Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lanjut usia adalah suatu periode dalam hidup seseorang, yaitu suatu
periode di mana seseorang beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih
menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh bermanfaat
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri / mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memeperbaiki kerusakan yang diderita (constantinides, 1994). Proses
menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah. Dimulai
sejak lahir dan umumnya pada semua mahkluk hidup. Menua bukanlah suatu
penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam
menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia adalah perubahan fisik ,
perubahan mental, perubahan psikososial, perkembangan spiritual, perubahan
minat.
Senam ergonomis adalah senam fundamental yang gerakannya sesuai
dengan susunan dan fungsi fisiologi tubuh. Tubuh terpelihara dengan sendirinya
dan mampu mengendalikan beberapa penyakit. Gerakan senam ergonomis sangat
unik dan menyesuaikan kondisi tubuh masing-masing orang.

B. PERMASALAHAN
Kelurahan Plaosan mempunyai luas wilayah sekiar 3,75 km
2
dengan
jumlah penduduk 6.313 jiwa. Di kelurahan Plaosan terdapat 198 RTM yang rata-
rata dihuni 5 jiwa / rumah tangga dengan tingkat kepadatan penduduk 1.683 /
km
2
. Jumlah warga yang berumur pra usila (44 59 tahun) sejumlah 812 orang,
usila (60 tahun) sejumlah 537 orang dengan total warga pra usila dan usia
sejumlah 1.349 orang.
Dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada usia lanjut tersebut perlu
diimbangi dengan kegiatan yang dapat menjadikan para lansia tersebut tidak
begitu merasakan perubahan-perubahan negatif yang mereka alami. Selain itu
dengan adanya kegiatan olahraga dapatat menguatkan fisik dan mental para lansia
tersebut.
Perkumpulan PWRI merupakan salah satu perkumpulan para lansia di
wilayah kecamatan plaosan. Menurut data yang kami peroleh kegiatan pada setiap
pertemuan rutin anggota PWRI adalah berupa pengecekan kesehatan rutin dan
seringkali diisi beberapa penyuluhan tentang kesehatan. Dalam pertemuan
tersebut tidak dilakukan kegiatan kegiatan yang berupa olah fisik yang berguna
untuk menguatkan fisik dan mental para lansia, oleh karena itu kegiatan pelatihan
senam ergonomis ini diharapkan dapat menjadi kegiatan tambahan yang dapat
dilakukan untuk memenuhi kekurangan tersebut.



C. TUJUAN
Tujuan pada kegiatan ini adalah memberikan kegiatan positif bagi
para lansia untuk mengisi masa tua serta memperbaiki kualitas hidup
dengan mengurangi masalah-masalah yang biasa dialami pada masa lanjut
usia.

