Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pemicu
Inneke, seorang anak tunggal, perempuan, usia 5 tahun 9 bulan, mempunyai
tinggi badan 120 cm dan berat 32 kg. Sejak usia 1 tahun hingga saat ini, ibu
Inneke masih memberikan bubur dan susu dengan porsi yang cukup banyak
setiap 3-4 jam sekali. Inneke hingga saat ini belum mampu makan makanan
padat. Bila diberikan makanan padat Inneke menolak, kadang disertai muntah
sehingga ibu akhirnya melanjutkan pemberian bubur dan susu dengan
frekuensi sekitar 5-6 kali sehari. Selain itu Inneke sering mengkonsumsi es
krim. Di rumah, Inneke gemar menonton televisi dan bermain video game
sampai lupa belajar. Pergi dan pulang sekolah selalu diantar naik kendaraan
pribadi. Olahraga hanya dilakukan pada jam yang dijadwalkan di sekolah.
Ayahnya bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan dan ibunya bekerja
sebagai dokter di Puskesmas Kecamatan. Pada pemeriksaan fisis tampak
tungkai bawah melengkung seperti huruf O.

1.2 Klarifikasi dan Definisi
-

1.3 Kata Kunci
1. Anak perempuan 5 tahun, 9 bulan
2. BB 32 kg, TB 120 cm
3. Belum mampu makan makanan padat
4. Frekuensi makan 5-6 kali sehari
5. Sering mengkonsumsi es krim
6. Gemar menonton televisi dan bermain video game
7. Olahraga hanya pada jam sekolah
8. Ayah bekerja sebagai direktur, ibu bekerja sebagai dokter
9. Tungkai bawah melengkung seperti huruf O
1.4 Rumusan Masalah
Mengapa Inneke mengalami obesitas?

1.5 Analisis Masalah

1.6 Hipotesis
Inneke mengalami obesitas karena ketidakseimbangan asupan makanan.


Inneke, 5 tahun 9 bulan
Ketidakseimbangan pemenuhan
kebutuhan dasar
Pola Asuh
Status Gizi
Obesitas
BB 32 kg, TB 120 cm
Kaki melengkung
seperti huruf O
Gangguan Tumbuh dan
Kembang
Perkembangan Oral Motor
Pola Makan Aktivitas
1.7 Pertanyaan Diskusi
1. Metabolisme energi pada anak
2. Gizi yang seimbang
3. Pola makan yang tepat bagi tumbuh kembang anak
4. Status Gizi
a. Definisi
b. Klasifikasi
c. Cara perhitungan
d. Cara memperbaiki ststus gizi anak
5. Kebutuhan dasar bagi tumbuh kembang anak
6. Pola asuh yang tepat bagi tumbuh kembang anak
7. Obesitas
a. Definisi
b. Metabolisme pada obesitas
c. Etiologi
d. Faktor risiko
e. Manifestasi klinis
f. Komplikasi
g. Pemeriksaan
h. Tatalaksana
i. Pencegahan
8. Bagaimana hubungan obesitas dengan tungkai bawah melengkung seperti
huruf O?
9. Blount disease
a. Definisi
b. Tanda dan gejala
c. Diagnosis
d. Tatalaksana


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Metabolisme Energi pada Anak
1

