Anda di halaman 1dari 26

PENDAHULUAN

Infeksi otak adalah merupakan reaksi keradangan yang mengenai jaringan


otak dan selaput otak. Jika proses radangnya terbatas pada jaringan otak maka
disebut ensefalitis namun jika reaksi keradangan mengenai sebagian atau seluruh
selaput otak (meningen) yang melapisi otak dan medulla spinalis maka disebut
meningitis. Sedangkan jika proses radang mengenai selaput otak dan jaringan otak
maka disebut meningoensefalitis. Penyebabnya adalah berbagai macam
mikroorganisme bisa karena virus maupun bakteri.
1!"
Pada ensefalitis penyebab yang terpenting dan tersering ialah virus.
#alaupun juga bisa disebabkan oleh bakteri. $irus yang dapat menyebabkan
ensefalitis adalah golongan arbovirus (%alifornia eastern e&uine 'estern e&uine
St. (ouise dan Japanese ) encephalitis) virus herpes simpleks (*S$) virus
+pstein )arr virus co,ackie echovirus virus polio rabies parotitis dan campak.
Sedangkan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus streptokok
+. coli -. tuberculosa dan .. palidum.
/0

Insiden dari ensefalitis virus diabaikan oleh sistem pelaporan yang pasif.
1ari !2.222 kasus ensefalitis yang terjadi setiap tahun di 3merika Serikat dari
tahun 14425144/ %1% (Centers for Disease Control and Prevention) hanya
menerima 6/2 sampai 1."/2 laporan tahunan pada pasien dengan ensefalitis.
Sebuah penelitian di 7lmsted %ounty -innesota dari tahun 1402 sampai 1482
melaporkan bah'a kejadian ensefalitis virus dua kali lipat di bandingkan yang
dilaporkan pada %1%. Sebuah penelitian multicenter di 9inlandia juga
melaporkan hasil yang serupa yaitu insiden ensefalitis terjadi 12.0 per 122.222.
:

Sedangkan meningitis dibagi menjadi meningitis virus meningitis bakteri
dan meningitis tuberkulosa. -eningitis yang cukup sering ditemukan adalah
meningitis tuberkulosa. Penyakit ini dapat menyerang semua usia. Insidens
tertinggi pada usia : bulan5: tahun. Jarang ditemukan pada usia di ba'ah : bulan
hampir tidak pernah pada usia di ba'ah " bulan.
10

