Anda di halaman 1dari 30

Ablasi Retina

I. Ablasi retina
I.1 Definisi
Ablasi retina adalah lepasnya retina dari tempatnya dimana lapisan sel kerucut dan sel batang retina
terpisah dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen retina masih melekat erat
pada membran Bruch. Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang retina dari koroid atau sel
pigmen epitel akan mengakibatkan ganggguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila
berlangsung lama akan mengakibatkan gangguan fungsi yang menetap.



Gambar 1. Lapisan Retina
I.2 Epidemiologi
Ablasi retina merupakan masalah mata yang serius dan dapat terjadi pada berbagai usia. Ablasi retina
yang terjadi pada kedua mata sebanyak 12 30. Angka kejadian terjadinya ablasi retina ialah !"# per
100.000 penduduk di Amerika $erikat %A$&.
'ata yang ada di poliklinik ($)* sub bagian +itreoretina" ablasi retina berada di urutan pertama dari
sepuluh kelainan dan penyakit +itreoretina pada tahun 1##!.
I.3 Klasifikasi
1. Ablasi retina regmatogenosa %rhegmatogenous retinal detachment&, ablasi retina akibat terdapatnya
robekan atau lubang pada retina sehingga terjadi aliran +itreous humor %cairan mata& dari badan kaca ke
belakang menuju rongga antara sel pigmen epitel dengan retina.
-erjadi pendorongan retina oleh +itreous humor %cairan mata& yang masuk melalui robekan atau lubang
retina tersebut ke rongga sub retina sehingga mengapungkan retina dan menyebabkan retina terlepas dari
lapis epitel pigmen koroid. Ablasi retina regmatogenosa merupakan yang tipe ablasi yang paling umum
terjadi. Ablasi umumnya terjadi pada mata yang mempunyai faktor resiko untuk terjadi ablasi retina.
-rauma hanya merupakan faktor pencetus untuk terjadinya ablasi retina pada mata yang berbakat

Gambar 2. Ablasi retina regmatogenosa
2. Ablasi retina eksudatif , ablasi retina akibat adanya kebocoran pada pembuluh darah retina dan koroid
%ekstra+asasi& sehingga terjadi penimbunan eksudat sub retina yang mengangkat retina. .al ini dapat
disebabkan oleh penyakit koroid dan keganasan seperti skleritis %radang di sklera&" koroiditis %radang di
koroid&" tumor di belakang bola mata" radang u+ea " atau tidak diketahui penyebabnya. )airan di ba/ah
retina tidak dipengaruhi oleh posisi kepala. Permukaan retina yang terangkat lebih licin. Ablasi ini dapat
hilang atau menetap bertahun0tahun setelah penyebabnya berkurang atau menghilang
3. Ablasi retina tarikan atau traksi , ablasi retina akibat penarikan retina umumnya oleh jaringan jaringan
ikat pembuluh darah yang terbentuk di dalam badan kaca. 1europati diabetik proliferatif merupakan
penyebab ablasi tipe ini yang paling sering. $elain itu trauma dan perdarahan pada badan kaca akibat
bedah atau infeksi juga dapat menjadi faktor penyebab
I.4 Gejala
I.4.1 Kel!an
2ejala pertama berupa penderita melihat kelatan0kilatan bintik hitam mengapung dan cahaya
%fotopsia& beberapa hari sampai dengan beberapa minggu sebelumnya
Pada beberapa penderita lepasnya retina mungkin terjadi tanpa didahului oleh terlihatnya bintik0
bintik atau pun cahaya yang nyata
3eluhan seperti ada tirai yang menutupi sebagian lapang mata
Perkembangan lepasnya retina yang lebih lanjut akan mengaburkan penglihatan sentral dan
menimbulkan kemunduran penglihatan
I.4.2 "emeriksaan #ftalmologi
(etina yang lepas tak dapat dilihat dari luar mata. 3arena itu bila ada keluhan seperti di atas harus
segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata. 'okter akan memeriksa bagian dalam mata
dengan alat yang bernama oftalmoskop
(etina ber/arna abu0abu dengan lipatan0lipatan ber/arna putih" berubah bentuknya bila kepala
digerakkan
3oroid normal tidak tampak
'apat tampak daerah makula terlepas
1.$ "enatalaksanaan
.anya dokter spesialis mata yang ber/enang mengobati ablasi retina. Pasien dengan keluhan0keluhan
seperti di atas dan mereka yang menderita miopia %rabun jauh& dengan kaca mata minus tinggi serta
mereka yang anggota keluarganya pernah mengalami ablasi retina" sebaiknya memeriksakan matanya
secara berkala.
4ila retina robek tetapi belum lepas" maka lepasnya retina itu dapat dicegah dengan tindakan segera" yaitu
dengan tindakan sinar laser. 4iasanya menggunakan laser yang dapat menciptakan lingkungan yang
terbakar pada robekan retina sehingga terbentuk bekas luka dan melekatnya retina yang robek dengan
jaringan yang ada diba/ahnya. .al ini dapat mencegah cairan %+itreous humor& masuk melalui robekan
dan tidak terjadi ablasi retina.
Pada kasus yang jarang" laser tidak dapat digunakan maka kriopeksi dapat digunakan untuk mengatasi
robekan retina. 3riopeksi yaitu tindakan pemberian suhu dingin dengan jarum es akan membentuk
jaringan parut yang melekatkan retina pada jaringan di ba/ahnya. -eknik ini digunakan bersamaan
dengan penyuntikan gelembung udara dan kepala dipertahankan pada posisi tertentu untuk mencegah
penimbunan kembali cairan di belakang retina. $ekali terjadi ablasi retina hampir selalu menunjukkan
terlambatnya menggunakan laser atau kriopeksi. *elalui pemeriksaan oftalmoskopi dapat ditemukan
robekan retina dan risiko lain untuk terjadinya ablasi retina. Apabila robekan tidak ditemukan" dilakukan
pemeriksaan ulang dalam 1 2 minggu atau sesegera mungkin jika adanya gejala ablasi.
4ila retina telah lepas" maka diperlukan tindakan bedah untuk menempelkan kembali retina tersebut.
Ablasi retina dapat diperbaiki lebih dari #0 dengan menggunakan prosedur tunggal. Pada lebih dari
#0 ablasi retina" retina dapat ditempelkan kembali dengan teknik0teknik bedah mata modern dan
kadang0kadang diperlukan lebih dari satu kali operasi.
Ada 3 prosedur operasi dalam memperbaiki ablasi retina yakni skleral buckling, vitrektomil, dan
pneumatic retinopeksi.
1.$.1 Skleral Buckling (SB)
-indakan operasi jenis ini sudah dilakukan sejak 30 tahun yang lalu. 5perasi jenis ini sampai sekarang
masih merupakan pilihan untuk ablasi tipe regmatogenosa" terutama jika tidak ada komplikasi.
Prosedurnya meliputi , menentukan lokasi robekan retina" menatalaksana robekan retina dengan kriopeksi
dan menahan robekan retina dengan 6skleral buckle7. Buckle biasanya berupa silicon berbentuk spons
atau padat. -ipe dan bentuk buckle tergantung dari lokasi dan jumlah robekan retina. Buckle diikatkan di
sklera untuk diposisikan sedemikian rupa sampai dapat mendorong robekan retina sehingga dapat
menutup robekan. 8ika robekan telah tertutup" maka cairan dalam retina akan menghilang secara spontan
dalam jangka /aktu 1 2 hari. -erkadang dapat juga dilakukan penyedotan cairan sub retina saat operasi
berlangsung. Prosedur ini lebih sering dilakukan dengan anestesi lokal dan pasien tidak perlu dira/at.
Pasca operasi pasien tidak harus dalam posisi tertentu. Pasien dapat melakukan akti+itas seperti biasa
kecuali akti+itas yang dapat melukai kepala.
I.$.2 %itrektomi
Pada ablasi yang rumit mungkin diperlukan tindakan +itrektomi. Prosedur ini pertama kali dilakukan 20
tahun yang lalu. 4iasanya dilakukan pada ablasi retina traksi namun dapat juga dilakukan pada ablasi
retina regmatogenosa terutama bila ablasi ini disebabkan oleh adanya +itreus traksi atau perdarahan
+itreus.
Prosedurnya meliputi irisan kecil pada dinding mata untuk memasukkan alat0alat ke dalam rongga +iteus"
tindakan pertama adalah memindahkan +itreus dengan menggunakan 6vitreus culter7. $elanjutnya
dilakukan teknik sayatan 6tractional bands7 dan 6air fluid exchange7 yakni memasukkan cairan silikon
untuk menempelkan kembali retina. Pemilihan teknik ini berdasarkan tipe dan penyebab ablasi retina.
Pada teknik ini kepala pasien harus berada dalam posisi tertentu untuk menjaga agar retina tetap
menempel.