A. Sumber Energi dalam Tubuh
Kebutuhan energi dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi
yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat,
pembakaran lemak, serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein.
Diantara ketiganya, simpanan protein bukanlah merupakan sumber energi
yang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai
jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk
menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di
dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Terbentuk
dari mokekul glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul yang
lebih kompleks, simpanan glikogen memilik fungsi sebagai sumber energi
tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi
sistem pusat syaraf dan otak.
Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen
utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada
jaringan otot,glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total
massa otot sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi
sekitar 8-10% dari total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang
lebih kecil namun secara total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2
kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati.
Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen
dapat digunakan secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan
energi. Begitu juga dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila
dibutuhkan untuk memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen
hati juga mempunyai peranan yang penting dalam menjaga kesehatan
tubuh yaitu berfungsi untuk menjaga level glukosa darah. Sebagai sumber
energi simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh secara langsung
akan mempengaruhi kapasitas/ performa seorang atlet saat menjalani
program latihan ataupun juga saat pertandingan.
Secara garis besar hubungan antara konsumsi karbohidrat, simpanan
glikogen dan performa olahraga dapat di simpulkan sebagai berikut:
1. Konsumsi karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan simpanan
glikogen tubuh.
2. Semakin tinggi simpanan glikogen maka kemampuan tubuh untuk
melakukan aktivitas fisik juga akan semakin meningkat
3. Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menurunkan/membatasi
kemampuan tubuh untuk mempertahankan intensitas dan waktu
beraktifitas.
4. Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menyebabkan tubuh
menjadi cepat lelah jika dibandingkan dengan tubuh dengan simpanan
glikogen tinggi.
5. Konsumsi karbohidrat setelah beraktifitas akan
mempercepat penyimpanan glikogen.
B. Metabolisme Aerobik dan Anaerobik
Proses produksi energi di dalam tubuh dapat berjalan melalui dua
proses metabolisme yaitu metabolisme aerobik dan metabolisme
anaerobik. Metabolisme energi pembakaran lemak dan karbohidrat
dengan kehadiran oksigen (O2) yang akan diperoleh melalui proses
pernafasan disebut dengan metabolisme aerobik.Sedangkan proses
metabolisme energi tanpa kehadiran oksigen (O2) disebut dengan
metabolisme anaerobik.
Metabolisme energi secara aerobik dapat menyediakan energi bagi
tubuh untuk jangka waktu yang panjang sedangkan metabolisme energi
anerobik mampu untuk menyediakan energi secara cepat di dalam tubuh
namun hanya untuk waktu yang tebatas yaitu sekitar 5-10
detik. Pada olahraga dengan intensitas rendah tubuh secara dominan
akan mengunakan metabolisme aerobic untuk menghasilkan energi. Dan
apabila terjadi peningkatan intensitas olahraga hingga mencapai titik
dimana metabolisme energi aerobik tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan
energi sesuai dengan laju yang dibutuhkan, maka energi secara anaerobik
akan diperoleh dari simpanan creatine phosphate (PCr) dan juga
karbohidrat yang tersimpan sebagai glikogen di dalam otot. Metabolisme
energi secara aerobik disebutkan merupakan proses yang bersih karena
tidak menghasilkan produk samping. Hal ini berbeda dengan sistem
anaerobik yang akan menghasilkan produk samping berupa asam laktat
yang akumulasinya akan membatasi efektivitas kontraksi otot yang juga
dapat menimbulkan rasa nyeri.
1. Glikolisis Aerob.
Reaksi keseluruhan gliolisis aerob adalah:
Glukosa + 2 NAD+ + 2 Pi + 2 ADP ? 2 piruvat + 2 NADH + 4H+ + 2
ATP + 2 H2O
Bila sel mempunyai kapasitas oksidasi yang tinggi, dalam hal ini
tersedia sejumlah mitokondria, enzim-enzim mitokondria dan oksigen.
NADH akan ditransfer ke rantai transport electron mitokondria dan
piruvat akan dioksidasi lengkap menjadi CO2 via siklus asam
trikarboksilat (TCA). Membran mitokondria impermiabel untuk
NADH, karena itu transfer ekivalen tereduksi dari sitosol ke dalam
mitokondria memerlukan mekanisme shuttle (ulang-alik), baik proses
ulang-alik malat-aspartat maupun ulang-alik gliserol 3-fosfat.
Dalam oksidasi aerobic glukosa menjadi piruvat dan subsekuen
oksidasi menjadi CO2, permolekul glukosa menghasilkan fosfat energi
tinggi sebesar 38 ATP.
2. Glikolisis Anaerob
Pada kondisi kapasitas oksidatif oleh sel mitokondria terbatas atau
karena ketidakadaan oksigen, NADH yang dihasilkan glikolisis
direoksidasi melalui perubahan piruvat menjadi laktat oleh laktat
dehidrogenase. Perubahan glukosa menjadi laktat tersebut disebut
glikolisis anaerob, yang maksudnya proses ini tidak memerlukan
molekul oksigen.
Reaksi keseluruhannya:
Glukosa + 2 ADP + 2 Pi ? 2 laktat + 2 ATP + 4 H+ +2 H2O
Energi yang dihasilkan dari glikolisis anaerobic hanya 2 molekul
ATP permolekul glukosa, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan
kondisi aerobik.
C. Metabolisme Energi dalam Tubuh
Proses ini tentu saja menyangkut proses pembentukan dan
penggunaan energi. Karena itu tingkat aktifitas metabolisme seseorang
dapat dinilai dengan melihat besarnya energi yang digunakan yang dapat
dilihat dari besarnya panas yang dilepaskan oleh badan atau besarnya
pemakaian oksigen.
Untuk mengetahui keadaan metabolisme seseorang dilakukan
pengukuran kecepatan pemakaian energi oleh tubuh baik selama kerja
eksternal maupun internal yang dikenal sebagai laju metabolic (metabolic
rate).
Laju metabolik = pemakaian energy/satuan waktu= Kkal/m2 luas
badan/jam. Karena sebagian besar penggunaan energi tubuh pada akhirnya
muncul sebagai panas, maka laju metabolik dinyatakan sebagai kecepatan
produksi panas dalam satuan Kilokalori per jam. Satu kalori adalah jumlah
panas yang diperlukan untuk menaikkan 1
o
C suhu dari 1 gram H
2
O.
Besarnya laju metabolik dipengaruhi oleh :
1. Aktivitas Tubuh (Olahraga) .
Jadi pada saat orang coba sebelum melakukan tes maka
diperlukan istirahat fisik dan mental agar mendapatkan nilai keadaan
basal sebagai standar keadaan basal. Apabila seseorang tersebut
sebelumnya melakukan aktivitas maka hasil Metabolic Rate yang
didapat bisa saja meningkat karena seiring dengan adanya
aktivitas.Semakin banyak aktivitas semakin banyak membakar kalori
dalam penggunaan energi.
2. Pemasukan Makanan (SDA) .
Orang coba harus puasa tidak makan protein dan lemak 2 hari
sebelum pemeriksaan , dan selama 10-12 jam terakhir tidak boleh
makan (tetapi boleh minum air tawar). Hal tersebuut disebabkan karena
setelah makan yang mengandung banyak karbohidrat dan lemak maka
kecepatan metabolisme meningkat 4% dan protein mempercepat
metabolisme hingga 30%.
3. Suhu Tubuh
Orang coba tidak boleh melakukan aktivitas tubuh (misalnya
berolahraga) karena jika seseorang melakukan aktivitas maka suhu
tubuh akan meningkat. Ini berpengaruh dalam hasil volume oksigen
dalam kondisi Standart Temperatur pressure Dry (STPD).
4. Suhu Lingkungan (panas, dingin)
Jika suhu lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh, akan
diaktifkan mekanisme penghasil panas seperti menggigil dan kecepatan
metabolisme pun meningkat. Kecepatan metabolisme meningkatkan
sekitar 14% untuk setiap peningkatan satu derajat celcius.
5. Emosi (cemas)
Emosi mempengaruhi proses metabolisme jika seseorang
mengalami peningkatan emosi maka meningkat pula hormon
adrenalin. Jika adrenalin meningkat maka pacu jantung juga meningkat
maka suhu tubuh ikut meningkat.
6. Tinggi Badan, Berat Badan, Luas Permukaan Tubuh
Dalam perhitungan metabolic rate tinggi badan dan berat badan
digunakan untuk menentukan luas permukaan tubuh. Jika luas
permukaan tubuh telah diketahui maka kita dapat mencari metabolic
rate dengan pemakaian oksigen dikali satu liter O2 yang setara dengan
4,825 dibagi dengan luas permukaan tubuh dengan satuan pada hasil
kilokalori per meter persegi per jam.
Orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak yang
sedikit mempunyai metabolisme basal lebih besar dibanding dengan
orang yang mempunyai rat badan yang besar tapi proporsi lemak yang
besar.Demikian pula orang dengan berat badan yang besar dan proporsi
lemak yang sedikit mempunyai metabolisme basal yang lebih besar
dibanding dengan orang yang mempunyai berat badan kecil dan
proporsi lemak sedikit.
7. Sex
Karena laki-laki dan perempuan berbeda dalam produksi sekresi
hormon tyroid. Metabolisme basal seorang laki-laki lebih tinggi
dibanding dengan wanita
8. Umur
Semakin umur seseorang tua maka metabolisme yang dihasilkan
semakin rendah atau kecil karena fungsi jaringan tubuh juga berkurang
sehingga energi yang dihasilkanpun juga sedikit.
9. Masa Pertumbuhan, Laktasi, Kehamilan
Hal ini berpengaruh dalam penurunan dan peningkatan hormon
dan laju metabolisme dalam tubuh.
10.Hormon Tyroid, Epineprin, Norepineprin
Hormon tiroid berfungsi untuk Mengatur laju metabolisme tubuh.
Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan metabolisme karena
peningkatan komsumsi oksigen dan produksi panas. Efek ini
pengecualian untuk otak,lien, paru-paru dan testes.
Semua ini akan mempengaruhi besarnya laju metabolisme. Oleh
sebab itu laju metabolik seseorang ditentukan pada kondisi basal
standar = Basal Metabolic Rate (BMR) dimana variable yang
mempengaruhinya dapat dikontrol. BMR mencerminkan tingkat
terkecil pemakaian energi internal dalam keadaan terjaga (tidak tidur)
namun orang yang bersangkutan dalam keadaan istirahat fisik maupun
mental dan berada dalam keadaan lingkungan yang bersuhu nyaman.



2.2 Gizi yang Seimbang
2

1) Panduan Makanan Seimbang
Setiap gram protein atau karbohidrat dalam makanan menyediakan
sekitar 4 Kalori; 1 gram lemak (lipid) menyediakan sekitar 9 kalori. Kita tidak
tahu dengan pasti apa yang tingkat dan jenis karbohidrat, lemak, dan protein
yang optimal dalam diet. Populasi yang berbeda di seluruh dunia makan diet
yang berbeda secara radikal yang disesuaikan dengan gaya hidup khusus
mereka. Namun, banyak ahli merekomendasikan pembagian sebagai berikut
kalori: 50-60% dari karbohidrat, dengan kurang dari 15% dari gula sederhana;
kurang dari 30% dari lemak (trigliserida adalah tipe utama dari lemak
makanan), dengan tidak lebih dari 10% sebagai lemak jenuh; dan sekitar 12-
15% dari protein.
2

Pedoman untuk makan sehat adalah untuk:
a. Makan berbagai makanan
b. Menjaga berat badan yang sehat
c. Pilih makanan rendah lemak, lemak jenuh, dan kolesterol
d. Makan banyak sayuran, buah-buahan, dan produk gandum
e. Gunakan gula secukupnya saja.
Pada tahun 2005, Amerika Serikat Departemen Pertanian (USDA)
memperkenalkan piramida makanan disebut MyPyramid, yang merupakan
pendekatan pribadi untuk membuat pilihan makanan sehat dan menjaga
aktivitas fisik secara teratur. Sebagai contoh bagaimana MyPyramid bekerja,
mari asumsikan berdasarkan konsultasi tabel bahwa tingkat kalori dari
perempuan cukup aktif 18 tahun adalah 2000 Kalori dan seorang laki-laki
cukup aktif 18-tahun adalah 2800 Kalori. Dengan demikian, disarankan agar
makanan berikut harus dipilih dalam jumlah berikut:
2

2) Kalori Tingkat 2000 dan 2800
2

a. Buah (mencakup semua segar, beku, kalengan, 2 cangkir 2,5 cangkir
dan buah-buahan kering dan jus buah)
b. Sayuran (mencakup semua segar, beku, kalengan, 2,5 cangkir 3,5
cangkir dan sayuran kering dan jus sayuran)
c. Biji-bijian (termasuk semua makanan yang terbuat dari gandum, beras,
6 oz 10 oz gandum, tepung jagung, dan barley seperti roti, sereal,
oatmeal, nasi, pasta, kerupuk, tortilla, dan bubur jagung)
d. Daging dan kacang-kacangan (termasuk daging tanpa lemak, unggas,
ikan, 5.5 oz 7 telur oz, selai kacang, kacang, kacang-kacangan, dan biji-
bijian)
e. Kelompok susu (termasuk produk susu dan makanan 3 cangkir 3
cangkir yang terbuat dari susu yang mempertahankan kadar kalsium
mereka seperti keju dan yogurt)
f. Minyak (pilih sebagian besar lemak yang mengandung 6 sdt 8 sdt tak
jenuh tunggal dan asam lemak tak jenuh ganda seperti ikan, kacang-
kacangan, biji-bijian, dan minyak sayur)

2.3 Pola Makan yang Tepat bagi Tumbuh Kembang Anak
3,4

Anak usia diatas dua tahun direkomendasikan agar tidak mengonsumsi
susu yang berlebihan (>24oz/hari), karena dapat mengurangi konsumsi anak
terhadap berbagai makanan padat dengan nutrisi yang baik dan
mengakibatkan anemia karena defisiensi zat besi; selain itu juga dapat
mengkibatkan jumlah kalori yang berlebihan. Sejak anak menginjak usia 1
tahun, harus makan-makanan keluarga, memiliki jadwal makan dan camilan,
dan harus dapat makan sendiri (sellf-feed) dengan kemampuan yang baik
(appropriate finger foods).
Panduan pemberian makan The Food Guide Pyramid yang
dikembangkan oleh Departemen Agrikultur Amerika Serikat memberikan
orang tua panduan umum untuk jenis-jenis makanan yang dapat diberikan
kepada anak. Rekomendasi berdasarkan MyPyramid yaitu 5 kelompok
makanan (biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan, susu, dan daging dan
kacang-kacangan) ditambah minyak, dengan rekomendasi untuk makan, dari
waktu ke waktu, dengan varietas makanan dari masing-masing kelompok
makanan tersebut.

