Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1 . 1 L a t a r B e l a k a n g

Agar dapat memantau keadaan kesehatan kita, perlu dilakukan tes
laboratorium secara berkala. Pemeriksan laboratorium adalah suatu tindakan dan
prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan/sample dari penderita, dapat
berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), atau sampel dari hasil biopsy.
Tujuan pemeriksaan laboratorium yaitu :
1 . Me n d e t e k s i p e n y a k i t
2 . Me n e n t u k a n r e s i k o
3. Memant au per kembangan penyaki t
4. Memant au pengobat an dan l ai n- l ai n
5.Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai dan potensi
membahayakan.

Dalam makalah ini akan dibahas hal yang dapat mempengaruhi pemeriksaan
laboratorium adalah penggunaan obat oleh pasien sebelum dilakukan pemeriksaan.
Penggunaan obat dapat mempengaruhi hasilpemeriksaan hematologi misalnya : asam
folat, Fe, vitamin B12 dll. Pada pemberian kortikosteroid akanmenurunkan jumlah
eosinofil, sedang adrenalin akan meningkatkan jumlah leukosit dan trombosit.
Pemberiantransfusi darah akan mempengaruhi komposisi darah sehingga menyulitkan
pembacaan morfologi sediaan apusdar ah t epi maupun peni l ai a n hemos t as i s .
Ant i koagul an or al at au hepar i n dapat mempengar uhi has i l pemeriksaan
hemostasis.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan interaksi obat?
2. Apa saja jenis-jenis laboratorium kesehatan?
3. Apa saja tujuan pemeriksaan di laboratorium kesehatan ?
4. Bagaimana mutu pelayanan laboratorium kesehatan ?
5. Bagaimana pelayanan laboratorium terhadap kesehatan masyarakat?

1.3 Tujuan Penulisan
Penyusunan makalah ini ditujukan untuk:
1. Untuk memenuhi tugas Toksikologi.
2. Untuk menambah wawasan mengenai Pengertian interaksi obat
3. Untuk mengetahui jenis-jenis laboratorium kesehatan.
4. Untuk mengetahui tujuan pemeriksaan di laboratorium kesehatan
5. Untuk mengetahui mutu laboratorium kesehatan
6. Untuk mengetahui pelayanan laboratorium terhadap kesehatan masyarakat

1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini didasarkan pada gabungan dari beberapa literatur dan
pencarian data melalui media internet.

1.5 Manfaat Penulisan
Agar pembaca mengetahui lebih dalam tentang interaksi obat dengan tes laboratorium,
Jenis-jenis laboratorium kesehatan, mutu pelayanan laboratorium kesehatan serta pelayanan
laboratoriumn terhadap kesehatan masyarakat.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian interaksi obat
Interaksi obat dapat didefinisikan sebagai modifikasi efek satu obat akibat obat lain yang
diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan; atau bila dua atau lebih obat berinteraksi
sedemikian rupa sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih berubah.
Bagaimanapun, harus diperhatikan bahwa makanan, asap rokok, etanol dan bahan-bahan kimia
lingkungan dapat mempengaruhi efek obat. Bila mana kombinasi terapeutik mengakibatkan
perubahan yang tidak diinginkan atau komplikasi terhadap kondisi pasien, maka interaksi
tersebut digambarkan sebagai interaksi yang bermakna klinis. Interaksi obat dapat
membahayakan, baik dengan meningkatkan toksisitas obat atau dengan mengurangi khasiatnya.
Namun, interaksi beberapa obat dapat menguntungkan. Sebagai contoh, efek
hipotensi diuretik bila dikombinasikan dengan beta-bloker dapat berguna dalam pengobatan
hipertensi. Interaksi obat juga meliputi reaksi fisikokimia diantara obat-obat parenteral bila
dicampur bersama-sama, mengakibatkan pengendapan atau inaktivasi. Bagaimanapun, bab ini
akan dititik beratkan interaksi obat yang terjadi di dalam tubuh, yang berpotensi merugikan
perawatan pasien.
Interaksi obat dengan tes laboratorium dapat mengubah akurasi diagnostik tes sehingga
dapat terjadi positif palsu atau negatif palsu. Hal ini dapat terjadi karena interferensi kimiawi.
Misalnya pada pemakaian laksativ golongan antraquinon dapat menyebabkan tes urin pada
uribilinogen tidak akurat (Stockley, 1999), atau dengan perubahan zat yang dapat diukur
contohnya perubahan tes tiroid yang disesuaikan dengan terapi estrogen (Shimp dan Mason,
1993)
2.2 Macam-Macam Interaksi Obat

