Anda di halaman 1dari 11

REFERAT PTERIGIUM

Nama : Ivan Chandra


11-2013-005





Kepaniteraan Klinik RS. Mata Dr. Yap
Universitas Kristen Krida Wacana
Yogyakarta
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul pterigium tepat
pada waktunya.

Terima kasih penulis ucapkan kepada konsulen yang telah membimbing dan memberi
masukan dalam mengerjakan tinjauan pustaka ini sehingga dapat diselesaikan. Terima
kasih juga penulis ucapkan kepada pengurus perpustakaan yang telah memberikan
kesempatan untuk meminjam literatur-literatur tambahan.

Dengan tinjauan pustaka ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi penulis
dan bagi orang lain yang membacanya terutama mengenai pterigium serta untuk
memenuhi salah satu tugas kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Mata FK UKRIDA di RS
Mata Dr.Yap, Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun penulis harapkan untuk perbaikan yang akan
datang. Penulis juga memohon maaf, bila terjadi kesalahan dalam penulisan kata-kata.


Jakarta, 1 September 2014

Penulis

PENDAHULUAN
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian
nasal ataupun temporal konjunctiva yang meluas ke daerah kornea.
1
Biasanya
berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap sentral kornea dan basis
menghadap lipatan semilunar pada cantus medius. Pterigium merupakan proses
degenerasi dan hipertrofi yang banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di sekitar
khatulistiwa.
2
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan fibrovaskuler pada
konjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea.
2
Etiologinya tidak diketahui
dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi.
Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata
iritatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan keluhan
gangguan penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan dellen
(penipisan kornea akibat kering), dan garis besi (iron line dari Stocker) yang terletak di
ujung pterigium.
1
Secara umum pterigium dapat diklasifikasikan menjadi tipe 1 yaitu pterigium
kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya
saja. Tipe 2 disebut juga pterigium primer advanced atau pterigium rekuren tanpa
keterlibatan zona optik. Pada bentuk ini kepala pterigium terangkat dan menginvasi
kornea sampai dengan zona optik. Pada tubuh pterigium sering nampak kapiler yang
membesar. Tipe 3 adalah pterigium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona
optik. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat. Keterlibatan zona optik
membedakan grup ini dari yang lain. Pterigim ini dapat mengancam kebutaan.
2
Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat rekuren, terutama pada
pasien yang masih muda. Pada prinsipnya, tatalaksana pterigium adalah dengan
tindakan operasi.
1


PEMBAHASAN
I. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan lapisan mukosa (selaput lendir) yang melapisi palpebra
bagian dalam dan sklera. Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu
3,4
:
Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, sukar digerakkan dari tarsus.
Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera
dibawahnya.
Konjungiva fornices atau forniks konjungitva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Bagian forniks longgar sehingga
apabila terdapat eksudat yang banyak akan tertimbun di bawah jaringan,
kelopak mata kemudian menggembung dan menutup.

Lapisan-lapisan konjungitva dari luar ke dalam:
4
1. Epitel terdiri atas epitel superfisial dan basal
Epitel superfisial terdapat sel goblet yang menghasilkan musin yang merupakan
lapisan terdalam air mata. Epitel basal terletak di dekat limbus mengandung
pigmen. Pada pajanan kronik dan kering konjungitva bisa mengalami
keratinisasi seperti kulit.
2. Stroma terdiri dari lapisan adenoid dan fibrosa
Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid. Lapisan fibrosa mengandung
jaringan ikat. Jaringan ini padat di atas tarsus dan longgar di tempat lainnya.
Stroma mengandung 2 jenis kelenjar, yaitu memproduksi musin dan kelenjar
lakrimal tambahan. Kelenjar musin terdiri atas sel goblet yang terletak di
lapisan epitel, terpadat di bagian inferiornasal; kripte Henle terletak di
sepertiga atas konjungtiva palpebra superior dan sepertiga bawah konjungtiva
palpebra inferior; serta kelenjar Manz yang berada di sekeliling limbus, tepi
kornea dan batas kornea konjungtiva.
3. Endotel
Pembuluh darah konjungtiva berasal dari:
4
1. Arteri konjungtiva posterior yang memperdarahi konjungtiva bulbi
2. Arteri siliar anterior atau episklera yang memberikan cabang:
a. Arteri episklera, yang akan memperdarahi iris dan badan siliar.
b. Arteri perikornea, yang memperdarahi kornea.
c. Arteri episklera, yang memberikan perdarahan ke dalam bola mata.

