Anda di halaman 1dari 27

LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani "-" (Dys-), berarti sulit , dan ""
(Pepse), berarti pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang
terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami
kekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn)
dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia
terbagi dua, yaitu :
Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya.
Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak
(luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila
tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur
organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong
saluran pencernaan).
Definisi lain, dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas
atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa
terbakar di perut. Setiap orang dari berbagai usia dapat terkena dispepsia, baik pria maupun
wanita. Sekitar satu dari empat orang dapat terkena dispepsia dalam beberapa waktu.
1.1 Rumusan Masalah

Bagaimanakah tinjauan teoritis, temuan klinis, serta penatalaksanaan Dispepsia di
Ruang Rawat Inap 14, RSUD Pringadi, Medan.

1.2 Tujuan


1. Mengetahui apa yang dimaksud dispepsia?
2. Mengetahui apa diagnose dan etiologic dispepsia?
3. Mengetahui apa menifestasi klinis dan penanganan dispepsia?

LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

2


1.3 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil makalah ini adalah
1. Pembaca mengetahui definisi dan klasifikasi dyspepsia.
2. Pembaca mengetahui menifestasi klinis dan penanganan dyspepsia.



















LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

3


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi dan Klasifikasi
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di
perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan.
Dispepsi adalah istilah non spesifik yang dipakai pasien untuk menjelaskan keluhan perut
bagian atas. Gejala tersebut bisa berupa nyeri atau tidak nyaman, kembung, banyak flatus,
rasa penuh, bersendawa, cepat kenyang dan borborygmi (suara keroncongan dari perut).
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani (Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan.
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinisyang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di
perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Keluhan refluks
gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung,
kini tidak lagi termasuk dispepsia. pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya.Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh
misalnyatukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan
lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila
tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur
organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong
saluran pencernaan).
Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau
rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang,
dan sering bersendawa. Biasanya berhubungan dengan pola makan yang tidak teratur,
makanan yang pedas, asam, minuman bersoda, kopi, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi
emosional tertentu misalnya stress.
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

4


Dyspepsia disebabkan oleh beragam hal yang dapat ditelusuri berdasarkan kategorinya.
a. Non-ulcer dyspepsia adalah dyspepsia yang tidak diketahui penyebabnya karena bila
diendoskopi bagian kerongkongan, perut, atau duodenum terlihat normal,
tidak menunjukkan borok sama sekali. Diperkirakan 6 dari 10 penderita dyspesia tergolong
dalam kategori ini,
b. Duodenal and stomach (gastric) ulcers yakni dyspesia yang disebabkan oleh borok
diusus dua belas jari atau lambung. Jenis ini kerap dinamai peptic ulcer,
c. Duodenitis and gastritis atau radang di usus dua belas jari dan/atau lambung.
Radangtersebut bisa saja ringan atau parah, tergantung luksnya. Gastritis akut
dapatdisebabkan oleh karena stres, zat kimia misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan
yang pedas, panas maupun asam. Pada para yang mengalami stres akan terjadi perangsangan
saraf simpatis NV (Nervus vagus) yang akan meningkatkan produksi asamklorida (HCl) di
dalam lambung. Adanya HCl yang berada di dalam lambungakan menimbulkan rasa mual,
muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makananyang merangsang akan menyebabkan sel
epitel kolumner, yang berfungsi untuk menghasilkan mukus,mengurangi produksinya.
Sedangkan mukus itu fungsinya untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut
tercerna. Respon mukosa lambungkarena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya
vasodilatasi sel mukosagaster. Lapisan mukosa gaster terdapat sel yang memproduksi HCl
(terutama daerahfundus) dan pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan
produksiHCl meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini
ditimbulkan oleh karena kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat
penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi selmukosa gaster
akan mengakibatkan erosipada sel mukosa. Hilangnya sel mukosaakibat erosi memicu
timbulnya perdarahan.Perdarahan yang terjadi dapat mengancamhidup penderita,
namundapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam
waktu 24-48 jam setelah perdarahan. Helicobacter pylorimerupakan bakteri gram negatif.
Organisme ini menyerang sel permukaan gaster,memperberat timbulnya desquamasi seldan
muncullah respon radang kronis padagaster yaitu : destruksi kelenjar dan metaplasia
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