1.Interaksi farmasetis
Adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat diformulasikan /disiapkan
sebelum obat di gunakan oleh penderita.Misalnya interaksi antara obat dan larutan infus IV yang
dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emulsi atau terjadi pengendapan.
Contoh lain : dua obat yang dicampur pada larutan yang sama dapat terjadi reaksi kimia atau
terjadi pengendapan salah satu senyawa, atau terjadi pengkristalan salah satu senyawa dll.
Bentuk interaksi:
a.Interaksi secara fisik
Misalnya :
-Terjadi perubahan kelarutan
-Terjadinya turun titik beku
b.Interaksi secara kimia
Misalnya :
Terjadinya reaksi satu dengan yang lain atau terhidrolisisnya suatu obat selama dalam proses
pembuatan ataupun selama dalam penyimpanan.
2. Interaksi Farmakokinetika
Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada :
-Absorbsi
Mekanisme yang dapat mengubah kecepatan absorbsi obat dalam GI tract dipengaruhi
banyak factor antara lain, berubahnya: kecepatan aliran darah GI, motilitas GI, pH GI, kelarutan
obat, Metabolisme GI, Flora GI, atau Mucosa GI, terbentuknya komplek yang tidak larut.
-Distribusi
Transport aktif dari beberapa obat anti hipertensi (bethanidine, Guenethidine,
debricoquine) ke pangkal syaraf simpatik yang merupakan tempat terjadinya efek terapeutik, di
inhibisi oleh antidepresan trisiklik (dan mungkin juga oleh beberapa phenothiazine) sehingga
terjadi penurunan kontrol terhadap tekanan darah.
-metildopa.Mekanisme tersebut juga menjadi dasar dari interaksi antara antidepresan trisiklik
dengan clonidine.
-Metabolisme
Banyak interaksi obat disebabkan oleh perubahan dalam metabolisme obat. Satu sistem
yang terkenal dalam interaksi metabolisme adalah sistem enzim yang mengandung cytochrome
P450 oxidase. Sebagai contoh, ada interaksi obat bermakna antara sipfofloksasin dan metadon.
Siprofloksasin dapat menghambat cytochrome P450 3A4 sampai sebesar 65%. Karena ini
merupakan enzim primer yang berperan untuk memetabolisme metadon, sipro bisa meninggikan
kadar metadon secara bermakna. Sistem ini dapat dipengaruhi oleh induksi maupun inhibisi
enzim, sebagaimana dibahas dalam contoh berikut
Induksi enzim - obat A menginduksi tubuh untuk menghasilkan lebih banyak obat yang
memetabolisme obat B. Hasilnya adalah kadar efektif dari obat B akan berkurang, sementara
efektivitas obat A tidak berubah.
Inhibisi enzim - obat A menghambat produksi enzim yang memetabolisme obat B,
sehingga peninggian obat B terjadi dan mungkin menimbulkan overdosis.
Ketersediaan hayati obat A mempengaruhi penyerapan obat B.
-Ekskresi
Yang disebabkan karena obat/senyawa lain. Hal ini umumnya diukur dari perubahan pada
satu atau lebih parameter farmakokinetika, seperti konsentrasi serum maksimum, luas area
dibawah kurva, waktu, waktu paruh, jumlah total obat yang diekskresi melalui urine, dsb.
3. Interaksi Farmakodinamika
Adalah obat yang menyebabkan perubahan pada respon pasien disebabkan karena
berubahnya farmakokinetika dari obat tersebut karena obat lain yang terlihat sebagai perubahan
aksi obat tanpa menglami perubahan konsentrasi plasma.
Misalnya naiknya toksisitas dari digoksin yang disebabkan karena pemberian secara bersamaan
dengan diuretic boros kalium misalnya furosemid.

