Anda di halaman 1dari 10

1

I. PENDAHULUAN
Infertilitas merupakan kondisi yang dapat terjadi pada pria mapun wanita. Infertilitas
diartikan sebagai kegagalan suatu pasangan untuk mendapatkan kehamilan sekurang-
kurangnya 12 bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi. Masalah ini
menimbulkan masalah medis, ekonomi, maupun psikologis bagi pasangan suami istri yang
mengalaminya. (Konsensus Penanganan Infertilitas, 2013)
Kegagalan pasangan suami istri dalam memperoleh keturunan, 30% disebabkan oleh
faktor yang berasal dari suami, 20% berasal dari suami istri. Jadi terdapat 50% penyebab
infertilitas yang berasal dari pria. (Purnomo, 2012).
Fertilitas pria merupakan suatu proses yang kompleks yang melibatkan sistem
endokrin, spermatogenesis, sperma yang motil, dan mampu untuk melakukan penetrasi ke
ovum. Infertilitas pria dapat terjadi pada salah satu atau lebih proses diatas. Pemeriksaan
ditujukan untuk mengidentifikasi penyebab dari infertilitas dan penanganan yang akan
dilakukan
. Clinical
assessment of subfertile men is aimed at identifying any reversible
cause for subfertility and excluding significant underlying
pathology. Assessment should also identify causes of subfertility
that are suitable for treatment with assisted reproductive
techniques. In cases of subfertility that are not reversible or
cannot be managed by assisted reproductive techniques, artificial
insemination by donor sperm or adoption can be advised.
Initial assessment of subfertile men must include careful
history, physical examination, and semen analysis. A sexual
history provides details of erectile or ejaculatory dysfunction
and abstinence. Past medical and surgical history should
elucidate previous genitourinary infections and trauma, as well
as cryptorchidism or torsion. Attention should also be paid to
the use of drugs and the womans reproductive history. General
physical examination may give clues to an underlying
chromosomal abnormality, and examination of the genitals can
identify hypogonadism, absent testes or vas deferens,
2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Epidemiologi
2.2 Etiologi
Infertilitas dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor
intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam atau merupakan suatu bawaan (kongenital).
Sedangkan faktor ekstrinsik adalah faktor dari luar termasuk lingkungan dan gaya hidup yang
diduga dapat mempengaruhi proses dari spermatogenesis.
2.2.1 Faktor Intrinsik
Kelainan- kelainan yang berasal dari dalam dapat terjadi pada ketiga fase
spermatogenesis, fase pretestikuler, fase testikuler, fase pasca testikuler.(Purnomo, 2012)
Berikut tabel mengenai kelainan pada ketiga fase tersebut.
Tabel 2-1. Etiologi Infertilitas Pria
Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus
Defisiensi hormon gonadotropin
Kelainan pada hipofisis

Testikuler Anomali kromosom
Penyakit sistemik
Kriptorkismus
Varikokel
Anorkhismus bilateral
Orkitis

Pasca Testikuler Kelainan bawaan: vesikula seminalis atau vas
deferens tidak terbentuk yaitu pada keadaan
congenital bilateral absent of the vas deferens
(CBAVD)



3

2.2.2 Faktor Ekstrinsik
Gaya hidup dan pekerjaan diduga dapat meningkatkan resiko terjadinya infertilitas
pada pria dengan mempengaruhi rangkaian proses spermatogenesis.
Konsumsi Alkohol
Alkohol dikatakan dapat berdampak pada fungsi sel Leydig dengan mengurangi
sintesis testosteron dan menyebabkan kerusakan pada membran basalis. Konsumsi
alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hipotalamus dan
hipofisis.
Merokok
Rokok mengandung zat berbahaya bagi oosit (menyebabkan kerusakan oksidatif
terhadap mitokondria), sperma (menyebabkan tingginya kerusakan morfologi), dan
embrio (menyebabkan keguguran). Kebiasaan merokok pada perempuan dapat
menurunkan tingkat fertilitas. Kebiasaan merokok pada laki-laki dapat mempengaruhi
kualitas semen, namun dampaknya terhadap fertilitas belum jelas. Berhenti merokok
pada laki-laki dapat meningkatkan kesehatan pada umumnya .
Kafein
Konsumsi kafein (teh, kopi, minuman bersoda) tidak mempengaruhi masalah
infertilitas.
Pekerjaan
Terdapat beberapa pekerjaan yang melibatkan paparan bahan berbahaya bagi
kesuburan seorang perempuan maupun laki-laki. Setidaknya terdapat 104.000 bahan
fisik dan kimia yang berhubungan dengan pekerjaan yang telah teridentifikasi, namun
efeknya terhadap kesuburan, 95% belum dapat diidentifikasi. Bahan yang telah
teridentifikasi dapat mempengaruhi kesuburan diantaranya panas, radiasi sinar-X,
logam dan pestisida.