Prognosis pada infeksi otak biasanya buruk. Pada ensefalitis angka
kematian masih tinggi berkisar antara "0502;. 1i antara pasien yang hidup !25
1
/2; mengalami sekuele berupa paresis<paralisis gerakan koreoatetoid gangguan
penglihatan dan kelainan neurologis lain. Pasien yang sembuh tanpa kelainan
yang nyata dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin mengalami retardasi
mental gangguan 'atak dan epilepsi. Sedangkan pada meningitis pasien yang
tidak diobati biasanya meninggal dunia. =ang berumur lebih muda dari " tahun
mempunyai prognosis lebih buruk daripada yang lebih tua. *anya 18; dari yang
hidup mempunyai fungsi neuroligis dan intelektual normal.
!
TUJUAN
.ujuan pembuatan laporan kasus ini adalah >
1. -enambah ilmu dan pengetahuan mengenai penyakit yang dilaporkan.
!. -embandingkan informasi yang terdapat pada literatur dengan kenyataan yang
terdapat pada kasus.
". -elatih mahasis'a dalam melaporkan dengan baik suatu kasus yang didapat.
!
LAPORAN KASUS
IDENTITAS
?ama > 3n. -
Jenis kelamin > Perempuan
@mur > : tahun
3lamat > Sangatta
3nak ke > 1 dari ! bersaudara
-AS 3. # Sjahranie > 2/ September !224 pukul 18.10 'ita
ANAMNESA
3lloanamnesa (oleh ayah dan ibu kandung pasien)
Keluhan Utama > tidak sadar
Riwayat Penyakit Sekarang
.idak sadar dialami pasien sejak ! minggu sebelum masuk rumah sakit 3.
#. Sjahranie Samarinda. Pasien merupakan rujukan dari rumah sakit Sangatta
dengan diagnosis Suspect +nsefalitis dan dira'at selama 10 hari di rumah sakit
Sangatta di sana ayah pasien mengaku anaknya mendapatkan obat penurun panas
dalam bentuk sirup dan antibiotik yang disuntikkan le'at infus tetapi selama
per'atan tersebut pasien tidak mengalami perubahan sedikitpun sehingga pasien
di rujuk ke Aumah Sakit Samarinda (selama di AS Sangatta pasien tidak pernah
kejang lagi).
Sebelum masuk rumah sakit Sangatta pasien mengalami demam selama
empat hari dan disertai dengan batuk pilek terkadang pasien juga sering
mengeluh adanya sakit kepala pada bagian seluruh kepalanya pasien tidak diba'a
berobat ke Puskesmas maupun dokter setempat tapi hanya diberi obat bodre,in
yang diminum jika panas dan sakit kepala timbul. Panas turun sebentar tetapi
selang ! jam kemudian panas naik lagi terkadang disertai dengan nyeri kepala
yang hebat hingga pasien tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Pada saat panas
hari ke empat pasien mengalami kejang 1 kali. Bejang pada seluruh tubuh tanpa
disertai keluar busa dari mulut selama C "2 menit. Setelah kejang pasien langsung
"
menjadi tidak sadar sampai -AS. Sebelum kejang pasien mengalami muntah
sebanyak 1 kali muntah berisi makanan tidak menyemprot disertai juga nyeri
perut karena sudah dua hari nafsu makan pasien tidak ada.
Saat di ra'at di rumah sakit Sangatta (pera'atan hari kedua) pasien
sering mengalami muntah. -untah menyemprot namun saat itu pasien tetap tidak
sadar. Baki dan tangan pasien juga menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan ini
disadarai oleh orang tua pasien pada C 12 hari dira'at di rumah sakit Sangatta.
)3B dan )3) pasien normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pada umur " tahun pasien satu kali mengalami kejang dimana didahului demam
tinggi. .idak ada ri'ayat batuk lama dan tidak ada ri'ayat trauma kepala.
Riwayat Penyakit Keluarga
.idak ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama dan tidak ada keluarga
yang memiliki ri'ayat batuk darah (5).
Pertum!uhan Dan Perkem!angan Anak
)erat badan lahir > "222 gr
Panjang badan lahir > ibu pasien lupa
)erat badan sekarang > !2 kg (saat -AS 2/ september !224)
.inggi badan sekarang > 112 cm
Digi keluar > 12 bulan
.ersenyum > 1 bulan
-iring > ! bulan
.engkurap > : bulan
1uduk > 8 bulan
-erangkak > 4 bulan
)erdiri > 12 bulan
)erjalan > 1! bulan
)erbicara ! suku kata > 1! bulan
/
-akan -inum anak >
3SI > 2 bulan E 1 tahun
1ihentikan > 5
Susu sapi<buatan > 5
)uah > 12 bulan
)ubur susu > : bulan
.im saring > 8 bulan
-akanan padat dan lauknya > 1! bulan
Pemeliharaan Prenatal > ", selama hamil
Periksa di > Puskesmas
7bat5obatan yang sering diminum > $itamin
Riwayat Kelahiran
(ahir di > rumah ditolong oleh > bidan kampung
)erapa bulan dalam kandungan > 4 bulan
Jenis partus > Spontan langsung menangis
Pemeliharaan postnatal >
Periksa di > posyandu
Beadaan anak > sehat
Beluarga berencana >=a
-emakai sistem > Pil
Sikap dan kepercayaan > Percaya
0
IMUNISASI
Imunisasi @sia saat imunisasi
I II III I$ )ooster I )ooster II
)%D 5 <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<
Polio ! tahun 5 5 5 5 5
%ampak 5 5 <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<
1P. 5 5 5 <<<<<<<<<<<< 5 5
*epatitis ) 5 5 5 <<<<<<<<<< 5 5
PEMERIKSAAN "ISIK
1ilakukan pada tanggal 1! 7ktober !224
)erat badan > 1: kg kemudian menjadi 1" kg (14 oktober !224)
Panjang )adan > 112 cm
Tanda Vital
.ekanan darah > 122<:2 mm*g
?adi > 48 kali<menit
Suhu badan > ":0
o
%
9rekuensi nafas > !/ kali<menit
Besan umum > sakit sedang
Besadaran > +
!
-
/
$
,
(afasia)
Bepala
Aambut > 5
-ata > 3nemis (5<5) Ikterik (5<5) Sianosis (5<5) Aefleks
%ahaya (5<5) Pupil> 3nisokor (1FS).
*idung > Sumbat (5) Sekret (5)
.elinga > )ersih Sekret (5)
-ulut > (idah bersih 9aring *iperemis (5) mukosa bibir
kering pembesaran .onsil (5<5)
(eher
:
Pembesaran Belenjar > (5)
1ada
Inspeksi > Derakan simetris
Palpasi > .hrill (5)
Perkusi > Sonor
3uskultasi > $esikuler Aonkhi (G<G) Wheezing (5<5)
Jantung
S1<S! tunggal reguler
)ising > (5)
3bdomen
Inspeksi > 9lat
Palpasi > Soefl ?yeri tekan (5) *epar< lien tidak teraba
Perkusi > .impani
3uskultasi > )ising usus (G) normal
Denitalia > 1alam batas normal
+kstremitas > 3kral hangat +dema (5)
Spastik fleksi pada ekstremitas atas de,tra
Spastik ekstensi pada ekstremitas atas sinistra
Spastik pada ektremitas ba'ah de,tra et sinistra
(ain5lain > Baku kuduk (5)
)rudHinski I (5)
)rudHinski II (5)
Bernig (5)
PEMERIKSAAN PENUNJAN#
Pemeriksaan Laboratorium (tanggal 265125!224)
6
(eukosit > 4.622
*b > 11.4
*t > "".4 ;
.rombosit > "4".222
(+1 > 1!
Cairan Lumbal (tanggal 265245!224 di (aboratorium ?ur 3sih)
-IBA7SB7PIS
Jumlah sel > ! sel<ul I?? 250J
P-? > !0; I?? K !0;J
-? > 60;
BI-I3
Protein > !0 mg<dl I?? K /2 mg<dlJ
Dlukose > :1 gr<dl
?7??+ > ?+D3.I9
P3?1= > ?+D3.I9
Pemeriksaan cairan otak: (tanggal 265245!224 di (aboratorium 3. #. Sjahranie)
3. -akroskopis
Bejernihan > Jernih
#arna > tidak ber'arna
). -ikroskopis
a. *itung sel > / (normal> 25:<mm
"
abnormal> 12 sel <mm
"
untuk
orang de'asa)
b. *itung jenis
-ononuklear > :2;
Polinuklear > /2;
%. Protein
.est )usa > (G) positif
.est Pandy > (G) positif
8
.est ?onne<3pelt > (G)H
Dlukosa > 0!
Protein > .c
asil Pemeriksaan !oto Thora": (tanggal 1:5245!224)
%or normal
*ili ramai
3lveoli infiltrate pada parenkim paru
.uberkulosis aktif
Sinusitas baik
asil #emeriksaan CT scan ke#ala (tanggal 215125!224)
%. scan kepala tanpa kontras irisan a,ial<<7- (ineL
.ampak gambaran area hypodens dengan dilatasi dari ventrikel lateralis
a&uaductus sylvii ventrikel III dan ventrikel I$.
System ventrikel baik mid line shift (5)
Sulci dan gyri normal
Sinus paranasalis normal
Besimpulan > 3ctive %ommunicating *ydrocephalus
Mant$u% Te&t
*asil > (5)
Diagn$&i& Ker'a Sementara
-eningoensefalitis .) G malnutrisi
PENATALAKSANAAN
4
I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth

Pr$gn$&a
1ubia et malam
12
"$ll$w(U)
.anggal S 7 3 P
1"5125!224

))> 1: kg
1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,

.1> 122<:2 mm*g
?> 112 ,<menit AA>
!8 ,<menit .> "6!
O%.
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra

-eningoensefalitis
.)
I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
1/5125!224 1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,

.1> 122<:2 mm*g
?> 122 ,<menit AA>
!2 ,<menit .> "::
O%.
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra
Pemeriksaan
penunjang>
(eukosit> 8.222
-eningoensefalitis
.)

I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
11
*b > 1!.2
*t > "6.1 ;
.rombosit>/68.222
3lbumin> "!
105125!224 1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,
.1> 122<62 mm*g
?> 4! ,<menit AA>
!/ ,<menit .> "6!
O%.
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra
-eningoensefalitis
.)

I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
1:5125!224 1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,
.1> 122<:2 mm*g
?> 122 ,<menit AA>
!8 ,<menit .> "62
O%.
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra
-eningoensefalitis
.)

I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
165125!224 1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,
.1> 112<82 mm*g
?> 122 ,<menit AA>
!! ,<menit .> "6!
O%.
-eningoensefalitis
.)

I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
1!
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
145125!224
))> 1" kg
1emam (5)
muntah (G)
batuk (G)
+
!
-
/
$
,
.1> 122<62 mm*g
?> 122 ,<menit AA>
!/ ,<menit .> ":8
O%.
Aeflek cahaya (5<5)
pupil anisokor 1FS.
Aonki (G<G)
+kstremitas>
Spastik fleksi
pada ekstremitas
atas de,tra
Spastik ekstensi
pada ekstremitas
atas sinistra
Spastik pada
ektremitas ba'ah
de,tra et sinistra
-eningoensefalitis
.) G -alnutrisi
I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv
Phenobarbital !,02 mg
I?* !22 mg 1,1
PN3 022 mg 1,1
Aifampicin "22 mg1,1
Streptomycin 022 mg 1,1
Prednison ",1
Piracetam ",1 cth
Aanitidin "2 mg !,1
3ntasida syrup ",1 cth
!25125!224 Pasien pulang paksa
1"
Burva Suhu
1/
PEM*AHASAN
Re&ume Ma&uk Rumah Sakit
Pasien - umur : tahun masuk rumah sakit dengan keluhan tidak sadar.
1ari hasil anamnesa didapatkan tidak sadar dialami pasien sejak ! minggu
sebelum masuk rumah sakit 3. #. Sjahranie Samarinda. Pasien merupakan
rujukan dari rumah sakit Sangatta. Sebelum masuk rumah sakit Sangatta pasien
mengalami demam selama empat hari dan disertai dengan batuk pilek dan sakit
kepala. Pada saat panas hari ke empat pasien mengalami kejang 1 kali. Setelah
kejang pasien langsung menjadi tidak sadar sampai -AS.
1ari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran +
!
-
/
$
,
(afasia)

