Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Hubungan Luar Negeri Indonesia

Indonesia merupakan negara demokrasi yang berlandaskan UUD, pada


pembukaan UUD 45 secara jelas Indonesia menentang dan menolak segala bentuk
penjajahan atau invansi satu negara ke negara lain. Dasar dari tujuan nasional
Indonesia secara konstitusional tercantum pada pembukaan UUD 1945, yaitu
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial. Dasar-dasar tersebut lah yang kemudian menjadi acuan untuk
menentukan arah kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam hubungannya dengan
dunia internasional mulai dari masa awal kemerdekaan, saat ini, hingga di masa
yang akan datang.
Hubungan Luar Negeri Indonesia pada Era Orde Lama
Secara umum, terdapat beberapa kepentingan nasional yang menjadi acuan
utama Indonesia dalam menentukan arah hubungan luar negerinya pada era Orde
Lama. Kepentingan-kepentingan nasional tersebut antara lain:
Menjaga kesatuan dan persatuan NKRI
Mempromosikan eksistensi Indonesia di mata internasional
Menujukkan sikap pro-perdamaian yang anti kolonialisme Barat
Berbagai usaha dilakukan Soekarno guna mewujudkan kepentingan-
kepentingan nasional ini. mulai dari negosiasi, pengerahan kekuatan militer,
politik berdikari hingga mendatangkan bantuan asing. Karakter utama dari profil
politik luar negeri Indonesia pada saat itu adalah karakter high profile yang tegas
namun masih belum terarah
1
.

1
Diakses dari http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2010/01/change_and_continuity_in_indonesia_foreign_policy.pdf pada 23
September 2014
Kebijakan-kebijakan luar negeri yang dirancang oleh Soekarno pada saat
itu rupanya kurang memperhatikan sektor dalam negeri Indonesia. Politik
mercusuar yang dijalankan Soekarno pada saat itu menyebabkan perekonomian
Indonesia mengalami kemunduran disaat beliau dengan gencarnya melancarkan
politik luar negeri yang garang, aktif serta militant.
Meskipun dalam prakteknya banyak terjadi penyimpangan dimana prinsip
politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif justru dilangkahi oleh kedekatan
Indonesia dengan negara-negara blok Timur seperti Uni Soviet dan China, tidak
dipungkiri bahwa banyak keberhasilan yang dicapai pada pemerintahan era Orde
Lama. Bahkan sejumlah keberhasilan tersebut masih dapat kita rasakan hingga
saat ini, keberhasilan-keberhasilan tersebut antara lain:
Indonesia berhasil kembali merebut Irian Barat dari Belanda melalui jalur
diplomasi dan militer
Keberhasilan Indonesia dalam memprakarsai pembentukan Gerakan Non-
Blok melalui KTT Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung
Indonesia berhasil menunjukkan eksistensi yang patut diperhitungkan oleh
kedua blok raksasa dunia pada masa itu
Hubungan Luar Negeri Indonesia pada Era Orde Baru
Arah hubungan luar negeri Indonesia pada Era Orde baru cenderung
dirumuskan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi domestik. Pada masa
pemerintahan Soeharto, terdapat sekitar 4 poin penting dalam tujuan-tujuan
hubungan luar negeri Indonesia. Poin-poin tersebut antara lain:
Adanya hubungan baik dengan negara asing
Rehabilitasi dan pembangunan ekonomi dengan bantuan asing
Penciptaan stabilitas politik
Penggunaan kekuatan militer dalam menciptakan keamanan
Kebijakan-kebijakan dalam hubungan luar negeri Indonesia era Soeharto
memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Pada saat itu, Soeharto
berhasil membuka jalan bagi para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
Berkat kemajuan perekonomian ini kehidupan rakyat menjadi makmur tanpa
terjadinya kekurangan sandang maupun pangan. Sebenarnya, pada era Orde Baru
Soeharto tidak sepenuhnya mendominasi peran dalam perumusan kebijakan luar
negeri. Pada saat itu militer menjadi tonggak utama dari pemerintahan, mereka
menguasai birokrasi Indonesia. Sebelumnya memang Departemen Luar Negeri-
lah yang memiliki kewenangan dalam merumuskan suatu kebijakan luar negeri,
dimana pengambilan keputusan dilakukan oleh para diplomat. Namun peran dari
Departmen Luar Negeri tersebut memudar dan digantikan oleh badan-badan
militer seperti Departemen Pertahanan dan Keamanan, Badan Pusat Intelijen,
Lembaga Pertahanan Nasional, serta Sekretaris Negara. Badan-badan tersebut
berperan aktif dalam bidangnya masing-masing, mulai dari penanganan
permasalahan luar negeri dan pertahanan hingga permasalahan ekonomi
2
.
Pada era pemerintahan Soekarno, profil politik hubungan luar negeri
Indonesia bersifat bebas aktif. Profil ini kembali digunakan oleh Soeharto sebagai
bentuk dari politik luar negeri Indonesia, namun terjadi beberapa perbedaan dalam
prakteknya di lapangan. Pada era Soeharto, Indonesia cenderung memiliki
kedekatan dengan negara-negara Barat. Berbeda dengan era Soekarno dimana
Indonesia lebih dekat dengan negara-negara yang menganut paham komunis. Hal
ini menjelaskan bahwa politik luar negeri Indonesia juga pada saat itu bertujuan
untuk menjalin hubungan baik dengan negara asing.
Hubungan Luar Negeri Indonesia pada Era Reformasi Hingga Saat Ini
Pada era pemerintahan Habiebie, semangat demokratisasi masuk
menggantikan sistem otokrasi demi menggalang dukungan rakyat terhadap
pemerintah. Fokus dari kepentingan nasional Indonesia pada era pemerintahan
Habiebie ini adalah untuk membangung kembali perekonomian Indonesia dan
memperbaiki stabilitas keamanan nasional. Hal ini dilakukan guna menutupi
lubang-lubang yang ditinggalkan oleh pemerintahan era Orde Baru yang
menyebabkan Indonesia mengalami krisis moneter. Guna memenuhi kepentingan-
kepentingan nasionalnya tersebut, Habiebie menerapkan beberapa kebijakan