Kesehatan merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bila kita sakit kita tidak dapat
melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa apalagi bagi orang-orang yang memang memiliki
aktivitas yang banyak atau jadual yangpadat, mereka akan merasa merugi karena terganggu dan
terhambat aktivitasnya. Belum lagi bagi mereka yangteryata terkena penyakit yang parah maka
akan membutuhkan biaya yang mahal untuk memulihkan kesehatannya.Adapun pepatah
mengatakan kesehatan itu mahal harganya oleh krena itu kita harus selalu
menjaga danmemelihara kesehatan tubuh kita dengan salah satunya pola hidup sehat
mengkonsumsi makan-makanan yang bergizi (sayur, buah, susu), mengkonsumsi
multivitamin bila perlu, olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, menghindari atau
memiimalkan stress dengan refreshing di akhir pekan dan kegiatan positif lainnya.
Agar dapat memantau keadaan kesehatan, perlu dilakukan tes laboratorium secara
berkala, dengan panelpemeriksaanlaboratorium,sehingga kita tahu bagaimana keadaan tubuh kita
sebenarnya. Tes laboratoriumbisa dilakukan setahun sekali sebagai bagian dari pemeriksaanrutin,
untuk megetahui parameterkesehatankita. Tapi karena tes check up gini biasanya tidak murah,
maka jarang sekali orang melakukan tes rutin tahunan. Biasanya tescuma dilakukan bila dokter
menemukan indikasi suatupenyakit, dan harus dipastikan diagnosanya dengan tes lab.
Pada laboratorium t es-tes rutin (dan non rutin) yang biasa dilakukan sebagai
berikut :
Panel Check Up Kesehatan, bertujuan untuk mengetahui kualitas kesehatan secara
umum, baik yang menyangkut fungsi organ maupun keadaan metabolisme tubuh.
Panel Premarital, untuk mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau
diturunkan, yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan rutin.
Panel Awal Kehamilan, untuk mengetahui adanya penyakit yang dapat mempengaruhi
kesehatan ibu hamil maupun janinnya.
Panel Demam, untuk mengetahui penyebab demam.
Panel Torch, untuk mengetahui adanya infeksi dan status kekebalan terhadap parasit
tosoplasma, virusrubella, cytomegalovirus dan virus herpes tipe 2 yang dapat mempengaruhi
janin.
Panel Pengelolaan Diabetes Mellitus,untuk memantau hasil pengobatan dan mendeteksi
factor resikokomplikasiDiabetes Mellitus.
Panel Lemak, unt uk menget ahui kadar ber bagai j eni s l emak yang pent i ng
dal am pr os es t er j adi nya penyumbatan pembuluh darah (Aterosklerosis).
Setiap laboratorium menentukan nilai 'normal', yang ditunjukkan pada kolum
' Nilai Rujukan' atau ' Nilai Normal' pada laporan laboratorium. Nilai ini tergantung
pada alat yang dipakai dan cara pemakaiannya. Tubuh manusia tidak seperti mesin,
dengan unsur yang dapat diukur secara persis dengan hasil yang selalu sama. Hasil laboratorium
dapat berubah-ubah tergantung pada berbagai faktor, diantaranya : jam berapa contoh darah atau
cairan lain diambil; infeksi aktif; tahap infeksi HIV; dan makanan (untuk tes tertentu, contoh
cairan harus diambil dengan perut kosong tidak ada yang dimakan selama beberapa
jam). Kehamilan juga dapat mempengaruhi beberapa nilai. Oleh karena faktor ini, hasil lab
yang di luar normal mungkin tidak menjadi masalah. Tidak ada standar nilai rujukan; nilai
laboratorium lain dapat berbeda. Jadi angka pada laporan kita harus dibandingkan
dengan nilai rujukan pada laporan, bukan dengan nilai rujukan pada lembaran ini.