Dari grafik tersebut menggambarkan irisan-irisan dari segita yang
melambangkan jumlah rata-rata porsi yang harus dikonsumsi setiap hari dari
masing-masing kelompok. Selain kelompok makanan, MyPyramid
merekomendasikan aktivitas fisik untuk mencapai keseimbangan energi yang
sehat.
Peran orang tua dibutuhkan dalam menentukan apa, kapan, dan dimana
anak makan. Pola makan regular bersama keluarga di meja makan, dengan
menghindari makan sendiri di ruang tamu, atau menonton televisi berkaitan
dengan meningkatkan kualitas makan, mungkin karena meningkatnya
kesempatan pengasuhan secara positif (positive parenting) selama makan.







Panduan Makan untuk Anak-anak Usia Lebih dari 2 Tahun
REKOMENDASI UMUM
Mengonsumsi 3 kali makanan regular setiap hari dengan camilan yang
sehat (2-3/hari) berdasarkan selera, aktivitas, dan kebutuhan pertumbuhan
termasuk varietas makanan dengan sayur-sayuran dan buah-buahan
NUTRISI KUNCI
Karbohidrat
Karbohidrat yang kompleks harus tersedia 55%-60% kalori setiap hari;
setengah dari seluruh biji-bijian harus whole-grain, makanan dengan
tinggi serat
Gula sederhana harus dibatasi <10% kalori setiap hari
Lemak
<30% dari total kalori harus dari lemak diet (dietary-fat)
Lemak saturated dan polysaturated harus <10% total kalori masing-masing
Lemak monounsaturated harus tersedia paling tidak 10% total kalori
Encourage lean cuts of meat, ikan, produk susu rendah-lemak, minyak
sayur
Asupan kolesterol harus mencapai 100mg/1000kcal/hari (maksimum
300mg/hari)
Batasan severe fat (15%-20% total kalori) harus dihindari karena dapat
menyebabkan kegagalan pertumbuhan
Natrium
Batasan asupan natrium dengan memilih makanan-makanan yang segar
PERILAKU
Membatasi grazing behavior, makan sambil menonton televise, dan
kosumsi regular makanan dengan tinggi kaori, kadar nutrisi makanan
yang rendah
Panduan Pemberian Makan untuk Orang Tua
Tanggung jawab orang tua termasuk:
1) Memilih makanan
2) Mengatur seberapa sering anak makan
3) Membuat lingkungan waktu makan yang positif, dan tidak membuat
sress
4) Menjadi percontohan bagi anaknya
5) Menjadikan waktu makan sebagai waktu keluarga
Orang tua harus:
1) Memberikan makanan baru secara berulang (8-10 kali) untuk
membangun penerimaan atau penolakan terhadap makanan tersebut
2) Memberikan 3 kali makan dan 2 kali camilan sehat per hari
3) Mengakarkan kemampuan makan seperti memengang sendok dan
minum dengan gelas untuk mendorong self-feeding


2.4 Status Gizi
a. Definisi
5

Keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara jumlah
asupan (intake) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (requirement) oleh
tubuh untuk berbagai fungsi biologis (pertumbuhan fisik, perkembangan,
aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya).
b. Klasifikasi
6

INDEKS STATUS GIZI AMBANG
BATAS *)
Berat badan menurut
umur (BB/U)
Gizi Lebih > + 2 SD
Gizi Baik -2 SD sampai +2
SD
Gizi Kurang < -2 SD sampai
-3 SD
Gizi Buruk < 3 SD
Tinggi badan menurut
umur (TB/U)
Normal 2 SD
Pendek (stunted) < -2 SD
Berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB)
Gemuk > + 2 SD
Normal -2 SD sampai +
2 SD
Kurus (wasted) < -2 SD sampai
-3 SD
Kurus sekali < 3 SD

c. Cara Perhitungan
7

Penilaian status gizi adalah interpretasi dari data yang didapatkan
dengan menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi
atau individu yang beresiko atau dengan status gizi buruk.
7
Metode dalam
penilaian status gizi dibagi dalam dua kelompok, yaitu secara langsung
dan tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung terdiri dari
penilaian dengan melihat tanda klinis, tes laboratorium, metode biofisik
dan antropometri. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung
berupa survei konsumsi makanan, statistikvital dan faktor ekologi. Adapun
metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pengukuran
antropometri.
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku
yang sering disebut reference. Ukuran baku tersebut bisa menggunakan
kurva CDC, NCHS, ataupun WHO. Pada Inneke diketahui berat badannya
32 kg dan tinggi badannya 120 cm, jika dihitung, indeks massa tubuhnya
adalah 22,2 kg/m
2
. Status gizi inneke menurut kurva CDC adalah sebagai
berikut:

Klasifikasi indeks massa tubuh untuk anak-anak dan dewasa
Persentil IMT terhadap
umur
Status berat
<5th Berat badan rendah
5th84th Berat badan normal
85th94th Resiko obesitas
95th Obesitas
Jika di plot pada grafik, maka indeks massa tubuh Inneke berada
diatas persentil ke 95, hal ini menunjukkan inneke mengalami obesitas.
d. Cara Memperbaiki Status Gizi Anak
Pengaturan makanan adalah upaya untuk meningkatkan status gizi,
antara lain menambah berat badan dan meningkatkan kadar Hb. Berikut
adalah pengaturan makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status
gizi:
8

1. Kebutuhan energi dan zat gizi ditentukan menurut umur, berat badan,
jenis kelamin, dan aktivitas;
2. Susunan menu seimbang yang berasal dari beraneka ragam bahan
makanan, vitamin, dan mineral sesuai dengan kebutuhan;
3. Menu disesuaikan dengan pola makan;
4. Peningkatan kadar Hb dilakukan dengan pemberian makanan sumber
zat besi yang berasal dari bahan makanan hewani karena lebih banyak
diserap oleh tubuh daripada sumber makanan nabati;
5. Selain meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi, juga perlu
menambah makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti
pepaya, jeruk, nanas, pisang hijau, sawo kecil, sukun, dll.
Status gizi dapat diperbaiki dengan memperhatikan :
A. Faktor Langsung
9
1. Konsumsi Makanan

Faktor makanan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
langsung terhadap keadaan gizi seseorang karena konsumsi makan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, baik kualitas maupun
kuantitas dapat menimbulkan masalah gizi.
2. Infeksi
Timbulnya KEP tidak hanya karena makanan yang kurang,
tetapi juga karena penyakit. Anak mendapatkan makanan cukup baik
tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita
KEP. Sebaliknya anak yang makannya tidak cukup baik, daya tahan
tubuh dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah diserang
infeksi, kurang nafsu makan, dan akhirnya mudah terserang KEP.
B. Faktor tidak langsung
9

1. Tingkat Pendapatan
Pendapatan keluarga merupakan penghasilan dalam jumlah
uang yang akan dibelanjakan oleh keluarga dalam bentuk makanan.
Kemiskinan sebagai penyebab gizi kurang menduduki posisi
pertama pada kondisi yang umum. Hal ini harus mendapat
perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah diukur
dan berpengaruh besar terhadap konsumen pangan. Golongan miskin
menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan makanan, dimana untuk keluarga di negara berkembang
sekitar dua pertiganya.
2. Pengetahuan Gizi
Pengetahuan gizi ibu merupakan proses untuk merubah sikap
dan perilaku masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang sehat
jasmani dan rohani. Pengetahuan ibu yang ada kaitannya dengan
kesehatan dan gizi erat hubungannya dengan pendidikan ibu.
Semakin tinggi pendidikan akan semakin tinggi pula pengetahuan
akan kesehatan dan gizi keluarganya. Hal ini akan mempengaruhi
kualitas dan kuantitas zat gizi yang dikonsumsi oleh anggota
keluarga.


