Anda di halaman 1dari 24

Kualitas Batubara

1. Arti Penting Kualitas Batubara


Salah satu tahapan penting dalam rangkaian proses eksploitasi dan produksi
batubara adalah memahami benar tipikal batubara dalam hal ini kualitasnya.
Mengingat biaya eksploitasi yang mahal, kita harus memperhitungkan aspek
ekonomis. Hanya batubara dengan kualitas yang bagus dan seam-nya (lapisan)
tebal akan menjadi titik target untuk ditambang.
Demikian juga dalam rangkaian proses produksi yang pada ujungnya akan
berhubungan dengan marketing dimana customer/buyer (pembeli) kita akan
membeli produk batubara dengan parameter kualitas tertentu sesuai dengan
kebutuhan.
Dengan demikian kualitas batubara merupakan faktor yang sangat penting selain
aspek besar cadangan dan lain-lain.
2. Kendali Geologi Terhadap Kualitas Batubara
Sebelum membahas tentang beberapa analisa kualitas yang dilakukan di
laboratorium maka akan dikupas terlebih dahulu tentang faktor geologi yang
mengendalikan kualitas batubara dan parameter kualitas batubara berdasarkan
pengamatan di lapangan.
Faktor Geologi Sebagai Pengendali Kualitas Batubara
aktor geologi yang akan berdampak pada kualitas batubara secara global adalah
cekungan sedimentasi. !ekungan sedimentasi batubara secara umum
diklasifikasikan dalam " jenis, yaitu cekungan yang berkembang di #ilayah kontinen
stabil dan cekungan sedimentasi bergerak (mobile), seperti back arc basin atau pull
apart basin yang umumnya terbentuk di daerah batas atau dalam kontinen oleh
tenggelamnya atau tabrakan antar plate.
$edua jenis cekungan tersebut berbeda pada mekanisme pembentukan, proses
akumulasi tumbuhan, gerakan struktural, perbedaan sifat batubara, dan lain-lain
sebagai berikut %
2.1.1 Karakteristik Cekungan Tipe Kontinen Stabil
&erakan tektonik % tenggelam perlahan di #ilayah yang luas.
Deposit tumbuhan % di ba#ah kondisi teroksidasi dalam basin yang luas.
$uantitas batubara% terdapat lapisan batubara yang tipis secara konsisten dalam
daerah yang luas, tetapi cadangan batubara dalam satu
satuan luas kecil.
Struktur batubara % kaya akan maseral inertinite dan disertai maseral vitrinite.
!oalification % Sebanding dengan kedalaman endapan.
2.1.2 Karakteristik Cekungan Tipe Bergerak (Mobile
&erakan tektonik % gerakan blok
Deposit tumbuhan % di ba#ah kondisi tereduksi dalam basin yang sempit.
$uantitas batubara % terdapat lapisan batubara yang tebal, namun kurang konsisten
dalam daerah penyebaran yang sempit dengan cadangan
batubara dalam satu satuan luas besar.
Struktur batubara % kaya akan maseral vitrinite dan exinite.
!oalification % bukan saja dipengaruhi oleh kedalaman endapan tetapi juga
oleh gerakan tektonik dan aktifitas gunung api.
Para!eter Kualitas Batubara Berdasarkan Karakteristik Penga!atan di
"apangan #arna
'arna batubara ber(ariasi dari coklat hingga hitam legam. 'arna batubara yang
hitam, mengkilap, penyusunnya terdiri dari vitrain (berbentuk lapisan, sangat
mengkilap, pecahan konkoidal) kaya akan maseral vitrinite yang berasl dari kayu dan
serat kayu) dan clarain (berbentuk lapisan-lapisan tipis, sebagian mengkilap dan
kusam) kaya akan maseral vitrinite dan liptinite yang berasal dari spora, kutikula,
serbuk sari, getah).
'arna hitam % bituminous antrasit (high rank)
'arna coklat % lignite (low rank)
2.2.2 Pelapukan
*atubara yang cepat lapuk (low rank), sedangkan high rank tidak cepat lapuk.
+roses penguapan air lembab menyebabkan pecahnya batubara, sehingga
mempercepat proses oksidasi dan penghancuran tekstur umum batubara.
2.2.$ Gores
'arna gores ber(ariasi dari hitam legam hingga coklat. Lignite mempunyai gores
coklat, sedangkan bituminous goresnya hitam sampai hitam kecoklatan.
2.2.% Kilap
$ilap tergantung dari tipe dan derajat batubara. $ilap kusam umumnya berderajat
rendah (low rank), batubara berderajat tinggi (high rank) umumnya mengkilap.
2.2.& Kekerasan
$ekerasan berhubungan dengan struktur batubara, yaitu komposisi dan jenisnya.
*atubara kusam dan berkualitas rendah umumnya keras, sedangkan batubara cerah
dan berkualitas baik umumnya tidak keras dan mudah pecah.
2.2.' Pe(ahan
+ecahan memperlihatkan bentuk dari potongan batubara dalam sifat memecahnya.
,ntrasit atau high bituminous pecahannya konkoidal, sedangkan bituminous dan
lignite pecahannya tidak teratur.
*atubara dengan kandungan -at terbang (volatile matter) rendah pecahannya
meniang, sedangkan batubara kandungan -at terbang tinggi pecahannya persegi
atau kubus.
2.2.) Pengotor atau Parting
*erupa lapisan tipis (bisa berupa batupasir, lanau, lempung) di dalam lapisan
batubara, tebalnya ber(ariasi mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa
centimeter (ma. ditambang tebal parting /0 cm).
2.2.* Cleat
Merupakan rekahan di dalam lapisan batubara khususnya batubara bituminous yang
umumnya berupa rekahan pararel dan tegak lurus terhadap lapisan batubaranya. Di
dalam cleat sering terisi material klastik seperti batulempung atau batupasir, hal ini
menyebabkan meningkatnya kandungan mineral matter, volatile matter dan abu
sehingga nilai kalorinya menjadi rendah. Semakin banyak cleat maka batubara
tersebut semakin rendah kalorinya.
