Anda di halaman 1dari 4

5.

Pembahasan
Seng fosfat adalah semen untuk luting yang pertama. Semen ini terdiri dari
bubuk dan cairan yang berada di dua botol yang terpisah. Komposisi utama dari
bubuk adalah seng oksida, sedangkan komposisi utama dari cairan adalah asam fosfat
(Anusavice 2003, 461). Semen seng fosfat terbentuk apabila seng oksida dan asam
fosfat dicampur (Gladwin 2009, 95).
Komposisi dari bubuk adalah seng oksida (90%) dan metal oksida lainnya
(10%). Sedangkan komposisi cairan adalah asam fosfat (50%-60%) dan gabungan
fosfat dengan AI atau Zn sebagai larutan penyangga. Komponen ini membentuk
fosfat yang mana dapat menyetabilkan pH dari asam dan mengurangi reaktivitasnya
(Mc Cabe 2008, 273).
Bubuk dan cairan semen seng fosfat ditakar sesuai dengan takaran dari pabrik.
Spatula semen dan glass lab digunakan untuk mengaduk material. Campuran dengan
rasio w:p kecil digunakan sebagai luting agent, sedangkan rasio w:p lebih besar
digunakan untuk basis. Reaksi setting dari material ini sangat eksotermis. Panas yang
dihasilkan saat reaksi mempercepat setting time. Maka penting untuk meminimalkan
panas ini. Semen seng fosfat dibagi menjadi beberapa bagian dan dicampur secara
perlahan masing-masing bagian 10-15 detik dan dengan cara memperluas area
pencampuran di atas glass lab untuk meminimalkan panas dari reaksi setting dan
memfasilitasi transfer panas ke glass lab (Gladwin 2009, 97).
Semen yang digunakan untuk basis memiliki konsistensi putty-like dengan
rasio bubuk : cairan yang digunakan sekitar 3,5 : 1. Semen yang digunakan untuk
luting campurannya lebih cair dengan rasio bubuk : cairan yang digunakan lebih
randah. Hal tersebut untuk memastikan flow semen selama menempatkan restorasi
(Mc Cabe 2008, 273).
Reaksi setting dari pencampuran bubuk dan cairan menghasilkan bentukan
yang relatif tidak larut seperti (Mc Cabe 2008, 273):
3ZnO + 2H
3
PO
4
+ H
2
O Zn
3
(PO
4
)
2

.
4H
2
O
Hanya lapisan permukaan dari partikel seng oksida yang bereaksi, meninggalkan
ikatan bersama inti yang tidak terkonsumsi oleh matriks fosfat (Mc Cabe 2008, 273).
Permukaan dari bubuk alkalin larut bersama cairan asam yang menghasilakan rekasi
eksotermis. Semen ini bersifat porus. Setting time dari semen seng fosfat dipengaruhi
oleh waktu dan suhu. Mendinginkan glass lab akan memperpanjang waktu kerja
(Powers 2008, 148).
Pada percobaan kali ini dilakukan pengujian manipulasi semen seng fosfat
untuk luting dan basis. Luting agent berfungsi sebagai bahan pelekat komponen.
Sedangkan basis digunakan sebgai dasar restorasi sebagai pelindung pulpa terhadap
thermal ijury, galvanic shock, dan reaksi kimia tergatung dari bahan restorasi yang
digunakan (Anusavice 2003, 464).
PENJELASAN PERCOBAAN
Terdapat setting time minimal untuk semen sebagai luting yaitu sekitar 2,5
menit dan 2 menit untuk basis. Setting time minimum tersebut dirancang untuk
memastikan bahwa terdapat working time yang cukup. Pengerasan awal material
biasanya terjadi dalam waktu 4-7 menit, meskipun kekuatan akan terus meningkat
beberapa waktu kemudian. Standar ISO menentuan bahwa working time maksimal
untuk basis sekitar 6 menit dan 8 menit untuk luting (Mc Cabe 2008, 275).
Faktor-faktor yang mempengeruhi working time dan setting time antara lain:
1. Perbandingan bubuk dan cairan
Perbandingan bubuk dan cairan yang tinggi mempercepat penggabungan
bubuk dan cairan (Powers 2008, 148). Hal ini menyebabkan cepat terbentuknya
matriks fosfat sehingga mempercepat setting time (Mc Cabe 2008, 273).
2. Perubahan komposisi
Efek degradasi cairan menunjukan menggumpalnya air. Hilangnya air dari
asam dapat memperpanjang reaksi setting, sedangkan penyatuan air selama
pencampuran mempercepat reaksi (Anusavice 2003, 462).
3. Kecepatan dan waktu pengadukan
Satu persatu bagian bubuk yang telah dipisahkan sebaiknya dicampur selama
15-20 detik sebelum menambah bagian yang lain. Pencampuran tersebut harus
selesai berkisar 1,5 hingga 2 menit (Anusavice 2003, 466). Operator yang
memperpanjang waktu pengadukan akan menghancurkan matriks yang terbentuk.
Pecahnya matriks berarti dibutuhkan tambahan waktu untuk membangun kembali
sebagian matriks ini (Anusavice 2003, 462).
4. Penggunaan spatula semen dan glass lab yang bersuhu dingin
Suhu yang panas dapat mempercepat setting time, maka sebaiknya
pencampuran dilakukan di atas glass lab tebal dan bersuhu dingin. Mendinginkan
aglass lab akan menghambat pementukan matriks fosfat (Anusavice 2003, 463).
Pengadukan harus menggunakan spatula berbahan stainless steel, tipis,
membentuk pola angka 8, gerakan bolak balik, dan menggunakan teknik spreading
agar adonan semen menyebar sehingga memfasilitasi penyerapan panas di atas
area glass lab (Gladwin 2009, 97).
5. Ukuran partikel bubuk
Semakin kecil ukuran partikel bubuk semen, semakin cepat setting timenya
karena memiliki luas permukaan yang lebih besar (Mc Cabe 2008, 274).
6. Buffering agents pada cairan
Penambahan buffering agents dapat menghambat kerja asam fosfat yang
terdapat dalam cairan semen seng fosfat, sehingga setting time menjadi lebih lama
(Mc Cabe 2008, 275).
7. Adanya kelembaban
Kelembaban juga berpengaruh pada setting time, semakin lembab, semakin
tinggi kadar airnya, sehingga semakin lama pula setting time (Mc Cabe 2008, 275).
7. Daftar Pustaka
Anusavice, K.J. 2003. Phillips Dental Material. 11
th
Ed. Philadelphia.
Elsevier Ltd. p: 461-464, 466.
Gladwin, M. & Bagby, M. 2009. Clinical Aspect of Dental Materials :
Theory, Practice, and Cases. 3
rd
Ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins. p:
95, 97.
Mc Cabe, J.F. & Walls, A.W.G. 2008. Applied Dental Material. 9
th
Ed.
Oxford, UK. Blackwell Publishing Ltd. p: 273-275.
Powers, J.M. & Wataha, J.C. 2008. Dental Materials Properties and
Manipulation. 9
th
Ed. London, UK. Mosby Elsevier. p: 148.