Anda di halaman 1dari 17

TINJAUAN TEORITIS DAN TINJAUAN KASUS

A. PENGERTIAN
Apendisitis merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi. Walaupun
apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering terjadi pada remaja dan dewasa
muda. Angka mortalitas penyakit ini tinggi sebelum era antibiotik (Price, Sylvia Anderson.
Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Halaman 448. 2005. Jakarta:
EGC).
Apendisitis merupakan penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran kanan dari
rongga abdomen, dimana penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat. (Smeltzer,
Suzanne C. Buku Ajaran Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Halaman 1097. 2001. Jakarta:
EGC.)
Apendisitis adalah peradangan di apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang
paling sering ( Mansjoer,2000 ).
Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi
terletak pada bagian inferior dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah
obstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa
menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989).
B. ETIOLOGI
Penyebab yang paling umum dari appendicitis adalah obstruksi lumen oleh feses yang
akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan peradangan. Penyebab
yang lain adalah feses yang keras atau tumor.
1. Obstruksi pada colon oleh fecalit (faeses yang keras)
2. Pemberian barium
3. Berbagai macam penyakit cacing
4. Tumor
5. Striktur karena fibrosis pada dinding usus
6. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus
7. Laki laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 30 tahun
(remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa
tersebut.

C. PATOFISIOLOGI
Appendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh fekalit,
benda asing dan infeksi bakterial yang dapat menyebabkan obstruksi. Obstruksi tersebut
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus
tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga
dapat menekan dinding appendik. Tekanan mengakibatkan edema pada appendik yang
menimbulkan demam, appendik yang meradang menimbulkan nyeri tekan perut kuadran kanan
bawah (titik Mc. Burney) dengan 4 regio, nyeri tekan dan lepas (tanda rovsing dan tanda
blumberg), tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah. Apabila kumam
telah menyebar ke usus dapat mengiritasi usus sehingga terjadi peningkatan produk sekretonik
termasuk mucus, iritasi mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi penurunan
peristaltik usus dan menyebabkan konstipasi. Apabila kuman menyebar ke umbilikus dan dan
menimbulkan ransangan nyeri hebat sehingga dapat meransang pusat muntah, anoreksia dan
perasaan enek. Appendik yang meradang harus segara dilakukan prosedur pembedahan agar
infeksi tidak menyebar. Apabila appendik yang meradang tidak ditanggulangi dapat
menyebabkan komplikasi yaitu appendik supuratif akut dimana sekresi mukus berlanjut, tekanan
terus meningkat, obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri dapat menembus dinding.
Apabila aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendik yang diikuti dengan
ganggren dan dikatakan pada stadium appendiksitis ganggrenosa. Dan bila dinding yang telah
rapuh itu pecah akan terjadi appendiksitis perforasi sampai akhirnya terjadi peritonitis.




D. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis yang terdapat pada apendisitis menurut buku karangan Price, Sylvia
Anderson. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6, Halaman 448. 2005.
Jakarta: EGC adalah sebagai berikut:
1. Gejala awal, nyeri atau rasa tidak enak disekitar umbilikus. Gejala tersebut umumnya
berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri bergeser ke kuadran
kanan bawah.
2. Anoreksia
3. Mual
4. Muntah
5. Nyeri tekan pada McBurney
6. Timbul spasme otot dan nyeri tekan lepas
7. Demam ringan
8. Leukositis sedang
9. Penyakit ini sering disertai oleh hilangnya rasa nyeri secara dramatis untuk sementara.
10. Kadang-kadang terdapat konstipasi atau diare


E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang mengalami apendisitis menurut Smeltzer,
Suzanne C. Buku Ajaran Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Halaman 1097. 2001. Jakarta:
EGC. Adalah sebagai berikut:
1. Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis
atau abses apendiks
2. Insidens perforasi adalah 10% - 32%
3. Tromboflebitis supuratif
4. Abses subfrenikus
5. Obstruksi intestinal

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC / PENUNJANG
Pemeriksaan menurut Betz (2002), Catzel(1995), Hartman(1994), antara lain :
1. Anamnesa
Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah :
o Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian
menjalar ke perut kanan bawah.
o Muntah oleh karena nyeri viseral.
o Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan
diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat
ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena
adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). pada keadaan perforasi
ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan
CT scan bisa membantu dakam menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau
penyakit lainnya di daerah rongga panggul (Sanyoto, 2007). Namun dari semua
pemeriksaan pembantu ini, yang menentukan diagnosis apendisitis akut adalah
pemeriksaan secara klinis. Pemeriksaan CT scan hanya dipakai bila didapat keraguan
dalam menegakkan diagnosis.

