Anda di halaman 1dari 18

JulioLorenzoPenna@yahoo.co.

id

1


Struktur dan Peranan Usus pada Proses Pencernaan



\Disusun oleh:
Julio Lorenzo Penna (102013376)**
David Sudarman (102013395)*
Calysta Nadya Wijaya (102013169)*
Sani Euodia Laelaem (102013062)*
Stefanus Hendra Ria (102013067)*
M. Dahrul Arifin (102013224)*
Triani Martio (102013294)*
Novita Marta Tumanggor (102013389)*
Selfance Petrosma Ruff (102012423)*
Fredy Ferdian Pratama (102010074)*
Evinta Carlesa (102010117)*





Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida, Jakarta, Indonesia
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061, Fax. 021-5631731
Juliolorenzopenna@yahoo.co.id



JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

2

Pesandahuluan
Sistem pencernaan sering disebut sebagai sistem digestivus. Sistem ini terdiri dari
saluran pencernaan, yaitu dimulai dari mulut, faring, esophagus, lambung, usus halus, usus
besar, sampai ke rectum-anus. Fungsi utama system pencernaan adalah untuk memindahkan
zat gizi atau nutrient (setelah memodifikasinya), air, dan elektrolit dari makanan yang kita
makan ke dalam lingkungan internal tubuh. Makanan yang dipakai penting sebagai sumber
energy yang kemudian digunakan oleh sel dalam menghasilkan ATP untuk menjalankan
berbagai aktivitas bergantung energy, misalnya transportasi aktif, kontraksi, sintesis, dan
sekresi. Makanan juga merupakan sumber bahan untuk perbaikan, pembaharuan, dan
penambahan jaringan tubuh.

Untuk mempertahankan homeostasis, molekul-molekul nutrien yang sudah habis terpakai
untuk menghasilkan energi harus secara terus menerus diganti oleh nutrien baru yang kaya-
energi. Sistem pencernaan berperan dalam homeostasis dengan memindahkan nutrien, air,
dan elektrolit dari lingkungan eksternal ke lingkungan internal. Tindakan makan tidak secara
otomatis menyebabkan molekul organik yang terdapat di makanan tersedia bagi sel untuk
digunakan sebagai sumber bahan bakar atau sebagai bahan pembangun. Mula-mula makanan
harus dicerna atau diuraikan menjadi molekul-molekul kecil-ringkas yang dapat diserap dari
saluran pencernaan ke dalam sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke sel-sel. Dalam keadaan
normal, sekitar 95% dari makanan yang masuk tersedia untuk digunakan oleh tubuh.

Anatomi
Dinding abdomen
Dinding abdomen dibentuk oleh lapisa-lapisan yang berturut-turut dari superfisial ke
profundus yang terdiri atas kulit, jaringan subkutan, otot dan fasianya, jaringan
ekstraperitoneal, dan peritoneum. Dinding abdomen membungkus suatu ruangan, disebut
kavum abdominalis. Dinding abdomen bagian ventrolateral terutama dibetuk oleh lapisan-
lapisan otot. Otot-otot dinding abdomen pada bagian median membentuk suatu aponeurosis
yang berjalan dari prosesus xifoideus menuju simfisis pubis. Aponeurosis ini tampak sebagai
garis yang disebut linea alba. Bagian yang membentuk dinding abdomen (membatasi rongga
abdomen) adalah sebagai berikut.
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

3
1. Superior
Diafragma yang memisahkan rongga abdomen dari rongga toraks.
2. Inferior
Rongga abdomen melanjurkan diri menjadi rongga pelvis melalui pintu atas panggul.
3. Anterior
Bagian atas dibentuk oleh bagian bawah kavum toraks, sedangkan bagian bawah oleh
otot dan fasia rektus abdominis, m.abdominis eksternus oblik, m.abdominis internus
oblik, dan m.abdominis transversus.
4. Posterior
Dibentuk oleh vertebrae jumbalis dan otot yang terdiri atas m.psoas mayor, m.psoas,
m.kuadratus lumborum oblik, dan m.abdominis transversus.
5. Lateral
Bagian atas dibentuk oleh bagian bawah dinding toraks, dan bagian bawah dibentuk
oleh m.abdominis eksternus oblik, m.abdominis internus oblik, dan m.abdominis
tranversus.
1

Trauma abdomen
Trauma tumpul abdomen adalah cedera atau perlukaan pada abdomen tanpa penetrasi
ke dalam rongga peritoneum, dapat diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi
(perlambatan), tusukan benda tajam, atau kompresi. Trauma tumpul kadang tidak
memberikan kelainan yang jelas pada permukaan tubuh tetapi dapat mengakibatkan kontusi
atau laserasi jaringan atau organ di bawahnya. Benturan pada trauma tumpul abdomen dapat
menimbulkan cedera pada organ berongga berupa perforasi atau pada organ padat berupa
perdarahan. Cedera deselerasi sering terjadi pada kecelakaan lalu lintas karena setelah
tabrakan badan masih melaju dan tertahan suatu benda keras sedangkan bagian tubuh yang
relatif tidak terpancang bergerak terus dan mengakibatkan robekan pada organ tersebut. Pada
intraperitoneal, trauma tumpul abdomen paling sering menciderai organ limpa (40-55%), hati
(35-45%), dan usus halus (5-10%). Sedangkan pada retroperitoneal, organ yang paling sering
cedera adalah ginjal, dan organ yang paling jarang cedera adalah pankreas dan ureter.
Intestinum tenuae (usus halus)
Intestinum tenuae merupakan bagian yang terpanjang dari saluran pencernaan dan terbentang
dari pylorus pada gaster sampai juncture ileocaecalis. Sebagian besar pencernaan dan
absorpsi makanan berlangsung di dalam intestinum tenue. Intestinum tenue terbagi atas tiga
bagian: duodenum, jejunum, dan ileum.
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

