Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN


HIDUP (PKLH) SALAH SATU USAHA MENGATASI
MASALAH LINGKUNGAN HIDUP

Tugas Mata Kuliah:
PENDIDIKAN KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP (PKLH)
DOSEN: Prof. Dr. T. Zahara



Disusun Oleh Kelompok 8:
1. Abd. Kadir Djaelani NPM: 20137270132
2. Iis Kurniasih NPM: 20137270061
3. Bina Dwipa NPM: 20137270198



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MIPA
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2014
KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul: Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) Salah
Satu Usaha Mengatasi Masalah Lingkungan Hidup. Maksud dari penyusunan
makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kependudukan
dan Lingkungan Hidup (PKLH) pada Prodi Pendidikan MIPA Program Pasca
Sarjana Universitas Indraprasta PGRI Jakarta.
Dalam proses penyusunan tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis
alami, namun berkat dorongan dan bantuan dari semua pihak segala hambatan
serta kesulitan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. T. Zahara, selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan
Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH).
2. Seluruh teman-teman mahasiswa Pendidikan MIPA Kelas 2a angkatan 2013
yang telah memberikan semangat dan motivasi dalam penyelesaian makalah
ini.
Semoga semua bantuan dan amal kebaikan yang diberikan kepada penulis
mendapatkan imbalan dari Allah SWT. Harapan dari penulis semoga makalah ini
dapat bermanfaat. Amin.
Jakarta, Juni 2014
Penulis
Kelompok 12
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN

A. PKLH dan Implementasinya ................................................................. 4
1. Sejarah Analisis Isi ........................................................................... 4
2. Pengertian Analisis Isi...................................................................... 5
3. Syarat-Syarat Analisis Isi ................................................................. 8
4. Karakteristik Penelitian Analisis Isi ................................................. 9
5. Metode Analisis Isi .......................................................................... 10
6. Analisis Isi Kualitatif ....................................................................... 13
7. Kelebihan dan Kekurangan Analisis Isi ........................................... 15
B. Contoh Desain Penelitian Analisis Isi ................................................... 16