I.$.3 "nematik Retinopeksi
'alam 10 tahun terakhir" prosedur ini menjadi popular dalam menangani ablasi retina regmatogenosa"
terutama pada robekan tunggal dan berlokasi di superior retina. Prinsip prosedur ini adalah dengan
menyuntikkan gelembung gas ke dalam badan +itreus. 2elembung ini akan dengan sendirinya menempati
posisi dimana terjadi robekan retina. Apabila robekan retina dapat ditutupi oleh gelembung gas maka
cairan subretina akan menghilang dalam 1 2 hari. (obekan retina sebelumnya dapat diterapi dengan
kriopeksi sebelum penyuntikkan gelembung atau dengan laser setelah retina mendatar.
3euntungan dari tindakan ini adalah pasien tidak perlu dira/at inap dan mencegah komplikasi yang
dapat ditimbulkan dengan menggunakan prosedur buckling. 3erugiannya adalah kepala pasien harus
dalam posisi tertentu dalam 9 10 hari" dan mempunyai tingkat keberhasilan lebih rendah dibandingkan
dengan skleral buckle.
Apabila retina tidak dapat kembali lekat dengan epitel maka dapat dilakukan operasi skeral buckle atau
vitektomi.
http,::///.klikdokter.com:illness:detail:1;9
Artikel ini saya saringkan dari makalah dari 'r.2italisa A.A." $p.* di seminar di *akassar pada bulan
Agustus 200! dalam acara Pertemuan <lmiah -ahunan 'okter *ata se0<ndonesia.
Ablasi Retina= align>=left= :? -opik sejenis yaitu ablasio retina sudah pernah
saya sampaikan" namun agak singkat" dan untuk kali ini mungkin agak panjang" semoga uraian berikut
bisa memberi manfaat bagi pelaksana atau penderita atau siapa saja yang ada kandidat akan mengalami
Ablasi (etina untuk paling tidak melakukan pencegahan dari pada harus di bedah. 3arena Pencegahan
dan deteksi dini robekan retina lebih baik dibandingkan penanganan bedah. 3arena faktor resiko robekan
dan ablasi retina adalah usia tua" penipisan retina bagian perifer atau pinggir sehingga mudah robek atau
berlubang" ri/ayat keluarga dengan robekan dan atau menderita ablasi retina" ri/ayat myopia" ri/ayat
menjalani operasi katarak" mengalami trauma daerah kepala atau mata" serta ri/ayat robekan retina atau
ablasi retina pada mata sebelah. @ntuk itu perlu dan penting dilakukan edukasi atau penyuluhan pada
subyek atau orang yang mempunyai faktor resiko tersebut. Pasien0pasien dengan faktor resiko tersebut
perlu menjalani pemeriksaan rutin terhadap matanya minimal setiap 1 tahun sekali atau berkala setahun
sekali.
(etina" seperti yang kita ketahui adalah lapisan saraf %neurosensoris& yang melapisi dinding dalam
bola mata kita" yang mampunyai peran sangat +ital dimana akan menangkap sinar yang masuk dan telah
difokuskan oleh kornea dan lensa kita ke retina tepatnya di makula. (etina itu tipis sekitar 0.A mm yang
merupakan sel fotoreseptor akan menghasilkan impuls saraf kemudian diproses oleh otak sebagai bentuk
gambar.
4agaimana dengan retina yang robek atau robekan retina %retinal tear&B
3asus ini ditemukan C dari populasi atau penduduk kita" jadi lumayan juga. $ebagai penyebab
utamanya adalah degenerasi pada badan kaca : +itreus yang permukaannya melekat pada retina. Proses
degenerasi ini adalah mulai mencairnya gel +itreus yang tadinya itu padat dan akan bergerak mengikuti
pergerakan bola mata" sehingga menyebabkan terikan pada retina sehingga pasien akan mengeluh melihat
kilat %flashes/fotopsia&. 4ahkan pada pasien normalpun dengan usia antara A0 90 tahun permukaan
+itreus ini dapat lepas dari perlekatannya dengan retina.
3adang" permukaan itu juga melekat sangat kuat pada retina dan ini bisa saja membuat robekan pada
retina" manakala terjadi saat permukaan bagian belakang +itreus terlepas dari retina %Posterior Vitreous
Detachment PVD&. 1ah" jika pembuluh darah ikut robek maka akan terjadi pendarahan ke dalam +itrus
%+itreous hemorrhage& sehingga pasien dengan kondisi seperti ini akan merasakan banyak bayangan
benda hitam dalam lapang pandangannya atau diistilahkan dengan floaters.
Proses terjadinya Posterior Vitreous Detachment %PD'& adalah gel +itreus mencair membentuk rongga"
kemudian terjadi PD' tanpa komplikasi % bisa terjadi sampai !A&" PD' dengan robekan retina dab
perdarahan +itreus % ditemukan 1001A&" robekan pembuluh darah retina disertai perdarahan +itreus dan
retina utuh %yang seperti ini jarang&.
8adi gel +itreus yang mencair akan menyusup masuk melalui robekan terkumpul di lapisan diba/ah retina
sehingga menyebabkan lepasnya retina %ablasi retina:retinal detachment&.
Ablasi retina bisa menyebabkan kebutaan. 'i Amerika tiap 10.000 1A.000 orang per tahun ada 1 yang
ablasi retina dan umumnya memerlukan pembedahan.
2ejala a/al ablasi retina adalah melihat floaters/fotopsia mendadak" terus jika daerah retina terlepas
menimbulkan keluhan mendadak melihat bayangan gelap atau tirai menutupi sebagian lapang pandangan"
yang makin meluas. 'an akhirnya penglihatan menjadi buram jika sudah mengenai daerah makula.
4ila anda atau orang disekeliling anda mengalami keluhan seperti itu" segera periksa ke dokter mata.
Apabila retina tidak terlihat misal karena terhalang perdarahan" maka bisa dilakukan @$2
%ultrasonografi&.
4agaimana penatalaksanaannyaEB
8ika masih robekan dan belum disertai oleh ablasi" maka diberikan sinar laser atau krio %membekukan
jaringan& di sekeliling robekan" untuk melekatkan retina agar cairan tidak masuk ke ba/ah lapisan retina"
dan akhirnya bisa mencegah ablasi retina. (obekan retina ini bisa mengancam penglihatan maka harus
dilakukan penanganan secepatnya dan bisa digolongkan sebagai hal yang darurat.
8ika sudah disertai ablasi retina juga perlu tindakan secepatnya" karena retina yang terlepas tidak dapat
memperoleh suplai darah dari lapisan diba/ahnya sehingga menyebabkan kerusakan dan penurunan
fungsi retina" yang dapat menetap. .anya dengan pembedahan untuk kasus ini" dan bisa memperbaiki
penglihatan jika dilakukan secepatnya" dengan tujuan utama menempelkan kembali retina yang lepas tadi.
8enis tindakan:pembedahan untuk ablasi retina,
1. Pneumatic Retinopexy, yaitu diinjeksikan gas ke dalam bola mata" sehingga mendorong retina ke
arah dinding dalam bola mata" dan menekan robekan retina hingga menutupnya.
2. cleral Buckling" dilakukan pemasangan pita silikon di sekliling bola mata" disertai spons atau
ban silikon yang berfungsi sebagai buckle yang bertujuan mendekatkan retina ke dinding bola
mata dan menutup robekan retina.
3. Vitrektomi pars plana" dilakukan pada ablasi yang lebih kompleks. Pada operasi ini +itreus
dibersihkan dari bola mata" kemudian diisi dengan tamponade udara" gas ekspansif %bisa
mengembang&" aau silikon cair. 'alam operasi ini memungkinkan bisa dilakukan tindakan untuk
menempelkan kembali" menutup robekan dan menghilangkan segala kekeruhan didalam bola
mata..
5perasi ini mempunyai tingkat keberhasilan secara anatomis bisa mencapai #0 " namun secara
fungsional biasanya lebih rendah. 4iasanya kurang dari 1 minggu 9A dapat mencapai penglihatan yang
cukup baik. 1amun demikian jika kondisinya sudah lanjut maka tindakan ini hanya untuk mencegah atau
mempertahankan kondisinya saja dari kerusakan lebih lanjut. $ekitar 20 setelah operasi bisa lepas
kembali" sehingga perlu dilakukan operasi ulang.
'emikian semoga bermanfaat untuk pengetahuan dan informasi ini bersifat informatif saja tanpa
bermaksud menggantikan diagnosis ataupun teraphi yang akan diambil oleh dokter mata khususnya sub
specialis retina. $ehingga orang a/ampun bisa untuk lebih bersiap dengan apa yang terjadi pada dirinya
atau keluarganya dan tindan atau langkah apa yang harus diambil jika mengalami hal yang demikian.
http,::optikonline.info:200#:0A:29:penatalaksanaan0ablasi0retina.html
http,::///.google.co.id:imglandingB
F>(G-<1AHimgurl>http,::///.aurorahealthcare.org:healthgate:images:siAAAA1;;#.jpgHimgrefurl>http
,::///.aurorahealthcare.org:yourhealth:healthgate:getcontent.asp3Iurlhealthgate3'
2A22222C;.html
2A22Husg>JJC)K(*3LCM8o$2GA*!cCANC9<<rg>Hh>2A;H/>3#0HsN>1AHhl>idHum>1Hitbs>1H
tbnid>3ys$)8Dli)clO*,Htbnh>!0Htbn/>123Hpre+>:images3IF3'(G-<1A2Cum3'12Chl
3'id2Csa3'22Ctbs
3'isch,1Hum>1Hsa>2Htbs>isch,1Hstart>12Ptbnid>*-(QK54oN;4uh*Hstart>19
A&LA'I# RE(I)A
A. "enda!lan
(etina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima
rangsangan cahaya. (etina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisir" yang terdiri dari
lapisan0lapisan badan sel dan prosesus sinaptik. Kalaupun ukurannya kompak dan tampak sederhana
apabila dibandingkan dengan struktur saraf misalnya korteks serebrum" retina memiliki daya pengolahan
yang sangat canggih. Pengolahan +isual retina diuraikan oleh otak" dan persepsi /arna" kontras"
kedalaman" dan bentuk berlangsung di korteks.