4

Duodenum
Duodenum merupakan saluran berbentuk huruf C dengan panjang sekitar 10 inci (25cm)
yang merupakan organ penghubung gaster dengan jejunum. Duodenum adalah organ penting
karena merupakan tempat muara dari ductus pancreaticus. Duodenum melengkung di sekitar
caput pancratis. Satu inci (2,5cm) pertama duodenum menyerupai gaster, yang permukaan
anterior dan posteriornya diliputi oleh peritoneum dan mempunyai omentum minus yang
melekat pada pinggir bawahnya. Bursa omentalis terletak di belakang segmen yang pendek
ini. Sisa duodenum yang lain terletak retroperitoneal, hanya sebagian saja yang diliputi oleh
peritoneum.

Duodenum terletak pada region epigastrica dan umbilicalis dan untuk tujuan deskripsi dibagi
menjadi empat bagian:
1. Pars superior duodenum.
Pars superior duodenum panjangnya 2 inci (5cm), mulai dari pylorus dan berjalan ke
atas dan belakang pada sisi kanan vertebra lumbalis I. Jadi bagian ini terletak pada
planum transpyloricum.
2. Pars descendes duodenum.
Bagian kedua duodenum panjangnya 3 inci (8cm) dan berjalan vertical ke bawah di
depan hilus renale dextra, di sebelah kanan vertebra lumales II dan III. Kira-kira
pertengahan arah ke bawah, pada margo medialis, ductus choledocus dan ducutus
pancreaticus menembus dinding duodenum. Kedua ductus ini bergabung untuk
membentuk ampula hepatopancreatica yang akan bermuara pada papilla duodeni
major. Ductus pancreaticus acessorius, bila ada, bermuara ke dalam duodenum sedikit
lebih tinggi, yaitu pada papilla duodeni minor.
3. Pars horizontalis duodenum
Pars horizontalis duodenum panjangnya 3 inci (8cm) dan berjalan horizontal ke kiri
pada planum subcostale, berjalan di depan columna vertebralis dan mengikuti pinggir
bawah caput pancreatis.
4. Pars ascendens duodenum.
Pars ascendens duodenum panjangnya 2 inci (5cm) dan berjalan ke atas dan ke kiri ke
flexura duodenojejunalis. Flexura ini difiksasi oleh lipatan peritoneum, ligamentum
Treitz, yang melekat pada crus dextrum diaphragm.

JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

5
Pendarahan
Arteri: Setengah bagian atas duodenum diperdarahi oleh arteri pancreaticoduodenalis
superior, cabang arteri gastroduodenalis. Setengah bagian bawah diperdarahi oleh arteri
pancreaticoduodenalis inferior, cabang arteri mesenterica superior.
Vena: Vena pancreaticoduodenalis superior bermuara ke vena porta hepatic, vena
pancreaticoduodenalis inferior bermuara ke vena mesenterica superior.

Persarafan
Saraf-saraf berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari plexus coeliacus dan
plexux mesentericus superior.
2

Jejenum dan Ileum
Jejenum dan ileum panjangnya 20 kaki (6meter), dua per lima bagian atas merupakan
jejunum. Masing-masing bagian mempunyai gambaran yang berbeda, tetapi tedapat
perubahan yang bertahap dari bagian yang satu ke bagian yang lain. Jejenum dimulai pada
juncture duodenojejenalis dan ileum berakhir pada juncture ileocaecalis.

Lengkung-lengkung jejunum dan ileum dapat bergerak dengan bebas dan melekat pada
dinding posterior abdomen dengan perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas dan
dikenal sebagai mesenterium. Pinggir bebas lipatan yang panjang meliputi usus halus yang
bebas bergerak. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai peritoneum parietale
pada dinding posterior abdomen sepanjang garis yang berjalan ke bawah dan ke kanan dari
sisi kiri vertebra lumbalis II ke daerah articulation sacroiliaca dextra. Radix mesenterii ini
memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesenterica superior,
pembuluh kimf, serta saraf-saraf ke dalam ruangan di antara kedua lapisan peritoneum yang
membentuk mesenterium.

Pada orang hidup, jejenum dapat dibedakan dari ileum berdasarkan gambaran berikut ini:
1. Lengkung-lengkung jejunum terletak pada bagian atas cavitas peritonealis di bawah
sisi kiri mesocolon transversum; ileum terletak pada bagian bawah cavitas peritonealis
dan di dalam pelvis.
2. Jejenum lebih besar, berdinding lebih tebal, dan lebih merah dibandingkan ileum.
Dinding jejunum terasa lebih tebal, karena lipatan yang lebih permanen pada tunica
mucosa, plicae circulars lebih besar, lebih banyak, dan tersusun lebih rapat pada
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

