Anda di halaman 1dari 28

PRESENTASI KASUS

MYOMA UTERI





OLEH
RICKY ISKANDAR
61109027
PEMBIMBING : dr. Gunawan B Santoso, Sp. OG (K)

SMF / BAGIAN OBSTETRI DAN GYNECOLOGY
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH EMBUNG FATIMAH
BATAM
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan proses penyusunan Presentasi Kasus ini dengan judul MYOMA
UTERI. Penyelesaian Referat ini banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada :
1. dr. Gunawan B Santoso, Sp. OG (K) selaku Pembimbing dalam penyusunan
presentasi kasus ini.
2. Kedua Orang Tua saya yang selalu memotivasi sehingga penyelesaian Presentasi
Kasus ini bisa terselesaikan tepat waktu.
3. Teman-teman sejawat yang telah banyak memberikan masukan dalam penyelesaian
Presentasi Kasus ini.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Presentasi Kasus ini baik
secara langsung ataupun tidak langsung.
Penulis sangat menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan referat ini. Semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan tenaga kesehatan terkhusus dalam bidang ilmu kedokteran
Kebidanan dan Kandungan.

Batam, September 2013


Penulis
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... i
BAB I Laporan Kasus
1.1 Identitas Pasien ..................................................................................................... 1
1.2 Anamnesis ............................................................................................................. 1
1.3 Pemeriksaan yang dilakukan ................................................................................. 2
1.4 Riwayat selama perawatan di rawat inap .............................................................. 3
1.5 Tatalaksana yang diberikan ................................................................................... 4
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Pengertian ............................................................................................................. 5
2.2 Klasifikasi ............................................................................................................. 5
2.3 Epidemiologi ......................................................................................................... 6
2.4 Etiologi dan Patogenesis ....................................................................................... 7
2.5 Faktor Resiko ........................................................................................................ 8
2.6 Patologi Anatomi .................................................................................................. 10
2.7 Gambaran Klinis dan Keluhan .............................................................................. 11
2.8 Infertilitas dan Abortus ......................................................................................... 13
2.9 Myoma Uteri dan Kehamilan................................................................................ 13
2.10 Diagnosa.................................................................................................... 13
2.11 Diagnosa Banding....................................................................................... 14
2.12 Komplikasi................................................................................................ 14
2.13 Penatalaksanaan.......................................................................................... 15
2.14 Prognosis................................................................................................... 19
BAB III Analisis Kasus........................................................................................ 20
Daftar Pustaka........................................................................................................ 23



BAB I
LAPORAN KASUS
1.1 Identitas
Nama : Ny. Rensia Pasaribu
Tanggal lahir : 11 April 1981 (32 tahun)
Suku/Bangsa : Batak/Indonesia
Agama : Katolik
Alamat : Perum. Merlion Square Blok N/ 12A Rt/Rw.003/020, Tjg.Uncang
Tanggal Masuk : 26 Agustus 2013 (Pasien baru masuk via Poli)
Diagnosis : Myoma Uteri

1.2 Anamnesis
- Keluhan Utama : Mulas mulas
- Keluhan Tambahan : Terkadang terasa sakit di perut
- Perjalanan Penyakit : Menurut pasien keluhan sudah dialami sejak umur 25 tahun.
Namun karena hanya mulas-mulas, pasien tidak pernah periksa ke
dokter hingga umur 28 tahun, pasien periksa ke kandungan oleh
karena menstruasi yang tidak teratur, maka diketahuilah oleh
pasien, bahwa pada dirinya terdapat myoma uteri. Namun hal
tersebut tidak membuat pasien mengambil tindakan untuk operasi
oleh karena berbagai faktor yang tidak disebutkan pasien. Pasien
pernah keguguran pada kehamilan pertama, kemudian pada
kehamilan kedua, pasien melahirkan secara SC, maka dilakukan
juga pengangkatan myoma uteri tersebut. Hingga pada kehamilan
ketiga, pasien melakukan USG pada tanggal 21 Agustus 2013
untuk kontrol kehamilan, keadaan janin baik dan tampak ada
tanda myoma uteri. Namun pasien diberi obat dan kontrol
kembali lagi setelah obat habis, hingga pada tanggal 26, pasien
datang kembali ke poli KIA, dan disarankan untuk dioperasi.
- Riwayat Kehamilan : I, Abortus (2010)
II, Laki-laki, 3200gr, SC + Myomectomy (2011)
III, Hamil ini
- Riwayat Kontrasepsi : Pasien belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
- Riwayat Alergi : Pasien tidak mempunyai alergi obat dan makanan

1.3 Pemeriksaan yang dilakukan
- Tanggal 26 Agustus 2013 Jam 15.30 :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 96
x
/menit

Nafas : 20
x
/menit

a. Kepala
- Bentuk : Normocepali
- Muka : Chloasma Gravidarum (-), edema (-)
- Mata : Konjungtiva Anemis (+), Sklera Ikterik (-)
- Leher : Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-)
b. Thorax
- Jantung : Bunyi Jantung I & II terdengar regular, Murmur(-),
Gallop (-)
- Paru-paru : Nafas terdengar Vesikuler, Wheezing (-), Ronkhi (-)
c. Abdomen
Pemeriksaan Obstetri
- DJJ : 140
x
/menit

- HIS : (+)
- Pemeriksaan Leopold
Leopold I : TFU = 37 cm, TBJ = 3875 gr
Leopold II : Punggung Kiri
Leopold III : Teraba Keras (Kepala)
Leopold IV : Sudah masuk PAP
d. Ektremitas
- Edema : Negatif
e. Genitalia
- VT : Tidak dilakukan
f. Diagnosa Sementara
- G3P1A1 Gravid 39 minggu 1 hari + ProSC a/i SC 1x
USG (21 Agustus 2013) => Kandungan Baik + Myoma Uteri
Laboratorium (21 Agustus 2013) => Darah Rutin dan Urinalisa
Darah Rutin Urinaria
- Haemoglobin : 11.3
- Lekosit : 9300
- Hematokrit : 35
- Eritrosit : 4.5
- Trombosit : 352
- Masa Pendarahan : 2.6 menit
- Masa Pembekuan : 8.7 menit
- Golongan darah : A/Rh +
- Glukosa Sewaktu : 95
- Warna : Kuning
- Kejernihan: Jernih
- BJ : 1.010
- pH : 6.5
- Lekosit : +3
- Protein : +
- Eritrosit : -
- Urobilinogen: -
- Bilirubin : -
- Glukosa : -
- Keton : -
- Sedimen : leukosit 18-20
LPB/LPK, eritrosit 2-3
LPB/LPK, epi 10-14 LPB/LPK

1.4 Riwayat selama perawatan di Rawat Inap

26 Agustus 2013 - S : Keluhan (-)
- O : Ku => baik, Kesadaran => Compos mentis, TD = 120/80
mmHg
- A : Myoma uteri + pro SC
27 Agustus 2013 - S : Keluhan (-)
- O : Ku => baik, Kesadaran => Compos mentis, TTV (TD =
130/80 mmHg, N = 80 x/i, R = 18 x/i
- P : confirm ulang dari dr. Gunawan, dr. Suta dan tim OK
Setelah SC :
- S : nyeri luka post op (+), mobilisasi (-).
- O : Ku => baik, Kesadaran => Compos mentis, ttv (td= 120/80
mmHg, n= 76x/i, r= 22 x/I, t= 36,3 C)
28 Agustus 2013 - S : nyeri perut (+), demam, pusing, mobilisasi (+)
- O : Ku => baik, Kesadaran => Compos mentis, P/V (+) tidak
mengalir. TTV (TD = 120/90 mmHg, N = 85 x/i, R = 20 x/i )
29 Agustus 2013 - S : Keluhan (-)
- O : Ku => baik, Kesadaran => Compos mentis.
- P : Pulang

1.5 Tatalaksana yang diberikan
- Poli : Rencana SC + Myomectomy
- Rawat Jalan :
Pro SC:

26 Agustus 2013 R/ operasi besok jam 08.00 WIB, pemasangan infuse RL 20 tti
dan kateter.
27 Agustus 2013 Injeksi Ceftriaxone 2gr
Injeksi Dexamethasone 2amp

Post SC :

27 Agustus 2013 Inj Ceftriaxone 1gr (13.30, 21.00)
Inj Gentamycin 1 amp (13.30, 21.00)
Inj Tramadol 1 amp (13.30, 21.00)
28 Agustus 2013 Inj Ceftriaxone 1gr (06.00, 12.30. 18.30)
Inj Gentamycin 1 amp (06.00, 14.30)
Inj Tramadol 1 amp (06.00)
29 Agustus 2013 Th/ obat oral lanjut. Pasien boleh pulang.




BAB II
TEORI MIOMA UTERI
2.1. Pengertian Mioma Uteri

Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel
jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen (Hadibroto, 2005).

Mioma uteri disebut juga dengan leimioma uteri atau fibromioma uteri. Mioma
ini berbentuk padat karena jaringan ikat dan otot rahimnya dominan. Mioma uteri
merupakan neoplasma jinak yang paling umum dan sering dialami oleh wanita.
Neoplasma ini memperlihatkan gejala klinis berdasarkan besar dan letak mioma
(Manuaba, 2001).

2.2. Klasifikasi
Mioma Uteri dapat terletak di bawah permukaan endometrium atau
desidua rongga uterus (submukosa), tepat di bawah serosa uterus (subserosa), atau
terbatas di miometrium (intramural). Mioma Intramural, seiring dengan
pertumbuhannya, dapat membentuk komponen subserosa atau submukosa, atau
keduanya. Mioma subserosa atau submukosa kadang-kadang melekat ke uterus
hanya melalui sebuah tangkai (pedunkulata). Tumor ini dapat mengalami torsio disertai
nekrosis dan terlepas dari uterus. Kadang-kadang mioma subserosa menjadi parasitik,
dan sebagian atau semua aliran darahnya berasal dari omentum yang banyak
mengandung pembuluh darah.
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3%,
sisanya adalah dari korpus uterus.
Menurut letaknya, mioma dapat kita dapati sebagai :
a. Mioma Submukosa : berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam
rongga uterus. Mioma submukosa dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomgeburt)

b. Mioma Intramural : mioma terdapat di dinding uterus diantara serabut
miometrium
c. Mioma Subserosum : apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga
menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa.

d. Mioma Intraligmenter : Mioma subserosum dapat tumbuh di antara
kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter. Mioma
subserosum dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus,
sehingga disebut wandering/parasitic fibroid. Jarang sekali ditemukan satu
macam mioma saja dalam satu uterus (Prawirohardjo, 2008).



Gambar 2.1 : Jenis Mioma Uteri dan Lokasinya
(Sumber: Martin L.Pernoll, 2001)

2.3. Epidemiologi

Mioma uterus, atau disebut juga sebagai leiomioma atau fibroid
merupakan tumor jinak yang sering ditemukan pada wanita usia reproduktif
(20-25%). Pada usia > 35 tahun kejadiannya lebih tinggi., yaitu mendekati angka
40%. Tingginya kejadian mioma uterus antara usia 35 tahun dan usia 50 tahun
menunjukan adanya hubungan kejadian mioma uterus dengan estrogen. Pada usia
menopause terjadi regresi mioma uterus. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
Fardhan et-al di Nepal, mengatakan bahwa keluhan penderita yang banyak
ditemukan adalah perdarahan pervaginam yaitu sebesar 73%, diikuti pembesaran
perut bagian bawah dan nyeri sebesar 58,4%, dismenore ditemukan sebesar 18,2%
serta keluhan penderita dengan infertilitas sebesar 7,3%.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Ran Ok et-al di Pusan St. Benedict
Hospital Korea yang dilakukan terhadap 815 kasus mioma uteri diketahui bahwa
kasus mioma uteri tebanyak terjadi pada kelompok usia 40-49 tahun dengan usia
rata-rata 42,97 tahun. Keluhan utama terbanyak pada penderita mioma uteri adalah
perdarahan pervaginam abnormal (44,1%). Mioma uteri tipe intramural adalah yang
terbanyak dari tipe mioma uteri secara patologi anatomi (51,3%). Kadar haemoglobin
(Hb) rata-rata penderita mioma uteri adalah 10,92 g/dl dan 37,6% diantaranya
dilakukan transfusi darah. Histerektomi total ditemukan sebagai tindakan
penatalaksanaan terbanyak pada kasus-kasus mioma uteri (91,5%) (Muzakir, 2008).

2.4. Etiologi dan Patogenesis

Penyebab utama mioma uteri belum diketahui secara pasti sampai saat ini,
tetapi penyelidikan telah dijalankan untuk memahami keterlibatan faktor hormonal,
faktor genetik, growth factor, dan biologi molekular untuk tumor jinak ini.
Faktor yang diduga berperan untuk inisiasi pada perubahan genetik pada mioma uteri
adalah abnormalitas intrinsik pada miometrium, peningkatan reseptor estrogen secara
kongenital pada miometrium, perubahan hormonal, atau respon kepada kecederaan
iskemik ketika haid. Setelah terjadinya mioma uteri, perubahan-perubahan genetik ini
akan dipengaruhi oleh promoter (hormon) dan efektor (growth factors) (Parker, 2007).
Mioma uteri yang berasal dari sel otot polos miometrium, menurut teori
onkogenik maka patogenesa mioma uteri dibagi menjadi 2 faktor yaitu inisiator dan
promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan mioma masih belum
diketahu pasti. Dari penelitian menggunakan glucose-6-phosphatase dihydrogenase
diketahui bahwa mioma berasal dari jaringan uniseluler.
Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi
somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks
dan growth factor lokal. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam proses
pertumbuhan tumor (Hadibroto, 2005).
Tidak dapat dibuktikan bahwa hormon estrogen berperan sebagai
penyebab mioma, namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan mioma.
Mioma terdiri dari reseptor estrogen dengan konsentrasi yang lebih tinggi
disbanding dari miometrium sekitarnya namun konsentrasinya lebih rendah dibanding
endometrium. Hormon progesteron meningkatkan aktifitas mitotik dari mioma pada
wanita muda namun mekanisme dan faktor pertumbuhan yang terlibat tidak diketahui
secara pasti. Progesteron memungkinkan pembesaran tumor dengan cara down-
regulation apoptosis dari tumor. Estrogen berperan dalam pembesaran tumor dengan
meningkatkan produksi matriks ekstraseluler (Hadibroto, 2005), (DeCherney, 2007).

2.5. Faktor Risiko

A. Usia penderita

Wanita kebanyakannya didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40 keatas;
tetapi, kebenarannya masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi
adalah disebabkan oleh peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara
sekunder terhadap perubahan hormon pada waktu usia ini (Parker, 2007).
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma. Mioma belum pernah dilaporkan terjadi sebelum
menarche dan setelah menopause hanya 10% mioma yang masih bertumbuh
(Prawirohardjo, 2008).


B. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)

Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil
histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon esterogen
endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau sedikit (Parker,
2007).

C. Riwayat Keluarga

Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma
uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita mioma
uteri dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai
2 kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth factor)
dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga
penderita mioma uteri (Parker, 2007).

D. Berat badan

Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita
mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat badan dan
dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan
untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas
menyebabkan pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan menurunkan
hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan estrogen secara
biologikal yang bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan prevalensi mioma uteri
dan pertumbuhannya (Parker, 2007).

E. Makanan

Beberapa studi telah meneliti hubungan antara diet dan kehadiran atau
pertumbuhan mioma. Satu studi menemukan bahwa daging sapi, daging merah lainnya,
dan daging babi meningkatkan kejadian mioma uteri, tapi sayuran hijau biasa
menurunkan kejadian mioma uteri. Tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin,
serat atau phytoestrogen berhubungan dengan mioma uteri (Parker, 2007).

F. Kehamilan dan Paritas

Angka kejadian mioma uteri bervariasi dari hasil penelitian yang pernah
dilakukan ditemukan sebesar 0,3 % 7,2 % selama kehamilan. Kehamilan dapat
mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar estrogen dalam kehamilan dan
bertambahnya vaskularisasi ke uterus. Kedua keadaan ini kemungkinan dapat
mempercepat pembesaran mioma uteri (Muzakir, 2008)

G. Kebiasaan Merokok

Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang dapat
menurunkan bioavailabilitas hormon estrogen pada jaringan, seperti penurunan konversi
androgen kepada estrogen dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin (Parker,
2007).

2.6. Patologi Anatomi

Pada gambaran makroskopik menunjukkan suatu tumor berbatas jelas,
bersimpai, pada penampang menunjukkan massa putih dengan susunan lingkaran-
lingkaran konsentrik di dalamnya. Tumor ini bisa terjadi secara tunggal tetapi
kebanyakkan terjadi secara multipel dan bertaburan pada uterus dengan ukuran yang
berbeda-beda. Perubahan-perubahan sekunder yang terjadi pada mioma uteri adalah:
1. Atrofi:
Sesudah kehamilan atau sesudah menopause mioma uteri menjadi kecil.

2. Degenerasi Hialin:
Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor kehilangan
struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau sebagian kecil
daripadanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok
lainnya.
3. Degenerasi Kistik:
Dapat meliputi daerah kecil maupun luas, di mana sebagian dari mioma menjadi cair,
sehingga terbentuk ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat juga terjadi
pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma.
Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dengan kista ovarium atau
suatu kehamilan.

4. Degenerasi membatu (Calcireous Degeneration):
Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh kerana adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma
menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

5. Degenerasi merah (Carneous Degeneration):
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis terjadinya
diperkirakan kerana suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah bewarna merah
disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas
apabila pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan,
tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan

6. Degenerasi lemak (Myxomatous Degeneration)
Jarang terjadi dan merupakan lanjutan degenerasi hialin (Prawirohardjo, 2008).

2.7. Gambaran Klinis dan Keluhan

Kebanyakan kasus ditemui secara kebetulan kerana tumor ini tidak
mengganggu. Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini
berada, ukuran tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi. Gejala yang terjadi
dapat digolongkan seperti berikut:

1. Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia
dan dapat juga terjadi metroragia. Antara penyebab pe\rdarahan ini adalah:
pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai
adenokarsinoma endometrium
permukaan endometrium yang lebih luas dari biasa
atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
miometrium tidak dapat berkontraksi optimal kerana adanya sarang mioma di
antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang
melaluinya dengan baik (Prawirohardjo, 2008). Disebabkan permukaan
endometrium yang menjadi lebih luas akibat pertumbuhan mioma, maka
lebih banyak dinding endometrium yang terhakis ketika menstruasi dan
ini menyebabkan perdarahan abnormal. Walaupun menstruasi berat sering
terjadi tetapi siklusnya masih tetap (Hart, 2000).

Perdarahan abnormal ini terjadi pada 30% pasien mioma uteri dan perdarahan
abnormal ini dapat menyebabkan anemia defisiensi besi. Pada suatu penelitian
yang mengevaluasi wanita dengan mioma uteri dengan atau tanpa perdarahan
abnormal, didapat data bahwa wanita dengan perdarahan abnormal secara bermakna
menderita mioma intramural (58% banding 13%) dan mioma submukosum (21%
banding 1%) dibanding dengan wanita penderita mioma uteri yang asimtomatik
(Hadibroto, 2005).

2. Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul kerana gangguan
sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan
peradangan (Prawirohardjo, 2008).
Nyeri panggul yang disebabkan mioma uteri bisa juga disebabkan
degenerasi akibat oklusi vaskuler,infeksi,torsi dari mioma yang bertangkai maupun
akibat kontraksi miometrium yang disebabkan mioma subserosum.Tumor yang
besar dapat mengisi rongga pelvik dan menekan bagian tulang pelvik yang dapat
menekan saraf sehingga menyebabkan rasa nyeri yang menyebar ke bagian punggung
dan ekstremitas posterior (Hadibroto, 2005).

3. Gejala tanda penekanan
Gangguan ini tergantung pada tempat dan ukuran mioma uteri. Penekanan pada
kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio
urin, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di
panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul (Prawirohardjo, 2008).

2.8. Infertilitas dan Abortus

Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan pars
interstisialis tuba, sedangakn mioma submukosum juga memudahkan terjadinya
abortus oleh kerana distorsi rongga uterus (Prawirohardjo, 2008).

2.9. Mioma Uteri dan Kehamilan

Selain dari potensi mioma untuk menyebabkan infertilitas dan abortus,
kehamilan itu sendiri dapat menimbulkan perubahan pada mioma uteri seperti:
1. Tumor membesar terutama pada bulan-bulan pertama kerana pengaruh estrogen
yang kadarnya meningkat.
2. Dapat terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas.
3. Meskipun jarang mioma uteri bertangkai tetapi dapat juga mengalami torsi
dengan gejala dan tanda sindrom abdomen akut (Prawirohardjo, 2008).

2.10. Diagnosa Mioma Uteri

1. Anamnesis:
Dari proses tanya jawab dokter dan pasien dapat ditemukan penderita
seringkali mengeluh rasa berat dan adanya benjolan pada perut bagian bawah, kadang
mempunyai gangguan haid dan ada nyeri.

2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan bimanual akan mengungkap tumor pada uterus, yang umumnya
terletak di garis tengah atau pun agak ke samping,seringkali teraba terbenjol-
benjol. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai yang berhubung dengan
uterus (Prawirohardjo, 2008).

3. Pemeriksaan Penunjang
o Ultra Sonografi (USG): mioma uteri yang besar paling bagus didiagnosis
dengan kombinasi transabdominal dan transvaginal sonografi. Gambaran
sonografi mioma kebiasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas, hypoechoic dan
degenerasi kistik menunjukkan anechoic.
o Magnetic Resonance Imagine (MRI): lebih baik daripada USG tetapi mahal. MRI
mampu menentukan saiz, lokasi dan bilangan mioma uteri serta bisa
mengevaluasi jarak penembusan mioma submukosa di dalam dinding miometrium
(Parker, 2007).