1"2
(etina merupakan jaringan neurosensoris yang terbentuk dari perpanjangan sistem saraf pusat
sejak embriogenesis. (etina berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi impuls listrik yang
kompleks yang kemudian ditransmisikan melalui saraf optik" chiasma optik" dan traktus +isual menuju
korteks occipital sehingga menghasilkan persepsi +isual. 4agian sentral retina atau daerah makula
sebagian besar terdiri dari fotoreseptor kerucut yang digunakan untuk penglihatan sentral dan /arna
%penglihatan fotopik&" sedangkan bagian perifer retina sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang yang
digunakan untuk penglihatan perifer dan malam %skotopik&.
2"3
Ablasio retina %retinal detachment& adalah suatu keadaan terpisahnya sel kerucut dan sel batang
retina dari sel epitel pigmen retina. Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan
membran 4runch. $esungguhnya antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu
perlengketan struktural dengan koroid atau pigmen epitel" sehingga merupakan titik lemah yang potensial
untuk lepas secara embriologis.
1
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel akan
mengakibatkan gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan
mengakibatkan gangguan fungsi penglihatan yang menetap.
1
&. Epidemiologi
<stilah 6ablasio retina7 %retinal detachment& menandakan pemisahan retina sensorik dari epitel
pigmen retina. -erdapat tiga jenis utama ablasio retina" yaitu, ablasio retina regmatogenosa" epitel retina
traksi %tarikan&" dan ablasio retina eksudatif.
2
<nsiden ablasio retina di Amerika $erikat adalah 1,1A.000 populasi dengan pre+alensi 0"3.
$umber lain menyatakan bah/a insidens ablasio retina di Amerika $erikat adalah 12"A,100.000 kasus per
tahun atau sekitar 2!.000 kasus per tahun.
$ecara internasional" faktor penyebab ablasio retina terbanyak adalah miopia ;00A0" operasi
katarak %afakia" pseudofakia& 300;0" dan trauma okuler 10020. Ablasio retina lebih banyak terjadi
pada usia ;0090 tahun" tetapi bisa terjadi pada anak0anak dan remaja lebih banyak karena trauma.
;
Ablasio retina regmatogenosa merupakan ablasio retina yang paling sering terjadi. $ekitar 1 dari
10.000 populasi normal akan mengalami ablasio retina regmatogenosa. 3emungkinan ini akan meningkat
pada pasien yang,
*emiliki miopia tinggiR
-elah menjalani operasi katarak" terutama jika operasi ini mengalami komplikasi kehilangan +itreusR
SPernah mengalami ablasio retina pada mata kontralateralR
4aru mengalami trauma mata berat.
A

*. Anatomi
(etina merupakan membran yang tipis" halus dan tidak ber/arna" tembus pandang. Oang terlihat
merah pada fundus adalah /arna koroid. (etina terdiri dari macam0macam jaringan" jaringan saraf dan
jaringan pengokoh yang terdiri dari serat0serat *ueller" membrane limitans interna dan eksterna" serta sel0
sel glia.
9
Pada kehidupan embrio" dari optic +esicle terbentuk optic cup" di mana lapisan luar membentuk
lapisan epitel pigmen dan lapisan dalam membentuk lapisan dalam lainnya. 'i antara kedua lapisan ini
terdapat celah potensial. 4ila terjadi robekan di retina" maka cairan badan kaca akan melalui robekan ini"
masuk ke dalam celah potensial dan melepaskan lapisan batang dan kerucut dari lapisan epitel pigmen"
maka terjadilah ablasio retina. 3eadaan ini tidak boleh berlangsung lama" oleh karena lapisan batang dan
kerucut mendapat makanan dari kapiler koroid" sedang bagian0bagian lain dari retina mendapat nutrisi
dari pembuluh darah retina sentral" yang cabang0cabangnya terdapat di dalam lapisan urat saraf.
9
(etina menjalar ke depan dan makin ke depan" lapisannya berubah makin tipis dan berakhir di ora
serrata" di mana hanya didapatkan satu lapisan nuklear. *akin ke perifer makin banyak batang daripada
kerucut" batang0batang itu telah mengadakan modifikasi menjadi tipis0tipis. Gpitel pigmen dari retina
kemudian meneruskan diri menjadi epitel pigmen yang menutupi badan siliar dan iris.
9
'i mana aksis mata memotong retina" terletak makula lutea. 'i tengah0tengahnya terdapat
lekukan dari fo+ea sentralis. Pada funduskopi" tampak makula lutea lebih merah dari sekitarnya dan pada
tempat fo+ea sentralis seolah0olah ada cahaya" yang disebut refleks fo+ea" yang disebabkan lekukan pada
fo+ea sentralis. 4esar makula lutea 102 mm. 'aerah ini daya penglihatannya paling tajam" terutama di
fo+ea sentralis. $truktur makula lutea,
9
1. -idak ada serat sarafR
2. $el0sel ganglion sangat banyak dipinggir0pinggirnya" tetapi di makula sendiri tidak adaR
3. Lebih banyak kerucut daripada batang dan telah bermodifikasi menjadi tipis0tipis. 'i fo+ea
sentralis hanya terdapat kerucut.
1asal dari makula lutea" kira0kira pada jarak 2 diameter papil terdapat papilla ner+i optisi" yaitu
tempat di mana 1 << menembus sklera. Papil ini hanya terdiri dari serabut saraf" tidak mengandung sel
batang dan kerucut sama sekali. 4entuk papil lonjong" berbatas tegas" pinggirnya lebih tinggi dari retina
sekitarnya. 4agian tengahnya ada lekukan yang tampak agak pucat" besarnya 1:3 diameter papil" yang
disebut eQka+asi fisiologis. 'ari tempat inilah keluar arteri dan +ena sentral yang kemudian bercabang0
cabang ke temporal dan ke nasal" juga ke atas dan ke ba/ah.

Pada pemeriksaan funduskopi" dinding pembuluh darah tidak dapat dilihat. Oang tampak pada
pemeriksaan adalah kolom darah. Arteri diameternya lebih kecil" dengan perbandingan a,+ > 2,3.
Karnanya lebih merah" bentuknya lebih lurus0lurus" di tengahnya terdapat refleks cahaya. Dena lebih
besar" /arna lebih tua" bentuk lebih berkelok0kelok.
9
A. retina sentralis mengurus makanan lapisan0lapisan retina sampai dengan membrana limitans
eksterna. 'i daerah makula lutea" yang terutama terdiri dari sel batang dan sel kerucut tidak terdapat
cabang dari A. retina sentralis" oleh karena daerah ini mendapat nutrisi dari kapiler koroid.
9
(etina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina"dan terdiri atas lapisan
1
,
1& Gpitel pigmen retina%(PG& , terbentuk atas satu lapisan sel yang melekat longgar pada
retina kecuali di perifer%ora serata&.
2& Iotoreseptor , merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai
bentuk ramping dan sel kerucut.
3& *embran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi.
;& Lapis nukleus luar , merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.3etiga lapis
diatas a+askuler dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid.
A& Pleksiform luar , merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor
dengan sel bipolar dan sel horiNontal.
C& 1ukleus dalam , merupakan tubuh sel bipolar"sel horiNontal dan sel *uller.Lapis ini
mendapat metabolisme dari arteri retina sentral.
9& Pleksiform dalam , merupakan lapis aseluler dan merupakan tempat sinaps sel bipolar"sel
amakrin dengan sel ganglion.
!& $el ganglion , merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua.
#& $erabut saraf , merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke saraf optik. 'i dalam
lapisan0lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina.
10& *embran limitan interna , merupakan membrane hialin antara retina dan badan kaca.
D. "atofisiologi
(uangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga +esikel optik
embriogenik. 3edua jaringan ini melekat longgar" pada mata yang matur dapat berpisah ,
A
1. 8ika terjadi robekan pada retina" sehingga +itreus yang mengalami likuifikasi dapat memasuki
ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif %ablasio regmatogenosa&.
2. 8ika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina" misalnya seperti pada
retinopati proliferatif pada diabetes mellitus %ablasio retina traksional&.
