Anda di halaman 1dari 20

Hepatitis B dan C Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

Hepatitis virus adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh virus. Penyebab
terpenting ialah kelompok virus hepatitis A,B,C,D dan E. Jenis virus lain yang ditularkan
pasca transfusi, seperti virus G dan virus TT telah dapat diidentifikasi akan tetapi tidak
menyebabkan hepatitis. Semua jenis hepatitis virus yang menyerang manusia merupakan
virus RNA, kecuali virus hepatitis B, yang merupakan virus DNA. Walaupun virus-virus
tersebut berbeda dalam sifat molekular dan antigen, akan tetapi semua jenis virus tersebut
memperlihatkan kesamaan dalam perjalanan penyakitnya.
Gambaran klinis hepatitis virus sangat bervariasi, mulai dari infeksi asimtomatik tanpa
kuning sampai yang sangat berat yaitu hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan
kematian hanya dalam beberapa hari. Gejala hepatitis secara umum terbagi dalam 4 fase,
yaitu :
1. Fase inkubasi. Merupakan waktu antara masuknya virus sampai timbulnya gejala
atau ikterik. Fase ini berbeda-beda lamanya untuk tiap virus hepatitis. Panjang fase
ini tergantung pada dosis inokulum yang ditularkan dan jalur penularan, makin besar
dosis inokulum, makin pendek fase inkubasi.
2. Fase prodormal (pra ikterik). Fase di antara timbulnya keluhan-keluhan pertama dan
timbulnya gejala ikterus. Awitannya dapat singkat atau insidious ditandai dengan
malaise umum, mialgia, atralgia, mudah lelah, gejala saluran napas atas dan
anoreksia. Mual, muntah dan anoreksia berhubungan dengan perubahan penghidu
dan rasa kecap. Diare atau konstipasi dapat terjadi. Serum sickness dapat muncul
pada hepatitis B akut di awal infeksi. Demam derajat rendah umumnya terjadi pada
hepatitis A akut. Nyeri abdomen biasanya ringan dan menetap di kuadran kanan atas
atau epigastrium, kadang diperberat dengan aktivitas akan tetapi jarang
menimbulkan kolesistitis.
3. Fase ikterus. Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan
dengan munculnya gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi. Setelah timbul
ikterus jarang terjadi perburukan gejala prodormal, tetapi justru terjadi perbaikan
klinis yang nyata.
4. Fase konvalesen (penyembuhan). Diawali dengan menghilangnya ikterus dan
keluhan lain, tetapi hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada. Muncul
perasaan sudah lebih sehat da kembalinya nafsu makan.
Secara umum agen penyebab hepatitis virus dapat diklasifikasikan ke dalam 2 grup, yaitu
hepatitis dengan transmisi secara enterik (HAV & HEV) dan transmisi melalui darah (HBV,
HCV, HDV). Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai HBV dan HCV.
Hepatitis B dan C Page 2

BAB II
Tinjauan Pustaka

A. HEPATITIS B
I. PENDAHULUAN
Infeksi virus hepatitis B masih merupakan masalah yang besar di Indonesia karena
prevalensi yang tinggi dan komplikasinya. Didaerah endemik tinggi, infeksi HBV biasanya
terjadi melalui infeksi perinatal atau pada awal masa kanak-kanak. HBV sendiri biasanya
tidak sitopatik. Infeksi kronik HBV merupakan suatu proses dinamis dengan terjadi interaksi
dengan virus, hepatosit, dan sistem imun manusia.
Perjalanan penyakt hepatitis B kronik dengan HbeAg, DNA HBV positif di wilayah Asia
Pasifik masih belum banyak diteliti, namun reaktivasi hepatitis dan progresivitas penyakit
memang dapat terjadi. Telah ditemukan di bidang biologi molekular bahwa untuk
patogenesis HBV ada peran covalenty closed circular DNA (cccDNA) dalam terjadinya infeksi
kronik HBV yang menetap.
Pada saat ini, definisi hepatitis B kron ik adalah adanya persistensi virus hepatitis B > 6
bulan, sehingga penggunaan istilah healty carrier tidak dianjurkan lagi. Sebagian besar
pasien mendapat infeksi pada masa perinatal. Kebanyakan pasien ini tidak mengalami
keluhan ataupun gejala sampai terjadi penyakt hati kronik.

II. GEJALA
Gejala hepatitis B amat bervariasi, mulai dari tanpa gejala sampai gejala yang berat
seperti muntah darah dan koma. Pada hepatitis akut gejala amat ringan dan apabila ada
gejala, maka gejala itu seperti gejala influenza, berupa demam ringan, mual, lemas, hilang
nafsu makan, mata jadi kuning, kencing berwarna gelap, diare, dan nyeri otot. Pada orang
dewasa, 95% kasus akan sembuh sempurna yang ditandai dengan menghilangnya HbsAg
dan timbulnya anti-HBs.
Infeksi kronik ditandai oleh persistensi HbsAg dan anti-HBc serum DNA/HBV dapat
terdeteksi lebih dari 6 bulan dengan menggunakan pemeriksaan non-PCR. Pada hepatitis B
kronik ada 3 fase, yaitu fase imunotoleran, fase replikatif, dan fase integrasi. Pada fase
imunotolerans akan didapatkan HbsAg di dalam serum serta titer DNA HBV tinggi, tetapi ALT
normal. Pada fase ini gejala bisa timbul dan terjadi peningkatan aminotransferase yang
nantinya akan diikuti dengan terdapatnya anti-Hbe (serokonversi). Pada fase nonreplikatif
akan ditemukan DNA HBV yang rendah dan anti-HBe positif. Fase nonreplikatif ini sering
Hepatitis B dan C Page 3