3. Laboratorium
Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih
dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya lekositosis tidak
menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Pemeriksaan urin :
sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks
yang meradang menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan laboratorium Leukosit
meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme
yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih
tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada
keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada
ginjal.
4. Uji psoas dan uji obturator
Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk mengetahui letak apendiks yang meradang.
Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas mayor lewat hiperekstensi sendi
panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel
pada m.psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada
uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan andorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang
merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvik.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS/KEPERAWATAN

1. Medis
a. Sebelum Operasi
1) Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali
masih belum jelas. Di sini observasi kita perlu dilakukan. Pasien diminta
melakukan tirah baring dan dipuasakan. Laksatif tidak boleh diberikan bila
dicurigai adanya apendisitis ataupun bentuk peritonotis lainnya. Pemeriksaan
abdomen dan rektal serta pemeriksan darah (lekosit dan hitung jenis) diulang
secara periodik. Foto abdomen dan thoraks dilakukan untuk mencari penyulit lain.
2) Intubasi bila perlu
3) Pemberian antibiotik




b. Tindakan operatif :
1). appendiktomi (pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat apendiks)
dilakukan segera untuk menurunkan resiko perforasi. Apendektomi dilakukan
dibawah anastesi umum dan spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan
laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
2). Laparatomi ( pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat apendiks jika
sudah mengalami perforasi ). Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi
pada daerah abdomen, bedah laparatomi merupakan teknik sayatan yang
dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif
dan kandungan.
c. Pasca operasi
Observasi tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok,
hipertermi, atau gangguan pernapasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar
untuk mencegah aspirasi cairan lambung. Baringkan pasien pada posisi fowler. Pasien
dikatakan baik jika dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien
dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, puasa diteruskan sampai fungsi usus
kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15ml/jam selama 4-5 jam lalu
naikkan menjadi 30ml/jam. Keesokharinya diberikan makanan saring, dan hari
berikutnya diberikan makanan lunak.
Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2
x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Hari
ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien boleh pulang.
d. Penatalaksanaan gawat darurat non-operasi
Bila tidak ada fasilitas bedah, berikan penatalaksanan seperti dalam peritonitis akut.
Dengan demikian, gejala apendisitis akut dapat mereda, dan kemungkinan terjadinya
komplikasi akan berkurang (Mansjoer, 2000).

2. Keperawatan
a. Pra operatif
Perawat menyiapkan pasien untuk pembedahan. Infus intravena digunakan untuk
meningkatkan fungsi ginjal adekuat dan menggantikan cairan yang telah hilang.
Aspirin dapat digunakan untuk mengurangi peningkatan suhu. Terapi antibiotik dapat
diberikan untuk mencegah infeksi. Apabila terdapat bukti atau kemingkinan terjadi
ileus paralitik, selang nasogastrik dapat dipasang. Enema tidak diberikan, karena
dapat menimbulkan perforasi.


b. Pasca operatif
Pasien ditempatkan pada posisi semi-Fowler. Posisi ini untuk mengurangi tegangan
pada insisi dan organ abdomen, yang membantu mengurangi nyeri. Opioid, biasanya
sulfat morfin, diberikan untuk menghilangkan nyeri. Cairan per oral diberikan bila
mereka dapat mentoleransi. Pasien yang mengalami dehidrasi diberikan cairan secara
IV.
Penyuluhan saat pulang sangat penting. Pasien diinstruksikan untuk menemui ahli
bedah yang akan mengangkat jahitan antara hari kelima dan ketujuh. Pasien dan
keluarga dapat diajarkan untuk merawat luka dan penggantian balutan dan irigasi
sesuai program.
Apabila terdapat kemungkinan peritonitis, drain dibiarkan di tempat insisi. Pasien
yang berisiko terhadap komplikasi dipertahankan di RS selama beberapa hari dan
dipantau dengan ketat terhadap tanda-tanda obstruksi usus atau hemoragi sekunder.
Abses sekunder dapat terbentuk di pelvis, dibawah diafragma, atau di hati yang
menyebabkan peningkatan suhu dan frekuensi nadi, serta peningkatan pada jumlah
leukosit (Brunnert & Suddart, 2001).

















H. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan. Pada tahap ini akan dilaksanakan
pengumpulan, penganalisaan data, perumusan masalah dan diagnosa keperawatan (Keliat,
1996)

a) Data Subjektif
1) Pre operasi (Doenges, 1999)
a) Data subyektif
Pasien mengatakan sakut pada perut bagian kanan bawah, pasien mengatakan
nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 5 (sedang) dari 10 skala nyeri yang
diberikan, pasien dan keluarga mengatakan takut dan cemas dengan keadaan
pasien, pasien dan keluarga mengatakan tidak tahu tentang penyakit,
penyebab, perawatan dan pengobatan pasien.

b) Data obyektif
Pasien tampak meringis, pasien tampak sering memegang perutnya saat
bergerak, pasien dan keluarga tampak bertanya-tanya tentang keadaan pasien,
pasien dan keluarga tampak cemas dan gelisah, ekspresi wajah pasien tampak
mengerutkan alis, pasien tampak tegang.

2) Post operasi
a) Data subyektif
Pasien mengatakan perutnya sakit pada daerah luka operasi, pasien
mengatakan nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 5 dari 10 skala nyeri yang
diberikan, pasien mengatakan nyerinya bertambah saat badannya digerakkan,
pasien mengeluh nyeri, pasien mengatakan sebagian kebutuhan dibantu
seperti mandi, pasien mengatakan badannya terasa lemas, pasien mengatakan
belum tahu tentang cara perawatan luka operasi.
b) Pasien tampak kesakitan dan meringis saat badannya digerakkan,pasien
tampak sering memegang perutnya saat bergerak, terdapat luka operasi di
perut kanan bawah sepanjang 10 cm dengan 5 jahitan, tampak terpasang IVFD
RL 28 tetes/menit pada tangan kanan pasien, gaas luka tampak kering, pasien
tampak lemah, pasien hanya tampak berbaring di tempat tidur, pasien hanya
mampu miring kiri-kanan dengan sangat hati-hati, kebutuhan ADL pasien
dibantu oleh keluarga, pasien tampak tidak leluasa untuk bergerak, pasien
tampak bertanya-tanya tentang cara perawatan luka operasi.

2. Diagnosa keperawatan

1) Pre operasi (Doenges, 1999 dan Carpenito, 2000)
a) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada appendik.
b) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis sekunder terhadap
pembedahan.
c) Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus sekunder terhadap
tidak adekuatnya diet (kurang serat).
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
e) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,
penyebab, perawatan dan pengobatan.

2) Post operasi
a) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder
terhadap pembedahan (appendiktomy).
b) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme sekunder
terhadap pembedahan (luka operasi) dan adanya jalur invasive.
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat efek anastesi pasca
pembedahan.

3. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap kedua dalam proses keperawatan yang terdiri dari
prioritas diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan.

1) Prioritas diagnosa keperawatan berdasarkan Kebutuhan Dasar Maslow dan berat
ringannya masalah yang mengancam jiwa pasien yaitu:

Pre operasi (Doenges, 1999 dan Carpenito, 2000)

a) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada appendik.
b) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis sekunder terhadap
pembedahan.
c) Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus sekunder terhadap
tidak adekuatnya diet (kurang serat).
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
e) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,
penyebab, perawatan dan pengobatan.

Post operasi

a) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder
terhadap pembedahan (appendiktomy).
b) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme sekunder
terhadap pembedahan (luka operasi) dan adanya jalur invasive.
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat efek anastesi pasca
pembedahan.





2) Rencana perawatan berdasarkan diagnosa keperawatan:
(Doenges, 1999 dan Carpenito, 1998)

Pre operasi

a) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada appendik.
Tujuan : nyeri hilang atau terkontrol
Kriteria hasil : pasien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan baik,
nadi 80-84 x/menit, pasien tidak meringis lagi, skala nyeri ringan
(1-3).
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10)
Rasional: perubahan karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya
abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan
intervensi.
(2) Pertahankan istirahat dengan posisis semi fowler.
Rasional: menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi
terlentang.
(3) Ajarkan teknik distraksi
Rasional: meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan
koping.

