Anda di halaman 1dari 13

Skenario 3

Rabun Senja
Seorang laki-laki usia 50 tahun merasa pandangannya terasa kabur hanya bila
menjelang sore hari. Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan pada bola mata
bagian anterior. Tidak ada keluhan dalam membaca tulisan baik jarak jauh maupun jarak
dekat. Pria tersebut tidak suka makan sayur-sayuran sejak kecil. Oleh dikter dijelaskan
bagaimana mekanisme terjadinya gangguan di atas.
Step 1
Klarifikasi Term dan Konsep
1. Bola Mata: bagian mata yang terdiri dari 3 lapis yaitu sklera, koroid, dan retina
2. Rabun Senja: kelainan sel batang pada mata yaitu pandangannya kabur pada sore hari
3. Kelainan: keadaan yang tidak normal

Step 2
Menegaskan Problem
1. Pandangan kabur menjelang sore hari
2. Tidak adanya kelainan pada bola mata anterior
3. Tidak ada keluhan membaca jarak jauh maupun jarak pendek
4. Tidak suka makan sayuran sejak kecil
5. Faktor usia pada kasus ini

Step 3
Analisis Problem
1. Pandangan kabur menjelang sore hari
Pandangan kabur dikarenakan kekurangan vitamin A menkonversi rodhopsin visual
yellow visual white.
Selain itu juga disebabkan karena favoidea
2. Tidak ada kelainan pada bola mata anterior karena fungsi bagian-bagian mata sudah
normal, tapi mungkin dari sel batangnya mengalami kelainan
3. Dikarenakan pada saat pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya gangguan, jadi si pasien
tidak ada keluhan dalam membaca jarak jauh maupun jarak pendek
4. Dengan tidak sukanya makan sayur menyebabkan pasien kekurangan vitamin A sehingga
pembentukan rodhopsin berkurang


5. Dalam kasus ini faktor usia tidak mempengaruhi rabun senja, karena rabun senja dapat
diderita oleh semua orang bahkan dari orang tersebut lahir

Step 4
Skema













Step 5
Sasaran Belajar
1. Dapat mengetahui dan menjelaskan anatomi indera penglihatan
2. Dapat mengetahui dan menjelaskan Fisiologi
3. Dapat mengetahui dan menjelaskan Histologi
4. Dapat mengetahui dan menjelaskan Biokimia
5. Dapat mengetahui dan menjelaskan Rabun senja
6. Dapat mengetahui dan menjelaskan Macam-macam gangguan indra penglihatan
7. Dapat mengetahui dan menjelaskan Pemeriksaan indera penglihatan

Step 6
Belajar Mandiri





Tidak suka sayuran
Laki-laki 50 th Hanya menjelang sore
Dokter Tidak ditemukan kelainan
Gangguan penglihatan
@ Mekanisme
@ Macam gangguan
@ Tes pemeriksaan

Pandangan kabur
1
3
2


Step 7
1. Anatomi Indera Penglihatan



Regio Orbita
Sepasang rongga di tulang yang berisi bola mata, saraf, pembuluh, dan lemak yang
berhubungan dengan bola mata dan sebagian besar apparatus lakrimal
Palpebra
Terletak di depan mata yang melindungi mata dari cedera dan cahaya berlebihan
Otot mata
Didalam orbita digerakkan oleh otot mata dan dipersyarafi oleh saraf okulomotorius,
travelues dan aleluends

Otot-Otot bola mata dan kelopak mata
Otot Ekstrisik bola mata
1. M. Rectus superior
2. M. Rectus inferior
3. M. Rectus medialis
4. M. Rectus lateralis
5. M. Obliquus superior
6. M. Obligus inferior


Otot Instrinsik bola mata
1. M. Shincter pupillae
2. M. Dilator pupillae
3. M. Ciliaris
Lapisan Bola Mata
Tunika Fibrosa
a. Sklera terdiri atas fibrosa jaringan padat dan berwarna putih
ditembus oleh N. Opticus
b. Kornea transparan, fungsi utamanya memantulkan cahaya yang masuk
ke mata
Tunika Vaskulosa Pigmentosa
a. Coroidea terdiri atas lapisan luar berpigmen dan lapisan dalam yang
sangat vaskular
b. corpus ciliare corona ciliaris, processus ciliaris, m. Ciliaris
c. iris dan pupil berpigmen tipis dan kontraktil
membagi ruang antara kornea dan lensa menjadi camera
anterior dan camera posterior
Tunika Nervosa: Retina
Retina terdiri atas:
a. Sebelah luar: pars pigmentosa melekat dengan choroidea
b. Sebelah dalam : pars nervosa corpus vitreum
Isi Bola Mata
Humor Aquosus
- Cairan bening yang mengisi camera anterior dan camera posterior bulbi
- Hambatan aliran keluar humor aquosus mengakibatkan peningkatan
tekanan intraokuler
- Berfungsi untuk menyongkong dinding bola mata
Corpus Vitreum
- Mengisi bola mata di belakang lensa
- Merupakan gel yang transparan
- Berfungsi sedikit menambah daya pembesaran mata
Lensa
- capsula elastis
- epithelium coboideum
- fibrae lentis