D. MANFAAT
Manfaat dari kegiatan ini adalah untuk memberikan tambahan ilmu
pengetahuam dan kegiatan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki
kualitas hidup dan mengurangi masalah-masalah yang biasa terjadi pada
masa lanjut usia.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.Lanjut Usia
1.1 Defenisi lanjut usia
Dari beberapa referensi yang ada menjelaskan bahwa pengertian lanjut usia
menurut undang-undang No. 4 tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai 55
tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan
hidupnya sehari-hari. Sedangkan menurut undang-undang No. 13 tahun 1998
adalah mereka yang telah mencapai usia 60 tahun keatas.
Lanjut usia atau usia tua adalah suatu periode dalam tentang hidup
seseorang, yaitu suatu periodedi mana seseorang beranjak jauh dari periode
terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh
bermanfaat.
1.2 Teori - teori penuaan
Teori - teori penuaan ada 2 jenis yaitu teori biologis dan teori psikologis.
Teori biologis meliputi teori seluler, sintesis protein, sintesis imun, teori
pelepasan, teori aktivitas, dan teori berkelanjutan.
Teori seluler mengemukakan bahwa sel di program hanya untuk membelah
pada waktu yang terbatas serta kemampuan sel yang hanya dapat membelah
dalam jumlah yang tertentu dan kebanyakan diprogram membelah sekitar 50 kali.
Jika sebuah sel pada lanjut usia dilepas dari tubuh dan di biakkan dari
laboratorium, lalu diobservasi, jumlah sel yang akan membelah akan terlihat
sedikit, pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan
perbaikan jaringan sesuai dengan berkurangnya umur.
Teori sintesis protein mengemukakan bahwa proses penuaan terjadi ketika
protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan kurang
elastis. Pada lanjut usia, beberapa protein di buat oleh tubuh dengan bentuk dan
struktur yang berbeda dari pritein tubuh orang yang lebih muda. Banyak kolagen
pada kartilago dan elastin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta
menjadi tebal, seiring dengan bertambahnya usia.
Teori sistem imun mengemukakan bahwa kamampuan sistem imun
mengalami kemunduran pada masa penuaan dan mengakibatkan terjadinya
peningkatan infeksi, penyakit autoimun, dan kanker. Terdapat juga perubahan
yang progresif dalam kemampuan tubuh untuk berespon secara adaptif
(Homeostasis), seiring dengan pengunduran fungsi dan penurunan kapasitas
untuk beradaptasi terhadap stres biologis dehidrasi, hipotermi, dan proses
penyakit akut dan kronik.
Teori Pelepasan. Teori ini memberikan pandangan bahwa penyesuaian diri
lanjut usia merupakan suatu proses yang secara berangsur - angsur sengaja di
lakukan mereka dengan mengurangi aktivitasnya untuk bersama - sama
melepaskan diri atau menarik diri dari masyarakat.
Teoti Aktivitas. Teori ini berlawanan dengan teori pelepasan dimana
teori ini berpandangan bahwa walaupun lanjut usia pasti terbebas dari aktivitas,
tetapi mereka secara bertahap mengisi waktu luangnya dengan melakukan aktivitas
lain sebagai kompensasi dan penyesuaian. dengan kata lain sebagai orang yang
telah berumur, mereka meninggalkan bentuk aktivitas yang pasti
dan mengkompensasikan dengan melakukan banyak aktivitas yang baru
untuk mempertahankan hubungan antara sitem sosial dan individu dari
usia pertengahan kelanjut usia.
Teori Berkelanjutan. Teori ini menjelaskan bahwa sebagaimana dengan
bertambahnya usia, masyarakat berupaya secara terus menerus mempertahankan
kebiasaan, pernyataan, dan pilihan yang tepat sesuai dengan dnegan
kepribadiannya.
1.3 Batasan - batasan lanjut usia
Menurut organisasi kesehatan dunia, lanjut usia meliputi : usia pertangahan
(45-59 tahun), lanjut usia (60-74 tahun), lanjut usia tua (75-90) dan usia sangat
tua di atas 90 tahun (Hurlock, 2002).Kedewasaan dapat dibagi menjadi empat
bagian yaitu : pertama fase investus yaitu antara 25-40 tahun ; kedua fase
vertilitas yaitu antara 40-50 tahun ; ketiga fase praesenium yaitu antara 55-65
tahun dan keempat fase senuim yaitu antara 65 sampai tutup usia. Sedangkan
menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 seorang dapat dikatakan lanjut usia
setelah yang bersangkutan mencapai umur 60 tahun ke atas .
1.4 Perubahan-perubahan pada lanjut usia
Menua (menjadi tua ) adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri/mengganti
dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memeperbaiki kerusakan yang diderita (constantinides, 1994). Proses
menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah. Dimulai
sejak lahir dan umumnya pada semua mahkluk hidup. Menua bukanlah suatu
penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam
menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh.
Bagi sebagian orang besar, proses manua adalah suatu proses perubahan
klinikal yang didasarkan pada pengalaman dan observasi yang di defenisikan
dengan ; (1) penuaan pada kemikal dengan manifestasi perubahan struktur kristal
atau pada makromolekular, (2) penuaan ekstraseluler dengan manifestasi
progresif pada jaringan kolagen dan jaringan elastis atau kekurangan amiloid, (3)
penuaan intraseluler dengan menifestasi perubahan komponen sel normal atau
akumulasi substansi dan (4) penuaan pada organisme.
Pada lansia sering terjadi komplikasi penyakit atau multiple penyakit. Hal
ini di pengaruhi berbagai faktor, terutama oleh perubahan-perubahan dalam diri
lansia tersebut secara fisiologis. Lansia akan lebih sensitive terhadap penyakit
seperti terhadap nyeri, temperature , dan penyakit berkemih.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia
a. Perubahan - perubahan fisik meliputi perubahan sel, sistem pernafasan,
sistem pendengaran, sistem penglihatan, sistem cardiovaskuler,
sistem pengaturan temperatur tubuh, sistem respirasi, system
pencernaan, sistem genitourinaria, sistem endokrin, sistem kulit
dan sistem muskuloskletal. Perubahan yang terjadi pada bentuk dan
fungsi masing - masing.
b. Perubahan -perubahan mental: perubahan- perubahan mental pada lansia
berkaitan dengan 2 hal yaitu kenangan dan intelegensia. Lansia akan
mengingat kenangan masa terdahulu namun sering lupa pada masa yang
baru, sedangkan intelegensia tidak berubah namun terjadi perubaha dalam
gaya membayangkan.
c. Perubahan - perubahan psikososial: Pensiun dimana lansia mengalami
kehilangan finansial, kehilangan status, kehilangan teman, dan
kehilangan pekerjaan , kemudian akan merasakan atau sadar terhadap
kematian, perubahan cara hidup, penyakit kronik dan
ketidakmampuan, gangguan gizi akibat kehilangan jabatan dan
hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik yaitu perubahan terdapat konsep
diri dan gambaran diri.
d. Perkembangan spiritual: Agama dan kepercayaan makin terintegrasi dalam
kehidupannya.
e. Perubahan minat: Terdapat hubungan yang erat antar jumlah keinginan
dan minat orang pada seluruh tingkat usia dan keberhasilan penyesuaian
mereka. Keinginan tertentu mungkin di anggap sebagai tipe keinginan dan
minat pribadi, minat untuk berekreasi keinginan sosial, keinginan yang
bersifat keagamaan dan keinginan untuk mati.

