Anda di halaman 1dari 12

FUNGSI PEMBANGKIT MOMEN

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Statistika Matematika

Yang dibina oleh Bapak Hendro Permadi

Oleh :

Intan Putri Natari

120311418961

Nurroh Fitri A

120312419469

Reza Taufikurachman

120312419470

Rizky Abadi C

120312419473

Wasilatun Nafiah

120311419001

Kelompok 8

Off G/ 2012

Wasilatun Nafiah 120311419001 Kelompok 8 Off G/ 2012 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN S1 MATEMATIKA

Maret 2014

Fungsi Pembangkit Momen

Definisi 2.6.1

Misal

X

suatu

peubah

acak.

Maka

nilai

ekspetasi

() = ( )

disebut

fungsi

pembangkit

momen

dari

X

jika

nilai

ekspetasi

tersebut ada pada selang −ℎ < < ℎ , untuk suatu ℎ > 0.

Untuk selanjutnya, fungsi pembangkit momen ini ditulis sebagai mgf,

yang merupakan singkatan dari moment generating function. Jika tidak

menimbulkan kerancuan, yaitu dalam hal kita hanya menghadapi satu peubah acak,

maka mgf ini cukup ditulis sebagai ().

Untuk fungsi pembangkit momen berakibat : jika X peubah acak diskret maka

() = ∑ () ,

dan jika X peubah acak kontinu maka

() = ∫

−∞

()

Khususnya untuk = 0, kita mempunyai (0) = 1. Jelas bahwa mgf ada pada kitaran

(neighborhood) terbuka dari 0. Oleh karena itu jika mgf ada, maka dia haruslah ada pada

selang terbuka sekitar 0. Meskipun demikian mgf dari suatu sebaran tidak selalu ada.

Contoh 2.6.1

Misal X peubah acak diskret dengan pdf

2

() = (

)

4

( = 0,1,2)

Maka mgf dari X adalah

() = ∑ () = .0 . 4 + .1 . 4 + .2 .

1

2

1

4 = 4 +

1

2

4

+

1

4

2

Contoh 2.6.2 Misal seseorang menunggu suatu bus pada tempat tertentu. Misal bus

aka lewat tempat tersebut setiap 15 menit. Jika waktu tunggu dinyatakan sebagai peubah

acak X, maka pdf-nya adalah

() =

1

15 (0 < < 15)

Oleh karena itu fungsi pembangkit momen dari X adalah

() = ∫

−∞

() = ∫

0

15

1

15

=

15 [ 1

1

]

15

0

=

1

15 [ 15 − 1] , ≠ 0

Misal X dan Y dua peubah acak yang mempunyai mgf. Jika X dan Y mempunyai cdf

yang sama, yaitu () = () untuk semua z, maka tentu () = () dalam

kitaran terbuka 0, dan sebaliknya berlaku benar. Ini berarti mgf dari suatu sebaran, jika ada,

dia adalah tunggal. Pernyataan tersebut disajikan pada teorema berikut

Teorema 2.6.1 Misal X dan Y dua peubah acak dengan mgf berturut-turut

() dan (), ada dalam kitaran terbuka 0. Maka () = () untuk semua

jika dan hanya jika

Contoh 2.6.3

() = ()

untuk semua ∈ (−ℎ, ℎ)

Misal peubah acak X mempunyai mgf

() =

1

+

2

2 +

3

3 +

10

10

10

4

10

untuk suatu ℎ > 0.

4

untuk semua bilangan real t . JIka kita misalkan f mempunyai pdf dari X dan misal

, , , , … merupakan titik-titik diskret dalam ruang peubah acak X sehingga () > 0 ,

maka

Oleh karena itu

1

10

2

+ 10 2 +

3

10

3 +

() = ∑ ()

4

10

4 = () + () + () + ()

Karena kesamaan ini merupakan suatu identitas, yaitu berlaku untuk semua bilangan real t,

maka ita peroleh

= 1, () =

1

10 , = 2, () =

2

10 , = 3, () =

Jadi pdf dari X adalah f sehingga

Contoh 2.6.4

() =

10 ( = 1,2,3,4)

Misal kontinu X mempunyai mgf

() =

1

(1 ) 2 , ( < 1)

Oleh karena itu

3

10 , = 4, () =

(1 − ) 2 =

1

−∞

(), ( < 1)

4

10

Umumnya tidak mudah untuk menentukan (). Namun dalam contoh ini kita mudah

melihat bahwa pdf dari X

() = (0 < < ∞)

()

()

