Anda di halaman 1dari 32

PTK Bahasa Arab

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kiranya tidak asing lagi apabila mendengar guru-guru Agama yang menyatakan keluhan-
keluhan tentang pengajaran materi pendidikan agama. Hal ini disebabkan karena adanya faktor
ketakutan dari siswa itu sendiri yang menganggap materi pendidikan agama adalah materi yang
paling menyulitkan untuk dipelajari atau bahkan di anggap remeh karena materi pendidikan
agama sering di jumpai, Ketika seorang guru memberikan materi pendidikan agama saat itu juga
siswa merasa kurang berminat, kurang termotivasi untuk mempelajari atau untuk menerimanya.
Akibatnya, dapat mengurangi keefektifan proses belajar mengajar.
Faktor lain adalah karena basic (dasar) dari siswa. Mayoritas siswa yang belajar di
sekolah-sekolah umum memiliki dasar yang minim sekali tentang pendidikan agama. Atau
mereka bisa dikatakan orientasinya kepada pendidikan agama kurang. Akibatnya, ketika siswa
dihadapkan pada materi agama khususnya pembelajaran bahasa arab, siswa akan mengalami
kesulitan pada proses belajarnya.
Demikian juga alokasi waktu yang diberikan untuk mata pelajaran PAI di sekolah-
sekolah umum (1 x pertemuan dalam seminggu / 2 x 45 menit). Bagaimana mungkin siswa dapat
membaca dengan fasih, menulis dengan tepat dan benar, menghafal dengan cepat. Dengan latar
belakang basic agama yang minim sekali sementara waktu yang diberikan untuk materi
pendidikan agama sangat sedikit sekali. Hal inilah yang menjadi penghalang ketercapaian hasil
yang memuaskan. Akan berbeda sekali dengan siswa madrasah pada umumnya yang telah
memiliki latar pendidikan agama. Lebih mudah untuk membaca, mudah dalam menulis dan
menghafal sehingga tidak terdapat kesulitan-kesulitan untuk mempelajari materi pendidikan
agama akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh
anak didik baik dari faktor intern ataupun ekstern.
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas sebagai gambaran problema dalam memperoleh
efektifitas dan efisien pembelajaran materi pendidikan agama, maka disini penulis tertarik untuk
mengangkat permasalahan tersebut melalui pendekatan teoritis dan empirik. Maka dari itu disini
penulis mencoba untuk mengambil judul Penggunaan Metode DrillDalam Mengatasi
Kesulitan Belajar Siswa Pada Materi Bahasa Arab Di kelas VIII- Di
MTS Kediri II. Kediri.Dari sini diharapkan dapat menemukan pemecahannya sehingga dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang hendak di kaji dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Bagaimana pelaksanaan metode drill dalam mengatasi kesulitan belajar pada materi Bahasa Arab
yang diberikan pada siswa kelas kelas VIII di MTs Negeri Kediri II ?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak di kaji tersebut, maka peneliti ini bertujuan untuk :
Mengetahui bagaimana pelaksanaan metode drill dalam pembelajaran materi Bahasa Arab siswa
kelas kelas VIII di MTs Negeri Kediri II

D. Hipotesis
Dengan menggunakan Metode Drill materi Pendidikan Agama Islam dapatt
mempermudah belajar siswa kelas VIII di MTs Negeri Kediri II khususnya dalam pembelajaran
Bahasa Arab.

E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian, diharapkan dapat meberikan manfaat, antara lain :
1. Lembaga
Sebagai pemberi informasi tentang hasil dari penggunaan metode drill dalam proses belajar
mengajar Pendidikan Agama Islam khususnya Bahasa Arab, serta sebagai bahan pertimbangan
bagi lembaga dalam memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian materi
Pendidikan Agama Islam.
2. Guru
Agar guru lebih mudah dalam menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan efesien
dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan tentang
penggunaan metode pembelajaran.
3. Siswa
Siswa agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru serta lebih mudah
dalam memotivasi kegiatan belajar materi Pendidikan Agama Islam khususnya Bahasa Arab
untuk direalisasikan dalam kehidupannya..

F. Sistematika Pembahasan
BAB I Pendahuluan, pada bab ini memaparkan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, hipotesis
penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II Kajian Pustaka, pada bab ini memaparkan tentang pengertian, unsur-unsur, tujuan, kebaikan, kelemahan,
dan penggunaan metode drill dalam pembelajaran Bahasa Arab.
BAB III Metode Penelitian, pada bab ini memaparkan tentang pendekatan dan jenis penelitian, tahapan penelitian,
siklus penelitian, pembuatan instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, pengecekan keabsahan data,
indikator kinerja.
BAB IV Paparan Data dan Hasil Penelitian, pada bab ini memaparkan tentang lokasi penelitian dan hasil penelitian
yang meliputi penyajian data-data yang diperoleh dari lapangan.
BAB V Penutup, pada bab ini memaparkan tentang kesimpulan dari hasil penelitian serta saran yang diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi perkembangan Pendidikan Agama Islam khususnya Bahasa Arab dalam
metode pengajarannya.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Metode Drill
1. Definisi Metode Drill
Sebelum mendefinisikan tentang metode drill terlebih dahulu mengetahui tentang metode mengajar
itu sendiri. Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid menerima pelajaran
pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk memberitahukan atau membangkitkan.
[1]
Oleh
karena itu peranan metode pengajaran ialah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang
kondusif. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan
mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif antara guru dengan siswa. Dalam interaksi
ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau
yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih aktif di bandingkan
dengan gurunya. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan
kegiatan belajar siswa dan sesuai dengan kondisi pembelajaran.
Salah satu usaha yang tidak boleh ditinggalkan oleh guru adalah bagaimana guru
memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang mempengaruhi dalam proses
belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh tetapi nyata
dan memang betul-betul dipikirkan oleh guru.
Dari definisi metode mengajar, maka metode drill adalah suatu cara mengajar dimana
siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau
ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
[2]

Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama,
berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau
menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode
ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.
[3]

Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat
siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.