Anatomi Mata
1. Kornea merupakan lapisan mata paling depan, berfungsi memfokuskan benda
dengan cara refraksi
2. Retina merupakan bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya
dibagian bintik kuning setelah retina cahaya diteruskan ke saraf optic
Retina Rod melihat pada malam hari
Cone melihat pada siang hari
3. Lensa fungsinya mengatur cahaya yang masuk atau focus cahaya yang masuk
sehingga tepat jatuh di bintik kuning dalam retina. Ketika melihat jauh lensa akan
menipis sedangkan ketika melihat objek dekat lensa akan menebal
4. Iris berfungsi sebagai diafragma lensa merupakan bagian yang berwarna dari
mata
5. Pupil fungsinya mengatur dan menentukan kualitas cahaya yang masuk, pupil
akan melebar jika cahaya gelap dan menyempit apabila terang / lebar pupil
dipengaruhi oleh imsan beroda di sekelilingnya.
6. Fovea sentralis dareah cekungan yang berukuran 0,25 mm yang ditengah-
tengahnya terdapat macula lutea (bintik kuning)
7. Saraf optic saraf yang memasuki sel di retina, untuk menuju ke otak
8. Koroid : antara sclera dan retina

Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata juga
mengandung berbagai saraf lainnya.
1. Saraf Optikus
Membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak
2. Saraf Lakrimal
Merangsang pembentukan air mata
3. Saraf lainnyan menghantar sensasi kebagian mata lain



2. Fisiologi I ndera Penglihatan
Daya Akomodasi
Kemampuan lensa untuk memfokuskan benda
Semakin jauh melihat tidak berakomodasi
Semakin dekat melihat akomodasi makin kuat
Daya akomodasi dipengaruhi oleh umur
Semakin tua maka daya akomodasi semakin lemah

Sel batang dan sel kerucut di bagi
Segmen luar modifikasi silia dan terdiri dari tumpukan diskus atau sakulus
gepeng teratur yang menyusun membrane
Segmen dalam kaya akan mitokondria
Mekanisme Penglihatan

Sumber Cahaya

Masuk ke mata melalui kornea

Melewati pupil yang lebarnya diatur oleh iris

Dibiaskan oleh lensa

Terbentuk bayangan di retina bersifat nyata, terbalik, diperkecil

Sel-sel batang dan sel-sel kerucut meneruskan sinyal cahaya melalui saraf optik

Otak membalikkan lagi bayangan yang terlihat di retina

Objek terlihat sesuai aslinya

Penyesuaian terhadap gelap dan terang
Mekanisme penyesuaian terang
- Kerucut dan batang terjadi perubahan di bawah pengaruh energi sinar
akibat foto kimia


- Di bawah pengaruh foto kimia rhodopsin pecah masuk ke dlam retina dan
skotopsin
- Kemudian tereduksi menjadi vitamin A, di bawah pengaruh enzim alkohol
dehidrogenase dan koenzim DPN H+H
+

- Dengan energi cahaya yang besar dan dilakukan secara terus menerus
konsentrasi rodhopsin dalam rod akan menurun sehingga kepekaan
retina terhadap cahaya menurun





-
-








Mekanisme penyesuaian gelap
- Selama di dalam ruang yang gelap pembentukan rodhopsin dalam rod
sangat perlahan
- Konsentrasi rodhopsin mencapai kadar yang cukup terjadi dalam beberapa
menit
- Selama penyesuaian gelap kepekaan retina akan meningkat menjadi 1.000
per menit dan 100.000 per jam
- Kepekaan retina menurun dari 100.000 jika seseorang dari ruang gelap ke
ruang terang
- Proses penurunan retina hanya di butuhkan waktu 1-10 menit
- Penyesuaian cone terhadap gelap lebih cepat 5 menit
- Penyesuaian rod 30-60 menit

