Anda di halaman 1dari 9

Kanker Serviks

A. Pengertian
Kanker leher rahim atau yang dikenal dengan kanker serviks yaitu keganasan yang
terjadi pada serviks (leher rahim) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol
ke puncak liang senggama atau vagina (Depkes RI, 2006).Menurut Sukaca (2009), kanker
ginekologik adalah tumbuhnya sel-sel neoplastik secara tidak terkontrol pada jaringan organ
genital wanita terdiri dari uterus, tuba fallopi, ovarium, vagina dan vulva. Kanker pada organ
genital merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar kedua setelah kanker
payudara. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus (leher rahim),
suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang terletak antara rahim dan liang senggama
(vagina). Kanker serviks sering juga disebut kanker leher rahim. Dengan demikian kanker
leher rahim adalah penyakit neoplasma ganas pada leher rahim yang sel-sel epitelnya
memperlihatkan tanda-tanda keganasan berupa deferensiasi sel-sel epitel permukaan
menghilang, susunan sel-sel basal yang berbentuk palisade juga tidak dijumpai lagi, bentuk
dan inti sel juga bervariasi, sangat kuat menarik zat warna dan jumlah sitoplasma sangat
kurang, sehingga sel-sel seolah-olah tersusun padat.
Kanker leher rahim adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel skuamosa.
Kanker leher rahim merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu
daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya
antara rahim (uterus) dan liang senggama (Notodiharjo, 2002). Sebanyak 90% dari kanker
leher rahim berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel
kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke rahim.
Penyebab kanker leher rahim belum diketahui dengan pasti, namun diduga
penyebabnya Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi virus papilloma terdapat pada wanita
aktif secara seksual. Dari beberapa pemeriksaan laboratorium terbukti bahwa lebih dari 90%
kondiloma serviks semua neoplasia intraepitel serviks dan kanker leher rahim mengandung
DNA HPV. HPV ini dapat menyerang alat kelamin bagian luar vagina, leher rahim dan di
sekitar anus (Aziz M.F. 2000).

B. Epidemiologi
Kanker leher rahim masih merupakan kanker yang menduduki urutan pertama
kejadian kanker secara keseluruhan ataupun dari kejadian kanker pada wanita. Karena HPV
merupakan faktor etiologi, maka kanker leher rahim mempunyai beberapa faktor risiko yang
umumnya terkait dengan suatu pola penyakit akibat hubungan seksual. Faktor lain yang
dianggap merupakan faktor risiko antara lain faktor hubungan seksual pertama kali pada usia
muda, faktor kebiasaan merokok dan pemakaian kontrasepsi secara hormonal (Female
Cancer Programme, et.al, 2007).

C. Faktor Risiko Kanker Leher Rahim
Faktor kanker leher rahim dibagi dalam dua kategori :
a) Risiko Mayor
Infeksi Human Papilloma Virus (HPV), khususnya kelompok risiko tinggi seperti
HPV tipe 16, 18, 31, 33, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, 68 dan tipe 70. Distribusi
geografis tipe HPV berbeda untuk tiap-tiap negara. HPV tipe 16 dan 18 adalah yang
paling sering ditemukan di dunia. Dimana HPV tipe 16 umumnya ditemukan di negara
barat seperti Eropa, USA dan lain-lain. Sedangkan untuk tipe 18 banyak ditemukan di
Asia. HPV ditularkan lewat hubungan seksual.
b) Risiko Minor
Risiko minor kanker leher rahim adalah :
Menikah Usia Muda (< 20 tahun)
Pada berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang
mulai melakukan hubungan seksual pada usia < 20 tahun lebih berisiko untuk
menderita kanker leher rahim (Sjamsuddin, 2001).
Pasangan seksual yang berganti-ganti
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan
mempunyai faktor yang besar terhadap kejadian kanker ini. Pada penelitian sitologi
tes pap sekelompok wanita tuna susila dan wanita biasa ternyata jumlah kasus
prakarsinoma lebih banyak pada wanita tuna susila (Tambunan, 1995).
Terpapar IMS (Infeksi Menular Seksual)
Merokok
Wanita perokok mempunyai risiko 2 kali lebih besar terkena kanker leher rahim
dibandingkan dengan wanita bukan perokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks
pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang terdapat di dalam
rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks disamping merupakan
karsinogen infeksi virus (Dalimarta, 2004).
Sosial Ekonomi
Kanker leher rahim banyak ditemukan pada golongan ekonomi rendah. Mungkin
faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan
perseorangan. Golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas
makanan kurang, hal inilah yang mempengaruhi imunitas tubuh (Sjamsuddin, 2001).
Dari beberapa penelitian melaporkan defisiensi terhadap asam folat, vitamin C,
Vitamin E, beta karoten, atau retinol dihubungkan dengan peningkatan resiko kanker
serviks.