tanda vital>
tekanan darah 122<:2 mm*g nadi 48 kali<menit suhu badan ":0 O% frekuensi
nafas !/ kali<menit. Aefleks cahaya (5<5) pupil anisokor 1FS. Pemeriksaan thora,
dan abdomen dalam batas normal. Sedangkan pada ekstremitas spastik fleksi
pada ekstremitas atas de,tra spastik ekstensi pada ekstremitas atas sinistra dan
spastik pada ektremitas ba'ah de,tra et sinistra. Serta tidak di dapatkan adanya
refleks patologis.
Pada pemeriksaan laboratorium yaitu darah lengkap tidak didapatkan
kelainan. Pada pasien ini juga telah dilakukan pemeriksaan cairan lumbal foto
thora, dan %. scan kepala.
Pem!aha&an
1ari anamnesa dan pemeriksaan fisik di dapatkan diagnosis
-eningoensefalitis .). 1iagnosis meningoensefalitis .) ditegakkan dari hasil
anamnesa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pada anamnesa ditemukan keadaan tidak sadar pada pasien ini dimana
sebelumnya didahului dengan demam tinggi dan juga kejang.
1alam teori ensefalitis mempunyai pelbagai penyebab namun gejala klinis
ensefalitis lebih kurang sama dan khas sehingga gejala tersebut dapat digunakan
diagnosis. Dejala ini bisa diperoleh dari anamnesa yaitu> suhu mendadak naikL
seringkali ditemukan hiperpireksia kesadaran dengan cepat menurun pada anak
10
agak besar sering mengeluh nyeri kepala sebelum kesadarannya menurun ada
kejang yang dapat bersifat umum fokal atau hanya t$itching saja.
!

Sedangkan pada meningitis .) gejala muncul terdiri dari beberapa stadium.
Pada stadium I (prodromal) dapat diketahui dari anamnesaL tanpa
demam<kelainan tidak suka bermain tidur terganggu kemudian menjadi apatik
anoreksia obstipasi dan muntah sering dijumpai pada anak besar bisa mengeluh
sakit kepala. .anda5tanda neurologis setempat tidak ada tetapi bayi dapat
mengalami stagnasi atau gangguan perkembangan.
1

Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran +
!
-
/
$
,
(afasia)

refleks cahaya
(5<5) pupil anisokor 1FS kaku kuduk (5) brudHinski I (5) brudHinski II (5) kernig
(5) dan ekstremitas spastik fleksi pada ekstremitas atas de,tra spastik ekstensi
pada ekstremitas atas sinistra dan spastik pada ektremitas ba'ah de,tra et sinistra.
-anifestasi klinis pada ensefalitis yaitu> masa prodromal berlangsung antara
15/ hari ditandai dengan demam sakit kepala pusing muntah nyeri
tenggorokan malaise nyeri ektremitas dan pucat. Bemudian diikuti tanda
ensefalitis yang berat ringannya tergantung dari distribusi dan luas lesi pada
neuron atau bergantung pada daerah otak yang terkena. Dejala tersebut berupa
gelisah iritabel screaming attack perubahan perilaku gangguan kesadaran dan
kejang. Badang5kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afasia hemiparesis
hemiplegia ataksia dan paralisis saraf otak.
!06

Penyebab kelainan neurologis pada ensefalitis> penyerbuan dan pengrusakan
langsung pada jaringan otak oleh virus yang berkembang biak reaksi jaringan
saraf penderita terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi
kerusakan vaskuler dan perivaskuler.
1

Pada meningitis yang sudah pada stadium ! dan " dapat diketahui dari
pemeriksaan fisik. Stadium kedua tanda5tanda yang paling sering adalah lesu
kaku kuduk kejang5kejang tanda kernig atau brudHinski positif hipertoni
muntah kelumpuhan syaraf kranial dan tanda5tanda neurologis setempat lain.
Percepatan penyakit klinis biasanya berkorelasi dengan perkembangan
hidrosefalus peningkatan tekanan intrakranial dan vaskulitis.