6
jejunum; sedangkan pada bagian atas ileum plica circulars lebih kecil dan lebih
jarang; dan di bagian bawah ileum tidak ada plicae circulars.
3. Mesenterium jejunum melekat pada dinding posterior abdomen di atas dan kiri aorta,
sedangkan mesenterium ileum melekat di bawah dan kanan aorta.
4. Pembuluh darah mesenterium jejunum hanya membentuk satu atau dua arcade dengan
cabang-cabang panjang dan jarang yang berjalan ke dinding intestinum tenue. Ileum
menerima banyak pembuluh darah pendek yang berasal dari tiga atau empat atau lebih
arcade.
5. Pada ujung mesenterium jejunum, lemak disimpan dekat radix dan jarang ditemukan
di dekat jejunum. Pada ujung mesenterium ileum, lemak disimpan di seluruh bagian
sehingga lemak ditemukan mulai dari radix sampai dinding ileum.
6. Kelompok jaringan limfoid (lempeng peyeri) terdapat pada tunica mucosa ileum
bagian bawah sepanjang pinggir antimesenterica. Pada orang hidup, lempeng peyeri
dapat dilihat dari luar pada dinding ileum.

Pendarahan
Arteri: Pembuluh arteri yang mendarahi jejunum dan ileum berasal dari cabang-cabang
mesenterica superior. Cabang-cabang interstinal berasal dari sisi kiri arteri dan berjalan di
dalam mesenterium untuk mencapai usus. Pembuluh-pembuluh ini beranastomosis satu
dengan yang lain untuk membentuk serangkaian arcadae. Bagian paling bawah ileum
diperdarahi juga oleh arteri ileocolica.
Vena: Vena sesuai dengan cabang-cabang areteri mesenterica superior dan mengalirkan
darahnya ke dalam vena mesenterica superior.

Aliran limf
Pembuluh limf berjalan melalui banyak nodi mesenterica dan akhirnya mencapai nodi
mesenterici superior yang terletak di sekitar pangkal arteri mesenterica superior.

Persarafan
Saraf-saraf berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (n.vagus) plexus mesentericus
superior.
2

Intestinum crassum (usus besar)
Intestinum crassum terbentang dari ileum sampai anus. Intestinum crassum terbagi menjadi
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

7
caecum, appendix vermiformis, colon ascendens, colon transversum, colon descendens, dan
colon sigmoideum. Fungsi utama intestinum crassum adalah mengabsorbsi air dab elektrolit
dan menyimpan bahan yang tidak dicerna sampai dapat dikeluarkan dari tubuh sebagai feces.

Caecum
Caecum adalah bagian intestinum crassum yang terletak di perbatasan ileum dan intestinum
crassum. Caecum merupakan kantong buntu yang terletak pada fossa iliaca dextra. Panjang
caecum sekitar 2,5 inci (6cm) dan seluruhnya diliputi oleh peritoneum. Caecum mudah
bergerak, walaupun tidak mempunyai mesenterium. Adanya lipatan peritoneum di sekitar
caecum membentuk recessus ileocaecalis superior, recessus ileocaecalis inferior, dan recessus
retrocaecalis.

Seperti pada colon, stratum longitudinal tunica muscularis terbatas pada tiga pita tipis yaitu
taenia coli yang bersatu pada dasar appendix vermiformis dan membentuk stratum
longitudinal tunica muscularis yang semourna pada appendix vermiformis. Caecum sering
teregang oleh gas dan dapat diraba melalui dinding anterior abdomen pada orang hidup.

Pars terminalis ileum masuk ke intestinum crassum pada tempat pertemuan caecum dengan
colon ascendens. Lubangnya mempunyai dua katup yang membentuk sesuatu yang
dinamakan papilla ilealis. Appendix vermiformis berhubungan dengan rongga caecum
melalui lubang yang terletak di bawah dan belakang ostium ileale.

Pendarahan
Arteri: Arteri caecalis anterior dan arteri caecalis posterior membentuk arteri ileocolica,
sebuah cabang arteri mesenterica superior.
Vena: Vena mengikuti arteri yang sesuai dan mengalirkan darahnya ke vena mesenterica
superior.

Aliran limf
Pembuluh limf berjalan melalui beberapa nodi senterici dan akhirnya mencapai odi
mesenterici superior.

Persarafan
Saraf-saraf berasal dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (n.vagus) membentuk
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

8
plexus mesentericus superior.
2

Appendix Vermiformis
Appendix vermiformis adalah organ sempit, berbentuk tabung yang mempunyai otot dan
mengandung banyak jaringan limfoid. Panjang appendix vermiformis bervariasi dari 3-5 inci
(8-13 cm). Dasarnya meleka pada permukaan posteromedial caecum, sekitar 1 inci (2,5 cm)
di bawah juncture ileocaecalis. Bagian appendix vermiformis lainnya bebas. Appendix
vermiformis diliputi seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah
mesenterium intestinum tenue melalui mesenteriumnya sendiri yang pendek, mesoappendix.
Messoappendix berisi arteri, vena appendicularis dan saraf-saraf.

Appendix vermiformis terletak di region iliaca dextra, dan pangkal diproyeksikan ke dinding
anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis yang menghubungkan spina iliaca anterior
superior dan umbilicus (titik McBurney). Di abdomen, dasar appendix vermiformis mudah
ditemukan dengan mencari taeniae coli caecum dan mengikutinya sampai dasar appendix
vermiformis, tempat taeniae coli bersatu membentuk tunica muscularis longitudinal yang
lengkap.