1.5 Masalah - masalah pada lanjut usia
Secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai
masalah fisik baik secara fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomis. Dengan
semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran terutama di
bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan pada
perananperanan sosialnya. Hal ini mengkibatkan pula timbulnya gangguan di dalam
hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat meningkatkan ketergantunga
yang memerlukan bantuan orang lain.
Lanjut usia tidak saja di tandai dengan kenunduran fisik, tetapi dapat pula
berpengaruh terhadap kondisi mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan
sosialnya akan semakin berkurang hal mana akan dapat mengakibatkan
berkurangnya integrasi dengan lingkungannya. Hal ini dapat memberikan
dampak pada kebahagiaan seseorang.
Pada usia mereka yang telah lanjut, sebagian diri mereka masih
mempunyai kemanpuan untuk bekerja. Permasalahannya yang mungkin timbul
adalah bagaiman memfungsikan tenaga dan kemampunan mereka tersebut di
dalam situasi keterbatasan kesempatan kerja.
Masalah - masalah pada lanjut usia di kategorikan ke dalam empat besar
penderitaan lanjut usia yaitu imobilisasi, ketidakstabilan, gangguan mental, dan
inkontinensia.
Imobilisasi dapat disebabkan karena alasan psikologis dan fisik. Alasan
psikologis diantaranya apatis, depresi, dan kebingungan. Setelah faktor
psikologis, masalah fisik akan terjadi sehingga memperburuk kondisi
imobilisasi tersebut dan menyebabkan komplikasi sekunder.
Faktor fisik yang menyebabkan imobilisasi mencakup fraktur ekstremitas,
nyeri pada pergerakan artrithis, paralis dan penyakit serebrovaskular, penyakit
kardiovaskular yang menimbulkan kelelahan yang ekstrim selama latihan,
sehingga terjadi ketidakseimbangan. Selain itu penyakit seperti parkinson
dengan gejala tomor dan ketidakmampuan untuk berjalan merupakan penyebab
imobilisasi.
Masalah yang nyata dari ketidakstabilan adalah jatuh karena kejadian ini
sering dialami oleh lanjut usia dimana wanita yang jatuh, dua kali lebih sering
dibanding pria.
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata
yang melihat kejadian, yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring dan
terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan
kesadaran atau luka yang akibat jatuh dapat menyebabkan imobilisasi.
Gangguan mental merupakan yang sering terjadi sehubungan dengan
terjadinya kemerosotan daya ingat. Beberapa kasus ini berhubungan dengan
penyakit - penyakit yang merusak jaringan otak, sehingga kebanyakan masalah
turunnya daya ingat lanjut usia bukanlah sebagai akibat langsung proses
penuaan tetapi karena penyakit. Sebagian besar lanjut usia memerlukan
perawatan karena menderita gangguan mental. Konfusi (kebingungan) adalah
masalah utama yang memfunyai konsekuensi untuk semua aktivitas sehari -
hari. Lanjut usia yang mengalami konfusi tidak akan mampu untuk makan, tidak
mampumengontrol diri, bahkan menunjukkan perilaku yang agresif
sehingga lanjut usia memerlukan perawatan lanjutan untuk mengatasi
ketidakmampuan dan keamanan lingkungan tempat tinggal lanjut usia secara
umum. Bantuan yang di berikan adalah melalui petugas panti dan dukungan
keluarga.
Insiden inkontinensia biasanya meningkat pada lanjut usia yang
kehilangan kontrol berkemih dan defekasi. Hal ini berhubungan dengan faktor
akibat penuaan dan faktor nutrisi seperti yang telah di jelaskan diatas adalah
efek dari imobilisasi.
Inkontinensia lebih banyak diderita oleh perempuan dari pada laki-laki.
Wanita yang melahirkan anak dengan otot dasar panggul yang lemas, menjadi
penyebab inkontinensia. Pada laki-laki, penyebab umumnya adalah pembesaran
kelenjar prostat dan diperlukan prosedur bedah untuk menangani kondisi
tersebut.