Sedangkan pada
stadium ketigaL ditandai dengan koma hemiplegi atau paraplegi hipertensi sikap
1:
deserebrasi kemunduran tanda5tanda vital dan akhirnya kematian. 1alam
stadium ini suhu tidak teratur dan semakin tinggi yang disebabkan oleh
terganggunya regulasi pada diensefalon. Pernapasan dan nadi juga tak teratur dan
terdapat gangguan pernapasan dalam bentuk %heyne5Stokes atau Bussmaul.
Dangguan miksi berupa retensi atau inkontinensia urin didapatkan pula adanya
gangguan kesadaran makin menurun sampai koma yang dalam. Pada stadium ini
penderita dapat meninggal dunia dalam 'aktu " minggu bila tidak memperoleh
pengobatan sebagaimana mestinya.
1!08412
Pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan pada pasien ini adalah lumbal
punksi. Pemeriksaan cairan lumbal diperiksa di dua laboratorium yang berbeda
dan diperoleh hasil yang berbeda. Pada cairan lumbal yang diperiksa di
laboratorium ?ur 3sih> jumlah sel ! sel<ul P-? !0; -? 60; protein !0
mg<dl glukosa :1 gr<dl ?7??+ negative P3?1= negative. Sedangkan pada
pemeriksaan cairan lumbal yang diperiksa di laboratorium 3. #. Sjahranie>
makroskopis> jernih dan tidak ber'arnaL mikroskopis> hitung sel / hitung jenis>
mononuclear :2; polinuklear /2;L protein> test )usa (G) positif test Pandy (G)
positif test ?onne<3pel (G) glukosa 0!.
Pada ensefalitis gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan
meskipun tidak begitu membantu. %airan serebrospinal sering dalam batas
normal biasanya ber'arna jernih kadang5kadang ditemukan sedikit peninggian
jumlah sel (025!22) dengan dominasi limfosit kadar protein kadang5kadang
meningkat sedangkan glukosa dalam batas normal. Sedangkan pada meningitis
.) ditemukan cairan serebrospinal ber'arna jernih atau ,antokrom bila
dibiarkan mengendap akan membentuk batang5batang kadang5kadang dapat
ditemukan mikroorganisme di dalamnya. Jumlah sel berkisar antara !225022<mm
"

mula5mula sel P-? dan limfosit dalam proporsi sama atau kadang5kadang sel
P-? lebih banyak selanjutnya limfosit yang lebih banyak. Badang5kadang
jumlah sel pada fase akut dapat mencapai kurang lebih 1222<mm
"
. Badar protein
meninggi dan glukosa menurun.
10

16
Pada pasien juga telah dilakukan pemeriksaan foto thora, dan di peroleh
hasil adanya tuberculosis aktif. Sedangkan pada %. scan kepala diperoleh
kesimpulan %ctive Communicating &droce#halus'
Pada ensefalitis pemeriksaan penunjang dengan %.<-AI menunjukkan
inflamasi nekrotikan pada lobus temporal dan bisa dilakukan pemeriksaan ++D
yang menunjukkan pelepasan epileptic berulang yang terlokalisisr pada lobus
temporal. Sedangkan .omografi terkomputerisasi (%.) atau citra resonansi
magnetik (-AI) otak pada penderita meningitis tuberkulosis mungkin normal
selama stadium penyakit. )ila penyakit memburuk pembesaran basilar dan
hidrosefalus komunikan dengan tanda5tanda edema otak atau iskemia setempat
a'al merupakan penemuan yang paling sering.
811
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah> I$91 10M?S 1/ tpm
3mpicilin /,022 mg iv Phenobarbital !,02 mg I?* !22 mg 1,1 PN3 022 mg
1,1 Aifampicin "22 mg1,1 Streptomycin 022 mg 1,1 Prednison ",1 Piracetam
",1 cth Aanitidin "2 mg !,1 3ntasida syrup ",1 cth.
1alam teori pengobatan yang diberikan pada ensefalitis adalah
medikamentosa. .idak ada pengobatan yang spesifik tergantung dari etiologi.
3siklovir dapat diberikan 12 mg<kg<tiap 8 jam bila secara klinis dicurigai
disebabkan oleh virus herpes simpleks. Sedangkan secara suportif> mengatasi
kejang hiperpireksia gangguan keseimbangan cairan dan elektrolitL dan
mengatasi edema otak dengan manitol 2051 gram<kgL dapat diberikan setiap 8
jam dan metilprednisolon 15! mg<kg<hari.
!

Pada pasien ini dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik lebih mengarah
pada ensefalitis namun hasil temuan dari pemeriksaan penunjang lebih mengarah
ke meningitis .). Sehingga lebih bijak bah'a diagnosis pada pasien ini adalah
meningoensefalitis .).
Pada pasien ini juga telah mendapatkan pengobatan meningitis .). 1imana
selain pada pemeriksaan penunjang ada kecurigaan kearah tersebut juga
disebutkan dalam suatu sumber bah'a meningitis tuberkulosis harus
dipertimbangkan pada setiap kasus meningitis aseptik atau ensefalitis. -eningitis
ini terjadi setelah pecahnya tuberkel (fokus Aich) ke dalam cairan serebrospinal
18
selanjutnya terjadi reaksi inflamasi dan timbul ateritis. Pada kasus dini
pemeriksaan cairan serebrospinalis tidak selalu dapat membantu diagnosis. @ji
kulit tuberkulin positif pada 60; kasus dan rontgen foto thora, menunjukkan lesi
yang sugestif pada 82; kasus. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi
tuberkulosis dan dapat dimulai meskipun baru curiga ke arah meningitis
tuberkulosis karena keterlambatan pengobatan dapat berbahaya.
4
Barena
pertimbangan tersebut pada pasien ini diberikan pengobatan tuberkulosis.
1alam teori pengobatan pada meningitis .) yaitu dengan tuberkulostatika>
IsoniaHid atau I?* rifampisin piraHinamid etambutol dan streptomisin.
1!

