Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

ANESTESI PADA OPERASI MATA



OLEH
RICKY ISKANDAR
61109027

PEMBIMBING : Dr. Indah Waty Muchlis, Sp.An
Dr. Hendry Suta, Sp.An

SMF / BAGIAN ILMU ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH EMBUNG FATIMAH
BATAM
2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proses penyusunan Referat ini dengan
judul ANESTESI PADA OPERASI MATA. Penyelesaian Referat ini banyak
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada :
1. Dr. Indah Waty Muchlis, Sp.An dan Dr. Hendry Suta, Sp.An selaku
supervisor SMF Ilmu Anestesi RSUD Embung Fatimah Kota Batam.
2. Kedua Orang Tua saya yang selalu memotivasi sehingga penyelesaian
Referat ini bisa terselesaikan tepat waktu.
3. Teman-teman sejawat yang telah banyak memberikan masukan dalam
penyelesaian Referat ini.
4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Referat ini baik
secara langsung ataupun tidak langsung.
Penulis sangat menyadari bahwa Referat ini masih jauh dari kata sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan referat ini.
Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan tenaga kesehatan
terkhusus dalam bidang Ilmu Anestesi.

Batam, Maret 2014


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL.. .................................................................................... . i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata ....................................................... 3
2.2. Tekanan Dinamis Intraokuler ..................................................... 3
2.2.1 Fisiologi Tekanan Intraokuler .................................................... 3
2.2.2 Efek Obat-Obat Anestesi pada Tekanan Intraokuler .................. 11
2.3 Refleks Okulukardiak ................................................................. 13
2.4 Ekspansi Gas Intraokuler ............................................................ 14
2.5 Efek-Efek Sistemik dari Obat-Obat Mata ............................... 15
2.6 Anestesi Umum Pada Operasi Mata ............................................ 16
2.7 Anestesi Regional Untuk Operasi Mata ...................................... 19
2.8 Keadaan Spesifik Klinik dan Komplikasi .................................... 22
BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan ......................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pasien-pasien mata umumnya memiliki risiko khusus terhadap tindakan anestesi.
Pasien biasanya datang dengan umur yang ekstrim, sangat muda atau justru sangat tua.
Oleh karenanya,kondisi medis yang mendasari keadaan pasien tersebut dapat
memperberat risiko anestesi, demikian juga halnya respon pasien terhadap obat-obat
anestesi yang diberikan. Seringnya, pasien-pasien mata yang mendapat pengobatan
sehubugan dengan penyakit mata yang mereka derita dapat memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap tatalaksana anestesi. Terdapat variasi data mortalitas yang berkaitan
dengan tindakan anestesi pada operasi-operasi mata sejak tahun 1960 sampai 1970-an,
yaitu berkisar antara 0.06% 0.16% tanpa membedakan apakah pasien mendapat
tindakan anestesi lokal atau umum.
1

Quigley pada tahun 1974 menyatakan bahwa morbiditas yang berkaitan dengan
tindakan anestesi pada pembedahan mata termasuk di dalamnya mual, muntah,
perdarahan retrobulbar, perforasi dan hilangnya humor vitreous.
2

Pengetahuan mengenai anatomi dan fisiologi mata merupakan hal yang penting
bagi seorang dokter anestesi, diantaranya adalah pemahaman tentang tekanan intra
okuler (TIO) serta bagaimana tekanan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa penyakit
dan obat-obatan, termasuk obat-obatyang digunakan dalam tindakan anestesi.
3
Karena,
salah satu tujuan penting dalam tatalaksana anestesi selama tindakan pembedahan mata
adalah mengupayakan agar TIO tetap terkendali. Terutama sekali pada tindakan
pembedahan mata sistem terbuka, dimana variasi perubahan TIO yang besar selama
pembedahan dapat berakibat terjadinya kerusakan pada fungsi penglihatan paska
operasi. Pada pasien-pasien seperti ini, tindakan-tindakan yang dapat berkontribusi
terhadap terjadinya suatu peningkatan TIO, termasuk stres mekanik ataupun
farmakologik, haruslah dihindarkan.
4
Usaha-usaha untuk mengendalikan TIO dalam
rentang nilai yang fisiologis (berkisar antara 10-20 mmHg) merupakan suatu keharusan
untuk mempertahankan kondisi anatomis yang diperlukan untuk fungsi refraksi dan
penglihatan yang optimal. Pentingnya TIO pada seorang dokter anestesi adalah sebagai
berikut:

1) Pasien dengan peningkatan TIO yang terjadi secara akut atau kronis yang
menjalani tindakan pembedahan korektif.
2) Pasien dengan peningkatan TIO kronik yang menjalani tindakan pembedahan
non-ophthalmic
.
3) Pasien dengan tindakan pembedahan bola mata terbuka akibat adanya
penetrating eye injury.
4) Beberpa obat dan tindakan yang digunakan dalam anestesi yang dapat
mempengaruhi TIO




















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi dan Fisiologi Mata

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang
paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang
atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian
visual.

Organ luar



Organ dalam
Bagian-bagian pada organ mata bekerjasama mengantarkan cahaya dari sumbernya
menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf manusia. Bagian-bagian tersebut
adalah:
Kornea
Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber
cahaya.

Sklera
Merupakan bagian dinding mata yang berwarna putih. Tebalnya rata- rata 1
milimeter tetapi pada irensi otot, menebal menjadi 3 milimeter.
Pupil dan iris
Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan kuantitas
cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar
jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan
terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya.Iris berfungsi sebagai
diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.
Lensa mata
Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi
lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada
bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh),
lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya
datang dari dekat), lensa mata akan menebal.
Retina atau Selaput Jala
Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian
retina yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf
optik.
Saraf optik
Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk menuju ke otak.