3. Sanitasi Lingkungan
Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan
terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain diare, kecacingan,dan
infeksi saluran pencernaan. Apabila anak menderita infeksi saluran
pencernaan, penyerapan zat-zat gizi akan terganggu yang
menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi. Seseorang kekurangan
zat gizi akan mudah terserang penyakit,dan pertumbuhan akan
terganggu.

4. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Angka Kecukupan Energi (AKE) merupakan rata-rata tingkat
konsumsi energi dengan pangan yang seimbang yang disesuaikan
dengan pengeluaran energi pada kelompok umur, jenis kelamin,
ukuran tubuh, dan aktivitas fisik. Angka Kecukupan Protein (AKP)
merupakan rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan
protein agar tercapai semua populasi orang sehat disesuaikan dengan
kelompok umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas fisik.
Kecukupan karbohidrat sesuai dengan pola pangan yang baik
berkisar antara 50-65% total energi, sedangkan kecukupan lemak
berkisar antara 20-30% total energi.
10


2.5 Kebutuhan dasar bagi tumbuh kembang anak
Secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar:
11

1. Kebutuhan Fisik-bio-medis (ASUH)
Meliputi :
a. Pangan / gizi merupakan kebutuhan terpenting
b. Perwatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi, pemberian ASI,
penimbangan bayi / anak yang teratur, pengobatan kalau sakit, dll.
c. Pemukiman yang layak
d. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan
e. Sandang

2. Kebutuhan Emosi/Kasih Sayang (ASIH)
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan
selaras antara ibu atau pengganti ibu dengan anak merupakan syarat
mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental
maupun psikososial.
Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan
mempunyai dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental
maupun sosial emosi. Kasih sayang dari orang tuanya (ayah, ibu) akan
menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan kepercayaan dasar (basic
trust)
3. Kebutuhan akan Stimulasi Mental (ASAH)
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar
(pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini
mengembangkan perkembangan mental psikososial: kecerdasan,
keterampilan, kemandirian, kretivitas, agama, kepribadian, moral-etika,
produktivitas.

2.6 Pola Asuh yang Tepat bagi Tumbuh Kembang Anak
Terdapat empat jenis pola pengasuhan anak sebagai berikut
12
.
1. Authoritative Parenting
Pola pengasuhan tipe ini dikarakteristikkan oleh pendekatan yang
berpusat pada anak (child-centered) yang memegang harapan yang tinggi
pada maturitas. Orang tua yang authoritative dapat mengerti bagaimana
perasaan anak dan mengajari mereka bagaimana mengatur perasaannya.
Mereka sering membantu anak mereka untuk menemukan cara yang sesuai
untuk menyelesaikan masalah. Orang tua authoritative mendorong anak
mereka untuk mandiri tetapi masih dalam kontrol dan batasan orang tua.
Pola pengasuhan yang mengajarkan anak give-and-take, dan orang tua
mencoba untuk hangat dalam mengasuh anaknya. Orang tua authoritative
akan membolehkan anaknya untuk berekspolarasi lebih bebas, dengan
demikian anak-anak dapat membuat keputusannya sendiri berdasarkan
alasan mereka. Orang tua authoritative mejadikan anaknya lebih mandiri
dan self-reliant. Orang tua authoritative akan mengatur standar untuk
anaknya, mengawasi batasan yang mereka buat, dan juga mengizinkan
anaknya untuk mmengembangkan autonomi. Mereka juga mengharapkan
kematangan, kemandirian, dan perilaku yang sesuai dengan usia anaknya.
Hukuman untuk perilaku yang tidak sesuai terukur dan konsisten, tidak
sewenang-wenang atau kasar.
2. Authoritarian Parenting
Orang tua menuntut tetapi tidak bertanggung jawab, rumit menjadi
totaliter. Pengasuhan otoriter disebut juga pola pengasuhan yang ketat
(strict parenting), yang berkarakteristik oleh harapan yang tinggi dari
kesesuaian dan kepatuhan terhadap peraturan dan arahan orangtua,
sementara dialog terbuka antara orang tua dan anak sedikit. Pengasuhan
otoriter merupakan pengasuhan yang bersifat membatasi, menghukum,
yang mana orang tua membuat anak mereka untuk mengikuti arahan dan
menghormati kerja dan usaha. Orang tua otoriter berharap banyak terhadap
anaknya, tetapi pada umumnya tidak menjelaskan alasan untuk aturan dan
batasan yang mereka buat.

Orang tua otoriter kurang responsif terhadap
kebutuhan anak mereka, dan lebih mungkin menghukum daripada
membahas masalah tersebut. Hukuman fisik adalah pilihan umum dalam
pemberian hukuman. Berteriak adalah cara yang sering diguanakan untuk
memarahi anak.
3. I ndulgent Parenting
Pola pengasuhan ini juga sering disebut pengasuhan permisif/serba
membolehkan, tidak ada arahan, dan toleran terkarateristikkan oleh
harapan pada beberapa tingkah laku anak. Pengasuhan yang memanjakan
adalah jenis pengasuhan orang tua yang mana orang tua sangat terlibat
dalam pengasuhan anaknya tetapi sedikit tuntutan atauu kontrol kepada
anaknya. Orang tua mengasuuh dan bertanggung jawab dengan memenuhi
segala kebutuhan dan keinginan anak. Pola pengasuhan ini tidak mendidik
anak untuk mengatur dirinya sendiri atau berperilaku seharusnya. Anak
dengan orang tua yang permisif lebih cenderung bersifat impulsif, dan
apabila beranjak remaja dapat terlibat dalam kejahatan atau penggunaan
obat-obatan terlarang anak tidak pernah belajar untuk mengontrol
perilakunya dan ingin selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya.

4. Neglectful Parenting
Pola pengasuhan dimana orang tua tidak menuntut maupun
bertanggung jawab terhadap anaknya. Orang tua rendah kehangatan dan
kontrol, umumnya tidak terlibat dalam kehidupan anaknya, tidak
menuntut, tidak bertanggung jawab, dan tidak mengatur batasan. Orang tua
secara emosional tidak mendukung anaknya, tetapi masih memenuhi
kebutuhan dasar anaknya. Kebutuhan dasar disini dalam artian: makan,
papan, uang.
Berdasarkan pemaparan jenis-jenis pola pengasuhan anak tersebut, pola
pengasuhan yang ideal bagi tumbuh kembang anak adalah jenis Authoritative
Parenting.

2.7 Obesitas
a. Definisi
13

Obesitas atau overnutrisi adalah akumulasi lemak yang berlebihan dan
luas di subkutan dan jaringan lain. Ukuran yang digunakan untuk
membedakan remaja gemuk dan kelebihan berat badan relatif, indeks berat
badan-tinggi badan, lingkaran tubuh, dan ketebalan lipatan kulit, biasanya
triseps.
b. Metabolisme pada Obesitas
Pada penderita obesitas akan berkembang resistensi terhadap aksi
seluler insulin yang dikarakterisktikkan oleh berkurangnya kemampuan
insulin untuk menghambat pengeluaran glukosa dari hati dan
kemampuannya untuk mendukung pengambilan glukosa pada lemak dan
otot. Resistensi insulin terkait obesitas adalah risiko utama untuk penyakit
kardiovaskuler dan diabetes mellitus tipe 2, penyakit yang jumlah
penderitanya telah mencapai proporsi endemik.
14

Adiposit mensekresi protein yang aktif secara metabolik. Penemuan
leptin mengawali era penerimaan bahwa jaringan adiposa adalah organ
endokrin, dan bahwa peningkatan massa adiposa pada obesitas dapat
menyebabkan perubahan patologis pada hormon adiposity (adipokin) yang
mengatur sensitivitas insulin.
15

Adiponektin merupakan adipokin yang memiliki sifat
insulinomimetik. Hormon ini dikarakteristikkan pada 1995 dan 1996 oleh
kelompok ilmuwan menggunakan metode yang berlainan. Kadar
adiponektin ditemukan rendah pada obesitas, dan pemberian adiponektin
memperbaiki keadaan resistensi insulin pada model hewan.
16
Di hati,
adiponektin meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan influks asam
lemak dan mengurangi output glukosa hepatic.
17
Di otot, adiponektin
merangsang penggunaan glukosa dan oksidasi asam lemak mungkin
dengan aktivasi sensor bahan bakar seluler, AMP-activated protein kinase
(AMPK).
18

c. Etiologi
19

1. Faktor Genetik
Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar.
Bila kedua orang tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas. Bila
salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas menjadi 40% dan bila
kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.
2. Suku/bangsa.
3. Pandangan masyarakat yang salah, yaitu bayi yang sehat adalah bayi
yang gemuk.
4. Anak cacat, anak aktifitasnya kurang karena problem fisik/cara
mengasuh.
5. Umur orang tua yang sudah lanjut saat punya anak, anak tunggal, dan
lain-lain.
6. Meningkatnya keadaan sosial ekonomi seseorang
7. Gaya hidup masa kini
Kecenderungan suka makanan fast food yang berkalori tinggi
seperti hamburger, pizza, ayam goreng dengan kentang goreng, es
krim, aneka macam mie, dan lain-lain.