5

d. Acid reflux, oesophagitis and GERD. Acid reflux terjadi ketika zat asam keluar
darilambung dan naik ke kerongkongan.Acid reflux bisa menyebabkan esofagitis
(radangkerongkongan) atau gastro-oesophageal reflux disease (GERD acid reflux,
denganatau tanpa esofagitis). Manifestasi klinis GERD dapat berupa gejala yang
tipikal(esofagus) dan gejala atipikal (ekstraesofagus). Gejala GERD 70% merupakan
tipikal,yaitu :
Heart burn. Heart burn adalah sensasi terbakar di daerah retrosternal. Gejalaheart burn
adalah gejala yang tersering,
Regurgitasi. Regurgitasi adalah kondisi di mana material lambung terasa dipharing.
Kemudian mulut terasa asam dan pahit. Kejadian ini dapatmenyebabkan komplikasi paru-
paru,
Disfagia. Disfagia biasanya terjadi oleh karena komplikasi berupa striktur.

2.2. Etiologi
Tidaklah mengherankan bahwa penyakit gastrointestinal telah banyak dikaitkan dengan
dispepsia. Namun, banyak penyakit non-gastrointestinal juga telah dikaitkan dengan
dispepsia. Contoh yang terakhir termasuk diabetes, penyakit tiroid, hiperparatiroidisme
(kelenjar paratiroid yang terlalu aktif), dan penyakit ginjal berat. Tidak jelas, bagaimana
penyakit non-gastrointestinal dapat menyebabkan penyakit dispepsia. Penyebab kedua yang
penting dari dyspepsia adalah obat. Ternyata bahwa banyak obat yang sering dikaitkan
dengan dispepsia, misalnya, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs seperti ibuprofen
), antibiotik, dan estrogen ). Pada kenyataannya, kebanyakan obat dilaporkan menyebabkan
dispepsia dalam setidaknya beberapa pasien.
Seperti telah dibahas sebelumnya, dispepsia sebagian besar (bukan karena penyakit non-
gastrointestinal), namun diyakini disebabkan fungsi abnormal dari otot-otot organ saluran
pencernaan atau saraf mengontrol organ. Kontrol saraf pada saluran pencernaan sangatlah
kompleks. Sebuah sistem saraf bekerja sepanjang saluran pencernaan dari kerongkongan ke
anus di dinding otot dari organ-organ. Saraf ini berkomunikasi dengan saraf lain yang
melakukan perjalanan ke dan dari sumsum tulang belakang. Saraf dalam sumsum tulang
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

6

belakang pada gilirannya berjalanan ke dan dari otak. Dengan demikian, fungsi abnormal dari
sistem saraf di dispepsia mungkin terjadi pada organ pencernaan otot, sumsum tulang
belakang, atau otak.
Sistem saraf mengontrol organ-organ pencernaan, seperti organ lainnya, mengandung kedua
saraf sensorik dan motorik. Saraf-saraf terus menerus merasakan apa yang terjadi pada
aktivitas dalam organ dan menyampaikan informasi ini ke saraf di dinding organ. Dari sana,
informasi dapat disampaikan ke sumsum tulang belakang dan otak. Informasi diterima dan
diproses di dinding organ, sumsum tulang belakang, atau otak. Kemudian, berdasarkan pada
masukan sensorik dan cara input diproses, perintah (respon) dikirim ke organ melalui saraf
motorik. Dua dari respon-respon motor yang paling umum dalam usus kecil adalah kontraksi
atau relaksasi otot organ dan pengeluaran cairan dan / atau lendir dalam organ.

Seperti telah disebutkan, fungsi abnormal dari saraf organ-organ pencernaan, setidaknya
secara teoritis, mungkin terjadi dalam organ, sumsum tulang belakang, atau otak. Selain itu,
kelainan mungkin terjadi dalam saraf sensorik, saraf motorik, atau di pusat-pusat pengolahan
di usus, sumsum tulang belakang, atau otak.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa penyebab penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan
pada fungsi saraf sensorik. Misalnya, aktivitas normal, seperti peregangan dari usus kecil
oleh makanan dapat menimbulkan sinyal sensorik yang dikirim ke sumsum tulang belakang
dan otak, di mana mereka dianggap menyakitkan. Peneliti lain berpendapat bahwa penyebab
penyakit-penyakit fungsional adalah kelainan pada fungsi saraf motorik. Misalnya, perintah
abnormal melalui syaraf-syaraf motor mungkin menghasilkan kejang yang menyakitkan
(kontraksi) dari otot-otot. Yang lain berpendapat bahwa abnormal disebabkan oleh pusat
pengolahan yang berfungsi dan bertanggung jawab untuk penyakit fungsional salah
menafsirkan sensasi normal atau mengirim perintah yang abnormal ke organ. Bahkan,
beberapa penyakit fungsional mungkin disebabkan oleh disfungsi sensor, disfungsi motor,
atau disfungsi baik sensorik dan motorik. Lainnya mungkin karena kelainan di dalam pusat
pengolahan.
Sebuah konsep penting yang relevan dengan mekanisme beberapa potensi (penyebab)
penyakit fungsional adalah konsep hipersensitivitas visceral. Konsep ini menyatakan
bahwa penyakit yang mempengaruhi organ-organ pencernaan sangat peka sehingga
mengubah respon saraf-saraf atau pusat pengolahan untuk sensasi yang berasal dari organ.
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