pula disebut dengan keadaan pengidap tidak aktif dan pada keadaan ini dapat pula terjadi
resolusi hepatitis B sehingga HbsAg tidak terdeteksi lagi. Pada beberapa pasien dapat pla
ditemukan serokonversi HbeAg yang diakibatkan karena mutasi dari virus. Pada kelompok
pasien ini mungkin pula akan ditemukan peningkatan kadan DNA HBV yang disertai pula
peninggian ALT.
Sebagian pasien dengan antigen negatif dapat menjadi aktif kembali, tetapi dengan
antigen e yang tetap negatif. Oleh karena itu terdapat 2 jenis hepatitis B kronik dengan
HBeAg positif dan hepatitis B kronik dengan HbeAg negatif. Pasien yang mengalami infeksi
perintal dapat juga menjadi hepatitis kronik dengan HbeAg yang positif disertai dengan
peningkatan ALT, tetapi sesudah waktu yang cukup lama (10-20 tahun).
Pada umumnya, apabila terjadi serokonversi, gejala hepatitisnya juga menjadi tidak aktif
walaupun pada sebagian kecil masih ada gangguan biokimiawi, aktivitas histologi serta
peningkatan kadar DNA HBV. Infeksi HbsAg inaktif ditandai oleh HbsAg positif, anti-Hbe,
tidak terdeteksinya DNA HBV, serta LAT yang normal. Meskipun demikian, terkadang masih
didapatkna sedikit tanda peradangan pada pemeriksaan patologi anatomi. Apabila
serokonversi terjadi sesudah waktunya cukup lama, dapat pula ditemukan gejala kelainan
pada sediaan patologi anatomi.
Eksaserbasi hepatitis selain bisa disebabkan ole reaktvasi virus dapat pula terjadi karena
superinfeksi oleh virus hepatitis yang lain seperti HDV, HCV, HAV, atau karena obat-obatan.
Apabila kuning bertambah, dapat terjadi gatal dan tinja berwarna pucat. Bila menjadi
kronik akan didapatkan gejala seperti perut membesar, edema tungkai. Rambut rontok,
kolateral, spider nevi, eritema palmar, splenomegali, asites, hemoroid, dan jari tabuh.

III. DIAGNOSIS
Diagnosis hepatitis B ditegakkan dengan pemeriksaan biokimia serologi, dan apabila
diperlukan, dengan pemeriksaan histopatologi. Pada hepatitis B akut, akan ditemukan
peningkatan ALT yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan AST dengan kadar ALT
20-50x normal. Ditemukan pula IgM anti-HBc di dalam darah selain HBsAg, HBeAg dan DNA
HBV.
Pada hepatitis kronik peningkatan ALT adalah sekitar 10-20x batas atas nilai normal
(DANN) dengan ratio de ritis (ALT/AST) sekitar 1 atau lebih. Di samping itu, IgM anti-HBc
juga negatif. Diagnosis hepatitis B kronik dipastikan dengan pemeriksaan patologi anatomi,
di samping mungkin pula dnegan pemeriksaan fibro test. Pencitraan dengan USG atau CT-
scan dapat membantu bila proses sudah lanjut.

Hepatitis B dan C Page 4

IV. EVALUASI UNTUK TERAPI
Evaluasi awal apsien dengan HBV meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik, dengan
penekanan khusus pada faktor risiko terjadinya infeksi gabungan, penggunaan alkohol,
riwayat keluarga dengan infeksi HBV dan kanker hati.
Pemeriksaan laboratorium harus mencakup pemeriksaan fungsi hati, penanda replikasi
HBV, dan uji untuk infeksi gabungan dengan HCV serta HIV pada orang-orang yang berisiko.
Tes laboratorium untuk menilai fungsi hati, pemeriksaan darah lengkap termasuk hitung
trombosit, dan panel hati (ALT, AST, bilirubin, albumin, globulin, kolinesterase, dan waktu
protombin) juga diperlukan. Tes replikasi HBV meliputi HbsAg, HbeAg/anti-Hbe, dan HBV
DNA. Tes untuk skrining karsinoma hati seperti AFP dan PIVKA dapat dilakukan. Pada pasien
risiko tinggi, pemeriksaan USG perlu juga dikerjakan.
Bila memungkinkan dilakukan biopsi hati untuk menentukan tingkat (grade) dan stadium
(stage) penyakit hati pada pasien yang termasuk kriteria hepatitis kronik B.

V. PEMANTAUAN
Apabila seorang mengalami infeksi HBV, tidak selalu perlu diterapi tetapi cukup
dilakukan pemantauan untuk menilai apakah perlu dilakukan intervensi dengna antivirus
sewaktu. Pemantauan dilakukan apabila pada pasien didapatkan keadaan :
1. Hepatitis B kronik dengan HbeAg positif, DNA HBV > 10
5
copy/ml, dan ALT normal.
Pada pasien ini dilakukan tes SGPT setiap 3-6 bulan. Jika kadar SGPT naik > 1-2x batas
atas nilai normal, ALT diperiksa setiap 1-3 bulan. Jika dalam tindak lanjyt SGPT naik
menjadi > 2x BANN selama 3-6 bulan dan diserti HbeAg positif dan DNA HBV > 10
5
copy/ml, dapat dipertimbangkan untuk iopsi hati sebgaai pertimbangan memberikan
terapi antivirus.
2. Pada infeksi HbsAg inaktif (HbeAg dan DNA HBV) dilakuakn pemeriksaan ALT setiap
6-12 bulan. Jika ALT naik menjadi > 1-2x BANN, periksa serum DNA HBV dan bila
dapat dipastikan bukan disebabkan oleh hal yang lain, dapat dipertimbangkan terapi
antivirus.

Pemeriksaan VHB DNA
Metode pemeriksaan VHB DNA yang cocok untuk pemeriksaan awal pasien dengan
infeksi kronik VHB masih kontroversial. Nilai acak 10
5
kopi/ml dipilih sebagai kriteria
diagnosisi untuk hepatitis B kronik pada konferensi NIH. Namun demikian, terdapat
beberapa masalah dengan definisi ini.
Hepatitis B dan C Page 5

Pertama, pemeriksaan untuk mengetahui DNA VHA secara kuantitatif belum
distandarisasi dengan baik. Kedua, beberapa pasien dengan hepatitis B kronik mempunyai
kadar DNA VHB yang berfluktuasi yang dapat turun di bawah 10
5
kopi/ml. Ketiga, ambang
kadar DNA VHB yang berhubungan dengan progresivitas penyakit hati masih belum
diketahui.
Pemeriksaan amplifikasi kuantitatif (PCR) dapat mendeteksi kadar DNA VHB sampai
dengan 10
2
kopi/ml tapi hasil dari pemeriksaan ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati
karena ketidakpastian arti perbedaan klinis dari kadar DNA VHB yang rendah itu.
Berdasarkan pengetahuan dan definisi sekarang tentang hepatitis B kronik, pemeriksaan
standar dengan batas deteksi 10
5-
10
6
kopi/ml sudah cukup untuk evaluasi awal pasien
dengan infeksi VHB kronik.

Prognosis
Hepatitis akut dapat sembuh sempurna pada 90% kasus, sedangkan pada hepatitis
kronik prognosis untuk hilangnya virus amat sukar. Meskipun demikian, replikasi virus dapat
dikontrol dengan pengobatan antivirus sehingga kemungkinan untuk menjadi sirisis dan
kanker hati dapat dikurangi.