3. Kalaupun jarang terjadi" bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina akibat proses eksudasi"
yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan %ablasio retina eksudatif&

Ablasio retina idiopatik %regmatogen& terjadinya selalu karena adanya robekan retina atau lubang
retina. $ering terjadi pada miopia" pada usia lanjut" dan pada mata afakia. Perubahan yang merupakan
faktor prediposisi adalah degenerasi retina perifer %degenerasi kisi0kisi:lattice degeration&" pencairan
sebagian badan kaca yang tetap melekat pada daerah retina tertentu" cedera" dan sebagainya.
12
Perubahan degeneratif retina pada miopia dan usia lanjut juga terjadi di koroid. $klerosis dan
sumbatan pembuluh darah koroid senil akan menyebabkan berkurangnya perdarahan ke retina. .al
semacam ini juga bisa terjadi pada miopia karena teregangnya dan menipisnya pembuluh darah retina.
Perubahan ini terutama terjadi di daerah ekuator" yaitu tempat terjadinya #0 robekan retina. -erjadinya
degenerasi retina pada mata miopia 10 sampai 1A tahun lebih a/al daripada mata emetropia. Ablasi retina
delapan kali lebih sering terjadi pada mata miopia daripada mata emetropia atau hiperopia. Ablasi retina
terjadi sampai ; dari semua mata afakia" yang berarti 100 kali lebih sering daripada mata fakia.
12
-erjadinya sineresis dan pencairan badan kaca pada mata miopia satu dasa/arsa lebih a/al
daripada mata normal. 'epolimerisasi menyebabkan penurunan daya ikat air dari asam hialuron sehingga
kerangka badan kaca mengalami disintegrasi. Akan terjadi pencairan sebagian dan ablasi badan kaca
posterior. 5leh karenanya badan kaca kehilangan konsistensi dan struktur yang mirip agar0agar" sehingga
badan kaca tidak menekan retina pada epitel pigmen lagi. 'engan gerakan mata yang cepat" badan kaca
menarik perlekatan +ireoretina. Perlekatan badan kaca yang kuat biasanya terdapat di daerah sekeliling
radang atau daerah sklerosis degeneratif. $esudah ekstraksi katarak intrakapsular" gerakan badan kaca
pada gerakan mata bahkan akan lebih kuat lagi. $ekali terjadi robekan retina" cairan akan menyusup di
ba/ah retina sehingga neuroepitel akan terlepas dari epitel pigmen dan koroid.
12
E. Klasifikasi
3lasifikasi ablasio retina berdasarkan etiologinya" terdiri atas ,
1
1. Ablasio retina regmatogenosa
Pada ablasio retina regmatogenosa dimana ablasio terjadi akibat adanya robekan pada
retina sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel dengan retina. -erjadi
pendorongan retina oleh badan kaca cair %fluid +itreous& yang masuk melalui robekan atau lubang
pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel
pigmen koroid.
Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya gangguan penglihatan yang kadang0
kadang terlihat sebagai tabir yang menutup. -erdapatnya ri/ayat adanya pijaran api %fotopsia&
pada lapangan penglihatan.
Ablasio retina yang berlokalisasi di daerah supratemporal sangat berbahaya karena dapat
mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasio retina bila dilepasnya retina
mengenai makula lutea.
Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat ber/arna pucat dengan
pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya robekan retina ber/arna merah.
4ila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas %ablasio& bergoyang. 3adang0kadang
terdapat pigmen di dalam badan kaca. Pada pupil terlihat adanya defek aferen pupil akibat
penglihatan menurun. -ekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi
neo+askular glaukoma pada ablasio yang telah lama.
2. Ablasio retina tarikan ata traksi
Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi akibat tarikan jaringan parut pada badan
kaca yang akan mengakibatkan ablasio retina dan penglihatan turun tanpa rasa sakit.
Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes mellitus
proliferatif" trauma dan perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi.
3. Ablasio retina eksdatif
Ablasio retina eksudatif adalah ablasio yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di ba/ah
retina dan mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari
pembuluh darah retina dan koroid %ekstra+asasi&. .al ini disebabkan penyakit koroid. Pada
ablasio tipe ini penglihatan dapat berkurang dari ringan sampai berat. Ablasio ini dapat hilang
atau menetap bertahun0tahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.


+. Diagnosis
'iagnosis ablasio retina ditegakkan berdasarkan anamnesis" pemeriksaan oftalmologi dan
pemeriksaan penunjang" sebagai berikut ,
1. Anamnesis
2ejala yang sering dikeluhkan pasien" adalah,
0 +loaters %terlihat benda melayang0layang&" yang terjadi karena adanya kekeruhan di +itreus
oleh adanya darah" pigmen retina yang lepas atau degenerasi +itreus itu sendiri.
0 +otopsia, lig!t flas!es %kilatan cahaya& tanpa adanya cahaya di sekitarnya" yang umumnya
terjadi se/aktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam keadaan gelap.
0 "enrnan tajam pengli!atan. Pasien mengeluh penglihatannya sebagian seperti tertutup tirai
yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah lanjut dapat terjadi penurunan tajam
penglihatan yang lebih berat.
2. "emeriksaan oftalmologi
0 "emeriksaan -iss" dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makula lutea
ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. -ajam
penglihatan akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat.
0 "emeriksaan lapangan pandang" akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup tabir dan dapat
terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina" pada lapangan pandang akan terlihat
pijaran api seperti halilintar kecil dan fotopsia.
0 "emeriksaan fndskopi" yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis ablasio retina dengan
menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan
hilangnya refleks fundus dan pengangkatan retina. (etina tampak keabu0abuan yang menutupi
gambaran +askuler koroid. 8ika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina" didapatkan
pergerakkan undulasi retina ketika mata bergerak. $uatu robekan pada retina terlihat agak merah
muda karena terdapat pembuluh koroid diba/ahnya. *ungkin didapatkan debris terkait pada +itreus
yang terdiri dari darah dan pigmen atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas.

3. "emeriksaan "ennjang
0 "emeriksaan laboratorim dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara
lain glaukoma" diabetes mellitus" maupun kelainan darah.
0 "emeriksaan ltrasonografi" yaitu ocular 40$can ultrasonografi juga digunakan untuk
mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proli+erati+e
+itreoretinopati" benda asing intraokuler. $elain itu ultrasonografi juga digunakan untuk
mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior
skleritis.
0 $cleral indentation
0 Iundus dra/ing
0 2oldmann triple0mirror
0 <ndirect slit lamp biomicroscopy


G. "enatalaksanaan
Prinsip Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah untuk melekatkan kembali lapisan
neurosensorik ke lapisan epitel pigmen retina. Penanganannya dilakukan dengan pembedahan"
pembedahan ablasio retina dapat dilakukan dengan cara,
C"10"11
1. Retinopeksi pnematik
(etinopati pneumatik merupakan cara yang paling banyak pada ablasio retina regmatogenosa
terutama jika terdapat robekan tunggal pada superior retina. -eknik pelaksanaan prosedur ini adalah
dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam +itreus. 2elembung gas ini akan menutupi robekan retina.
8ika robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas" cairan subretinal akan menghilang 102 hari. (obekan
retina dapat juga dilekatkan dengan kryopeksi sebelum balon disuntikkan. Pasien harus mempertahankan
posisi head precise selama 9010 hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan retina.
2. '.leral b.kle
*etode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina regmatogenosa terutama tanpa disertai
komplikasi lainnya. @kuran dan bentuk sabuk yang digunakan tergantung lokasi dan jumlah robekan
retina. $abuk ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Pertama0tama
dilakukan kryopeksi atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen
retina. $abuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga terjadi
penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan subretinal menghilang
secara spontan dalam /aktu 102 hari.
3. %itrektomi
Ditrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes" ablasio
regmatogenosa yang disertai traksi +itreus atau hemoragik +itreus. )ara pelaksanaannya yaitu dengan
membuat insisi kecil pada bola mata kemudian memasukkan instrumen hingga ke ca+um melalui pars
plana. $etelah itu pemotongan +itreus dengan pemotong +itreus. -eknik dan instrumen yang digunakan
tergantung tipe dan penyebab ablasio.
/. Diagnosis &anding
0 Retinos.!isis degeneratif" yaitu degenerasi peripheral tipikal sering ditemukan pada orang
de/asa" berlanjut dan meninggi 203 mm posterior ke ora serrata. 'aerah yang degenerasi tampak
adanya gelembung dan paling mudah diamati adanya depresi skleral. 3a+itas kistoid pada lapisan
pleksiform luar mengandung hyalorinidase0mukopolisakarida sensitif. 3omplikasi yang diketahui
dari degenerasi kistoid yang tipikal adalah koalesensi dan ekstensi ka+itas dan peningkatan
kearah retinoskisis degenerasi tipikal. 2ejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak ada
traksi +itreoretinal. 'efek lapangan pandang jarang.
10"11
0
*!oroidal deta.!ment" gejala fotopsia dan floaters tidak ada karena tidak ada traksi
+iteroretinal. 'efek lapangan pandang ada pada mata dengan detachment choroidal yang luas.