II. Definisi Pterigium
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian
nasal ataupun temporal konjunctiva yang meluas ke daerah kornea.
1
Menurut
Hamurwono pterigium merupakan Konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan
penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan
puncak segitiga di kornea.
5
Bentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap sentral
kornea dan basis menghadap lipatan semilunar pada cantus medius. Pterigium
merupakan proses degenerasi dan hipertrofi yang banyak ditemukan di daerah tropis,
terutama di sekitar khatulistiwa.
2

Pterigium berasal dari bahasa yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau
sayap. Insidens pterigium di Indonesia yang terletak digaris ekuator, yaitu 13,1%.
Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya
pterigium.
6
Pteridium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium
akan bewarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua mata.
2

III. Etiologi
Hingga saat ini, etiologi pasti pterigium masih dalam perdebatan. Beberapa
faktor resiko pterigium antara lain adalah paparan ultraviolet, mikro trauma kronis
pada mata, infeksi mikroba atau virus. Selain itu, bebrapa kondisi kekurangan fungsi
lakrimal baik secara kuantitas maupun kualitas, konjungtivitis kronis, dan defisiensi
vitamin A juga berpotensi menimbulkan pterigium.
2
IV. Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi antara lain :
a. Usia
Prevalensi pterigium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia
dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Tan berpendapat pterigium
terbanyak pada usia dekade dua dan tiga.
5

b. Pekerjaan
Pertumbuhan pterigium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV.
5
c. Tempat tinggal
Gambaran yang paling mencolok dari pterigium adalah distribusi geografisnya.
Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad
terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterigium
yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun
pertama kehidupannya pada garis lintang kurang dari 30
0
memiliki risiko penderita
pterigium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih selatan.
6
d. Jenis kelamin
Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan.
5

Gambar. Pterigium
e. Herediter
Pterigium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan.
6
f. Infeksi
Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab pterigium.
6
g. Faktor risiko lainnya
Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti
asap rokok , pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterigium.
6
V. Patofisiologi
Belum diketahui dengan pasti. Terdapat beberapa teori tentang patogenesis
pterigium yang berkembang sekarang teori degenerasi, inflamasi, neoplasma, tropik
ataupun teori yang menghubungkan dengan sinar UV.
7

VI. Klasifikasi
Secara umum pterigium dapat diklasifikasikan menjadi tipe 1 yaitu pterigium
kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya
saja. Tipe 2 disebut juga pterigium primer advanced atau pterigium rekuren tanpa
keterlibatan zona optik. Pada bentuk ini kepala pterigium terangkat dan menginvasi
kornea sampai dengan zona optik. Pada tubuh pterigium sering nampak kapiler yang
membesar. Tipe 3 adalah pterigium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona
optik. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat. Keterlibatan zona optik
membedakan grup ini dari yang lain. Pterigim ini dapat mengancam kebutaan.
2
VII. Gejala klinik
Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan
mata iritatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan
keluhan gangguan penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan
dellen (penipisan kornea akibat kering), dan garis besi (iron line dari Stocker) yang
terletak di ujung pterigium.
1
Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan
keluhan berupa mata sering berair

dan tampak merah dan mungkin menimbulkan
astigmatisma yang memberikan keluhan

gangguan penglihatan. Pada kasus berat
dapat menimbulkan diplopia. Biasanya penderita

mengelukan adanya sesuatu yang
tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau alasan kosmetik, Keluhan
subjektif dapat berupa rasa panas, gatal, ada yang mengganjal.
1,5
VIII. Diagnosis Banding
Diagnosis banding berupa pseudopterIgium , pannus dan kista dermoid.
1