Hygiene dan sirkumsisi
Suami yang tidak dikhitan, dapat mengurangi kebersihan genital disertai
kemungkinan meningkatnya timbulnya kanker leher rahim. Oleh sebab itu dianjurkan
supaya khitan itu dilakukan untuk kebersihan dan kesehatan.
Jumlah anak yang terlalu banyak
Melahirkan anak yang sering atau bila jumlah anak lebih dari 3 orang meningkatkan
kemungkinan mendapatkan kanker rahim (YKI, 2003). Kanker serviks terjadi pada
wanita yang sering melahirkan. Pada wanita dengan paritas 5 atau lebih mempunyai
risiko terjadinya kanker serviks 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan wanita
dengan paritas 3 atau kurang (Suwiyoga, 2007). Dengan seringnya seorang ibu
melahirkan, maka akan berdampak pada seringnya terjadi perlukaan di organ
reproduksinya yang akhirnya dampak dari luka tersebut akan memudahkan timbulnya
Human Papilloma Virus (HPV) sebagai penyebab terjadinya penyakit kanker leher
rahim.


Kontrasepsi Hormonal atau IUD/AKDR
Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka waktu yang panjang yaitu lebih dari 5
tahun dapat meningkatkan risiko relative 1,53 kali. WHO melaporkan risiko relative
pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan
lamanya pemakaian (Sjamsuddin, 2001). Tali IUD akan menyebabkan trauma pada
leher rahim, dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya metaplasia (BKKBN,
1995).

D. Pertumbuhan dan Penyebaran Kanker Leher Rahim
Kanker leher rahim tumbuh dan berkembang secara bertahap. Kanker leher rahim
adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intra epitel, perubahan neoplastik, yang
berkembang menjadi kanker leher rahim setelah 10 tahun atau lebih. Pertumbuhannya
dimulai ketika satu sel dari sekian banyak sel normal tiba-tiba mengalami mutasi genetik. Sel
tersebut kemudian tumbuh berkembang dan membelah diri. Beberapa tahun kemudian, sel
tersebut mengalami mutasi lagi yang menyebabkan pertumbuhan dan ukuran sel menjadi
abnormal, keadaan ini disebut fase dysplasia. Fase dysplasia terus berkembang, dimulai dari
dysplasia ringan, sedang, berat dan akhirnya akan menjadi kanker in situ berkisar antara 1-7
tahun.
Kanker in situ yaitu kanker yang belum menembus batas jaringan tempat kanker
tersebut tumbuh. Beberapa tahun kemudian, sel kanker tersebut dapat menembus jaringan
basal dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Keadaan ini dinamakan kanker invasif. Sel
kanker juga dapat melepaskan diri dari tempat asalnya dan menembus pembuluh darah atau
pembuluh getah bening. Kemudian, bersama dengan aliran darah atau getah bening, sel
kanker terbawa ke bagian lain dari tubuh. Di tempat yang baru, sel-sel kanker akan tumbuh
dengan sifat yang sama dengan induknya. Penyebaran kanker ke jaringan tubuh lainnya ini
dinamakan anak sebar (metastasis). Biasanya kematian sukar dihindari jika telah terjadi
metastasis (Dalimartha, 2004).