$. Penga!bilan Sample (Sampling
$.1 Pendahuluan
Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai 1Suatu proses pengambilan
sebagian kecil contoh (sample) dari suatu material sehingga karakteristik contoh
material tersebut me#akili keseluruhan material2.
Didalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat
penting, karena merupakan proses yang sangat (ital dalam menentukan
karakteristik batubara tersebut. Dalam tahap eksplorasi, karakteristik batubara
merupakan salah satu penentu dalam studi kelayakan apakah batubara tersebut
cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak. *egitu pun dalam tahap produksi dan
pengapalan atau penjualan batubara tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam
menentukan harga batubara.
Secara garis besar sampling dibagai menjadi 3 golongan dilihat dari tempat
pengambilan dimana batubara berada dan tujuannya yaitu% Exploration sampling, Pit
sampling, Production sampling, dan loading sampling (barging dan transhipment!
Exploration sampling dilakukan pada tahap a#al pendeteksian kualitas batubara
baik dengan cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara
pemboran atau drilling. 4ujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan
karakteristik batubara secara global yang merupakan pendeteksian a#al batubara
yang akan dieksploitasi.
Pit sampling dilakukan setelah eksplorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan
proses tambang didalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih
mendetailkan data yang sudah ada pada tahap eksplorasi. Pit sampling ini dilakukan
oleh pit control untuk mengetahui kualitas batubara yang segera akan ditambang,
jadi lebih ditujukan untuk mengontrol kualitas batubara yang akan ditambang dalam
jangka #aktu short term. Pit sampling ini juga dapat dilakukan dengan pemboran
juga dengan channel pada "ace penambangan kalau diperlukan untuk mengecek
kualitas batubara yang dalam proses ditambang.
Production sampling dilakukan setelah batubara di proses di processing plant
dimana proses ini dapat merupakan penggilingan (crushing pencucian (washing,
penyetokan dan lain-lain. 4ujuannya adalah mengetahui secara pasti kualitas
batubara yang akan di jual atau dikirim ke pembeli supaya kualitasnya sesuai
dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Dengan diketahuinya kualitas batubara di stockpile atau di penyimpanan sementara
kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke buyer
tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. *aik dengan cara mencampur
(blending batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan single source
dengan memilih kualitas yang sesuai.
Loading Sampling) dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli
baik menggunakan barge maupun menggunakan kapal. *iasanya dilakukan oleh
independent company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya
oleh penjual (shipper dan pembeli (buyer! 4ujuannya adalah menentukan secara
pasti kualitas batubara yang dijual yang nantinya akan menentukan harga batubara
itu sendiri karena ada beberapa parameter yang sifatnya fleksibel sehingga
harganya pun fleksibel tergantung kualitas aktual pada saat batubara dikapalkan.
#ampling, preparasi dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti
telah dijelaskan di atas,dilakukan dengan menggunakan standar-standar yang telah
ada. Dimana pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya tergantung
permintaan pembeli atau calon pembeli batubara. Standar yang sering digunakan
untuk keperluan tersebut diantaranya ) ASTM (American Society for Testing and
Materials), AS (Australian Standard), Internasional Standard, British Standard,
dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di ka#asan regional maupun
internasional.
$.2 Penggolongan Sa!pling
$.2.1 Berdasarkan Metode Pelaksanaan
$.2.1.1 Manual sa!pling
,da beberapa cara pengambilan sample secara manual.
a) +engambilan sample pada #top $elt
+engambilan sample cara ini merupakan cara yang terbaik yaitu dengan
mempergunakan peralatan "rame yang bentuk dan ukurannya disesuaikan dengan
bentuk belt conveyor dan ukuran batubara tersebut. +engambilan sample cara ini
dapat dipakai sebagai pembanding dari cara lain terutama dilihat dari kadar abu dan
moisture. +erbedaan hasil ini disebut juga bias. +engambilan sample cara stopped
belt kurang disukai karena banyak #aktu yang terbuang.
b) +engambilan sample dari %alling #tream
+engambilan sample cara ini ialah mengambil sample batubara saat batubara itu
jatuh dari satu belt ke belt berikutnya dan hanya dapat dilakukan apabila%
&op #i'e 5 67 mm
$ecepatan Muat 5 /00 M48jam
9leh karena top si'e batubara umumnya :0 mm maka pengambilan sample cara
ini masih dimungkinkan #alaupun kecepatannya ; "00 M48jam. ,dapun peralatan
yang dipakai adalah ladle bukan scoop.
c) +engambilan sample saat belt berjalan ((oving $elt)
+engambilan sample cara ini sangat sulit dan berbahaya baik untuk fasilitas muat
maupun untuk keselamatan tenaga penyampling. +engambilan sample cara ini
hanya dapat dilakukan apabila%
- &op #i'e 5 67 mm
- $ecepatan muat 5 /00 M48jam
- $etebalan batubara 5 "0 cm
- $ecepatan belt 5 /.: m8detik
- *atubara terdiri dari satu jenis
d) +engambilan sample dari )umptruck / *agon
+engambilan sample cara ini sangat sulit, karena terjadi segregasi pada saat
transportasi. +engambilan sample pada dumptruck/wagon dilakukan dengan
peralatan +uger atau membor batubara di dalam truk tersebut. Sebaiknya
pengambilan samplenya dilakukan saat pemuatan ke truk atau saat pembongkaran
dari truk ke stockpile atau hopper.
e) +engambilan sample dari #tockpile
+engambilan sample dari stockpile sangat sulit sekali, karena tingginya lapisan
batubara dan untuk itu diperlukan peralatan khusus yaitu +uger atau membor
timbunan batubara tersebut.
9leh karena pada umumnya sample yang diambil dari permukaan saja, maka hasil
analisa sample tersebut hanya dapat dipakai sebagai indikasi saja tidak untuk
dinegosiasikan.
$.2.1.2 Me(hani(al sa!pling
+engambilan sample secara mekanikal dilakukan pada saat belt tersebut berjalan.