2. SENAM ERGONOMIS
Senam Ergonomis
Senam ergonomis adalah senam yang bermanfaat untuk pemeliharaan
kesehatan yang terdiri dari lima gerakan yaitu dari berdiri tegak, memutar lengan,
ke belakang dengan posisi jinjit, membungkuk, sujud dan tidur terlentang dengan
posisi kaki dilipat dengan lengan di atas kepala dan bertumpu pada punggung
kaki.
Senam ergonomis adalah senam fundamental yang gerakannya sesuai
dengan susunan dan fungsi fisiologi tubuh. Tubuh terpelihara dengan sendirinya
dan mampu mengendalikan beberapa penyakit. Gerakan senam ergonomis sangat
unik dan menyesuaikan kondisi tubuh masing-masing orang.
Terdapat satu gerakan pembuka dan lima gerakan fundamental dalam gerakan
senam ergonomis, yaitu:
a) Gerakan pembuka, berdiri sempurna
b) Gerakan pertama, lapang dada
c) Gerakan kedua, tunduk syukur
d) Gerakan ketiga, duduk perkasa
e) Gerakan keempat, duduk pembakaran
f) Gerakan kelima, berbaring pasrah
Gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara berangkai sebagai senam rutin
setiap hari, atau sekurang-kurangnya 2 sampai 3 kali seminggu. Masing-masing
gerakan juga dapat dilakukan secara terpisah, di sela-sela kegiatan atau bekerja
sehari-hari.

2.1 Gerakan Pembuka,Berdiri Sempurna
Caranya: Berdiri tegak, pandangan lurus kedepan, tubuh rileks, tangan di
depan dada, denga jari-jari sedikit meregang. Posisi kaki meregang kira-kira
selebar bahu, telapak dan jari-jari kaki mengarah lurus ke depan.
Dosis: Bagi pemula mungkin agak lama sekitar 2-3 menit. Akan tetapi
kalau sudah terbiasa mungkin cukup 30-60 detik. Gerakan ini yang penting sudah
bisa mengantarkan ke kondisi mengantarkan kekondisi rileks, maka ini dikatakan
cukup.
Manfaatnya: Dengan gerakan berdiri sempurna, seluruh syaraf menjadi
satu titik pada pengendalinya di otak. Pusat kendali di seluruh belahan otak bagian
kanan kiri, depan belakang, luar dalam dan atas bawah dipadukan saat itu pada
satu tujuan. Saat itu, pikiran dikendalikan oleh kesadaran akal untuk sehat dan
bugar, tubuh dibebaskan dari beban pekerjaan, berat badan tubuh ditumpukan
dengan pembagian beban yang sama pada kedua kakinya.

2.2 Gerakan Lapang Dada
Caranya: Dari posisi berdiri sempurna, kedua tangan menjuntai ke bawah,
kemudian dimulai gerakan memutar lengan. Tangan diangkat lurus ke depan, lalu
ke atas, terus ke belakang, dan kembali menjuntai ke bawah. Satu putaran
disambung dengan putaran berikutnya sehingga seperti baling-baling. Posisi kaki
dijinjitkan-diturunkan, mengikuti irama gerakan tangan.
Dosis: untuk senam, gerakan ini dilakukan 40 kali putaran, satu gerakan
memutar butuh waktu 40 detik, sebagai gerakan aerobik. Keselurahan 40 kali
putaran akan selesai dalam 4 menit. Akan tetapi, bisa juga gerakan putaran
dipercepat, berikutnya bahkan dapat dilakukan dengan sangat cepat seperti
gerakan baling-baling. Keseluruhan gerakan dapat selesai dalam waktu 35 detik.
Manfaatnya: Gerakan lapang dada akan mengaktifkan fungsi organ, karena
seluruh sistem syaraf menarik tombol-tombol kesehatan yang tersebar di seluruh
tubuh.