2
Suryadinata, Leo. Politik Luar Negeri Indonesia Selama Orde Baru (1): Munculnya Militer, dalam
Politik Luar Negeri Indonesia di bawah Soeharto. (Jakarta: LP3ES, 1998) hlm. 43-44.
seperti pengelolaan investasi swasta, diplomasi terhadap bantuan asing,
perdagangan bebas, peningkatan kekuatan militer dan penerapan sistem politik
yang demokratis
3
.
Kepentingan nasional yang menjadi prioritas Gus Dur pada saat itu masih
berkutat pada upaya pemulihan perekonomian dan penerapan sistem pemerintahan
demokratis secara lebih mendalam. Reposisi angkatan militer untuk kembali ke
tugasnya sendiri menjadi kunci pentung guna merealisasikan demokrasi di
Indonesia. Dalam masa pemerintahannya, Gus Dur menerapkan sistem diplomasi
persatuan
4
. Diplomasi ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan internasional
terhadap permasalahan disintegrasi bangsa yang dihadapi oleh Indonesia saat itu.
Hal ini juga didasarkan oleh munculnya gerakan-gerakan separatis di beberapa
wilayah seperti di Aceh, Papua dan daerah-daerah lain di Indonesia.
Keberhasilan Gus Dur dalam era pemerintahannya ditunjukkan dengan
meningkatnya kredibilitas Indonesia di mata internasional yang ditandai dengan
mengalirnya bantuan internasional untuk membantu memperbaiki perekonomian
nasional. Namun di sisi lain, terdapat beberapa kekurangan dari gaya
kepemimpinan Gus Dur. Hal ini diperlihatkan dengan seringnya beliau
mengambil kebijakan-kebijakan kontroversial seperti wacana untuk membuka
hubungan kerjasama perdagangan dengan Israel yang kemudian dibatalkan karena
menuai kecaman dari rakyat.
Kepentingan nasional Indonesia pada era pemerintahan Megawati
mencakup realisasi stabilitas ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan yang
kesemuanya diwujudkan dengan adanya investasi sektor swasta, perdagangan
bebas dan kekuatan otonomi regional yang lebih diutamakan. Dalam era
kepemerintahannya, Megawati masih menghadapi permasalahan domestik yang
telah hadir sebelumnya seperti konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
dan juga minimnya kredibilitas internasional terhadap Indonesia. Dalam upaya
memenuhi kepentingan nasionalnya, Megawati mengalami beberapa ujian berat