Palpebra
o Palpebra melindungi mata dari cedera dan cahaya yang berlebihan.
o Tdd : Palpebra superior dan inferior
o Permukaan suferficial ditutupi oleh kulit dan permukaan dalam diliputi
oleh membran mukosa conjunctiva.
o Conjunctiva membentuk ruang potensial yaitu saccus conjunctivalis.
o sudut lateral fissura palpebra lebih tajam dari medial.
o Sudut medial dan bola mata dipisahkan oleh rongga sempit (lacus
lacrimalis) dan terdapat tonjolan kecil ( caruncula lacrimalis)


LAPISAN BOLA MATA
Mata tertanam pada adiposum orbitae, terdapat 3 lapisan :

Tunika fibrosa :
o Bagian posterior yang opak
o Sclera
o Bagian anterior yang transparan
o Cornea
Tunika Vasculosa Pigmentosa :
o Choroidea
o Corpus Cilliary
o Iris dan pupil
o Tunika Nervosa : Retina






Otot-otot penggantung bola mata


Vaskularisasi bola mata

Ada 2 sistem vaskularisasi bola mata :
1. Sistem arteri siliar, terdiri dari :
Arteri siliaris anterior (9)
Arteri siliaris posterior brevis (7)
Arteri siliaris longus (4)

1. Sistem arteri Sentralis
Retina (12)
Persarafan


Saraf yang bertangung jawab terhadap mata manusia adalah saraf optikus (Nervus II).
Bagian mata yang mengandung saraf optikus adalah retina. Saraf optikus adalah
kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visual dari retina ke otak.




Sedangkan saraf yang menggerakkan otot bola mata adalah saraf okulomotoris (Nervus
III), saraf ini bertanggungjawab terhadap pergerakan bola mata, membuka kelopak mata,
dan mengatur konstraksi pupil mata.


Saraf lainnya yang mempengaruhi fungsi mata adalah saraf lakrimalis yang merangsang
dalam pembentukan air mata oleh kelenjar air mata. Kelenjar Lakrimalis terletak di
puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan menghasilkan air mata yang encer.







Sistem cairan mata - Intraokular



Mata diisi dengan cairan intraokuolar, yang mempertahankan tekanan yang cukup pada
bola mata untuk menjaga distensinya. Cairan ini dibagi dua : Humor aqueous (anterior
lensa), Humor vitreus (posterior lensa & retina).
Humor aqueous berperan sebagai pembawa zat makanan dan oksigen untuk organ di
dalam mata yang tidak berpembuluh darah yaitu lensa dan kornea, disamping itu juga
berguna untuk mengangkut zat buangan hasil metabolisme pada kedua organ tersebut.
Adanya cairan tersebut akan mempertahankan bentuk mata dan menimbulkan tekanan
dalam bola mata/tekanan intra okuler.
Sirkulasi Aqueous Humor


Fisiologi mata

Gelombang cahaya dari benda yang diamati memasuki mata melalui lensa mata
dan kemudian jatuh ke retina kemudian disalurkan sampai mencapai otak melalui saraf
optik, sehingga mata secara terus menerus menyesuaikan untuk melihat suatu benda
(Suyatno,1995:159). Iris bekeja sebagai diafragma, mengatur banyak sedikitnya cahaya
yang masuk ke dalam pupil. Pada keadaan gelap pupil membesar dan pada suasana
terang pupil akan mengecil. Mekanisme tersebut berjalan secara otomatis, jadi di luar
kesadaran kita. Pada saat yang sama ajakan saraf yang lainnya masuk lebih jauh ke
dalam otak dan mencapai korteks sehingga memasuki saraf kesadaran. Sistem yang
terdiri dari mata dan alur saraf yang mempunyai peranan penting dalam melihat di sebut
alat visual. Mata mengendalikan lebih dari 90 % dari kegiatan sehari-hari. Dalam
hampir semua jabatan visual ini memainkan peranan yang menentukan. Organ visual
ikut bertanggung jawab atas timbulnya gejala kelelahan umum
2.2 TEKANAN DINAMIS INTRAOKULER
2.2.1 Fisiologi tekanan intraokuler
Mata dapat dianggap sebagai bola hampa dengan dinding yang kaku. Jika isi dari
bola mata meningkat, tekanan intraokuler ( normal 12 20 mmHg) akan naik. Sebagai
contoh, glaukoma disebabkan oleh sumbatan aliran humor aquos. Begitu juga tekanan
intraokuler akan naik jika volume darah dalam bola mata meningkat. Naiknya tekanan
vena akan meningkatkan tekanan intraokuler oleh penurunan aliran aquos dan
peningkatan volume darah koroid. Perubahan yang ekstrim dari tekanan darah arteri dan
ventilasi dapat meningkatkan tekanan intraokuler. Pemberian anestesi merubah
parameter ini dan dapat menpengaruhi tekanan intraokuler seperti laryngoscopy,
intubasi, sumbatan jalan napas, batuk, posisi trendelenburg). peningkatan ukuran bola
mata yang tidak proporsional mengubah volume isinya akan meningkatkan tekanan
intraokuler. Penekanan pada mata dari sungkup yang sempit, posisi prone yang tidak
baik, atau perdarahan retrobulber merupakan tanda peningkatan tekanan.
1


Tekanan intraokuler membantu mempertahankan bentuk dan oleh karena itu
membangun optik dari mata. Variasi temporer tekanan biasanya dapat ditoleransi dengan
baik oleh mata normal. Dalam kenyataanya kebutaan menaikkan tekanan intraokuler
sebanyak 5 mmHg dan juling 26 mmHg. Episode transien peningkatan tekanan
intraokuler pada pasien dengan tekanan arteri optalmikus yang rendah. ( hipotensi,
arteriosklerotik arteri retina), bagaimanapun dapat membahayakan perfusi retina yang
menyebabkan iskemia retina.
1

2.2.2 Efek obatobat anestesi pada tekanan intraokuler
Umumnya obat obat anestesi lain yang rendah tidak berefek pada tekanan
intraokuler. Anestesi inhalasi menurunkan tekanan intraokuler yang proporsional sesuai
dalamnya anestesi. Penyebab penurunannya multipel antara lain ; penurunan tekanan
darah mengurangi volume koroidal, relaksasi otot-otot ekstraokuler menurunkan tekanan
dinding bola mata, kontriksi pupil memudahkan aliran aquos. Anestesi intravena juga
dapat menurunkan tekanan intraokuler. Mungkin pengecualian adalah ketamin, yang
dapat menaikkan tekanan darah arteri dan tidak menyebabkan relaksasi otot
ekstraokuler.
1

Pemberian obat antikolinergik topikal menyebabkan dilatasi pupil (midriasis),
yang dapat menyebabkan glaukoma sudut tertutup. Dosis premedikasi atropin sistemik
yang dianjurkan tidak berhubungan dengan hipertensi intraokuler, karena bagaimanapun
hal ini akan terjadi pada pasien-pasien dengan glaukoma. Besarnya empat struktur
amonium glikopirolat dapat memperbesar batas keamanan dan mencegah penularan ke
dalam system saraf pusat.
1