2.3 Gerakan Tunduk Syukur
Caranya: dimulai dengan mengangkat tangan lurus keatas, kemudian
badan membungkuk, tangan kemudian meraih mata kaki, dipegang kuat, tarik,
cengkaram seakan-akan kita mau mengakat tubuh kita. Posisi kaki tetap seperti
semula. Pada saat itu kepala mendongak dan pandangan diarahkan ke depan.
Setelah itu kembali ke posisi berdiri dengan lengan menjuntai.
Pernafasannya; saat memulai garakan tangan hingga tangan sampai ke
atas, tarik nafas dalam-dalam. Saat mulai membungkukkan badan, bungan nafas
sedikit demi sedikit, tapi jangan dihabiskan hingga tangan mencengkran dan
menarik pergelangan kaki ketika kepala mendongak, kita masih menyimpan kira-
kira separuh hafas kita. Pada posisi terakhir ini nafas ditahan di dada, sampai
sekuatnya. Nafas dibuang saat kembali ke posisi berdiri. Segera ambil nafas baru
3-4 kali sebelum melanjutkan gerakan.
Dosisnya: grakan kedua ini dilakukan 5 kali. Umumnya satu kali gerakan
selesai dalam 35 detik ditambah 10 detik untuk jedanafas. Keseluruhan 5 kali
gerakn akan selesai dalam 4 menit.
Manfaatnya: Gerakan ketiga, tunduk syukur, adalah gerakan memasok
oksigen ke kepala dan mengembalikan posisi tulang punggung sepaya tegak.
Gerakan ini akan melonggarkan otot-otot punggung bagian bawah, paha, dan
betis.
Gerakan ini juga akan mempermudah untuk persalinan bagi ibu-ibu hamil yang
melakukannya secra rurtin . juga dapat menbantu menyembuhkan berbagai
macam penyakit yang menyerang tulang belakang yang meliputi ruas tulang
punggung, ruas tulang leher, ruas tulang pinggang dan tulang tungging. Bila
mereka yang terkena penyakit sinusitis dan asma sesaat sesudah melakukan
gerakan ini bisa langsung dirasakan menfaatnya.

2.4 Gerakan Duduk Perkasa
Caranya: Dari posisi sebelumnya, jatuhkan kedua lutut ke lantai, posisi
kedua telapak kaki tegak berdiri, jari-jari kaki tertekuk mengarah ke depan.
Tangan mencengkram pergelangan kaki. Mulai gerakan seperti mau sujud tetapi
kepala mendongak, pandangan ke depan, jadi dagu hamper menyentuh lantai.
Setelah beberapa saat ( satu thanan nafas) kemudian kembali ke posisi duduk
perkasa.
Pernafasanya: sesaat sebelum memulai gerakan sujud, ambil nafas dalam-
dalam. Saat mulai menbungkukkan badan, buang nafas sedikit-sedikit, hingga saat
dagu hamper menyentuh lantai, kita masih menyimpan kira-kira separuh nafas
kita. Pada posisi terakhir ini nafas ditahan di dada, salama mungkin. Jangan
mencoba bernafas normal pada posisi ini, karana akan ada rasa nyeri disekitar
rongga dada. Nafas dibuang saat kembali ke posisi duduk. Segera ambil nafas
baru 3-4 kali sebelum melanjutkan gerakan.
Dosisnya: Gerakan keempat ini dilakukan 5 kali. Umumnya 1 kali gerakan
selesai dalam 35 detik ditambah 10 detik untuk nafas jeda. Keluruhan 5 kali
gerakan akan selesai dalam 4 menit.
Manfaatnya: Gerakan keempat duduk perkasa, adalah gerakan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan keperkasaan. Sujud dengan
posisi jari-jari di tekuk. Gerakan sujud ini akan menbuat otot dada dan sela iga
menjadi kuat, sehingga rongga dada menjadi lebih besar dan paru-paru akan
berkembang dengan baik dan dapat menghisap oksigen lebih banyak. Lutut yang
membentuk sudut yang tepat memungkinkan otot perut berkembang dan
mencegak kegombyoran di bagian tengah. Menambah aliran darah ke bagian atas
tubuh, terutama kepala, mata, telinga, dan hidung serta paru-paru. Memungkinkan
toksin- toksin dibersihkan oleh darah, bermanfaat menpertahankan posisi benar
pada janin (bagi ibu hamil), mengontrol tekanan darah tinggi, serta menambah
elastisitas tulang itu sendiri.
Sujud dengan posisi duduk perkasa jari-jari kaki ditekuk akan menbantu mereka
yang menderita migraine, vertigo, pusing, mual, dan lain-lain. Saat jari-jari di
tekuk seluruh tombol kesehatan aktif membuang sampah biolistrik. Bagi yang
menderita seperti sakit diatas, akan terasa sakit sekali awalnya, tapi lama-
kelamaan akan hilang. Biasanya saat duduk perkasa ada angina yang berputar
diperut dan langsung keluar atau buang angin. Gerakan ini membantu juga yang
susah buang air besar karena pencernaan akan terbantu. Selanjutnya, bagi yang
ingin perkasa saat berhubungan seks, gerakan ini dapat dilakukan sambil
membaca kurang lebih 15-20 menit setiap hari dalam kurun waktu satu minggu.

2.5 Gerakan duduk pembakaran
Caranya : Dari posisi sebelumnya, kedua telapak kaki dihamparkan ke
belakang, sihingga kita duduk beralaskan telapak kaki (bersimpuh : duduk
sinden). Tangan berkecak pinggang. Mulai gerakan seperti akan sujud tetapi
kepala mendongak, pandangan ke depan, dan dagu hampir menyentuh lantai.
Setelah beberapa saat (satu tahanan nafas) kemudian kembali keposisi duduk
pembakaran.
Pernafasannya: Sesaat sebelum memulai gerakan akan sejud, ambil nafas
dalam-dalam. Saat mulai membungkukkan badan, buang nafas sedikit-sedikit,
hingga saat dagu hampir menyentuh lantai kita masih menyimpan kira-kira
separuh nafas. Pada posisi terakhir ini nafas ditahan di dada sekuatnya. Nafas
dibuang saat kembali ke posisi duduk. Segera ambil nafas baru 3-4 kali sebelum
melanjutkan gerakan.
Dosisnya: gerakan kelima ini dilakukan 5 kali. Umunya 1 kali gerakan
selesai dalam 35 detik ditambah 10 detik untuk nafas jeda. Keseluruhan 5 kali
gerakan akan selesai dalam 4 menit.
Manfaatnya: Gerakan keempat, duduk membakar, adalah gerakan untuk
memperkuat otot pinggang dan menperkuat ginjal, sujut dengan posisi
pembakaran akan menbakar lemak dan racun dalam tubuh. Saat duduk
pembakaran, tombol pembakaran di punggung kaki diaktifkan. Bagi mereka yang
menderita asam urat, keracunan obat, keracunan makanan atau kondisi badan
yang sedang lemah akan merasakan seperti terbakar. Gerakan ini sebaiknya
dilakukan sitiap saat misalnya saat nonton TV, mengosok baju, sambil belajar
bagi anak-anak karena akan mencerdaskan dan meningkatkan daya tahan tubuh,
bila asam urat dan bengkak kakinya, atau penderita radang persendian agar
dilakukan lebih lama, beberapa saat kemudian bengkak akan menghilang.
Gerakan ini akan memperkuat pinggang bagian bawah dan memperlancar aliran
darah ditungkai dalam arti fungsi kolateralnya akan meningkat.

2.6 Gerakan berbaring pasrah
Caranya: Dari posisi duduk pembakaran, kemudian merebahkan tubuh ke
belakang. Gerakan ini paling berat meskipun kelihatan sepele. Berbaring dengan
tungkai pada posisi menekuk di lutut. Ini harus hati-hati, mungkin harus dengan
cara bertahap, kalau perlu pada awalnya dengan bantuan alas punggung. Bila
sedah rebah, tangan diluruskan keatas kepala, ke samping kenan-kiri maupun ke
bawah menempel badan. Pada saat itu tangan memegang betis, tarik seperti mau
bangun, dengan rileks, kepala bisa didongokkan dan digerakan-gerakan ke kanan-
kiri. Posisi dan gerakan ini dilakukan berulang-ulang sampai akan bangun.
Gerakan ini satu kali tetapi dipertahankan beberapa menit sekuatnya. Hati-hati
juga pada saat akan bangun, pada pemula biasanya mengalami kesulitan sehingga
harus dibantu teman latihannya. Atau dengan cara lain, bukan bangun dari posisi
itu, tetapi meluruskan lutut kanan-kiri sehingga pasisi berbaring lurus biasa, baru
kemudian bangun.
Pernafasannya: Nafas dibiarkan mengalir dengan sendirinya, karena ini
gerakan relaksasi terakhir, sekaligus memaksimalkan kelenturan rubuh.
dosisnya: Gerakan keenam ini sebaiknya dilakukan minimal 5 menit. Sudah
termasuk variasi gerakan kepala dan leher serta ayunan tangan ke atas, samping
maupun bawah. Sekali lagi jangan terlalu memaksakan diri, baik rebahnya
maupun bangunnya



























BAB III
METODE PENELITIAN
1. Perencanaan Konsep Penyuluhan dan Pelatihan Senam DM
Perencanaan kegiatan kami mulai dengan mencari sasaran yang tepat
untuk melakukan pelatihan senam ergonomis ini. Setelah didapatkan sasaran
yang tepat kami meminta izin kepada pemegang program PWRI untuk mengisi
dalam acara rutin pertemuan PWRI di puskesmas plaosan.
2. Pelatihan Senam Ergonomis
Nama Kegiatan
Pelatihan Senam ergonomis pada lansia
Bentuk Kegiatan
Pelatihan Senam ergonomis pada lansia
3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pelatihan
Kegiatan ini kami laksanakan di beberapa tempat yaitu :
Ruang Pertemuan Puskesmas Plaosan
Tanggal : 10 mei 2013
Jam : 09.00 selesai WIB
Peserta : anggota PWRI Plaosan

4. Materi Pelatihan
Pelatihan :
Pelatihan senam Ergonomis yang kami lakukan diawali dengan melakukan
pretest tentang senam ergonomis. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan
mengenai senam ergonomis. Setelah itu dilakukan praktek untuk melakukan
senam ergonomis yang diikuti oleh semua peserta.
BAB IV
HASIL
A. PROFIL KOMUNITAS UMUM
Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan adalah sebuah kecamatan yang
berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Terdiri atas 58 dusun
atau lingkungan 67 Rukun Warga 389 Rukun Tetangga di kecamatan Plaosan
terdapat 15 Desa Antara Lain :
a. Desa Bogoarum
b. Desa Bulugunung
c. Desa Buluharjo
d. Desa Dadi
e. Desa Ngancar
f. Desa Nitikan
g. Desa Pacalan
h. Kelurahan Plaosan
i. Desa Plumpung
j. Desa Puntukdoro
k. Desa Randugede
l. Desa Sarangan
m. Desa Sendangagung
n. Desa Sidomukti
o. Desa Sumberagung

B. DATA GEOGRAFIS
Kelurahan Plaosan berada di Kecamatan Plaosan dengan
ketinggian 874 meter dpl, dengan koordinat pada titik 7,68379 LS dan
111,25148 BT. Luas Kecamatan Plaosan sekitar 66,09 Km2 atau sekitar
9,57 % dari luas total Kabupaten Magetan. Wilayah Kecamatan Plaosan
berada pada ketinggian antara 500 meter dpl sampai 1.280 meter dpl.

C. DATA DEMOGRAFIK
Kelurahan Plaosan mempunyai luas wilayah sekiar 3,75 km
2

dengan jumlah penduduk 6.313 jiwa. Di kelurahan Plaosan terdapat 198
RTM yang rata-rata dihuni 5 jiwa / rumah tangga dengan tingkat
kepadatan penduduk 1.683 / km
2
. Jumlah warga yang berumur pra usila
(44 59 tahun) sejumlah 812 orang, usila (60 tahun) sejumlah 537 orang
dengan total warga pra usila dan usia sejumlah 1.349 orang.

D. SUMBER DAYA KESEHATAN YANG ADA
Sumber Daya Kesehatan yang terletak di desa Plaosan salah
satunya adalah Puskesmas Plaosan. Puskesmas Plaosan merupakan
Puskesmas yang melayani perawatan rawat inap.
Selain Puskesmas, di kelurahan Plaosan juga terdapat 8 pos
posyandu yaitu Plaosan 1, Plaosan 2, Plaosan 3, Gulun, Duwet, Kauman,
Sale, dan Kandenan. Para kader posyandu yang berjumlah 40 orang juga
cukup aktif di setiap kegiatan posyandu maupun saat pertemuan kader
posyandu. Kedelapan posyandu yang terdapat di kelurahan Plaosan
berstrata purnama.