7

Menurut teori ini, penyakit seperti colitis (peradangan usus besar) dapat menyebabkan
perubahan permanen dalam kepekaan saraf atau pusat pengolahan usus besar. Sebagai hasil
dari peradangan sebelumnya, rangsangan normal dirasakan sebagai abnormal (misalnya,
sebagai hal yang menyakitkan). Dengan demikian, kontraksi usus besar yang normal
mungkin menyakitkan. Tidak jelas apa penyakit sebelum dapat mengakibatkan
hipersensitivitas pada orang, meskipun penyakit menular (bakteri atau virus) dari saluran
pencernaan disebutkan paling sering. Visceral hypersensitivity telah ditunjukkan secara jelas
pada hewan dan manusia. Perannya dalam penyakit-penyakit fungsional yang umum belum
jelas saat ini.
Penyakit dan kondisi lain dapat memperburuk penyakit-penyakit fungsional, termasuk
dyspepsia. Kecemasan dan / atau depresi mungkin faktor memperburuk paling sering diakui
untuk pasien dengan penyakit fungsional. Faktor lain yang memberatkan adalah siklus
menstruasi . Selama periode haid, wanita seringkali mencatat bahwa gejala fungsional
mereka buruk. Hal ini sesuai sewaktu hormon wanita, estrogen dan progesteron berada pada
tingkat tertinggi. Selain itu, telah diamati bahwa mengobati wanita yang memiliki dispepsia
dengan leuprolida (Lupron), obat injeksi yang menutup produksi tubuh estrogen dan
progesteron, yang efektif dalam mengurangi gejala dispepsia pada wanita premenopause.
Observasi ini mendukung peran hormon dalam intensifikasi gejala fungsional.
Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama
pada ketahanan mukosa lambung. Kadar asam lambung lansia biasanya mengalami penuruna
hingga 85%.
Dispepsia dapat disebabkan oleh kelainan organik, yaitu :
a. Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau duodenum, gastritis,
tumor, infeksi bakteri Helicobacter pylori.
b. Obat-obatan: anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa jenis antibiotik,
digitalis, teofilin dan sebagainya.
c. Penyakit pada hati, pankreas, maupun pada sistem bilier seperti hepatitis, pankreatitis,
kolesistitis kronik.
d. Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit jantung koroner.
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

8

Dispepsia fungsional dibagi 3, yaitu :
a. Dispepsia mirip ulkus bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati.
b. Dispepsia mirip dismotilitas bila gejala dominan adalah kembung, mual, cepat kenyang.
c. Dispepsia non-spesifik yaitu bila gejalanya tidak sesuai dengan dispepsia mirip ulkus
maupun dispepsia mirip dismotilitis.
Peranan pemakaian OAINS dan infeksi H. Pylori sangat besar pada kasus-kasus dengan
kelainan organik. Penyebab dispepsia secara rinci adalah:
1. Menelan udara (aerofagi)
2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
3. Iritasi lambung (gastritis)
4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5. Kanker lambung
6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
8. Kelainan gerakan usus
9. Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
10. Infeksi Helicobacter pylori
Dyspepsia organik Dyspepsia fungsional
Ulkus peptik kronik (ulkus
ventrikuli, ulkus duodeni)
Gastro-esophageal reflux
disease (GORD), dengan atau
tanpa esofagitis.
Obat : OAINS, Aspirin
Kolelitiasis simtomatik
Pancreatitis kronik
Gangguan metabolik (uremia,
hiperkalsemia, gastroparesis
Disfungsi sensorik-motorik
gastroduodenum
Gastroparesis
idiopatik/hipomotilitas antrum
Disritmia gaster
Hipersensitivitas
gaster/duodenum
Faktor psikososial
Gastritis H. pylori
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