Tabel 2.2
Bahan/Agen Kelompok Pekerja Efek Terhadap Kesuburan
Fisik
Kerja paruh waktu/waktu
kerja yang lama
Pekerja paruh waktu Tidak memberikan efek
4

Panas (meningkatkan suhu
pada scrotal)
Tukang Las, Pengendara
mobil dan motor
Parameter sperma menjadi
tidak normal
X-ray Radioterapi Azoospermia, mengurangi
jumlah sperma, namun dapat
kembali normal
Elektromagnetik Pekerja tambang Efek tidak konsisten
Getaran Penggali, Pekerja mesin Oligozoospermia,
asthenozoospermia
Kimia
Pestisida
(Dibromochloropropane)
Petani Oligozoospermia dan
azoospermia, mengurangi
tingkat kesuburan
Cadmium, magnesium Pekerja di pabrik baterai,
pelebur, pekerja metal
Mengurangi kesuburan,
memberikan efek pada
pasangan seksual
Aceton, glycol ether,
carbon disulphide
Laboran, pekerja di bidang
percetakan, pekerja kimia
Oligospermia, menurunkan
fekunditas, parameter sperma
menjadi tidak normal
Toluene, styrene Pabrik percetakan dan plastic Tidak memberikan efek
Gas anastetik Dokterk gigi, dokter anastesi Tidak memberikan efek

2.3 Manifestasi Klinis
Infertilitas merupakan kegagalan suatu pasangan untuk mendapatkan kehamilan
sekurang- kurangnya dalam 12 bulan berhubungan seksual. Saat anamnesis perlu untuk
menanyakan riwayat seksual, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat reproduksi pasangannya.
Untuk riwayat seksual, tanyakan bagaimana libido maupun potensi seksual. Potensi seksual
yang lemah dapat mengurangi kemampuan sperma mengumpul di vagina.(Purnomo, 2012)
Riwayat penyakit dahulu juga penting untuk ditanyakan kepada pasien. Misalnya
testis yang pernah mengalami torsio, trauma atau kriptorkismus dapat mempengaruhi
spermatogenesis. Pemakaian obat- obatan nitrofurantoin, simetidin, kokain, nikotin, dan
marijuana dapat menurunkan kemampuan spermatogenesis. (Purnomo,2012)
5