Suksinilkolin meningkatkan tekanan intraokuler sebanyak 5 10 mmHg selama
5 10 menit setelah pemberiannya, menembus terutama ke dalam otot otot
ekstraokuler dan menyebabkan kontraktur. Tidak seperti otot skelet lainnya, otot
ekstraokuler terdiri dari sel sel dengan multipel neuromuskuler junction. Setelah
pemulihan depolarisasi sel sel ini oleh suksinilkolin menyebabkan kontraktur yang
berkepanjangan. Hasilnya terjadi peningkatan tekanan intraokuler yang mempunyai
beberapa efek. Hal ini akan menyebabkan pengukuran palsu terhadap tekanan

intraokuler selama pemeriksaan dalam pengaruh anestesi pada pasien pasien
glaukoma, peningkatan ini tidak penting dalam pembedahan, oleh karena itu kenaikan
tekanan intraokuler dapat menyebabkan ekstruksi okuler akibat bedah terbuka atau
trauma yang tembus. Efek akhir kontraktur yang berkepanjangan dari otot otot
ekstraokuler adalah tes forced duction abnormal selama 20 menit. Manuver ini menilai
penyebab ketidakseimbangan otot ekstraokuler dan pengaruh tipe pembedahan
strabismus. Kongesti vena vena koroid juga dapat menaikkan tekanan intraokuler.
Obat pelumpuh otot nondepolarisasi tidak menaikkan tekanan intraokuler.
1

2.3 REFLEKS OKULOKARDIAK
Traksi otot-otot ekstraokular atau tekanan pada bola mata terutama otot rektus
medialis dapat memunculkan berbagai variasi disritmia jantung yang berkisar dari
bradikardia dan ektopi ventrikular hingga henti sinus atau vibrilasi ventrikel.
1,2,4

Refleks ini, yang pada mulanya dideskripsikan pada tahun 1908, terdiri dari suatu jalur
trigeminal aferen (V1) dan vagal eferen. Refleks okulokardiak adalah paling lazim
didapati pada pasien pediatrik yang menjalani operasi strabismus. Walaupun begitu,
refleks ini dapat dimunculkan pada semua kelompok usia dan selama berbagai prosedur
mata, termasuk ekstraksi katarak, enukleasi, dan perbaikan retinal detachment
(perlepasan retina). Pada pasien yang sadar, refleks okulokardiak dapat berhubungan
dengan somnolens dan nausea.
1

Obat-obat antikolinergik sering bermanfaat dalam pencegahan refleks
okulokardiak. Atropin atau glikopirolat intravena sebelum pembedahan adalah lebih
efektif dibanding premedikasi intramuskular yang dapat menjadi tidak efektif.2,4
Haruslah diingat bahwa obat-obat antikolinergik dapat berbahaya pada pasien usia
lanjut, yang seringkali memiliki penyakit arteri koroner derajat tertentu. Blokade
retrobulbar atau anestesia inhalasi yang dalam juga dapat bermanfaat, namun prosedur-
prosedur ini memiliki risikonya tersendiri. Blokade retrobulbar sendiri sebenarnya dapat
membangkitkan refleks retrobulbar. Kebutuhan untuk profilaksis rutin adalah
kontroversial.
1


1. Manajemen refleks okular kardiak ketika ia terjadi tersusun dari
prosedur-prosedur berikut: pengenalan dini oleh ahli bedah dan
penghentian sementara stimulasi bedah hingga kecepatan detak jantung
meningkat
2. konfirmasi ventilasi, oksigenasi, dan kedalaman anestesia yang adekuat;
3. pemberian atropin intravena (10 g/kg) jika terdapat gangguan konduksi
4. pada episode rekalsitran, infiltrasi otot-otot ekstraokular dengan anestetik
lokal. Refleks ini pada akhirnya akan menghentikan dirinya sendiri
dengan traksi berulang otot-otot ekstraokular.
1

2.4 EKSPANSI GAS INTRAOKULAR
Suatu gelembung gas dapat diinjeksikan oleh oftalmolog ke dalam bilik posterior
selama pembedahan vitreous. Injeksi udara intravitreal akan cenderung mendatarkan
retina yang terlepas dan memungkinkan penyembuhan yang benar secara anatomis.
Gelembung udara diabsorbsi dalam 5 hari oleh difusi gradual melalui jaringan yang
berdekatan ke dalam aliran darah. Jika pasien menghirup NO, gelembung udara akan
bertambah besar. Ini dikarenakan NO adalah 35 kali lebih larut dibanding nitrogen
dalam darah. Maka NO cenderung berdifusi ke dalam gelembung udara secara lebih
cepat dibanding nitrogen (komponen utama udara) diabsorbsi ke dalam aliran darah. Jika
gelembung bertambah besar setelah mata ditutup, tekanan intraokular akan naik.
1

SF6 adalah gas inert yang kurang larut dalam darah dibanding nitrogen dan
jauh kurang larut dibanding NO. Durasi kerjanya yang lebih lama (hingga 10 hari)
dibanding gelembung udara dapat menguntungkan bagi oftalmolog. Ukuran gelembung
menjadi dua kali dalam 24 jam setelah injeksi karena nitrogen dari udara yang dihirup
memasuki gelembung udara secara lebih cepat dibanding SF6 berdifusi ke aliran darah.
Walaup begitu, kecuali SF6 murni dengan volume besar diinjeksikan, ekspansi
gelembung yang perlahan biasanya tidak meningkatkan tekanan intraokular. Namun jika
pasien menghirup NO, gelembung akan secara cepat bertambah besar dan dapat
mengarah pada hipertensi intraokular. Konsentrasi NO inspirasi sebesar 70% akan
hampir memperbesar volume gelembung 1 mL tiga kali lipat dan dapat menggandakan

tekanan dalam mata tertutup dalam 30 menit. Penghentian NO selanjutnya akan
mengarah pada resorbsi gelembung, yang telah menjadi campuran NO dan SF6.
Penurunan tekanan intraokular yang menyusul dapat mempresipitasi perlepasan retina
lain.
1