+engambilannya dapat dilakukan dari atas belt (cross belt sampler) atau dari "alling
stream. ,da beberapa tipe alat untuk pengambilan sample cara ini.
+.4. ,daro adalah salah satu perusahaan yang menggunakan cross belt sampling.
Dalam penggunaan cara ini yang harus mendapatkan perhatian adalah alat bantu
screpper dan alat pembersih (brush), karena apabila alat tersebut tidak berfungsi,
maka kemungkinan batubara halus akan tertinggal (contoh tidak representative) dan
untuk itu peralatan harus dikontrol secara rutin.
$.2.2 Berdasarkan Teknis Penga!bilan
$.2.2.1 Core Sa!pling
#ampling batubara dari borehole (drilling memiliki perbedaan-perbedaan dengan
jenis-jenis sampling yang lainnya. Dimana sample batubara pada jenis sampling ini
diambil secara mekanikal yaitu dengan core. <adi yang dimaksud dengan core
sampling ini lebih ditujukan bagaimana terhadap prosedur treatment atau
penanganan untuk sample yang telah didapat dari borehole tersebut sampai sample
tersebut dikirimkan ke laboratorium. ,S4M sendiri menspesifikasikan prosedure
pengambilan sample dari core ini dalam ,S4M D :/=" > =:. Practice "or collection
o" coal samples "rom core!
Core Sampling terdiri dari %
- Exploration sampling
- )eep drilling
- #halow drilling
- Pit sample
- Pit drilling
$.2.2.2 Channel Sampling
,hannel sampling adalah pengambilan sample dari lapisan batubara dengan
membuat torehan memanjang menurut ketebalan batubara atau endapan bahan
galian lainnya. #ample ini me#akili penampang batubara menurut ketebalannya.
#ample ini biasanya diambil di sekitar singkapan. Sebelum melakukan
penyampelan, sumuran atau parit memanjang dibuat untuk membuka satu sisi
batubara segar. ,hannel sampling terdiri dari %
- Explorasi sampling
- -utcrop sampling
- Pit sampling
- #eam "ace sampling
$.2.2.$ Bul Sampling
$ulk sampling adalah pengambilan sample dalam jumlah besar yang diambil secara
sistematik dalam inter(al tertentu. ?ntuk batubara, bulk sample pada a#alnya
adalah contoh sebanyak satu lori (gerobak) pada inter(al tertentu sepanjang lapisan
batubara untuk analisa ukuran dan pengotor (abu). 4etapi pengertian ini semakin
meluas. 4ambang-tambang batubara di @ndonesia dapat mengambil lebih dari
/00000 ton batubara sebagai sample terutama untuk uji bakar pada +A4?, termasuk
uji penambangan, uji pengolahan, uji pengangkutan, uji pengapalan, dan uji
pemasaran. $ulk sampling terdiri dari %
- #tasionary sampling
- #tockpile sampling
- *agon sampling
- ,oal truck sampling
- (oving sampling
- ,ross belt sampling
- #top belt sampling
- %alling stream sampling
- (oving bucket sampling
%. Analisa Kualitas Batubara
*erikut adalah analisa-analisa yang dilakukan untuk mengetahui kualitas batubara %
%.1 Pro+i!ate Anal,sis
Proximate analysis adalah rangkaian analisis yang terdiri dari inherent moisture,
total moisture, ash, volatile matter dan "ixed carbon.
%.1.1 -nherent Moisture
.nherent moisture disebut juga bed moisture atau in-situ moisture adalah moisture
yang terkandung dalam batubara (dalam molekul batubara) di lapisan ba#ah tanah.
?ntuk mensimulasi kondisi ba#ah tanah, yang mempunyai kelembaban relatif
/00B, sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mengetahui kandungan inherent
moisture yang tepat sulit dilakukan. Sebagai pendekatan dibuatlah suatu tes dengan
kondisi simulasi yang dapat dilakukan di laboratorium. $ondisi tersebut yaitu
kelembaban relatif =6-=CB dan suhu 70
o
!.
9leh karena adanya perbedaan kondisi tersebut, maka perbedaan antara hasil
analisis dengan inherent moisture yang sebenarnya selalu ada, terutama pada lower
rank coal (batubara derajat rendah) yang kandungan moisturenya tinggi.
(oisture holding capacity (@S9, *S dan ,S) atau e/uilibrium moisture (,S4M)
adalah analisis untuk menentukan kandungan moisture tersebut. Hasil pemeriksaan
analisis ini, dari laboratorium ke laboratorium diharapkan konstan, karena contoh
sebelum dianalisis dikondisikan terhadap kondisi standart (suhu 70
o
!)kelembaban
=6-=CB). $ondisi contoh yang dianalisis sangat menentukan hasil analisis, oleh
karena itu contoh harus sesegar mungkin (tidak boleh teroksidasi).
,ntara metode standar ,S4M dengan metode standar lainnya (@S9, *S, dan ,S)
ada perbedaan pada ukuran partikel contoh yang dipergunakan untuk analisis.
,S4M menggunakan partikel berukuran /./Dmm, sedangkan metode standar
lainnya menggunakan partikel berukuran -0."/"mm.
%.1.2 Total Moisture
&otal moisture (4M) adalah moisture yang terkandung dalam contoh batubara yang
diterima di laboratorium, yang mana menggambarkan kandungan moisture sumber
batubara yang diambil contohnya tersebut.
Salah satu penetapannya adalah dengan metode two-stage determination. Dalam
metode ini penetapan dilakukan dengan dua analisis yang berkaitan. +ertama
dilakukan dengan analisis "ree moisture kemudian dilanjutkan dengan analisis
residual moisture.
Dalam @S9, *S, dan ,S % %ree moisture adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan persen jumlah air yang menguap dari contoh batubara yang
dikeringkan pada kondisi ruangan (suhu dan kelembaban ruangan) yang kadang-
kadang dibantu dengan hembusan kipas angin. +engeringan dilakukan sampai
mendapat berat konstan.