2.4 Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan Umum
Perhatikan penampilan pasien apakah tampak feminin atau seperti orang yang telah
dikebiri yaitu badannyya tumbuh besar, pertumbuhan rambut pada ketiak, pubis, dan badan
sangat jarang, dan organ genitalia ukurannya kecil. (Purnomo, 2012)
b) Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan genitalia meliputi testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis,
prostat, dan penis. Pada palpasi testis, diperhatikan konsistensi dan ukurannya. Panjang testis
diukur dengan kaliper, sedangkan volumenya testis diukur dengan orkidometer atau
ultrasonografi. Panjang testis normal pada orang dewasa adalah lebih dari 4 cm dengan
volume 20 ml. Testis yang mengecil merupakan tanda adanya kerusakan tubulus seminiferus.
Dicari pula kemungkinan adanya varikokel yang dapat mempengaruhi kualitas maupun
kuantitas sperma. Epididimis diperiksa mulai dari kaut, korpus, kauda, adanya obstruksi pada
epididimis ditandai dengan adanya jaringan fibrosis yang teraba seperti tasbeh akibat infeksi
kumat tuberkulosis. Pada penis diperhatikan adanya hipospadi atau korde yang dapat
mempengaruhi pengumpulan sperma di vagina. (Purnomo, 2012)
c) Colok Dubur
Untuk mencari adanya kelainan pada vesikula seminalis dan kelenjar prostat,
dilakukan colok dubur atau ultrasonografi transrektal. Tidak didapatkannya vesikula
seminalis mungkin disebabkan karena kelainan kongeital. Prostat yang teraba keras, besar,
dan nyeri merupakan tanda dari prostatitis. (Purnomo, 2012)
2.5 Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain :
a) Analisis Semen
Pemeriksaan ini dilakukan setelah 2-3 hari pasutri menjalani absistensi. Contoh
ejakulat ditampung di dalam tabung yang tidak mengandung spermisidal, pengujia ini
dilakukan aling lambat 2 jam setelah ejakulasi (Dawson et al, 2006). Berikut ini tabel harga
normal analisis semen.

6

Tabel 2.3 Harga Normal Analisis Semen

Volume Ejakulat 2 ml
Konsentrasi sperma 20 juta/ml
Motilitas sperma >50%
Morfologi : bentuk normal > 60%
Aglutinasi sperma -

b) Pemeriksaan hormon
Pemeriksaan hormon dilakukan jika diduga penyebabnya karena kelainan endokrin.
Jika pada analisis semen didapatkan hasil densitas sperma yang sangat rendah (kurang dari 5
juta sperma per ml) atau oligospermia ekstrem ,maka pemeriksaan ini seharusnya dilakukan.
Hormon yang diperiksa meliputi FSH, LH, prolaktin, dan testosteron. (Purnomo, 2012)

c) Biopsi testis
Biopsi testis dikerjakan untuk membedakan antara kelainan primer pada proses
spermatogenesis dengan kelainan obstruksi transportasi sperma. Kedua kelainan itu
menunjukkan adanya oligospermia yang berat atau azoospermia tetapi pada pemeriksaan
hormon FSH normal. Sedangkan untuk melihat patensi vas deferens, duktus ejakulatorius,
dan vesikula biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan vasografi atau seminal vesikulografi
dengan cara menyuntikkan bahan kontras melalui vas deferens dan mengikuti jalan kontras
sampai ke uretra posterior. (Purnomo, 2012)

2.6 Tata Laksana Farmakologi
Kelainan yang masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah defisiensi
hormon, reaksi imunologik antibodi sperma, infeksi, dan ejakulasi retrograd. Misalnya
pemberian LH untuk merangsang sel leydig memproduksi testosteron pada kasus
hipogonadotroik- hipogonadismus. (Purnomo, 2012)

2.7 Tata Laksana Non Farmakologi
Tatalaksana gangguan pada sperma seharusnya dilakukan berdasarkan penyebabnya.
Berikut penanganan gangguan pada sperma berdasarkan penyebabnya (Konsensus Penanganan
Infertilitas, 2013):
7


a) Defisiensi Testikular
Ekstraksi sperma dari testis menggantikan biopsi testis diagnostik yang tidak dilakukan
lagi. TESE dapat menjadi bagian terapi intracytoplasmic sperm injection (ICSI) pada pasien
dengan non-obstruktif azoospermia (NOA). Spermatogenensis mungkin terpusat: pada 50-60%
dengan NOA, spermatozoa dapat ditemukan dan digunakan untuk ICSI. Pada kasus mikrodelesi
komplit AZFa and AZFb, kecenderungan ditemukannya sperma adalah nol. Testicular sperm
extraction (TESE) adalah teknik pilihan dan menunjukkan hasil yang baik. Microsurgical
testicular sperm extraction kemungkinan dapat meninngkatkan angka keberhasilan pengambilan
sperma namun belum terdapat studi yang dapat membuktikannya. Hasil ICSI yang diperoleh,
lebih buruk jika sperma diambil dari pria dengan NOA, dibandingkan dengan sperma yang
diperoleh dari cairan ejakulasi pria dengan NOA.

