tuba eustachius)
Timpanometri merupakan pemeriksaan pendahuluan sebelum tes OAE

Tipe A: gambaran seperti pada grafik, menunjukkan
tekanan udara di telinga tengah normal. Tipe A ini
terbagi menjadi 3 sub grup yaitu:




A: bentuk grafik normal As : puncak lebih tinggi tekanan yang berlebih di telinga
tengah muncul pada diloskasi tulangpendengaran, kekakuan membrana timpaniAs :
Puncak lebih pendek dari normal menunjukkankekakuan, seperti pada otosklerosis
B: Tidak didapatkan puncak/flat, biasanya disebabkan karena adanya cairan ditelinga
tengah atau adanya perforasi membrana timpani, atau adanya serumen.
C : ada puncaknya namun bergeser ke kiri menunjukkan adanya tekanan negalif biasanya
disebabkan karena disfungsi tuba.
biasanya menunjukkan
-300 -200 -100 3. Audiometri nada murni
+100 +200
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan audiometer, dan hasil pencatatannya
disebut sebagai audiogram, Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun yang
koperatif. Sebagai sumber suara digunakan nada murni (pure tone) yaitu bunyi yang
hanya terdiri dari 1 frekuensi. Pemeriksaan dilakukan pada ruang kedap suara, dengan
menilai hantaran suara melalui udara (air conduction) melalui headphone pada frekuensi
125, 250, 5000, 1000, 2000, 4000, 8000 Hz. Hantaran suara melalui tulang (bone
conduction) diperiksa dengan memasang bone vibrator pada processus mastoid yang
dilakukan pada frekuensi 500,1000,2000,4000 Hz.
3. Otoacousticemission(OAE)
Suara yang berasal dari dunla luar di proses oleh koklea menjadi stimulus listrik,
selanjutnya dikirim ke batang otak melalui saraf pendengaran. Sebagian energi bunyi
tidak dikirim ke saraf pendengaran melainkan kembali menuju keliang telinga.
Pemeriksaan OAE merupakan pemeriksaan elektrofisiologik untuk menilai fungsi koklea
yang objektif, otomatis (menggunakan kriteria pass/lulus dan refer/tidak lulus) tidak
invasive, mudah, tidak membutuhkan waktu lama dan praktis sehingga sangat efisien
untuk, program skrining pendengaran bayi baru lahir (universal newborn hearing
screening). Pemeriksaan tidak harus di ruang kedap suara, cukup di ruangan yang tenang.
VI. PENATALAKSANAAN
Prinsip penanganan anak dengan gangguan pendengaran adalah usaha
memaksimalkan penggunaan sisa pendengaran yang ada. Sasaran utama daiam
penanganan dibidang habilitasi
audiologi adalah menfasilitasi anak dengan informasi akustik sehingga dapat
meningkatkan kemampuan anak mengembangkan komumkasi verbal anak.


Alat Bantu Mendengar (ABM) adalah alat elektronik yang biasanya dipakai di
belakang telinga dalam lubang telinga. ABM membuat suara terdengar lebih keras, jadi
seseorang yang mengalami gangguan pendengaran dapat mendengar, berkomunikasi dan
berpartisipasi lebih aktif dalam kehidupan kesehariannya. Alat ini terdiri dari 3
komponen utama: mikrophone, amplifier dan speaker. ABM menerima suara melalui
mikrophone yang mengubah sinyal suara menjadi sinyal listrik kemudian
mengirimkannya ke amplifier. Amplifier meningkatkan kekuatan sinyal listrik dan
mengirimkannya ke telinga pemakai ABM melalui speaker.
ABM terutama berguna untuk memperbaiki pendengaran dan pemahaman bicara
orang yang mengalami gangguan pendengaran pada bagian luar, tengah dan dalam
telinga. Kerusakan pendengaran pada telinga bagian dalam disebut dengan gangguan
dengar saraf atau sensorineural hearing loss dan kerusakan bagian telinga tengah dan luar
disebut dengan gangguan dengar konduktif atau conductive hearing loss. Kerusakan pada
telinga bisa disebabkan oleh penyakit, penuaan, kecelakaan atau bekerja lama pada
daerah dengan kebisingan yang sangat tinggl.
Suara yang sudah dikeraskan oleh ABM masuk melalui telinga luar, tengah dan
dalam. Proses selanjutnya suara menyebabkan vibrasi pada telinga tengah dan dalam.
Hair cells atau biasa disebut dengan rambut saraf pendengaran yang masih baik akan
mendeteksi vibrasi yang paling besar dan mengubahnya menjadi sinyal saraf yang
kemudian diteruskan ke otak. Semakin rusak rambut saraf pendengaran, maka semakin
parah kondisi pendengaran pendengar dan ABM dengan penguatan yang besar
dibutuhkan untuk membangunkan rambut saraf pendengaran. Akan tetapi, akan ada
batasan kekuatan pengerasan yang dikeluarkan oleh ABM. Bahkan jika rambut saraf
pendengaran terlalu parah kerusakannya dan ABM pun sudah tidak bisa memberikan
penguatan yang memadai, dalam situasi ini mungkin ABM tidak bisa membantu lagi.
Beberapa model Alat Bantu Dengar (ABM) yang ada di pasaran. Model ABM
didasarkan pada bagaimana ABM tersebut diletakkan serta penguatan yang dibutuhkan.
Umumnya ABM diletakkan dibelakang telinga dan dalam lubang telinga
Behind-the-ear (BTE) terdiri dari plastik atau casing tempat menyimpan
komponen alat bantu dengar yang dirancang mengikuti struktur telinga belakang
kemudian disambungkan dengan earmold atau cetakan telinga yang dipasangkan
pada telinga bagian luar. Suara yang ditangkap dari ABM diteruskan ketelinga
melalui earmold atau cetakan telinga. BTE umumnya digunakan semua umur dari
penurunan pendengaran ringan sampai dengan penurunan pendengara berat.
In-the-ear (ITE) ABM yang dipasangkan dalam telinga bagian luar dan digunakan
untuk penurunan pendengaran ringan sampai dengan berat. Beberapa ITE
dilengkapi dengan fitur seperti telecoil. Telecoil adalah magnet lilitan magnet
yang berfimgsi untuk menangkap suara melaiui melaiui lilitan magnet tersebut
bukan melalul mikrophon. Fitur ini memberikan kemudahan pemakai afat bantu
mendengar untuk berbicara melaiui telephon. Telecoil juga berfungsi untuk
menangkap suara yang dikeluarkan oleh induction loop system. ITE umumnya
tidak digunakan oleh anak-anak dan orangtua
Canal
ABM model terdiri dari dua model. In-the-canal (ITC) dipakai dalam lubang
telinga. Dan compleiely-in-canal (CIC) hampir tidak terlihat dalam lubang
telinga. Kedua model ini umumnya digunakan untuk penurunan pendengaran
ringan sampai dengan pendengaran moderat.
Teknologi ABM berbeda-beda tergantung jenis proses. Ada dua perbedaan teknologi
analog dan digital.
Analog, bekerja dengan merubah suara ke dalam sinyal listrik yang kemudian
memperbesar sinyal listrik tersebut. Analog dirancang untuk berbagai derajat penurunan
pendengaran. Untuk menyesuaikan seting atau konfigurasi yang tepat, Audiologist akan
membantu untuk melakukan petneriksaan sebelum fitting. Setelah derajat serta respon
setiap frekuensi diketahui, selanjutnya audiologist akan melakukan perubahan dan
disesuaikan dengan konfigurasi yang paling cocok dengan hasil pemeriksaan.
Analog/Programmable umumnya mempunyai banyak program dan perubahan pada
konfigurasi dilakukan oleh komputer. Pilihan program ini diperuntukkan untuk berbagai
kondisi mendengar yang berbeda, misalnya tempat sepi, restoran, mall dll, Harga Analog
biasanya lebih
:
murah dibandingkan dengan Digital.