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................... 25
B. Saran ...................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia, sejak permulaan keberadaannya di bumi, sudah hidup dari dan
dengan lingkungannya. Semasih segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan
memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya, dan semasih bumi mampu
memproses secara alamiah buangan/sisa yang diperlukan manusia, tidak ada
masalah yang perlu dikhawatirkan pada lingkungan. Namun, sejalan dengan
peningkatan kebutuhan dan perkembangan teknologi manusia, tampak masalah
lingkungan menjadi semakin memprihatinkan. Masalah lingkungan bukanlah
sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sangat erat hubungannya dengan masalah
kependudukan dalam konteks penduduk dan pembangunan (Ananta, 1992;
Mantra,2001; Moertopo, 1992). Dalam hal ini, kerusakan lingkungan tidak hanya
sebagai akibat dari bertambahnya penduduk serta meningkatnya kebutuhan hidup.
Terdapat proses lain yang menyertai yang menyebabkan menipisnya sumber daya
alam menjadi jauh lebih parah.
Semakin meluasnya masalah lingkungan menyebabkan isu, perhatian, dan
aktivitas lingkungan mulai diperkenalkan secara meluas sejak dasa warsa 1960-
an. Puncaknya adalah pada dasa warsa 1970-an, yaitu dengan digelarnya The
United Nation Conference on Human Environment di Stockholm oleh PBB pada
tanggal 5 s/d 16 Juni 1972 (Sumaatmadja, 2001). Implementasi dari resolusi
Stockholm adalah dibentuknya badan khusus yang membidangi permasalahan
lingkungan oleh PBB yang dikenal dengan United Nations Environmental
Programs (UNEP) yang bermarkas di Nairobi, Kenya (Soemarwoto, 1982).
Namun demikian, satu setengah dasa warsa setelah dicetuskannya resolusi
Stockholm (tahun 1987), Komisi Dunia untuk Lingkungan Hidup dan
Pembangunan PBB dalam laporannya (Our Common Future) mengidentifikasi
sejumlah gejala global yang mengancam eksistensi bumi (Astawa, 1999), di
antaranya yang sangat dikhawatirkan adalah rusaknya lapisan ozon, pemanasan
global, hujan asam, dan pencemaran air laut oleh bahan berbahaya beracun (B3).
Menurut Chiras (seorang ahli lingkungan PBB) ancaman terhadap existensi bumi
itu bisa terjadi karena gejolak filsafat manusia yang diterapkan hingga dewasa ini
pada kehidupan nyata (dalam Astawa, 1999), di antaranya : (a) filsafat biological
imprialism dan ajaran relegi yang menganjurkan beranak pinak tanpa batas; (b)
filsafat I Versus not I dan tumbuhnya frontier mentality; (c) falsafah membangun
dengan mengembangkan ilmu dan teknologi yang makin besar dan canggih; (d)
falsafah bahwa manusia ada di atas alam dengan kemampuan berfikirnya dan
anggapan bahwa sumber alam di bumi tidak terbatas, berlimpah; (e) falsafah
ekonomi (bermodal minimal untuk meraih keuntungan maksimal dalam tempo
yang sesingkat mungkin).
Menyadari paparan di atas dan memperhatikan hakikat pendidikan (Salam,
1997), maka dalam rangka menumbuhkembangkan sikap dan perilaku masyarakat
yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup, peran pedidikan menjadi
sangat penting. Dicanangkannya PKLH dalam pendidikan formal ataupun
nonformal menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia untuk berperan serta
dalam mewujudkan eksistensi bumi sebagai dunia yang lestari melalui
pendidikan.
Namun demikian, memperhatikan Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) yang tidak lagi menjadikan PKLH sebagai mata kuliah
wajib, sementara di sekolah PKLH dituntut diintegrasikan pada mata pelajaran
yang ada, maka implementasi PKLH di sekolah perlu dipertanyakan.
PKLH bukanlah sekadar menyajikan kepada murid contoh-contoh kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, yang bahan-bahannya dapat
diambil dari guntingan-guntingan koran atau yang sejenisnya. Pembelajaran
PKLH harus mengandung etika lingkungan dengan mengajak anak didik
menyadari makna lingkungan baginya dan keterkaitannya dengan penduduk
(Sumaatmadja, 2001; Kastama, 1996). Dengan demikian, secara mendasar guru
dituntut memahami PKLH, di samping kewajibannya memiliki kemampuan untuk
mengintegrasikan PKLH ke dalam mata pelajaran pokoknya (Kastama, 1996).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukan sebelumnya, maka
yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana implementasi PKLH dalam proses pendidikan di sekolah?
2. Bagaimana permasalahan pembelajaran PKLH di sekolah?


C. Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk membahas implementasi PKLH di sekolah beserta
permasalahannya, dengan menggunakan beberapa sumber. Dengan pembahasan
tersebut diharapkan lebih terungkap berbagai permasalahan dalam
mengimplementasikan PKLH di sekolah, sehingga solusi dapat diberikan sebagai
suatu alternatif.




