Tindak Lanjut Pasien yang Tidak Diterapi
Pasien HbeAg positif dengan kadar DNA VHB serum tinggi tapi kadar SGPT normal harus
dimonitor dengan selang waktu 3-6 bulan. Pada umumnya, biopsi hati tidak diperlukan
kecuali kalau dipertimbangkan untuk diberikan pengobatan dengan indikasi tertentu.
Pengawasan yang lebih ketat harus dilakukan bila kadar SGPT meningkat.
Eksaserbasi penyakit hati dilaporkan terjadi sampai 40% dari pasien yang sebelumnya
mengalami HbsAg secara spontan. Pada pasien dengan HbeAg tetap positif dan kadar DNA
VHB lebih tinggi dari 10
5
kopi/ml dalam periode 3-6 bulan sesudah terjadi peningkatan
kadar SGPT harus dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi hati dan pengobatan dengan
antivirus.

VI. PENCEGAHAN
Upaya pencegahan merupakan hal terpenting karena merupakan upaya yang paling
cost-effective. Secara garis besar, upaya pencegahan dibagi dua, yaitu upaya yang besifat
umum dan upaya yang lebih spesifik (imunisasi VHB).
Pencegahan umum berupa :
Hepatitis B dan C Page 6

1. Uji tapis donor darah dengan uji diagnostik yang sensitif
2. Sterilisasi instrumen secara adekuat dan akurat. Alat dialisis digunakan secara
individual. Untuk pasien dengan HBV disediakan mesin tersendiri. Jarum disposable
dibuang ke tempat khusus yang tidak tembus jarum.
3. Tenaga medis senantiasa menggunakan sarung tangan.
4. Perilaku seksual yang aman.
5. Penyuluhan agar para penyalah guna obat tidak memakai jarum secara bergantian.
6. Mencegah kontak mikrolesi, menghindar dari pemakaian alat yang dapat
menularkan HBV (sikat gigi, sisir) dan hati-hati dalam menanganni luka terbuka.
7. Skrining ibu hamil pada awal dan trimester ke-3 kehamilan, terutama ibu yang
berisiko terinfeksi HBV. Ibu hamil dengan HBV positif ditangani terpadu. Segera
setelah lahir, bayi diimunisasi aktif dan pasif terhadap HBV.
8. Skrining poplasi risiko tinggi tertular HBV (lahir di daerah hiperendemik,
homoseksual, heteroseksual, pasangan seks berganti-ganti, tenaga medis, pasien
dialisis, keluarga dari pasien HBV kronik, dan kontak seksual dengan pasien HBV).

Imunisasi
Imunisasi dapat berupa aktif dan pasif. Untuk imunisasi pasif digunakan hepatitis B
immunoglobulin (HBIg) yang dibuat dari plasma manusia yang mengandung anti-HBs titer
tinggi (>100.000 IU/ml). Imunisasi ini dapat memberikan proteksi secara cepat untuk jangka
waktu yang terbatas (3-6 bulan).
Pada orang dewasa, HBIg diberikan dalam waktu 48 jam setelah terpapar HBV.
Kegunaan akan menurun bila diberikan beberapa hari setelah paparan. HBIg yang diberikan
bersamaan dengan vaksin HBV selain memberikan proteksi secara cepat, kombinasi ini juga
memberikan proteksi jangka panjang.
Imunisasi aktif diberikan terutama kepada bayi baru lahir dalam waktu 12 jam pertama.
Vaksinasi juga diberikan pada :
Semua bayi dan anak, remaja, yang belum pernah imunisasi (catch up immunization).
Individu berisikko terpapar HBV berdasarkan profesi kerja yang bersangkutan.
Orang dewasa berisiko tertular HBV.
Tenaga medis dan staf lembaga cacat mental.
Pasien hemodialisis (imunisasi diberikan sebelum terapi dialisis dimulai).
Pasien yang membutuhkan tranfusi darah atau produk darah secara rutin.
Penyalah guna obat.
Homoseksual dan biseksual, pekerja seks komersial, orang yang baru terjangkit
penyakit menular seksual (STD), dan heteroseksual dengan pasangan berganti-ganti.
Kontak serumah dan kontak seksual dengan pengidap HBV.
Hepatitis B dan C Page 7

Populasi dari daerah insiden tinggi HBV. Individu yang bepergian ke area endemik
HBV.
Calon transplantasi hati (imunisasi diberikan pratransplantasi).
Untuk mencapai tingkat serokonversi yang tinggi dan konsentrasi anti-HBs protektif
(10mIU/ml), imunisasi diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1, dan 6 bulan.

VII. PENATALAKSANAAN
Pada saat ini dikenal 2 kelompok terapi untuk hepatitis B, yaitu :
1. Kelompok Imunomodulasi
Interferon
Timosin alfa 1
Vaksinasi terapi
2. Kelompok Terapi Antivirus
Lamivudin
Adenofovir Dipivoksil
Tujuan pengobatan hepatitis B kronik adalah mencegah atau menghentikan progresi
jejas hati dengan cara menekan replikasi virus atau menghilangkan injeksi.
Dalam pengobatan hepatitis B kronik, titik akhir yang sering dipakai adalah hilangnya
petanda replikasi virus yang aktif secara menetap (HbeAg dan DNA HBV). Pada umumnya,
serokonversi dari HBeAg menjadi anti-HBe disertai dengan hilangnya DNA HBV dalam serum
dan meredanya penyakit hati. Pada kelompok pasien hepatitis B kronik HbeAg negatif,
serokonversi HBeAg tidak bisa dipakai sebagai titik akhir terapi dan respon terapi, hanya
dapat dinilai dengan pemeriksaan DNA HBV.

Terapi dengan Imunimodulator
Interferon (IFN)
Interferon adalah kelompok protein intraseluler yang normal ada dalam tubuh,
diproduksi oleh berbagai macam sel. IFN alfa diproduksi limfosit B, IFN beta diproduksi oleh
monosit fibroepitelial, IFN gamma diproduksi oleh sel limfosit T. Produksinya dirangsang
oleh berbagai macam stimulasi terutama infeksi virus.
IFN berkhasiat sebagai antivirus, imunomodulator, anti prolifratif dan anti fibrotik. Efek
anti virus terjadi dimana IFN berinteraksi dengan reseptornya yang terdaftar pada
membrane sitoplasma sel hati yang diikuuti dengan diproduksinya protein efektor sebagai
antivirus. Pada hepatitis B kronik sering didapatkan penurunan IFN. Akibatnya,terjadi
penampilan molekul HLA kelas 1 pada membrane hepatosit yang sangat diperlukan agar sel
Hepatitis B dan C Page 8