b) Azoospermia Obstruktif
Obstruksi intratestikular
Pada kasus ini, rekanalisasi duktus seminalis tidak mungkin dilakukan sehingga TESE
atau fine-needle aspiration dapat direkomendasikan. Baik TESE maupun fine-needle aspiration
dapat menyebabkan kembalinya sperma pada hamper seluruh pasien OA.
Obstruksi epididimis
Microsurgical epididymal sperm aspiration (MESA) diindikasikan pada pria dengan
CBAVD. Spermatozoa yang didapatkan biasanya digunakan untuk ICSI. Pada pasien dengan
azoospermia akibat obstruksi epididimis didapat, end-to-end atau end-to-side microsurgical
epididymo-vasostomy direkomendasikan, dengan microsurgical intussuception epididymo-
casostomy menjadi teknik yang dipilih. Rekonstruksi mungkin dapat dilakukan unilateral atau
bilateral, angka patensi dan kehamilan biasanya lebih tinggi dengan rekonstruksi bilateral.
Sebelum operasi mikro, spermatozoa epididimis harus diaspirasi dan di kriopreservasi untuk
keperluan ICSI jika operasi gagal.
Obstruksi vas deferens proksimal
Obstruksi vas proksimal setelah vasektomi membutuhkan microsurgical vasectomy
reversal. Vaso-vasostomi juga dibutuhkan pada kasus yang jarang seperti obstruksi vassal
proksimal (iatrogenik, Pasca-traumatik, pasca-inflamasi). Microsurgical vaso-epididystomy dapat
diindikasikan jika cairan seminalis vas proksimal memiliki tampilan tebal atau toothpaste.12
Obstruksi vas deferens distal
Biasanya tidak mungkin untuk mengkoreksi defek vas bilateral yang besar akibat eksisi
vas yang tidak disengaja selama operasi hernia atau orchidopexy.
8

Obstruksi duktus ejakulatorius
Tatalaksana obstruksi duktus ejakulatorius tergantung kepada etiologinya. Pada obstruksi
besar pasca-inflamasi dan ketika satu atau kedua duktus ejakulatorius berujung midline
intraprosstaic cyst, transurethral resection of the ejaculatory ducts (TURED) dapat digunakan.
Jika terjadi obstruksi akibat midline intraprosstaic cyst insisi atau unroofing kista dibutuhkan.
TRUS intraoperatif membuat prosedur ini lebih aman. Jika evaluasi duktus seminalis distal
dilakukan saat prosedur, instalasi pewarna methylen blue ke dalam vas dapat membantu untuk
mendokumentasikan pembukaan saluran. Keterbatasan angka keberhasilan tindakan operasi
obstruksi duktus ejakulatorius pada kehamilan spontan harus dipertimbangkan terhadap aspirasi
sperma dan ICSI.
Komplikasi akibat tindakan TURED antara lain ejakulasi retrograd akibat cedera leher
buli, dan reflux urin ke saluran, vesikula seminalis dan vasa (menyebabkan motilitas sperma yang
buruk, pH semen asam, dan epididimitis). Alternatif dari TURED, yaitu MESA, TESE, proximal
vas deferens sperm aspiration, proximal vas deferens sperm aspiration, seminal vesicle
ultrasonically guided aspiration, dan direct cyst aspiration.
Jika terjadi obstruksi fungsional saluran seminalis distal, TURED sering gagal untuk
memeperbaiki output sperma. Spermatozoa dapat dikembalikan dengan antegrade seminal tract
washout. Spermatozoa yang didapatkan dari setiap tindakan operasi ahrus dikriopreservasi untuk
membantu prosedur reproduksi.






















9

Bagan 2.4 Alur Tata Laksana Infertilitas Pusat Pelayanan Kesehatan Primer

















10

III. ANALISA KASUS
Kasus :