9

DM)
Keganasan (gaster, pancreas,
kolon)
Insufisiensi vaskula mesenterikus
Nyeri dinding perut
Idiopatik


2.3. Faktor Predisposisi
Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dan pola hidup. berikut ini berbagai
penyakit (kondisi medis) yang dapat menyebabkan keluhan dispepsia :
a. Dispepsia fungsional (nonulcer dyspepsia). Dispepsia fungsional adalah rasa tidak
nyaman hingga nyeri di perut bagian atas yang setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh
tidak ditemukan penyebabnya secara pasti. Dispepsia fungsional adalah penyebab maag yang
paling sering.
b. Tukak lambung (stomach ulcers). Tukak lambung adalah adanya ulkus atau luka di
lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang dirasakan terus menerus, bersifat
kronik (lama) dan semakin lama semakin berat.
c. Refluks esofagitis (gastroesophageal reflux disease)
d. Pangkreatitis
e. Iritable bowel syndrome
f. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti inflamasi
nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan
pada lambung. Jika pemakaian obat obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan
terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya secara terus menerus atau
pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan maag.
g. Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi
berat dapat menyebabkan gastritis serta pendarahan pada lambung.
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

10

h. Malabsorbsi (gangguan penyerapan makanan)
i. Penyakit kandung empedu
j. Penyakit liver
k. Kanker lambung (jarang)
l. Kanker esofagus (kerongkongan)(jarang)
m. Penyakit lain (jarang)

2.4. Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin
dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang
sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada
lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat
mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam
pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga
intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan Dengan kriteria tidak adanya kelainan
organik pada SCBA, maka teori patogenesisnya sangat bervariasi. Berbagai usaha telah
dicoba untuk menerangkan korelasi yang ada antara keluhan dengan sedikitnya temuan
kelainan yang ada secara konvensional.

2.5. Manifestasi Klinis
a. Nyeri perut (abdominal discomfort),
b. Rasa perih di ulu hati,
c. Mual, kadang-kadang sampai muntah,
d. Nafsu makan berkurang,
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

11

e. Rasa lekas kenyang,
f. Perut kembung,
g. Rasa panas di dada dan perut,
h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi dispepsia
menjadi 3 tipe :
1. dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like dyspepsia), dengan gejala :
- nyeri epigestrium terlokasi.
- Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid.
- Nyeri saat lapar.
- Nyeri episodik
2. dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspesia), dengan gejala :
- mudah kenyang.
- Perut cepat terasa penuh saat makan.
- Mual.
- Muntah
- Uuper abdominal bloating.
- Rasa tak nyaman bertambah saat makan.
3. dispepsia non spesefik (tidak ada gejala seperti kedua tipe diatas)

2.6. Komplikasi
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

12

Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang
tidak ringan. Salah satunya komplikasi dispepsia yaitu luka di dinding lambung yang dalam
atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung. Bila keadaan
dispepsia ini terus terjadi luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi
pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah, di mana merupakan
pertanda yang timbul belakangan. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar
berwarna hitam terlebih dulu yang artinya sudah ada perdarahan awal. Tapi komplikasi yang
paling dikuatirkan adalah terjadinya kanker lambung yang mengharuskan penderitanya
melakukan operasi.

2.7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan non farmakologis
1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2) Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang
berlebihan, nikotin rokok, dan stres
3) Atur pola makan
Penatalaksanaan farmakologis yaitu:
Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam
mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun
masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan
antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah
terjadinya muntah)
Penatalaksanaan yang tepat pada pasien dengan dispepsia, antara lain :
1. Edukasi kepada pasien untuk mengenali dan menghindari keadaan yang potensial
mencetuskan serangan dyspepsia
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

13



2. Modifikasi pola hidup
Menghindari jenis makanan yang dirasakan sebagai faktor pencetus. Pola makan porsi kecil
tetapi sering dan makanan rendah lemak.
3. Obat-obatan
Obat-obatan yang dianjurkan adalah golongan antasida, anti sekresi dan prokinetik dapat
digunakan untuk mengurangi keluhan.
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu :
- Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam
lambung. Campuran yang biasanya terdapat dalam antasid antara lain Na bikarbonat, AL
(OH)3, Mg (OH)2 dan Mg trisilikat. Pemakaian obat ini sebaiknya jangan diberikan terus-
menerus, sifatnya hanya simtomatis, untuk mengurangi rasa nyeri. Mg trisilikat dapat dipakai
dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik,
namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
- Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu
pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan sekresi asam
lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
- Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti
tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis reseptor H2 antara lain simetidin,
roksatidin, ranitidin dan famotidin.
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