Komplikasi-komplikasi yang melibatkan ekspansi gelembung gas intraokular
dapat dihindari dengan menghentikan NO pada sekurang-kurangnya 15 menit sebelum
injeksi udara atau SF6. Jelas, waktu yang diperlukan untuk mengeliminasi NO dari
darah akan tergantung pada beberapa faktor, antara lain tingkat kecepatan aliran gas baru
dan adekuasi ventilasi alveolar. Kedalaman anestesia harus dipelihara dengan pemberian
agen anestetik lain. NO harus dihindari hingga gelembung diabsorbsi (5 hari setelah
injeksi udara dan 10 hari setelah injeksi SF6).
1

2.5 EFEK-EFEK SISTEMIK DARI OBAT-OBAT MATA
Tetes mata topikal diabsorbsi oleh pembuluh-pembuluh dalam saccus alveolaris
mukosa ductrus nasolacrimalis. Satu tetes (biasanya 1/20 mL) dari fenilefrin 10%
mengandung 5 mg obat. Bandingkan ini dengan dosis fenilefrin intravena (0.05-0.1 mg)
yang digunakan untuk menangani pasien dewasa dengan hipotensi. Obat topikal
diabsorbsi dalam kecepatan yang terletak di antara absorbsi setelah injeksi intravena dan
subkutan (dosis subkutan toksik dari fenilefrin adalah 10 mg). Anak-anak dan orang
lanjut usia terutama berada dalam risiko untuk efek toksik obat yang diberikan secara
topikal dan harus menerima paling banyak larutan fenilefrin 2.5%. Kebetulan para
pasien ini merupakan pasien yang paling sering memerlukan pembedahan mata.
1

Ekhotiofat (Echothiophate) merupakan inhibitor kolinesterase ireversibel yang
digunakan dalam penatalaksanaan glaukoma karena dapat menurunkan tekanan
intraokular.2 Aplikasi topikal berujung pada absorbsi sistemis dan reduksi aktivitas
kolinesterase plasma. Karena suksinilkolin dimetabolisir oleh enzim ini, ekhotiofat akan
memperpanjang durasi kerja suksinilkolin. Namun paralisis biasa tidak melebihi 20 atau
30 menit dan apneu postoperatif kemungkinan besar tidak terjadi. Inhibisi aktivitas
kolinesterase bertahan selama 3-7 minggu setelah penghentian tetes ekhotiofat.
1,4
Efek

samping muskarinik seperti bradikardia selama induksi dapat dicegah dengan obat
antikolinergik intravena (seperti atropin, glikopirolat).
1

Tetes mata epinefrin dapat menyebabkan hipertensi, takikardia, dan disritmia
ventrikular; efek disritmogenik ini dipotensiasi oleh halotan. Pemberian langsung
epinefrin ke dalam bilik anterior mata belum dihubungkan dengan toksisitas
kardiovaskular.
1
Timolol, suatu antagonis -adrenergik nonselektif, mengurangi tekanan
intraokular dengan menurunkan produksi humor aqueous. Tetes mata timolol yang
dipakai secara topikal, yang biasa digunakan untuk mengatasi glaukoma, pada kasus-
kasus yang langka telah dikaitkan dengan bradikardia resistan-atropin, hipotensi, dan
bronkospasme selama anestesia umum.
1,4
Cyclopentolate adalah suatu midriatika yang
dapat menghasilkan toksisitas sistem saraf pusat
.2,4

Acetazolamide ketika diberikan secara kronis untuk mengurangi IOP dapat
berhubungan dengan hilangnya ion bikarbonat dan kalium lewat ginjal.
2,4

SF6 (sulfur hexafluoride) diinjeksikan ke dalam vitreous untuk secara mekanis
memfasilitasi perlekatan kembali retina. N2O (kelarutan gas darah 0.47) harus dihindari
selama 10 hari setelah injeksi SF6 intravitreous (kelarutan gas darah 0.004).
2

2.6 ANESTESIA UMUM UNTUK OPERASI MATA
Pilihan antara anestesi umum dan lokal harus dibuat secara bersama-sama oleh
pasien, anestesiolog, dan ahli bedah. Sebagian pasien menolak bahkan untuk
mendiskusikan anestesia lokal. Sikap ini disebabkan oleh rasa takut untuk sadar selama
suatu prosedur bedah atau pengalaman nyeri selama tekhnik regional terdahulu.
Walaupun tidak terdapat bukti yang konklusif bahwa satu bentuk anestesia adalah lebih
aman dibanding yang lain, anastesia lokal tampak kurang memberikan stres. Anestesia
umum diindikasikan pada pasien yang tidak kooperatif, karena bahkan gerakan kepala
yang sedikit dapat memberikan hasil yang terbukti berbahaya selama pembedahan
mikro. Pada pasien lain, anestesia lokal dikontraindikasikan untuk alasan-alasan beda.
Pada kejadian yang manapun, suatu keputusan definitif harus dibuat. Anestesia lokal-
umum suatu tekhnik sedasi dalam dengan kontrol jalan napas yang diragukan harus
dihindari karena ia membawa gabungan risiko dari anestesia lokal dan umum.
1


2.6.1 Premedikasi
Pasien yang menjalani operasi mata dapat cemas, terutama jika mereka telah
menjalani banyak prosedur dan terdapat kemungkinan kebutaan permanen. Pasien
pediatrik sering memiliki kelainan-kelainan kongenital terkait (seperti sindrom rubella,
sindrom Goldenhar, sindrom Down). Pasien dewasa biasa berusia lanjut, dengan
setumpuk penyakit sistemik (seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri
koroner). Semua faktor-faktor ini harus dipertimbangkan ketika memilih premedikasi.
1,4

2.6.2 Induksi
Pilihan tekhnik induksi untuk operasi mata biasa lebih tergantung pada masalah-
masalah medis pasien dibanding pada penyakit mata pasien atau jenis operasi yang
direncanakan. Satu perkecualian adalah pada pasien dengan bola mata ruptur. Kunci
untuk induksi anestesia pada pasien dengan cedera mata terbuka adalah kontrol tekanan
intraokular dengan induksi yang mulus. Secara spesifik, batuk selama intubasi harus
dihindari dengan mencapai anestesia yang dalam dan paralisis yang nyata. Respon
tekanan intraokular terhadap laringoskopi dan intubasi endotrakheal dapat ditumpulkan
dengan pemberian lidokain intravena (1.5 mg/kg) atau opioid (seperti alfentanil 20
g/kg).1,4 Suatu relaksan otot nodepolarisasi digunakan sebagai pengganti suksinilkolin
karena pengaruh suksinilkolin pada tekanan intraokular. Sebagian besar pasien dengan
cedera bola mata terbuka memiliki perut yang penuh dan memerlukan tekhnik induksi
sekuens-cepat.
1