(4) Berikan analgetik sesuai indikasi
Rasional: menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan intervensi
terapi lain.
b) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis sekunder terhadap
pembedahan.
Tujuan : ansietas terkontrol


Kriteria hasil : mengginakan mekanisme koping yang efektif dalam mengatasi
ansietasnya, pasien tidak cemas.
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal.
Rasional: ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan
sakit, tidak tahu tentang penyakit dan keadaannya.
(2) Berikan informasi tentang penyakitnya.
Rasional: mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.
(3) Berikan kesempatan bertanya kepada pasien.
Rasional: dapat diketahui tingkat pemahaman pasien terhadap penjelasan
yang diberikan.
(4) Libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Rasional: orang terdekat lebih dipercaya pasien dan diharapkan dapat
memotivasi pasien untuk cepat sembuh.
c) Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic usus sekunder terhadap
tidak adekuatnya diet (kurang serat).
Tujuan: konstipasi tidak terjadi.
Kriteria hasil: konsistensi feses lembek berwarna kekuningan, distensi perut tidak
ada, bising usus 5-15 x/menit.
Tindakan keperawatan:
(1) Observasi bising usus, distensi perut.
Rasional: dengan mengukur bising usus dapat mengetahui kerja dari
peristaltik.

(2) Anjurkan makan makanan yang berserat.
Rasional: meningkatkan konsistensi feses, meningkatkan pengeluaran feses.
(3) Anjurkan pasien untuk mobilisasi di tempat tidur seperti miring kanan dan
kiri.
Rasional: dengan mobilisasi diharapkan peristaltik usus meningkat.
(4) Tingkatkan masukan cairan.
Rasional: dapat menurunkan konstipasi dengan memperbaiki konsisitensi
feses.
d) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan : tidak terjadi kekurangan nutrisi.
Kriteria hasil: meningkatkan pemasukan makanan per oral, keluhan mual muntah
hilang dan nafsu makan meningkat.
Tindakan keperawatan:
(1) Anjurkan makan makanan porsi kecil tapi sering.
Rasional: makan sedikit dan sering dapat mengurangi malabsorpsi dan
distensi dengan menurunkan jumlah protein yang metabolisme.
(2) Hindarkan makanan yang merangsang.
Rasional: makanan merangsang dapat meningkatkan sekresi asam lambung
yang dapat menimbulkan mual.
(3) Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
Rasional: nafsu makan dapat meningkat dengan mengkonsumsi makanan
dalam keadaan hangat.
(4) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam penentuan diet.
Rasional: dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi dalam proses
penyembuhan.
e) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,
penyebab, parawatan dan pengobatan.
Tujuan : pengetahuan pasien bertambah mengenai perawatan pasca pembedahan.
Kriteria hasil: menyatakan pemahaman mengenai perawatan pasca pembedahan.

Tindakan keperawatan:
(1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan pasca pembedahan.
Rasional: untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan pasien.
(2) Beri penjelasan tentang prosedur pembedahan.
Rasional: dengan memberi penjelasan kepada pasien diharapkan
pengetahuan pasien bertambah.
(3) Beri kesempatan pasien untuk bertanya.
Rasional: untuk mengetahui seberapa besar pemahaman pasien terhadap
penjelasan yang diberikan.

Post operasi

a) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder terhadap
pembedahan (appendiktomy).
Tujuan: nyeri hilang atau terkontrol.
Kriteria hasil: pasien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan baik, nadi 80-
84 x/menit, pasien tidak meringis lagi, skala nyeri ringan (1-3).
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10).
Rasional: perubahan karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya
abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.
(2) Ajarkan teknik distraksi seperti berbincang-bincang dan menonton dan relaksasi
seperti nafas dalam.
Rasional: dengan distraksi mengalihkan fokus terhadap nyeri dan relaksasi dapat
meningkatkan koping.
(3) Observasi vital sign.
Rasional: respon nyeri meliputi perubahan TD, nadi dan pernafasan yang
berhubungan dengan keluhan dan tanda vital memerlukan evaluasi
lanjut.