Bahaslah hasil yang tidak normal dengan dokter.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai jenis tes dan range angka normal, dapat di
lihat pada LembaranInformasi beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan di laboratorium
hitung darah lengkap, tes kimia darah, gula, lemak darah, fungsi organ ginjal, fungsi hati. Pada
tabel ini, bila ada beda tergantung pada jenis kelamin, angkaditunjukkan sebagai P untuk
perempuan dan L untuk laki-laki.
Beberapa Tes laboratorium yang sering dilakukan diantaranya ialah :
1. Tes darah lengkap
Tes ini mengukur tiap komponen dalam darah. Tes darah lengkap sangat penting karena
beberapa jenisobat - obat an dapat menyebabkan r endahnya j uml ah dar ah mer ah
at au dar ah put i h, yang kemudi an dapat menyebabkan anemia atau kelainan darah lain.
Tes ini mengukur jumlah sel darah putih, hemoglobin, hematocritdan platelet dalam darah.
Dengan menggunakan tes ini, jumlah sel darah putih yang tinggi dapat berarti
tubuhmelakukan perlawanan terhadap infeksi yang mungkin tidak terdeteksi; jumlah sel darah
merah yang rendah denganhemoglobin dan hematocrit bisa jadi merupakan anemia akibat
konsumsi obat; dan jumlah platelet yang rendahdapat mempengaruhi pembekuan darah.
2. Skrining kimia darah
Tes ini merupakan skrining umum untuk mengukur apakah organ-organ tubuh anda
(jantung, hati, ginjal,pankreas), otot dan tulang, bekerja dengan benar dengan mengukur
kimia-kimia tertentu dalam darah. Tes ini penting untuk mendeteksi infeksi atau efek
samping obat. Salah satu fokus terpenting dalam tes ini adalah monitorenzim hati. Hati
merupakan organ tubuh penting karena hati membantu memproses obat-obatan, dan karena obat-
obatan ini menuntut lebih banyak dari hati anda, ada kemungkinan terjadi toksisitas hati yang
dapat mempengaruhi kesehatan umum anda. Albumin, alkalin, fosfat dan bilirubin juga
perlu dimonitor untuk memastikan hati anda bekerja dengan baik. Fokus penting lain
adalah untuk memonitor tingkat lipid jantung anda. Tes ini membantu memonitor
kolesterol LDL (kolesterol jahat), kolesterol HDL (kolesterol sehat) serta trigliserida. Mengenal
jenis-jenis lipid ini sangatlah penting untuk membantu memonitor kemungkinan penyakit
jantung. Tes kimia darah ini sebaiknya dilakukan setiap tiga bulan, hasilnya dapat diperoleh
dalam dua atau tiga hari kerja.
Tes laboratorium merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan komprehensif
dengan membantu memonitor perkembangan penyakit di dalam tubuh. Tes-tes ini dapat menjadi
indikator untuk mendeteksi masalah-masalah kesehatan. Namun, ketika anda menggunakan hasil
lab sebagai perbandingan dalam memonitor kesehatan anda, perlu juga untuk memahami bahwa
suatu hasil tes yang tidak terduga belum tentu mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang
serius, yang lebih penting adalah untuk melihat tren dari hasil tes dalam jangka waktut ertentu,
daripada hanya berpatokan pada satu hasil tes saja. Selain itu, terdapat banyak faktor dapat
membuat hasil tes darah anda berbeda, ingatlah: bila anda tidak nyaman dengan tes
darah pertama anda, minta dokter untuk mengulang tes. Penting untuk semua orang untuk
memiliki pengertian umum tentang cara membaca ringkasan hasil tes laboratorium. Namun,
lebih penting lagi untuk berbicara dengan dokter anda mengenai hasil lab anda dan minta
kepadanya unt uk mengar t i kan hasi l t es dan bagai mana hasi l t er s ebut dapat
mempengar uhi per encanaan pengobatan anda.