BAB II
PEMBAHASAN

A. PKLH dan Implementasinya
Terkait dengan PKLH, sebelum tahun 1984, dikenal dua program, yaitu
Pendidikan Kependudukan (Population Education) dan Pendidikan Lingkungan
Hidup (Environmental Education). Pendidikan Kependudukan dicanangkan oleh
Depdikbud mulai tahun 1970, dengan latar belakang kekhawatiran dunia akan
adanya pertumbuhan penduduk yang tidak dapat diimbangi oleh pertumbuhan
bahan-bahan kebutuhan hidup. Sebagai suatu proses pendidikan, Pendidikan
Kependudukan ditekankan pada informasi masalah kependudukan dengan tujuan
mengubah sikap mental masyarakat ke arah hal-hal yang positif dalam
menanggulangi masalah kependudukan (Sumaatmadja, 2001). Dalam hal ini,
sasaran utama Pendidikan Kependudukan adalah perubahan sikap dan perilaku
terhadap masalah reproduksi dan persebaran penduduk secara rasional dan
bertanggung jawab.
Pendidikan Lingkungan Hidup merupakan program yang dicanangkan oleh
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mulai tahun 1981. International
Union for Conservation of Nature and Nature Resources (IUCN) memberikan
batasan Pendidikan Lingkungan Hidup (dalam Sumaatmadja, 2001) sebagai
berikut.
Environmental education is a process of recogniting values and clarifying
concepts in order to develop the skills and attitudes that are necessary to
understand and appreciate the interrelations among man, his culture and his
biophysical surrounding. Environment education is also entails practise in
dicision-making, and the self-formulation of code of behaviour about the
issues concerning environmental quality