Digital merubah suara kedalam kode angka, sama dengan .kode angka yang terdapat pada
komputer, sebelum melakukan pengerasan terhadap suara yang di tangkap. Karena kode
tersebut rnenyimpan informasi mengenai frekuensi suara dan kekerasan suara, ABM
teknologi ini mampu untuk diprogram beberapa frekuensi lebih keras atau lebih pelan
dari yang lain. Sirkuit digital memberikan Audiologist flexibiltas dalam melakukan
setingan pada ABM sesuai dengan kebutuhan pemakai ABM spesifik untuk kebutuhan
mendengar ditempat tertentu. Teknoiogi ini juga mempunyai kemampuan untuk lebih
fokus pada arah yang diinginkan oleh pemakai ABM. Teknologi digital ini bisa
diterapkan pada berbagai model alat bantu mendengar
MicroBTE - (Belakang telinga)
Model Dalam Telinga (ITE) : : Alat bantu dengar yang digunakan tersembunyi dalam
telinga, secara estetik menyenangkan, untuk kondisi pendengaran ringan sampai sedang.
Model ITE yang terkecil disebut CIC (Completely-in-Canal), digunakan di liang telinga
oleh sebab itu akan sulit terlihatdari luar.
CIC
Mini-Canal (ITC) Half Shell (JTC) Full Shell (ITE)
Model Belakang Telinga (BTE models): Alat bantu dengar yang handal dan powerful, di
pasang di belakang telinga. Dapat digunakan pada semua derajat gangguan pendengaran,
alat ini terbukti



bermanfaat pada gangguan sangat berat dengan peralatan khusus untuk mendengar di
kondisi yang sulit (FM systems dll).

Teknologi
Digital: Microprocessors (digital signal processing) menjamin proses sinyal yang sangat
cepat dan fitting yang fleksibel untuk meningkatkan pengertian percakapan yang
maksimal. Keinginan dan kebutuhan individu turut diperhitungkan. Individual dan
modern.
Digitally programmable: Teknologi Analog, yang diprogram melalui Software (PC)
untuk penyesuaian yang terbaik sesuai dengan kondisi pendengaran dan proses sinyal
konvensional. Ekonomis dan efektif.
Analog: Teknologi konvensional untuk semua derajat gangguan pendengaran. Fitting
dilakukan melalui kontrol langsung ke alat bantu dengar. Harga terjangkau dan teknolgi
yang teruji.
IMPLAN KOKLEA
Alat bantu dengar memang bisa memperbaiki pendengaran seseorang, namun pengidap
ketulian parah tidak akan dapat mendengar dengan baik rneskipun dibantu alat
pendengaran. Jika begitu keadaaannya, dia bisa memperoleh manfaat dari implan
koklear. Implan koklear adalah alat yang dimasukkan ke dalam telinga bagian dalam,
Alat ini memberikan pendengaran yang berguna bagi pengidap ketulian total atau parah
hingga pengidap ketulian berat akibat saraf-pengindera. Alat ini tidak berfungsi seperti
alat bantu dengar yang menguatkan bunyi, melainkan memintas bagian dalarn telinga
yang rusak untuk merangsang serabut saraf indera pendengaran yang tersisa.