Anda di halaman 1dari 5

Hukum Faraday

*PERCOBAAN FARADAY
Setelah Oersted memperlihatkan di tahun 1820 bahwa sebuah arus listrik dapat
mempengaruhi jarum sebuah kompas, Faraday menarik hipotesis bahwa jika sebuah arus
dapat menghasilkan medan magnet, maka sebaliknya sebuah medan magnet pun dapat
menghasilkan arus. Konsep medan pada saat itu belum dikenal, dan sasaran Faraday adalah
membuktikan bahwa sebuah arus dapat dihasilkan dari magnetisme.
Ia berkutat seputar permasalahan ini secara putus-sambung selama periode waktu10 tahun,
hingga akhirnya berhasil tahun 1981. Ia melilitkan dua kumparan yang terpisah ke ujung
ujung kumparan sebuah inti toroida besi yang sama, kemudian menyambungkan sebuah
galvanometer ke ujung-ujung kumparan yang satu membentuk rangkaian tertutup pertama
dan sebuah baterai ke ujung-ujung kumparan lainnya membenuk rangkaian tertutup kedua.
Sejenak setelah rangkaian yang tersambung ke baterai ditutup, Faraday memperhatikan
terjadinya penyimpangan sesaat pada jarum galvanometer. Penyimpangan serupa ke arah
yang berlawanan terjadi ketika baterai dilepaskan dari rangkaian. Percobaan ini adalah
eksperimen pertamanya yang melibatkan medan magnet yang berubah arah, dan hal ini
diikuti oleh pembuktian Faraday bahwa sebuah medan magnet bergerak atau sebuah
kumparan bergerak juga akan mengakibatkan simpangan pada jarum galvanometer.
Karena arus yang ditimbulkan disebabkan oleh induksi maka arus tersebut dinamakan
sebagai arus induksi. Sedangkan induksi yang menyebabkan arus induksi disebut induksi
elektromagnetik.
Arah arus induksi dapat ditentukan dengan menggunakan Hukum Lorentz yang berbunyi:
arah arus induksi di dalam suatu penghantar selalu demikian sehingga menghasilkan medan
magnet yang menentang perubahan garis gaya atau sebab-sebab yang menimbulkannya.
Sehingga:
- jika kumparan didekati dengan kutub Utara magnet, maka terjadi arus induksi yang arahnya
berlawanan dengan arah putaran jarum jam.
- jika kutub Utara medan magnet dijauhikan dari kumparan, maka arah arus induksinya sama
dengan arah putaran jarum jam.
Jika jumlah garis gaya magnet yang masuk ke dalam kumparan berubah-ubah banyaknya,
maka akan terjadi beda potensial antara ujung-ujung kumparan. Beda tegangan yang
demikian dinamakan gaya gerak listrik induksi ( GGL induksi) dan arus yang terjadi disebut
arus induksi atau arus imbas.


*HUKUM FARADAY
Dalam konteks medan, kita dapat mengatakan bahwa sebuah medan magnet yang berubah
terhadap waktu akan menghasilkan sebuah gaya gerak listrik (ggl), yang pada gilirannya akan
membangkitkan arus jika terdapat sebuah rangkaian tertutup yang memadai. Gaya gerak
listrik pada dasarnya adalah tegangan yang timbul karena pergerakan konduktor berarus di
dalam sebuah medan magnet, atau karena adanya medan yang berubah-ubah.
Hukum Faraday yang berbunyi:
GGL induksi yang timbul antara ujung-ujung suatu loop penghantar berbanding lurus
dengan laju perubahan fluks magnetik yang dilingkupi oleh loop penghantar tersebut.



INDUKSI ELEKTROMAGNETIKGGL INDUKSI

Selamat berjumpa kembali dengan Cara Pintar Fisika, kali ini kita belajat tentang Induksi
Elektromagnetik dan GGL Induksi. Pelajaran kita kali ini mencakup Fluks Magnet, Hukuk Faraday,
Hukum Lenz, Hukum Henry serta aplikasi GGL Induksi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:
Transformator, Generator dan Induktor. Selamat belajar.