14

Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)Sesuai dengan namanya, golongan
obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam
lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol dan
pantoprazol.
- Sitoprotektif
Prostaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE) dan enprestil (PGE2). Selain bersifat
sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi
meningkatkan sekresi prostaglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi,
meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta
membentuk lapisan protektif (sebagai site protective), yang senyawa dengan protein sekitar
lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
- Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan prokinetik, yaitu sisaprid, dom peridon dan metoklopramid.
Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis
dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance)

2.8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang harus bias menyingkirkan kelainan serius, terutama kanker lambung,
sekaligus menegakkan diagnosis bila mungkin. Sebagian pasien memiliki resiko kanker yang
rendah dan dianjurkan untuk terapi empiris tanpa endoskopi. berikut merupakan pemeriksaan
penunjang:
a. Tes Darah
Hitung darah lengkap dan LED normal membantu menyingkirkan kelainan serius. Hasil tes
serologi positif untukHelicobacter pylori menunjukkan ulkus peptikum namun belum
menyingkirkan keganasan saluran pencernaan.
b. Endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi)
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

15

Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis, penyakit epitellium Barret, dan ulkus
peptikum. Biopsi antrum untuk tes ureumse untuk H.pylori (tes CLO).
Endoskopi adalah pemeriksaan terbaik masa kini untuk menyingkirkan kausa organic pada
pasien dispepsia. Namun, pemeriksaan H. pylori merupakan pendekatan bermanfaat pada
penanganan kasus dispepsia baru. Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama pada pasien
dengan keluhan yang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan tanda alarm
seperti penurunan berat badan, muntah, disfagia, atau perdarahan yang diduga sangat
mungkin terdapat penyakit struktural.
Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan kemungkinan komplikasi
serupa dengan pasien muda.Menurut Tytgat GNJ, endoskopi direkomendasikan sebagai
investigasi pertama pada evaluasi penderita dispepsia dan sangat penting untuk dapat
mengklasifikasikan keadaan pasien apakah dispepsia organik atau fungsional. Dengan
endoskopi dapat dilakukan biopsy mukosa untuk mengetahui keadaan patologis mukosa
lambung.
c. DPL : Anemia mengarahkan keganasan
d. EGD : Tumor, PUD, penilaian esofagitis
e. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung darah lengkap,
laju endap darah, amylase, lipase, profil kimia, dan pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja.
Jika terdapat emesis atau pengeluaran darah lewat saluran cerna maka dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan barium pada saluran cerna bgian atas.
2.9. Pemeriksaan Fisik
Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dyspepsia yang belum diinvestigasi terutama
hasrus ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan organik sebagai kausa
dispepsia. Pasien dispepsia dengan alarm symptoms kemungkinan besar didasari kelainan
organik. Menurut Wibawa (2006), yang termasuk keluhan alarm adalah:
1. Disfagia,
2. Penurunan Berat Badan (weight loss),
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

16

3. Bukti perdarahan saluran cerna (hematemesis, melena, hematochezia, anemia defisiensi
besi,atau fecal occult blood),
4. Tanda obstruksi saluran cerna atas (muntah, cepat penuh).
Pasien dengan alarm symptoms perlu dilakukan endoskopi segera untuk menyingkirkan
penyakit tukak peptic dengan komplikasinya, GERD (gastroesophageal reflux disease), atau
keganasan.
2.10. Pencegahan
Pola makan yang normal, dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan
jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang berkadar asam
tinggi, cabai, alkohol dan, pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit,
misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.
Berikut adalah 11 solusi mencegah gangguan pencernaan
1. biasakan makan teratur
2. Kunyah makanan dengan baik supaya enzim ptialin dalam kelenjar ludah dapat
melakukan fungsinya dengan sempurna
3. Jangan makan terlalu banyak
4. Jangan berbaring setelah makan
5. Hindari waktu makan yang terlalu ber-dekatan supaya proses mencerna tidak terganggu
(interval 2-3 jam)
6. Jangan makan sambil minum (setiap cairan yang dikonsumsi dengan makanan padat
akan mengurangi aktivitas cairan pencernaan yang terlibat dalam proses pencernaan)
7. Tingkatkan konsumsi makanan sumber serat
8. Konsumsi makanan probiotik
9. Kurangi konsumsi makanan pembentuk asam (protein hewani dan karbohidrat
sederhana)
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