E. Gejala dan Tanda-tanda
Gejala dini yang dapat ditunjukkan oleh adanya kanker leher rahim adalah :
a) Keputihan
Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium pre klinik belum dijumpai gejala-gejala
yang spesifik bahkan dijumpai tanpa gejala. Keluar cairan encer, keputihan yang berubah
warna menjadi merah muda, lalu kecoklatan dan sangat berbau karena adanya jaringan
nekrose karena infeksi.
b) Perdarahan dari kemaluan
Awal keluhan yang timbul pada penderita kanker leher rahim adalah perdarahan
dari kemaluan di luar siklus haid yang dimulai sedikit-sedikit yang makin lama makin
banyak dan berbau busuk (Yakub, 1993).
Pada permulaan kanker leher rahim kemungkinan penderita belum memiliki
keluhan dan diagnosis dan biasanya dibuat secara kebetulan (skrining kesehatan
penduduk). Pada fase lebih lanjut sebagai akibat nekrosis dan perubahan-perubahan
proliferase jaringan leher rahim timbul keluhan-keluhan sebagai berikut :
Perdarahan vaginal yang abnormal
Perdarahan kontak/senggama
Keputihan vaginal yang abnormal
Gangguan miksi (disuria)
Gangguan defekasi
Nyeri di perut bawah menyebar
Limfadenema
Pada stadium lanjut ketika tumor telah menyebar keluar dari leher rahim dan
melibatkan jaringan di rongga panggul dapat dijumpai tanda lain seperti nyeri yang
menjalar ke pinggul atau kaki.
Beberapa penderita mengeluhkan nyeri berkemih, hematuria, perdarahan rectum
sampai sulit berkemih dan buang air besar. Penyebaran ke kelenjar getah bening tungkai
bawah menimbulkan edema tungkai bawah, atau terjadi uremia bila telah terjadi
penyumbatan kedua ureter.
Standar pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan fisik yang merupakan
dasar dalam menentukan stadium penyakit. Pemeriksaan tersebut terdiri dari inspeksi,
palpasi, inspekulo dan pemeriksaan dalam. Dilanjutkan dengan biopsy, kolposkopi, kuret,
foto thoraks, BNO/IVP, Sitoskopi, Rectoskopi. Bila ada kecurigaan penyebaran ke vesika
atau rectum maka dikonfirmasikan dengan biopsy dan pemeriksaan hispatologik.

F. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
a) Tes PAP
Pap smear (tes pap) adalah suatu tindakan medis yang mana mengambil sampel
dari leher rahim kemudian dioleskan pada slide. Sel tersebut diperiksa dengan mikroskop
untuk mencari lesi pra kanker atau perubahan keganasan.
Pap smear sangat mudah, cepat dan tidak atau relatif kurang rasa nyerinya.
Pemeriksaan ini spesifisitas dan sensitivitasnya tidak terlalu tinggi, sehingga ada wanita
berkembang menjadi kanker leher rahim meskipun secara teratur melakukan pemeriksaan
pap smear. Tes ini memerlukan prasarana yang lengkap dan kompleks yaitu : Materi
(slide, spatula), reagents, mikroskop, tehnisi sitologi, pengiriman slide yang handal ke
lokasi pengujian dan pembacaan slide. Jika salah satu komponen tidak ada, seluruh
program tidak berjalan. Program skala kecil akan mengalami biaya yang lebih besar
(Female Cancer Programme, et.al, 2007).
b) Kajian terhadap Berbagai Metode Pemeriksaan Alternatif Kanker Leher Rahim
Beberapa metode pemeriksaan kanker leher rahim selain Tes Pap antara lain :
Kolposkopi, Servikologi, Pap Net, Tes Molekul DNA HPV dan hingga metode skrining
yang sederhana seperti inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan inspeksi visual
dengan asam asetat dan pembesaran gineskopi (IVAB).