Bukti

Teorema 2.6.2

Misal mgf dari peubah acak X ada. Maka

( ) = (0),

= 1, 2, 3, …

() = 1 + ∑ ( ! )

=1

Bukti untuk kasus peubah acak X kontinu. Kita mulai dengan membuktikan bagian pertama,

mgf dari X dapat kita tulis seperti berikut

() = ∫

−∞

()

Jika mgf tersebut ada, maka turunan pertamanya adalah

Oleh karena itu,

′() = ∫

−∞

()

(0) = ∫

−∞

0 () = ∫

−∞

() = ()

Turunan keduanya adalah

′′(0) = −∞

2 0

() = ∫

−∞

2 () = ( 2 )

Proses ini dapat dilanjutkan sampai ke r dimana = 1, 2, … Oleh karena itu kita peroleh

dan

() = ∫

−∞

() ,

(0) = ( ),

= 1, 2, …

Untuk membuktikan bagian kedua kita gunakan rumus perluasan deret di sekitar nol, yaitu

() = (0) + 1! (0)

(0) 2

2!

+

+ ⋯ = (0) + ∑ (0) !

=1

Karena mgf pada saat

Bentuk

= 0

adalah satu, maka kita peroleh

() = 1 + ∑ ( ! )

=1

( ) = (0)

disebut sebagai momen ke r di sekitar pusat dari peubah acak X. Inilah alasan bahwa ()

disebut fungsi pembangkit momen.

Hubungan antara mgf dengan dan

Dengan menggunakan Teorema 2.6.2 bagian (i), maka untuk = 1 , kita peroleh

Sedangan untuk

= () = (0)

2 = ( 2 ) − [()] 2 = (0) − [ (0)] 2

Kembali ke contoh 2.6.1 ,

jadi

2

() = 4 +

= (0) =

2

4 +

2

4

2

2

4 = 1

Untuk memperoleh varians, kita kerjakan

dan

Sehingga

Jadi

Teorema 2.6.3

maka

Bukti

2

() = 4 +

2

4

2

() = 4 + 4

4

2

2 =

1

2

(0) =

1

2

+ 1

+ 2

2 = (0) − [ (0)] 2 = (

1

2

+ 1) − 1 =

1

2

Misal X dan Y dua peubah acak sehingga

= +

() = ()

() = ( ) = ( (+) ) = ( + ) = ( ) = ( ) = ()

Latihan Soal 2.6

2.6.1 Tunjukkan bahwa mgf dari peubah acak X yang mempunyai pdf

() =

1

3

(−1 < < 2), adalah

() = { 2 3

1

Jawaban :

, ≠ 0

, = 0

2

() = ∫ ()

−1

2

= ∫

−1

1

3

=

[ 3 ]

2

−1

=

2

3

2.6.2 Misal peubah acak diskret X mempunyai pdf

() = (

1 ) +1 (0,1,2, … ).
2

Tentukan :

a. mgf. Petunjuk : gunakan rumus pada deret geometric

b. Purata

c. Varians

Jawaban :

a. Mencari mgf

() = ∑ ()

() = ∑ (

=0

1

2

) +1

() =

0 (

1

2

) 1 + (

1

1

2

) 2 + 2 (

=

1

2 +

1

4 + 8 2 + ⋯

() =

1

2

1

=

1

1

2

2

b. Mencari purata

1

2

)

3

+ ⋯

Karena

= (0)

maka akan dicari

(0)

 

1

Jadi, = 1

c. Mencari varians

() =

2 −

1

() = − (2 ) 2 (− ) =

(2 ) 2

(0) =

0

1

1 = 1

(2 0 ) 2 =

Karena 2 = (0) − [ (0)] 2 , maka akan

dicari (0)

Jadi,

() =

(2 ) 2

2 2 (2 ) 3 +

0

(2 ) 2

() =

2 0

2

1 + 1 1 = 3

(0) =

(2 0 ) 3 + (2 0 ) 2 =

2 = (0) − [ (0)] 2 = 3 − 1 = 2

2.6.3 Misal peubah acak diskret X mempunyai pdf

Tentukan :

a. mgf

b. Purata

c. Varians

() = ( > 0).