10
I. Komplikasi
Penurunan ketajaman penglihatan dan kebutaan merupakan komplikasi yang paling umum terjadi
pada ablasio retina. Penurunan penglihatan terhadap gerakan tangan atau persepsi cahaya adalah
komplikasi yang sering dari ablasio retina yang melibatkan makula.
;
8ika retina tidak berhasil dilekatkan kembali dan pembedahan mengalami komplikasi" maka dapat
timbul perubahan fibrotik pada +itreous %vitreoretinopati proliferatif" PD(&. PD( dapat menyebabkan
traksi pada retina dan ablasio retina lebih lanjut.
2"A
0. "rognosis
Prognosis tergantung luasnya robekan retina" jarak /aktu terjadinya ablasio" diagnosisnya dan
tindakan bedah yang dilakukan.
12
-erapi yang cepat prognosis lebih baik. Prognosis lebih buruk bila mengenai makula atau jika
telah berlangsung lama. 8ika makula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali retina
perifer" maka hasil penglihatan sangat baik. 8ika makula lepas lebih dari 2; jam sebelum
pembedahan" maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya.
2"A

http,::infoibnusina./ordpress.com:200!:0C:0;:ablasio0retina:
Ablation Retina
$aturday" August 2#" 200#
'escription
*edical calls the separation of the retina sensory layer of the epithelial layer of the retina called pimen
retinal ablation. Ablation can occur spontaneously or secondary. -his is due to tearing of the retina in the
eye. 1eQt place the retina by the +itreous furtherance of humor %eye fluid& entering through a tear or
retinal hole into the ca+ity of sub retina. $o float the retina and cause retinal layers apart from koroid
pigment epithelium.
(egmatogenosa retinal ablation is a type of ablation of the most common. Ablation is commonly seen in
eyes that ha+e a risk factor for retinal ablation occurs. -rauma is the only trigger for the occurrence of
retinal ablation on the eye of talent.
$ymptoms
$ymptoms can be patient to see flashes of kelatan0floating black spots and light %fotopsia& a fe/ days to
se+eral /eeks earlier" in some patients the loss of the retina may occur /ithout a preceded by sightings
spots or e+en a real light" like a curtain complaints co+ering most spacious eyes" loss of retinal
de+elopment that /ill further blur the central +ision and lead to deterioration of +ision.
*edical
<f someone found the abo+e symptoms then immediately to the ophthalmologist to get therapy to pre+ent
further tearing. -o cure this disease /ith surgery performed.
http,::identify0disease.blogspot.com:200#:0!:ablation0retina.html
1 Anatomi Iisiologi (etina
(etina atau selaput jala" merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan
cahaya.
(etina berbatas dengan koroid dengan sel pigmen epitel retina" dan terdiri atas lapisan,
1. Lapis fotoreseptor" merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang mempunyai bentuk
ramping" dan sel kerucut.
2. *embran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi.
3. Lapis nucleus luar" merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.
3etiga lapis di atas a+askular dan mendapat metabolisme dari kapiler koroid.
;. Lapis pleksiform luar" merupakan lapis aselular dan merupakan tempat sinapsis sel fotoreseptor dengan
sel bipolar dan sel horiNontal.
A. Lapis nucleus dalam" merupakan tubuh sel bipolar" sel horiNontal dan sel *uller Lapis ini mendapat
metabolisme dari arteri retina sentral.
C. Lapis pleksiform dalam" merupakan lapis aselular" merupakan tempat sinaps sel bipolar" sel amakrin
dengan sel ganglion.
9. Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel daripada neuron kedua.
!. Lapis serabut saraf" merupakan lapis akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. 'i dalam lapisan0
lapisan ini terletak sebagian besar pembuluh darah retina.
#. *embran limitan interna" merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca.
Karna retina biasanya jingga dan kadang0kadang pucat pada anemia dan merah pada hiperemia.
*akula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian yang paling +ital dari retina. *akula merupakan
bagian dari retina yang memungkinkan mata melihat detil0detil halus pada pusat lapang pandang.
Pembuluh darah di dalam retina merupakan cabang arteri oftalmika" arteri retina sentral masuk retina
melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina dalam.
Lapisan luar retina atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid.
2.2 'efinisi
Ablasio retina terjadi bila ada pemisahan retina neurosensori dari lapisan epitel berpigmen retina
diba/ahnya karena retina neurosensori" bagian retina yang mengandung batang dan kerucut" terkelupas
dari epitel berpigmen pemberi nutrisi" maka sel fotosensitif ini tak mampu melakukan akti+itas fungsi
+isualnya dan berakibat hilangnya penglihatan %). $melNer" $uNanne" 2002&.
Ablasio (etina adalah pelepasan retina dari lapisan epitelium neurosensoris retina dan lapisan epitelia
pigmen retina %'onna '. <gnati+icius" 1##1&
Lepasnya retina atau sel kerucut dan batang dari koroid atau sel pigmen epitel akan mengakibatkan
gangguan nutrisi retina dari pembuluh darah koroid yang bila berlangsung lama akan mengakibatkan
gangguan fungsi yang menetap.
2.3 3lasifikasi
'ikenal 3 bentuk ablasi retina,
2.3.1 Ablasi (etina (egmatogenosa
4entuk tersering dari ketiga jenis ablasio retina adalah ablasio retina regmatogenosa. Pada ablasi retina
regmatogenosa maka ablasi terjadi akibat adanya robekan pada retina sehingga cairan masuk ke belakang
antara sel pigmen epitel dengan retina. -erjadi pendorongan retina oleh badan kaca air %fluid
+itreous&yang masuk melalui robekan atau lubang pada retina ke rongga subretina sehingga
mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
Ablasio retina regmatogenosa spontan biasanya didahului atau disertai oleh pelepasan korpus +itreum
posterior.
2.3.2 Ablasi (etina Gksudatif : $erosa H .emoragik
Ablasio retina serosa dan hemoragik dapat terjadi /alaupun tidak terdapat pemutusan retina atau traksi
+itreo0retina.
Ablasi retina eksudatif adalah ablasi yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di ba/ah retina dan
mengangkat retina. Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh darah
retina dan koroid %ekstra+asasi&. .al ini disebabkan penyakit koroid. Penyakit degenerati+e" inflamasi"
dan infeksi yang terbatas di makula. -ermasuk neo+askularisasi subretina yang disebabkan oleh
bermacam0macam hal.
2.3.3 Ablasi (etina -arikan atau -raksi
Ablasio retina akibat traksi adalah jenis tersering kedua. Pada ablasi ini lepasnya jaringan retina terjadi
akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca yang akan mengakibatkan ablasi retina dan penglihatan
turun tanpa rasa sakit.
Pada badan kaca terdapat jaringan fibrosis yang dapat disebabkan diabetes melitus proliferatif" trauma"
dan perdarahan badan kaca akibat bedah atau infeksi.
2aya0gaya traksi yang secara aktif menarik retina sensorik menjauhi epitel pigmen di ba/ahnya
disebabkan oleh adanya membrane +itreosa" epiretina" atau subretina yang terdiri dari fibroblas dan sel
glia atau sel epitel pigmen retina. Pada ablasio retina akibat traksi pada diabetes" kontraksi korpus +itreum
menarik jaringan fibro+askular dan retina di ba/ahnya kea rah anterior menuju dasar korpus +itreum.
Pada a/alnya" pelepasan mungkin terbatas di sepanjang arkade0arkade +askular" tetapi dapat terjadi
perkembangansehingga kelainan mengakibatkan retina midperifer dan makula.
2.; Gtiologi
*ata yang berbakat untuk terjadinya ablasi retina adalah mata dengan miopia tinggi" pasca retinitis" dan
retina yang memperlihatkan degenerasi di bagian perifer" A0 ablasi yang timbul pada afakia terjadi pada
tahun pertama" dan trauma atau penggunaan fisik yang kuat dan mendadak akan menyebakan robekan
retina.
3omplikasi 'iabetes *elitus dan Peradangan yang terjadi pada mata juga dapat mengakibatkan ablasio
retina.
2.A *anifestasi 3linis
Ablasi retina akan memberikan gejala terdapatnya,
1. gangguan penglihatan yang kadang0kadang terlihat sebagai tabir yang menutup.
2. (i/ayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya%fotopsia& : light flashes atau keduanya
3. Iloater dipersepsikan sebagai titik0titik hitam kecil:rumah laba0laba
;. Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang pandang ketika retina benar0
benar terlepas dari epitel berpigmen
A. Penurunan tajam pandangan sentral aau hilangnya pandangan sentral menunjjukkan bah/a adanya
keterlibatan makula
2.A.1 (etina lepas dengan robekan %rhegmatogenous&
-anda klinisnya,
a. 'itemukan peninggian retina umumnya mulai dari perifer dan dapat mencapai posterior pole dengan
cairan di ba/ah retina.
b. (etina %yang lepas& tampak bergelombang %rugae&" kadang ditemukan perdarahan +itreus. 'i +itreus
ditemukan sel pigmen retina" tanda utama adalah robekan retina dengan cairan di ba/ahnya.
c. @mumnya disertai dengan penurunan tekanan intraokuler.
d. -erkadang ditemukan afferent pupillary defect %AP'&.
e. Pada yang kronis sering ditemukan pigmen epitel retina berbentuk garis lurus %demarcation line&
membatasi antara daerah retina yang lepas dengan yang masih melekat" atau pada yang berat ditemukan
fibrosis +itreus berat %proliferati+e +itreo0retinopathy& hingga perlekatan retina hebat %star fold" napkins
ring" fiQed folds" subretinal bands&.
2.A.2 (etina lepas akibat cairan serous di ba/ah retina tanpa robekan %eQudati+e&
-anda klinisnya,
a. 'itemukan retina lepas dengan bentuk permukaan relatif mulus disertai cairan di ba/ah retina.
b. -idak ditemukan robekan retina.
c. )airan subretina biasanya bullous dengan bentuk retina lepas sesuai dengan posture atau posisi tubuh"
prinsipnya adalah cairan mencari tempat yang paling rendah.
d. Pemeriksaan AP' %afferent pupillary defect& mungkin ditemukan.
2.A.3 (etina lepas karena tarikan akibat fibrosis +itreus seperti pada proliferati+e diabetic retinopathy
%P'(&" retinopathy of prematurity %tractional detachment&. 'isebut juga tractional
-anda klinisnya,
a. 'itemukan retina lepas" umumnya tidak terlalu tinggi kecuali pada ri/ayat neonatus prematur.
b. (etina yang lepas berhubungan dengan traksi atau fibrosis yang terjadi di dalam +itreus" dengan
detachmnet yang paling tinggi di tempat perlekatan traksi:fibrosis.
c. -erkadang disertai dengan robekan retina akibat tarikan traksi:fibrosis.
d. -anda lainnya dapat ditemukan sesuai dengan penyakit penyerta atau yang mendasari.
2.C Pemerikasaan 'iagnostik
2.C.1 Pemeriksaan oftalmologi
a. Pemeriksaan +isus" dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya makula lutea ataupun
terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang menghambat sinar masuk. -ajam penglihatan
akan sangat menurun bila makula lutea ikut terangkat.
b. Pemeriksaan lapangan pandang" akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup tabir dan dapat terlihat
skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina" pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api
seperti halilintar kecil dan fotopsia.
Pemeriksaan lapang pandangan dapat dilakukan dengan,
1. Pemeriksaan konfrontasi" yaitu pemeriksaan dengan melakukan perbandingan lapang pandangan pasien
dengan si pemeriksa sendiri.
2. Pemeriksaan perimeter atau kampimetri.
Lapang pandangan normal adalah #0 derajat temporal" A0 derajat atas" A0 derajat nasal dan CA derajat ke
ba/ah.
c. Pemeriksaan funduskopi" yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis ablasio retina dengan
menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan
hilangnya refleks fundus dan pengangkatan retina. (etina tampak keabu0abuan yang menutupi gambaran
+askuler koroid. 8ika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina" didapatkan pergerakkan
undulasi retina ketika mata bergerak. $uatu robekan pada retina terlihat agak merah muda karena terdapat
pembuluh koroid diba/ahnya. *ungkin didapatkan debris terkait pada +itreus yang terdiri dari darah dan
pigmen atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas.
2.C.2 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit penyerta antara lain glaukoma"
diabetes mellitus" maupun kelainan darah.
b. Pemeriksaan ultrasonografi" yaitu ocular 40$can ultrasonografi juga digunakan untuk mendiagnosis
ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya seperti proli+erati+e +itreoretinopati" benda
asing intraokuler. $elain itu ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan
ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.
c. $cleral indentation
d. 2oldmann triple0mirror
e. <ndirect slit lamp biomicroscopy
f. -es refraksi
g. (espon refleks pupil
h. 2angguan pengenalan /arna
i. -ekanan intraokuler"
.asil Pemeriksaan,
1. Disus atau salah satu posisi lapang pandang memburuk.
2. Iundus refleks hilang
3. (etina terangkat" terlihat abu0abu" bergoyang0goyang.
;. -erkdang robekan retina ber/arna merah dapat terlihat langsung pada
pemeriksaan funduskopi.
2.9 Penatalaksanaan
2.9.1 3olaborasi <nter+ensi 4edah
Prinsip Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah untuk melekatkan kembali lapisan neurosensorik ke
lapisan epitel pigmen retina. Penanganannya dilakukan dengan pembedahan" pembedahan ablasio retina
dapat dilakukan dengan cara,
1. (etinopeksi pneumatik
(etinopati pneumatik merupakan cara yang paling banyak pada ablasio retina regmatogenosa terutama
jika terdapat robekan tunggal pada superior retina. -eknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan
menyuntikkan gelembung gas ke dalam +itreus. 2elembung gas ini akan menutupi robekan retina. 8ika
robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas" cairan subretinal akan menghilang 102 hari. Pasien harus
mempertahankan posisi kepala selama 9010 hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan
retina. 3euntungan dari tindakan ini adalah pasien tidak perlu dira/at inap dan mencegah komplikasi
yang dapat ditimbulkan dengan menggunakan prosedur buckling. 3erugiannya adalah kepala pasien
harus dalam posisi tertentu dalam 9 10 hari" dan mempunyai tingkat keberhasilan lebih rendah
dibandingkan dengan skleral buckle.
2. $cleral buckle % pelibatan $klera &
5perasi jenis ini sampai sekarang masih merupakan pilihan untuk ablasi tipe regmatogenosa" terutama
jika tidak ada komplikasi. 4uckle biasanya berupa silicon berbentuk spons atau padat tergantung dari
lokasi dan jumlah robekan retina.$ilikon tersebut dipasangkan melingkari bola mata dengan tujuan
membentuk cekukan kedalam pada dinding bola mata untuk menutupi rongga yang terjadi akibat
robeknya retina.8ika robekan telah tertutup" maka cairan dalam retina akan menghilang secara spontan
dalam jangka /aktu 1 2 hari.Prosedur ini lebih sering dilakukan dengan anestesi lokal dan pasca operasi
pasien tidak harus dalam posisi tertentu pasien dapat melakukan akti+itas seperti biasa kecuali akti+itas
yang dapat melukai kepala.
3. Ditrektomi
Ditrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat diabetes" ablasio
regmatogenosa yang disertai traksi +itreus%perdarahan +iterus& atau hemoragik +itreus.Pada dasarnya
+itrektomi merupakan tindakan pengeluaran cairan +itreus kemudian digantikan dengan gas khusus yaitu
$I2 % $ulfoheksafliurid&. $ecara perlahan gas tersebut akan diserap dan digantikan kembali dengan
cairan yang diproduksi oleh mata itu sendiri. )ara pelaksanaan +itrektomi yaitu dengan membuat insisi
kecil pada bola mata kemudian memasukkan instrument ke dalam rongga +iteus"setelah instrument di
masukkan +iterus di pindahkan dengan menggunakan +itreus culter kemudian dilanjutkan dengan teknik
sayatan tractional bands dan air fluid eQchange yakni memasukkan cairan silikon untuk menempelkan
kembali retina. Pada operasi +itrektomi kepala pasien harus berada dalam posisi tertentu untuk menjaga
agar retina tetap menempel.-erkadang +itrektomi dapat dilakukan bersamaan dengan pemasangan sklera
buckle.
5perasi0operasi tersebut diatas bisa dilakukan dengan menggunakan bius lokal maupun general"
tergantung pada kesehatan penderita dan /aktu yang diperkirakan diperlukan untuk merekatkan kembali
retina.Pada penderita dengan lepasnya retina sederhana biasanya soudah dibolehkan berjalan sehari
setelah operasi dan tidak perlu ra/at inap di rumah sakit.-etapi setelah pulang pasien memerlukan salep
dan obat tetes untuk mera/at mata pasca pembedahan"dan terkadang diperlukan kacamata atau lensa
kontak bila setalah pembedahan retina ternyata penglihatan terganggu.
4ila retina robek tetapi belum lepas" maka lepasnya retina itu dapat dicegah dengan tindakan laser atau
menggunakan tindakan kriopeksi.
1. Laser
Pembedahan laser digunakan untuk menutup lubang atau robekan pada retina yang biasanya ditemukan
sebelum terjadinya ablasio.$inar laser yang digunakan adalah yang mampu menciptakan lingkungan yang
terbakar pada retina" Laser akan menempatkan luka bakar kecil di sekeliling pinggir robekan. Luka bakar
ini akan menimbulkan jaringan parut yang mengikat pinggiran robekan dan mencegah cairan le/at dan
berkumpul di ba/ah retina.
2. 3riopeksi
3riopeksi merupakan teknik membekukan dinding bagian belakang mata yang terletak di belakang
robekan retina.)ara kerja kriopeksi yaitu dapat merangsang pembentukan jaringan parut dan merekatkan
pinggir robekan retina dengan dinding belakang bola mata. -eknik ini digunakan bersamaan dengan
penyuntikan gelembung udara dan kepala dipertahankan pada posisi tertentu untuk mencegah
penimbunan kembali cairan di belakang retina. 3riopeksi biasanya dilakukan pada pasien berobat jalan
dan hanya memerlukan pembiusan local pada mata.
Penempelan kembali retina yang sukses" terdiri dari penempelan robekan retina" dan pencegahan agar
retina tidak tertarik lepas lagi.
2.9.2 Pera/atan Preoperasi
3lien mungkin mengalami kecemasan atau ketakutan. Pera/t perlu memberikan informasi secara akurat
dan tenangkan hati klien untuk mengurangi kecemasan klien.
2.9.3 Pera/atan Postoperasi
-anda +ital dan -<5. Pemantauan tanda +ital perlu dilakukan tiap 1A030 menit %atau sesuai kebijakan
rumah sakit& sampai kondisi klien stabil. *onitor -<5 minimal 2; jam secara ketat.
Pera/atan mata. Adanya drainase" harus segera dilaporkan pada ofthalmologist. 4alutan tidak boleh
dilepas tanpa order khusus. 3edua mata dibalut selama A0C hari dan setelah boleh dilepas balutan mata
diganti minimal 1 kali sehari. 4antu akti+itas sehari hari klien untuk mencegah hentakan atau
pergerakan kepala yang berlebihan. 4erikan kompres dingin untuk mengurangi bengkak dan memberikan
kenyamanan.
Disus tidak dapat kembali dengan segera karena pembengkakan post op dan efek dilatasi tetes mata. Disus
meningkat bertahap dalam beberapa minggu samapi bulan. 8elaskan pada klien agar membatasi membaca
dan menulis untuk mencegah pergerakan mata yang berlebihan.
Posisi dan akti+itas klien. Posisi dan tingkat yang diiNinkan setelah pembedahan diberikan oleh dokter.
3epala diposisikan sedemikian rupa sehingga daerah yang diperbaiki menggantung" mencegah dorongan
gra+itasi merusak daerah operasi. 8ika gas %sulfaheksafluorid& digunakan untuk membantu penyatuan
retina kembali" maka klien diatur dalam posisi yang memungkinkan gas mengangkat retina. Pembatasan
akti+itas yang sama juga dilakukan pada klien yang menggunakan minyak silikon. *emposisikanklien
pada abdomen dengan kepala menoleh ke arah mata yang dioperasi sering dianjurkan" sehingga klien
berbaring dengan mata yang tidak dioperasi berada diba/ah. Posisi ini dipertahankan beberapa hari
sampai gas diabsorpsi. .indari gerakan menghentakkan kepala % menyisir rambut" membungkuk"
mengejan" bersin" batuk" muntah & dan batasi akti+itas yang berlebihan hingga tercapai penyembuhan.
Pera/at perlu membantu akti+itas sehari0hari klien untuk mencegah hentakan atau pergerakan kepala
yang berlebihan.
*edikasi. 3lien kadang memerlukan antiemetik atau obat batuk yang yang dianjurkan serta laksatif %jika
perlu&.
1yeri. 3lien mungkin mengalami nyeri pascaoperasi. Analgesik seperti meperidi atau asetaminofen dan
kodein biasanya diresepkan. -indakan non0farmakologis seperti distraksi atau imajinasi terbimbing dapat
dilakukan pada kondisi ini. Peningkatan nyeri secara mendadak atau nyeri yang disertainausea mungkin
merupakan indikasi berkembangnya komplikasi dan harus dilaporkan pada dokter mata.
2.! 3omplikasi
a. 3omplikasi a/al setelah pembedahan
Peningkatan -<5
2laukoma
<nfeksi
Ablasio koroid
3egagalan pelekatan retina
Ablasio retina berulang
b. 3omplikasi lanjut
<nfeksi
Lepasnya bahan buckling melalui konjungti+a atau erosi melalui bola mata
Ditreo retinpati proli+eratif %jaringan parut yang mengenai retina&
'iplopia
3esalahan refraksi
astigmatisme %tidak mampu memfokuskan cahaya.
2.# Prognosis
Prognosis tergantung luasnya robekan retina" jarak /aktu terjadinya ablasio" diagnosisnya dan tindakan
bedah yang dilakukan.
-erapi yang cepat prognosis lebih baik. Prognosis lebih buruk bila mengenai makula atau jika telah
berlangsung lama. 8ika makula melekat dan pembedahan berhasil melekatkan kembali retina perifer"
maka robekan l yang ebih luas pada +itreus dapat dicegah .8ika makula lepas lebih dari 2; jam sebelum
pembedahan" maka tajam penglihatan sebelumnya mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya.
3orpus +itreum yang terus menyusut dan munculnya pertumbuhan jaringan di permukaan retina
menyebabkan tidak semua retina yang terlepas dapat direkatkan kembali. 4ila retina tidak dapat
direkatkan kembali" maka mata akan terus menurun penglihatannya dan akhirnya menjadi buta.
2.10 Keb of )aution
4A4 <<<
A$@.A1 3GPG(AKA-A1
3.1 Pengkajian
3.1.1 Anamnesis
3aji faktor resiko penyakit afakia" meningkatnya umur" degenerasi +itreoretina dan miopia. 3lien yang
mengeluhkan penurunan +isus mendadak harus die+aluasi segera. 3aji situasi ketika klien pertama kali
mengeluhkan penurunan +isus. 3aji ri/ayat okuler dan kondisi medis sebelumnya" catat ri/ayat operasi
mata atau cedera mata. 3aji apakah gejala terjadi pada satu atau kedua mata" lamanya /aktu sejak
timbulnya gejala" keparahan gejala dan hal0hal yang mengurangi atau memperburuk gejala. -imbulnya
ablasio retina biasanya mendadak dan tidak nyeri karena tidak ada serabut nyeri yang terletak pada retina
%<gnata+icius '" 1##1&. 3lien sering mengeluh melihat sinar kilat atau titik0titik hitam di depan mata yang
terkena. $elama fase a/al atau ablasio retina parsial" klien mengeluhkan sensasi adanya tabir menutupi
bagian lapang pandang. .ilangnya lapang pandang tergantung area lepasnya retina.
3.1.2 Pemeriksaan Iisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan data yang berkaitan dengan manifestasi klinis dan diagnosis
ditegakkan dengan pemeriksaan oftalmoskopik.
3.1.3 Pengkajian Psikososial
3lien dengan ancaman gangguan penglihatan dapat mengalami kecemasan. 3ecemasan yang berat akan
merusak kemampuan klien untuk memproses informasi baru. )atat postur" sikap dan pola bicara klien.
3lien yang cemas akan menunjukan kebingungan" perubahan topik yang sering dan menanyakan
informasi secara berulang. 3lien cemas juga dapat mengalami salah interpretasi informasi. *ereka
mungkin hanya mendengar sebagian dari apa yang dibicarakan dan menerima keterangan yang diberikan
dngan lambat. 3aji juga kemampuan akti+itas sehari0hari klien.
3.1.; Analisis 'ata
1o. 'ata Gtiologi *asalah 3epera/atan
1. '$ ,
1. Pasien mengeluh melihat tirai yang menutupi lapang pandang
2. Pasien sering mengeluh adanya titik0titik hitam %floater&
3. Pasien mengatakan jika dirinya memiliki ri/ayat kesehatan rabun dekat ; dioptri
'5 ,
1. *iopi %rabun jauh&
2. Adanya robekan pada retina %pemeriksaan fundudkopi&
*iopia
@kuran anteroposterior mata membesar
*endesak (etina
Lapisan retina robek
Lapisan retina lepas dari lapisan berpigmen
)ahaya yang
masuk tidak
bisa ditangkap
retina
(obekan retina dan sel sel darah merah mengapung di sekitar +itreus
.ilangnya lapang pandang
Iloater
2g. Penerimaan rangsangan +isual
3onser+asi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak
.ilangnya penglihatan
Perubahan sensori preseptual Perubahan $ensori Preseptual
2. '$ ,
1. Pasien mengeluh tiba0tiba melihat kilatan cahaya %Iotopsia&
2. Pasien mengatakan pernah memiliki ri/ayat kesehatan diabetic neuropati
3. Pasien mengeluh sering melihat titik0titik hitam %Iloater&
'5 ,
1. 'iabetic retinopathy
2. 'idapatkan jaringan fibrous pada +itreus.
3. (obekan retina dan sel0sel darah merah mengapung di daerah +iterus %pemerikasaan funduskopi&
'iabetic (etinopaty
8aringan fibrosis pada +itreus menarik lapisan retina sampai terlepas dari lapisan pigmennya
Iotopsia %timbul kilatan cahaya&
Lapisan retina robek dan kapiler darah terputus
(obekan retina dan sel darah merah mengapung pada ruang +itreus.%floater&.