2. Macam-Macam Metode Drill
Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu
sebagai berikut :
a. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan
memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
b. Teknik Discovery (penemuan)
Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat,
diskusi.
c. Teknik Micro Teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi
pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan,
kecakapan dan sikap sebagai guru.
d. Teknik Modul Belajar
Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan
(kompetensi).
e. Teknik Belajar Mandiri
Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di
luar kelas.
[4]


3. Tujuan Penggunaan Metode Drill
Metode Drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa :
a. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalakan kata-kata, menulis,
mempergunakan alat.
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.
[5]


4. Syarat-Syarat Dalam Metode Drill
1. Masa latihan harus menarik dan menyenangkan.
a. Agar hasil latihan memuaskan, minat instrinsik diperlukan.
b. Tiap-tiap langkah kemajuan yang dicapai harus jelas.
c. Hasil latihan terbaik yang sedikit menggunakan emosi
2. Latihan latihan hanyalah untuk ketrampilan tindakan yang bersifat otomatik.
3. Latihan diberikan dengan memperhitungkan kemampuan/ daya tahan murid, baik segi jiwa
maupun jasmani.
4. Adanya pengerahan dan koreksi dari guru yang melatih sehingga murid tidak perlu mengulang
suatu respons yang salah.
5. Latihan diberikan secara sistematis.
6. Latihan lebih baik diberikan kepada perorangan karena memudahkan pengarahan dan koreksi.
7. Latihan-latihan harus diberikan terpisah menurut bidang ilmunya.



5. Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill
a. Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.
[6]

b. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersikap diagnostik:
1 Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.
2 Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul.
3 Respon yang benar harus diperkuat.
4 Baru kemudian diadakan variasi, perkembangan arti dan kontrol
c. Masa latihan secara relativ singkat, tetapi harus sering dilakukan.
d. Pada waktu latihan harus dilakukan proses essensial.
e. Di dalam latihan yang pertama-tama adalah ketepatan, kecepatan dan pada akhirnya kedua-
duanya harus dapat tercapai sebagai kesatuan.
f. Latihan harus memiliki arti dalam rangka tingkah laku yang lebih luas.
1 Sebelum melaksanakan, pelajar perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan itu.
2 Ia perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan selanjutnya.
3 Ia perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.
[7]


6. Keuntungan Atau Kebaikan Metode Drill






















PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)



Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyaroh Dalam Mengatasi Rendahnya Kemampuan Berbicara
dengan Menggunakan Bahasa Arab Pada Materi Bahasa Arab di kelas VII- di MTS Darul Ulum
Gondang Bangil. Tahun Pelajaran 2011/2012

A. Latar Belakang
Pendidikan Bahasa Arab sudah dimulai sejak di sekolah tingkat dasar
(Madrasahibtidaiyah). Pendidikan itu dilanjutkan di sekolah menengah tingkat pertama
(Madrasahtsanawiyah). Aktivitas pembelajaran berjalan biasa-biasa saja. Kalau ada masalah
pada tingkat ini tidak begitu mendapat perhatian, karena segera dimaklumi bahwa pelajaran
bahasa Arab belum mendapat perhatian begitu serius untuk pelajar setingkat ini.
Di samping itu juga masih ada anggapan bahwa pelajar tingkat tsanawiyah adalah
pelajar yang belum lama mempelajari bahasa Arab sehingga masalah yang timbul dipandang
sebagai suatu kewajaran dan tidak menimbulkan kerisauan. Lain halnya apabila masalah itu
muncul di sekolah menengah tingkat atas (aliyah). Para pengajar akan merasakan langsung
masalah-masalah dalam pendidikan bahasa Arab di tingkat ini. Masalah tersebut tidak lagi bisa
dianggap sebagai masalah yang dapat dimaklumi begitu saja seperti ketika di tingkat tsanawiyah.
Dengan demikian permasalahan pendidikan bahasa Arab baru muncul di tingkat aliyah, karena
mulai mendapat perhatian agak serius.
Misalnya dalam hal keterampilan berbicara berbahasa arab, keterampilan berbicara
bahasa arab merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa dalam rangka
mengembangkan kemampuan berbahasa asing, dalam hal ini bahasa Arab. Metode yang
digunakan harus mampu bisa membuat siswa tertarik dan senang dalam proses pembelajaran.
Hal inilah yang disinyalir masih jarang atau bahkan tidak dilaksanakan sama sekali oleh
beberapa sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Dari sinilah muncul beberapa masalah yang menjadi akibatnya, antara lain : siswa
tidak menyukai pelajaran bahasa Arab karena pembelajaran yang monoton, atau siswa merasa
kesulitan untuk mempelajari bahasa Arab, khususnya berbicara bahasa Arab. Hal seperti ini juga
dialami oleh siswa kelas VI I MTs Darul Ulum Gondang Bangil.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, rendahnya kemampuan berbicara siswa
menggunakan bahasa arab dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang memiliki
minat sedikit untuk belajar. Sehingga siswa kurang mampu berbicara menggunakan bahasa arab.
Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode
ceramah dan hanya terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS) tanpa
menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan
berbicara bahasa arab siswa.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya
membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk
menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk berbicara kepada siswa yang lainnya,
sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu berbicara menggunakan bahasa arab.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu metode
pembelajaran, yaitu metode Thoriqoh Mubasyarah untuk mengungkapkan apakah dengan
model penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah dapat meningkatkan kemampuan berbicara
bahasa arab siswa. Penulis memilih metode pembelajaran ini supaya mengkondisikan siswa
untuk terbiasa berbicara menggunakan bahasa arab.
Dalam metode Thoriqoh Mubasyarah siswa lebih aktif dalam pembelajaran bahasa
arab. sedang guru berperan sebagai pembimbing atau pemberi materi dengan
menggunakanmedia pembelajaran yang bersifat penunjang.


Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul
"Efektifitas Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah dalam Meningkatkan Kemampuan
Berbicara Bahasa Arab Siswa Di Kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.

B. Masalah yang diangkat oleh peneliti:
1. Rendahnya kemampuan siswa dalam hal berbicara menggunakan bahasa Arab.
2. Guru hanya menggunakan metode ceramah.
3. Guru hanya terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS).
4. Guru tidak menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan berbicara bahasa arab siswa.

C. Solusi
Penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah, misalnya dengan cara membimbing siswa
untuk menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk berbicara kepada siswa yang
lainnya, sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu berbicara menggunakan bahasa arab.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang hendak di kaji dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam mengatasi
kesulitan berbicara bahasa Arab pada siswa kelas kelas Kelas VI I MTs. Darul Ulum
Gondang Bangil.?
2. Bagaimana pengaruh metode Thoriqoh Mubasyarah dalam meningkatkan
kemampuan berbicara bahasa Arab siswa di kelas Kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil.?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak di kaji tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk
:
1. mengetahui pengaruh dari penerapan Thoriqoh Mubasyarah pada siswa Kelas
VI I MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
2. mengetahui peningkatan kemampuan bebicara bahasa arab siswa setelah
diterapkannyaThoriqoh Mubasyarah pada siswa Kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil.?
.
F. Hipotesis Tindakan
Dengan menggunakan Metode Thoriqoh Mubasyarah Dapat meningkatkan
kemampuan berbicara menggunakan bahasa Arab pada siswa Kelas VII MTs. Darul Ulum
Gondang Bangil.

G. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian, diharapkan dapat meberikan manfaat, antara lain:
1. Lembaga
Sebagai pemberi informasi tentang hasil dari penggunaan metode Thoriqoh
Mubasyarah dalam proses belajar mengajar khususnya Bahasa Arab, serta sebagai bahan
pertimbangan bagi lembaga dalam memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian
materi Bahasa Arab.
2. Guru
Agar guru lebih mudah dalam menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan
efesien dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan
tentang penggunaan metode pembelajaran.



3. Siswa
Siswa agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru serta lebih
mudah dalam memotivasi kegiatan belajar materi Bahasa Arab khususnya dalam hal berbicara
menggunakan bahasa Arab.

H. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya kemampuan berbicara
bahasa Arab siswa di kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
2. Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil.
3. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTs. Darul Ulum Gondang Bangil..
4. Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2011/2012.
5. Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi siswa dalam kemampuan berbicara
dengan menggunakan bahasa arab.

I. Definisi Operasional
Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu
didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Metode Langsung adalah metode bahasa yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian
bahasa ibu pelajar. Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik agar dapat
memiliki kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab
dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan
secara langsung dengan bahasa peserta didik dihindari.

2. Kemampuan berbicara adalah :
Kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa tertentu,
dalam hal ini khususnya mampu atau bisa berbicara dengan menggunakan bahasa arab dengan
baik dan benar.

J. Kajian Pustaka
1. Metode Langsung ( )
a. Sejarah Metode Langsung ( )
Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al
mubasysyarah). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu
yang hidup, oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil
belajar bahasa.
Berdasarkan asumsi yang ada dalam proses berbahasa antara Ibu dan anak, maka F.Gouin
(1980-1992) mengembangkan suatu metode yang diberi nama dengan metode langsung (thariqah
mubasyarah), sebuah metode yang sebenarnya juga pernah digunakan dalam dunia pembelajaran
bahasa asing abad XV). Metode ini mendapatkan momentum yang baik sejak jaman Romawi (
pada awal abad ke-20) di Eropa dan Amerika, serta digunakan baik dinegara Arab maupun di
negara-negara Islam di Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
b. Definisi Metode Langsung ( )
Dari sejarah singkat distas adapat diartikan bahwa Metode Langsung adalah metode
bahasa yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pelajar.
Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik agar dapat memiliki
kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan
dalam bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara langsung
dengan bahasa peserta didik dihindari.
c. Karakteristik Metode Thoriqoh Mubasyarah
Metode ini memiliki beberapa karakterisktik, diantaranya adalah:
1) Memberi prioritas tinggi pada keterampilan berbicara sebagai ganti keterampilan membaca,
menulis dan terjemah.
2) Basis pembelajarannya terfokus pada teknik demonsratif; menirukan dan menghafal langsung,
dimana murid-murid mengulang-ngulang kata, kalimat dan percakapan melalui asosiasi, konteks
dan definisi yang diajarkan secara induktif yakni berangkat dari contoh-contoh kemudian
diambil kesimpulan
3) Mengelakan jauh-jauh penggunaan bahasa ibu pelajar
4) Kemapuan komunikasi lisan dilatih secara tepat melalui Tanya jawab yang terancang dalam
pola interaksi yang bervariasi
5) Interaksi antara guru dan murid terjalin secara aktif, dimana guru berperan memberikan
stimulus berupa contoh-contoh, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan,
menjawab pertanyaan dan memperagakannnya.
d. Kelebihan dan Kekurangan Metode Langsung ( )
Diantara kelebihan-kelebihan Metode Langsung ( ) yang di ungkapkan oleh
para pakar bahasa:
1) Kita dapat menhindarkan diri dari menyuruh pembelajar menghafal bahasa baku yang baku
yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam
masyarakat.
2) Perhatian dan kegiatan-kegiatan pembelajar akan lebih besar daripada menerima pelajaran
secara verbalistik. Perhatian pembelajar merupakan tumbuh dengan sewajarnya tanpa desakan
yang dibuat-buat.
3) Pembentukan kepribadian pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa
yang fungsional.
4) Mengontrol kebenaran pengujaran siswa sebagaiman penutur aslinya.
e. Kekurangan Metode Langsung ( )
Meskipun metode ini banyak kelebihan dibanding metode-metode yang lain, tidak bisa
dimungkiri bahwa pada metode ini terdapat juga kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan oleh
beberapa pakar bahasa.
1) Tidak semua vokabuler dapat diajarkan dengan cara menghubungkan secara langsung benda,
situasi atau pekerjaan yang digambarkannya. Sebagian harus dijelaskan dengan memberikan
sinonim, antonim, definisi, penjelasan-penjelasan atau dalam pemakaiannya. Oleh karena itu
banyak kesukaran yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan mudah terjadi.
2) Pembelajar cendcrung secara diam-diam menterjemahkan lebih dahulu dalam hati kata-kata
bahasa baru itu ke dalam bahasa ibunya dalam usahanya mencari persamaan pengertian yang
dikemukakan dalam bahasa baru itu. Dalam hal ini tampak metode langsung lebih kompleks
daripada metode terjemahan.
3) Jika semua kata harus diajarkan demikian, kemajuan dalam pelajaran membaca pada taraf-
taraf permulaan cenderung menjadi lambat. Pembelajar memperoleh pengetahuan kata-kata
secara berlebih-lebihan. Sedangkan penguasaan dalam pemakaiannya tidak seberapa.
4) Pembelajar memperoleh kesukaran tentang bentuk-bentuk tata bahasa oleh karena media
dalam menerangkan bentuk-bentuk bahasa ini merupakan sumber kesukaran. Hanya di kelas-
kelas lebih tinggi pembelajar dapat dianggap mampu berpikir dalam bahasa itu.


5) Jika pengajar dapat menciptakan suasana pembelajar belajar bahasa ibunya, kita dapat
mengharapkan hasil pengajaran yang baik, tetapi suasana kelas yang seperti itu hanya
berlangsung dalam waktu yang pendek, sedangkan suasana yang persis sama jarang dapat
dipertahankan untuk waktu yang lama.
6) Metode langsung tidak mengemukakan sesuatu tentang pemilihan bahan, penentuan urutan
bahan dan sangat sedikit mengemukakan cara-cara penyajian bahan, kecuali hanya
mengemukakan bahwa pengunaan bahasa ibu dan terjemahan ke dalam bahasa ibu dilarang.
f. Petunjuk Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah
Bentuk Pelaksanaan Pelaksanaan metode langsung secara murni dapat digambarkan
sebagai berikut. Mula mula anak-anak disuruh meniru perbuatan pengajar dan diiringi dengan
berbicara (perkataan atau kalimat yang menggambarkan perbuatan itu). Kemudian gerak dan
berbicara ini dilanjutkan dengan dialog ringkas, percakapan segi-tiga, berempat, dan seterusnya
sampai akhirnya pelajaran menjadi sebuah sandi. wara kecil, penuh dengan gerak gerik dan
penggunaan bahasa. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan permainan yang lebih panjang.
Contoh sederhana:
Seorang guru menghidupkan tape recorder yang berisikan tentang sejarah imam Syafiiy
(dengan bahasa arab) dalam waktu 10 menit dan siswa diminta untuk mendengarkan secara
seksama, setelah itu tape recorder dibunyikan sekali lagi (untuk pemantapan bagi siswa)
kemudian beberapa siswa dimintai untuk maju kedepan untuk memperagakan apa yang telah
mereka dengar tadi.




2. Kemampuan berbicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang secara esensial, umum dan bersifat sosial karena
dalam komunikasi selalu ada dua pihak yang terlibat, yaitu sebagai pemberi materi dan penerima
informasi. Informasi yang dimaksud pada dasarnya dapat dibagi atas dua jenis yaitu sebagai
berikut:
a. Informasi kognitif: informasi yang berkaitan dengan penalaran, seperti pengrtian-pengertian,
asumsi-asumsi, dan pikiran-pikiran tentang sesuatu.
b. Informasi afektif: informasi yang berkaitan dengan perasaan sedih, rasa sakit, solidaritas,
kegembiraan, dan pengharapan.
Kedua fungsi tersebut diatas, yang paling dominan adalah fungsi kognitif. Dalam
berkomunikasi ada dua macam, yakni komunikasi lisan dan komunikasi tulisan. Berdasarkan
sistem komunikasi dalam kemampuan berbahasa ada empat kemampuan yang harus dibina dan
dikembangkan, yaitu sebagai berikut:
a. Menyimak
b. Berbicara
c. Membaca
d. Menulis
Dua kemapuan berbahasa pertama diperoleh sebagai komunikasi lisan,
yaknimenyimak dan berbicara serta kemampuan berbahasa lainnya sebagai komunikasi tertulis,
yaitu membaca dan menulis. Urutan pemerolehan kemampuan berbahasa seseorang mulai dari
menyimak lalu mulai berbicara, membaca kemudian menulis. Hal ini diperoleh waktu masih
anak-anak, namun ketika seseorang sudah mulai berusia dewasa, maka pemerolehan bahasa
selanjutnya keempat kemampuan itu sudah berfungsi integral dalam arti saling mendukung.


Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan
perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan
jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi
yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk
tingkah laku sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida (2001) menyatakan bahwa tujuan
pengajaran bahasa Inggris dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam
Oktarina (2002) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun
kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan
perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.[1]
K. Metode Penilitan
1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah
pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan
menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain dari pengukuran.[2]
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang
bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam mengatasi
kesulitan siswa dalam pembelajaran.
Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarsono penelitian tindakan kelas merupakan suatu
bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi-
kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.[3]
Penelitian ini dilaksanakan di VI I MTs. Darul Ulum Gondang Bangil. yang terletak di
Jl. Cucut No: 145 Gondang Bangil, MTs. Darul Ulum merupakan salah satu Sekolah yang
berada di Bangil di bawah naungan Departemen Agama.
Penelitian ini akan difokuskan pada peserta didik kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang
Bangil. yang berjumlah 36 siswa pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata
pelajaran Bahasa Arab.
2. Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini, peneliti sebagai mahasiswa dan merencanakan kegiatan berikut :
a. Menyusun angket untuk pembelajaran dan menyusun rencana program pembelajaran.
b. Observasi tempat serta melakukan perizinan observasi kepada kepala sekolah.
c. Mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan pembelajaran dan wawancara kepada
guru pengajar mata pelajaran bahasa arab untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan
oleh guru kelas.
d. Melaksanakan rencana program pembelajaran yang telah dibuat.
e. Melaporkan hasil penelitian.
3. Lokasi Penelitian.
Penelitian dilaksanakan di MTs. Darul Ulum Gondang, Kecamatan Bangil,
Kabupaten Pasuruan.
4. Data dan sumber.
Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berbicara siswa dalam menggunakan
bahasa arab. Data untuk hasil penelian diperoleh berdasarkan nilai ulangan harian (test) dan hasil
wawancara peneliti dengan guru serta peneliti dengan siswa.Sumber data penelitian adalah siswa
kelas VI I MTs. Darul Ulum Gondang Bangil sebagai obyek penelitian.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai
berikut :
a. Wawancara
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan. Wawancara
dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b. Angket
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait
dengan respon atau tanggapan siswa terhadap penerapan metode audio-lingual.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berbicara bahasa arab siswa yang
ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar
observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh peneliti perseorangan.
d. Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh
siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk tanya jawab agar dapat mengasah
kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
e. Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan semua data
yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini.
f. Analisis data
Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber,
yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi,
dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
6. Tahap-tahap Penelitian.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan proses pembelajaran yang dilakukan adalah
model pembelajaran dengan menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh.Penelitian ini akan
dilaksanakan dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari perencanaan, tindakan, penerapan
tindakan, observasi, refleksi.

Siklus I:
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan atau perencanaan.
Kegiatan pada tahap ini adalah :
l Penyusunan RPP dengan metode audio-lingual yang direncanakan dalam PTK.
l Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin
dicapai
l Membuat soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa.
l Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran dengan
menggunakan metode audio-lingual yang akan dilaksanakan.
b. Pelaksanaan Tindakan
1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa
dibimbing untuk belajar bahasa Arab dengan menggunakan model pembelajaran dengan
menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:
2) Guru memberikan materi berbahasa arab menggunakan metode Thoriqoh
Mubasyaroh dengan media yang telah dipersiapkan seperti kaset, video atau suara dari guru
langsung.
3) Siswa diharapkan mendengarkan dengan baik serta memahami materi bahasa arab yang
tengah di dengarnya.
4) Setelah mendengarkan dan memahami guru menyuruh siswa menjelaskan kembali materi
yang telah di dengarnya dengan menggunakan bahasa arab yang baik dan benar.
5) Guru memberikan soal tanya jawab kepada siswa sesuai dengan materi yang telah diberikan.
6) Guru memberikan test dengan model Test Isian.
7) Kegiatan penutup
Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis
untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
c. Observasi
Pengamatan dilakukan selama proses proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya
pengamat melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya.
d. Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah
ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.
Refleksi daimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi,
apa yang dihasilkan,kenapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil
refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan
perbaikan pada siklus II.
Siklus II:
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan pada siklus I hanya saja
perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah
pada perbaikan pada pelaksanaan siklus I.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2181451-metode-langsung-
Anselm,dkk, 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik
danTeori Grounded), Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu
Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan Nasional





[1] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2181451-metode-langsung-

[2] Anselm,dkk, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik danTeori Grounded), 1997.
Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu, hlm. 11
[3] Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan Nasional, hlm.
2
Diposkan oleh Taswin Efendi di 09.12
































PTK Bahasa Arab

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam literatur bahasa Arab, terdapat beberapa istilah keterampilan, Rajiman membagi
keterampilan tersebut kedalam empat keterampilan, yaitu: keterampilan menyimak, keterampilan
berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca (Tarigan 1986:1). keempat keterampilan
tersebut sangat berkaitan dan dapat meningkatkan keterampilan yang satu dengan lainnya.
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa aspek dasar dari pembentukan keterampilan-keterampilan
tersebut adalah kosa kata, hal ini dikarenakan setiap ujaran (lafadz) dan tulisan sangat terikat dengan
suatu pembentukan kalimat, yang didalamnya terdiri dari kosakata-kosakata tertentu. maka dengan kata
lain, pengembangan suatu bahasa terpusat pada kosa kata-kosa kata. Dan dapat ditarik kesimpulan, bahwa
apabila kita ingin menguasai keempat bidang keterampilan berbahasa tersebut, maka faktor yang paling
penting dalam menunjang hal tersebut adalah memperbanyak kosa kata.
Untuk dapat menghapal kosa kata-kosa kata tertentu, setiap manusia membutuhkan tindakan-
tindakan yang bersifat kontraksi neurotik, yaitu proses penyimpanan data-data kedalam fikiran yang
melibatkan kontraksi-kontraksi komponen otak, yang memiliki fungsi untuk memunculkan kembali data-
data yang telah disimpan ketika seseorang membutuhkannya kembali. Akan tetapi kebanyakan manusia
tidak dapat merangsang secara maksimal kontraksi komponen neurotic tersebut, sehingga terkadang kita
merasakan kesulitan untuk dapat mengingat sesuatu. disamping itu, hal ini juga akan berdampak pada
tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran.
Berdasarkan study penelitian yang dilakukan di MTs Assasul Islamiyah Cibatu Cikembar di
kelas VII, menurut pendapat beberapa siswa, kurangnnya antusias mereka dalam menghafal mufrodat
(kosa-kata), dikarenakan proses pembelajaran yang mereka anggap kurang cocok, dan kurang menarik.
Dari permasalahan ini, maka terdapat beberapa pemecahan yang dapat kita lakukan, diantaranya adalah
penyediaan jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar
Secara umum media yang dapat digunakan dalam pembelajaran terbagi dalam tiga bagian, yakni
media visual, audio dan audio visual (Strategi dan Perencanaan Pembelajaran : 121). Dalam penelitian
kali ini kami menggunakan media Visual (berupa gambar) sebagai media. Dikarenakan media ini, bersifat
visualisasi yang mempunyai kemampuan paling besar untuk menghayati dunia sekitar dan hal ini dapat
merangsang perhatian siswa serta mempunyai nilai efektifitas
Dari berbagai latar belakang yang telah dikemukakan, maka penelitian ini mempunyai nilai yang
sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam. Dan kami berharap hasil dari penelitian ini, dapat menjadi
suatu landasan untuk memperoleh tujuan pendidikan secara maksimal
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Dari berbagai kemungkinan permasalahan yang telah kami uraikan, maka penyebab dari munculnya
permasalahan tersebut adalah:
a) Cara balajar yang tidak cocok, tidak menarik atau tidak efektif.
b) Kurangnya sarana yang membantu proses
pembelajaran (buku paket, papan tulis dan lain sebagainnya).
c) Media pembelajaran yang kurang efektif.
d) Kemampuan guru yang tidak bisa menguasai kondisi kelas.
2. Pembatasan Masalah
Dengan adanya berbagai masalah dan faktor yang mempengaruhi proses kelancaran pembelajaran
yang beragam. Maka dalam penelitian kali ini, kami membatasi permasalahan dalam ruang lingkup
penggunaan media pembelajaran yang berupa gambar. pembatasan permasalahan ini dilakukan untuk
pemokusan penelitian.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka dapat ditarik suatu
permasalahan secara umum, yaitu: Apakah dengan penerapan media gambar dalam pembelajaran
bahasa Arab dapat meningkatkan antusiasme dan hafalan kosa kata (mufrodat) siswa
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian tindakan kelas ini diantaranya adalah:
1. Mengetahui sejauh mana keefektifan penggunaan media gambar dalam meningkatkan antusiasme dan
hafalan kosa kata (mufrodat) siswa.
2. Apakah dengan menggunakan media gambar, masalah dapat teratasi.
3. Mengetahui tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti proses kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
D. Manfaat Penelitian
1. Siswa : Meningkatnya minat dalam mempelajari bahasa Arab.
2. Guru : Menambah wawasan tentang strategi pembelajaran.
3. Sekolah : Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Pengertian Media Pembelajaran
Secara etimologis, kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata
medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi
(Sadiman, 2002:6).
Pengertian media pembelajaran menurut Gagne (1970) adalah berbagai jenis komponen dalam
lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar. Media bukan hanya sekedar berupa alat-alat
seperti radio, televise, buku, dan sebagainya. sebagaimana yang dikatakan oleh Gerlach and Ely (1980)
yang menyatakan, a medium, conceived is any person, material or event that establish condition which
enable the learner to acquire knowledge, skill, and attitude. Menurut Gerlach dan Ely secara
umum Media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang
memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Latuheru (1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang
digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi
antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam
memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat
menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa.
Menurut Sadiman (2002:16), media pembelajaran mempunyai kegunaan-kegunaan sebagai
berikut:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau
lisan belaka).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera.
3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik.
Dalam hal ini, media pendidikan berguna untuk menimbulkan kegairahan belajar, dan memungkinkan
interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyetaan.
Media merupakan benda yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan
beserta instrument yang digunakan dengan baik dalam kegiatan belajar dan dapat memperbaharui
efektifitas program pembelajaran (Asnawir : 2002). Secara umum media yang dapat digunakan dalam
pembelejaran terbagi dalam tiga bagian, yakni media visual, audio dan audio visual.
B. Media visual (Gambar)
Manurut Rudi S (2006 : 120) media visual adalah media
yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. media visual terdiri dari media
yang dapat di proyeksikan (non-projected visual) dan media yang dapat diproyeksikan (projected visual).
media yang dapat diproyeksikan ini bisa berupa gambar diam (still picture) atau bergerak (motion
picture).
C. Hafalan
Menghafal / mengingat pada hakikatnya melibatkan kegiatan saraf-saraf otak, dimana
ketika ineda-indera mengambil berbagai kesan dari dunia luar, masukan-masukan itu berjalan di
sepanjang jalan syaraf organ yang mengambil data menuju bagian otak yang menafsirkan masukan itu
dari mata, telinga, hidung, atau kulit. dari situ, informasi biasanya disimpangkan ke hipokampus
mengirimkan sandi untuk berbagai aspek ingatan itu kebagian korteks yang punya spesialisasi dalam
aspek masing-masing. Misalnya sandi untuk mengenali sebuah wajah atau mengetahui penggunaan
sebuah alat, merekonstruksi suatu frasa music atau menggambarkan sebuah jalan yang sudah dikenal,
merupakan aspek-aspek yang akan desimpan di tempat-tempat yang berbeda di dalam korteks. jika tempat
itu cedera, kemampuan untuk mengingat asperk itu lenyap.
D. Mufrodat
Mufrodat merupakan padanan kata, yang mana kata-kata ini akan membentuk sebuah susunan
kalimat, yang menjadi unsur bahasa. Muhrodat artinya kosa kata, yang akan menjadi dasar sebuah
pembentukan kalimat, dengan gabungan beberapa mufrodat dan aturan-aturan tertentu dapat membuat
sebuah kalimat yang menyimpan pesan tertentu. Dengan perbendaharaan kosakata yang banyak
memberikan kontribusi untuk mentransfer makna kata bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia sehingga
dapat dimengerti dan dipahami maksud dari teks Arab tersebut. Namun, disamping makna tekstual
(padanan kata / mufrodat), juga harus mengetahui makna nahwiyah dan makna kontekstualnya, tetapi
untuk setingkat MTs dicukupkan hanya padanan katanya saja.
E. Antusiasme
Antusias adalah bagian dari ekspresi sikologis manusia terhadap suatu keadaan. Biasanya hal ini
ditandai dengan melakukan sesuatu tanpa paksaan bahkan selalu ingin melakukannya. Sikap antusias
akan membawa pada pikiran, perasaan dan tindakan yang positif. Sikap antusias menimbulkan gairah
positif yang meningkatkan kualitas hubungan dengan orang lain, membuat lebih terbuka terhadap ide-ide
atau peluang baru dan bahkan meningkatkan kualitas kesehatan.
Antusias dapat juga kita fahami sebagai minat, yaitu suatu pemusatan perhatian yang tidak
disengaja yang terlahir dengan penuh kemauan dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto
Agus : 1981).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Tempat :
Penelitian dilaksanakan di kelas VII MTs Assasul Islamiyah Cibatu Cikembar.
2. Waktu
Penelitian di laksanakan pada bulan Juni 2012.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian ini adlah siswa kelas VII semester 2 tahun ajaran 2009/2010
yang berjumlah 20 orang. Pada mata pelajaran bahasa Arab, dengan pokok pembahasan .
C. Metode Pengumpulan Data
Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, catatan lapangan, kuisioner dan evaluasi yang
dilakukan selama proses penelitian berlangsung. Data yang terkumpul dapat berupa catatan-catatan yang
berupa tulisan, angka-angka ataupun soft data. Data yang diperoleh selain dari para peneliti, data juga
diperoleh dari pihak sekolah
D. Metode Analisa Data
Kumpulan dari berbagai data (tes tulis, kuisioner, dan data observer) selama penelitian
dilaksanakan dan dianalisis secara bersama-sama dengan berlandaskan pada teori-teori yang
bersangkutan, kemudian dari data-data tesebut diolah kembali, sehingga menghasilkan sebuah
kesimpulan. Setelah kesimpulan didapatkan, maka data-data tersebut diolah kedalam sebuah data yang
sistematis.
E. Prosedur Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas kali ini, dilakukan kegiatan yang meliputi empat tahap kegiatan,
yaitu: tahap pelaksanaan, tahap observasi dan tahap refleksi. Kegiatan ini dilakukan dalam 2 siklus, yang
terjadi dalam dua pertemuan





1. Siklus Pertama
PERENCANAAN TINDAKAN OBSERVASI REFLEKSI
Mengidentifikasi masalah.
Menyusun proposal
penelitian.

Menyusun rencana
pelaksanaan (RPP).

Mempersiapkan media
pembelajaran yang berupa
gambar dan alat proyeksi
Mempersiapkan media
Kegiatan awal
Motivasi
Penertiban kelas
Free test
Absen
Kegiatan inti
Menjelaskan materi
dengan menggunak
Mengamati perilaku
siswa terhadap
penggunaan media
gambar
Memantau kegiatan
belajar mengajar
Mengamati tingkat
penghafalan siswa
terhadap mufradat
yang diberikan
Mencatat hasil
observasi
Mengevaluas i hasil
observasi
Menganalisis hasil
pembelajaran
Memperbaiki
kelemahan






gambar (laptop dan
proyektor)

Menyiapka format
pengamatan proses
pembelajaran

Menyiapkan observer
an media gambar
Kegiatan akhir
Menyimpulkan
pelajaran
Evaluasi kegiatan
pembelajaran dengan
berupa lembaran soal

2. Siklus II

PERENCANAAN TINDAKAN OBSERVASI REFLEKSI
Menyusun rencana
perbaikan dengan
mengacu pada refleksi
Mempersiapkan media
Kegiatan awal
Motivasi
Penertiban kelas
Free test
Absen
Kegiatan inti
Menjelaskan materi
dengan menggunakan
media gambar
Melaksanakan
perbaikan
Mengamati perilaku
siswa terhadap
penggunaan media
gambar.
Memantau kegiatan
belajar mengajar
Mengamati tingkat
penghafalan siswa
terhadap mufradat yang
diberikan
Mencatat hasil
observasi
Mengevaluasi hasil
observasi
Menganalisis hasil
pembelajaran
Memperbaiki
kelemahan



BAB IV
HASIL PENELITIAN

Proses pembelajaran Bahasa Arab dengan menggunakan media gambar (Visualisasi mufrodat
dengan media infokus) yang dilaksanakan di MTs Assasul Islamiyah Cibatu Cikembar, pada awalnya
siswa belum terbiasa, tetapi setelah pembelajaran berlangsung siswa tampak sangat antusias mengikuti
kegiatan belajar mengajar. Hal ini pun lebih berkembang pada pelaksanaan siklus kedua, siswa lebih
antusias lagi mempelajari Bahasa Arab. Misalnya dalam sub materi Mufrodat siswa lebih cepat
memahami, menghafal dan mengaflikasikannya.

1. Hasil Penilaian Proses Pembelajaran Siklus I
a. Pengajar

Kerapihan : Baik
Pembawaan pengajar : Baik, mampu menguasai kelas sehingga menciptakan
suasana KBM yang interaktif.
Kesesuaian materi dengan RPP : Materi cukup relevan dengan RPP
Metode pembelajaran :
Baik, dengan metode CTL siswa secara tidak langsung
belajar berani mengungkapkan gagasan fikirannya.
b. Siswa
Kegiatan siswa :
Cukup interaktif, siswa mencoba mengulang beberapa
qiro,ah dan mufrodat.
Respon siswa : Cukup responsif mengikuti pelajaran
Keaktifan siswa :
Baik, siswa siswi mencoba memberanikan diri menjawab
berapa pertanyaan yang diajukan pertanyaan yang diajukan
oleh pengajar
Penguasaan terhadap materi :
Dengan metode pembelajaran yang dibantu beberapa
media siswa tampak lebih memahami materi dengan baik.
c. Media
Keefektifan : Pembelajaran sangat efektif dengan bantuan media infokus
siswa tidak merasa jenuh karena disajikan beberapa
tampilan materi secara visual.
Kesesuaian dengan materi :
Dalam materi mufrodat siswa dapat melihat secara
langsung bentuk visual dari masing-masing mufrodat yang
diberikan.
d. Alat evaluasi

Kesesuaian dengan materi :
Evaluasi mufrodat yang diberikan sangat sesuai dengan
media yang digunakan,sehingga siswa mampu mengingat
bukanhanya secara harfiah saja,tetapi dengan disajikan
bentuk visualnya siswa lebih memahami dan dapat
mengingatnya secara cepat.
2. Hasil Penilaian Proses Pembelajaran Siklus II
a. Pengajar
Kerapihan : Cukup rapih lengkap dengan jas almamater.
Pembawaan pengajar : Pengajar mampu mengendalikan kelas.
Kesesuaian materi dengan RPP : Materi hiwar disajikan dengan baik
Metode pembelajaran : Efektif, siswa dibimbing mempraktekkan materi mufrodat
pada hiwar.
b. Siswa

Kegiatan siswa :
Siswa mencoba mengaflikasikan mufrodat dengan
melakukan hiwar dengan berpasang-pasangan.
Respon siswa : Cukup responsif, memperhatikan intonasi mufrodat dan
hiwar dari pengajar.
Keaktifan siswa : Sebagian siswa masih berani untuk mencoba.
Penguasaan terhadap materi :
80% siswa siswi dapat menyerap materi dengan baik.
c. Media
Keefektifan : Media yang digunakan sangat membantu sekali dalam
proses belajar mengajar.
Kesesuaian dengan materi : Sangat sesuai dengan materi mufrodat yang diaflikasikan
pada hiwar.
d. Alat evaluasi

Kesesuaian dengan materi : Evaluasi mufrodat yang diberikan sangat sesuai dengan
media yang digunakan, sehingga siswa mampu mengingat
bukan hanya secara harfiah saja, tetapi dengan disajikan
bentuk visualnya siswa lebih memahami dan dapat
mengingatnya secara cepat, serta diaflikasikan dalam
hiwar.

3. Tabel Hasil Penilaian Proses Pembelajaran Secara Keseluruhan

N
o
Aspek Penilaian Proses Persentase Keterangan


1 Keefektipan media pembelajaran 85 % Baik



2 Antusias siswa dalam mengikuti PBM 85 % Baik



3 Keaktivan siswa dalam mengikuti PBM 80 % Baik




Sukabumi,
Observer


.
Tabel I nstrumen Penilaian Untuk Siklus Pertama dan Kedua
No Nama
Nilai
Rata-
rata
Keterangan
Siklus
I
Siklus
II
1 Ahmad sanusi 45 65 55 Sangat Kurang
2 Ajiz Saeful 70 80 75 Cukup
3 Anissa Rahmawati 70 85 77.5 CUkup
4 Dede Risma 85 95 90 Sangat baik
5 Diki 40 55 47.5 Sangat Kurang
6 Emi 80 90 85 Baik
7 Gita 80 90 85 Baik
8 Hamdan 90 80 85 Baik
9 Herman 70 70 70 Cukup
10 Iqbal 80 75 77.5 Cukup
11 Ivan 95 60 77.5 Cukup
12 M Ramdan 90 80 85 Baik
13 Mila siti rahayu 100 95 97.5 Sangat baik
14 Misbah 75 80 77.5 Cukup
15 Nur M Maulana Yusssuf 75 90 82.5 Baik
16 Rian 80 90 85 Baik
17 Siti aminah 95 90 92.5 Sangat baik
18 Siti fitriani 85 95 90 Sangat baik
19 Siti nuraini 70 90 80 baik
20 Tika haryati 85 90 87.5 baik
Rata-rata 78 82,25 80.125 Baik

Keterangan :

90 - 100 : Sangat Baik


80 - 89 : Baik


70 - 79 : Cukup


60 - 69 : Kurang


50 - 59 : Sangat Kurang


Sukabumi, .


Observer






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Keberhasilan proses belajar mengajar terjadi karena berbagai aspek yang terbentuk, aspek-aspek
tersebut diantaranya adalah profesionalisme guru, keadaan siswa, dan lingkungan pendidikan yang
memadai. dari ketiga hal tersebut, permasalahan penelitian yang muncul pada saat ini adalah kurangnya
antusias siswa (keadaan siswa) dalam menghafal mufrodat bahasa Arab. maka, sebagai salah satu
tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan sebuah tindakan kelas.
Tujuan penelitian yang kami laksanakan di MTs Assasul Islamiyah Cibatu Cikembar Sukabumi,
adalah untuk mengetahui apakah dengan menggunakan media gambar, masalah dapat teratasi,
mengetahui sejauh mana keefektifan penggunaan media gambar dalam meningkatkan antusiasme dan
hafalan kosa kata (mufrodat) siswa, mengetahui tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti proses
kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
Dari berbagai masalah dan tujuan yang telah dirumuskan, ternyata dengan penggunaan media
gambar ini, permasalahan dapat teratasi. hal tersebut telah terbukti secara objektif melalui beberapa alat
evaluasi, diantaranya lembar pertanyaan dan kuesioner. Dari hasil berbagai test tersebut (terlampir
dibagian lampiran), ternyata dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media gambar ini, antuasias
siswa dalam menghafal mufrodat bahasa Arab menjadi lebih meningkat.

B. Saran

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan menjadi cerminan bagi seluruh guru, agar dapat
melakukan sebuah tindakan dari permasalahan-permasalahan yang timbul dalam lingkungan pendidikan.






DAFTAR PUSTAKA

Ansawir, 2002. Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers.
Heri Gunawan, 2009. Strategi dan Perencanaan Pembelajaran,Bandung: Azfie Media.
David Gamon, Allen Bragdon, 1999. Building Mental Muscle, The American edition Publisher: Brain
Waves Books. Hak terjemah kedalam bahasa Indonesia pada Penerbit Kaifa All rights reserved, Bandung.
2007
Nana Sudjana, 1989. penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Wiri Atmaja, Rochiati,. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas.Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.