Pendarahan
Arteri: Arteri appendicularis merupakan cabang arteri caecalis posterior. Arteri ini berjalan
menuju ujung appendix vermiformis di dalam meso-appendix.
Vena: Vena appendicularis mengalirkan darahnya ke vena caecalis posterior.

Aliran limf
Pembuluh limf mengalirkan cairan limf ke satu atau dua nodi yang terletak di dalam
mesoappendix dan dari sini dialirka ke nodi mesenterici superior.

Persarafan
Saraf-saraf berasal dari cabang-cabang saraf simpatis dan parasimpatis (n.vagus) dari plexus
mesentericus superior. Serabut saraf aferen yang menghantarkan rasa nyeri visceral dari
appendix vermiformis berjalan bersama saraf simpatis dan masuk ke medulla spinalis
setinggi vertebra thoracica X.
2

Colon Ascendens
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

9
Panjang colon ascendens sekitar 5 inci (13cm) dan terletak di kuadran kanan bawah. Colon
ascendens membentang ke atas dari caecum sampai permukaan inferior lobus hepatis dexter,
lalu colon ascendens membelok ke kiri, membentuk flexura coli dextra, dan melanjutkan diri
sebagai colon transversum. Peritoneum meliputi bagian depan dan samping colon ascendens
dengan dinding posterior abdomen.

Colon transversum
Panjang colon transversum sekitar 15 inci (38cm) dan berjalan menyilang abdomen,
menempati region umbilicalis. Colon transversum mulai dari flexura coli dextra di bawah
lobus hepatis dexter dan tergantung ke bawah oleh mesocolon transversum dari pancreas.
Kemudian colon transversum berjalan ke atas sampai flexura coli sinistra di bawah lien.
Flexura coli sinistra lebih tinggi daripada flexura coli dextra dan digantung ke diaphragm
oleh ligamentum phrenicocolicum.

Mesencolon transcersum menggantungkan colon transversum dari facies anterior pancreas.
Mesocolon transversum dilekatkan pada pinggir superior colon transversum, dan lapisan
posterior omentum majus dilekatkan pada pinggir inferior. Karena mesocolon transversum
sangat panjang, posisi colon transversum sangat bervariasi dan kadang-kadang dapat
mencapai pelvis.

Colon Descendens
Panjang colon descendens sekitar 10 inci (25cm) dan terletak di kuadaran kiri atas dan
bawah. Colon ini berjalan ke bawah dari flexura coli sinistra sampai pinggir pelvis, di sini
colon transversum melanjutkan diri menjadi colon sigmoideum. Peritoneum meliputi
permukaan depan dan sisi-sisinya serta menghubungkannya dengan dinding posterior
abdomen.

Colon sigmoideum
Mulai pada aperture pelvis superior dan merupakan lanjutan colon descendens. Colon ini
tergantung ke bawah ke dalam cavitas pelvis dalam bentuk sebuah lengkung. Colon
sigmoideum beralih menjadi rectum di depan os sacrum.
2
Histologi
Usus Halus
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

10
Usus halus merupakan bagian tractus digestivus di antara ventriculus dan intestinum
crassum, seluruhnya ada sekitar 6 meter panjangnya. Intestinum tenue atau usus halus ini
dibedakan dalam 3 segmen berturut-turut yaitu:
- Duodenum
Panjang sekitar 30cm, letak retroperitoneal yang tertutup oleh peritoneum parietale di
sebelah ventralnya.
a. Tunika mukosa diliputi epitel selapis torak yang mempunya mikrovili (brush borders). Di
antara sel epitel ada sel goblet yang jumlahnya disini belum begitu banyak. Tunika
mukosa membentuk vili intenstinalis yang gemuk-gemuk. Lamina propria terdapat
dibawah epitel vili intenstinalis maupun disekitar kriptus Lieberkhun. Di dasar kriptus
dapat ditemukan dapat ditemukan sel Paneth, suatu sel berbentuk kerucut dengan
puncaknya menghadap lumen. Di dalam sitoplasmanya terdapat granula kasar berwarna
merah.
3

b. Tunika submukosa dipenuhi oleh kelenjar Brunner. Tunika mukosa dan submukosa
bersama-sama membentuk plika sirkularis Kerckringi. Plika ini berfungsi untuk
memperluas permukaan usus. Terdapat 800 lipatan melingkar sabagai cincin yang tidak
sempurna di sepanjang intestinum. Pleksus submukosus Meissneri juga dapat ditemukan
disini.
3

c. Tunika muscularis, terdiri atas 2 lapisan serabut otot polos :
Stratum circulare di sebelah dalam.
Stratum longitudinal di sebelah luar.
Diantara kedua lapisan tersebut terdapat plexus myentericus Aurbach.
3

d. Tunika serosa, merupakan jaringan pengikat longgar sebagai lanjutan peritoneum
visceral.

- Jejunum
a. Tunika mukosa jejunum gambarannya mirip duodenum tetapi vili intenstinalisnya lebih
langsing dan sel gobletnya lebih banyak. Sel paneth lebih mudah dikenali.
3

b. Tunika submukosa disini tidak mengandung kelenjar. Hanya terdiri atas jaringan ikat
jarang dengan pleksus Meissneri di dalamnya. Lapisan ini juga membentuk plika sirkularis
Kerckringi.
c. Tunika muskularis susunannya sama seperti pada duodenum.
d. Tunika serosa berupa jaringan ikat jarang.

JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

11
- Ileum
a. Tunika mukosa mirip dengan jejunum, tetapi sel goblet jauh lebih banyak. Di lamina
propria terdapat kelompokan nodulus limfatikus yang membentuk bangunan khusus
disebut plaque payeri. Kelompokan nodulus ini sering terlihat meluas ke dalam tunika
submukosa sehingga sering menjadikan tunika muskularis mukosa terpenggal-penggal.
b. Tunika submukosa terdiri atas jaringan ikat jarang dengan pleksus Meissneri di
dalamnya. Disini juga tidak terdapat kelenjar. Plika sirkularis Kerckringi tampak lebih
pendek dibanding yang terdapat di duodenum dan jejunum.
c. Tunika muskularis, gambarannya sama seperti duodenum dan jejunum.
d. Tunika serosa juga terdiri atas jaringan ikat jarang.

1. Usus Besar
a. Tunica mukosa, tidak mempunyai villi intestinalis, epitel berbentuk silindris selapis
dengan sel piala. Banyak ditemukan sel argentafin dan kadang-kadang sel paneth. Lamina
propria hampir seluruhnya terisi oleh jaringan limfoid dengan adanya pula nodulus
Lymphaticus yang tersusun berderet-deret sekeliling lumen. Diantaranya terdapat crypta
lieberkuhn. Lamina muskularis mukosa, sangat tipis dan terdesak oleh jaringan limfoid
dan kadang-kadang terputus-putus.
b. Tunica submucosa tebal, biasanya mengandung sel-sel lemak dan infiltrasi limfosit yang
merata. Di dalam jaringan tunica submucosa terdapat anyaman pembuluh darah dan saraf.
c. Tunica muskularis walaupun tipis, tapi masih dapat dibedakan adanya lapisan dua
lapisan.
d. Tunica serosa mempunyai struktur yang tidak berbeda dengan yang terdapat pada
intestinum tenue. Kadang-kadang pada potongan melintang dapat diikuti pula
mesoappendix yang merupakan alat penggantung sebagai lanjutan peritoneum viscerale.

Mekanisme sistem pencernaan
Saluran gastrointestinal (GI) bertanggung jawab untuk memecah makanan menjadi berbagai
bagian komponen sehingga dapat diabsorbsi oleh tubuh. Saluran gastrointestinal ini terdiri
dari mulut, esophagus, lambung, usus halus, dan usus besar. Kelenjar saliva, hati, kandung
empedu, dan pancreas merupakan organ yang berbeda dari saluran gastrointestinal, tetapi
semuanya menyekresi cairan ke dalam saluran gastrointestinal dan membantu pencernaan dan
absorpsi makanan.

JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

12
Berbagai regio yang berbeda pada saluran gastrointestinal berkaitan dengan motilitas
(transport), penyimpanan, pencernaan (digesti), absorpsi, dan eliminasi sisa pencernaan.
Fungsi-fungsi saluran gastrointestinal ini dikontrol melalui mekanisme regulasi neuronal,
hormonal, dan local.
4
Sistem gastrointerstinal merupakan pintu gerbang untuk masuknya bahan makanan, vitamin,
mineral dan cairan ke dalam tubuh. Protein, lemak, dan karbohidrat kompleks diuraikan
menjadi unit-unit yang dapat diserap (dicernakan), terutama di dalam usus halus. Hasil-hasil
pencernaan dan vitamin, mineral, dan air menembus mukosa dan masuk ke dalam limfe atau
darah (penyerapan).

Pencernaan bahan-bahan makanan utama merupakan proses yang teratur yang melibatkan
kerja sejumlah besar enzim-enzim pencernaan. Enzim-enzim kelenjar saliva dan kelencar
lingualis mencerna karbohidrat dan lemak; dan enzim-enzim lambung mencerna protein dan
lemak; dan enzim-enzim yang berasal dari bagian eksokrin pancreas mencerna karbohidrat,
protein, lemak, DNA, dan RNA. Enzim-enzim lainnya yang melengkapi proses pencernaan
ditemukan di dalam membrane luminal dan sitoplasma sel-sel dinding usus halus. Kerja
berbagai enzim tersebut dibantu oleh enzim asam hidroklorida yang disekresikan lambung
dan empedu yang disekresi hepar.

Sel-sel mukosa di usus halus dinamakan enterosit. Di usus halus sel tersebut mempunyai
brush border yang terdiri atas sejumlah besar mikrovili yang menutupi permukaan apikalnya.
Di dalam mikrovili ini terdapat banyak enzim. Di sisi bagian luminal terdapat lapisan yang
kaya akan gula netral dan gula amino, yaitu glikokaliks. Membran sel-sel mukosa
mengandung enzim-enzim glikoprotein yang menghidrolisis karbohidrat dan peptide, dan
glikokaliks tersebut dibuat di bagian gugus karbohidrat glikoprotein yang meluas ke dalam
lumen usus halus. Berdekatan dengan brush border dan glikokaliks terdapat suatu lapisan
statis yang mirip dengan lapisan yang berbatasan dengan membrane biologic lainnya. Zat-zat
terlarut harus berdifusi melalui lapisan ini untuk mencapai sel-sel mukosa. Lapisan mucus
yang menutupi sel-sel juga merupakan penghalang yang bermakna bagi difusi.
5