A. FLUKS MAGNET
Fluks magnetik (\small \Phi ) didefinisikan sebagai jumlah garis gaya
magnetik yang menembus tegak lurus suatu bidang kumparan. Berdasarkan operasi vektor, fluks
magnetik didefinisikan sebagai perkalian skalar antara vektor induksi magnetik B dengan vektor luas
bidang A. Besarnya fluks magnetik adalah : \small \Phi =AB\cos \theta
dimana: \small \Phi = fluks magnetik (Wb),
B = medan magnet (T); N = garis normal
\theta = sudut antara B dan N; A = luas bidang (m^{2})

B. GGL INDUKSI HUKUM FARADAY
Batang magnet di masukkan ke dalam kumparan, dan selama
gerakan magnet batang jarum galvanometer menyimpang dari kedudukan semula. Pada saat
magnet berhenti bergerak, jarum galvanometer kembali ke kedudukan semula. Pada saat magnet
ditarik, jarum galvanometer menyimpang lagi dari kedudukan semula, tetapi arahnya berlawanan
dengan pada saat magnet mendekati kumparan. Ini menunjukkan bahwa dalam rangkain terjadi arus
listrik (arus induksi) akibat beda tegangan yang disebut GGL induksi.

Hukum Faraday menyatakan bahwa : besar GGL induksi yang terjadi dalam kumparan berbanding
lurus dengan cepat perubahan fluks magnetik yang dilingkupinya. Jadi besarnya GGL induksi pada
sebuah kumparan dengan N buah lilitan adalah : \varepsilon = - N.\frac{d\Phi }{dt}= - N.A.\frac{dB
}{dt}
N = banyak lilitan kumparan; \frac{d\Phi }{dt} = laju perubahan fluks magnetik

C. ARAH ARUS INDUKSI (HUKUM LENZ)
Hukum Lens berbunyi : Arus induksi mengalir pada penghantar atau kumparan dengan arah
berlawanan dengan gerakan yang menghasilkannya atau medan magnet yang ditimbulkannya
melawan perubahan fluks magnet yang menimbulkannya.

Jika sebuah kawat lurus di gerakkan dengan kelajuan tertentu
memotong medan magnet homogen, maka antara ujung-ujung penghantar timbul beda potensial
yang disebut Gaya Gerak Listrik (GGL) induksi. Jika ujung-ujung kawat dihubungkan sehingga
terbentuk rangkaian tertutup, maka dalam kawat akan mengalir arus listrik yang disebut arus
induksi. Jika kawat digerakkan dengan kecepatan v ke kanan dalam medan magnet B yang arahnya
masuk bidang, maka timbul gaya Lorent ke kiri.sehingga arah arus listrik ke atas, seperti gambar.
Besarnya GGL induksi pada ujung-ujung kawat adalah :\varepsilon = B.L.v \sin \theta
Pada kawat akan mengalir arus induksi yang besarnya :i=\frac{\varepsilon}{R}
\epsilon =GGL induksi (Volt)
B = induksi magnet (T); L = panjang kawat (m); v = kecepatan gerak kawat (m/s)
i = arus induksi (A); R = hambatan kawat (\Omega = ohm); \theta = sudut antara v dan B

D. PENERAPAN INDUKSI ELEKTROMAGNETIK

1. Generator listrik
Generator adalah alat untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik.
Generator ada dua jenis yaitu generator arus searah (DC) atau dynamo dan generator arus bolak-
balik (AC) atau alternator. Generator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik yaitu
dengan memutar suatu kumparan dalam medan magnet sehingga timbul GGL induksi.
Jika kumparan dengan N buah lilitan diputar dengan kecepatan sudut w, maka GGL induksi yang
dihasilkan oleh generator adalah : \varepsilon =B.A.\omega .N.\sin \theta
GGL induksi akan maksimum jika \theta = 90^{o} atau \sin \theta = 1 , sehingga : \varepsilon_{max}
=B.A.\omega .N
sehingga persamaan di atas dapat ditulis menjadi:\varepsilon = \varepsilon_{max}\sin \theta
\varepsilon = GGL induksi (Volt); \varepsilon_{max} = GGL induksi maksimum( volt);
N = jumlah lilitan kumparan; B = induksi magnet (T); A=luas bidang kumparan(m^{2})
\omega = kecepatan sudut kumparan (rad/s); t = waktu (s); \theta = \omega .t = sudut (^{o})

2. Transformator
Transformator atau trafo merupakan alat untuk mengubah (memperbesar
atau memperkecil) tegangan AC berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik yaitu memindahkan
energi listrik secara induksi melalui kumparan primer ke kumparan skunder. Trafo menimbulkan GGL
pada kumparan skunder karena medan magnet yang berubah-ubah akibat aliran arus listrik bolak-
balik pada kumparan primer yang diinduksikan oleh besi lunak ke dalam kumparan skunder.