2g. Penerimaan rangsangan +isual
3onser+asi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak
.ilangnya penglihatan
Perubahan sensori preseptual
Perubahan $ensori Preseptual
3. '$ ,
1. Pasien mengatakan memiliki ri/ayat kesehatan 'iabetes mellitus
2. Pasien mengeluh pandangannya sering kabur
3. Pasien mengeluk adanya kilatan cahaya dan titik0titik hitam pada pandangannya
'5 ,
1. L'L ? 220
2. 'itemukan robekan retina dan sel0sel darah mengapung pada ruang +itreus %pemeriksaan funduskopi&
'iabetes mellitus
3adar glukosa dalam darah meningkat
Diskositas darah meningkat
Aliran darah menuju ke mata menjadi terhambat
*ata kekurangan nutrisi terutama pada retina
(etina lepas dari lapisan berpigmen
dan kapiler darah terputus
(obekan retina dan sel darah merah mengapung pada ruang +itreus.%floater&.
2g. Penerimaan rangsangan +isual
3onser+asi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak
.ilangnya penglihatan
Perubahan sensori preseptual
Perubahan $ensori Preseptual
;. '$ ,
1. Pasien mengatakan rasa perih dan gatal0gatal pada mata
2. Pasien mengatakan sering keluar air dari mata
3. Pasien mengeluh pandangannya kabur
'5 ,
1. Pasien menderita u+eitis kronis
2. Adanya robekan retina pada ruang +itreus %pemeriksaan funduskopi& @+eitis
Akumulasi cairan akibat proses peradangan
)airan mendesak pada ruang subretina
(etina lepas dari lapisan berpigmen
.ilangnya lapang pandang
2g. Penerimaan rangsangan +isual
3onser+asi rangsangan ke bentuk yang tidak dapat diintepretasikan otak
.ilangnya penglihatan
Perubahan sensori preseptual
A. '$ ,
1. Pasien mengeluh pandangannya sering kabur
2. Pasien sering mengeluh melihat titik0titik hitam pada pandangannya %floater&
3. Pasien mengeluh melihat kilatan cahaya dalam pandangannya.
;. Pasien mengatakan kha/atir dengan keadaanya
'5 ,
1. Pemerikasaan funduskopi , adanya robekan retina dan sel sel darah mengapung di ruang +itreus
2. Penurunan +isus
3. Pasien terlihat cemas
;. Pasien menanyakan informasi secara berulang. Lepasnya retina dari lapisan berpigmen
Penurunan +isus
.ilangnya lapang pandang
.ilangnya penglihatan mendadak
ancaman terhadap konsep diri serta ancaman terhadap perubahan peran dan fungsi.
*enimbulkan kecemasan )emas : Ansietas
A. '$ ,
1. Pasien mengeluh pandangannya menjadi kabur
2. Pasien mengatakan tidak dapat berakti+itas secara optimal
'5 ,
1. Penurunan +isus
2. Lepasnya retina dari sel berpigmen Lepasnya retina dari lapisan berpigmen
.ilangnya lapang pandang dan kedalaman persepsi berkurang
(esiko cedera (esiko )edera
C. '$ ,
1. Pasien meraskan nyeri pascaoperasi
'5 , 0 Lepasnya retina dari lapisan berpigmen
Pembedahan %operasi&
Pascaoperasi
-imbul nyeri pada mata yang dioperasi 1yeri
3.2 'iagnosa dan <nter+erensi 3epera/atan
1. Perubahan sensori perseptual%+isual& yang berhubungan dengan kerusakan kemampuan memproses
rangsangan +isual.
-ujuan" 3lien akan ,
*ampu mempertahankan kemampuan untuk menerima rangsangan +isual dan tidak mengalami
kehilangan penglihatan lebih lanjut.
<nter+ensi ,
T Anjurkan pasien untuk bedrest dengan satu atau kedua mata ditutup.
(asional , untuk mempertahankan mata dalam keadaan istirahat untuk mencegah robekan lebih lanjut.
T Atur kepala agar rongga retina dalam posisi tidak menggantung.
(asional , 2ra+itasi dapat membantu mencegah lapisan retina pertama lepas dari lapisan kedua.
T 3olaborasi untuk pembedahan.
2. 'efisit perubahan diri yang berhubungan dengan pembatasan akti+itas.
<nter+ensi ,
T 4eritahu klien bah/a akt+itasnya sementara di batasi.
(asional , mencegah robekan lebih lanjut.
T 4antu kebutuhan sehari hari klien.
(asional, mengurangi resiko cedera lebih lanjut
T Letakkan call bell pada tempat yang mudah di jangkau. (asional,*emudahkan pasien untuk meminta
pertolongan
3. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan" hilangnya pandangan mendadak
dan kemungkinan kegagalan mendapatkan pandangan kembali" ancaman terhadap konsep diri serta
ancaman terhadap perubahan peran dan fungsi.
-ujuan klien akan ,
3lien akan mengalami penurunan tingkat ansietas.
<nter+ensi ,
T 4erikan kesempatan pada klien untuk mendiskusikan perasaannya.
(asional , *engurangi rasa cemas
T Kalaupun kemungkinan pemulihan penglihatan tidak dapat dipastikan" klien dapat diyakinkan bah/a
banyak robekan retina dapat diperbaiki dengan operasi.
(asional ,*emberikan dukungan moral untuk mengurangi beban stress
;. (esiko cedera yang berhubungan dengan berkurangnya penglihatan dan perubahan kedalaman
persepsi.
-ujuan ,
T 3lien tidak mengalami cedera selama dalam pera/atan.
<nter+ensi ,
T 5bser+asi ketajaman penglihatan klien.
(asional, *engetahui perkembangan keadaan mata.
T 4eritahu klien bah/a kedalaman persepsi akan berubah dan bantu klien sesuai kebutuhan.
T 8auhkan benda benda berbahaya dari jangkauan klien
(asional , mencegah terjadinya cedera karena keterbatasan lapang pandang.
T 4ersihkan jalan yang dile/ati klien dari benda0benda berbahaya jika klien sudah diperbolehkan
berakti+itas.
A. 3urang pengetahuan tentang pera/atan diri dan akti+itas rutin pre dan pasca operasi yang berhubungan
dengan kurangnya informasi atau salah interpretasi informasi yang didapat sebelumnya.
-ujuan" klien akan ,
T *enjelaskan penggunaan obat yang benar.
(asional, *enghindari pasien defisit pengetahuan tentang penggunaan obat yang benar
T *enjelaskan tanda dan gejala robekan retina.
(asional , *enghindari terjadinya trauma
T Akti+itas yang perlu dibatasi
(asional , *enghindari terjadinya cedera
<nte+ensi,
T @sahakan akti+itas tetap dalam 2 minggu"jangan mengangkat yang berat atau akti+itas yang terlalu aktif
selama enam minggu atau sesuai yang diintrusikan dokter.
T Periksa shampoo rambut yang diintruksikan oleh dokter.
(asional ,*enghindari bahan bahan shampoo yang dapat mengiritasi mata sehingga memperparah
kondisi mata.
T 4atasi membaca selama 3 minggu atau sesuai ad+is.
(asional, mencegah robekan semakin luas.
T 4eritahu klien cara menggunakan obat mata yang benar.
T 4eritahu klien untuk lapor ke dokter mata jika ada gejalan robekan retina yang berlanjut atau kegagalan
penyatuan retina pada klien pasca operasi %ditandai dengan melihat cahaya sperti kilat"titik0titik hitam
didepan mata"penglihatan kabur:adanya 6tabir7pada lapang pandang&.
(asional, *encegah terjadinya komplikasi
T 4eritahu klien untuk melakukan tinjauan lanjutan sesuai program.
C. .ambatan mobilitas yang berhubungan dengan kehilangan pandangan dan berada dlingkungan yang
tidak dikenal.
<nte+ensi ,
T 5bser+asi tanda dan gejala disorientasi .
T 5rientasikan klien pada lingkungan baru.
(asional, mencegah klien agar tidak mengalami stress akibat lingkungan yang baru
T Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan klien.
9. 1yeri yang berhubungan dengan manipulasi bedah pada jaringan.
<nte+ensi ,
T 5bser+asi tempat nyeri klien.
(asional, mengobati nyeri pada posisi yang tepat dan mencegah terjadinya infeksi
T Ajarkan dan dorong klien untuk melakukan distraksi atau imajinasi terbimbing.
T 4eritahu klien untuk melaporkan adanya peningkatan nyeri secara mendadak atau nyeri yang disertai
nausea yang dapat merupakan indikasi berkembangnya komplikasi.
(asional, mencegah komplikasi berlanjut
T 3olaborasi, Pemberian analgesic seperti meperidin atau asetaminofen.
(asional, *engurangi rasa nyeri
-his entry /as posted on Kednesday" Iebruary 10th" 2010 at 10,3A am and is filed under @ncategoriNed.
Oou can follo/ any responses to this entry through the ($$ 2.0 feed. Oou can lea+e a response" or
trackback from your o/n site.
http,::putrisayangbunda.blog.com:2010:02:10:askep0ablasio0blastoma:
'AI-A( P@$-A3A
http,::///.klikdokter.com:illness:detail:1;9
http,::optikonline.info:200#:0A:29:penatalaksanaan0ablasi0retina.html
http,::infoibnusina./ordpress.com:200!:0C:0;:ablasio0retina:
http,::putrisayangbunda.blog.com:2010:02:10:askep0ablasio0blastoma: