Anda di halaman 1dari 11

INSEMINASI BUATAN PADA

KAMBING (Capra aegagrus hircus)





Disusun Oleh :
Arif Taufiqiyah Qadri (125130101111014)

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
RINGKASAN
Salah satu faktor penting yang memengaruhi produktivitas ternak adalah reproduktivitas,
yang terdiri atas tiga komponen, yaitu fertilitas, prolifikasi, dan daya hidup anak sampai dapat
bereproduksi. Kegagalan atau rendahnya reproduktivitas secara alami menyebabkan lambatnya
laju pertambahan populasi. Akibatnya, peningkatan produksi ternak juga rendah. Penerapan
inovasi teknologi reproduksi yang tepat dan benar diharapkan dapat meningkatkan populasi dan
produktivitas ternak, yang akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
petani.Dalam upaya peningkatan mutu bibit sering kali mengelami kendala yakni terbatasnya
pejantan unggul yang ada di suatu lokasi. Agar pejantan lebih banyak mengawini lebih banyak
betina, maka sistem perkawina harus diubah dari perkawinan alami menjadi kawin buatan atau
yang lebih dikenal dengan kawin suntik atau Inseminasi Buatan(IB). Pemanfaatan teknologi IB
mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatkan produktivitas ternak dan
efisiensi usaha, terutama dalam memanfaatkan pejantan unggul, dan penurunan biaya
pemeliharaan pejantan. Teknologi IB berkaitan erat dengan teknik pengenceran dan
penyimpanan semen, pendeteksian waktu berahi, dan teknik inseminasi. Beberapa jenis
pengencer telah dikembangkan untuk mengawetkan semen sapi, kerbau, domba, dan kambing,
seperti lactose, susu skim dan tris-sitrat.













BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Salah satu faktor penting yang memengaruhi produktivitas ternak adalah reproduktivitas,
yang terdiri atas tiga komponen, yaitu fertilitas, prolifikasi, dan daya hidup anak sampai dapat
bereproduksi. Kegagalan atau rendahnya reproduktivitas secara alami menyebabkan lambatnya
laju pertambahan populasi. Akibatnya, peningkatan produksi ternak juga rendah (Wodzicka-
Tomaszewska et al.1991; Sutama et al. 1993). Penerapan inovasi teknologi reproduksi yang
tepat dan benar diharapkan dapat meningkatkan populasi dan produktivitas ternak, yang akhirnya
berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan
untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari
teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel
kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada
hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor
pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara
efisien untuk membuahi banyak betina (Hafez, 1993).
Produktivitas dari setiap jenis ternak secara langsung ataupun tidak langsung tergantung
pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan produktivitas tinggi disertai dengan seleksi
yang baik dalam perkawinan akan meningkatkan produksinya (Lindsay et al., 1982). Usaha yang
dilakukan untuk meningkatkan populasi ternak kambing ialah dengan memperbaiki sistem
manajemen perkawinan melalui penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) (Budiarsana dan
Sutama, 2001). Penerapan teknologi IB yang dilakukan pada ternak mempunyai kendala yaitu
waktu perkawinan yang belum terjadwal yang disebabkan siklus berahi kambing tersebar secara
acak. Jika pelaksanaannya tidak terjadwal dengan baik, maka akan menyulitkan manajemen
perkawinan, pakan, kebuntingan, kelahiran, waktu sapih, dan penjualan ternak yang tidak
terprediksi jumlah maupun waktunya (Inounu, 2003). Ketidaktepatan waktu perkawinan akan
menurunkan angka keberhasilan pada program inseminasi buatan (Haenlein et al., 2004). Waktu
yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah pada bagian kedua periode estrus, yaitu antara
12-18 jam setelah berahi dan diulang keesokan harinya apabila masih menunjukkan gejala berahi
(Hunter, 1985).
Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah di atas adalah
melakukan program sinkronisasi berahi dengan pemberian hormon. Preparat hormon yang sering
digunakan untuk sinkronisasi berahi adalah prostaglandin F2-alfa (PGFa) yang lazim diberikan 2
secara intramuskular. Hormon PGFa akan 2 meregresi korpus luteum, akibatnya kadar hormon
progesteron akan turun. Rendahnya kadar progesteron akan berdampak pada naiknya hormon
FSH yang akan merangsang perkembangan folikel sampai matang dan pada akhirnya akan
menimbulkan gejala berahi pada sapi. Hormon PGFa hanya efektif apabila 2 diberikan pada fase
luteal ketika korpus luteum masih aktif. Jika diberikan pada fase folikuler, maka injeksi PGFa
tidak akan efektif (tidak 2 timbul berahi). Hal ini sesuai dengan pendapat (Partodihardjo, 1995)
bahwa PGFa efektif 2 dalam meregresi korpus luteum yang sudah berfungsi tetapi tidak efektif
pada korpus luteum yang mulai atau sedang tumbuh.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara observasi birahi, perkawinan dan deteksi kebuntingan ?
2. Bagaimana tingkat efisiensi dari Inseminasi Buatan ?
3. Bagaimana teknik inseminasi buatan pada kambing atau dmba ?
4. Apa saja factor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan ?

1.3 Tujuan
Mini paper ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi kepada pembaca tentang
keuntungan dari inseminasi buatan pada kambing. Selain itu penulis juga bertujuan untuk
melengkapi nilai tugas dari mata kuliah Teknik Reproduksi dan Inseminasi Buatan.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Observasi Birahi, Kebuntingan dan Deteksi Kebuntingan
Deteksi berahi dilakukan pada pagi dan sore hari dengan melihat tanda-tanda gejala
berahi seperti pembengkakan dan kemerahan vulva, adanya lendir transparan pada vagina,
perubahan tingkah laku (urinasi yang berlebihan, mengembik terus-menerus, gelisah, dan
mengangkat ekor), dan mau dinaiki pejantan. Pengamatan berahi dilakukan setiap hari mulai hari
pertama setelah penyuntikan kedua sampai hari ke-4. Frekuensi pengamatan tiap 2 jam dengan
lama pengamatan 1 jam. Bila ternak sudah menunjukkan gejala berahi maka dilakukan
inseminasi buatan.
Sebelum dilakukan inseminasi, dilakukan pemeriksaan kualitas semen yang digunakan
dengan mengambil contoh semen dari dalam container, kemudian dilakukan thawing terlebih
dahulu dengan menggunakan air sumur selama 30 detik, dan diamati dengan menggunakan
mikroskop. Pemeriksaaan kualitas semen dilakukan dengan mengukur angka post thawing
motility (PTM). Angka PTM yang dapat digunakan adalah >40%. Inseminasi dilakukan dengan
teknik intraservikal dengan menempatkan semen pada serviks. Inseminasi dilakukan 12 jam
setelah munculnya gejala awal berahi pada kambing dan kemudian diulang keesokan harinya.
Deteksi kebuntingan dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan ultrasonografi (USG) pada
hari ke-30 setelah pelaksanaan inseminasi buatan.

2.2 Tingkat Efisiensi Inseminasi Buatan
Pemanfaatan teknologi IB mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap
peningkatkan produktivitas ternak dan efisiensi usaha, terutama dalam memanfaatkan pejantan
unggul, dan penurunan biaya pemeliharaan pejantan. Teknologi IB berkaitan erat dengan teknik
pengenceran dan penyimpanan semen, pendeteksian waktu berahi, dan teknik inseminasi.
Beberapa jenis pengencer telah dikembangkan untuk mengawetkan semen sapi, kerbau, domba,
dan kambing, seperti laktose (Jellinek et al. 1980), susu skim (Herdis et al. 2002) dan tris-sitrat
(Tambing et al. 2000, 2001, 2003a, 2003b; Sutama 2002; Kostaman dan Sutama 2006).
Berbeda halnya pada sapi, IB pada kambing belum banyak dilakukan. Kesulitan dalam
melakukan deposisi semen intra-uterine merupakan salah satu kendala IB pada kambing. Servik
kambing yang berkelok-kelok (berbentuk spiral) menyulitkan alat inseminasi (insemination gun)
mencapai uterus. Umumnya deposisi semen hanya dapat dilakukan di luar servik atau dalam
vagina sehingga tingkat kebuntingan yang diperoleh masih rendah, yaitu sekitar 30%
(Budiarsana dan Sutama 2001; Ngangi 2002; Sutama et al. 2002b).
Untuk meningkatkan keberhasilan IB, beberapa inovasi teknologi telah diterapkan, antara
lain melakukan IB pada waktu yang tepat (35-40 jam setelah berahi muncul) sebanyak dua kali
dalam selang waktu 12 jam. Melalui teknik ini tingkat kebuntingan meningkat dari 30% menjadi
41-56% (Budiarsana dan Sutama 2001; Sutama et al. 2002b). Tingkat keberhasilan IB yang lebih
tinggi (70-80%) diperoleh dengan melakukan IB di dalam uterus (Susilawati dan Afroni 2008),
dengan menggunakan alat yang dapat melewati servik.

2.3 Teknik Inseminasi Buatan Pada Kambing
Pada prinsipnya, teknik inseminasi Semen untuk IB dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
semen beku dan semen cair. Teknik IB dengan semen beku relatif mudah untuk dilakukan.
Peralatan yang diperlukan berupa spekulum (berbentuk paruh bebek) untuk membuka vagina,
Artificial Insemination (AI) Gun yang berguna untuk menembakkan semen ke dalam leher
rahim, serta plastik sit yang berfungsi untuk menempatkan straw (kemasan semen beku).
Alat lainnya yakni pinset untuk mengambil straw, gunting untuk memotong ujung straw,
dan kertas tisu. Berikutnya adalah mangkok air, yang digunakan untuk pencairan semen beku
dalam straw (thawing). Langkah kegiatan IB dengan menggunakan semen beku dimulai dengan
mengambil straw dari dalam termos atau kontainer secara hati-hati.
Thawing harus dilakukan dalam waktu sekitar 5 detik. Setelah itu ambil dan keringkan
dengan usapan tisu. Tempatkan straw pada ujung AI Gun, lalu guntinglah ujung kemasan straw
tersebut. Pasang plastik sit pada AI Gun, kemudian difiksasi agar posisi straw mantap. Bawa AI
Gun yang telah siap, juga spekulum ke kandang ternak betina.
Dengan pertolongan orang lain untuk mengangkatkedua kaki belakang kambing / domba
sehingga badannya membentuk sudut 40-45 derajat terhadap lantai kandang. Buka vagina ternak
dengan menggunakan spekulum yang sudah diberi pelumas, dan perhatikan posisi lubang cervix.
Masukkan ujung AI Gun melalui lorong spekulum menuju lubang cervix. Dorong hingga ke
posisi empat, atau batas cervix tertahan pada suatu tekanan. Ujung gun kemudian masukkan pada
kedalaman sekitar 1 cm. Semprotkan semen pada bagian tersebut, kemudian tarik AI Gun secara
perlahan-lahan sambil menahan posisi kambing dengan sudut 45 derajat selama 5 menit. Setelah
itu, lepas kedua kaki kambing sehingga dapat berdiri kembali.
Jika menggunakan teknik semen cair, langkah yang harus dilakukan yakni dengan
menampung semen dari seekor kambing atau domba pejantan. Sementara itu, siapkan seekor
betina perangsang (teaser) untuk dinaiki pejantan. Namun, ini tentu saja tidak dimaksudkan
untuk kawin alami. Ketika pejantan mengalami ejakulasi, cairan semen ditampung ke dalam
vagina buatan yang telah disiapkan. Bawa segera semen ke tempat teduh, atau ke dalam ruangan,
untuk dilakukan pengenceran. Patokan pengencerannya yakni, jika volume semen dari seekor
pejantan sebanyak 2 ml, maka dapat diencerkan dengan cairan fisiologis hingga menjadi 4 ml.
Isap cairan semen dengan spuit, yang ujungnya disambung dengan plastik sit. Setiap
betina disuntik dengan cairan semen sebanyak 0,2 ml. Jadi semen yang telah diencerkan
sebanyak 4 ml bisa digunakan untuk membuahi total betina 20 ekor. Semen cair dibawa ke
kandang betina yang birahi, untuk dilakukan kawin suntik, dengan . prosedur sama dengan
teknik IB dengan menggunakan semen beku seperti yang diuraikan sebelumnya.
Teknik IB dengan semen cair memang lebih sederhana, tidak memerlukan perlakuan dan
peralatan khusus. Cara ini terbilang sangat praktis diterapkan pada peternakan yang memiliki
bibit unggul dengan jumlah populasi ternak betina mencapai 50 ekor atau lebih. Setiap kali
melakukan kawin suntik, 12-20 ekor betina bisa memperoleh pelayanan secara bersamaan di
waktu yang sama.
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Inseminasi Buatan
Penerapan bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen
beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan
pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila
salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian
efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).
Permasalahan utama dari semen beku adalah rendahnya kualitas semen setelah
dithawing, yang ditandai dengan terjadinya kerusakan pada ultrastruktur, biokimia dan
fungsional spermatozoa yang menyebabkan terjadi penurunan motilitas dan daya hidup,
kerusakan membran plasma dan tudung akrosom, dan kegagalan transport dan fertilisasi. Ada
empat faktor yang diduga sebagai penyebab rendahnya kualitas semen beku, yaitu (1)
perubahan-perubahan intraseluler akibat pengeluaran air yang bertalian dengan pembentukan
kristal-kristal es; (2) cold-shock (kejutan dingin) terhadap sel yang dibekukan; (3) plasma semen
mengandung egg-yolk coagulating enzyme yang diduga enzim fosfolipase A yang disekresikan
oleh kelenjar bulbourethralis; dan (4) triglycerol lipase yang juga berasal dari kelenjar
bulbourethralis dan disebut SBUIII. Pengaruh yang ditimbulkan akibat fenomena di atas adalah
rendahnya kemampuan fertilisasi spermatozoa yang ditandai oleh penurunan kemampuan sel
spermatozoa untuk mengontrol aliran Ca 2+ (Bailey dan Buhr, 1994). Padahal ion kalsium
memainkan peranan penting dalam proses kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa. Kedua
proses ini harus dilewati oleh spermatozoa selama dalam saluran reproduksi betina sebelum
membuahi ovum. Permasalahan pada kambing betina (akseptor IB) dalam kaitannya dengan
kinerja reproduksi adalah: (1) variasi dalam siklus berahi dan lama berahi, (2) variasi dalam
selang beranak (kidding interval) yang berkaitan dengan involusi uterus; dan (3) gejala
pseudopregnancy (kebuntingan semu).
Faktor terpenting dalam pelaksanaan inseminasi adalah ketepatan waktu pemasukan
semen pada puncak kesuburan ternak betina. Puncak kesuburan ternak betina adalah pada waktu
menjelang ovulasi. Waktu terjadinya ovulasi selalu terkait dengan periode berahi. Pada
umumnya ovulasi berlangsung sesudah akhir periode berahi. Ovulasi pada ternak sapi terjadi 15-
18 jam sesudah akhir berahi atau 35-45 jam sesudah munculnya gejala berahi. Sebelum dapat
membuahi sel telur yang dikeluarkan sewaktu ovulasi, spermatozoa membutuhkan waktu
kapasitasi untuk menyiapkan pengeluaran enzimenzim zona pelucida dan masuk menyatu
dengan ovum menjadi embrio (Hafez, 1993). Waktu kapasitasi pada sapi, yaitu 5-6 jam (Bearden
dan Fuqual, 1997). Oleh sebab itu, peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan
memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan IB. Kegagalan IB
menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak. Apabila semua
faktor di atas diperhatikan diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik
dibandingkan dengan perkawinan alam (Tambing, 2000).
Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi
pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya
perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang
terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi peternakan
akan tercapai.


