T sitotoksit dapat mengenali sel-sel hepatosit yangterkena virus VHB. Sel-sel terseut
menampilkan antigen sasaran (target antigen)VHB pada membrane hepatosit.
IFN adalah salah satu obat pilihan untuk pengobatan pasien hepatitis B kronik dengan
HBeAg positif, dengan aktifitis penyakit ringan sampai sedang, yang belum mengalami
sirosis. IFN telah dilaporkan dapat mengurangi replikasi virus. Beberapa faktor yang dapat
meramalkan keberhasilan IFN :
1. Konsentrasi ALT yang tinggi
Konsentrasi DNA VHB yang rendah
Timbulnya flare-up selama terap
IgM anti-HBc yang positif
2. Efek samping IFN :
Gejala seperti flu
Tanda-tanda supresi sumsum tulang
Flare-up
Depresi
Rambut rontok
Berat badan turun
Gangguan fungsi tiroid
Dosis IFN yang dianjurkan untuk hepatitis B kronik dengan HBeAg positif adalah 5-10 MU
3x seminggu selama 16-24 minggu. penelitian menunjukkan bahwa terapi IFN untuk
hepatitis B kronik HBeAg negatif sebaiknya diberikan sedikitnya selama 12 bulan.
Kontraindikasi terapi IFN adalah sirosis dekompensata, depresi atau riwayat depresi di
waktu lalu, dan adanya penyakit jantung berat.
PEG Interferon
Penambahan polietilen glikol (PEG) menimbulkan senyawa IFN dengan umur paruh yang
jauh lebih tinggi dibandingkan dengan IFN biasa. Pada suatu penelitian yang
membandingkan pemakaian PEG IFN alfa 2x dengan dosis 90, 180, 270 mikrogram tiap
minggu selama 24 minggu menimbulkan penurunan DNA HBV yang lebih cepat
dibandingkan dengan IFN biasa yang diberikan 4,5 MU 3x seminggu. Serokonversi HBeAg
pada kelompok PEG IFN pada masing-masing dosis adalah 27, 33, 37% dan pada kelompok
IFN biasa sebesar 25%.
1. Penggunaan steroid sebelum terapi IFN.
Pemberian steroid pada pasien hepatitis B kronik HbsAg positif yang kemudian
dihentikan mendadak akan menyebabkan flare-up yang disertai dengan kenaikan
konsentrasi ALT.beberapa penilitin awal menunjukkan bahwa steroid withdrawl yang
diikuti dengan pemberian IFN lebih efektif dibandingkan dengan pemberian IFN saja,
tetapi hal itu tidak terbukti dalam penilitian skala besar. Karena itu steroid withdrawl
yang diikuti dengan pemberian IFN tidak dianjurkan secara rutin.
Hepatitis B dan C Page 9

2. Timosin alfa 1.
Timosin adalah suatu jenis sitotoksin yang dalam keadaan alami adda dalam ekstrak
pinus. Obat ini sudah dapat dipakai untuk terapi baik sebagai sediaan parenteral
maupun oral. Timosin alfa 1 merangsang fungsi sel limfosit. Pemberian timosin alfa 1
pada [pasien hepatitis B kronik dapat menurunkan replikasi HBV dan menurunkan
konsentrasi atau menghilangkan DNA HBV. Keunggulan obat ini adalah tidak ada efek
samping seperti IFN, obat ini meningkatkan efektivitas IFN.
3. Vaksinasi tetap.
Salah satu langkah maju dalam bidang vaksinasi hepatitis B adalah kemungkinan
penggunaan vaksin hepatitis B untuk pengobatan infeksi HBV. Prinsip dasar vaksinasi
terapi adalah fakta bahwa pengidap HBV tidak memberikan respon terhadap vaksin
hepatitis B. Konvensional yang mengandung HbsAg karena individu-individu tersebut
mengalami imnitoleransi terhadap HbsAg. Salah satu dasar vaksinasi terapi untuk
hepatitis B adalah penggunaan vaksin yang menyertakan epitop yang mampu
merangsang sel T sitotoksik yang bersifat human leucocyte antigen (HLA-restricted),
diharapkan sel T sitotoksik tersebut mampu menghancurkan sel-sel hati yang terinfeksi
HBV. Salah satu strategi adalah penggunaan vaksin yang mengandung protein pre-S.
Strategi kedua adalah menyertakan antigen kapsid yang spesifik untuk sel limfosit T
sitoksik (CTL). Strategi ketiga adalah vaksin DNA.

Terapi Antivirus
1. Lamivudin
Lamivudin adalah suatu enantiomer (-) dari 3 tiasitidin yang merupakan suatu analog
nukleosid, berfungsi sebagai bahan pembentuk pregenom, sehingga analog
nukleosid bersaing dengan nukleosid asli. Lamivudin berkhasiat menghambat enzim reverse
transcriptase yang berfungsi dalam transkripsi balik dari RNA menjadi DNA yang terjadi
dalam replikasi HBV. Lamivudin menghambat produksi HBV baru dan mencegah infeksi
hepatosit sehat yang belum terinfeksi, tetapi tidak mempengaruhi sel-sel yang telah
terinfeksi, karena pada sel-sel yang telah terinfeksi DNA virus hepatitis B ada dalam keadaan
convalent closed circular DNA (ccc DNA). Karena itu apabila obat dihentikan, konsentrasi
DNA akan naik kembali akibat diproduksinya virus-virus baru oleh sel-sel yang telah
terinfeksi. Kalau diberikan lamivudin 100 mg/hari, lamivudin akan menurunkan konsentrasi
DNA HBV sebesar 95% atau lebih dalam waktu 1 minggu.
2. Adefovir Dipivoksil
Prinsip kerjanya hampir sama dengan lamivudin, yaitu sebagai analog nukleosid yang
menghambat enzim reverse transcriptase. Umumnya digunakan pada kasus kasus yang
Hepatitis B dan C Page 10

kebal terhadap lamivudin, dosisnya 10 30 mg tiap hari selama 48 minggu.