Usus Halus
Terbagi menjadi tiga segmen yaitu duodenum, jejenum dan ilieum. Pada usus halus ini terjadi
sebagian besar pencernaan dan penyerapan. Motilitas pada usus halus adalah segmentasi,
metode motilitas utama usus halus yaitu proses mencampur dan mendorong secara perlahan
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

13
kimus dengan cara kontraksi bentuk cincin otot polos sirkuler di sepanjang usus halus,
diantara segmen yang berkontraksi terdapat daerah yang berisi kimus. Cincin-cincin
kontraktil timbul setiap beberapa sentimeter, membagi usus halus menjadi segmen-segmen
seperti rantai sosis. Segmen-segmen yang berkontraksi, setelah jeda singkat, melemas dan
kontraksi kontraksi berbentuk cincin kemudian muncul di daerah yang semula melemas.
Perjalanan isi usus biasanya memerlukan waktu 3-5 jam untuk melintasi seluruh panjang usus
halus, sehingga tersedia cukup waktu untuk berlangsungnya proses pencernaan dan
penyerapan.

Sekresi usus halus, kelenjar brunner di duodenum mensekresikan mukus alkalis kental yang
membantu melindungi mukosa duodenum dari asam lambung. Rangsang vagus
meningkatkan sekresi kelenjar brunner tetapi mungkin tidak menimbulkan efek pada kelenjar
usus. Selain itu, juga terdapat sekresi HCO3- dalam jumlah yang cukup banyak yang
independen terhadap kelenjar brunner. Setiap hari kelenjar eksokrin yang terletak di mukosa
usus halus mengeluarkan 1,5 liter larutan garam dan mukus cair (succus entericus).

Pencernaan di dalam lumen usus halus dilaksanakan oleh enzim-enzim pankreas dan sekresi
empedu. Enzim pankreas meyebabkan lemak direduksi menjadi satuan-satuan monogliserida
dan asam lemak bebas yang dapat diserap, protein diuraikan menjadi fragmen peptida kecil
dan beberapa asam amino, dan karbohidrat direduksi menjadi disakarida dan beberapa
monosakarida. Dengan demikian proses pencernaan lemak selesai dalam lumen usus halus
tapi pencernaan protein dan karbohidrat belum. Dari permukaan luminal sel-sel epitel usus
halus terbentuk tonjolan-tonjolan seperti rambut yang disebut Brush Border, yang
mengandung tiga kategori enzim, yaitu : Enterikinase, mengaktifkan enzim pankreas
tripsinogen; disakaridase (sukrose, maltase dan laktase), yang menyelesaikan pencernaan
karbohidrat dengan menghidrolisis disakarida yang tersisa menjadi monosakarida
penyusunnya; aminopeptidase, yang menghidrolisis peptida menjadi komponen asam
aminonya, sehingga pencernaan protein selesai.

Beberapa pencernaan yang terjadi di usus halus:
a) Penyerapan Garam dan Air.
Air diabsorpsi melalui mukosa usus ke dalam darah hampir seluruhnya melalui osmosis.
Jumlah air yang diserap per harinya dari makanan adalah 2000 ml dan dari getah-getah
pencernaan sebanyak 7000 ml/ harinya. 95%nya diabsorpsi dan hanya 100-200 ml air per hari
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

14
yang dikeluarkan bersama feses. Natrium diserap secara transpor aktif dari dalam sel epitel
melalui bagian basal dan sisi dinding sel masuk ke dalam ruang paraseluler. Sebagian Na
diabsorpsi bersama dengan ion klorida, dimana ion klorida bermuatan negatif secara pasif
ditarik oleh muatan listrik positif ion natrium.
b) Penyerapan Karbohidrat.
Karbohidrat diserap dalam bentuk disakarida maltosa, sukrosa, dan laktosa. Disakaridase
yang ada di brush border menguraikan disakarida ini menjadi monosakarida yang dapat
diserap yaitu glukosa, galaktosa dan fruktosa. Glukosa dan galaktosa diserap oleh transportasi
aktif sekunder sedangkan fruktosa diserap melalui difusi terfasilitasi
c) Penyerapan Protein.
Protein diserap di usus halus dalam bentuk asam amino dan peptida, asam amino diserap
menembus sel usus halus melalui transpor aktif sekunder, peptida masuk melalui bantuan
pembawa lain dan diuraikan menjadi konstituen asam aminonya oleh aminopeptidase di
brush border atau oleh peptidase intrasel, dan masuk ke jaringan kapiler yang ada di dalam
vilus. Dengan demikian proses penyerapan karbohidrat dan protein melibatkan sistem
transportasi khusus yang diperantarai oleh pembawa dan memerlukan pengeluaran energi
serta kotransportasi Na.
d) Penyerapan Lemak.
Lemak diabsorpsi dalam bentuk monogliserida dan asam lemak bebas, keduanya akan larut
dalam gugus pusat lipid dari misel empedu, dan zat-zat ini dapat larut dalam kimus. Dalam
bentuk ini, monogliserida dan asam lemak bebas ditranspor ke permukaan mikrovili brush
border sel usus dan kemudian menembus ke dalam ceruk diantara mikrovili yang bergerak.
Dari sini keduanya segera berdifusi keluar misel dan masuk ke bagian dalam sel epitel.
Proses ini meninggalkan misel empedu tetap di dalam kimus, yang selanjutnya akan
melakukan fungsinya berkali-kali membantu absorpsi monogliserida dan asam lemak.
6