IsoniaHida atau I?* adalah obat antituberkulosis yang sangat efektif saat
ini bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan
metabolik aktif (kuman yang sedang berkembang) dan bersifat bakteriostatik
terhadap kuman yang diam. I?* diberikan secara oral dengan dosis harian biasa
0510 mg<kg))<hari maksimal "22 mg<hari pada anak dan diberikan dalam satu
kali pemberian. I?* mempunyai dua efek toksik utama yaitu hepatotoksik dan
neuritis perifer.
1!

Aifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan ekstrasel dapat memasuki
semua jaringan dan dapat membunuh kuman semidorman yang tidak dapat
dibunuh oleh isoniaHid. Aifampisin diabsorbsi dengan baik melalui sistem
gastrointestinal pada saat perut kosong (1 jam sebelum makan) dan kadar serum
puncak tercapai dalam ! jam. Aifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan
dosis 125!2 mg<kg))<hari dosis maksimal :22 mg<hari dengan dosis satu kali
pemberian per hari. Jika diberikan bersamaan dengan isoniaHid dosis rifampisin
tidak melebihi 10 mg<kg))<hari dan dosis isoniaHid 12 mg<kg))<hari.

Pada anak5
anak diba'ah 0 tahun harus bersikap hati5hati karena dapat menyebabkan neuritis
optika. +fek samping rifampisin lebih sering daripada isoniaHid berupa perubahan
'arna urin ludah keringat sputum dan air mata menjadi 'arna oranye
kemerahan selain itu juga terjadi gangguan gastrointestinal dan hepatotoksisitas.
1!
PiraHinamid berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh terutama
cairan serebrospinalis bakterisid hanya pada intrasel suasana asam dan diresrbsi
baik pada saluran cerna. Pemberian piraHinamid secara oral sesuai dosis 105"2
14
mg<kg))<hari dengan dosis maksimal ! gram<hari. +fek samping piraHinamid
adalah hepatotoksisitas anoreksia iritasi saluran cerna.
1!

+tambutol jarang diberikan pada anak karena potensi toksisitasnya pada
mata. 7bat ini memiliki aktivitas bakterostatik tetapi dapat bersifat bakterisid jika
diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten. +tambutol diberikan
dengan dosis 105!2 mg<kg))<hari maksimal 1!0 gram<hari dengan dosis tunggal.
+tambutol tidak berpenetrasi dengan baik pada susunan saraf pusat demikian juga
pada keadaan meningitis.

Bemungkinan toksisitas utama adalah neuritis optika
dan buta 'arna merah5hijau sehingga penggunaannya seringkali dihindari pada
anak yang belum dapat diperiksa tajam penglihatanya.
121!
Streptomisin bersifat bakterisid dan bakteriostatik terhadap kuman
ekstraseluler pada keadaan basal atau netral sehingga tidak efektif untuk
membunuh kuman intraseluler. Saat ini streptomisin jarang digunakan dalam
pengobatan tuberkulosis tetapi penggunannya penting pada pengobatan fase
intensif meningitis tuberkulosa dan multidrug resisten tuberkulosis. Streptomisin
diberikan secara intramuskular dengan dosis 105/2 mg<kg))<hari maksimal 1
gram<hari.

7leh karena bersifat autotoksik maka harus diberikan dengan hati5hati
bila perlu dilakukan pemeriksaan audiogram.
121!
Pada umumnya tuberkulostatika diberikan dalam bentuk kombinasi ialah
kombinasi antara I?* dengan jenis tuberkulostatika yang lain. .erapi tuberkulosis
sesuai dengan konsep baku yaitu ! bulan fase intensif dengan /50 obat
antituberkulosis (isoniaHid rifampisin piraHinamid streptomisin dan etambutol)
dilanjutkan dengan ! obat antituberkulosis (isoniaHid dan rifampisin) hingga 1!
bulan.
121!
Bortikosteroid biasanya dipergunakan prednison dengan dosis 15!
mg<kg))<hari (dosis normal !2 mg<hari dibagi dalam " dosis) selama /5: minggu
setelah itu dilakukan penurunan dosis secara bertahap (ta##ering off) selama /5:
minggu sesuai dengan lamanya pemberian regimen. Pemberian kortikosteroid
seluruhnya adalah lebih kurang " bulan.