2.6.3 Pengawasan Dan Pemeliharaan
Operasi mata memerlukan posisi anestesiolog jauh dari jalan napas pasien, yang
membuat penggunaan pulse oxymetry merupakan suatu kewajiban bagi semua prosedur
oftalmologis. Pengawasan berkelanjutan akan diskoneksi sirkuit pernapasan atau
ekstubasi secara tidak sengaja juga penting. Kemungkinan penekukan dan obstruksi tuba
endotrakhea dapat diminimalisir dengan menggunakan tuba endotrakhea yang diperkuat
atau sudut-kanan. Kemungkinan disritmia yang disebabkan refleks okulokardiak
meningkatkan tuntutan pengawasan elektrokardiograf secara konstan. Berkebalikan

dengan sebagian besar pembedahan pediatrik, temperatur tubuh bayi sering naik selama
pembedahan mata karena pembungkusan dari kepala hingga ujung kaki dan paparan
permukaan tubuh yang tidak signifikan. Analisis CO2 end-tidal membantu membedakan
peningkatan ini dari hipertermia maligna.
1

Nyeri dan stres yang diakibatkan pembedahan mata adalah kurang dibanding
prosedur intra abdomen mayor. Tingkat anestesia yang lebih dangkal akan memuaskan
jika saja konsekuensi dari gerakan pasien tidaklah begitu berbahaya. Kurangnya
stimulasi kardiovaskular yang merupakan bagian semua prosedur mata dikombinasikan
dengan kebutuhan akan kedalaman anestesia yang adekuat dapat menghasilkan hipotensi
pada individu usia lanjut. Masalah ini biasa dihindari dengan memastikan hidrasi
intravena yang adekuat, pemberian efedrin dosis kecil (2-5 mg), atau memberikan
paralisis intraoperatif dengan relaksan otot nondepolarisasi. Pilihan terakhir ini
memungkinkan pemeliharaan tingkat anestesia yang lebih dangkal.
1

Emesis yang disebabkan oleh stimulasi vagus merupakan masalah postoperatif yang
sering terjadi, terutama setelah operasi strabismus. Efek Valsava dan peningkatan
tekanan vena sentral yang menyertai muntah dapat berakibat buruk bagi hasil operasi
dan meningkatkan risiko aspirasi. Pemberian metoklopramid intravena intraoperatif (10
mg pada dewasa) atau droperidol dosis kecil (20 g/kg) dapat terbukti bermanfaat.
Karena biayanya, ondansetron biasa dicadangkan untuk pasien dengan riwayat mual
muntah postoperatif.
1

2.6.4 Ekstubasi Dan Pengembalian Kesadaran
Walaupun materi jahitan dan tekhnik penutupan luka modern mengurangi risiko
robek luka postoperatif, pengembalian kesadaran yang mulus dari anestesia umum
masihlah diharapkan. Batuk pada penyingkiran tuba endotrakhea dapat dicegah dengan
mengekstubasi pasien selama tingkat anestesia menengah.1,4 Ketika akhir prosedur
bedah mendekat, relaksasi otot dipertahankan dan respirasi spontan dikembalikan. Agen-
agen anestetik dapat diteruskan selama pembersihan jalan napas. NO kemudian
dihentikan, dan lidokain intravena (1.5 mg/kg) dapat diberikan untuk menumpulkan
refleks batuk secara sementara. Ekstubasi diteruskan 1-2 menit setelah lidokain dan

selama respirasi spontan pada oksigen 100%. Kontrol jalan napas yang tepat adalah
penting hingga refleks batuk dan menelan pasien kembali. Jelas, tekhnik ini tidak cocok
bagi pasien yang berisiko tinggi untuk aspirasi.
1

Nyeri postoperatif yang berat adalah tidak lazim dijumpai setelah pembedahan
mata. Prosedur-prosedur scleral buckling, enukleasi, dan perbaikan bola mata yang
robek adalah operasi-operasi yang paling menimbulkan nyeri. Narkotik intravena dosis
kecil (seperti 15-25 mg meperidin bagi dewasa) biasanya cukup. Nyeri yang berat dapat
merupakan tanda hipertensi intraokular, abrasi kornea, atau komplikasi bedah lainnya.
1

2.7 ANESTESIA REGIONAL UNTUK OPERASI MATA
Anestesia regional untuk operasi mata telah secara tradisional terdiri atas blok
retrobulbar, blok saraf facialis, dan sedasi intravena. Walaupun kurang invasif dibanding
anestesia umum dengan intubasi endotrakhea dan kurang mungkin untuk berhubungan
dengan nausea postoperatif, anestesia tidaklah tanpa komplikasi potensial. Selain itu,
blok ini dapat tidak menyediakan akinesia atau analgesia yang adekuat pada mata, atau
pasien dapat tidak mampu berbaring tanpa bergerak selama durasi operasi. Untuk
alasan-alasan ini, peralatan dan personel yang diperlukan untuk menangani komplikasi
anestesia lokal dan untuk menginduksi anestesia umum harus selalu tersedia. Pada satu
waktu, istilah siap sedia-lokal mendeskripsikan peran anestesiolog dalam kasus-kasus
ini. Istilah ini sekarang digantikan oleh perawatan anestesia termonitor, karena
anestesiolog harus secara berkelanjutan mengawasi pasien selama operasi dan tidak
hanya berdiri di samping pasien.
1

2.7.1 Blokade Retrobulbar
Dalam tekhnik ini, anestetik lokal diinjeksikan di belakang mata ke dalam
kerucut yang dibentuk oleh otot-otot ekstraokular. Suatu jarung ujung tumpul gauge 25
menembus kelopak mata bawah pada persambungan pertengahan dan sepertiga lateral
orbita (biasanya 0.5 cm medial terhadap kanthus lateral). Pasien diinstruksikan untuk
memandang ke supranasal ketika jarum dimajukan 3.5 cm menuju apex kerucut otot-
otot. Setelah aspirasi untuk mencegah injeksi intravaskular, 2-5 mL anestetik lokal

diinjeksikan dan jarum disingkirkan. Pilihan anestetik lokal bervariasi, namun lidokain
dan bupivakain merupakan yang paling lazim digunakan.1,4 Hialuronidase, suatu
hidrolizer polisakarida jaringan ikat, sering ditambahkan untuk menambah penyebaran
anestetik lokal retrobulbar. Suatu blok retrobulbar yang sukses disertai oleh anestesia,
akinesia, dan lenyapnya refleks okulosefalik (yaitu mata yang terblok tidak bergerak
selama penggelengan kepala).
1