+ir dry loss adalah istilah yang dipergunakan oleh ,S4M untuk menyebutkan istilah
"ree moisture ini, sedangkan istilah "ree moisture dalam ,S4M mempunyai
pengertian yang berbeda sama sekali. Dalam ,S4M % %ree moisture adalah istilah
yang dipergunakan untuk menggambarkan moisture yang terdapat pada permukaan
partikel batubara pada kondisi tertentu yang dalam @S9, *S dan ,S dipergunakan
istilah sur"ace moisture.
Eesidual moisture adalah jumlah persen moisture yang terkandung pada contoh
batubara yang sebelumnya telah dikeringkan (air dried), baik itu contoh yang
telah dihaluskan sampai ukuran partikel "/"8":0 micron (untuk general analysis),
maupun contoh yang telah digiling sampai ukuran yang lebih kasar, seperti 0.":0,
0.D:0, ".76, dan 7.00mm.
Hasil analisis "ree moisture dan residual moisture kemudian dihitung untuk
mendapatkan total moisturenya dengan rumus 4M F M ; EMG(/-M8/00).
%.1.$ Ash
*atubara tidak mengandung ash, tetapi mengandung -at anorganik berupa mineral.
+sh (+ adalah residu anorganik hasil pembakaran batubara, terdiri dari oksida
logam seperti e
"
9
7
, Mg9, Ha
"
9, $
"
9, dsb, dan oksida non-logam seperti Si9
"
,
+
"
9
:
, dsb.
+enetapan ash merupakan bagian dari analisis proximate. +rinsip dari penetapan ini
ialah sejumlah contoh batubara yang sudah dihaluskan (;/ gram) dibakar pada suhu
dengan rambat pemanasan tertentu sampai didapat residu (abu). Eesidu yang
didapat ditimbang dan dihitung jumlahnya dalam persen.
Hilai kandungan ash suatu batubara selalu lebih kecil daripada nilai kandungan
mineralnya. Hal ini terjadi karena selama pembakaran telah terjadi perubahan
kimia#i pada batubara tersebut, seperti menguapnya air kristal, karbondioksida dan
oksida sulfur.
%.1.% .olatile Matter
,pabila / gram contoh contoh batubara dipanaskan pada kondisi standar tertentu
(suhu =00
o
!, selama C menit dalam "urnace khusus) maka akan ada bagian yang
terbakar dan menguap. *agian yang terbakar dan menguap tersebut ialah volatile
matter (0() dan moisture!
?ntuk mendapatkan nilai B0(, persen bagian yang terbakar dan menguap tersebut
dikurangi Bmoisture. ,nalisis ini merupakan bagian dari penetapan proximate.
%.1.& Fi+ed Carbon
%ixed carbon adalah nilai total kandungan unsur carbon dalam suatu contoh
batubara. %ixed carbon (%,) merupakan bagian dari analisis proximate. Hilai %,
tidak didapat melalui analisis tetapi melalui perhitungan (%, F /00 > ( > + > 0().
%.2 Sulphur
Di dalam batubara, sulfur bisa berupa bagian dari material carbonaceous atau bisa
berupa bagian mineral seperti sulfat dan sulfida.
&as sulfur dioksida yang terbentuk selama pembakaran merupakan polutan yang
serius. $ebanyakan negara memiliki peraturan mengenai emisi gas tersebut ke
atmosfir. Satu persen adalah limit kandungan sulfur dalam batubara yang banyak
dipakai oleh negara-negara pengguna batubara. $andungan yang tinggi dalam
coking coal tidak diinginkan karena akan berakumulasi di dalam cairan logam panas
sehingga memerlukan proses desulfurisasi.
%.$ Calori/i( .alue
,alorivic value adalah jumlah panas yang dihasilkan oleh pembakaran contoh
batubara di laboratorium. +embakaran dilakukan pada kondisi standar, yaitu pada
(olume tetap dan dalam ruangan yang berisi gas oksigen dengan tekanan ": atm.
Selama proses pembakaran yang sebenarnya pada ketel, nilai calorivic value ini
tidak pernah tercapai karena beberapa komponen batubara, terutama air, menguap
dan menghilang bersama-sama dengan panas penguapannya. Maksimum kalori
yang dapat dicapai selama proses ini adalah nilai net calorivic value! ,alorivic value
dikenal juga dengan speci"ic energy dan satuannya adalah kcal/kg atau cal/g,
(1/kg,$tu/lb.
%.% 0elati/e 1ensit,
2elative density adalah perbandingan berat contoh batubara (; " gram) yang telah
dihaluskan (-"/" micron), dengan berat air yang dipindahkan oleh contoh batubara
tersebut dari pycnometer yang dipergunakan untuk pengujian pada suhu 70;0./
o
!.
2elative density suatu batubara tergantung dari rank dan kandungan mineralnya.
2elative density dengan kandungan ash suatu batubara, dari rank dan jenis yang
sama, mempunyai korelasi yang baik sehingga dapat dipergunakan sebagai alat
untuk memperkirakan kandungan ash suatu batubara dari relative densitynya.
%.& 2lti!ate Anal,sis
3ltimate analysis adalah analisis yang memeriksa unsur-unsur -at organik dalam
batubara, seperti karbon, hidrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen. ?nsur-unsur selain
oksigen dapat dianalisis di laboratorium, sedangkan untuk oksigen sendiri bisa
didapat dari perhitungan.
%.' For!s o3 Sulphur
Sulfur dalam batubara terdapat dalam tiga bentuk, yaitu pyritic sulphur, sulphate
sulphur dan organic sulphur. ,nalisis "orms o" sulphur dilakukan untuk mengetahui
komposisi penyusun sulfur.
-rganic sulphur terdapat pada seluruh material carbonaceous dalam batubara dan
jumlahnya tidak dapat dikurangi dengan teknik pencucian
Sulfur dalam bentuk pyritic dan sulphate merupakan bagian dari mineral-matter yang
terdapat dalam batubara yang jumlahnya kemungkinan masih dapat dikurangi
dengan teknik pencucian. +ersen pyritic dan sulphate sulphur didapat melalui
analisis di laboratorium, sedangkan organic sulphur didapat dengan cara
mengurangi B total sulphur dengan pyritic dan sulphate sulphur (#
(o)
F &#-#
(p)-
#
(s)
).