Macam-macam uji laboratorium:

Alkalin Fosfatase
Merupakan suatu enzym yang dibuat di liver, tulang dan plasenta dan biasanya ada dalam
konsentrasi tinggi pada saat pertumbuhan tulang dan didalam empedu. Enzim ini menghidrolisis
ester fosfat dalam medium alkali.
Alkalin fosfatase dilepaskan kedalam darah pada saat luka dan pada aktivitas
normal seperti pada pertumbuhan tulang dan pada saat kehamilan. Tingginya tingkat alkalin
fosfat dalam darah mengindikasikan adanya penyakit dalam tulang atau lever dan konsentrasi
akan meningkat jika terjadi obstruksi aliran empedu.
Tes untuk alkalin fosfat dikerjakan untuk mendiagnosa penyakit-penyakit liver atau
tulang, atau untukmelihat apakah pengobatan untuk penyakit tersebut bekerja.
Uji alkalin fosfat ada dalam tes darah rutin termasuk dalam bagian tes fungsi
liver. Kisaran normal alkalin fosfat dalam darah adalah 44 sampai 147 IU/L.
Obat-obat yang dapat mempengaruhi konsentrasi alkalin fosfat diantaranya ialah :
1 . O b a t A I N S
Dapat menurunkan angka alkalin fosfatase
2 . P a r a s e t a m o l
Meningkatkan angka alkalin fosfatMekanisme :
Parasetamol dapat mengganggu metabolisme sel hati yang dapat menyebabkan nekrosis.
Terjadinya nekrosis ini akan meningkatkan angka alkalin fosfatase.

Bilirubin
Bilirubin (pigmen empedu) merupakan hasil akhir metabolisme dan secara fisiologis
tidak penting, namun merupakan petunjuk adanya penyakit hati dan saluran empedu.
Pembuangan sel darah merah yang sudah tua atau rusak dari aliran darah dilakukan oleh empedu.
Selama proses tersebut berlangsung, hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang
mengangkut oksigen) akan dipecah menjadi bilirubin. Bilirubin kemudian dibawa ke dalam
hati dan dibuang ke dalam usus sebagai bagian dari empedu.
Obat-obat yang mempengaruhi Bilirubin:
1 . F e n o b a r b i t a l
Dapat menurunkan kadar bilirubin
Fenobarbital meningkatkan aktivitas glukoronil transferase (enzim yang digunakan pada
konyugasi dengan asam glukuronat sehingga dengan cepat diekskresi melalui empedu dan urin)
2 . Es t r o g e n , S t e r o i d An a b o l i k
Dapat meningkatkan kadar bilirubin;
Menyebabkan penurunan ekskresi bilirubin. Hal ini menyebabkan terjadinya
hiperbilirubinemia, yangdisebabkan karena terjadinya gangguan transfer bilirubin melalui
membran hepatosit yang sehingga terjadiretensi bilirubin dalam sel;
Obat-obat yang mempunyai mekanisme yang sama adalah halotan (anestetik), isoniazid, dan
klorpromazin.

Glukosa
Obat-obat yang mempengaruhinya:
1 . A t e n o l o l
Interaksi dengan test laboratorium : Dapat menurunkan konsentrasi glukosa
Mekanisme : menghambat glikogenolisis di sel hati dan otot rangka sehingga mengurangi efek
hiperglikemiadari epinefrin yang dilepaskan oleh adanya hipoglikemia sehingga kembalinya
kadar gula pada hipoglikemiadiperlambat.