8. Penggunaaan kalori yang kurang
Berkurangnya pemakaian energi dapat terjadi pada anak yang
kurang aktivitas fisiknya, seharian menonton televisi, dan lain-lain.
Apalagi jika menonton sambil tidak berhenti makan, maka
kecenderungan menjadi obesitas akan lebih besar.
9. Hormonal
Penyebab yang jarang dari obesitas adalah fungsi hipotalamaus
yang abnormal. Sehingga terjadi hiperfagia (nafsu makan yang
berlebihan), karena gangguan pada puasat kenyang otak. Nafsu makan
dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang meliputi gangguan
psikologis; hipotalamus; pituitaria; atau lesi otak lain, dan
hiperinsulinisme.
1) Gangguan Endokrin Klasik Terkait dengan Kenaikan Berat
Badan
a. Hipotiroidisme
Hipotiroidisme terkait dengan kenaikan berat badan, dan dapat
menyebabkan kenaikan BMI pada anak-anak mencapai 1-2 unit
BMI
26
. Hipotiroidisme mengakibatkan peningkatan permeabilitas
dinding kapiler, yang mana membuat kebocoran ekstravaskuler dan
retensi terhadap air, yang menyebabkan berat badan yang
berlebihan; akibatnya sebagian besar penderita hipotiroidisme berat
diperoleh badan diperoleh dari kelebihan cairan daripada
trigliserida. Pengeluaran energi istirahat juga dapat berkurang,
berpotensi bias pada keseimbangan energi terhadap penyimpanan
kalori.
27


b. Defisiensi Growth Hormone (GH)
Kecepatan pertumbuhan baik normal ataupun supranormal dan
konsentrasi IGF-1 umumnya normal atau hanya sedikit menurun
pada obesitas,
28
sementara kecepatan pertumbuhan dan IGF-1
berkurang pada defisiensi GH. Berkurangnya pertumbuhan linear
disertai dengan terus bertambahnya berat badan yang mengarah
pada defisiensi GH. Selain itu, GH memiliki kemampuan untuk
menstimulasi sintesis protein dan meningkatkan masa bebas lemak.
GH juga dapat menstimulasi lipolisis adiposit. Defisiensi GH
dengan demikian dapat meningkatkan masa lemak, khususnya pada
distribusi sentral. Pada anak-anak dengan defisiensi GH, perbaikan
komposisi tubuh dapat dideteksi sedini mungkin yaitu 6 minggu
setelah inisiasi terapi GH.
29
c. Insulinoma
Insulinoma terjadi jarang pada anak-anak, dengan insiden
kejadian 4 per 5.000.000 per tahun pada seluruh populasi; kurang
dari 10% terjadi sebelum usia 20 tahun. Peningkatan produksi
insulin menyebabkan meningkatnya asupan makanan untuk
mengatasi kadar gula darah yang rendah dan oleh karena itu dapat
mengarah pada obesitas.
30
2) Gangguan Struktural pada Hipotalamus Terkait dengan
Peningkatan Berat Badan
Hypothalamic obesity dapat terjadi setelah injuri, atau malformasi
kongenital pada hipotalamus. Ventromedial hypothalamic nucleus
(VMH), arcuate nucleus (ARC), paraventricular nucleus (PVN),
dorsomedial nucleus (DMH), dan lateral hypothalamic area (LHA)
seluruhnya terlibat dalam mengontrol nafsu makan dan pengeluaran
energi. Area-area ini menghasilkan beberapa neuropeptida yang
terlibat dalam pengaturan nafsu makan, termasuk orexigenic peptides
seperti neuropeptide Y dan anorexigenic peptides seperti
melanokortin.
31
Injuri atau malformasi dapat berefek pada pengikatan
peripheral intake-related signals, termasuk cholecystokinin (CCK),
glucagon-like peptide (GLP-1), ghrelin, insulin, dan leptin. Peptida-
peptida ini akan melewati sawar darah otak dan mengikat reseptornya
di hipotalamus untuk meregulasi nafsu makan. Kehilangan fungsi
pada faktor perkembangan Sim1 pada hipotalamus menyebabkan
obesitas pada mencit. Delesi kromosomal menginaktivasi satu kopian
Sim1 yang juga ditemuka terkait dengan obesitas pada manusia,
32

meskipun mutasi poin Sim1 yang terkait dengan obesitas jarang
terjadi.
33
Banyak kelainan kongenital yang terkait dengan disrupsi
pada neuroanatomi hipotalamus terkait dengan obesitas.
34
3) Obesitas Sindromik
Sindrom genetik multipel terlibat dalam obesitas, meskipun pasien
dengan sindrom-sindrom ini jarang menjadi perhatian medis karena
obesitas.
27

Sindrom Genetik Terkait dengan
Obesitas
Achondroplasia
Sindrom Alstrm
Sindrom Bannayan-Riley-Ruvalcaba
Sindrom Bardet Biedl
Sindrom Beckwith-Wiedemann
Sindrom Borjeson-Forssman-Lehmann
Sindrom Capenter
Sindrom Cohen
Fragile X
Sindrom Mehmo
Meningomyelocoele
Sindrom Prader Willi
Psdeuohypoparathyroidism 1a
Sindrom Simpson-Golabi-Behmel
Sindrom Smith-Magenis
Sindrom Turner
Sindrom Ulnar-Mammary Schinzel
Sindrom Weaver
Sindrom Wilson-Turner

d. Faktor risiko
13

1. Genetik
2. Pola fungsi kesehatan
3. Obat obatan
4. Aktifitas
5. Pola fikir konsentrasi intake makanan
- Makanan yang adekuat
- Intake yang berlebih out put yang kurang
- Non balance intake and out put
- Akumulasi lemak pada seluruh jaringan adiposa (subkutan)
- Timbunan Lemak : pada daerah abdomen
6. Intoleransi aktivitas
7. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan
e. Manifestasi klinis
20

Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis obesitas
pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang berat
sekali. Gejala klinis umum pada anak yang menderita obesitas adalah
sebagai berikut:
1. Pertumbuhan berjalan dengan cepat/pesat disertai adanya
ketidakseimbangan antara peningkatan berat badan yang berlebihan
dibandingkan dengan tinggi badannya.
2. Jaringan lemak bawah kulit menebal sehingga tebal lipatan kulit lebih
daripada yang normal dan kulit nampak lebih kencang.
3. Kepala nampak relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya atau
dibandingkan dengan dadanya (pada bayi).
4. Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relatif lebih kecil,
mungkin disertai dengan bentuk dagunya yang berganda (dagu ganda).
5. Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkan bila
terjadi pada anak laki laki.
6. Perut membesar menyerupai bandul lonceng, dan kadang disertai garis-
garis putih atau ungu kemerahan.
7. Kelamin luar pada anak wanita tidak jelas ada kelainan, akan tetapi
pada anak lakilaki tampak relatif kecil.
8. Pubertas pada anak lakilaki terjadi lebih awal dan akibatnya
pertumbuhan kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya pada
masa dewasa relative lebih pendek.
9. Lingkar lengan atas dan paha lebih besar dari normal, tangan relatif
lebih kecil dan jarijari bentuknya meruncing.
10.Dapat terjadi gangguan psikologis berupa : gangguan emosi, sukar
bergaul, senang menyendiri dan sebagainya.
11. Pada kegemukan yang berat mungkin terjadi gangguan jantung dan
paru, dengan gejala sesak napas, sianosis, pembesaran jantung dan
sebagainya.