Dalam batasan itu tersirat bahwa sasaran utama dari Pendidikan Lingkungan
Hidup diletakkan pada upaya mengembangkan sikap dan perilaku yang bermakna
(rasional dan bertanggung jawab) terhadap masalah pengelolaan sumber daya
alam.
Tujuan utama dari dua program tersebut memang tampak berbeda, namun,
secara implisit pada dasarnya kedua program tersebut adalah sama, yaitu
ditujukan untuk menunjang terbinanya kualitas hidup penduduk secara lebih baik.
Kedua program tersebut juga memiliki objek kajian yang sama, yaitu dinamika
penduduk dan integrasi perilakunya (manusia) terhadap lingkungan sosial,
ekonomi dan fisiknya. Persamaan lainnya juga tampak dari pendekatan
pelaksanaannya, yaitu sama-sama menggunakan pendekatan multidisiplin dengan
mengintegrasikan fakta, konsep, prinsip dan teori kependudukan dan lingkungan
hidup ke dalam berbagai studi yang relevan.
Karena adanya persamaan itulah kemudian Depdikbud, LIPI dan Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memprakarsai seminar-
lokakarya (semiloka) yang pelaksanaannya dilakukan pada bulan Juli dan Oktober
1983 serta bulan Januari 1984. Hasil tiga kali semiloka tersebut adalah disepakati
penyatuan kedua program menjadi satu program, yaitu Pendidikan Kependudukan
dan Lingkungan Hidup yang kemudian lebih dikenal dengan PKLH.
Menurut hasil semiloka tersebut, PKLH adalah suatu program kependidikan
untuk membina anak didik agar memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan
perilaku yang rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik
antara penduduk dan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan. Sasaran
akhir dari PKLH adalah terbentuknya Warga Negara Indonesia yang berwawasan
kependudukan dan lingkungan hidup, yaitu yang dalam tingkah laku sosial,
ekonomi, politik dan budayanya berpandangan progresif terhadap masalah-
masalah kependudukan dan lingkungan hidup menuju kehidupan keluarga dan
masyarakat yang serasi seimbang dalam hubungannya dengan Tuhan, lingkungan
sosial dan lingkungan hidupnya (Kastama,1996). Dengan demikian, dapat
dikemukakan bahwa PKLH sebagai program pendidikan, pada dasarnya bertujuan
membentuk sikap dan perilaku manusia agar bereproduksi secara rasional,
memelihara lingkungan hidup, dan bertanggung jawab terhadap kualitas
kehidupan sekarang dan masa mendatang melalui proses pendidikan.
Untuk mencapai tujuan tersebut PKLH diajarkan di semua jenjang pendidikan
baik formal maupun nonformal, mulai dari sekolah dasar hingga ke perguruan
tinggi. Pendekatan yang digunakan dalam mengimplementasikan PKLH di
perguruan tinggi cukup bervariasi. Ada yang menggunakan pendekatan monolitik,
baik sebagai mata kuliah wajib maupun sebagai mata kuliah kekhususan di
program studi. Ada juga yang menggunakan pendekatan integratif, di samping
juga ada yang tidak mencanangkannya sebagai mata kuliah.
Di LPTK, dengan pemberlakukaan SK Mendikbud RI Nomor 0193/U/1976,
PKLH menjadi mata kuliah wajib yang berdiri sendiri (monolitik) dan termasuk
dalam kelompok Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Perrtimbangan yang
melandasinya adalah, sebagai lembaga yang menghasilkan tenaga kependidikan
(calon guru), seorang lulusan LPTK harus memiliki kemampuan untuk
mengajarkan PKLH secara terintegrasi di sekolah pada mata pelajaran yang
dijarkan.
Namun, dengan pemberlakukaan SK Mendikbud RI Nomor 0212/DJ/Kep/
1983 tentang Kurikulum Inti Program Sarjana dan Program Diploma Bidang
Kependidikan, yang tidak menjadikan PKLH mata kuliah wajib yang berdiri
sendiri di LPTK, berbagai variasi muncul dalam mengimplementasikan materi
PKLH di LPTK. Ada yang menjadikan PKLH sebagai mata kuliah yang diajarkan
secara monolitik dengan memasukkannya ke dalam kelompok MKDU. Ada yang
memasukkan PKLH kedalam Mata Kuliah Kekhususan Program Studi, seperti
terlihat di IKIP Negeri Singaraja (namun, hanya di Jurusan Pendidikan Biologi,
Pendidikan Geografi, dan PPKn). Di samping itu, ada juga LPTK yang tidak
mengajarkannya secara monolitik, tetapi menyajikannya secara integratif, dengan
mengintegrasikan PKLH ke dalam mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (dalam
kelompok MKDU).
Terlepas dari variasi pengimpelementasian PKLH tersebut, keberadaan
PKLH secara monolitik di perguruan tinggi perlu dipertahankan, khususnya di
LPTK (Kastama,1996). Sebagai calon guru, mahasiswa LPTK dituntut
mempunyai persepsi yang mantap tentang kemungkinan adanya dampak negatif
dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali atau tentang adanya interaksi
negatif dengan lingkungan hidupnya, di samping karena kependudukan dan
lingkungan hidup menjadi hal yang mendasar sebagai penjabaran ketentuan
GBHN, terutama dalam membentuk sikap dan perilaku generasi muda
berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup.
Di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah (SM), PKLH
diimplementasikan secara integratif ke dalam sejumlah mata pelajaran yang
relevan. Di tingkat SD PKLH diintegrasikan pada bidang studi IPS, IPA, PPKn,
Agama, Pendidikan Jasmani/Olahraga, dan Bahasa. Di SM, PKLH diintegrasikan
pada mata pelajaran Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi,
PPKn, Biologi, dan mata pelajaran Kimia (Depdikbud, 1990) Digunakannya
pendekatan integratif dalam pembelajaran PKLH di sekolah dilandasi
pertimbangan bahwa kurikulum yang ada sudah terlalu sarat, sehingga tidak
memungkinkan lagi PKLH dijadikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan secara
monolitik.
Dalam mengintegrasikan PKLH pada bidang studi atau mata pelajaran yang
telah disebutkan di atas, Depdikbud pada tahun 1990 menerbitkan Buku Pegangan
Guru PKLH pada semua jenjang pendidikan. Buku itu memuat Garis-Garis Besar
Program Pengajaran (GBPP) PKLH yang dipadukan dengan mata pelajaran yang
diintegrasikan. Dengan buku tersebut guru mata pelajaran yang dintegrasikan
diharapkan menjadi lebih terarah dalam mengembangkan PKLH ke dalam mata
pelajaran yang diasuhnya. Untuk itu, dalam pengembangannya diperlukan suatu
koordinasi di antara sesama guru mata pelajaran di mana PKLH diintegrasikan,
sehingga tujuan PKLH dapat diterima secara utuh oleh peserta didik.
Di samping itu, dari sisi pedagogis, Munir (1996) mengemukakan, yang perlu
diperhatikan guru dalam mengimplementasikan PKLH adalah tiga daya yang
terdapat dalam diri sasaran didik yang secara resultan akan menimbulkan perilaku
(yang dapat diamati), yaitu a) daya individual yang sudah ada dalam diri
seseorang atau individu (perhatikan Gestalt Theory dari W.Kohler), b) daya
rangsangan terhadap seseorang yang ditanggapi (perhatikan Stimulus-Respons the
Theory dari B.F.Skinner), c) daya pengulangan pengalaman yang enak/baik, dan
menghindari pengalaman yang tidak enak/baik (perhatikan Conditioning Theory
dari James W).
Berarti, secara pedagogis, implementasi PKLH dalam pembelajaran menuntut
guru tidak hanya sekadar mampu menyajikan kepada murid contoh-contoh
kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, yang bahan-
bahannya dapat diambil dari guntingan-guntingan koran atau yang sejenisnya.
Dalam hal ini, seorang guru dituntut mampu menyadari keberadaan siswanya
terkait dengan lingkungan tempat mereka berada dan mampu menstimulasi
sasaran didik untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang mengandung etika
lingkungan (Sumaatmadja, 2001). Sikap dan perilaku tersebut ditumbuhkan
dengan mengajak anak didik menyadari makna lingkungan baginya dan
memahami keterkaitannya dengan penduduk. Di samping itu, sikap dan perilaku
yang berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup juga perlu dimiliki dan
ditunjukkan oleh seorang guru untuk dapat diteladani oleh siswanya. Berarti,
untuk dapat melakukan pengintegrasian PKLH ke dalam mata pelajarannya,
pemahaman seorang guru tentang PLKH menjadi mutlak, di samping kemampuan
merespon dan keteladanannya sebagai pencinta dan pelestari lingkungan.