2 . K o r t i k o s t e r o i d g o l o n g a n g l u k o k o r t i k o i d
Interaksi dengan test laboratorium : Dapat menurunkan konsentrasi glukosa
Mekanisme : meningkatkan glukoneogenesis dan mengurangi penggunaan glukosa di
jaringan periferdengan cara menghambat uptake dan penggunaan glukosa oleh
jaringan mungkin melalui hambatantransporter glukosa.
Kadar normal: 7-20mg/DL

Blood Urea Nitrogen (BUN) test
BUN adalah konsentrasi urea pada plasma atau darah yang merupakan indikator penting
fungsi ginjal. Test ini digunakan untuk melihat apakah ginjal bekerja dengan baik atau tidak
dimana pada fungsi ginjalnormal, kadar urin nitrogen adalah 3,6-7,1 mmol/L atau 10-20/dL.
BUN test dilakukan dengan mengukur jumlahnitrogen yang berada dalam darah yang berasal
dari urea.
Obat yang mempengaruhi:
1 . F u r o s e m i d
Furosemid dapat meningkatkan BUN
Mekanisme: furosemid adalah obat golongan diuretik kuat yang dapat menyebabkan ekskresi
glomerularsodium dan air yang tinggi (20-30%), sehingga menyebabkan dehidrasi. Jika terjadi
dehidrasi maka alirandarah ke ginjal menjadi berkurang.
2 . V a n k o m i s i n
Vankomisin dapat meningkatkan Blood Urea Nitrogen
Mekanisme: Vankomisin dapat menyebabkan ginjal tidak bekerja dengan baik, pengeluaran urea
nitrogen menjadi terhambat sehingga kadarnya dalamdarah meningkat.
3.Piroksikam
Piroksikam sedikit dapat meningkatan kadar BUN pada permulaan terapi yang
kemudian menetapkadarnya (plateau) seperti halnya pada pengobatan dengan
fenilbutazon, indometasin dan aspirin.
Prostaglandin pada ginjal merupakan hormon dalam pengaturan sirkulasi darah di dalam medula
dankorteks adrenal.
Mekanisme kerja:Penghambatan sintesis prostaglandin oleh obat ains menyebabkan kenaikan
kadar Blood Urin Nitrogen

3. Transaminase
untuk mendeteksi adanya kerusakan hati, pemeriksaannya dengan pengukuran
SGOT dan SGPT. Keduanyaterdapat dalam sel hati dalam jumlah yang besar dan ditemukan
dalam serum dalam jumlah yang kecil. Kadarnya dalam serum akan meningkat ketika sel rusak
atau membran sel terganggu.

SGOT (Serum Glutamat Oksaloasetat trans)
Penurunan kadar SGOT terjadi pada saat kehamilan, diabetik ketoasidosis dan
beri-beri, sedangkanpeningkatan kadar SGOT pada kondisi infark miokard akut
(IMA), ensefalitis, nekrosis, hepar, penyakit dantrauma muskuloskeletal, pankreatiis akut,
eklampsia, dan gagal jantung kongestif.
Obat yang dapat meningkatkan nilai SGOT : Antibiotik, narkotik, vitamin (asam folat,
piridoksin, vitamin A),antihipertensi (metildopa, guanetidin), teofilin, golongan digitalis,
kortison, flurazepam, indometasin, isoniasid,rifampisisn, kontrasepsi oral, salisislat, injeksi
intramuskular.
1 . I s o n i a z i d
Isoniazid dapat menimbulkan ikterus dan kerusakan hati yang fatal akibat terjadinya nekrosis
multilobular.Sehingga hal ini menyebabkan peningkatan aktivitas enzim transaminase.