f. Komplikasi
Komplikasi obesitas pada anak-anak dan remaja dapat berefek secara
virtual pada setiap organ sistem yang penting. Komplikasi medis biasanya
berhubungan dengan tingkat obesitas dan biasanya berkurang
keparahannya dengan pengurangan berat badan.
4


KOMPLIKASI OBESITAS
Komplikasi
Efek
Psikososial Diskriminasi teman sebaya, diejek,
penolakan, isolasi, pengurangan promosi
pekerjaan*
Pertumbuhan Kemajuan pertumbuhan tulang,
meningkatnya tinggi, menarche dini
Sistem Saraf Pusat Pseudomotor cerebri
Pernapasan Sleep apnea, pickwickian syndrome
Cardiovascular Hipertensi, hipertrofi kardiak, penyakit
jantung iskemik,* kematian mendadak*
Ortopedik Slipped capital femoral epiphysis, Blount
disease
Metabolisme Resistensi iinsulin, diabetes mellitus tipe 2,
hipertrigliseridemia, hypercholesterolemia,
hepatic sterosis, penyakit ovary polikistik,
cholelithiasis
*komplikasi yang tidak biasa sampai dewasa

Hasil penelitian membuktikan bahwa kegemukan dan obesitas
menimbulkan banyak masalah dan memperbesar risiko seseorang
terserang penyakit degeneratif (penyakit yang timbul akibat ada perubahan
atau kerusakan tingkat seluler yang meluas ke jaringan yang sama).
Beberapa penyakit yang disebabkan oleh obesitas, antara lain:
21

1. Hipertensi
Penderita kegemukan mempunyai risiko yang tinggi terhadap
hipertensi. Seseorang dikatakan menderita hipertensi bila tekanan
systole >140 mmHg dan diastole >90 mmHg. Penderita obesitas tipe
buah apel beresiko lebih tinggi dalam kemungkinan menderita
hipertensi dibandingkan dengan orang yang kurus dan penderita
obesitas tipe buah pear.
Berat badan yang berlebih sudah tentu akan meningkatkan beban
jantung dalam memompa darah keseluruh tubuh. Hal ini menyebabkan
tekanan darah cenderung akan lebih tinggi. Selain itu, pembuluh darah
pada lansia lebih tebal dan kaku atau disebut aterosklerosis, sehingga
tekanan darah akan meningkat. Untuk itu lansia hendaknya
mengurangi konsumsi natrium (garam), karena garam yang berlebih
dalam tubuh dapat meningkatkan tekanan darah.
2. Diabetes Mellitus (DM)
Obesitas dapat menyebabkan penyakit diabetes mellitus tipe II.
Sebagaimana diketahui, diabetes mellitus adalah suatu
keadaan/kelainan dimana terdapat gangguan metabolisme karbohidrat,
lemak, dan protein yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau tidak
berfungsinya insulin, akibatnya gula dalam darah tertimbun (tinggi).
Biasanya 75% penderita DM tipe II adalah orang yang mengalami
obesitas atau riwayat obesitas.
Diabetes mellitus sebenarnya merupakan penyakit keturunan,
tetapi kondisi tersebut tidak selalu timbul jika seseorang tidak
kelebihan berat badan. Pada umumnya, penderita diabetes mempunyai
kadar lemak yang abnormal dalam darah.
3. Kanker
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laki-laki yang mengalami
obesitas akan berisiko lebih tinggi untuk menderita kanker usus besar,
rektum, dan kelenjar prostat. Adapun pada wanita penderita obesitas,
akan mengalami risiko terkena penyakit kanker payudara dan rahim.
Wanita yang telah menopause, umumnya pada usia lebih dari 50 tahun
dan mengalami kelebihan berat badan akan mudah terserang penyakit
kanker payudara. Untuk mengurangi risiko terkena kanker, konsumsi
lemak total harus dikurangi.

4. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Penyakit jantung koroner merupakan penyakit yang terjadi akibat
penyempitan pembuluh darah koroner (pembuluh darah yang
mendarahi dinding jantung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari
500 penderita kegemukan sekitar 88% mendapat risiko terserang
penyakit jantung koroner. Meningkatnya faktor risiko penyakit jantung
koroner sejalan dengan terjadinya penambahan berat badan seseorang.
Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang berlebihan akan
meningkatkan risiko penyakit ini. Lemak jenuh dan kolesterol hanya
terdapat pada bahan makanan hewani. Oleh karena itu, usia lanjut lebih
disarankan mengkonsumsi ikan karena dapat menurunkan risiko
menderita penyakit jantung dibandingkan sumber protein hewan lain.
Pengaruh kegemukan pada penyakit jantung koroner tidak selalu
berdiri sendiri, tetapi biasanya diperburuk oleh faktor risiko lain seperti
hipertensi, diabetes, dan hiperlipidemia.
5. Arthritis dan Gout
Orang yang menderita kegemukan dan obesitas mempunyai risiko
tinggi terhadap penyakit arthritis (radang sendi) yang lebih serius bila
dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan ideal atau
gemuk.
Gout merupakan salah satu bentuk penyakit arthritis atau lebih
tepatnya radang sendi akibat meningkatnya kadar asam urat dan
terbentuknya kristal asam urat pada sendi. Penyakit ini sering
menyerang penderita kegemukan yang mengalami kelebihan berat
badan > 30% dari berat badan ideal dan kandungan asam urat dalam
darahnya tinggi.
6. Batu Empedu
Sewaktu tubuh mengubah kelebihan lemak makanan menjadi lemak
tubuh, cairan empedu lebih banyak diproduksi di dalam hati dan di
simpan dalam kantong empedu. Hal inilah yang meningkatkan risiko
terkena penyakit batu empedu (adanya endapan zat-zat berbentuk
seperti batu di dalam empedu). Lebih sering terjadi pada penderita
obesitas tipe buah apel. Penurunan berat badan tidak akan mengobati
penyakit batu empedu, tetapi hanya akan membantu dalam
pencegahannya.

g. Pemeriksaan
Diagnosis obesitas pada orang dewasa di dasarkan pada perhitungan
IMT (Indeks Masa Tubuh) dengan membagi berat tubuh dalam kilogram
dengan tinggi dalam meter kuadrat (kg / m2). IMT dihitung bisa
memperkirakan adipositas pada atlet terlatih atau anak-anak otot, tetapi
umumnya diakui sebagai metode yang paling dapat diandalkan untuk
menentukan adipositas sehat dan tidak sehat. Metode lain untuk
menentukan adipositas (kualitas atau keadaan untuk menjadi gemuk),
tetapi terlalu mahal untuk penggunaan praktis dalam pengaturan klinis
(ultrasound, CT, MRI, DEXA, jumlah konduktivitas tubuh, perpindahan
udara plethysmography), memerlukan pelatihan khusus (ketebalan lipatan
kulit), memiliki reproduktifitas rendah (rasio pinggang-pinggul), atau
kekurangan data yang normatif luas pada anak-anak (analisis impedansi
bioelectric). Oleh karena itu, IMT dalam kombinasi dengan penilaian
klinis sudah cukup untuk membuat diagnosis.
Angka mutlak untuk IMT pada orang dewasa menentukan adipositas
(Tabel 44-2). Mengingat perubahan adipositas masa kanak-kanak,
persentil IMTyang digunakan untuk klasifikasi (Tabel 44-3 dan Tabel. 44-
2). Adipositas anak naik pada tahun 1 kehidupannya, mencapai titik nadir
sekitar 5-6 tahun dari usia, dan kemudian naik kembali sepanjang masa
tumbuh kembangnya. Ini disebut adiposity rebound.
3
Tabel 44-2 -- Indeks Masa Tubuh (IMT) Pada Dewasa
IMT (kg/m
2
) STATUS
<18.5 Berat Kurang
18.524.9 Berat Normal
2529.9 Berat Lebih
3034.9 Obesitas
3539.9 Obesitas Lebih
4049.9 Obesitas Abnormal
50 Obesitas Sangat Abnormal