Usus Besar
Usus besar terdiri dari kolon, sekum, apendiks dan rektum. Rata-rata kolon menerima sekitar
500 ml kimus dari usus halus setiap harinya, isi usus yang disalurkan ke kolon terdiri dari
residu makanan yang tidak dapat dicerna (misal selulosa), komponen empedu yang tidak
diserap dan sisa cairan, bahan ini akhirnya yang disebut feses. Selulosa dan bahan makanan
lain yang tidak dapat dicerna membentuk sebagian besar feses dan membantu pengeluaran
tinja secara teratur karena berperan menentukan isi kolon. Gerakan usus besar umumnya
lambat dan tidak propulsif, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat absorpsi dan
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

15
penyimpanan. Motilitas yang terjadi pada kolon adalah kontraksi haustra yaitu gerakan
mengaduk isi kolon dengan gerakan maju mundur secara perlahan yang menyebabkan isi
kolon terpajan ke mukosa absortif.

Peningkatan motilitas terjadi setiap 3-4 kali sehari setelah makan yaitu terjadi kontraksi
simultan segmen-segmen besar di kolon asendens dan transversum sehingga feses terdorong
sepertiga sampai seperempat dari panjang kolon, gerakan ini disebut gerakan massa yang
mendorong isi kolon ke bagian distal usus besar sebagai tempat defekasi. Sewaktu gerakan
massa di kolon mendororng isi kolon ke dalam rektum, terjadi peregangan rektum dan
merangsang reseptor regang di dinding rektum serta memicu refleks defekasi.
6


Sewaktu makanan masuk ke lambung terjadi gerakan massa di kolon yang terutama
disebabkan oleh reflek gastrokolon yang diperantarai oleh gastrin ke kolon. Refleks ini sering
ditemukan setelah sarapan timbul keinginan kuat untuk buang air besar. Refleks gastroileum
memindahkan isi usus halus yang tersisa ke dalam usus besar dan reflek gastrokolon
mendorong isi kolon ke dalam rektum yang memacu proses defekasi. Feses di rektum
menyebabkan peregangan yang kemudian dideteksi oleh receptor di rektum terbentuklah
suatu impuls yang menunju mysenteric plexus peristaltic. Hal ini menimbulkan gelombang
pada kolon desenden dan sigmoid. Apabila sfingter anus eksternus (otot rangka) juga
melemas, terjadi defekasi. Sekresi kolon terdiri dari larutan mukus alkalis (HCO3-) yang
fungsinya adalah melindungi mukosa usus besar dari cedera kimiawi dan mekanis, juga
menghasilkan pelumasan untuk memudahkan feses lewat.

Dalam keadaan normal kolon menyerap sebagian besar garam dan air. Natrium zat yang
paling aktif diabsorpsi dan, Klorida diabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradien
listrik, dan air diabsorpsi secara osmosis.
6

Enzim Enzim yang berperan pada usus
Pada organ yang satu ini sedikitnya dijumpai 6 enzim pencernaan. Pertama, enzim
enteroksinase atau dikenal juga dengan nama enzim khusus. Ia berperan dalam mengubah
tripsinogen menjadi senyawa tripsin yang kemudian diunakan di dalam saluran pankreas kita.
Kedua, enzim maltase yang berperan mengubah laktosa menjadi senyawa glukosa dan juga
galaktosa. Ketiga, enzim sukrase yang berperan mengubah sukrosa menjadi senyawa glukosa
dan juga fruktosa. Selanjutnya ada enzim pencernaan peptidase yang berperan mengubah
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

16
polipeptida menjadi senyawa asam amino. Enzim terakhir yang dijumpai di usus adalah
enzim lipase. Ia berperan dalam mengubah lemak menjadi senyawa asam lemak dan juga
gliserol.
7

Pencernaan pada pankreas dan usus dapat terjadi karena adanya sekresi hormon sekretin pada
duodenum dan jejunum. Hormon sekretin ini disekresikan sebagai bentuk respon terhadap
adanya HCl, lemak, protein, karbohidrat dan sebagian makanan yang telah dicerna dalam
lambung. Hormon ini akan mengalir melalui darah portal menuju pankreas, empedu dan
hepar dan merangsang sekresi pankreas. Jenis-jenis sekretin antara lain pankreozimin,
hepatokrinin, kolesistokinin dan enterokrinin. Getah pankreas dihasilkan sebagai respon
terhadapa kerja sekretin. Getah pankreas umumnya kental seperti saliva, mangandung air,
protein, ssedikit senyawa organik, berbagai macam ion anorganik dan memiliki pH yang
sedikit alkalis (7,5 8). Enzim-enzim yang terdapat pada getah pankreas antara lain:
8