2.11 Diagnosa Banding

Diagnosa banding yang perlu dipikirkan adalah tumor abdomen di bagian
bawah atau panggul ialah mioma subserosum dan kehamilan; mioma submukosum
yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri; mioma intramural harus
dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau
suatu sarkoma uteri (Prawirohardjo, 2008).

2.12 Komplikasi Mioma Uteri

Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari
seluruh mioma, serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan
umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila
terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause (Prawirohardjo, 2008).


Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom
abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini
hendaklah dibedakan dengan suatu keadaan di mana terdapat banyak sarang
mioma dalam rongga peritoneum (Prawirohardjo, 2008).
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan kerana
gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan
hingga perdarahan berupa metroragia atau menoragia disertai leukore dan ganggua n
yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri (Prawirohardjo, 2008).


Gambar 2.3: Ringkasan komplikasi Mioma Uteri
(Sumber: Hart D.M, Norman J, 2000)

2.13 Penatalaksanaan Mioma Uteri

Perkembangan penatalaksanaan baru untuk myoma uteri sangatlah lambat,
hal ini dikarenakan kebanyakkan penderita adalah asimtomatik, bersifat jinak, dan
angka kematian yang rendah. Sekalipun tidak diberi pengobatan pada mioma uteri,
jarang terdapat kasus yang membahayakan, kecuali pada penderita yang mengalami
anemia berat dan hidronephrosis oleh karena obstruksi dari ureter yang dikarenakan
oleh myoma uteri. Terdapat terapi medikamentosa dan juga terapi pembedahan pada
myoma uteri.
1. Terapi Medikamentosa

a. GnRH Agonis, Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH)
agonis memberikan hasil yang baik memperbaiki gejala klinis mioma uteri.
Tujuan pemberian GnRH agonis adalah mengurangi ukuran mioma dengan
jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Pemberian GnRH agonis
sebelum dilakukan tindakan pembedahan akan mengurangi vaskularisasi pada
tumor sehingga akan memudahkan tindakan pembedahan. Terapi hormonal
yang lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat progesteron akan
mengurangi gejala pendarahan tetapi tidak mengur angi ukuran mioma uteri
(Hadibroto, 2005). Namun pemakaian obat ini harus hati-hati oleh karena
keadaan hypoestrogen yang akan menyebabkan kehilangan massa tulang setelah
pemakaian 6 bulan (Novak, 2011).
b. GnRH Antagonis, pada penelitian, injeksi GnRH antagonis selama 3 minggu
akan menekan GnRH endogen sehingga terjadi reduksi sebesar 29% pada
ukuran myoma (Novak, 2011).
c. NSAI D, tidak efektif terhadap pasien myoma uteri dengan perdarahan, pada
penelitian plasebo terhadap 25 wanita dengan menorrhagia, 11 diantaranya
terdapat myoma uteri, ditemukan pengurangan dalam perdarahan hanya pada
wanita dengan perdarahan idiopatik, namun tidak ada pengurangan pada wanita
dengan myoma uteri (Novak, 2011).

2. Terapi pembedahan
Indikasi terapi bedah untuk mioma uteri menurut American College of
obstetricians and Gyneclogist (ACOG) dan American Society of Reproductive
Medicine (ASRM) adalah
a. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif
b. Sangkaan adanya keganasan
c. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
d. Infertilitas kerana ganggaun pada cavum uteri maupun kerana oklusi tuba
e. Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu
f. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
g. Anemia akibat perdarahan (Hadibroto,2005)

Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi atau histerektomi.

1. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan
uterus. Miomektomi ini dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Tindakan ini dapat dikerjakan
misalnya pada mioma submukosum dengan cara ekstirpasi lewat vagina. Apabila
miomektomi ini dikerjakan kerana keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan
akan terjadi kehamilan adalah 30-50% (Prawirohardjo, 2008). Tindakan miomektomi
dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi maupun dengan laparoskopi. Pada
laparotomi, dilakukan insisi pada dinding abdomen untuk mengangkat mioma dari
uterus. Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang operasi yang
lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang mungkin timbul pada
pembedahan miomektomi dapat ditangani dengan segera. Namun pada miomektomi
secara laparotomi resiko terjadi perlengketan lebih besar, sehingga akan mempengaruhi
faktor fertilitas pada pasien, disamping masa penyembuhan paska operasi lebih lama,
sekitar 4-6 minggu.
Pada miomektomi secara histeroskopi dilakukan terhadap mioma submukosum
yang terletak pada kavum uteri.Keunggulan tehnik ini adalah masa penyembuhan paska
operasi sekitar 2 hari. Komplikasi yang serius jarang terjadi namun dapat timbul
perlukaan pada dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit dan perdarahan.
Miomamektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi.
Mioma yang bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat dengan mudah secara
laparoskopi. Mioma subserosum yang terletak didaerah permukaan uterus juga dapat
diangkat dengan tehnik ini. Keunggulan laparoskopi adalah masa penyembuhan paska
operasi sekitar 2-7 hari. Resiko yang terjadi pada pembedahan ini termasuk
perlengketan, trauma terhadap organ sekitar seperti usus, ovarium,rektum serta
perdarahan.
Sampai saat ini miomektomi dengan laparoskopi merupakan prosedur
standar bagi wanita dengan mioma uteri yang masih ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya (Hadibroto, 2005).
Terkadang miomektomi juga dilakukan pada saat operasi cesar, pada penelitian
terhadap 25 wanita dengan pengangkatan 84 myoma dengan ukuran 2-10 cm pada saat
operasi cesar didapatkan perkiraan kehilangan darah sekitar 876mL, dan 5 wanita
membutuhkan transfusi darah (Novak, 2011).

2. Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya adalah tindakan
terpilih (Prawirohardjo, 2008).Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30%
dari seluruh kasus. Histerektomi dijalankan apabila didapati keluhan menorrhagia,
metrorrhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia
kehamilan 12-14 minggu (Hadibroto, 2005).
Tindakan histerektomi dapat dilakukan secara abdominal (laparotomi),
vaginal dan pada beberapa kasus dilakukan laparoskopi.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total
abdominal hysterectomy (TAH) dan subtotal abdominal histerectomy (STAH). Masing-
masing prosedur ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan untuk
menghindari resiko operasi yang lebih besar seperti perdarahan yang banyak,
trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan rektum. Namun dengan
melakukan STAH kita meninggalkan serviks, di mana kemungkinan timbulnya
karsinoma serviks dapat terjadi. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada
tungkul vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdaraahn paska
operasi di mana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH.
Histerektomi juga dapat dilakukan pervaginanm, dimana tindakan operasi tidak
melalui insisi pada abdomen. Secara umum histerektomi vaginal hampir seluruhnya
merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat
minimal sehingga trauma yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Maka
histerektomi pervaginam tidak terlihat parut bekas operasi sehingga memuaskan
pasien dari segi kosmetik. Selain itu kemungkinan terjadinya perlengketan
paska operasi lebih minimal dan masa penyembuhan lebih cepat dibandng histerektomi
abdominal.
Histerektomi laparoskopi ada bermacam-macam tehnik. Tetapi yang dijelaskan
hanya 2 iaitu; histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi (Laparoscopically
assisted vaginal histerectomy/ LAVH) dan classic intrafascial serrated edged
macromorcellated hysterectomy (CISH) tanpa colpotomy.
Pada LAVH dilakukan dengan cara memisahkan adneksa dari dinding
pelvik dengan memotong mesosalfing kearah ligamentum kardinale dibagian
bawah, pemisahan pembuluh darah uterina dilakukan dari vagina.
CISH pula merupakan modifikasi dari STAH, di mana lapisan dalam dari
serviks dan uterus direseksi menggunakan morselator. Dengan prosedur ini diharapkan
dapat mempertahankan integritas lantai pelvik dan mempertahankan aliran darah pada
pelvik untuk mencegah terjadinya prolapsus. Keunggulan CISH adalah mengurangi
resiko trauma pada ureter dan kandung kemih, perdarahan yang lebih minimal,waktu
operasi yang lebih cepat, resiko infeksi yang lebih minimal dan masa penyembuhan
yang cepat. Jadi terapi mioma uteri yang terbaik adalah melakukan histerektomi. Dari
berbagai pendekatan, prosedur histerektomi laparoskopi memiliki kelebihan kerana
masa penyembuhan yang singkat dan angka morbiditas yang rendah dibanding
prosedur histerektomi abdominal (Hadibroto, 2005).

2.14 Prognosis
Histerektomi dengan pengangkatan seluruh mioma bersifat kuratif. Pada
miomektomi, uterus dan kavitasnya dapat kembali ke bentuk yang normal. Satu hal
yang penting diperhatikan adalah adanya resiko rekuren setelah miomektomi.
Penelitian menunjukkan adanya insiden sekitar 2-3% pertahun dari symptomatic
myoma setelah miomektomi (DeCherney, 2007).





BAB III
ANALISIS KASUS
Seorang perempuan berusia 32 tahun diantar oleh suaminya datang ke VK via Poliklinik KIA
Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah Kota Batam pada tanggal 26 Agustus 2013
dengan keluhan mulas-mulas.


Pada pemeriksaan fisik di dapatkan tanda vital pasien :
Tekanan darah (TD) : 140/90 mmhg
Nadi (HR) : 80x/menit
Respirasi (RR) : 16x/menit


Dari inspeksi fisik pasien terlihat edema pada wajah maupun tungkai. Berdasarkan anamnesa
di dapatkan bahwa pasien mulas dan terkadang mengalami sakit perut dan pada riwayat
kehamilan didapati bahwa pasien pernah mengalami keguguran sebelumnya serta pada
pemeriksaan USG tanggal 21 Agustus didapatkan tanda myoma uteri.
Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan
selanjutnya, yaitu pemeriksaan darah dan urin. Dari hasil pemeriksaan tersebut di dapatkan:
Darah Rutin Urinaria
- Haemoglobin : 11.3
- Lekosit : 9300
- Hematokrit : 35
- Eritrosit : 4.5
- Trombosit : 352
- Masa Pendarahan : 2.6 menit
- Masa Pembekuan : 8.7 menit
- Warna : Kuning
- Kejernihan: Jernih
- BJ : 1.010
- pH : 6.5
- Lekosit : +3
- Protein : +
- Eritrosit : -
- Golongan darah : A/Rh +
- Glukosa Sewaktu : 95
- Urobilinogen: -
- Bilirubin : -
- Glukosa : -
- Keton : -
- Sedimen : leukosit 18-20
LPB/LPK, eritrosit 2-3
LPB/LPK, epi 10-14 LPB/LPK
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan
dapat ditegakkan bahwa pasien ini G3P1A1 Gravid 39 minggu 1 hari + Pro SC + Myomectomi
a/i ReSC + Myoma Uteri
Dikatakan pasien menderita myoma uteri karena:
Hasil USG menunjukkan adanya tanda myoma uteri
Mulas dan sakit perut yang merupakan salah satu dari tanda myoma uteri
Riwayat Menstruasi yang tidak teratur
Riwayat Myomectomy sebelumnya

Pada operasi, diangkat dua buah jaringan, namun jaringan pertama pecah dengan dugaan
merupakan myoma uteri degenerasi cystic, dimana sudah terjadi likuifaksi. Kemudian diangkat
jaringan kedua berukuran 3,5 x 3,0 x 2,5 cm, berwarna putih kecoklatan. Pada lamelasi tampak
massa padat putih kecoklatan, berjaras-jaras.


Tampak Makroskopis Myoma Uteri


Jaringan kemudian diantar ke bagian Patologi Anatomi untuk diperiksakan jaringannya, dan
dari hasil pemeriksaan didapatkan sediaan operasi dari uterus berupa massa tumor terdiri dari
sel-sel myosit dan fibrosit yang tumbuh hiperplastis, memadat tersusun simpang siur, sebagian
membentuk struktur fasikulus, inti sel dalam batas normal, dan tidak tampak sel ganas, dengan
kesimpulan akhir, Leimyoma Uteri.


Tampak Mikroskopis Myoma Uteri

Tampak Mikroskopis dengan Pembesaran 400x





DAFTAR PUSTAKA

DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. 2007. Current Diagnosis &
Treatment Obstetrics & Gynecology 10
th
Edition. USA: McGraw-Hill Companies

Hadibroto, Budi, R.,2005. Mioma Uteri. Majalah Kedokteran Nusantara, Volume
38, No.3,September 2005, Medan.

Jonathan, Berek S. 2011. Berek & Novak Gynecology, 15th ed. Copyright: Lipincott
Williams & Wilkins.

Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta. Penerbit EGC.

Muzakir, 2008. Profil Penderita Mioma Uteri di RSUD Arifin Achmad Propinsi
Riau Periode 1 Januari-31 Desember 2006. Available from:
http://yayanakhyar.wordpress.com/2008/04/25/profil-mioma-uteri-rsud-aa/. Last updated: 25
April 2008 [ di akses 30 Agustus 2013].

Parker, William H. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas.
Volume 87. Department of Obstetrics and gynecology UCLA School of Medicine, Los Angeles,
California.American Society for Reproductive Medicine, 2007. 725-733.
Prawirohardjo S, Wiknjosastro H. 2008. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: PT Bina
Pustaka, Sarwono Prawirohardjo.