(4) Beri posisi semi fowler
Rasional: menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi
terlentang.
(5) Berikan lingkungan yang tenang.
Rasional: memepercepat penyembuhan pasien.
(6) Berikan analgetik sesuai dengan indikasi.
Rasional: menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan intervensi
lain.
b) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme sekunder
terhadap pembedahan (luka operasi) dan adanya jalur invasif.
Tujuan : infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil: tanda-tanda infeksi tidak ada, mencapai penyembuhan luka tepat
waktu, hasil laboratorium WBC (4,00-11,00 k/ul), bebas drainase
purulen, eritema dan demam.
Tindakan keperawatan:
(1) Gunakan teknik aseptik pada semua prosedur perawatan dan rawat luka dengan
teknik steril.
Rasional: mikroorganisme bisa masuk pada setiap prosedur yang dilakukan.
(2) Observasi tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, tumor, rubor, functiolaesa)
Rasional: deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan melakukan
tindakan dengan segera.
(3) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: dengan adanya infeksi dapat terjadi sepsis.
(4) Delegatif dalam pemberian obat antibiotik.
Rasional: antibiotik dapat membunuh kuman penyebab infeksi.
c) Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat efek anastesi pasca
pembedahan.
Tujuan : pasien dapat beraktivitas secara mendiri.
Kriteria hasil: menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dengan toleransi
aktivitas.
Tindakan keperawatan:
(1) Observasi tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas.
Rasional: diharapkan dapat mengetahui seberapa besar kemampuan pasien
dalam beraktivitas.
(2) Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Rasional: meningkatkan kemampuan pasien untuk beraktivitas secara mandiri
sampai tingkat normal.
(3) Dekatkan alat-alat dan keperluan pasien sehingga mudah dicapai.
Rasional: dengan mendekatkan alat-alat memudahkan pasien untuk menjangkau
dan melatih pasien untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
(4) Bantu pasien dalam pemenuhan aktivitasnya.
Rasional: diharapkan pasien dapat memenuhi kebutuhannya.

4. Pelaksanaan

Pelaksanaan atau implementasi adalah pelaksanaan perencanaan keperawatan
oleh perawat dengan klien.(Keliat, 1996; Grifith-Kenney dan Christensen,1986).
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan yang dimulai
setelah perawat menyusun rencana keperawatan. Implementasi keperawatan adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah
status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan
kriteria hasil yang diharapkan.

5. Evaluasi
Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses perawatan. Evaluasi yang diharapkan
pada teori Appendiksitis adalah:
1) Pre operasi
a) Nyeri hilang atau terkontrol.
b) Ansietas terkontrol.
c) Konstipasi tidak terjadi.
d) Tidak terjadi kekurangan nutrisi.
e) Pengetahuan pasien bertambah tentang perawatan pasca pembedahan.
2) Post operasi
a) Nyeri hilang atau terkontrol.
b) Infeksi tidak terjadi.
c) Pasien dapat beraktivitas secara mandiri.

I. WEB OF COUTION

Benda asing, fekalit, infeksi bacterial
Obstruksi lumen apendiks
Produksi mucus terus menerus
Mucus terbendung
Menekan dinding apendiks
Aliran limfe terganggu

Peningkatan tekanan intralumen Edema Invasi bakteri usus

Appendiks meradang Komplikasi :
(Appendiksitis) -Appendik supuratif akut
-Appendik ganggrenosa
Manifestasi klinis -Appendik perforasi
-Peritonitas


- Pasien dan keluarga - Nyeri tekan pada Infeksi menyebar Kuman menyebar
tampak cemas dan gelisah. perut kuadran kanan ke usus ke umbilikus
- Terlebih lagi karena akan bawah (MC Burney)
dilakukan operasi - Tanda rovsing Iritasi usus Rangsangan nyeri

Peningkatan produk - Muntah
mukus & sekret - Anoreksia
- Mual

Penurunan peristaltik usus



Prosedur pembedahan
Appendiktomy/ laparatomy



Ansietas Nyeri akut
Konstipasi
Perubahan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
Nyeri pada luka Terdapat luka - Pasien tampak lemah Pasien dan keluarga
post operasi post operasi - ADL pasien tampak menanyakan tentang
dibantu perawatan setelah
operasi









Nyeri akut Resiko terhadap
infeksi
Intoleransi
aktivitas
Kurang
Pengetahuan
DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 6. 2005.
Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajaran Medikal Bedah Brunner & Suddarth. 2001. Jakarta: EGC.
Doengoes, M. E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Perencanaan untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. 1999. Jakarta: EGC