Komplikasi injeksi anestetik lokal retrobular antara lain adalah pendarahan
retrobulbar, perforasi bola mata (terutama pada mata dengan panjang aksial lebih dari 26
mm), atropi saraf optik, konvulsi yang jelas, refleks okulokardiak, edema pulmonar
neurogenik akut, blok saraf trigeminal, dan henti napas.1,4 Injeksi paksa anestetik lokal
ke dalam arteri oftalmikus menyebabkan aliran balik ke otak dan dapat menyebabkan
seizure spontan. Sindrom apneu post-retrobulbar mungkin dikarenakan injeksi anestetik
lokal ke dalam selubung saraf optik, dengan penyebaran ke dalam cairan serebrospinal.
Sistem saraf pusat terpapar terhadap anestetik lokal konsentrasi tinggi, yang
menyebabkan kecemasan dan ketidaksadaran. Apneu terjadi dalam 20 menit dan
beresolusi dalam satu jam. Sementara itu, terapi bersifat suportif, dengan ventilasi
tekanan positif untuk mencegah hipoksia, bradikardia, dan henti jantung. Ventilasi yang
adekuat harus diawasi secara berkelanjutan pada para pasien yang telah menerima
anestesia retrobulbar.
1

Injeksi retrobulbar biasanya tidak dilakukan pada pasien dengan kelainan
pendarahan (karena risiko pendarahan retrobulbar), miopia yang sangat berat (bola mata
yang lebih panjang meningkatkan risiko perforasi), atau cedera mata terbuka (tekanan
dari cairan yang diinjeksikan di belakang mata dapat menyebabkan ekstrusi isi
intraokular melalui luka).
1

2.7.2 Blok Saraf Facialis
Suatu blok saraf facialis mencegah penyempitan kelopak mata selama operasi
dan memungkinkan penempatan spekulum kelopak mata. Terdapat beberapa tekhnik
blok saraf facialis: van Lint, Atkinson, dan OBrien. Komplikasi utama dari blok-blok
ini adalah pendarahan subkutan. Prosedur lain, tekhnik Nadbath, menyekat saraf facialis

ketika ia keluar dari foramen stilomastoid di bawah kanalis auditorius eksternus,
berdekatan dengan saraf vagus dan glossofaringeus. Blok ini tidak direkomendasikan
karena ia telah dikaitkan dengan paralisis korda vokalis, laringospasme, disfagia, dan
distres respiratorik.
1

2.7.3 Teknik-Teknik Regional Yang Kurang Invasif
Pada beberapa tahun terakhir, tekhnik-tekhnik regional yang kurang traumatik
untuk pembedahan bilik depan dan glaukoma telah berevolusi. Alternatif yang ada
antara lain adalah anestesia peribulbar melalui injeksi anestetik lokal bervolume kecil
(seperti 0.5 mL) ke dalam kuadran superior subkonjungtiva menunju ruangan sub
Tenon. Ini dapat diselesaikan dengan penggunaan jarum kecil gauge 27 atau kanula
lengkung tumpul, penggunaan kanula menghindari risiko perforasi bola mata. Tekhnik
yang lebih baru lagi mengeliminasi injeksi anestetik sama sekali. Setelah pemberian
tetes anestetik lokal (0.5% proximetakain klorhidrat) yang diulangi pada interval 5 menit
untuk 5 kali pemberian, suatu gel anestetik (lidokain klorhidrat plus 2% metilselulosa)
diapuskan ke sakus konjungtiva superior dan inferior. Tekhnik-tekhnik yang lebih baru
dan kurang invasif ini tidaklah tepat untuk operasi bilik posterior (seperti perbaikan
perlepasan retina dengan buckle) dan paling baik digunakan untuk ahli bedah dengan
tekhnik yang cepat namun lembut.
1

2.7.4 Sedasi Intravena
Beberapa tekhnik sedasi intravena tersedia untuk operasi mata. Obat yang
digunakan adalah kurang penting daripada dosisnya. Sedasi dalam harus dihindari
karena ia meningkatkan risiko apneu dan gerakan tak sadar pasien selama operasi. Di
sisi lain, blok retrobulbar dan saraf facialis dapat relatif tidak nyaman bagi pasien.
Sebagai kompromi, beberapa anestesiolog memberikan suatu dosis kecil barbiturat kerja
singkat (seperti 10-20 mg metoheksital atau 25-75 mg thiopental) untuk menghasilkan
episode singkat ketidaksadaran selama blok regional. Sebagai alternatif, suatu bolus
kecil alfentanil (375-500 g) memungkinkan suatu periode singkat analgesia yang kuat.
Anestesiolog lain, yang percaya bahwa risiko henti napas dan aspirasi tidak dapat
diterima, membatasi dosis mereka untuk menghasilkan relaksasi minimal dan amnesia.
1

Midazolam (1-3 mg) dengan atau tanpa fentanil (12.5-25 g) merupakan regimen yang
lazim.1,4 Dosis cukup bervariasi antar pasien dan harus diberikan dalam peningkatan-
peningkatan kecil. Tanpa tergantung tekhnik yang digunakan, ventilasi dan oksigenasi
harus terus dimonitor (lebih disukai melalui pulse oxymetry), dan peralatan untuk
menyediakan ventilasi tekanan positif harus segera tersedia.
1

