Anda di halaman 1dari 3

A.

Evaluasi Granul
1. Kecepatan Alir (Metode Flodex)
Metode ini didasarkan pada kemampuan serbuk untuk jatuh secara bebas melalui lubang
berdiameter tertentu. Dengan demikian, indeks sifat alir (flowability index) dinyatakan
sebagai diameter (millimeter) terkecil yang dapat dilalui serbuk secara bebas pada
pengulangan tiga kali secara berturutan.
K 490 x r x d
K : koefisien friksi internal (dynes per square centimeter atau poise)
r : radius(cm) terkecil yang dapat dilalui serbuk secara bebas
d : non-tapped bulk density serbuk (grams per milliliter)
490 : dari gaya gravitasi
Dapat dikatakan bahwa serbuk yang memiliki viskositas K dan non tapped bulk density (d)
memiliki sifat alir yang bagus (free flowing) jika :
r K / (490 x d)

2. Sudut Diam
Sudut diam dapat ditentukan dengan menggunakan peralatan sederhana, yaitu menuangkan
sampel melalui corong kemudian mengukur sudut yang terbentuk (). Jadi sudut diam
adalah sudut yang terbentuk oleh serbuk pada permukaan horizontal. Biasanya sudut diam
yang dibentuk oleh serbuk farmasetik berkisar anatar 20
o
40
o
, dan secara umum serbuk
semakin rendah sudut diamn maka serbuk semakin baik sifat alirnya (free flowing).

3. Kompresibilitas
BJ nyata, BJ mampat dan % Kompresibilitas (%K)
Tujuan : Menjamin aliran granul yang baik
Prinsip : Pengukuran BJ nyata dan BJ mampat berdasarkan perbandingan bobot granul
terhadap volume sebelum dan setelah dimampatkan (diketuk 500x). Pengukuran %
kompresibilitas berdasarkan Carrs Index.
granul volume
granul bobot
nyata BJ
mampat volume
granul bobot
mampat BJ

Penafsiran hasil : Jika % K:
5 10 % artinya aliran sangat baik
11 20 % artinya aliran cukup baik
21 - 25 % artinya aliran cukup
>26 % artinya aliran buruk

4. Porositas
Ukuran partikel yang isodiametris dengan berbentuk shperis atau bulat memiliki nilai
porositas yang tetap yaitu diantara 37-40%, sedangkan yang berbentuk kubus memiliki nilai
porositas yang lebih tinggi yaitu 46%.
% 100 %

mampat
nyata mampat
BJ
BJ BJ
K
Porositas atau keadaan yang beronga-rongga ini dapat digunakan untuk menjelaskan tingkat
konsolidasi suatu serbuk. Nilai porositas ini merupakan perbandingan nilai volume antar
partikel dengan volume total.
Volume total = volume antar partikel (Vp)+volume partikel (Vr) maka,
Volume antar partikel (Vp)=volume total (V)- volume partikel sehingga,
Nilai porositas (e) = V Vr / V x 100% atau
(e) = 1 Vr /) V x 100 %
Dimana : (e) adalah nilai porositas
V adalah volume total
Vr adalah volume partikel
Makin besar nilai porositas dari kerapata serbuk atau granul, pada umumnya akan
menyebabkan turunnya jumlah obat pertabletnya, sehinga menyebabkan terjadinya
penurunan mutu secara farmakologis dari tablet tersebut. Hal ini disebabkan karena makin
besar rongga antar partikel serbuk atau granul akan menyebabkan terjadinya peningkatan
volume antar partikel serta menurunnya volume partike itu sendiri. Sehingga tampaknya
bahwa serbuk atau granul tersebut berongga-rongga, apabila serbuk atau granul dalam
keadaan demikian ini akan menyebabkan bobot tablet yang dihasilkan akan berkurang dari
bobot yang seharusnya.

5. Kadar Air
Kelembapan di dalam zat padat dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering.
Berdasarkan berat basah, kandungan air dari suatu bahan dihitung sebagai persen berat dari
bahan basah menggambarkan penyusutan pada saat pengeringan loss on drying
(LOD). (terutama pada proses granulasi basah).



Pengukuran lain untuk menyatakan kelembapan dalam zat padat ialah berdasarkan berat
kering yaitu, air dinyatakan sebagai persen berat dari bahan kering disebut kandungan
lembap (moisture content, MC).



6. Kadar Fines (Kehalusan Serbuk)

B. Evaluasi Tablet
1. Organoleptik
Mengamati bentuk, warna, bau, dan rasa secara visual.

2. Keseragaman Bobot
Menurut FI III (1979), Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet.
Dihitung
bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang
masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari 5 % (CV <
5%).
Dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari 10% bobot rata-ratanya.

3. Diameter dan Ketebalan
% LOD =


100
% MC =


100
Tujuan : Menjamin penampilan tablet yang baik
Prinsip : Selama proses pencetakan, perubahan ketebalan merupakan indikasi
adanya masalah pada aliran massa cetak atau pada pengisian granul ke dalam die.
Pengukuran dilakukan terhadap diameter dan tebal tablet.
Alat : jangka sorong
Penafsiran hasil : Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 kali tebal
tablet.
Sebanyak 20 tablet diambil secara acak, lalu diukur diameter dan tebalnya menggunakan
jangka sorong.

4. Kekerasn (Friabiliti)
Tujuan : Menjamin ketahanan tablet terhadap gaya mekanik pada proses,
pengemasan dan penghantaran.
Prinsip : Pengukuran friabilitas dilakukan dengan menentukan persentase bobot
tablet yang hilang selama diputar dan dijatuhkan dari ketinggian tertentu
dalam waktu tertentu.
Alat : Friabilator
Penafsiran hasil :
- Kehilangan bobot tidak boleh > 1%
- Jika tablet pecah maka tidak memenuhi syarat dan tidak dimasukan dalam penimbangan
tablet akhir.
- Jika hasil meragukan/kehilangan bobot lebih besar dari yang ditargetkan maka
pengujian diulang 2-3 kali.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat friabilitator terhadap 20 tablet yang
diambil acak. Tablet yang diambil secara acak dibersihkan satu-satu dengan kuas lalu
ditimbang. Tablet lalu dimasukkan pada alat dan diputar sebanyak 100 putaran. Tablet
dibersihkan lagi dan ditimbang.

1

100

5. Penetapan Kadar
Kadar tablet diukur dengan menggunakan alat sprektrofotometri.

6. Waktu Hancur
Dimasukkan 5 tablet ke dalam tabung berbetuk keranjang, kemudian diturunnaikkan tabung
secara teratur 30 kali setiap menit dalam medium air dengan suhu antara 36-38 derajat
celcius.
Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kaca. Dicatat
lama waktu hancur tablet.

7. Disolusi
Untuk media disolusi digunakan 900 mL larutan dapar fosfat pH 5,8. Menggunakan alat tipe
2 dengan kecepatan 50 rpm selama 30 menit