Regimen pemilihan terapi
HBeAg HBV DNA
(>10
5
copies/ml)
ALT Strategi Pengobatan
+

+

2 x BANN

Efikasi terhadap terapi rendah
Observasi, terapi bila ALT meningkat
+

+

> 2 x BANN

Mulai terapi dengan : interferon alfa, lamivudin atau
adefovir
End point terapi : serokonversi HBeAg dan
timbulnya anti HBe
Durasi terapi :
- Interferon selama 16 minggu
- Lamivudin minimal 1 tahun, lanjutkan 3-6 bulan
setelah terjadi serokonversi HBeAg
- Adefovir minimal 1 tahun
Bila tidak memberikan respon/ada kontraindikasi,
interferon diganti lamivudin / adefovir
Bila resisten terhadap lamivudin, berikan adefovir

-


+


> 2 x BANN

Mulai terapi dengan : interferon alfa, lamivudin atau
adefovir. Interferon atau adefovir dipilih mengingat
kebutuhan perlunya terapi jangka panjang
End point terapi : normalisasi kadar ALT dan HBV
DNA (pemeriksaan PCR) tidak terdeteksi
Durasi terapi :
- Interferon selama satu tahun
- Lamivudin selama > 1 tahun
- Adefovir selama > 1 tahun
Hepatitis B dan C Page 11

Bila tidak memberikan respon/ ada kontraindikasi
interferon diganti lamivudin / adefovir
Bila resisten terhadap lamivudin, berikan adefovir
- - 2 x BANN Tidak perlu terapi




+


Sirosis hati

Terkompensasi : lamivudin atau adefovir
Dekompensasi : lamivudin (atau adefovir),
interferon kontraindikasi, transplantasi hati




-

Sirosis hati

Terkompensasi : observasi
Dekompensasi : rujuk ke pusat transplantasi hati

Respon Antivirus
Respon terapi Keterangan
1. Biokimiawi
1.
2. Virologi
1.
2.
3.
4.
5. Histologi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8. Respon komplit
Penurunan kadar ALT menjadi normal
Kadar HBV DNA menurun / tidak terdeteksi (<10
5
copies/ml)
HbeAg + menjadi HbeAg -
Pada pemeriksaan biopsi hati, indeks aktifitas
histologi menurun paling tidak 2 angka
dibandingkan sebelum terapi

Terpenuhinya kriteria : biokimiawi, virologi dan menghilangnya
HbsAg




Hepatitis B dan C Page 12

B. HEPATITIS C

I. Pendahuluan
Sebelum ditemkan virus hepatitis C (HCV), dunia medis mengenal 2 jenis virus sebagai
peyebab hepatitis, yaitu : HAV dan HBV. Namun demikian, terdapat pula peradangan hati
yang tdak disebabkan oleh kedua virus ini, dan tidak dapat dikenal pada saat itu, sehingga
dinamakan hepatitis Non-A, Non-B (hepatitis NANB).
Hepatitis NANB mempunyai sifat yang menyerupai hepatitis B yaitu didapatkan
umumnya pasca transfusi darah. Virus baru ini kemudian dinamakan virus hepatitis C.
Infeksi HCV merupakan masalah yang besar karena pada sebagian besar kasus menjadi
hepatitis kronik yang dapat membawa pasien pada sirosis hati dan kanker hati. Di negara
maju, infeksi HCV merupakan salah satu indikasi utama transplantasi hati.

II. Virologi Molekular HCV
HCV adalah virus RNA yang digolongkan dalam Flavivirus bersama-sama dengan virus
hepatitis G, yellow fever, dan dengue. Virus ini umumya masuk ke dalam darah melalui
transfusi atau kegiatan-kegiatan yang memungkinkan virus ini langsung terpapar dengan
sirkulasi darah. Target utama HCV adalah sel-sela hati dan mungkin juga sel limfosit B
melalui reseptor yang mungkin sekali serupa dengan CD81 yang terdapat di sel-sel hati
maupun limfosit sel B atau reseptor LDL.

Setelah berada dala sitoplasma sel hati, HCV akan melepaskan selubung virusnya dan
RNA virus siap untuk melakukan translasi protein dan kemudian replikasi RNA. Struktur gen
HCV adalah sebuah RNA rantai tunggal, positif sepanjang kira-kira 10.000 pasang basa
dengan daerah open reading frame (ORF) diapit oleh susunan nukleotida yang tidak
ditranslasikan (untranslated region atau UTR) pada masing-masing ujung 5 dan 3. Kedua
ujung gen HCV yang tidak ditranslasikan ini diketahui sangat terpelihara sehingga saat ini
Hepatitis B dan C Page 13

dipakai untuk identifikasi adanya infeksi HCV, terutama pada ujung 5. Regio ini juga sedang
diteliti untuk digunakan dalam terapi hepatitis C karena berperan dalam replikasi virus ini.
Translasi protein HCV dilakukan oleh ribosom sel hati yang akan mulai membaca RNA
HCV dari satu bagian spesifik (internal ribosom entry site atau IRES) yang terdapat di regio 5
UTR.
Daerah ORF akan menghasilkan satu poliprotein yang terdiri dari 3011 asam amino.
Asam-asam amino yang dihasilkan ORF ini akan diproses oleh peptidase sel hati untuk
protein-protein struktural HCV (dari core dan envelope region) dan protease-protease yang
dikode oleh HCV untuk protein-protein regulator dari regio non-struktural (NS region).
Sampai saat ini telah dikenal 3 macam protein struktural (core, E1 dan E2) maupun 7 protein
non-struktural (regulator) yaitu : NS2, NS3, p7, NS4a, NS4b, NS5a, Ns5b.
Protein core dalam proses pengemasan virus setelah keluar dari sel akan membungkus
RNA HCV untai tunggal positif di retikulum endoplasma. Protein ini juga ditemukan dalam
nukleus sel hati dan mungkin bertanggung jawab dalam timbulnya kerusakan sel hati atau
dalam fungsi penekanan imunoregulasi dan apoptosis sel hati yang terinfeksi HCV.
Dua bagian dari regio E2 dikenal sebagai hypervariable region (HVR1 dan HVR2) karena
susunan nukleotidanya sangat bervariasi dan merupakan hasil interaksi antara virus dengan
sistem imunologik yang khas untuk HCV. Regio E2 juga mentranslasikan CD81 yang berperan
sebagai reseptor virus untuk infeksi ke dalam sel. Antibodi terhadao protein E2 ini apat
protektif pada percobaan dengan simpanse. Regio E2 ini juga memuat sequence yang
identik dengan tempat fosforilase protein kinase interferon yang mungkin berperan dalam
kerentanan HCV terhadap terapi interferon.
Regio NS2,3 dan 4a menghasilkan protease, NS3 menghasilkan helikase dan NS5b
menghasilkan RNA-dependent RNA polymerase. Di antara regio NS2 dan E, terdapat regio
yang menghasilkan p7 mungkin berfungsi sebagai saluran ion di membran selular. Bagian
dari regio NS5a juga ditengarai mempunyai hubungan dengan keberhasilan terapi dengan
interferon sehingga disebut sebagai interferon sensivity determining region (ISDR) walaupun
hal ini masih kontroversial.
Protein-protein yang dihasilkan HCV berfungsi penting dalam siklus hidup virus ini
sehingga banyak penelitian yang memanfaatkan protein-protein tersebut maupun regio
dalam gen HCV itu untuk membuat anti virus yang efektif,
Virus ini bereplikasi melalui RNA-dependent RNA polymerase yang akan menghasilkan
salinan RNA virus tanpa mekanisme proof-reading (mekanisme yang akan menghancurkan
salinan nukleotida yang tidak persis sama dengan aslinya). Kondisi akan menyebabkan
timbulnya banyak salinan-salinan RNA HCV yang sedikit berbeda namun masih berhubungna
satu sama lain pada seorang pasien yang disebut sebagai quasispecies. Perbedaan
nukleotida diantara quasispecies tidak lebih dari 10% namun menimbulkan masalah pada
Hepatitis B dan C Page 14