Serum Glutamat Piruvat Transaminase (SGPT)
Peningkatan Kadar : Hepatitis (virus) akut, hepatotoksisitas yang menyebabkan nekrosis
hepar (toksisitas obatatau kimia); agak atau meningkat sedang : sirosis, kanker hepar, gagal
jantung kongestif, intoksikasi alkoholakut; peningkatan marginal: infark miokard akut (IMA).
Obat yang dapat meningkatkan SGPT : Antibiotik, narkotik, metildopa, guanetidin, sediaan
digitalis, indometasin,salisilat, rifampisin, flurazepam, propanolol, kontrasepsi oral, timah,
heparin.
1.Rifampisin
Mekanisme Kerja: Rifampisin dapat meningkatkan hepatotoksik sehingga menyebabkan
peningkatan aktivitasenzim transaminase.

Kolesterol
Obat-obat yang dapat menurunkan nilai kolesterol : Tiroksin, estrogen,
aspirin, antibiotik (tetrasiklin danneomisin), asam nikotinik, heparin, kolkisin. Obat-obat
yang dapat meningkatkan nilai kolesterol : Pil KB, epinefrin, fenotiazin, vitamin A dan D,
sulfonamid,fenitoin (Dilantin).
1. Vi t ami n C dos i s t i nggi menur unkan kadar kol est est er ol mel al ui
mekani sme:
Memperlebar arteri sehingga memperkecil deposit kolesterol pada dinding arteri
Meningkatkan aktifitas fibrinolisis, yang bertanggungjawab untuk memindahkan
penumpukankolesterol dari arteri
Mengeliminasi kelebihan kolesterol dalam aliran darah dengan membawa ke empedu.

Trigliserida
Penurunan kadar :-lipoproteinemia kongenital, hipertiroidisme, malnutrisi protein, latihan.
Obat-obat yang dapat menurunkan nilai trigliserida : Asam askorbat, kofibrat (Atromid-S),
fenformin, metformin.
Peningkatan Kadar : Hiperlipoproteinemia, IMA, hipertensi, hipotiroidisme, sindrom nefrotik,
trombosis serebral,sirosis alkoholik, DM yang tidak terkontrol, sindrom Downs, stress, diet
tinggi karbohidrat, kehamilan.

Metformin
Mekanisme : Metformin dapat menurunkan absorbsi glukosa dari saluran lambung-usus .
Metformin hanyamengurangi kadar glukosa darah dalam keadaan hiperglikemia serta tidak
menyebabkan hipoglikemia biladiberikan sebagai obat tunggal.

Kreatinin Serum
Kreatinin adalah produk sampingan dari hasil pemecahan fosfokreatin (kreatin) di otot yang
dibuang melaluiginjal. Normalnya kadar kreatinin dalam darah 0,6 1,2 mg/dl. Bila fungsi ginjal
menurun, kadar kreatinin darahbisa meningkat.
1 . O b a t G o l o n g a n A I N S
Obat golongan ini : diklofenak, indometasin, asetosal, ibuprofen, piroksikam, asam
mefenamat, ketoprofen,naproksen, meloksikam, oksaprozin, dllObat golongan ini dapat
menyebabkan resiko menurunnya fungsi ginjal, sehingga dapat
menyebabkanmeningkatnya kadar kreatinin dalam darah.
2 . A m f o t e r i s i n B
Amfoterisin B dapat menyebabkan penurunan filtrasi glomerulus yang juga
berakibat pada penurunanfungsi ginjal, sehingga dapat menyebabkan meningkatnya kadar
kreatinin dalam darah


DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara, G.S., 1995.Farmakologi dan Terapi, Ed. IV. Bagian farmakologi Fakultas
kedokteran UniversitasIndonesia. Jakarta: Gaya Baru
www.dokter.indo.net.id.Di download tanggal 9 Mei 2009 Pukul 12:00.
Yulinah Elin, dkk. 2008.ISO Farmakoterapi. Jakarta : PT ISFI Penerbitan.