2.8 KEADAAN SPESIFIK KLINIK DAN KOMPLIKASI
2.8.1 Injeksi Gas Intravitreal
Pada oftamologi terkadang menginjeksikan sejumlah kecil gas ke dalam rongga
vitreal selama pembedahan retina. Tujuannya untuk membentuk gelembung penyangga
yang stabil yang mempertahankan retina pada tempatnya. Gas yang umum digunakan
seperti sulfur hexafluoride (SF6) dan karbon oktofluorin (C3F8) adalah gas inert, tidak
larut dalam air dan kurang dapat berdifusi. Nitrous oksida 117 kali lebih larut dibanding
SF6 dan dengan cepat memasuki gelembung gas. Bila pemberian N2O berlanjut setelah
injeksi gas ke dalam rongga vitreus, gelembung gas yang diijeksikan meningkat cepat
sampai 3 kali semula, yang menyebabkan TIO meningkat dari 14-30 mmHg. Dalam 18
menit penghentian N2O, bagaimanapun baik ukuran gelembung maupuan TIO akan
menurun (dari 29 ke 12 mmHg). N2O haru dihindari pada pasien yang menjalani
anestesi umum selama injeksi gas intravitreus 3-4 minggu.3,4 Pemaparan kedua N2O
dapat menyebabkan perluasan gelembung dan peningkatan TIO dengan akibat oklusi
arteri retina dan hilangnya pandangan. Peristiwa ini cenderung terjadi pada hipotensi
selama anestesi umum. Oleh karena itu, pasien dengan gelembung gas intravitreal
memiliki resiko kerusakan okular selama perjalanan udara.
3

2.8.2 Cedera Mata Penetrasi
Manajemen anestesi emergensi untuk pasien dengan cedera mata terbuka dan
perut memerlukan pengaturan kebutuhan untuk mencegah aspirasi isi lambung dengan
pencegahan peningkatan TIO tiba-tiba yang dapat menyebabkan kerusakan mata lebih
lanjut dan hilangnya penglihatan.5 Bila perlu pemberian awal antagonis reseptor H2
seperi metoklopropamid (0,15 mg/Kg iv) akan menurunkan volume lambung dan
memberikan perlindungan.
3


Sebelum rangkaian induksi cepat anestesi, beberapa peringatan harus diambil
untuk mencegah respon kardiovaskular dan TIO terhadap laringoskopi dan intubasi
trakea. Pemberian intravena lidokain (1,5 mg/Kg) dan remifentanil (0,7g/Kg) 3-5 menit
sebelum induksi dapat membantu meringankan peningkatan TIO setelah intubasi trakea.
Obat yang memblok reseptor -adrenergik seperti labetalol (0,05-0,10 mg/Kg iv) juga
dapat berguna untuk memblok respon kardiovaskular terhadap intubasi trakea,
khususnya pada pasien dengan angina atau hipertensi.
3

Dosis thiopental (6 mg/Kg iv) atau popofol (3,0 mg/Kg iv) akan menjamin
kecukupan dalamnya anestesi selama intubasi trakea. Keefektifan penggunaan teknik
suksinilkholin pra tatalaksana pada kasus ini masih kontroversial. Walaupun TIO dapat
meningkat dengan metode ini, belum ada laporan yang menggambarkan kerusakan mata
lanjut setelah rangkaian induksi cepat anestesi dengan d-tubokurarin, thiopental, dan
suksinilkholin.
3

Selama anestesi umum untuk pembedahan mata terbuka, dalamnya anestesi
harus memadai untuk menjamin kurangnya gerakan atau batuk. Dapat dianjurkan untuk
menggunakan blok neuromuskular nondepolarisasi untuk mencegah batuk yang
disebabkan oleh rangsangan karina.
3

2.8.3 Cedera Mata Anak
Manajemen anestesi mata pada anak-anak melibatkan pertimbangan khusus.
Trauma mata anak juga dapat disertai cedera kranial. Bila pemberian narkotik
diperlukan untuk mengontrol nyeri, antiemetik juga harus diberikan. Anestesi mata
regional tidak sesuai pada pasien dengan trauma mata, usia muda, dan tidak kooperatif.
Intubasi endotrakeal dapat meningkatkan TIO, menyulitkan pada kelompok usia ini, dan
oleh karena itu harus dihindari pada cedera mata pediatrik terbuka.3
Bila pasien baru saja makan, risiko aspirasi isi gaster dapat dikurangi dengan
menunda kasus ini beberapa jam. Bagaimanapun, menunggu masih tidak menjamin
bahwa perut akan menjadi kosong. Perhatian lanjut meliputi pemberian
metoklopropamid dan antagonis reseptor H2 sebagaimana pada orang dewasa.3

Perut harus didekompresi selama pembedahan dan pasien di extubasi saat
bangun, dengan perlindungan reflek saluran napas yang utuh. Untuk toleransi ETT dan
mengurangi perlawanan pada pasien yang bangun, narkotik dapat diberikan 10-20 menit
sebelum akhir pembedahan dan lidokain (1,5 mg/Kg) diberikan intravena 5 menit
sebelum ekstubasi trakea.
3

2.8.4 Retinopati Prematuritas
ROP adalah proliferasi abnormal sel mesenkim primitive yang tidak
berdiferensisasi di retina. Sel-sel ini membentuk jembatan arteriovascular, dan
proliferasi dapat menyebabkan penarikan dan pelepasan retina denagan kebutaan.
3

Bayi dengan ROP juga sering memiliki riwayat immaturitas umum, apnu, bradikardi,
jaundice, PDA, dysplasia intraventrikular, hipoksia, dan gangguan perkembangan.
3

Manejemen anestesi memerlukan perhatian pada pemeliharaan suhu normal
dengan penggunaan sistem udara hangat, lampu pemanas atas kepala, peningkatan
temperature ruang operasi, dan pengawasan tempertur. Manejemen cairan intravena
secara tepat, termasuk pengawasan kadar glukosa serum adalah penting. Tekanan
oksigen kapiler harus dijaga antara 35-40 mmHg dan tekanan oksigen arteri dipelihara
sekitar 70 mmHg pada bayi prematur.
3

2.8.5 Elektroretinografi
Halothan, isofluran, dan enfluran dapat mempengaruhi potensial bangkitan visual
(VEPs). Halothan dan isofluran menurunkan amplitudo dan meningkatkan tetapnya
VEPs. Konsentrasi 0,9% atau lebih tinggi isofluran dapat memperpanjang tetapnya
VEPs. Walaupun beberapa penelitian menyatakan bahwa hubungan ini tergantung
dosis.
3

Ketamin, derivat phencyclidine adalah sesuatu anestetik yang unik karena
meningkatkan aktivitas elektrik otak. Peningkatan aktivitas ini dapat mengubah
amplitudo VEPs dan membiaskan kesimpulan tes. Ketamin telah digunakan untuk
anestesia pada kelinci tanpa mempengaruhi respon elektroretinografi.