Rhodopsin
Energy sinar
Lumi Rhodopsin
Retina
metarhodopsin
skotopsin
Alkohol dehydrogenase
+
Vit A (lapisan pigmen)
DPN H+H
+


Lensa terdiri dari 4 perbatasan :
1. Perbatasan antara permukaan anterior kornea dan udara
2. Perbatasan antara permukaan posterior kornea dan humor aquosus
3. Perbatasan antara humor aquosus dan permukaan anterior lensa mata
4. Perbatasan antara permukaan posterior lensa dan humor vitreosus

3. Histologi I ndera Penglihatan
Bola Mata
Terdiri dari 3 lapisan : Sklera
Koroid
Retina
- Lapisan terluar: iris dan pupil yang membentuk kornea
- Lapisan tengah: koroid mengandung pembuluh-pembuluh darah yang arteriolnya
masuk kedalam badan siliar yang menempel pada ligamen suspensorindan iris
- Lapisan dalam: retina yang mengandung sel batang dan sel kerucut
Lapisan Ovea terdiri dari 3 zona :
1. Bagian posterior koroid
2. Badan siliar tepat di belakang peralihan korneo-skleral
3. Di anterior iris yang melipat kedalam terpisah dari kornea
Tunika Fibrosa
a. Sklera jaringan fibrosa padat dan mempertahankan bentuk ukuran bola mata
b. Kornea epitel
membran bowman
substansi propria
membran decement
endotel
c. Koroid epikoroid
lapisan pembuluh
korio kapiler
lamina elastika (membran bruch)
Retina
Lapisan dan jaringan retina :
1. Epitel pigmen
2. Lapisan batang dan kerucut


3. Membran limitan eksterna
4. Lapisan inti luar
5. Lapisan fleksiform luar
6. Lapisan inti dalam
7. Lapisan fleksoform dalam
8. Lapisan sel ganglion
9. Lapisan serat saraf
10. Membran limitan interna
Jaringan pada bagian mata
1. Kornea : pada bagian depan kornea terdapat jaringan epitel berlapis lapis gepeng
tanpa lapisan tanduk, di bawah kornea terdapat serat serat kolagen
2. Koroid : terdapat jaringan ikat longgar.
3. Muskulus siliaris : terdapat otot polos.
4. Lensa : terdapat epitel subskapularis terdiri atas sel selapis epitel kuboid.
5. Dari luar, mata itu tampak berbentuk bulat dan dilindungi oleh kelopak mata.
Conjunctiva, yang mengandung banyak pembuluh darah, adalah selaput lendir
yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian depan bola mata hingga ke
cornea.
6. Pada bagian depan mata, yang sinambung dengan sclera, terdapat cornea, yang
merupakan jendela bagi mata, yang berbentuk bulat. Cornea tidak mengandung
pembuluh darah dan bening, berfungsi mengarahkan cahaya ke dalam mata.
Meskipun lebih tipis daripada lensa yang terdapat di bagian dalam mata, cornea
merupakan lensa cembung yang sangat kuat.
7. Bagian yang paling peka dari retina ini disebut macula, yang bagian tengahnya
disebut fovea. Fovea terdiri dari sel-sel berbentuk roket yang disebut "cones", yang
peka terhadap citra visual yang rinci dan warna, dan karenanya bertanggung jawab
untuk ketajaman penglihatan. Sel-sel berbentuk seperti rokok yang disebut "rods"
sebagian besar terdapat di bagian tepi retina, dan hanya sedikit saja yang terdapat
pada bagian tengah.
8. Di depan lensa adalah iris, yang berupa bagian mata yang berwarna, berisi jaringan
otot yang dapat mengerut atau mengembang, sehingga berfungsi mengatur jumlah


cahaya yang masuk melalui pupil, yaitu bagian tengah iris, terus ke retina. The
Ciliary body terletak di antara iris dan choroid, dan ketiga struktur ini membentuk
uvea.