Trafo ada dua jenis, yaitu trafo step-up dan step-down. Trafo step-up berfungsi untuk menaikkan
tegangan AC sumber, jumlah lilitan kumparan skunder lebih banyak dibandingkan jumlah lilitan
primer. Trafo step-down berfungsi untuk menurunkan tegangan AC sumber, jumlah lilitan
skundernya lebih sedikit. Hubungan antara tegangan dan jumlah lilitan trafo adalah :
\frac{V_{p}}{V_{s}}=\frac{N_{p}}{N_{s}}
Efisiensi trafo besarnya dapat dihitung dengan persamaan :\eta
=\frac{P_{s}}{P_{p}}=\frac{V_{s}I_{s}}{V_{p}I_{p}}
Pada trafo ideal dengan efisiensi 100%, akan memiliki daya primer dan daya skunder yang sama
besar. Jadi pada trafo ideal berlaku : P_{p}=P_{s}\rightarrow
\frac{V_{p}}{V_{s}}=\frac{N_{p}}{N_{s}}=\frac{I_{s}}{I_{p}}
\eta = efisiensi trafo (%)
Vp = tegangan primer/input (Volt); Vs = tegangan skunder/output (Volt)
Np = tegangan primer; Ns = tegangan skunder
Pp = daya primer (Watt); Ps = daya skunder (Watt)
Ip = kuat arus primer (A); Is = kuat arus skunder (A)


3. Induktor
Induktor merupakan kumparan yang memiliki banyak lilitan kawat. Induktor
memiliki induktansi diri, yaitu gejala kelistrikan yang menyebabkan perubahan arus listrik pada
kumparan dapat membangkitkan GGL induksi pada kumparan tersebut.

Joseph Henry telah melakukan penyelidikan tentang ggl induksi akibat perubahan fluks magnetik
yang ditimbulkan oleh suatu kumparan dan diperoleh kesimpulan bahwa besarnya GGL induksi
sebanding dengan laju perubahan arus terhadap waktu. Secara matematika pernyataan ini dapat
dituliskan sebagai:\varepsilon = -L \frac{di}{dt}
\varepsilon = GGL induksi (Volt) \frac{di}{dt} = laju perubahan kuat arus listrik (A) terhadap
perubahan waktu (s)

Besarnya induktansi diri induktor sebesar : L=\frac{\mu _{o}A.N^{2}}{l}
L = induktansi diri inductor (Henry = H); N = jumlah lilitan inductor
A = luas penampang inductor (m^{2}); l = panjang inductor (m)

Induktor dapat menyimpan energi sebesar :W=\frac{1}{2}Li^{2}
W = energi inductor (J);
L = induktansi diri (H); i = kuat arus listrik (A)

Induktansi Silang

Induktansi silang disebut juga induktansi timbal-balik, yaitu gejala kelistrikan akibat dua buah
kumparan yang saling didekatkan. Jika salah satu kumparan mengalir arus listrik, maka akan timbul
GGL induksi pada kumparan kedua.GGL induksi pada kumparan kedua menimbulkan medan magnet
yang berubah-ubah, sehingga kembali menimbulkan GGL induksi pada kumparan pertama. Besarnya
induktansi silang kedua kumparan adalah :L=\frac{\mu _{o}A.N_{1}N_{2}}{l}
Besarnya GGL induksi pada umparan pertama dan kedua masing-masing adalah : \varepsilon _{1}= -
M\frac{di_{2}}{dt} \hspace {5 mm} dan \hspace {5 mm} \varepsilon _{2}= -M\frac{di_{1}}{dt}
M = induktansi silang (H)
\mu _{o}= permeabelitas ruang hampa
N_{1} = jumlah lilitan kumparan pertama; N_{2} = jumlah lilitan kumparan kedua
A = luas penampang kumparan; l = panjang kumparan (m),
I_{1} = kuat arus kumparan pertama (A); I_{2} = kuat arus kumparan kedua (A)

Read more: http://carafisika.blogspot.com/2013/10/induksi-elektromagnetikggl-
induksi.html#ixzz30u5pMaRx