2.8.6 Strabismus
Tiga masalah yang berhubungan dengan strabismus meliputi: kemungkinan
peningkatan resiko hipertemia maligna, tingginya insiden mual dan muntah
postoperative. Resiko hipertermia maligna dapat dikurangi dengan menghindari
suksinikholin dan halothan. Lebih lanjut, karena suksinilkolin meningkatkan tonus otot
ekstraokular untuk menjamin episode hipertermia maligna cepat terdeteksi, suhu tubuh,
EKG, dan khususnya konsentrasi tidal akhir CO2 harus dimonitor dengan hati-hati
selama anestessi umum pada pasien dengan strabismus. Mual muntah postoperative
persisten menghambat pemulihan dan bahkan memerlukan pengawasan ketat. Banyak
obat telah digunakan untuk mengontrol mual dan muntah pada pasien ini juga tanpa
memperpanjang masa penyembuhan. Droperidol (75g/Kg iv ) berhasil mengurangi
insuden mual dan muntah sampai 16%-22% tanpa meningkatkan waktu pemulihan (4,6
jam). Pemberian intravena lidokain (1,5 mg/Kg) sebelum intubasi trakea juga
menurunkan insiden mual muntah sampai 16-20%.
3

Weir dan rekan-rekan telah menunjukkan pengurangan signifikan insiden dan
frekuensi muntah dalam 24 jam pertama setelah pembedahan strabismus dengan
menggunakan teknik infus propofol dan N2O.
3
Sebagai tambahan pada manejemen
pediatrik terkait praktik biasa, penggunaan tindakan berikut untuk menurunkan insiden
mual muntah setelah pembedahan strabismus harus dipertimbangkan:
Penggunaan minimal opioid untuk mengurangi nyeri
Penggunaan propofol dan anestetik volatil potent untuk memelihara anestesi umum
kurangi atau hindari penggunaan N2O
Pemberian antagonis serotonin 5-HT3 seperti ondansetron (0,1 mg/Kg iv) selama
anestesi
Penggunaan dexamethason (0,15 mg/Kg iv)
Pemasangan dan pelepasan pipa orogastrik untuk dekompresi perut setelah induksi
anestesi
Pemeliharaan hidrasi adekuat dengan krstaloid iv
Penggunaan lidokain dekat otot ekstraokular selama pembedahan untuk mengurangi
impuls afferent dan nyeri postoperative.

2.8.7 Sindrom Kongenital Patologi Mata
Sindrom kongenital dimana abnormalitas mata adalah satu-satunya manifestasi
gangguan multisystem menyebabkan masalah seluruh manejemen anestesi umum.
3

Pasien dengan homocystiuria, suatu gangguan kongenital metabolisme asam amino yang
jarang dapat disertai dengan sublixasi dan lensa atau glaukoma. Pasien ini rentan
terhadap komplikasi tromboemboli selama anestesi umum. Manejemen anestesi yang
aman memerlukan pratatalaksana dengan asam asetilsalisilat dan dipiridamole, hidrasi
adekuat dengan glukosa atau dekstran berat molekul rendah, dan pemeliharaan tekanan
darah arteri yang baik dan vasodilatasi perifer.
3

Pasien dengan abnormalitas kraniofasial, seperti pada Crouzon disease, Alport
syndrome, or Kneist syndrome dapat menderita myopia, lepasnya retina, exopthalmus,
atau glaukoma. Trakea dapat sulit diintubasi pada pasien ini.
3












BAB III
KESIMPULAN
Mata dapat dianggap sebagai bola hampa dengan dinding yang kaku. Jika isi dari
bola mata meningkat, tekanan intraokuler ( normal 12 20 mmHg) akan naik.
Pemberian anestesi merubah parameter ini dan dapat menpengaruhi tekanan intraokuler
seperti laryngoscopy, intubasi, sumbatan jalan napas, batuk, posisi trendelenburg).
Banyak obat-obat anestesi memiliki pengaruh terhadap peningkatan tekanan intraokular.
Anestesi inhalasi menurunkan tekanan intraokuler yang proporsional sesuai dalamnya
anestesi. Anestesi intravena juga dapat menurunkan tekanan intraokuler. Mungkin
pengecualian adalah ketamin, yang dapat menaikkan tekanan darah arteri dan tidak
menyebabkan relaksasi otot ekstraokuler.
Pilihan antara anestesi umum dan lokal harus dibuat secara bersama-sama oleh
pasien, anestesiolog, dan ahli bedah. Anestesia umum diindikasikan pada pasien yang
tidak kooperatif, karena bahkan gerakan kepala yang sedikit dapat memberikan hasil
yang terbukti berbahaya selama pembedahan mikro. Pilihan tekhnik induksi untuk
operasi mata biasa lebih tergantung pada masalah-masalah medis pasien dibanding pada
penyakit mata pasien atau jenis operasi yang direncanakan. Kunci untuk induksi
anestesia pada pasien dengan cedera mata terbuka adalah kontrol tekanan intraokular
dengan induksi yang mulus.
Masalah-masalah penting seperti regulasi tekanan intraokular, dengan
memperhatikan efek obat-obat anestesi pada tekanan intraokular, refleks okulokardiak,
dengan penggunaan obat-obat antikolinergik yang termasuk dalam prosedur manajemen
penanganan refleks okulokardiak, pencegahan ekspansi gas intraokular, dengan
menghentikan penggunaan nitrous oksida 15 menit sebelumnya, sebagai upaya
pencegahan, pencegahan efek-efek sistemik pada bola mata dengan penggunaan agen-
agen anestesi dengan tepat dan benar, ketepatan dalam penggunaan anestesi umum atau
regional pada operasi mata, serta penanganan dini keadaan spesifik dan komplikasi pada
operasi mata merupakan problem-problem fundamental klinis yang perlu diwaspadai
dan dilakukan upaya pencegahan dini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Morgan GE, Mikhhail MS, Murray MJ. Clinical Anaesthesiology, 4th ed,
New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill; 2006
2. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Clinical Anaesthesia, 5th ed.
Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins ; 2006
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2009. h:1-12.
4. Radjiman T, dkk. Ilmu Penyakit Mata, Penerbit Airlangga, Surabaya,
1984. h:1-8.
5. Vaughan, Daniel G dkk. 1996. Oftalmologi Umum. Jakarta : Penerbit
Widya Medika.