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
IB adalah proses memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan
untuk membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar dari
teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan milyar sel
kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu sel telur (oosit) pada
hewan betina diperlukan hanya satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor
pejantan sebagai sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara
efisien untuk membuahi banyak betina.

3.2 Saran
Penerapan IB dimasyarakat perlu untuk disosialisasikan lebih, karena IB dapat membantu
pereknomian masyarakat peternak rumahan maupun perusahaan.
















DAFTAR PUSTAKA
Bailey, J.L and M.M Burh. 1994. Cryopreservation alters the Ca 2+ flux of bovine spermatozoa.
Can. J. Anim. Sci. 74: 45-51.
Beaden, H.J. and J.W. Fuqual. 1997. Applied Animal Reproduction. Reston Publishing Co., Inc.
Prentice Hall Co. Reston Virginia.
Budiarsana, I G.M. dan I K. Sutama. 2001. Fertilitas kambing peranakan etawah pada
perkawinan alami dan inseminasi buatan. hlm. 85-92. Prosiding Seminar Nasional
Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan,
Bogor.
Hafez, E.S.E. 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm
Animals. 6 th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.
Herdis, I. Kusuma, M. Surachman, M. Rizal, I K. Sutama, I. Inounu, B. Purwantara, dan I.
Arifinantini. 2002. Peningkatan kualitas semen beku domba garut melalui
penembahan alfa-tokoferol ke dalam pengencer susu skim kuning telur. Jurnal
Ilmu Ternak dan Veteriner 7(1): 12-17.
Jellinek, P., P. Situmorang, and I K. Sutama. 1980. A lactose base diluent effective in the
preservation of buffalo semen. p. 399-403. Animal Production and Health in the
Tropics. 1 AAAP Science Congress, Serdang, Malaysia.
Kostaman, T. dan I K. Sutama. 2006. Studi motilitas dan daya hidup spermatozoa kambing Boer
pada pengencer trissitrat- fruktose. Jurnal Sain Veteriner 24(1): 58-64.
Tambing, S.N., I K. Sutama, dan R.I. Arifiantini. 2003a. Efektivitas berbagai konsentrasi laktosa
dalam pengencer tris terhadap viabilitas semen cair kambing Saanen. Jurnal Ilmu
Ternak dan Veteriner 8(2): 84-90.