Jawaban :

a. Mencari mgf

() = ∫

0

() = ∫

−∞

()

→∞

0

= lim

−(1−)

→∞ [ −(1−)

− 1

= lim

b. Mencari purata

→∞ ( −(1−)

− 1

− 1 ) = − 1

1

1

() = lim

]

0

Karena

= (0)

Jadi, = 1

c. Mencari varians

maka akan dicari (0)

1

− 1

1

() = −

′() =

′(0) =

( − 1) 2

1

(−1) 2 = 1

Karena 2

= (0) − [ (0)] 2 , maka akan dicari (0)

Jadi,

′() =

1

( − 1) 2

−2

′′() =

′′(0) =

( − 1) 3

−2

(−1) 3 = 2

2 = (0) − [ (0)] 2 = 2 − 1 = 1

2.6.4 Anggap peubah acak diskret X mempunyai mgf

Tentukan :

a. Purata

Jawaban :

b. Varians

() =

1

8

c. pdf

1

+ 4 2 +

d. P(X=2)

5

8

5

e. cdf

a. Mencari purata

Karena

= (0)

Jadi,

=

30

8

b. Mencari varians

maka akan dicari (0)

() =

′() =

1

8

1

8

1

+ 4 2 +

5

8

5

+ 4 2 + 25

2

8

5

(0) =

1

8 0 + 4 0 + 25 0 =

2

8

30

8

Karena 2

= (0) − [ (0)] 2 , maka akan dicari (0)

Jadi,

′() =

1

8

+ 4 2 + 25

2

8

5

′′() =

1

8

(0) =

2 = (0) − [ (0)] 2 =

1

8

+ 4

4

4

2 + 125

8

5

0 + 125

8

=

4

− ( 30 ) 2

8

0 =

8

134

0 +

134

8

1072 − 900

=

172

=

43

64

64

16

c. Mencari pdf

d. Mencari P(X=2)

e. Mencari cdf

() =

() = ∑ ()

() =

maka,

1

8

1

+ 4 2 +

5

8

5

() =

8 (1,2,5)

( = 2) = (2) =

2

8 = 4

1

() = ∑ ()

−∞

1

8 ( = 1) + 8 ( = 1; 2) + 8

3

8 ( = 1; 2; 5)

2.6.5 Misal peubah acak X mempunyai purata , simpangan baku dan mgf

(), −ℎ < < ℎ. Tunjukkan bahwa

dan

( −

) = 0,

[( ) 2 ] = 1,

Jawaban :

{ [ ( )]} =

( ) , −ℎ < < ℎ

i.

Akan ditunjukkan bahwa ( ) = 0

( −

) = (

) = ( ) − (

) =

1

() −

Karena = (), maka

( −

1

) =

= −

= 0

Jadi terbukti bahwa ( ) = 0

ii. Akan ditunjukkan bahwa [( ) 2 ] = 1

[(

) 2 ] = ( 2 − 2 + 2 2

) =

1

2

(( 2 )

1

2

1

= − 2() + 2 ) =

(( 2 )

2 )

2 (( 2 )

=

1

2

− (2) + ( 2 ))

(( 2 ) − 2 2 + 2 )

Karena 2 = ( 2 ) − [()] 2 = ( 2 ) − 2 , maka

[( ) 2 ] =

1

2

(( 2 ) 2 ) =

Jadi, terbukti bahwa

[( ) 2 ] = 1

1

2

( 2 ) = 1

iii. Akan ditunjukkan bahwa

{ [ ( )]} = ( ) , −ℎ < < ℎ

{ [ ( )]} = ( ( ) ) = ( .

) =

. (

)

Jadi, terbukti bahwa

{ [ ( )]}

=

(

)

2.6.6 Misal X peubah acak dengan mgf

(), −ℎ < < ℎ. Buktikan bahwa

( ≥ ) ≤ (),

0 < < ℎ,

dan

( ≤ ) ≤ (),

−ℎ < < 0

Petunjuk : Misalkan () = dan = dalam teorema 2.5.4

Jawaban :

Misal () =

dan

=

maka

karena

karena

i.

[() ≥ ] ≤ [()]

[ ] = () , maka

[ ] ≤ [ ]

[ ] ≤ ()

=

. ()

, maka . Sehingga

Untuk

≥ ⇔ ≥

0 < < ℎ

Jadi,

[

≥ ] ≤ . ()

ii. −ℎ < < 0

Untuk

≥ ⇔ ≤

Jadi, [

≤ ] ≤ . ()

2.6.7 Misal mgf dari X ada untuk semua t dan diberikan oleh

() =

2

, ≠ 0, (0) = 1

Gunakan latihan 2.6.7 untuk menentukan

Jawaban :

i.

[ ≥ ] ≤ . ()

[ ≥ 1]

dan [ ≤ −1]

ii.

[ ≥ 1] ≤ .

−−

1

2

=

=

2

2

2

[ ≤ ] ≤ . ()

[ ≤ −1] ≤ .

+ −+

2 − 1

=

=

2

2

2

,

,

≠ 0

≠ 0