17

10. Jangan makan makanan yang terlalu panas atau dingin (dapat mengiritasi lapisan dinding
lambung)
11. Kurangi stress
BAB 3
LAPORAN KASUS

STATUS ORANG SAKIT
Tanggal Masuk : 25 September 2014
Jam : 10.11 WIB

ANAMNESE PRIBADI
Nama : Afdani
Umur : 44 tahun
Jenis kelamin : Lelaki
Status perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Jl. Pancing No 47 Kel Indra Kasih Kec Medan Tebing

ANAMNESE PENYAKIT
Keluhan utama : Nyeri Ulu Hati
Telaah : Hal ini dialami os sejak 1 bulan ini dan semakin memberat 1 hari SMRS. Nyeri ulu
hati timbul hanya apabila perut os diisi makanan. Nyeri tersebut timbul selama 3menit dan
bersifat tertusuk-tusuk oleh benda tajam dan tidak menyebar ke tempat lain. Nyeri tersebut
tidak berhubungan dengan aktivitas. Riwayat sakit lambung (+) selama 5 tahun namun
riwayat pengobatan tidak jelas. Selain itu, os mengeluh mual disertai muntah sejak 1 bulan
ini. Keluhan tersebut bersifat hilang-timbul dan hanya memberat waktu perut os diisi
makanan. frekuensi muntah sebanyak 3-5kali/hari dengan isi muntah adalah apa yang os
makan dan minum. Riwayat pengobatan tidak jelas. Riwayat demam (-). Riwayat batuk (-).
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

18

BAK os normal warna kuning muda dengan volume 1 liter/ hari. BAB os normal warna
coklat

Riwayat penyakit terdahulu: Hipertensi (-) DM (-).

Riwayat penggunaan obat : Tidak jelas


STATUS PRESENS
KU/KP/KG : sedang/baik
Sensorium : Compos mentis
Tekanan Darah : 140/90 mm/Hg
Pulse : 82 /i
Pernafasan : 20 /i
Suhu : 36.8C
Anemis : -/-
Ikterus : -/-
Sianosis : -/-
Dispnoe : -
Edema : -/-
BB : 62 kg
TB : 169cm
IMT : 21.7kg/m
2
Kesan : normoweight

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala : Mata: Konj.palp .inf pucat(-)/(-), sklera ikterik (-)/(-), RC (+)/(+), Pupil isokor
3mm
Telinga/ Hidung/Mulut : Dalam Batas Normal
Leher : TVJ R5-2cmH2O, trakea medial, pembesaran KGB(-), pembesaran struma(-)
Thoraks : Inspeksi : Simetris fusiformi
Palpasi : SF ki=ka, kesan normal
Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

19

Auskultasi :SP :vesikular ST : tidak ada
Abdomen : Inspeksi :Simetris
Palpasi :Soepel , hepar/lien/renal tidak teraba. Nyeri tekan epigastrium(+)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Pinggang : Tapping pain (-)/(-)
Inguinal : Pembesaran KGB (-)
Genitalia: Lelaki
Extrimitas superior : Edema (-)/(-)
Extrimitas inferior : Edema (-)/(-)

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
25/09/2014
Darah Rutin :
HB: 8,3 g%
WBC : 7400 uL
RBC : 6.50 uL
HGB : 14.0 uL
HCT : 45.8 uL
MCV : 70.5 uL
MCH : 21.5 uL
MCHC : 30.6 uL
PLT : 396000 u/L
LFT
SGOT : 29 u/L
SGPT : 33 u/L
Alkaline Phosphate : 64 u/L
Total Bilirubin : 0.28 mg/dL
Direct Bilirubin : 0.06 u/L
RFT
Ureum : 18 mg/dL
Kreatinin : 0.95 mg/dl
Uric acid : 5.7 mg/dl
Glukosa Adrandom : 95 mg/d
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