Indikasi kortikosteroid antara lain tekanan
intrakranial yang meningkat adanya defisit neurologis mencegah perlekatan
araknoidea pada jaringan otak.
121!1"
!2
Pada pasien ini juga didapatkan tanda5tanda klinis kurang giHi yaitu pasien
kurus kulit kering dan berat badan pasien terakhir adalah 1" kg. Status giHi
pasien ini dapat ditentukan menggunakan antropometri havard ataupun standar
?%*S<#*7. @ntuk menghitung berat badan ideal anak : tahun menggunakan
rumus (@mur , !) G 8.
1/101:
Pada pasien ini dapat ditentukan berat badan idealnya yaituP : , ! G 8 P
!2 kg. Jadi berat badan ideal pasien ini adalah !2 kg.
@ntuk melihat keadaan giHi berdasarkan antropometri havard dihitung
persentase berat badan pasien dibandingkan dengan berat badan ideal yaitu>
)) pasien 1"
Q 122; P Q 122; P :0;
)) ideal !2
Penentuan Status DiHi 3ntropometri *arvard
; terhadap standar Status DiHi
82 E 122; )aik
62 E 82 ; Burang DiHi Aingan
:2 E 62 ; Burang DiHi Sedang
K :2 ; Burang DiHi )erat
)erdasarkan antopometri havard untuk berat badan<umur maka pasien
termasuk kurang giHi sedang.
Saat masuk rumah sakit berat badan pasien adalah !2 kg dan setelah
menjalani pera'atan di rumah sakit berat badan pasien menjadi 1" kg. *al ini
menunjukkan bah'a keadaan kurang giHi justru dialami pasien saat di ra'at di
rumah sakit. *al ini perlu menjadi perhatian khusus bagi kita bah'a sangat
penting untuk memperhatikan kebutuhan giHi pasien terutama yang dira'at dalam
jangka 'aktu yang lama.
Pada pasien telah dipasang ?D. (?asogastric .ube) dan diberikan diet
sebesar1822 kal yang berupa modisco III jus pepaya dan jus ikan gabus. Ini
sudah sesuai dengan teori dimana kebutuhan pasien adalah 1822 kal (42 kal<))
ideal).
!1
3dapun faktor5faktor penyebab dari B+P (kurang energi dan protein)
antara lain faktor diet faktor sosial kepadatan penduduk infeksi kemiskinan dan
lain5lain.
16
Pada pasien faktor penyebab terjadinya malnutrisi adalah faktor diet dan
juga infeksi. 1imana diet yang diberikan 'alaupun sudah mencukupi kebutuhan
namun pasien seringkali muntah saat pemberian makan sehingga jumlah yang
semula mencukupi menjadi tidak sesuai lagi. Infeksi juga merupakan suatu
interaksi sinergistis dengan malnutrisi. 1imana infeksi derajat apapun dapat
memperburuk keadaan giHi.
Pada kurang giHi berat diberikan antibiotik broad(s#ectrum secara rutin
untuk mengobati atau mencegah infeksi yang pada anak. Pilihan antibiotik untuk
kasus kurang giHi tergantung dari ada atau tidaknya komplikasi. 1ari literatur
didapatkan bah'a jika pasien sakit berat (apatis letargi) atau terdapat komplikasi
(hipoglikemia hipotermia infeksi kulit saluran pernapasan atau traktus urinarius)
dapat diberikan ampicillin 02 mg<kg)) I- atau I$ setiap : jam selama ! hari
kemudian dilanjutkan dengan amo,icillin oral 10 mg<kg)) setiap 8 jam selama !
hari atau ampicillin oral !0 mg<kg)) setiap : jam selama 0 hari. 1an diberikan
gentamisin 60 mg<kg)) I- atau I$ 1 kali sehari selama 6 hari. ?amun jika
tidak terdapat komplikasi dapat diberikan kotrimo,aHole 0 ml ! kali sehari
selama 0 hari (untuk anak K: kg diberikan !0 ml). Botrimo,aHole 0 ml setara
dengan .rimeptoprin /2 mg dan Sulfameto,aHole !22 mg.
1/101:18
Pada kurang giHi berat kekurangan Hat giHi makro umumnya disertai
dengan kekurangan Hat giHi mikro. Pemberian vitamin 3 diberikan secara oral.
@ntuk usia F 1! bulan diberikan !22.222 I@ usia :51! bulan diberikan 122.222
I@ dan untuk usia 250 bulan diberikan 02.222 I@. )erdasarkan literatur vitamin 3
diberikan sebanyak " kali yaitu dosis besar pada hari pertama dan kedua
kemudian dosis ketiga diberikan paling lambat ! minggu setelahnya jika pasien
mempunyai gejala kekurangan vitamin 3 seperti buta senja atau pada pemeriksaan
fisik ditemukan kelainan seperti bercak bitot ulkus nanah atau peradangan pada
kornea. Sedangkan apabila tidak terdapat tanda5tanda tersebut vitamin 3 hanya
diberikan satu dosis yaitu pada hari pertama.
!!
-ikronutrien yang dapat diberikan setiap hari selama ! minggu adalah
suplemen multivitamin asam folat 1 mg<hari (pada hari pertama diberikan 0 mg)
Ninc ! mg<kg))<hari tembaga 2" mg<kg))<hari besi " mg<kg))<hari.
1/
3nak dikatakan mengalami perbaikan apabila perbandingan tinggi
badan<berat badan mencapai 42;. ?amun orang tua harus diberitahu bah'a tetap
harus dilakukan pemeriksaan secara rutin pada anak.
1/
Prognosis pada pasien ini buruk karena adanya berbagai gangguan
neurologis serta di tambah keadaan malnutrisi. *ai ini sesuai dengan teori yaitu
angka kematian pada ensefalitis masih tinggi dan pada pasien yang hidup
didaptkan adanya sekuele dan kelainan neurologis lain.
!