pengenalan sistem imunologik pasien terhadap virus ini karena perbedaan struktur antigen
yang diekspresikan oleh HCV.
Kecepatan replikasi HCV sangat besar, melebihi HIV dan HBV. Data yang ada
menunjukkan replikasi HCV terjadi dalam sitoplasma sel hati dengan membuat salinan RNA
negatif sementara yang dilakukan oleh RNA-dependent RNA polymerase; protein yang
dikode oleh regio NS5b pada gen HCV. Melalui salinan RNA negatif ini dibuat salinan-salnan
RNA positif. Untuk kegiatan replikasi ini, HCV memerlukan aktivitas semua enzim-enzimnya,
gen p7 dan susunan ujung 3 yang tepat. Untai ganda RNA ini akan diurai oleh helikase HCV
(hasil translasi NS3) dan dalam proses pengeluaran virus dari sel, untai RNA positif tunggal
yang dimasukkan dalam protein C (core) dam E (envelope).
Susunan gen-gen yang berbeda pda regio 5UTR, core maupun NS5b diketahui dapat
menggolongkan HCV dalam beberapa genotipe dan subtipe.

III. Patogenesis
Studi mengenai mekanisme kerusakan sel hati karena VHC masih sulitdilakukan karena
terbatasnya kultur sel untuk VHC dan tidak adanya hewan model kecuali simpanse yang
dilindungi. Kerusakan sel hati akibat VHC atau partikel virus secara langsung masih belum
jelas. Namun beberapa bukti menunjukan adanya mekanisme imunologis yang
menyebabkan kerusakan sel-sel hati. Protein core misalnya ditenggarai dapat menimbulkan
reaksi pelepasan radikal oksigen pada mitokondria. Selain itu, protein ini diketahui pula
mempengaruhi proses signaling dalam inti sel terutama berkaitan dengan penekanan
regulasi imunologik dan apoptosis, adanya bukti bukti ini menyebabkan kontroversi apakah
VHC bersifat sitotoksik atau tidak, terus berlangsung. Reaksi cytotoxic T cell (CTL) spesifik
yang kuat diperlukan untuk terjadinya eliminasi menyeluruh VHC pada infeksi akut. Pada
infeksi kronik, reaksi CTL yang relative lemah masih mampu merusak sel sel hati dan
melibatkan proses inflamasi di hati tetapi tidak bias menghilangkan virusmaupun menekan
evolusi genetic VHC sehingga kerusakan sel hati berjalan terus menerus. Kemampuan CTL
tersebut dihubungkan dengan aktivasi limfosit sel T helper(TH) spesifik VHC. Adanya
pergeseran dominasi aktivitas Th1 menjadi Th2 berakibat pada reaksi toleransi dan
melemahnyarespon CTL.
Reaksi yang dilibatkan melaluai sitokin sitokin pro-inflamasi sepertiTNF-, TGF-1,
akan menyebabkan reksutmen sel sel inflamasi lainnya dan menyebabkan aktivitas sel sel
Stelata diruang disse hati. Sel-sel yang khas iniyang sebelumnya dalam keadaan tenang
(quicent) kemudian berpoliferasi dan menjadi aktif menjadi sel-sel miofibroblast, yang
dapat menghasilkan matriks kolagen sehingga terjadi fibrosis dan berperan aktif dalam
menghasilkan sitokin-sitokin pro-inflamasi. Mekanisme ini dapat timbul terus-
menerus karena reaksi inflamasi yang terjadi tidak berhenti sehingga fibrosissemakin lama
Hepatitis B dan C Page 15

semakin banyak dan sel sel yang ada semakin sedikit. Proses inidapat menimbulkan
kerusakan hati lanjut dan sirosi hati.
Pada gambaran histopatologis hepatitis kronik dapat ditemukan prosesinflamasi berupa
neksosis gergit, maupun lobular, disertai dengan fibrosis didaerah portal yang lebih lanjut
dapat masuk ke lobules hati (fibrosis septal)dan kemudian dapat menyebabkan nekrosis dan
fibrosis jembatan (bridging fibrosis/necrosis) gambaran yang khas untuk infeksi VHC adalah
agregat limfosit di lobules hati namun tidak didapatkan pada semua kasus inflamasiakibat
VHC.
Gambaran histopatologis pada infeksi kronik VHC sangat berperandalam proses
keberhasilan terapi dan prognosis. Secara histopatologis
dapatdilakukan scoring untuk inflamasi dan fibrosis dihati sehingga memudahkanuntuk kepu
tusan terapi, evaluasi pasien maupun komunikasi antara ahli patologi. Saat ini sistem scoring
yang mempunyai variasi intra daninteroobserver yang baik diantaranya adalah METAVIR
dan ISHAK. Sistem skoring Metavir digunakan untuk menilai pasien dengan hepatitis C.
Tingkatan tersebut berdasarkan derajat inflamasi yang terjadi pada hepar antara lain:
0: yaitu tidak ada luka
1: luka yang minimal
2: luka yang terjadi dan meluas ke area dari hepar termasuk pembuluh darah
3: fibrosis sudah mulai menyebar dan menghubungkan dengan area lain
4: sirosis dengan luka tingkat lanjut