4. Biokimia I ndera Penglihatan
Di retina, retinaldehida berfungsi sebagai gugus prosfetik protein opsin pada sinar
yang membentuk rodhopsin (pada sel batang) dan iodopsin (pada sel kerucut). Sel
kerucut mengandung 1 tipe opsin dan hanya peka terhadap satu warna di epitel
pigmen retina. All-trans-retinol mengalami isomerisasi menjadi 11-cis retinol dan
dioksidasi menjadi 11-cis retinaldehida. Penyerapan sinar oleh rodhopsin menyebabkan
isomerisasiretinaldehida dari 11-cis menjadi all-trans dan perubahan bentuk opsin. Hal
ini menyebabkan pembebasan retinaldehida dari protein dan inisiasi impuls saraf.
Mekanisme Fotoreseptor
Respon listrik
Perubahan potensial yang mencetuskan potensial aksi diretina dihasilkan oleh
kerja cahaya pada senyawa fotosensor di sel batang dan sel kerucut.
Mata bersifat unik yaitu bahwa potensial reseptor pada fotoreseptor dan respon
listrik disebagian besar elemen saraf lain di retina adalah potensial bertingkat dan
bersifat local dan hanya disel ganglion terjadi potensial aksi alla or nans yang
disalurkan ke jarak yang cukup jauh.
Dasar ionik potensial fotoreseptor kanal Na
+
disegmen luar sel batang dan
kerucut akan terbuka pada keadaan gelap sehingga arus mengalir dari segmen bagian
dalam ke bagain luar. Arus ini mengalir ke ujung sinaps fotoreseptor. Na
+
K
+
ATPase
disegmen bagian dalam mempertahankan keseimbangan ion.
5. Rabun Senja
Terdapat gangguan pada cortex sensoris tepatnya di cortex vitualis
Tanda-tanda:
a. Buta senja terjadi akibat gangguan pada sel batang retina
b. Pada keadaan ringan, sel batang retina sulit beradaptasi di ruang yang remang-
remang setelah lama berada di cahaya terang


c. Penglihatan menurun pada senja hari, dimana penderita tak dapat melihat di
lingkungan yang kurang cahaya, sehingga disebut buta senja.
Cara mendeteksi buta senja pada anak-anak:
a. Bila anak sudah dapat berjalan, anak tersebut akan membentur/menabrak benda
didepannya, karena tidak dapt melihat
b. Bila anak belum dapat berjalan, agak sulit untuk mengatakan anak tersebut buta
senja. Dalam keadaan ini biasanya anak diam memojok bila di dudukkan di tempat
kurang cahaya karena tidak dapat melihat benda atau makanan di depannya
Pencegahan
- Banyak mengkonsumsi vitamin A yang ada di dalam sayuran / nabati, hewani dan
buah buahan.
- Memberi asupan gizi kepada balita yang dilakukan pemerintah pada bulan
Februari dan Agustus ( pemberian kapsul vitamin A )
Penanganan
- Menkonsumsi vitamin A
- Apabila terjadi keanehan dalam penglihatan segera memeriksakan ke dokter
spesialis mata.
6. Macam-macam Gangguan
a. Miopy
gangguan melihat jauh
dimana bayangan jatuh di depan retina
di tolong dengan kaca mata negatif/devergen/cekung
b. Hipermetropi
gangguan melihat dekat
dimana bayangan jatuh di belakang retina
ditolong dengan kaca mata positif/konvergen/cembung
c. Presbiopi
gangguan melihat dekat di tolong dengan kaca mata positif
d. Astigmatisme
mata yang memiliki kecembungan kornea mata tidak sama
dibantu dengan kaca mata berlensa silindris
gejala yang ditimbulkan mata kabur



7. Pemeriksaan I ndera Penglihatan
Persyaratan pemeriksaan mata
1. Intensitas cahaya adekwat
2. Tersedia alat dan obat diagnostik
3. Dilakukan secara sistematis
4. Mengenal anatomi, fisiologo, dan patogisiologi mata
Peralatan pada pemeriksaan
1. Opthalmoskop : untuk mengetahui fundus okuli
2. Retinoskop : untuk menentukan resep lensa tanpa aktifitas penderita
3. Keratometer : untuk mengukur resep lensa
4. Tonometer : untuk mengukur tekanan okuler
5. Pupilometer : untuk mengukur diameter pupil
6. Lensometer : untuk mengukur keadaan lensa

















Daftar Pustaka

Guyton&Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC.
Gabriel, J F.1988. Fisika Kedokteran. Denpasar: EGC
Leeson, C Roland.1996. Buku Ajar Histologi Edisi 5. Jakarta: EGC.
Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik Mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC.
Slide pembekalan kuliah dr. Surjadi
Slide pembekalan kuliah dr. Wahyu Ratna