!"
KESIMPULAN
1. Pasien di diagnosa meningoensefalitis G malnutrisi. 1iagnosa
meningoensefalitis ini dibuat dari hasil anamnesa pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
!. Pasien mendapat terapi meningitis .) karena 'alaupun dari anamnesa dan
pemeriksaan fisik tidak mendukung ke arah meningitis .) namun ditemukan
foto rontgen adanya tuberculosis aktif dan %. scan adanya hidrosefalus
sehingga pengobatan tuberculosis menjadi pertimbangan.
". -alnutrisi pada pasien ini justru terjadi selama pera'atan di rumah sakit.
Pada pasien faktor penyebab terjadinya malnutrisi adalah faktor diet dan juga
infeksi. 1imana diet yang diberikan 'alaupun sudah mencukupi kebutuhan
namun pasien seringkali muntah saat pemberian makan sehingga jumlah yang
semula mencukupi menjadi tidak sesuai lagi. Infeksi juga merupakan suatu
interaksi sinergistis dengan malnutrisi. 1imana infeksi derajat apapun dapat
memperburuk keadaan giHi. Pada pasien ini juga perlu dilakukan pemantauan
berat badan setiap hari serta kebutuhan giHinya agar tidak lebih memperburuk
keadaan umumnya.
!/
DA"TAR PUSTAKA
1. Aohim 3 Saharso 1 1udarmo S dkk. Ilmu Penyakit 3nak 1iagnosa dan
Penatalaksanaan. Salemba -edika. Jakarta. !22!.
!. I13I. Standar Pelayanan -edis Besehatan 3nak. Jakarta. !22/.
". -ardjono - Sidharta P. ?eurologi Blinis 1asar. 1ian Aakyat. Jakarta. !228
/. Sch'artH #. Pedoman Blinis Pediatri. +D%. Jakarta !22/
0. -ansjoer 3 Suprohaita #aedhani I dkk. Bapita Selekta Bedokteran. -edia
3esculapius. Jakarta. !220.
:. Dershon 3 *oteH P BatH S. BrugmanRs Infectious 1iseases of %hildren 11th
edition. -osby. Philadelphia. !22/.
6. Price S. #ilson (. Patofisiologi Bonsep Blinis Proses5Proses Penyakit +disi :
$olume !. +D%. Jakarta. !22:.
8. 1avey P. 3t a Dlance -edicine. +rlangga. Jakarta. !22:.
4. *ull 1 Johnston 1. 1asar51asar Pediatri +disi ". +D%. Jakarta. !228.
12. *arsonodkk. )uku 3jar ?eurologi Blinis. Dadjah -ada @niversity Press>
=ogyakarta. !220
11. Starke J.A. 1444. .uberkulosis. Ilmu Besehatan 3nak ?elson $olume II
+disi 10. +D%> Jakarta.
1!. Supriyanto ). 1kk. !226. Pedoman ?asional .uberkulosis 3nak. @BB
Aespirologi PP I13I> Jakarta.
1". =oes A. -eningitis .uberkulosa. Bapita Selekta ?eurologi +disi Bedua.
Dadjah -ada @niversity Press> =ogyakarta. !22"
1/. 3sh'orth 3. Bhanum S. Jackson 3. Schofield %.Duideline 9or .he
Inpatient .reatment of Severely -alnourished %hildren. #*7 Publication.
Deneva !22".
10. #orld *ealth 7rganiHation. -anagement of Severe -alnutrition> 3 -anual
9or Physician and 7ther Senior *ealth #orkers. Publication. Deneva 1444.
!0
1:. 1epartemen Besehatan Aepublik Indonesia > )uku )agan .ata (aksana 3nak
DiHi )uruk. 1irektorat )ina DiHi -asyarakat. !22:.
16. Pudjiadi S. Ilmu DiHi Blinis Pada 3nak +disi Beempat. 9akultas Bedokteran
@niversitas Indonesia. Jakarta. !222
18. #orld *ealth 7rganiHation. -anagement of .he %hild #ith a Serious
Infection or Severe -alnutrition Duidelines for %are at .he 9irst5Aeferral
(evel in 1eveloping %ountries. Integrated -anagement of %hildhood Illness.
!222
!: