Anda di halaman 1dari 13

TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

Solidifikasi

Disusun oleh:
Kelompok : III/3KB
Anggota :
1. Debi Anggun Sari 0612 3040 0315
2. Eliciah Furi Ningrum 0612 3040 0318
3. Intan Farrah Diba 0612 3040 0322
4. M. Pebri Pratama 0612 3040 0324
5. Ralang Puspa Pertiwi 0612 3040 0328
6. Uci Melinda 0612 3040 0332
7. Wismoyo Mandala Pratama 0612 3040 0333

Dosen Pengajar : Hilwatullissan, S.T., M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
2013/2014

SOLIDIFIKASI
I. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa dapat melakukan proses
solidifikasi limbah berbahaya agar kontaminan terlarut dapat larut atau
terekstrak kembali ke air dan tidak menyebar ke lingkungan.

II. Dasar Teori
Limbah adalah bahan yang tidak diinginkan atau sisa dari suatu proses, atau
dibuang dari pemukiman penduduk atu komunitas hewan.

Secara umum limbah dibagi menjadi dua yaitu:
1. Limbah ekonomis yaitu limbah yang dapat dijadikan produk sekunder untuk
produk lain dan dapat mengurangi pembelian bahan baku.
2. Limbah non ekonomis yaitu limbah yang dapat merugikan dan membahayakan
serta menimbulkan pencemarn lingkungan.
Berdasrkan bentuknya limbah dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
1. Limbah cair
2. Limbah gas
3. Limbah padat
4. Limbah B3
Limbah B3
Limbah B3 berdasrkan BAPEDAL (1995) adalah setiap bahan sisa (limbah ) suatu
kegiatan berdasarkan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity dan corrosivity). Serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.
Berdasarkan sumbernya limbah B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Primary sludge yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada
pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organic stabil dan
mudah menguap.
2. Chemical sludge yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan
flokulasi.
3. Excess activated sluge yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan
dengan lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organic berupa
lumpur dari hasil proses tersebut
4. Digested sludge yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan
digested aerobic maupun anaerobic dimana padatn atau lumpur yag dihasilkan
cukup stabil dan banyak mengandung padatan organic.
Identifikasi limbah B3 berdasarkan kedalam dua kategori yaitu:
1. Berdasarkan sumber
2. Berdasarkan karakteristik
Penggolongan limbah B3 berdasarkan sumbernya, yaitu:
Limbah B3 dari sumber spesifik
Limbah B3 dari sumber tidak spesifik
Limbah B3 dari sumber bahan kimia kadarluarsa, tumpahan, bekas kemasan,
dan bunangan produk yang tidak memenuhi spesifik
Penggolongan limbah B3 berdasarkan karakteristik ditentukan dengan:
Mudah meledak
Pengoksidasi
Sangat mudah sekali menyala
Sangat mudah menyala
Mudah menyala
Amat sangat beracun
Beracun
Berbahaya
Korosif
Bersifat iritasi
Berbahay bagi lingkungan
Karsiogenik
Tetratogenik
mutagenik
karaketristik limbah b3 berdasarkan pertambahan lebih banyak dari PP No. 18 tahun
1999 yang hanya mencantumkan enam criteria, yaitu:
1. mudah meledak
2. mudah terbakar
3. bersifat reaktif
4. beracun
5. menyebabkan infeksi
6. bersifat korosif
Karakteristik limbah B3 berdasarkan pada beberapa parameter, yaitu:
1. Total solid residu (TSR)
2. Kandungan fixed residu (FR)
3. Kandungan volume residu (VR)
4. Kadar air
5. Volume padatan
Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Mg dan Zn
serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfide, fenol dan sebagainya.
Pengolahan limbah B3
Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan
kandungan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat dilakukan dengan
proses sebagai berikut:
1. Proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi, pengendapan,
stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa.
2. Proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan dan
penyisihan komponen-komponen spesifik dengan metode kristalisasi.
3. Proses stabilisasi/solidifikasi yang bertujuan untuk mengurangi potensi racun
dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut, penyebaran, dan
daya racun sebelum limbah dibuang ke tempat penimbunan akhir.
4. Proses insenerasi dengan cara melakukan pembakaran materi limbah
menggunakan alat khusus insenerator dengan efisiensi pembakaran harus
mencapai 99,99% atau lebih. Artinya: jika suatu materi limbah B3 ingin dibakar
(insinerasi) dengan berat 100 kg maka abu sisa pembakaran tidak boleh
melebihi 0,01 gram atau 10 gram.
Teradapat 3 metode pengolahan limbah B3, yaitu:
1. Chemical Conditioning
Tujuannya:
Menstabilakan senyawa-senyawa organic yang terkandung di dalam
lumpur
Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
Mendestruksi organism pathogen
Memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang masih
memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses
digestion
Mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan
aman dan dapat diterima lingkungan
Tahapan-tahapan chemical conditioning
a. Concentration Thickening
Bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara
meningkatkan kandungan padatan
b. Threatment, Stabilization, dan Conditioning
Bertujuan untuk menstabilkan senyawa organic dan menghancurkan pathogen.
Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia,
fisika dan biologi. Pengkondisian ini maksudnya berlangsung dengan adanya
proses pembentukkan ikatan bahan kimia dengan partikel koloid.
Pengkondisian secara fisik berlangsung dengan jalannya memisahkan bahan
kiimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian biologi
berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi
oksidadi. Proses yang terkait yaitu: lagoning, anaerobic digestion, aerobic
digestion, heat treatment, chemical conditioning dan lain-lain.
c. De-watering and Drying
Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus
mengurangi volume lumpur. Prose yang terlibat pada tahapan ini umumnya
ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang digunakan adalah drying bad, filter
press, centrifuge, vacuum filter dan belt press.
d. Disposal
Disposal adalah proses pembuangan akhir limbah B3. Proses yang terlibat yaitu
pyrolisis, wet air oxidation, dan composting.

2. Solidifikasi/stabilization
Solidifikasi didefinisikan yaitu proses pencampuran bahan berbahaya dengan
bahan tambahan (aditif) dengan tujuan untuk menurunkan laju migrasi dan toksisitas
bahan berbahaya tersebut ataupun proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan
penambahan aditif. Prinsip kerja solidifikasi adalah pengubahan watak fisik dan
kimiawi bahan berbahaya (limbah B3) dengan cara penambahan senyawa pengikat
sehingga pergerakkan senyawa-senyaw B3 dapat dilihat/dihambat atau terbatasi dan
membentuk ikatan massa monolit dengan struktur yang kekar.


Proses stabilisasi/solidifikasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi enam,
yaitu:
1. Macroencapsulation yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah
dibungkus dalam matriks struktur yang besar.
2. Microencapsulation yaitu proses yang mirip Macroencapsulation tetapi bahan
pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur Kristal pada tingkat
mikroskopik.
3. Precipitation
4. Adsorpsi yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada
bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
5. Absorpsi yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke
bahan pemadat.
6. Detoxification yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi
senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama
sekali.
Menurut Roger Spence dan Caijun shi (2006), tata cara kerja stabilisasai/solidifikasi,
yaitu:
Limbah B3 sebelum distablisasi/solidifikasi harus dianalisa karakteristiknya,
guna menentukkan jenis stabilisasi/solidifikasi yang diperlukan terhadap limbah
B3 tersebut.
Setelah dilakukan stabilisasi/solidifikasi, terhadap hasil olahan tersebut
selanjutnya dilakukan uji kuat tekan (compressive strength) dengan soil
penetrometer test. Hasil uji tekan harus mempunyai nilai tekan minimum
sebesar 10 ton/m
2
.
Kemudian dilakukan uji TCIP untuk mengukur kadar/ konsentrasi parameter
dalam lindi. Hasil uji TCIP sebagaimana dimaksud, kadarnya tidak boleh
melewati nilai amabang batas sebagaimana ditetapkan.
Hasil olahan yang telah memenuhi persyarata TCIP dan nilai uji kuat bahan
tekan, disamping bisa dibuang ke landfill juga dimanfaatkan sebagai bahan
konstruksi. Produk solidifikasi biasanya berupa blok monolit, material berbasis
lempung, granular, dan bentuk fisik lain yang berupa padatan.
Teknologi solidifikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur
(Ca(OH)3) dan bahan thermoplastic. Metode yang diterapkan dilapangan ialah metode
in-drum mixing, in-situ mixing dan plant mixing. Peraturan mengenai
solidifikasi/stabilisasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan kep.03/BAPEDAL/09/1945 dan
kep.04/BAPEDAL/09/1995.
Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem operasi, meliputi:
1. Sistem keamanan fasilitas
2. Sistem pencegahan terhadap kebakaran
3. Sistem pencegahan terhadap kebanjiran
4. Sistem penaggulangan keadaan darurat
5. Sistem pengujian bahan
6. Pelatihan karyawan
Table keuntungsan dan kerugian solidifikasi menggunakan semen
Keuntungan
Kerugian

Material dan teknologinya mudah
dijangkau
Peningkatan volume dan densitas
yang tinggi
Sesuai dengan berbagai jenis limbah
Dapat mengalami keretakkan dan
terekspor dengan air
Biaya sedikit
Produk sedimentasi bersifat stabil
terhadap bahan kimia dan biokimia

Produk sedimentasi tidak mudah
terbakar dan memiliki kestabilan
tempertur yang baik


Kompoisi gitumen merupakan campuran hidrokarbon dengan berat molekul
tinggi. Dua komponen terdiri dari senyawa asphattene dan senyawa methane.
Beberapa jenis gitumen anatara lan straight run distillation asphalts, oxidized asphalts,
croked asphalts dan emulsified asphalts.
Table keuntungan dan kerugian solidifikasi menggunkan gitumen
keuntungan kerugian
Material dan teknologinya mudah
dijangkau tidak larut dalam air
Dapat terbakar
tidak larut dalam air

Proses memerlukan peningkatan
tempertaur
Beban kapasitas limbah yang tinggi Adanya endapan partikulat selam
pendinginan
Biaya sedikit
Kemampuan pencapuran yang baik


3. Incineration
Teknologi pembakaran (inceneration) adalah alternative yang menarik dalam
teknologi pengolahan limbah. Proses pembakaran (incineration) limbah B3 yaitu untuk
penghancuran dengan panas yang merupakan salah satu teknik pengolahan limbah B3.
Incineration merupakan alat yang digunakan untuk mengolah limbah B3 dengan proses
pembakaran dengan kondisi terkendali. Incinerator memiliki kelebihan yaitu dapat
menghancurkan berbagai senyawa organic dengan sempurna, tetapi memiliki
kelemahan yaitu operator harus terlatih.
Pengolahan limbah B3 harus memenuhi beberapa syarat yaitu lokasi
pengolahan. Lokasi pengolah limbah B3 dapat dilakukan dalam lokasi penghasil limbah
atau diluar lokasi pengahsil limbah
Syarat lokasi jika didalam area penghasil limbah, yaitu:
Bebas dari banjir
Jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter.
Syarat lokasi jika diluar area penghasil limbah , yaitu:
Bebas dari banjir
Jarak dengan jalan utama minimu 150 meter atau 50 meter untuk jalan lainnya.
Jarak dengan daerah beraktivias penduduk dan aktivitas umum minimum 300
meter
Jarak dengan wilayah perairan dan sumur penduduk minimu 300 meter.
Jarak dengan wilayah terlindungi minimum 300 meter.

III. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
Pengaduk : 1 buah
Spatula : 1 buah
Wadah plastic : 3 buah
Gelas piala 150 mL, 250 mL, 500 Ml : @ 1 buah
Gelas ukur 100 mL : 1 buah
pH meter : 1 buah
biuret : 1 buah



Bahan yang digunakan
Semen
H
2
SO
4

KMnO
4

Fe

IV. Prosedur Kerja
Tahap awal mencampurkan semen dengan air yang mengandung Fe dengan
kadar yang berbeda-beda
Menimbang banyak semen yang digunakan untuk mensolidkan sampel limbah
Fe sampai membentuk mul
Menitrasi sisa sampel Fe 25 ml untuk sebagai data penimbangan sebelum
sampel berubah jadi solid
Mendiamkan sampel selama 1 hari
Menitrasi sampel yang telah berbentuk padatan menggunaka KMnO
4


V. Data Pengamatan
No Sampel 1
Volume Titran (mL)
Berat semen (gram)
sebelum sesudah
1 Pengenceran 1 5,7 0,6 126,0088
2 Pengenceran 2 4,1 0,8 152,1758
3 Pengenceran 3 3,2 0,4 171,2571

VI. Perhitungan
Pembuatan larutan untuk titrasi
a. Larutan KMnO
4
(0,1 M dalam 500 ml)
Gr = M x V x BM
= 0,1 mol/ liter x 0,5 liter x 158, 04 gram/mol
= 7,9 gram

b. Larutan H
2
SO
4
0,5 M dalam 250 ml
M
1
=

=


= 18,38 M
Pengenceran
M
1
x V
1
= M
2
x V
2
V
1
=

=


= 0,0068 L = 6,8 ml
c. Menentukan kadar Fe dalam sampel sebelum dan sesudah titrasi pengolahan
limbah dengan solidifikasi

sebelum solidifikasi
Fe =


x




Sampel 1
% Fe =


x 100%
=


x 100%
= 636,35%
Sampel 2
% Fe =


x 100%
=


x 100%
= 457,724%
Sampel 3
% Fe =


x 100%
=


x 100%
= 357,25%
Setelah titrasi
Fe =


x



Sampel 1
Fe =


x 100%
=


x 100%
= 22,33%
Sampel 2
Fe =


x 100%
=


x 100%
= 29,77%
Sampel 3
Fe =


x 100%
=


x 100%
= 14,89%
VII. Analisa Percobaan
Pada percobaan yang telah kami lakukan, kami mengasumsikan terdapat
limbah B3 yaitu limbah logam Fe dengan suatu sampel. Sebagai mana yang kita
ketahui, penanganan limbah B3 yang kurang tepat akan membahayakan kehidupan
makhluk hidup dan lingkungan. Sebagi contohnya yaitu terjungkitnya penyakit akut
akibat keracunan dan akumulasi limbah B3. Metode alternative yang lebih aman
diperlukan untuk menangani limbah B3 dengan mengubah karakteristik dan komposisi
limbah B3 menjadi tidak berbahaya, dan akan lebih baik apabila hasilnya dapat
dimanfaatkan. Proses ini dapat dilakukan dengan metode solidifikasi menggunakan
semen.
Logam Fe merupakan logam yang bersifat racun walaupuh kadarnya tidak
terlalu banyak. Metode solidifikasi menggunakan semen dapat menstabilkan logam
berbahaya menjadi tidak membahayakan lingkungan. Secara sederhana, prinsip kerja
dari proses solidifikasi itu adalah proses pengubahan sifat fisik dan kimia limbah B3
dengan cara penambahan senyawa pengikat sehingga pergerakkan senyawa-senyawa
B3 dapat dihambat atau terbatasi dengan membentuk ikatan massa monolit struktur
massif.
Tujuan dari penambahan semen (aditif) adalah untuk menurunkan laju
migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah
tersebut. Proses yang terjadi disini adalah proses adsorpsi, dimana bahan pencemar Fe
diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat (semen). Setelah proses ini bahan
pencemar akan terserap kebahan padatannya atau yang sering kita kenal dengan
proses absorpsi. Dengan bantuan semen, proses detosifikasi dapat terjadi, yaitu pada
saat pengeluaran toksisitas dari limbah akan lebih rendah atau bahkan hilang sama
sekali.
Bahan pengsolidifikasi biasanya digunakan semen, kapur, gitumen dan
silica. Semen banyak digunakan sebagai matrik solidifikasi karena semen banyak
digunakan dalam perdagangan maupun penelitian. Berdasarkan data pengamatan,
kadar Fe sebelum dilakukan solidifikasi adalah lebih besar daripad kadar Fe setelah
dilakukan solidifikasi adalah lebih besar daripada kadar Fe setelah dilakukan
solidifikasi. Ini menunjukkan bahwa proses atau teknik solidifikasi memang merupakan
teknik yang tepat untuk mengolah limbah B3 khusunya logam. Karena logam-logam
berat yang dibuang atau bebas dilingkungan dapat mencemari lingkungan bahkan
dapat menimbulkan efek gangguan kesehatan pada makhluk hidup.

VIII. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Solidifikasi bertujuan untuk mencegah migrasi/ penyebaran bahan berbahaya
yang terdapat di lingkungan atau pada suatu limbah cair dengan
menguabahnya dalam bentuk padatan sehingga mudah ditangani. Bahan yang
digunakan untuk memadatkan limbah tersebut adalah semen.
2. Kadar Fe sebelum solidifikasi dan sesudah solidifikasi, yaitu;
Sampel 1, sebelum = 636,35% dan sesudah = 22,33%
Sampel 2, sebelum = 457,724% dan sesudah = 29,77%
Sampel 3, sebelum = 357,25% dan sesudah = 14, 89%
3. Berat semen yang digunakan, yaitu:
Sampel 1 = 126,0088 gram
Sampel 2 = 152,1758 gram
Sampel 3 = 171,2571 gram

IX. Daftar Pustaka
Jobsheet.2013. Penuntun Praktikum Teknik Pengolah Limbah. Politeknik
Negeri Sriwijaya: Palembang

X. Gambar Alat

Gelas ukur

Biuret

Spatula

Pengaduk