4erdapatnya sulphate sulphur dalam suatu batubara sering dipergunakan sebagai
penunjuk bah#a batubara tersebut telah teroksidasi, sedangkan pyritic sulphur
dianggap sebagai salah satu penyebab timbulnya spontaneous combustion.
#pontaneous combusition adalah proses terjadinya kebakaran stockpile batubara
secara spontan.
Sebelum dilakukan proses pencucian batubara sebaiknya dilakukan analisis "orms
o" sulphur terlebih dahulu, untuk mengetahui Borganic sulphur-nya. ,pabila organic
sulphur-nya I /.00B, kita harus menyadari bah#a sebaik apapun proses pencucian
batubara tersebut, produknya tetap akan mengandung total sulphur I /.00B
sehingga kita dapat menentukan apakah proses pencucian batubara efektif untuk
dilakukan atau tidak.
%.) Carbonate Carbondio+ide
+enetapan carbonate carbondioxide dilakukan untuk mendapatkan angka yang
dapat dipergunakan sebagai pengoreksi hasil penetapan karbon, sehingga karbon
yang dilaporkan hanyalah karbon organik (organic carbon). +enetapan carbonate
carbondioxide tidak perlu dilakukan pada contoh batubara derajat rendah (brown
coal dan lignite), karena batubara derajat rendah atau lower rank coal bersifat asam
sehingga carbonate carbon-nya akan kosong.
%.* Chlorine
,hlorine adalah salah satu elemen batubara yang dapat menimbulkan korosi
(pengkaratan) dan masalah "ouling/slagging (pengkerakkan) pada ketel uap. $adar
chlorine lebih kecil dari 0."B dianggap rendah, sedangkan kadar chlorine lebih
besar dari 0.:B dianggap tinggi. ,danya elemen chlorine selalu bersama-sama
dengan adanya elemen natrium.
%.4 Phosporus
,danya phosphorus (posfor) di dalam coking coal sangat tidak diinginkan karena
dalam peleburan baja, phosphorus akan berakumulasi dan tinggal dalam baja yang
dihasilkan. *aja yang mengandung phosphorus tinggi akan cepat rapuh.
Phosphorus juga dapat menimbulkan masalah pada pembakaran batubara di ketel
karena phosphorus dapat membentuk deposit posfat yang keras di dalam ketel.
?ntuk coking coal akan dibahas pada ,oking +nalysis properties.
%.15 Ash Anal,sis
Salah satu faktor penting pada pemakaian batubara dan kokas dalam industri adalah
sifat mineralnya pada proses pembakaran. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut,
proses pemakaian batubara dapat dirancang sedemikian rupa sehingga masalah
yang mungkin timbul dapat diantisipasi dengan baik, misalnya masalah penanganan
dan pembuangan ash (abu), "ly ash (partikel abu halus yang ikut terbang bersama-
sama asap dan sisa pembakaran lainnya), clinker, dan slag (cairan kerak). Selain
itu faktor ini sering juga sering dipergunakan sebagai arahan dalam memilih bahan
bakar batubara yang cocok untuk suatu industri.
+enggambaran sifat ini, secara kuantitatif dilakukan dengan cara menghitung rasio
kelompok unsur tertentu yang terkandung dalam batubara, yang mana kemudian
dikenal dengan istilah slagging dan "ouling "actor.
#lagging adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran batubara dimana
abunya meleleh dan membentuk kerak yang menempel pada dinding dalam ruang
pembakaran dan pada pipa-pipa superheater yang berjarak renggang, yang sulit
untuk dibersihkan sehingga mengakibatkan berkurangnya penyaluran panas.
%ouling adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran dimana abu halus
yang mengandung sodium menguap bersama-sama sulphur dan berakibat sama
seperti slagging.
#lagging/"ouling "actor adalah sebuah indeks yang dihitung baik dari data ash
analysis maupun dari data ash "usion temperature yang dapat memberikan indikasi
seberapa jauh kecenderungan batubara tersebut menimbulkan masalah
slagging/"ouling selama proses pembakaran.
+sh sebagian besar terdiri dari oksida silikon, aluminium, besi, kalsium, magnesium,
titan, mangan, dan logam alkali. Sebagian di antaranya terikat sebagai silikat, sulfat,
dan posfat. $omposisi ash batubara tidak sama dengan komposisi mineralnya tetapi
dapat menggambarkan komposisi mineralnya.
4otal hasil analisis ini harus /00;"B. Hasil analisis seharusnya dilaporkan dalam
basis 1.gnited at 455
o
,2, tetapi banyak orang yang melaporkan hasil analisis ini
tanpa mencantumkan basisnya.
Di pabrik semen, yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar, data komposisi
abu batubara sangat berguna untuk menghitung kontribusi unsur-unsur yang
terdapat dalam abu batubara tersebut terhadap produk semen yang dihasilkan. Data
komposisi abu batubara juga berguna sebagai penunjuk kemungkinan
dipergunakannya abu tersebut sebagai bahan baku produk sampingan, misalnya
batako.
$omposisi ash suatu batubara erat hubungannya dengan ash "usion temperature-
nya. ,sh yang mengandung oksida besi, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium
yang tinggi umumnya mempunyai ash "usion temperature yang rendah, sedangkan
ash yang mengandung silika, aluminium, dan titan yang tinggi umumnya mempunyai
ash "usion temperature yang tinggi. Hamun apabila kandungan silika tinggi sekali,
ash "usion temperature-nya justru rendah.
!ontoh abu batubara yang diperlukan untuk ash analysis dengan metode +tomic
+bsorption sebanyak 0.300;0.00/0 gram (duplo). ?ntuk mengantisipasi
kemungkinan adanya pengulangan analisis, penyediaan /.0 gram abu sangatlah
bijaksana. !ontoh abu dibuat di laboratorium dengan hati-hati agar abu yang
terbentuk benar-benar telah terabukan dengan baik. ?ntuk analisis dengan metode
6-2ay #pectometry diperlukan contoh yang lebih banyak.