B. Permasalahan Pembelajaran PKLH di Sekolah
Telah dikemukakan di atas bahwa PKLH di sekolah diimplementasikan
menggunakan pendekatan integratif. Hasil monitoring dan supervisi Depdikbud
terhadap Pendidikan Kependudukan yang diimplementasikan secara integratif di
sekolah memperlihatkan adanya beberapa hambatan (Kastama, 1996). Salah
satunya adalah sulitnya guru mengintegrasikan materi Pendidikan Kependudukan
ke dalam bidang studi atau mata pelajarannya, walaupun GBPP sudah disiapkan.
Hal yang sama juga dijumpai oleh Rideng (1997) dalam penelitiannya tentang
Pelaksanaan PKLH di SMU di kabupaten Buleleng.
Terkait dengan PKLH, pada kurun waktu 1996-1999, penulis ditugaskan
sebagai instruktur/nara sumber dalam Pelatihan PKLH yang diselenggarakan oleh
Dinas Pendidikans Profinsi Bali. Peserta pelatihannya adalah guru-guru TK, SD,
SLTP dan SMU/K pengajar mata pelajaran di mana PKLH diintegrasikan.
Kesempatan itu juga digunakan melakukan wawancara dengan peserta pelatihan.
Hasil wawancara mengidentifikasi permasalahan dalam implementasi PKLH di
sekolah, seperti diuraikan berikut ini.

1. Masalah Guru sebagai Tenaga Pengajar PKLH
Implementasi PKLH secara integratif di sekolah terlihat memudahkan dan
memperlancar pelaksanaan PKLH karena jumlah guru yang dipandang turut
mengambil bagian tanggung jawab dalam melaksanakan program PKLH menjadi
cukup banyak. Namun, tanggung jawab yang diemban oleh guru bersangkutan
menjadi berkurang. Sementara, guru dituntut perhatian dan kemampuannya secara
konprehensif menyeluruh, di samping kemampuan dasar yang dapat menjamin
pelaksanaan tugasnya sesuai dengan tujuan pendidikan (Sumaatmadja, 2001).
Berkurangnya tanggung jawab guru merupakan konsekuensi logis dari penerapan
pendekatan integratif karena PKLH hanyalah materi titipan pada mata pelajaran
yang menjadi tugas pokok guru yang bersangkutan.
Di samping itu, implementasi PKLH dengan pendekatan integratifnya terlihat
tidak akan menambah beban waktu efektif suatu mata pelajaran. Namun, guru
akan kesulitan mengalokasikan waktu pada PKLH karena untuk mata pelajaran
pokoknya saja waktu yang disediakan sudah sedemikian ketat, sehingga sulit
untuk menambahkan pokok bahasan yang dititipkan dari PKLH. Kenyataan
tersebut tentu berimplikasi pada pencapaian tujuan kurikuler PKLH itu sendiri.