IV. Gejala Klinis
Kerusakan hati akibat infeksi kronik tidak dapat tergambar pada pemeriksaan fisik
maupun labaratorik kecuali bila sudah terjadi sirosis hati. Pada pasien dimana ALT selalu
normal, 18-20% sudah terdapat kerusakan hati bermakna, sedangkan di antara pasien
dengan peningkatan ALT, hampir semua sudah mengalami kerusakan hati sedang sampai
berat.
Progesivitas hepatitis kronis menjadi sirosis tergantung beberapa faktor antara lain
asupanalcohol, koinfeksi dengan hepatitis B atau HIV, jenis kelamin laki-laki danusia tua saat
terjadinya infeksi. Setelah terjadi sirosis hati, maka dapat timbulkanker hati dengan
frekuensi 1-4% tiap tahunnya. Kanker hati dapat terjaditanpa melalui sirosis hati walaupun
kondisi seperti ini jarang terjadi.
Koinfeksi HCV dengan HIV diketahui menjadi masalah karena dapat memperburuk
perjalanan penyakit hati yang kronik, mempercepat terjadinya sirosis hati dan mungkin pula
mempercepat penurunan sistem kekebalan tubuh. Adanya koinfeksi tersebut juga
mempersulit pengobatan dengan antiretrovirus karena memperbesar porsi pasien yang
Hepatitis B dan C Page 16

menderita gangguan fungsi hati dibandingkan dengan pasien tanpa koinfeksi HCV-HIV. Di
Indonesia, kasus ini sering terjadi pada pengguna jarum suntik yang menggunakan alat
suntik bergantian. Selain gejala-gejala gangguan hati, dapat pula timbul manifestasi ekstra
hepatik, antara lain : krioglobunemia dengan komplikasi-komplikasinya (glomerulopati,
kelemahan, vaskulitis, purpura dan atralgia), sicca syndrome, lichen planus dan porphyria
cutanea tarda. Patofisiologi manifestasi gejalaekstra hepatic belum diketahui dengan
jelas namun dihubungkan dengankemampuan VHC untuk menginfeksi sel-sel limfoid
sehingga mengganggu respon sistem imunologis. Sel-sel limfoid yang terinfeksi dapat
berubah sifatnya menjadi ganas karena dilaporkan tingginya kejadian limfoma nonHodgin
pada pasien dengan infeksi HCV.

V. Diagnostik
Infeksi oleh VHC dapat diidentifikasikan dengan memeriksa antibodiyang dibentuk tubuh
terhadap VHC bila virus menginfeksi pasien. Antibodiini akan bertahan lama setelah
infeksi terjadi dan tidak mempunyai arti protektif. Walaupun pasien dapat menghilangkan
infeksi VHC pada infeksiakut, namun antibodi terhadap VHC masih terus bertahan bertahun
tahun (18-20 tahun).
Deteksi antibodi terhadap VHC dilakukan umumnya dengan
teknik enzyme immune assay (EIA). Antigen yang digunakan untuk deteksi dengancara ini
adalah antigen C-100 dan beberapa antigen non-struktural (ns 3,4 dan5) sehingga tes ini
menggunakan poliantigen dari VHC. Dikenal beberapa generasi pemeriksaan antibodi VHC
ini dimana antigen yang digunakan semakin banyak sehingga saat ini generasi III mempunyai
sensitivitas danspesivitas yang sangat tinggi antibodi terhadap VHC dapat dideteksi
padaminggu ke 4-10 dengan sensivitas mencapai 99% dan spesivitas 90%. Negatif palsu
dapat terjadi terrhadap pasien dengan difesiensi sistem kekebalan tubuh
seperti pada pasien HIV, gagal ginjal.
Immunobolt assay dulu digunakan untuk tes konfirmasi pada meraka dengan anti HCV
positif dengan EIA. Saat ini dengan tingkat spesifitas dan sensivitas EIA yang sudah
sedemikian tinggi, tes konfirmasi ini tidak digunakan lagi.
Deteksi RNA VHC digunakan untuk mengetahui adanya virus ini dalam tubuh pasien
terutama dalam serum sehingga memberikan gambaran infeksi sebenarnya. Jumlah VHC
dalam serum maupun dalam hati relativesangat keci lsehingga diperlukan teknik amplifikasi
agar terdeteksi. Teknik polymerase chain reaction (PHC) dimana gen VHC digandakan oleh
enzyme polymerase digunakan sejak ditemukan virus ini dan sat ini umumnya digunakan
untuk menentukan adanya VHC (secara kualitatif) maupun untuk mengetahui jumlah virus
VHC (secara kuantitatif). Teknik ini juga dipakai dalam menentukan genotip VHC. Teknik
lain adalah dengan menggadakan signal yang didapat dari gen VHC yang terikat pada probe
Hepatitis B dan C Page 17

RNA sehingga dapat dihitung jumlah kuantitatif HCV. Hasil kedua pemeriksaan ini sulit
dibandingkan satu dengan yang lainnya walupun saat ini ada standarisasi dalam satuan
pemeriksaan sehingga di masa datang diharapkan satu pemeriksaan dapat diikuti atau
dilakukan pemeriksaan ulang dengan pemeriksaan lain dengan hasil yang dapat
dibandingkan.
Untuk menentukan genotip VHC selain dengan teknik VCR, juga digunakan teknik
hibridasi ataudengan melakukan sequencing gen VHC.
Selain untuk pemeriksaan pada pasien, penentuan adanya infeksi VHC dilakukan
pada penapisan darah untuk tranfusi darah. Umumnya unit-unit transfusi darah mengguna-
kan deteksi anti VHC dengan EIA maupun dengan cara imunokomotrografi, namun
hasil terdapat kasus kasus pasien yang terinfeksi oleh VHC maupun deteksi VHC sudah
dinyatakan negatif.
Teknik deteksi nukleotida lebih sensitif daripada deteksi anti VHC karna itu di dunia saat
ini telah dikembangkan teknik menggunakan real time PCR yang dapat mendeteksi RNA
VHC dalam jumlah yang sangat kecil (kurang dari 50kopi/ml). Selain itu, teknologi
menggunakan teknik transcription-mediated-amplification (TMA) juga telah dikembangkan
untuk meningkatkan sensitivitas deteksi VHC. Teknik yang sangat sensitif ini berguna untuk
mendeteksi infeksi VHC dikalangan pasien maupun dikalangan masyarakat umum untuk
tranfusi darah.