Tabel ..1
Ko!posisi Karakteristik
Abu Batubara dan Kokas -nggris
6le!en 0u!us Ki!ia 0entang (7
#ilica Si9
"
/: > ::
+lumina ,l
"
9
7
/0 > 30
%erric oxide e
"
9
7
/ > 30
,alcium oxide !a9 / > ":
(agnesium oxide Mg9 0.: > :
#odium oxide Ha
"
9 0 > D
Potassium oxide $
"
9 0 > :
&itanium oxide 4i9
"
0 > 7
(anganese oxide Mn
7
9
3
0 > /
#ulphate S9
7
0 > /"
Phospate +
"
9
:
0 > 7
%.11 Ash Fusion Te!perature
+sh "usion temperature (+%&) adalah analisis yang dapat menggambarkan sifat
pelelehan abu batubara yang diukur dengan mengamati perubahan bentuk contoh
abu yang telah dicetak berupa kerucut, selama pemanasan bertahap.
,nalisis biasanya dilakukan dengan dua kondisi pemanasan, yaitu kondisi oksidasi
dan kondisi agak reduksi. +ada kondisi reduksi, pemanasan dilakukan dalam tabung
pembakaran yang dialiri oleh campuran :0B gas hidrogen dan :0B gas
karbondioksida, sedangkan pada kondisi oksidasi pemanasan dilakukan dalam
tabung pembakaran yang dialiri oleh /00B gas karbondioksida.
+engamatan sifat pelelehan ini umumnya dilakukan pada suhu =00
o
! sampai
dengan /600
o
!. +engamatan dicatat dan dilaporkan pada saat contoh abu meleleh
dan berubah menyerupai profil standar yang telah tersedia.
,nalisis yang dilakukan pada kondisi oksidasi umumnya mendapatkan hasil yang
lebih tinggi daripada yang dilakukan pada kondisi reduksi. Hal ini tergantung dari
kandungan komponen tertentu dalam abu tersebut, sebagai contoh, komponen besi
oksida yang mempunyai efek pelelehan yang berbeda pada kondisi oksidasi dengan
pada kondisi reduksi.
,pakah itu +%& oksida atau reduksi yang dapat dipakai untuk memprediksi
permasalahan yang mungkin timbul pada suatu instalasi, tergantung dari bentuk
operasi itu sendiri. Sebagai contoh, dalam kasus pabrik penghasil gas, dimana
kondisi reduksi terjadi di ruang pembakaran maka +%& reduksilah yang cocok untuk
dilakukan, sebaliknya pada dasar "ixed "urnace, dimana udara pembakaran mengalir
dari ba#ah ke atas, kondisinya ialah oksidasi, sehingga +%& oksidasilah yang cocok.
Dalam kasus pembakaran pulveri'ed "uel, keadaannya berbeda dan tidak menentu.
+ada nyala pembakaran, sebagian besar kondisinya reduksi, sedangkan di luar
nyala pembakaran kondisinya agak oksidasi tergantung dari banyaknya kelebihan
udara yang dialirkan.
+%& sangat dipengaruhi oleh komposisi abu (ash analysis) %
a. ,pabila komposisi abu semakin mendekati ,l"97."Si9" (rasio ,l"978Si9" F / %
/./D) semakin sulitlah untuk meleleh. ,rtinya "low temperature-nya tinggi dan
rentang suhu lelehnya tinggi.
b. !a9, Mg9, dan e"97 bersifat agak melelehkan sehingga akan menurunkan +%&
terutama apabila mengandung kelebihan Si9".
c. e9, Ha"9, dan $"9 mempunyai kemampuan menurunkan +%& yang sangat kuat.
d. $andungan sulfur yang tinggi menurunkan suhu initial de"ormation dan memperlebar
rentang suhu lelehnya ("low-initial de"ormation).
*atubara yang abunya memiliki +%& yang tinggi (initial de"ormation I /7:0
o
!),
sangat cocok dipergunakan pada operasi dengan sistem penanganan8pembuangan
abu berupa padatan kering, sedangkan batubara yang abunya memiliki +%& rendah
("low789:5
o
,) sangat cocok dipergunakan pada operasi dengan sistem
penanganan8pembuangan abu berupa lelehan.
%.12 8ardgro/e Grindabilit, -nde+
;ardgrove grindbility index (;<.) adalah indeks yang menggambarkan tingkat
kemudahgerusan batubara oleh alat penggerus (pulveri'er) di lapangan, yang
proses pembakaran batubaranya menggunakan partikel batubara halus (C: micron)
yang biasa disebut dengan pulveri'ed "uel (p").
Harga ;<. diperoleh dengan menggunakan rumus %
;<. F /7.6 ; 6.=7 *
* adalah berat dalam gram dari batubara lembut berukuran "00 mesh. Semakin
tinggi nilai ;<. suatu batubara semakin mudah batubara tersebut digerus. Semakin
tinggi rank batubara, semakin tinggi juga nilai ;<.-nya, kecuali anthracite.
;<. tidak bersifat aditif, artinya apabila kita mempunyai dua jenis batubara yang nilai
;<.-nya berbeda, kemudian dicampurkan dengan komposisi tertentu, nilai batubara
tidak bisa dihitung berdasarkan komposisi pencampuran tersebut. Hilai ;<.
campuran cenderung ke arah nilai yang lebih kecil.
%.1$ Abrasion -nde+
+brasion index adalah indeks yang menunjukkan daya abrasi (kikis) batubara
terhadap bagian dari alat yang dipergunakan untuk menggerus batubara tersebut
(pulveri'er) sebelum dipergunakan sebagai bahan bakar. Semakin tinggi nilai
abrasive index suatu batubara semakin tinggi pula biaya pemeliharaan alat
penggerus batubara tersebut.
Suatu batubara disebut abrasive apabila abrasive index-nya 300-600, dan disebut
tidak abrasive apabila abrasive index-nya 5/0. ,oke mempunyai abrasive index
":00 sedangkan sandstone mempunyai abrasive index /"00.