2. Masalah Bahan Pelajaran
Pengintegrasian bahan pelajaran PKLH ke dalam mata pelajaran lain, dalam
penyajiannya jelas akan memperoleh fokus bahasan dari guru yang dibebani
tanggung jawab tersebut. Bisa terjadi seorang guru yang mengintegrasikan PKLH
berkurang perhatiannya terhadap bahan pelajaran pokok yang seharusnya menjadi
tanggung jawab profesinya, atau sebaliknya pokok bahasan PKLH menjadi sangat
berkurang, bahkan mungkin terlupakan. Hal itu akan berdampak pada pencapaian
tujuan kurikuler PKLH itu sendiri dan pada pencapaian kurikuler secara
menyeluruh.
Di samping itu, pengintegrasian tersebut juga dapat menimbulkan terpisah-
pisahnya pokok bahasan PKLH. Hal ini akan mengganggu kesatuan program
PKLH, sementara keutuhan program sebagai satu kesatuan menjadi tututan dasar
dalam pencapaian kurikulum (Nasution,1982). Dampaknya adalah pada sasaran
didik dalam menerima PKLH sebagai program. Pemahaman siswa pada PKLH
akan menjadi terkotak-kotak, tidak secara utuh dalam suatu kebulatan program
yang menyeluruh. Kenyataan tersebut tentu akan menggangu pula keberhasilan
tujuan kurikuler PKLH.

3. Metode dan Teknik Penyajian
Setiap pokok bahasan membutuhkan metode dan teknik penyajian tertentu
yang dirasakan efektif (Salam,1997). Dengan pengimplementasian PKLH secara
integratif, persoalannya terletak pada bagaimana para pengajar terampil
menggunakan dan mentransfer metode yang digunakannya untuk mata pelajaran
pokoknya sebagai metode untuk menyajikan pokok bahasan PKLH. Pada saat
pokok bahasan PKLH memperlihatkan corak atau ciri yang khas untuk
menerapkan metode tertentu, maka tidak mustahil akan timbul kesulitan dalam
menghadapi metode tersebut untuk dintegrasikan dengan pokok bahasan pada
mata pelajaran pokoknya. Permasalahan yang timbul pada penerapan metode dan
teknik penyajian PKLH, maka akan berimplikasi pada tujuan kurikuler secara
keseluruhan, baik mata pelajaran yang dititipkan maupun tujuan kurikuler PKLH
itu sendiri. Dalam hal ini, guru akan lebih mengutamakan pencapaian tujuan
kurikuler dari mata pelajaran yang menjadi tugas pokoknya.

4. Evaluasi
Tercapainya tujuan pendidikan baru dapat diketahui bila telah dilakukan
evaluasi terhadap tindakan dan kegiatan pendidikan tersebut (Salam, 1997).
Dengan pendekatan integratif yang digunakan dalam mengimplementasikan
PKLH sudah dapat dibayangkan bagaimana sulitnya melaksanakan evaluasi
sekaligus dalam bentuk mata pelajaran yang sudah diintegrasikan. Hal tersebut
akan berdampak juga pada pencapaian tujuan kurikuler.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Memperhatikan kendala-kendala yang muncul dalam mengimplementasikan
PKLH secara integratif di sekolah, dapat dikemukakan bahwa hal tersebut secara
umum akan berdampak pada pencapaian tujuan kurikulernya. Jika tujuan
kurikuler tidak tercapai, berati PKLH gagal dalam membentuk insan-insan yang
berwawasan kependudukan dan lingkungan hidup. Jika itu terjadi, janganlah
berharap banyak bahwa bumi sebagai dunia dengan lingkungan yang lestari akan
dapat diwujudkan. Yang perlu dipertanyakan kemudian, mengapa kerusakan
lingkungan di Indonesia semakin parah? Apakah ini sebagai kegagalan PKLH
diimplementasikan selama 30 tahun dalam pendidikan formal dan nonformal?
Untuk menjawab pertanyaan itu perlu pembuktian secara empiris, yang sudah
tentu menjadi tugas kita bersama.
Menyadari kendala yang ada, maka implementasi PKLH sebagai suatu
program pendidikan di LPTK maupun di sekolah memerlukan pengkajian kembali
dan penyempunaan. LPTK sebagai lembaga produsen guru yang nantinya akan
mengintegrasikan PKLH ke dalam mata pelajarannya semestinya membekali
lulusannya dengan PKLH. Sementara itu, implementasi PKLH di sekolah dengan
pendekatan integratif memerlukan penyempurnaan GBPP dan koordinasi
antarsesama guru pemegang mata pelajaran yang dititipkan. Dalam hal ini,
peranan Kepala Sekolah sebagai koordinator sangat diperlukan, sehingga
pengorganisasian pokok bahasan-pokok bahasan dalam PKLH benar-benar dapat
terintegrasikan dan saling melengkapi pada mata pelajaran yang dititipkan. Untuk
itu Kepala Sekolah juga perlu mahami PKLH.



















DAFTAR PUSTAKA

Astawa, Ida Bagus Made. 1999. Pengertian Umum Kependudukan dan
Lingkungan Hidup. Makalah disampikan dalam Diklat PKLH untuk
Guru-Guru Sekolah (SD-SLTA) bulan Nopember 1999 di Kanwil
Depdikbud Provinsi Bali. Denpasar : Depdikbud Provinsi Bali

Ananta, Aris. 1992. Penduduk dan Pembangunan Berkelanjutan dalam Warta
Demografi Tahun XXII Nomor 9. September 1992. Jakarta : LD-FEUI.

Depdikbud RI. 1990. Buku Pegangan Guru Pendidikan Kependudukan dan
Lingkungan Hidup Untuk Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas. Jakarta
: Depdikbud.

Kastama, Emo.1996. Pengantar Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan
Hidup (PKLH). Jakarta : Depdikbud RI.

Mantra, Ida Bagoes, 2000. Demografi Umum. Yogyakarta : Putaka Pelajar.

Moertopo, Soegeng. 1992. Pembangunan Berlanjut Berwawasan Lingkungan
dalam Seminar Nasional Kualitas SDM dan Pembangunan Berwawasan
Lingkungan, 28-29 April 1992. Yogyakarta : PAU - UGM.

Munir, Rozy. 1996. Pengantar PKLH. Makalah disampaikan dalam Pelatihan
PKLH Tingkat Nasional di Jakarta.

Nasution, S.1982. Asas-Asas Kurikulum. Bandung : Penerbit Jemmars.

Rideng, I Made. 1997. Pelaksanaan PKLH di SMU di Kabupaten Buleleng.
Dalam Aneka Widya No.1 TH.XXX Januari 1997. Singaraja : STKIP
Singaraja.

Salam, Burhanuddin. 1997. Pengantar Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik).
Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Soemarwoto, Otto. 1982. Pengelolaan Lingkungan, Kertas Kerja dalam Kursus
AMDAL 2-17 Februari 1982. Kerjasama Kantor Menteri Negara
Pengawasan Lingkungan Hidup dengan Lembaga Ekologi UNPAD
Bandung,

Sumaatmadja, Nursid, 2001. Metodologi Pengajaran Geografi. Jakarta :
PT.Aksara.