VI. Penatalaksanaan

Pada pasien yang tidak terjadi fibrosis hati (F0) atau hanya merupakan fibrosis hati
ringan (F1), mungkin terapi tidak perlu dilakukan karena mereka biasanya tidak berkembang
menjadi sirosis hati setelah 20 tahun menderitainfeksi HCV. Nilai fibrosis hati pada tingkat
menengah atau tinggi, sudah merupakan indikasi untuk terapi sedangkan apabila sudah
terdapat sirosis hati, maka pemberian interferon harus berhati-hati karena dapat
menimbulkan penurunan fungsi hati secara bermakna.
Pengobatan hepatitis C kronik adalah dengan menggunakan interferon alfa dan ribavirin.
Umumnya disepakati bila genotype HCV adalah genotype 1 dna 4, maka terapi perlu
diberikan selama 48 minggu dan bila genotype 2 dan 3, terpai cukup diberikan selama 24
minggu.
Kontra indikasi terapi adalah berkaitan dengan penggunaan interferondan ribavirin
tersebut. Pasien yang berumur lebih dari 60 tahun, Hb <10 g/dL,lekousit darah <2500/uL,
trombosit <100.000/uL, adanya gangguan jiwa yang berat, dan adanya hipertiroid tidak
diindikasikan untuk terapi dengan interferon dan ribavirin. Pasien dengan gangguan ginjal
Hepatitis B dan C Page 18

juga tidak diindikasikan menggunakan ribavirin karena dapat memperberat gangguan ginjal
yang terjadi.
Untuk interferon alfa yang konvensional, diberikan setiap 2 hari atau 3 kali seminggu
dengan dosis 3 juta unit subkutan setiap kali pemberian. Interferon yang telah diikat dengan
poly-ethylen glycol (PEG) atau dikenal dengan Peg-Interferon, diberikan setiap minggu
dengan dosis 1,5ug/kg BB/kali (untuk Peg-Interferon 12 KD) atau 180 ug (untuk Peg-
Interferon 40 KD).
Pemberian interferon diikuti dengan pemberian ribavirin dengan dosis pada pasien
dengan berat badan <50 kg 800 mg setiap hari, 50-70kg 1000 mg setiap hari, dan >70kg
1200mg setiap hari dibagi dalam 2 kali pemberian.
Pada akhir terapi dengan interferon dan ribavirin, perlu dilakukan pemeriksaan RNA HCV
secara kualitatif untuk mengetahui apakah HCV resisten terhadap pengobatan dengan
interferon dan tidak memerlukan pemeriksaan RNA HCV 6 bulan kemudian. Keberhasilan
terapi dinilai 6 bulan setelah pengobatan dihentikan dengan memeriksa RNA HCV kualitatif.
Bila RNA HCV tetap negatif, maka pasien dianggap mempunyai respons virologik yang
menetap (sustained virological response atau SVR) dan RNA HCV kembali positif, pasien
dianggap kambuh (relapser). Mereka yang tergolongkambuh ini dapat kembali diberikan
Interferon dan ribavirin nantinya dengan dosis yang lebih besar atau bila sebelumnya
menggunakan Interferon konvensional, Peg Interferon mungkin akan bermanfaat. Beberapa
peneliti menganjurkan pemeriksaan RNA HCV kuantitatif 12 minggu setelah terapi
dimulai untuk menentukan prognosis keberhasilan terapi dimana prognosisdikatakan baik
bila RNA HCV turun >2 log.
Efek samping penggunaan interferon adalah demam dan gejala-gejala menyerupai
flu (nyeri otot, malaise, tidak nafsu makan, dan sejenisnya), depresi dan gangguan emosi,
kerontokan rambut lebih dari normal, depresi sumsum tulang, hiperurisemia, kadang-
kadang timbul tiroiditis. Ribavirin dapat menyebabkan penurunan Hb. Untuk mengantisipasi
timbulnya efek samping tersebut, pemantauan pasien mutlak dilakukan. Pada awal
pemberian interferon dan ribavirin dilakukan pemantauan klinis, laboratoris (Hb,lekousit,
trombosit, asam urat dan ALT) setiap 2 minggu yang kemudian dapat dilakukan setiap
bulan. Terapi tidak boleh dilanjutkan bila Hb <8 gr/dL,lekousit <1500/uL atau kadar neutrofil
<500/uL, trombosit <50.000/uL, depresi berat yang tidak teratasi dengan pengobatan anti
depresi, atau timbul gejala-gejala tiroiditis yang tidak teratasi.
Keberhasilan terapi dengan interferon dan ribavirin untuk eradikasi HCV lebih kurang
60%. Tingkat keberhasilan terapi tergantung pada beberapa hal. Pada pasien dengan
genotype 1 hanya 40% pasien yang berhail dieradikasi sedangkan untuk genotype lain,
tingkat keberhasilan terapi dapatmencapai lebih dari 70%. Peg Interferon dilaporkan
mempunyai tingkat keberhasilan terapi yang lebih baik daripada interferon konvensional.
Hal lainyang juga berpengaruh dalam kurangnya keberhasilan respons terapi dengan
Hepatitis B dan C Page 19

interferon adalah semakin tua umur, semakin lama infeksi terjadi, jenis kelamin laki-laki,
berat badan berlebih (obesitas), dan tingkat fibrosis hatiyang berat.
Pada hepatitis C akut, keberhasilan terapi dengan interferon lebih baik daripada
pasien hepatitis C kronik hingga mencapai 100%. Pada kelompok pasien ini interferon dapat
digunakan secara monoterapi tanpa ribavirin dan lama terapi pada satu laporan hanya 3
bulan. Namun sulit untuk menentukan infeksi akut HCV karena tidak adanya gejala akibat
infeksi virus ini sehingga umunya tidak diketahui waktu yang pasti adanya infeksi.
Apabila jelas infeksi akut enjadi tersebut terjadi misalnya pada tenaga medis yang secara
rutin dilakukan anti HCV dengan hasil negatif dan kemudian setelah tertusuk jarum anti-HCV
menjadi positif maka monoterapi dengan interferondapat diberikan.
Pada ko-infeksi HCV-HIV, terapi dengan interferon dan ribavirin dapat diberikan bila
jumlah CD4 pasien ini <200 sel/mL. bila CD4 kurang dari nilai tersebut, respons terapi sangat
tidak memuaskan.
Untuk pasien dengan ko-infeksi HCV-HBV, dosis pemberian interferon untuk HCV sudah
sekaligus mencukupi untuk terapi HBV sehingga kedua virus dapat diterapi bersama-sama
sehingga tidak diperlukan nukleosida analog yang khusus untuk HBV.














Hepatitis B dan C Page 20

DAFTAR PUSTAKA
1. Soemohardjo S, Gunawan S. Hepatitis B Kronik. Dalam : Aru W.Sudoyo dkk, editor. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta : Internal Publishing, 2009 ; 653 661
2. Sanityoso A. Hepatitis Virus Akut. Dalam : Aru W.Sudoyo dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 5. Jakarta : Internal Publishing, 2009 ; 644 647
3. Gani R. A. . Hepatitis C. Dalam : Aru W.Sudoyo dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi
5. Jakarta : Internal Publishing, 2009 ; 662 667
4. Akbar H. N. Hepatitis B. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati. Edisi 1 Revisi. Jakarta : Sagung
Seto, 2012 ; 211 220
5. Suharjo, JB, dkk. Diagnosis dan Manajemen Hepatitis B Kronik. Dalam jurnal : Cermin Dunia
Kedokteran, No. 150. 2006