E. DATA KESEHATAN MASYARAKAT (PRIMER) :
Dari 1.354 KK di kelurahan Plaosan, sebanyak 97,46% KK sudah
memiliki persediaan air bersih, 99,65% KK sudah mempunyai jamban,
dan semua KK sudah mempunyai tempat sampah dan pengelolaan limbah
yang cukup baik di tiap rumah.
Rumah sehat yang diperiksa di kelurahan Plaosan adalah 590
rumah dari keseluruhan 1.068 rumah dengan hasil 564 rumah (95,59%)
telah masuk kriteria rumah sehat. Dari 109 RT yang dipantau terdapat 68
RT (62,39%) yang telah berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

F. PREVALENSI MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
SEBELUM INTERVENSI
Sebelum mengikuti pelatihan senam ergonomis, para peserta yaitu
anggota PWRI Plaosan belum begitu paham mengenai senam ergonomis.
Hal ini terbukti dengan hasil pre test yang masih kurang baik.

G. PREVALENSI MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
SESUDAH INTERVENSI
Setelah mengikuti pelatihan, hampir semua peserta dapat
menjawab soal post test dengan tepat dan dapat mempraktekkan gerakan
senam ergonomis ini di rumah dan menjadi agenda pada setiap pertemuan
PWRI.




BAB V
DISKUSI
Pelatihan senam ergonomis yang dilakukan pada tanggal 10 mei 2013 di
aula puskesmas Plaosan dimulai pada pukul 08.30. pelatihan tersebut diawali
dengan melakukan pretest tentang lansia dan senam ergonomis. Dalam pelatihan
tersebut peserta yang datang adalah 30 orang anggota PWRI kecamatan Plaosan.
Kegiatan yang dilakukan adalah mengajarkan para lansia untuk melakukan senam
ergonomis. Setelah dilakukan pretes para peserta diberi sedikit pengetahuan
tentang senam ergonomis itu sendiri, dari pengertian, manfaat, sampai dengan
cara melakukan senam. Setelah itu para peserta diminta untuk melakukan
bersama-sama gerakan senam tersebut.kebanyakan para peserta antusias untuk
mengikuti kegiatan tersebut. Setelah diberikan beberapa materi dan diminta
melakukan gerakan senam, ada beberapa peserta yang dicoba untuk melakukan
sendiri gerakan-gerakan senam tersebut sambil disaksikan oleh para peserta
lainnya. Kemudian acara terakhir adalah dilakukan posttest.
Hasil pelatihan yang kami lakukan cukup memuaskan. Dari data hasil pre
test dan post test dapat kami simpulkan bahwa para peserta cukup menyimak
penjelasan kami. Nilai post test pada awalnya kurang begitu baik namun setelah
mengikuti penyuluhan hampir semua peserta dapat menjawab dengan tepat. Hasil
dari pretest yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:



0
2
4
6
8
10
12
14
16
1 2 3 4 5
pretest
pretest
0
2
4
6
8
10
12
1 2 3 4 5
postest
postest



0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
pretest postest
perbandingan pretest dan postest
perbandingan pretest dan
postest
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan dari hasil pretest dan postes yang dilakukan saat
pelatihan senam ergonomis para peserta terdapat peningkatan hasil yang dapat
berarti pelatihan tersebut berhasil berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Para peserta diharapkan untuk melakukan senam tersebut secara rutin dirumah
dan dapat digalakkan secara rutin saat perkumpulan PWRI berlangsung.
Saran kami, perlu dilakukan pelatihan senam ergonomis secara
berkala agar masyarakat semakin hafal melakukan gerakan-gerakan senam
sehingga dapat dipraktekan secara mandiri di rumah tanpa harus bersama-sama
(berkelompok). Selain itu diharapkan agar senam ini dapat dilakukan pada setiap
pertemuan PWRI yang dilakukan setiap bulan di Puskesmas plaosan..

LAMPIRAN

SOAL PRE TEST DAN POST TEST
1. Apakah senam ergonomis itu?
a. Senam yang dilakukan pada pasien penyakit DM
b. Senam yang dilakukan rutin untuk menurunkan berat badan
c. senam fundamental yang gerakannya sesuai dengan susunan
dan fungsi fisiologi tubuh
d. senam yang dilakukan untuk membentuk tubuh
2. Siapa sajakah yang boleh melakukan senam ergomomis?
a. Anak-anak
b. Dewasa
c. Lansia
d. Semua umur
3. Berasal dari manakah gerakan senam ergonomis dibuat?
a. Gerakan sholat
b. Gerakan senam ibu hamil
c. Senam poco-poco
d. Senam DM
4. Apakah kegunaan dari senam ergonomis?
a. Merelaksasi tubuh
b. Mengaktifkan semua system syaraf
c. Mengurangi nyeri kepala
d. Semuanya benar
5. Kapan kita dapat melakukan senam ergonomis?
a. Pagi hari
b. Siang hari
c. Malam hari
d. Sewaktu-waktu

Anda mungkin juga menyukai