G. Upaya Pencegahan Kanker Leher Rahim
Menurut Busmar (1997), upaya untuk memberikan pengobatan secara khusus telah dilakukan
dengan segala upaya namun hasil yang diperoleh belumlah sesuai dengan harapan. Karena
itu upaya pengobatan secara sendirian tidaklah dapat diharapkan untuk mengatasi masalah
kesehatan masyarakat ini. Upaya pencegahan yang menyeluruh, mulai dari upaya pendidikan
kesehatan masyarakat sampai upaya rehabilitasi, perlu diberikan secara porsinya masing-
masing dalam mengatasi masalah kanker. Jelas belum ada satu tindakan tersendiri yang
dianggap memadai. Gabungan berbagai upaya perlu dilakukan.
Pencegahan, menurut Nasdaldy (2010), dapat dilakukan dengan tiga strategi : primer,
sekunder, dan tertier.
1. Pencegahan primer diperlukan pada semua populasi yang memiliki risiko terkena kanker
mulut rahim. Caranya, dengan memberikan penyuluhan
2. Pencegahan sekunder juga diperlukan pada orang yang tidak memiliki gejala agar angka
kejadian dapat ditekan dan memungkinkan pengobatan sedini mungkin. Pengobatan lebih
awal, selain biayanya sedikit, hasilnya pun lebih baik
3. Pencegahan tertier dilakukan pada orang yang sudah terkena penyakit. Pengobatan Kanker
Seviks dapat dilakukan dengan pembedahan (pengangkatan leher rahim, indung telur dan
seluruh jaringan di sekitarnya), Radioterapi dan Kemoterapi. Tingkat keberhasilan
pengobatan ini tentunya tergantung dari tingkatan kanker serviks yang dialami oleh si
penderita. Dari segi biaya, pengobatan kanker serviks ini tergolong mahal.
Menurut Abdinst (2011), beberapa cara praktis yang dilakukan untuk mencegah kanker
serviks dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
1.Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini dapat
dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit
2.Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat meningkatkan
risiko terkena kanker serviks
3.Miliki pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang
sistem kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan E,
dan asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim
4.Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun
5.Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks
6.Hindari berhubungan seks dengan banyak partner
7.Secara rutin menjalani tes PapSmear secara teratur. Saat ini tes PapSmear bahkan sudah
bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau
8.Alternatif tes PapSmear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari PapSmear.
Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV
9.Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
Adapun pengobatan kanker servix dapat dilakukan dengan:
1. Operasi pengangkatan
Operasi pengangkatan rahim dan uterus (kandungan) dikenal dengan istilah
histerektomi yaitu dengan melakukan pengangkatan rahim penderita yang
dilakukan pada bagian rahim vagina dan jaringan parametrium, kemudian
dilakukan pembersihan bilaterial kelenjar getah bening pada panggul. Ada 4
jenis tingkatan histerektomi:
2. Histerektomi parsial (subtotal).
Operasi pengangkatan yang dilakukan hanya pada rahim. Dengan operasi ini penderita
kemungkinan menderita kanker rahim masih besar oleh karena itu disarankan melakukan
pemeriksaan rutin.
a. Histerektomi total. Operasi pengangkatan rahim dan mulut rahim. Pada operasi ini
tidak melakukan pengangkatan tuba falopi dan ovarium.
b.Histerektomi total dan salpingo-ooforektomi bilateral. Operasi pengangkatan
rahim, serviks, tuba falopi dan ovarium.
c. Histerektomi radikal. Operasi pengangkatan rahim, kelenjar getah bening, serviks,
bagian atas vagina dan jaringan dalam panggul diangkat. Operasi pengangkatan
(histerektomi) dapat melalui perut dan alat kewanitaan (vagina). Histerektomi
melalui vagina cenderung lebih beresiko kecil dan cepat pulih . Cara pengobatan
melalui histerektomi sering dilakukan karena memiliki keunggulan yaitu
membersihkan lesi kanker dan pengobatan yang lebih cepat. Akan tetapi, tidak
menutup kemungkinan akan mengalami gangguan pada buang air kecil dan
pengangkatan yang luas.
3. Radioterapi
Radioterapi adalah cara paling sering dilakukan untuk pengobatan kanker
serviks. Radioterapi juga sangat cocok untuk segala kanker serviks di awal dan
lanjut stadium. Radioterapi sendiri adalah penggunaan radiasai pengion yang
diberikan pada penderita kankers dengan mematikan sel kanker sesuai dosis
pada volume tumor. Radiasi akan merusak sel kanker dan menghambat
pembelahan sel. Pemberian radiasi pada penderita kanker serviks disesuaikan
dengan ukuran, luas, tipe dan stadium tumor. Meskipun dianggap sebagai
pengobatan kanker serviks yang sangat baik akan tetapi memiliki efek samping
pada perubahan tubuh yaitu kulit, rambut. Gangguan yang mungkin terjadi
adalah infeksi kandung kemih. Radioterapi dibagi menjadi beberapa bagian
sesuai dengan tingkatan stadium kanker serviks.

a. Radioterapi seluruh panggul (whole pelvis)
b. Radioterapi karsinoma serviks uteri pasca wertheim
c. Radioterapi brachiterapi
4. Radiopartikel
Teknologi pengobatan yang ditujukan menghambat perkembangan sel kanker
dan tidak menggangu kegiatan sehari -hari. Radioterapi menggunakan biji
partikel seluas 1,7 cm yang kemudian akan memancarkan sinar gamma dan
tidak menghancurkan sel -sel tubuh lain. Pengobatan ini diharapkan dapat
meminimalisir terjadinya kegagalan.
Cara diatas adalah cara yang umum digunakan untuk pengobatan kanker
serviks selain pengobatan kolaborasi medis barat -timur, kemoterap dan lain-
lain. Penderita kanker serviks diharapkan tidak putus asa karena dalam
perkembangan teknologi saat ini banyak sekali menemukan teknik
penyembuhan yang bisa membantu meminimalisir kerugian kanker serviks.
Segera temukan gejala awal kanker serviks ,konsultasikan dengan dokter
segera agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi
Sukaca, E.B. (2009). Cara Cerdas Menghadapi Kanker Serviks (Leher Rahim). Yogyakarta:
Genius Printika.