Tabel 44-3 -- Indeks Masa Tubuh (IMT) Pada Anak-anak dan
Remaja
IMT PERSENTIL STATUS
<5th percentile Berat Kurang
5th84th percentile Berat Normal
85th94th percentile Beresiko Berat Lebih
95th percentile Obesitas


h. Tatalaksana

Algoritma untuk tata laksana pada anak-anak dengan obesitas
27

Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka
penatalaksanaan obesitas seharusnya dilaksanakan secara multidisiplin
dengan mengikut sertakan keluarga dalam proses terapi obesitas. Prinsip
dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta
meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan
aktifitas fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup.
22,23

1. Menetapkan target penurunan berat badan
Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak,
yaitu usia 2 - 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada
tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa
komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan
mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi
pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun
dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat
badan sebesar 2,5 - 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 - 2 kg per bulan.
22



2. Pengaturan diet
Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang
sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami
pertumbuhan dan perkembangan.
22
Intervensi diet harus disesuaikan
dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta.
Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet
seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar
30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile) dan yang
disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah
(very low calorie diet ).
23

Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang
22
:
a. Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan
pertumbuhan normal.
b. Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-
30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total
serta kolesterol < 300 mg per hari.
c. Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan
penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5)
gram per hari.
3. Pengaturan aktifitas fisik
Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju
metabolisme. Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat
perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik
untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan ketrampilan
otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk
melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari.
22

Tabel Jenis kegiatan dan jumlah kalori yang dibutuhkan
Jenis kegiatan Kalori yang digunakan/jam
Jalan kaki 3 km/jam
Jalan kaki 6 km/jam
Joging 8 km/jam
Lari 12 km/jam
Tenis tunggal
Tenis ganda
Golf
Berenang
Bersepeda
150
300
480
600
360
240
180
350
660

4. Mengubah pola hidup/perilaku
Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua
sebagai komponen intervensi, dengan cara:
a. Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan
aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya.
b. Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat
menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu
keinginan untuk makan.
c. Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis
makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
d. Memberikan penghargaan dan hukuman.
e. Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi
yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.
22

5. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru.
Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan
sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut
berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan
aktifitas yang mendukung program diet.
23

6. Terapi intensif
22,23
Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan
yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi
konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie
diet), farmakoterapi dan terapi bedah.
a. Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan >
140% BB Ideal atau IMT > 97 persentile, dengan asupan kalori
hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 - 2,5 gram/kg
BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum >
1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan
pengawasan dokter.
b. Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi
asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin;
mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi
zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin;
meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum
direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek
jangka panjang yang masih belum jelas.
c. Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal.
Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau
memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding,
dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric
bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini
belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada
anak.
i. Pencegahan
Pencegahan harus sedini mungkin yang dimulai sejak dari bayi, yaitu
dengan memberikan ASI. Bayi yang minum ASI jarang yang menjadi
obesitas, karena komposisi ASI mempunyai mekanisme tersendiri dalam
mengontrol berat badan bayi. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan
dengan tidak memberikan minuman/makanan setiap anak menangis,
kecuali kalau kita yakin bahwa anak tersebut memang lapar. Memantau
terus pertumbuhan anak sehingga kita dapat mengetahui setiap
penyimpangan arah dari grafik berat badan anak. Anak sedini mungkin
juga harus dikenalkan dengan aktivitas fisik, baik melalui bermain atau
olahraga.
11
KEHAMILAN POSTPARTUM & MASA BAYI
Normalkan BMI sebelum kehamilan.
Tidak merokok.
Mengatur latihan rutin
Pada diabetes gestasional, penuhi kontrol kadar
gula darah dengan sekasama
ASI dipenuhi minimum usia 3 bulan
Tunda pengenalan terhadap
makanan-makanan padat dan
cairan manis










KOMUNITAS INDUSTRI
Meningkatkan latihan pada keluarga yang
menyenangkan dan fasilitas bermain untuk
anak-anak seluruh usia.
Mengurangi penggunaan elevator dan lebih sering
dengan moving-walkways
Menyediakan informasi bagaimana menjual
menyiapkan makanan dengan versi yang lebih
sehat.
Pemandatan pelabelan usia yang
sesuai pada produk-produk anak-
anak (mis. Lampu merah/lampu
hijau, dengan porsi yang sesuai)
Mendorong pemasaran video games
yang interaktif dimana anak-anak
harus melakukan latihan/exercise
pada saat bermain
Menggunakan selebriti untuk
pengiklanan makanan yang sehat
dalam promosi kebiasaan sarapan
dan makan regular

2.8 Hubungan Obesitas dengan Tungkai Bawah Melengkung seperti Huruf
O
13,24

Ada hubungan antara obesitas dengan tungkai berbentuk O, di
karenakan adanya faktor yang mempengaruhi tungkai berbentuk O yaitu
Blount disease. Blount disease merupakan kelainan bentuk tungkai bawah
KELUARGA Health Care Providers
Makan makanan keluarga pada waktu dan tempat
yang tepat.
Jangan melewatkan waktu makan, khususnya
sarapan.
Tidak makan sambil menonton televisi.
Gunakan piring kecil, dan meyiapkan makanan
ditempat yang jauh dari meja makan.
Jauhi makanan yang manis-manis atau berlemak
dan soft-drink
Pindahkan televisi dari kamar tidur anak; batasi
waktu untuk menonton televisi dan bermain
video games.
Menjelaskan kontribusi biologis dan
genetik pada obesitas
Memberikan ekspektasi usia yang
sesuai bagi masa tubuh anak
akibat beban tubuh yang terlalu berat sehingga tungkai bawah berbentuk
seperti huruf O. Gangguan ini ditandai oleh kelainan pertumbuhan sisi
media epifisis pada proksimal, mengakibatkan angulasi varus progressif
dibawah lutut. Walaupun penyebab tibia vara pasti belum diketahui, kelainan
ini tampaknya akibat supresi pertumbuhan dari kenaikan gaya kompresif sisi
media lutut.
Kelompok tibia vara :
a. Infantil (1-3 tahun)
Tibia vara paling lazim, terutama mengenai anak perempuan & kulit
hitam, terdapat obesitas nyata,tonjolan metafisis media hebat, torsi tibia
interna & ketidak sesuaian panjang kaki.
b. Juvenil (4-10 tahun) dan Remaja
Didominasi laki-laki & kulit hitam, obesitas nyata, tinggi normal & diatas
normal, deformitas genu varum progresif lambat, nyeri, tidak teraba
benjolan metafisis medial proksimal, torsi tibia interna minimal,
kelemahan ligamentum kolateral,ketidak sesuaian panjang tungkai bawah
yang ringan.

2.9 Blount Disease
a. Definisi
13

Blount disease merupakan kelainan bentuk tungkai bawah akibat
beban tubuh yang terlalu berat sehingga tungkai bawah berbentuk seperti
huruf O.
b. Tanda dan gejala
25

Gejala yang paling jelas dari penyakit Blount adalah membungkuk
kaki di bawah lutut. Pada anak-anak muda ini biasanya tidak menyakitkan,
meskipun kadang-kadang dapat mempengaruhi cara mereka berjalan.
Untuk praremaja dan remaja, ketidaknyamanan bisa lebih buruk dan, pada
awalnya, bisa salah untuk tumbuh sakit.
Sebuah tibia membungkuk juga dapat menyebabkan masalah lain
terutama disebabkan oleh pergeseran dalam cara kaki bagian bawah
menanggung berat tubuh. Misalnya, tibia benar-benar dapat mulai untuk
memutar ke dalam, menyebabkan kondisi yang disebut intoeing (ketika
kaki menunjuk ke dalam bukannya langsung keluar).
Seiring waktu, penyakit Blount juga dapat menyebabkan radang
sendi dari sendi lutut dan, dalam kasus yang sangat parah, kesulitan
berjalan. Jarang, satu kaki juga bisa menjadi sedikit lebih pendek dari yang
lain.

c. Diagnosis
13

Pada anak dengan blount disease (tibia vara) biasanya dilakukan foto
rontgen AP pada kedua ekstremitas bawah dan posisi lateral pada
ekstremitas yang terkena. Posisi anak berdiri dengan pembebanan
memungkinkan terlihatnya deformitas klinis maksimal. Fragmentasi
dengan deformitas tahap penonjolan dan penonjolan metafisis tibia medial
proksimal merupakan tanda-tanda utama kelompok infantil. Perubahan
dalam metafisi tibiale medialis kurang mencolok pada bentuk-bentuk
mulai awal, yang ditandai oleh adanya baji bagian medial epifisis, depresi
artikuler posteromedial ringan, fisis lengkung ke arah kepala serpiginosa,
dan tidak ada fragmentasi atau ringan atau tonjolan metafisis medial
proksimal. Kadang-kadang, atrografi, foto resonansi magnetik, atau
tomografi diperlukan untuk menilai meniskus, permukaan artikuler tibia
proksimal, atau integritas fisis tibia proksimal. Ini biasanya dicadangkan
untuk deformitas yang lebih berat.
d. Tatalaksana
13