20


Hasil Elektrokardiogram : kesan normal

Resume :
Hal ini dialami os sejak 1 bulan ini dan semakin memberat 1 hari SMRS. Nyeri ulu hati
timbul hanya apabila perut os diisi makanan. Nyeri tersebut timbul selama 3menit dan
bersifat tertusuk-tusuk oleh benda tajam dan tidak menyebar ke tempat lain. Nyeri tersebut
tidak berhubungan dengan aktivitas. Riwayat sakit lambung (+) selama 5 tahun namun
riwayat pengobatan tidak jelas. Selain itu, os mengeluh mual disertai muntah sejak 1 bulan
ini. Keluhan tersebut bersifat hilang-timbul dan hanya memberat waktu perut os diisi
makanan. frekuensi muntah sebanyak 3-5kali/hari dengan isi muntah adalah apa yang os
makan dan minum. Riwayat pengobatan tidak jelas. Riwayat demam (-). Riwayat batuk (-).
BAK os normal warna kuning muda dengan volume 1 liter/ hari. BAB os normal warna
coklat. Riwayat DM (-) Hipertensi (-)

Follow up tanggal 25.09.2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (+)
Objective Sens: compos mentis
TD: 140/80mmHg
Pols : 76 x/i
RR : 20x/i
T : 36.8 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (+)
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

21

Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab

Follow up tanggal 26.09.2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (+)
Objective Sens: compos mentis
TD: 140/80mmHg
Pols : 76 x/i
RR : 21x/i
T : 36.5 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (+)
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

22

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab


Follow up tanggal 27.09.2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (+) menurun, Diare(+)
Objective Sens: compos mentis
TD: 130/80mmHg
Pols : 80x/i
RR : 24x/i
T : 36.8 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (+) menurun
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

23

- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab
- Diaform 2 tab



Follow up tanggal 28/09/2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (-) menurun, Diare (-)
Objective Sens: compos mentis
TD: 140/80mmHg
Pols : 85 x/i
RR : 21x/i
T : 36.8 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (+) menurun
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

24

- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab





Follow up tanggal 29/09/2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (-), Diare (-)
Objective Sens: compos mentis
TD: 140/80mmHg
Pols : 81 x/i
RR : 20x/i
T : 36.7 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

25

- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab

Follow up tanggal 30/09/2014
Subjective Nyeri Ulu Hati (-), Diare (-)
Objective Sens: compos mentis
TD: 140/80mmHg
Pols : 82 x/i
RR : 20x/i
T : 36.8 C
PD:
Kepala : mata anemis (-/-), ikterik (-/-)
Leher : TVJ R5-2 cmH2O KGB membesar:-
Thorax : SP : Vesikuler
ST : Tidak ada
ABDOMEN
Inspeksi : Soepel
Palpasi : Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : Normoperistaltik (+)
Extrimitas superior : edema (-/-)
Extrimitas inferior : edema (-/-)
Assesment - Dyspepsia type like Ulcer

Peranjakkan - Bed rest
- Diet M, ekstra buah
- IVFD: Nacl 0.9% 20gtt/i
- Inj. Ranitidin 50mg/ 12 jam
- Antasida 3xIC


- Domperidone 3x1 tab
- PBJ: kontrol Poli GEH selasa &
Khamis
LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

26








BAB 4
KESIMPULAN & PENUTUP

Setelah penulis selesai dalam pembuatan Makalah yang telah dilakukan,
menyimpulkan sebagai berikut:
Dyspepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang
sering di rasakan adanya gas, perasaan penuh atau rasa terbakar di perut.
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab dyspepsia antara lain, yaitu Iritasi lambung
(gastritis), peradangan kandung empedu (kolesistitis), kecemasan atau depresi, infeksi bacteri
Helibacter Pylori, kelainangerakan pencernaan missal usus, dan pengeluaran asam lambung
yang berlebih.
Penyebab dispepsia pada pasien ini belum dapat ditegakkan secara pasti. Tetapi
pemeriksaan yang dilakukan membolehkan kita mengdiagnosa ke arah dyspepsia tipe like
ulser.













LAPKAS: DYSPEPSIA - FAKULTAS KEDOKTORAN USU,MEDAN

27








BAB 5
DAFTAR PUSTAKA
1. Doengoes, marilyin, 1987, rencana asuhan keperawatan: Jakarta.
2. Mansjoer, arif. 2001. kapita selekta kedokteran. Jakarta : media Aesculapius fakultas
kedokteran universitas Indonesia.
3. Suzani, Cherry. (2007). Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Depok :
SMK Raflesia