- Tripsin : disekresikan dalam bentuk yang tidak aktif yaitu tripsinogen. Tripsinogen
diaktifkan dalam duodenum oleh enzim enterokinase menjadi tripsin.Protease yang
bergabung dengan tripsin akan menjadi polipeptida. Pepton akan dihidrolisis pada bagian
yang mengandung asam amino lisin/arganin. Tripsin juga dapat mengkoagulasi susu pada
pH optimal 8.
- Kimotripsin : juga disekresikan dalam zymogen yaitu kimotripsinogen. Bentuk inaktif ini
akan bereaksi dengan tripsin menjadi kemotripsin. Kimotripsin bisa mengkoagulasi susu
dengan tingkat kekuatan yang lebih tinggi dibanding tripsin.
- Karboksipeptidase : merupakan enzim proteolitik yang mengandung Zink. Enzim ini
mengkatalisis hidrolisa pada ikatan peptida di ujung molekul pada sisi karboksil bebas
polipeptida.
- Amilase pankreas : bentuknya sama dengan amilase saliva. Bekerja dengan cara
menghidrolisis pati menjadi maltosa dan optimal pada pH netral.
- Lipas pankreas : bekerja dengan cara menghidrolisis lemak menjadi asam lemak, gliserol,
monogliserida dan digliserida. Aktivitasnya akan diperkuat dengan kerja garam empedu.
- Kolesterol esterase : akan mengkatalisis reaksi antara kolesterol bebas dan asam lemak
sehingga membentuk kolesterol esterase dan asam lemak. Enzim ini diaktifkan oleh
garam empedu.
- RNAase dan DNAase: mengkatalisa asam nukleat menjadi nukleotida.
Pada proses pencernaan lemak, ada suatu zat yang penting yang turut berperan selain lipase
pankreas. Zat tersebut ialah empedu. Empedu disekresikan oleh hati dan bila tidak diperlukan
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

17
akan disimpan sementara di kantung empedu. Empedu mengandung asam yaitu asam kolat,
asam deoksikolat, asam kenodeoksikolat dan asam litokolat. Asam empedu dapat
berkonjugasi dengan asam amino glisin atau taurin padu gugus karboksil sehingga dapat larut
dalam air.

Fungsi empedu antara lain adalah sebagai berikut:
- Emulsifikasi : dengan cara menurunkan tegangan permukaan air, garam empedu dapat
mengemulsi lemak dalam usus sehingga lipase dapat bekerja dengan lebih baik. Garam
empedu juga membantu agar vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E, dan K) dapat
membentuk senyawa kompleks yang lebih mudah larut dalam air.
- Netralisasi : empedu dapat menetralkan kimus yang berasal dari asam lambung.
- Ekskresi : Kolesterol yang berasal dari makanan / disentesis dalam tubuh dapat
disekresikan melalui empedu.
- Metabolisme pigmen empedu : pemecahan hemoglobin menghasilkan pigmen empedu
yaitu bilirubin yang akan disekresikan melalui empedu. Bahan ini akan diabsorbsi di
gasto-intestinal track yaitu pada sel epitel mukosa usus halus.

Sedangkan pada lambung tidak terjadi absorbsi kecuali alkohol. Pencernaan pada usus adalah
dengan cara mensekresikan beberapa enzim yang akan terdapat pada mikrovili intestinal.
Selain sekresi enzim, ada pula sekresi getah usus halus oleh kelenjar Brunner dan Lieberkuhn
untuk membentu menetralkan keasaman kimus dari lambung.
8


Adapun enzim yang diekskresi adalah di usus halus adalah:
- Aminopeptidase : mengubah polipeptida menjadi asam amino dan peptida dengan ikatan
yang lebih pendek dengan cara katalisa hidrolisis ikatan peptida di ujung molekul di sisi
yang mengandung asam amino bebas.
- Dipeptidase : mengubah peptida menjadi asam amino.
- Disakaridase : yaitu sukrase, maltase, isomaltase dan laktase. Mengubah disakarida
menjadi monosakarida.
- Fosfatase : melepaskan fosfat dari senyawa fosfat organik yang berasal dari makanan
seperti hexofosfat, gliserofosfat dan nukleotida.
- Polinukleotidase : mengubah asam nukleat menjadi nukleotida.
- Nukleosida (nukleosida fosforilase) mengkatalisis perubahan nukleosida menjadi
fosforilasi pentosa, uridin, sistidin dan timidin.
JulioLorenzoPenna@yahoo.co.id

18
- Lesitinase mengubah lesitin menjadi gliserol, asam lemak, asam fosfat dan kolin.

Setelah diubah menjadi bentuk yang paling sederhana, maka molekul hasil pencernaan
makanan akan diabsorbsi dengan jalan menggunakan difusi, transpor aktif, sitotaksis, dan
persorpsi. Makanan yang diabsorsi kemudian akan melalui dua jalan yaitu melalui vena porta
menuju ke hati dan melalui pembuluh limfe di sekitar usus lalu menuju duktus thoracicus dan
berakhir di darah.

Kesimpulan
Seorang laki - laki menderita luka tusuk di kuadran kanan bawah. Kuadran kanan
bawah merupakan daerah dimana appendix, caecum, colon ascendens berada. Sehingga luka
tusuk tersebut mengenai bagian dari usus yang berada di kuadran kanan bawah dan dapat
mengakibatkan terganggunya proses pencernaan pada Usus.
Daftar Pustaka
1. Watson R. Anatomi dan fisiologi. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta: 2009. H.
206
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi 6. Liliana Sugiharto,
editor. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2006: 207-33
3. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2004.h.218-47.
4. Ward JP, Clarke RW, Linden RW. At an glance fisiologi. Alih bahasa, Indah Retno.
Jakarta: Erlangga; 2009: 75
5. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 17. Alih bahasa, Djauhari
widjajakusumah. Jakarta: EGC; 1998: 458
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke system. Edisi ke-6. Jakarta:
EGC;2011.h.641-92
7. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar. Jakarta : EGC;2000.p.381-5
8. Guyton AC, Hall JE.Buku ajar fisiologi kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC; 2007