3
Widhiasih, Anggraeni. 2013. Politik Luar Negeri RI Era Reformasi. Diakses dari
http://sejarah.kompasiana.com pada 23 September 2014
4
Ibid
seperti ancaman terorisme dengan adanya serangkaian pemboman yang terjadi di
Jakarta dan Bali. Isu terorisme ini bukan saja mengancam keamanan Indonesia,
tetapi mengancam keamanan internasional karena sebelumnya Amerika Serikat
mengalami tragedy penyerangan WTC pada 11 September. Situasi sistem
internasional saat itu memaksa Indonesia untuk mendeklarasikan diri sebagai
negara Islam yang moderat guna menggalang kepercayaan internasional.
Hasilnya, Indonesia masuk sebagai anggota Regional Counter Terrorism Center
yang didukung oleh Amerika Serikat dengan memberikan bantuan ekonomi
kepada Indonesia.
Dalam era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, beliau menerapkan
strategi diplomasi dengan semboyan A Million Friends Zero Enemy yang
bertujuan untuk mendapatkan kawan sebanyak-banyaknya serta meminimalisir
keberadaan musuh dan All Direction Foreign Policy yang memungkinkan
Indonesia untuk bebas memilih rekan untuk bekerja sama. Kepentingan nasional
yang ingin dicapai oleh Indonesia pada era pemerintahan SBY masih seputar
pengelolaan integritas nasional, peningkatan perekonomian, penanggulangan
terorisme, dan mencari simpati dunia internasional dengan mengikuti forum-
forum internasional seperti APEC, ASEAN, dan lain-lain. Selain itu, kapasitas
dan kapabilitas Indonesia dalam bidang militer ditingkatkan dengan signifikan
pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, terutama dalam
pencapaian minimum essential force (MEF) yang akan dilaksanakan dalam
beberapa tahap, peningkatan dalam bidang militer ini juga merupakan upaya
untuk mencapai salah satu kepentingan nasional Indonesia, yaitu menjaga
keutuhan NKRI.
Profil Indonesia di kancah multilateral saat ini sudah lebih baik dibanding
dulu. Modal yang dimiliki Indonesia, antara lain adalah status Indonesia sebagai
negara berpenduduk Muslim terbesar yang dapat menerapkan demokrasi dan
merangkul modernitas. Selain itu, performa ekonomi Indonesia juga meningkat
dengan pesat, di mana saat ini Indonesia merupakan negara dengan
perekonomian terbesar ke-16 di dunia, dan Indonesia merupakan satu-satunya
negara ASEAN yang menjadi anggota G-20.
Dengan berbagai modal yang dimiliki, ditambah dengan prinsip bebas-
aktif yang selalu dipegang teguh, Indonesia memainkan peran sebagai bridge
builder yang dapat menjembatani kepentingan negara-negara maju dan negara-
negara berkembang.
5
Selain itu, modal yang juga penting bagi Indonesia
adalah trust. Kita dipercaya baik oleh negara-negara berkembang maupun negara-
negara maju.

5
Diplomasi Indonesia Memainkan Peran Sebagai Bridge Builder. Dikutip dari
http://www.tabloiddiplomasi.org/current-issue/202-4-article/1752-diplomasi-indonesia-
memainkan-peran-sebagai-bridge-builder.html Pada 23 September 2014