Penatalaksanaan tibia vara dapat nonoperatif maupun operatif pada
bentuk infantilnya. Tibia vara mulai lambat ditangani secara operatif.
1. Non-operatif
Penatalaksanaan ortotik dapat dipertimbangkan pada anak dengan
tibia vara infantil yang berumur 3 tahun atau lebih muda dengan
deformitas ringan. Pada sekitar 50% anak yang memenuhi kriteria ini,
deformitas dapat terkoreksi secara memadai. Orthosis lutut-pergelangan
kaki-kaki harus digunakan dengan satu medial tegak, tampa lutut
bergantung. Bantalan dan tali pengikat harus ditempatkan pada femur
distal dan tibia proksimal untuk mempergunakan gaya valgus. Orthosis
harus dipasang 22-23 jam setiap hari. Trial maksimum 1 tahun
manajemen orthotik sekarang dianjurkan. Jika koreksi total tidak
dicapai sesudah 1 tahun atau jika penjelekan terjadi selama waktu ini,
kemudian terindikasi osteotomi korektif.
2. Operatif
Indikasi penanganan bedah tibia infantil adalah usia 4 tahun atau
lebih, kegagalan penatalaksanaan ortotik, dan deformitas lebih berat.
Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula terkait
biasanya merupakan prosedur pilihan. Pada tibia vara yang mulai
lambat, koreksi juga diperlukan untuk memperbaiki sumbu mekanik
lutut. Pilihan bedah yang sama seperti disajikan pada anak yang lebih
tua dengan tibia vara infantil dapat diterapkan pada kelompok umur ini.
Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula
merupakan prosedur yang paling lazim.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Inneke mengalami obesitas karena ketidaksesuaian asupan makanan
terhadap Angka Kecukupan Gizi, aktivitas fisik, dan pola asuh yang diterima.


DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi IX. Penerjemah:
Setiawan I, Tengadi LMAKA, Santoso A, Jakarta: EGC. 2007
2. Tortora, Gerard J., Derrickson, Bryan. Principles of Anathomy & Physiology
: 13
th
Edition. John Wiley & Sons, Inc : USA. 2012
3. Kliegman, Bonita, Stanton, St. Geme, Schor, and Behrman. Nelson
Textbook of Pediatrics : Expert Consult Premium Edition - Enhanced Online
Features and Print, 19e. 19 edition. Philadelphia, PA: Saunders; 2011. 2680 p.
4. Marcdante, Kliegman, and Behrma. Nelson Essentials of Pediatrics: With
STUDENT CONSULT Online Access, 6e. 6 edition. Philadelphia, PA:
Saunders; 2010. 864 p.
5. Beck, M.E. 2000. Ilmu Gizi dan Diet. Jakarta: Yayasan Essential Medika
6. Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.920/Menkes/SK/VIII/2002 tentang Klasifikasi Status Gizi Anak. Jakarta.
2002
7. Departemen gizi dan kesehatan masyarakat FKM UI. Gizi dan Kesehatan
masyarakat. PT Raja Grafindo Perkasa. Jakarta. 2007
8. B.Jenson Hal, E.Behrman Richard, J. Marcdante Karen, M. Kliegman Robert.
Nelson Ilmu Kedokteran Kesehatan Anak Esensial. Ed.6. Singapore:
Saunders Elsveir;2014.
9. Arsad.RA. Perbedaan Hemoglobin, Status Gizi dan Prestasi Belajar Anak SD
Wilayah Gunung dan Pantai di Kabupaten Polewali Mandar tahun 2006,
FKM-UNHAS, Makassar. 2006
10. Depkes, RI, Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta. 2004
11. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2010
12. Santrock, J.W. A topical approach to life-span development, third Ed. New
York: McGraw-Hill; 2007.
13. Nelson, Waldo. E. Ilmu Kesehatan Anak Nelson.Vol 1 Ed. 15. Jakarta: EGC.
2000

14. Park J. Increase in Glucose-6-Phospate Dehydrogenase in Adipocytes
Stimulates Oxidative Stress and Inflammatory Signals. Diabetes, 2006:
(55),2939-2949
15. Qatani M. Mechanisms of obesity-as-sociated insulin resistance: many
choices. 2007
16. Diez JJ & Iglesias P. The role of the novel adipocyte derived hormone
adiponectin in human disease. Eur J Endocrinol, 2003: (148),293-300
17. Bays. Role of the Adipocyte, Free Fatty Acids, and Ectopic Fat in
Pathogenesis of Type 2 Diabetes Mellitus: Peroxisomal Proliferator-
Activated Receptor Agonists Provide a Rational Therapeutic Approach.
Journal of Endocrinology, 2002: 6(7), 75-80
18. de la maza MP. Weight increase and overweight are associated with DNA
oxidative damage in skeletas muscle. Clin Nutr, 2006: 25(6),968-76
19. Nugraha, G. I. Etiologi dan Patofisiologi Obesitas. Dalam: Soegih,
R. R., dan Wiramihardja, K. K. (Editor). Obesitas Permasalahan dan Terapi
Praktis. Jakarta: Sagung Seto. 2009, 9-18
20. Taitz, L.S. Obesity, Dalam Textbook Of Pediatric Nutrition, IIIrd ed,
McLaren, D.S., Burman, D., Belton, N.R., Williams A.F. (Eds). London:
Churchill Livingstone, 1991; 485 509.
21. Hermawan, Guntur A. Komplikasi Obesitas dan Usaha Penanggulangannya.
Cermin Dunia Kedokteran, no 8. 1991
22. Syarif, D.R. Childhood Obesity: Evaluation and Management, Dalam Naskah
Lengkap National Obesity Symposium II, Editor: Adi S., dkk. Surabaya,
2003; 123 139.
23. Kiess W., et al. Multidisciplinary Management of Obesity in Children and
Adolescents-Why and How Should It Be Achieved?. Dalam Obesity in Childhood
and Adolescence, Kiess W., Marcus C., Wabitsch M.,(Eds). Basel: Karger AG,
2004; 194-206
24. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada
Anak Sekolah. Kementrian kesehatan republic Indonesia tahun 2012.2012
25. Canale ST. Osteochondrosis or epiphysitis and other miscellaneous
affections. In: Canale ST, Beatty JH, eds. Campbell 's Operative
Orthopaedics . 11th ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2007:chap 29
26. Ning C, Yanovski JA. Endocrine disorders associated with pediatric
obesity. In: Goran M, Sothern M, editors. Handbook of Pediatric
Obesity. Boca Raton, FL: CRC Press; 2006. p. 135.
27. Crocker MK, Yanovski JA. Pediatric Obesity: Etiology and Treatment.
Endocrinol Metab Clin North Am. Sep 2009; 38(3): 525548.
28. Kamoda T, Saitoh H, Inudoh M, et al. The serum levels of proinsulin and
their relationship with IGFBP-1 in obese children.Diabetes Obes
Metab. 2006;8(2):192.
29. Hoos MB, Westerterp KR, Gerver WJ. Short-term effects of growth
hormone on body composition as a predictor of growth. J Clin Endocrinol
Metab. 2003;88(6):2569.
30. Bonfig W, Kann P, Rothmund M, et al. Recurrent hypoglycemic seizures
and obesity: delayed diagnosis of an insulinoma in a 15 year-old boy--final
diagnostic localization with endosonography. J Pediatr Endocrinol
Metab. 2007;20(9):1035.
31. Woods SC, DAlessio DA. Central control of body weight and appetite. J
Clin Endocrinol Metab. 2008;93(11 Suppl 1):S37.
32. Hung CC, Luan J, Sims M, et al. Studies of the SIM1 gene in relation to
human obesity and obesity-related traits. Int J Obes (Lond)2007;31(3):429.
33. Holder JL, Jr, Butte NF, Zinn AR. Profound obesity associated with a
balanced translocation that disrupts the SIM1 gene. Hum Mol
Genet. 2000;9(1):101.
34. Srinivasan S, Ogle GD, Garnett SP, et al. Features of the metabolic
syndrome after childhood craniopharyngioma. J Clin Endocrinol
Metab.2004;89(1):81.