*atubara yang diinginkan pembeli harus mempunyai abrasive index 5"00. ,pabila
abrasive index-nya I "00, harga batubara tersebut bisa lebih murah atau bahkan
sama sekali ditolak.
%.1% Tra(e 6le!ent
,nalisis ini dilakukan untuk mengetahui komposisi unsur dalam batubara yang
dianggap berbahaya terhadap lingkungan. <umlahnya kecil, misalnya merkuri, arsen,
selenium, fluorine, cadmium dsb.
%.1& Cru(ible S9elling :u!ber
,rucible swelling number (,#=) adalah salah satu tes untuk mengamati caking
properties batubara, yang paling sederhana dan mudah dilakukan. ,aking adalah
sifat yang menggambarkan kemampuan batubara membentuk gumpalan yang
mengembang selama proses pemanasan.

%.1' Gra, King Coke
<ray->ing coke type adalah analisis untuk mengamati coking coal. ,oking adalah
sifat yang berhubungan dengan perilaku batubara selama proses carbonisation
(proses pembuatan coke secara komersial) serta sifat coke yang dihasilkannya. 4es
ini dilakukan pada tingkat pemanasan yang lambat yang lebih mirip dengan tingkat
pemanasan pada coke oven!
%.1) 0oga -nde+
2oga index adalah indeks yang didapat dari salah satu tes caking yang disebut roga
test. 4es ini untuk mengukur caking power. @ndeks ini dipergunakan dalam klasifikasi
batubara internasional sebagai alternatif dari crusible swelling number. @ndeks ini
dapat diperbandingkan dengan perkiraan di ba#ah ini.
Tabel ..2
Perbandingan Inde!
Cruci"le S#elling $um"er dan %oga Inde!
%.1* Audibert Arnu 1ilato!etr,
Cruci"le s#elling num"er %oga inde!
0 > J 0 > :
/ > " : > "0
" J - 3 "0 > 3:
I 3 I 3:
+ada proses karbonisasi, batubara pada a#alnya umumnya mengkerut, kemudian
mengembang ketika (olatile matter mulai menguap, dan akhirnya terbentuklah
gumpalan kokas.
+erubahan (olume yang terjadi pada proses ini sangat penting untuk diketahui, agar
penentuan jumlah batubara konsumsi coke oven dapat dilakukan dengan tepat
sehingga prosesnya menjadi aman. @nformasi ini pun penting diketahui dalam proses
pencampuran beberapa batubara untuk operasi pembuatan kokas komersial.
+udibert-+rnu dilatometry adalah alat untuk mengukur perubahan (olume yang
terjadi pada proses karbonisasi tersebut.
%.14 Caking and Coking Anal,sis Properties
,aking dan coking properties adalah sifat atau perilaku batubara pada saat
dipanaskan serta sifat coke yang terbentuk dari pemanasan tersebut.
,aking adalah sifat yang menggambarkan kemampuan batubara membentuk
gumpalan yang mengembang selama proses pemanasan. 4es ini dilakukan pada
tingkat pemanasan yang cepat. 4es untuk mengukur sifat caking ini adalah crucible
swelling number (disebut juga dengan "ree swelling index (+#&(), dan coke button
index) dan caking power yang diukur dengan roga test.
,oking adalah sifat yang berhubungan dengan perilaku batubara selama proses
carbonisation (proses pembuatan coke secara komersial) serta sifat coke yang
dihasilkannya. 4es ini dilakukan pada tingkat pemanasan yang lambat yang lebih
mirip dengan tingkat pemanasan pada coke oven. 4es untuk mengukur sifat coking
ini adalah <ray-king coke type, dilatometry (+udibert-+rnu), plastometry (<ieseler).
Selain untuk memperkirakan potensi batubara dalam pembuatan coke, kedua sifat
ini juga penting dalam pengklasifikasian batubara.
&. Kualitas Batubara dan Aspek Pe!an3aatan
Demikian di atas telah diuraikan secara garis besar parameter kualitas batubara.
*erbicara tentang aspek pemanfaatan, setiap konsumen memiliki standar kualitas
yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhannya.
<adi sekarang berkembang sudut pandang, kualitas tidak selalu mutlak berbicara
tentang nilai saja tetapi juga kejelian memanfaatkan nilai yang sudah ada dan
menentukan sasaran pasar yang tepat sehingga batubara kita tetap punya nilai jual.
+ada halaman selanjutnya akan diperlihatkan beberapa tabel (tabel K.7) K.3) K.:)
yang me#akili beberapa konsumen mengenai parameter-parameter kualitas yang
diinginkan. $ebutuhan akan kualitas batubara antara pabrik semen, pabrik kokas,
pembangkit tenaga listrik dan sebagainya berbeda satu sama lain.
Demikian #a#asan setiap kita dari setiap sudut pandang dan perhitungan harus luas
dan mendalam sehingga tepat pada sasaran.
Tabel ..$
Kualitas Batubara ,ang 1ibutuhkan
;leh Pabrik Se!en
Para!eter <ang
1iinginkan
"i!it Tipikal Keterangan
&otal moisture
(?-ar
%ree moisture
(?-ar
3 > D
rendah
ma. /"
(ma. /:)
ma. /0 > /"
Hilai kalori net berkurang. ,kan
menimbulkan masalah pada
penggilingan dan
penanganan. Aimit untuk low
rank coal lebih tinggi.
+sh
(?-ad
5 /: ma. "0
(ma. 30 > :0)
+engaruh abu kecil tetapi
kadarnya harus tetap (;"B).
$omposisi abu harus
konsisten karena diperlukan
dalam pengaturan
penambahan bahan baku.
0olatile matter
(?-dmm"
*eragam (ma. "3) 4ergantung sistem
pembakaran tetapi biasanya
fleksibel.
<ross ,alorivic 0alue
((1/kg-ad
*eragam (min "/.0) *asis yang diinginkan
konsumen bermacam-macam
(gross/net, ad/ar).
&otal #ulphur
(?-ad
5 "B ma. " > : 4ergantung dari kandungan
sulfur bahan baku.
$adar sulfur clinker 5 /.7B
,hlorine
(?-ad
Eendah (ma. 0./) Dalam proses kering,
kandungan chlorine dalam
clinker 5 0.07B. 4ergantung dari
kandungan chlorine
bahan baku, maksimum
dalam batubara beragam
sampai 0.0/B.
P@-:
+sh analysis (?
5 "B (ma. 6 > D) $andungan +"9: dalam
clinker 5 /B
;ardgrove grindability
index
4inggi Min :0 > ::
(min 30)
4ergantung dari kapasitas
penggerusan serta jumlah
produksi yang diinginkan.
(ax particle si'e (mm ": > 70 7: > 30 4ergantung limit ukuran
partikel yang dapat diterima
oleh alat penggerus.
%ines content
(75!:mm
(?
/: > "0 ": > 70 4erlalu banyak yang halus akan
menimbulkan masalah pada
#aktu penanganannya terutama
kalau basah,
bahkan total moisture akan lebih
besar apabila terlalu banyak
yang halus.
!atatan % Aimit tipikal adalah limit yang pada umumnya diinginkan para
konsumen, angka dalam kurung adalah angka yang menunjukkan
limit pada kasus tertentu.
Tabel ..%
Kualitas Batubara ,ang 1ibutuhkan
;leh Pabrik Kokas
Para!eter <ang
1iinginkan
"i!it Tipikal Keterangan
&otal moisture
(?-ar
: > /0 ma. /"
(ma. /:)
,kan menimbulkan masalah
pada penggilingan dan
penanganan.
+sh
(?-ad
Eendah ma. 6 > D
(ma. /0 > /")
$andungan abu kokas
hendaknya rendah untuk
mengurangi kerak pada blast
furnace.
0olatile matter
(?-dmm"
*eragam /6 > "/
"/ > "6
"6 > 7/
low volatile coal
medium volatile coal
high volatile coal
&otal sulphur
(?-ad
Eendah ma. 0.6 > 0.D
(ma. /.0)
$andungan sulfur kokas
hendaknya rendah agar
penyerapan sulfur oleh pig
iron dalam blast "urnace
dikurangi.
Phosphorus
(?-ad
Eendah ma. 0./ Phosphorus dalam baja akan
membuat baja cepat rapuh.
%ree swelling index C > = min 6
2oga test 60 > =0 min :0
<ray->ing coke type &6 > &/3 min &3 > &:
+udibert-+rnu
dilatometry
max dilatation (?
": > C0
D0 > /30
/:0 > 7:0
min "0
min 60
min /00
low volatile coal
medium volatile coal
high volatile coal
<ieseler plastometry
%luidity range
(
o
,
abo(e D0
abo(e /00
abo(e /70
min C0
min D0
min /00
low volatile coal
medium volatile coal
high volatile coal
Data caking/coking di atas hanya sebagai penunjuk potensi batubara untuk dibuat kokas.
+rediksi kinerja batubara dalam coke oven yang lebih dapat dipercaya memerlukan tes
yang lebih ekstensif. Prime coking coal adalah batubara yang memenuhi deretan kualitas
yang paling atas. $lend coking coal tidak harus mengikuti deretan kualitas di atas, karena
juga tergantung dari batubara yang dipakai untuk pencampurnya.
!atatan % Aimit tipikal adalah limit yang pada umumnya diinginkan para
konsumen, angka dalam kurung adalah angka yang menunjukkan
limit pada kasus tertentu.
Tabel ..&
Kualitas Batubara ,ang 1ibutuhkan ;leh Pe!bangkit Tenaga "istrik
Para!eter <ang
1iinginkan
"i!it Tipikal Keterangan
&otal moisture
(?-ar
%ree moisture
(?-ar
3 > D LMLM
rendah
ma. /"
(ma. /:)
ma. /0 > /"
Hilai kalori net berkurang. ,kan
menimbulkan masalah pada
penggilingan dan
penanganan. Aimit untuk low
rank coal lebih tinggi.
+sh
(?-ad
Eendah ma. /: > "0
(ma. 70)
Hilai kalori berkurang.
Aimit tergantung pada
kemampuan alat dalam
penangananan dan
pembuangan abu.
0olatile matter
(?-dmm"
": > 70
/: > ":
min ":
ma. ":
Side-fired p.f furnace
Do#n >fired p.f furnace
<ross ,alorivic 0alue
((1/kg-ad
4inggi min "3 > ": *asis yang diinginkan
konsumen bermacam-macam
(gross/net, ad/ar).
&otal #ulphur
(?-ad
Eendah
max 0.: > /.0
(ma. ".0)
Aimit maksimum tergantung
peraturan daerah tentang polusi.
@nggris "B,
<erman /B, <epang 0.:B.
,hlorine
(?-ad
Eendah
ma. 0./ > 0.7
(ma. 0.:)
Sebagai penunjuk kandungan
alkali. Harus rendah untuk
mengurangi kecenderungan
terjadinya fouling.
+sh %usion temp!
(oxidi'ing/reducing
(
o
,
4inggi @S9 ,
Eendah @S9 !
min /"00
(min /0:0)
ma. /7:0
(ma. /370)
Dry bottom furnace.
4ergantung fleksibilitas dan
prosedur operasi alat.
'et bottom furnace.
4ergantung suhu operasi.
$ondisi tanur yang
menentukan o.idicing dan
reducing yang diperlukan ash
fusion.
=itrogen (?dmm" Eendah
(0.D > /./)
Nang diinginkan rendah untuk
mengurangi pembentukan Ho..
;ardgrove grindability
index
4inggi min :0 > ::
(min 3:)
4ergantung dari kapasitas
penggerusan serta jumlah
produksi yang diinginkan.
Particle si'e max (mm ": > 70 7: > 30 4ergantung limit ukuran
partikel yang dapat diterima oleh
alat penggerus.
%ines content
(less than 5!: mm
(?
/: > "0 ": > 70 4erlalu banyak yang halus akan
menimbulkan masalah pada
#aktu penanganannya terutama
kalau basah,
bahkan total moisture akan lebih
besar apabila terlalu banyak
yang halus.