IX. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan pterIgium dibagi 2, yaitu cukup dengan pemberian obat-
obatan jika pterIgium masih derajat 1 dan 2, sedangkan tindakan bedah dilakukan
pada pterigium yang melebihi derajat 2. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada
pterIgium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan.
1
Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat rekuren, terutama pada
pasien yang masih muda. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu
tetes mata dekongestan. Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau
dilakukan pembedahan bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya
astigmatisme irregular atau pterigium yang telah menutupi media penglihatan.
1
Operasi pada pterigium dilakukan atas indikasi kosmetik dan optik. Operasi
dianjurkan apabila pterigium telah mencapai 2mm ke dalam kornea. Penatalaksanaan
pterigium sering memberikan hasil yang kurang memuaskan bagi dokter ahli mata
maupun pasien. Hal ini disebabkan karena adanya kekambuhan yang masih menjadi
masalah penting, sehingga untuk menurunkan angka kekambuhan pterigium pada saat
dilakukan tindakan pembedahan pterigium sering diberikan obat tambahan misalnya
mitomisin C. Sampai saat ini tehnik operasi yang terbaik adalah Conjunctival
Autograft.
2

X. Pencegahan
Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari, debu, dan udara kering
dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu
dapat diberi steroid. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam
bentuk salep. Bila diberi vasokonstriktor maka perlu kontrol dalam 2 minggu dan bila
telah terdapat perbaikan pengobatan dihentikan.
1
XI. Prognosis
Jika pendekatan konservatif gagal untuk membersihkan penyumbatan, dengan
prosedur bedah tingkat keberhasilan adalah lebih besar dari 90%.

PENUTUP
Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian
nasal ataupun temporal konjunctiva yang meluas ke daerah kornea.

Biasanya
berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap sentral kornea dan basis
menghadap lipatan semilunar pada cantus medius. Pterigium merupakan proses
degenerasi dan hipertrofi yang banyak ditemukan di daerah tropis, terutama di sekitar
khatulistiwa.

Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan
mata iritatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan
keluhan gangguan penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan
dellen (penipisan kornea akibat kering), dan garis besi (iron line dari Stocker) yang
terletak di ujung pterigium.

Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan
keluhan berupa mata sering berair

dan tampak merah dan mungkin menimbulkan
astigmatisma yang memberikan keluhan

gangguan penglihatan.
Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat rekuren, terutama pada
pasien yang masih muda. Bila pterigium meradang dapat diberikan steroid atau suatu
tetes mata dekongestan. Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau
dilakukan pembedahan bila terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya
astigmatisme irregular atau pterigium yang telah menutupi media penglihatan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, S. Mata Merah dengan Penglihatan Normal. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI;2006.h.116-7
2. Suhardjo, S.U; Hartono. Kelainan Palpebra, Konjungtiva, Kornea, Sklera dan
Sistem Lakirmal. Ilmu Kesehatan Mata. Ed-1. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Gajah Mada;2007.h.40-41
3. Ilyas, S. Anatomi dan Fisiologi Mata. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI;2006.h.2-3
4. Suhardjo, S.U; Hartono. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan. Ilmu
Kesehatan Mata. Ed-1. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gajah
Mada;2007.h.18-19
5. Hamurwono GD, Nainggolan SH, Soekraningsih. Buku Pedoman Kesehatan
Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina
Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat
Departemen Kesehatan, 1984. 14-17
6. Tan D T.H. Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New
York: Springer, 2002. 65 83
7. Pterigium. http://www.who.int/uv/faq/uvhealtfac/en/index3.html . diakses 20
mei 2009